• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

1.6 Sistematika Penyajian

Sistematika penyajian dalam skripsi ini disajikan terbagi dalam lima bab.

Bab I dalam pendahuluan akan menguraikan (a) latar belakang, (b) rumusan masalah, (c) tujuan penelitian, (d) manfaat penelitian, (e) batasan istilah, dan (f) sistematika penyajian. Baba II menguraikan landasan teori yang digunakan sebagai acuan yang terdiri dari (a) penelitian terdahulu yang relevan, (b) kajian pustaka, dan (c) kerangka berpikir. Bab III adalah metodologi penelitian yang berisi (a) pendekatan dan jenis penelitian, (b) data dan sumber data penelitian, (c) instrument penelitian, (d) teknik pengumpulan data, (e) teknik analisis data, dan (f) triangulasi.

Bab IV berisi hasil dan pembahasan, yang meliputi (a) analisis tokoh, penokohan, alur, dan latar yang membentuk konflik psikologis tokoh utama, (b) analisis konflik

psikologis dengan teori kepribadian Abraham Maslow, dan (c) konflik psikologis tokoh utama. Bab V berisi tentang (a) kesimpulan dan (b) saran. Bagian akhir skripsi ini terdapat daftar pustaka dan lampiran.

10

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Penelitian yang Relevan

Berkaitan dengan penelitian ini, peneliti menemukan dua penelitian yang relevan dengan judul “Konflik Psikologis Tokoh Utama dalam Novel Sirkuit Kemelut Karya Ashadi Siregar (Analisis Psikologi Sastra)”, yaitu penelitian milik Arina Destinawati tahun 2012 yang merupakan mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Yogyakarta yang mengangkat judul “Konflik Psikologis Tokoh Utama Perempuan dalam Novel Sebuah Cinta yang Menangis Karya Herlinatiens”. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang lebih mengkaji tentang bentuk-bentuk konflik psikologis yang dialami oleh tokoh utama perempuan dalam novel Sebuah Cinta yang Menangis karya Herlinatiens. Novel ini juga memiliki sisi psikologis tentang seorang perempuan yang mengalami pertentangan batin tentang cinta dan kehidupannya serta memiliki isi cerita yang berhubungan dengan kehidupan manusia dan perasaan yang melingkupinya. Perasaan tersebut melingkupi perasaan kasih sayang, pergolakan batin, dan sebuah keinginan dan pencapaiannya. Hal seperti itulah yang membuat novel tersebut dapat diteliti menggunakan analisis psikologi sastra. Selain itu, peneliti juga mengkaji usaha-usaha tokoh utama perempuan dalam menyelesaikan konflik psikologis dalam novel Sebuah Cinta yang Menangis karya Herlinatiens.

Penelitian lain yang relevan dengan penelitian ini yaitu mengangkat judul tentang “Analisis Psikologi Tokoh Utama dalam Novel Tentang Kamu Karya Tere Liye Menggunakan Psikologi Behaviorisme serta Kaitannya dengan Pembelajaran Sastra di SMA”. Penelitian ini ditulis oleh Nurul Azmi Hidayati mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Mataram yang selesai pada tahun 2018 dan berpijak pada teori psikologi yang membahas tentang psikologi tokoh dalam novel dengan menggunakan pendekatan psikologi sastra.

Penelitian tersebut memiliki pokok yang telah dirumuskan menjadi dua bagian, yaitu: (1) Bagaimanakah psikologi tokoh utama yang terdapat dalam novel Tentang Kamu karya Tere Liye berdasarkan psikologi behaviorisme perspektif Skinner? (2) Bagaimanakah kaitan hasil analisis psikologi tokoh utama yang terdapat pada Novel Tentang Kamu karya Tere Liye berdasarkan psikologi behaviorisme perspektif Skinner dengan pembelajaran sastra di SMA? Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan psikologi tokoh utama yang terdapat dalam Novel Tentang Kamu karya Tere Liye berdasarkan psikologi behaviorisme perspektif Skinner serta menemukan kaitannya dengan pembelajaran sastra di SMA.

Teknik pengumpulan data yang digunakan untuk menganalisis data yang telah dikumpulkan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analisis. Data yang dianalisis dalam penelitian ini berupa kutipan atau dialog-dialog tokoh utama yang terdapat di dalam novel Tentang Kamu. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) Tokoh utama Sri Ningsih adalah seorang yang kreatif, cerdas, cerdik,

bertanggung jawab, tidak mudah putus asa, memiliki solidaritas yang tinggi, sederhana, mandiri, penyabar, penyayang, serta bijaksana (2) Hasil analisis psikologi tokoh utama berdasarkan psikologi behaviorisme B.F. Skinner memiliki kaitan dengan pembelajaran sastra di SMA, sesuai dengan kurikulum KTSP yang memiliki Standar Kompetensi (SK) memahami berbagai hikayat novel Indonesia atau novel terjemahan, dan Kompetensi Dasar (KD) menganalisis unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik novel Indonesia atau novel terjemahan.

Berdasarkan dua penelitian yang terdahulu, dapat diketahui adanya hubungan atau keterkaitan antara karya sastra (novel) dengan ilmu psikologi. Kedua penelitian yang telah dilaksanakan memiliki kesamaan objek yang dianalisis dalam karya sastra berbentuk novel dengan menggunakan pendekatan psikologi sastra. Pada penelitian pertama, dianalisis konflik batin yang dialami oleh tokoh utama, sedangkan pada penelitian kedua dianalisis psikologi atau kejiawaan dari tokoh utama. Perbedaan dari penelitian satu dan penelitian dua juga terletak pada keterkaitan dari hasil analisis tersebut. Penelitian pertama mengaitkan hasil analisisnya terhadap kehidupan sosial, sedangkan penelitian kedua mengaitkan hasil analisisnya dengan pembelajaran kurikulum di SMA. Selain itu, ada hal yang membekadan antara kedua penelitian terdahulu dengan penelitian ini, yaitu terletak pada objek dan teori psikologi yang digunakan.

Arina Destinawati meneliti konflik psikologis tokoh dalam novel menggunakan teori kepribadian Sigmund Freud, sedangkan Nurul Azmi Hidayati menggunakan teori kepribadian behaviorisme milik B.F. Skinner. Kebaruan penelitian yang ditulis oleh peneliti adalah penerapan teori kepribadian humanistik

Abraham Maslow dalam menganalisis kejiwaan tokoh. Peneliti mengambil teori tersebut dikarenakan teori dari Abaram Maslow dirasa cocok untuk menganalisis kejiwaan tokoh utama akibat kebutuhan yang tidak terpenuhi sehingga menjadikan gejolak atau pertentangan dalam batin tokoh dengan menggunakan teori kepribadian humanistik milik Abraham Maslow.

2.2 Landasan Teori

Landasan teori yang digunakan dalam penelitian ini meliputi (1) Pengertian novel, (2) Unsur fakta cerita, (3) Tokoh dan penokohan, (4) Alur, (5) Latar, (6) Pendekatan psikologi sastra, (7) Teori kepribadian humanistik Abraham Maslow, (8) Teori mengenai konflik psikologis. Teori-teori tersebut sebagai acuan bagi peneliti dalam melakukan penelitian. Adapun uraian teori di atas dijabarkan sebagai berikut.

2.2.1 Pengertian Novel

Novel (Inggris: novel) merupakan bentuk karya sastra yang disebut fiksi.

Selain itu, novel dalam bahasa Italia novella dan dalam bahasa Jerman novelle yang berarti ‘sebuah barang baru yang kecil’, kemudian diartikan sebagai ‘cerita pendek dalam bentuk prosa’. Semakin berkembangnya zaman, novella dan novelle mengandung pengertian yang sama dengan istilah Indonesia ‘novelet’ yang berarti sebuah karya prosa fiksi yang panjangnya cukupan, tidak terlalu panjang, namun juga tidak terlalu pendek (Nurgiyantoro, 2013:12).

Sugihastuti dan Suharto (2005: 43) menjelaskan bahwa novel merupakan struktur yang bermakna. Novel tidak sekedar merupakan serangkaian tulisan yang menggairahkan ketika dibaca, tetapi merupakan struktur pikiran yang tersusun dari unsur yang terpadu. Unsur-unsur tersebut yang akan memberikan kesan berupada perasaan kepada pembaca setelah mengetahui isi cerita dari novel tersebut.

KBBI (2005) novel merupakan karangan prosa yang panjang mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan orang di sekelilingnya dengan menonjolkan watak dan sifat setiap pelaku. Rangkaian cerita dalam novel tentunya mengandung berbagai unsur baik secara intrinsik maupun ekstrinsik. Unsur intrinsik atau dalam Bahasa Inggris intrinsic adalah unsur-unsur yang membangun karya sastra itu sendiri. Unsur-unsur inilah yang menyebabkan suatu teks hadir sebagai teks sastra. Keterpaduan anatar berbagai unsur intrinsik inilah yang membuat novel tampak lebih menarik. Unsur-unsur yang dimaksudkan yaitu seperti yang dikatakan oleh Nurgiyantoro (2013: 30) meliputi peristiwa, cerita, plot, penokohan, tema, latar, sudut pandang penceritaan, bahasa atau gaya bahasa, dan lain-lain.

Dari beberapa uraian mengenai pengertian novel di atas, dapat dikatakan bahwa novel adalah karangan prosa fiksi yang panjang dan memiliki struktur yang didalamnya mengandung unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Unsur-unsur tersebut yang membangun novel menjadi cerita yang menarik bagi pembaca. Selain itu, novel juga memiliki nilai-nilai budaya, sosial, pendidikan, bahkan moral yang dapat memberi pesan positif kepada pembaca.

2.2.2 Unsur Fakta Cerita

Stanton (2007:22) membedakan unsur pembangun sebuah novel ke dalam tiga bagian: fakta, tema dan sarana pengucapan (cerita). Fakta (fact) dalam sebuah cerita meliputi karakter (tokoh cerita), plot dan latar. Elemen-elemen ini berfungsi sebagai catatan kejadian imajinatif dari sebuah cerita. Ketiganya dirangkum menjadi satu dan dinamakan sebagai struktur faktual atau tingkatan faktual cerita.

Ketiga unsur tersebut harus dipandang sebagai satu kesatuan dalam rangkaian keseluruhan cerita, bukan sebagai sesuatu yang berdiri sendiri dan terpisah satu dengan yang lain.

2.2.2.1 Tokoh dan Penokohan

Dalam sebuah karya sastra, sering dipergunakan istilah tokoh dan penokohan, watak dan perwatakan, atau karakter dan karakterisasi pemeran di cerita tersebut.

Istilah-istilah tersebut sebenarnya tidak menyaran pada pengertian yang sama persis. Ada istilah yang pengertiannya merujuk pada tokoh cerita dan pada teknik pengembangannya dalam sebuah cerita.

a) Tokoh

Abrams (dalam Nurgiyantoro, 2013:247) menjelaskan bahwa tokoh cerita (character) adalah orang-orang yang ditampilkan dalam suatu karya naratif atau drama yang ditafsirkan oleh pembaca memiliki kualitas moral dan kecenderungan tertentu seperti yang diekspresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakan. Selain itu, Baldic (dalam Nurgiyantoro, 2013:247) menjelaskan bahwa tokoh adalah orang yang menjadi pelaku dalam cerita fiksi atau drama, sedangkan

penokohan (characterization) adalah penghadiran tokoh dalam cerita fiksi atau drama dengan cara langsung atau tidak langsung dan mengundang pembaca untuk menafsirkan kualitas diri tokoh melalui kata dan tindakannya.

Walau tokoh cerita hanya merupakan tokoh ciptaan pengarang, namun dapat dikatakan sama halnya dengan seorang tokoh yang hidup secara wajar sebagaimana dalam kehidupan manusia yang terdiri atas darah dan daging, serta memiliki pikiran dan perasaan. Kehidupan tokoh cerita adalah kehidupan dunia fiksi, tokoh haruslah bersikap dan bertindak sesuai dengan tuntutan cerita dan perwatakan yang disandangnya. Apabila terjadi seorang tokoh bersikap dan bertindak tidak sesuai dengan citranya yang telah digambarkan sebelumnya, hal itu seharusnya tidak terjadi begitu saja, tetapi harus dapat dipertanggungjwabkan dari segi plot sehingga cerita tetap memiliki kadar plausibilitas. Karena tokoh cerita menempati posisi strategis sebagai pembawa dan penyampai pesan, amanat, moral, atau sesuatu yang sengaja ingin disampaikan kepada pembaca.

Perbedaan tokoh ke dalam kategori ini didasarkan pada peran dan pentingnya seorang tokoh dalam cerita fiksi. Dilihat dari segi peranan atau tingkat pentingnya tokoh dalam cerita tersebut, ada tokoh yang tergolong penting dan ditampilkan terus-menerus sehingga mendominasi sebagian cerita. Sebaliknya, ada tokoh yang hanya dimunculkan sekali atau beberapa kali dalam cerita dan mungkin hanya dalam porsi yang relatif singkat. Tokoh yang disebut pertama adalah tokoh utama cerita (centar character), sedangkan yang kedua adalah tokoh tambahan atau tokoh peripheral (peripheral character). Tokoh utama adalah tokoh yang diutamakan penceritaannya dalam novel yang bersangkutan. Tokoh ini senantiasa

hadir dalam setiap kejadian yang ditemui dalam tiap halaman buku cerita yang bersangkutan. Di pihak lain, pemunculan tokoh-tokoh tambahan sering diabaikan atau kurang mendapat perhatian karena sinopsis cerita hanya berisi intisari cerita yang diperankan oleh tokoh utama (Nurgiyantoro, 2013:258).

Jika dilihat dari peran tokoh-tokoh dalam pengembangan plot dapat dibedakan adanya tokoh utama dan tokoh tambahan, tergantung dari segi fungsi penampilan tokoh. Fungsi ini membedakan adanya tokoh protagonis dan tokoh antagonis. Altenbernd & Lewis dan Baldic (dalam Nurgiyantoro, 2013:261) menjelasakan bahwa tokoh protagonis adalah tokoh yang dikagumi salah satu jenisnya secara populer disebut hero tokoh yang merupakan pengejawantahan norma-norma dan nilai-nilai yang ideal. Tokoh protagonis menampilkan sesuatu yang sesuai dengan pandangan dan harapan pembaca. Demikian pembaca akan memberikan empati kepada tokoh tersebut. Namun, dalam novel atau cerita fiksi lainnya harus mengandung konflik, ketegangan, khususnya permasalahan yang dialami oleh tokoh protagonis. Tokoh yang menjawab terjadinya konflik disebut tokoh antagonis. Tokoh antagonis adalah tokoh yang beroposisi dengan tokoh protagonis secara langsung ataupun tidak langsung, secara fisik ataupun secara batin. Tokoh antagonislah yang menyebabkan timbulnya konflik dan ketegangan sehingga cerita menjadi menarik.

Konflik yang dialami tokoh protagonis tidak harus disebabkan oleh tokoh antagonis yang dapat ditunjuk secara jelas. Dapat pula disebabkan oleh hal-hal lain di luar individualitas seseorang, misalnya bencana alam, kecelakaan, lingkungan alam dan sosial, aturan-aturan sosial, nilai-nilai moral, kekuasaan yang lebih tinggi,

dan sebagainya (Nurgiyantoro, 2013:262). Penyebab konflik yang tidak dilakukan oleh tokoh/manusia disebut sebagai kekuatan antagonis, antagonistic force menurut Altenbernd & Lewis (dalam Nurgiyantoro, 2013:262). Konflik bahkan mungkn disebabkan oleh diri sendiri, misalnya seorang tokoh akan memutuskan sesuatu yang penting dengan menuntut konsekuansi, sehingga terjadi pertentangan dalam diri tokoh itu sendiri.

Dari uraian di atas dapat dikatakan bahwa tokoh adalah orang atau pelaku yang ditampilkan dalam sebuah cerita. Tanpa adanya tokoh dalam suatu cerita maka cerita tersebut tidak akan hidup dan tidak menarik. Kehadiran tokoh juga berperan sebagai penyampai informasi melalui tuturan dan tindakannya yang mengandung nilai-nilai penting serta pesan bagi pembaca.

b) Penokohan

Stanton (2007:33) menjelaskan mengenai penggunaan istilah karakter dalam berbagai cerita yang merujuk pada dua konteks yang berbeda. Konteks pertama, yaitu karakter merujuk pada individu-individu yang muncul dalam cerita. Konteks kedua, karakter merujuk pada percampuran dari berbagai kepentingan, keinginan, emosi, dan prinsip moral dari individu-individu tersebut. Dengan demikian, karakter dapat diartikan sebagai ‘pelaku cerita’ dan dapat pula berarti ‘perwatakan’.

Antara seorang tokoh dengan perwatakan yang dimiliki, keduanya merupakan suatu kepaduan yang utuh.

Istilah ‘penokohan’ lebih luas pengertiannya daripada ‘tokoh’ dan

‘perwatakan’, sebab ia sekaligus mencakup masalah tentang siapa tokoh cerita, bagaimana perwatakan dan bagaimana penempatan atau pelukisannya dalam

sebuah cerita sehingga sanggup memberikan gambaran yang jelas kepada pembaca.

Penokohan sekaligus menunjuk pada teknik perwujudan dan pengembangan tokoh dalam sebuah cerita (Nurgiyantoro, 2013:248).

Penokohan sebagai salah satu unsur pembangun fiksi yang dapat dikaji atau dianalisis keterjalinannya dengan unsur-unsur pembangun lainnya, misalnya unsur penokohan dengan unsur plot, tema, unsur latar, sudut pandang, gaya bahasa, amanat, dan lain-lain. Salah satunya dalam kaitannya unsur penokohan dengan unsur plot, plot sekadar merupakan sarana untuk memahami perjalanan kehidupan tokoh. Atau sebaliknya, untuk menunjukkan jati diri dan kehidupan tokoh, ia perlu diplotkan perjalan kehidupannya. Hal tersebut dapat dikatakan bahwa penokohan dan pemlotan merupakan dua fakta cerita yang saling memengaruhi dan menggantungkan antara satu dengan yang lainnya. Plot adalah apa yang dilakukan tokoh dan apa yang menimpanya. Terdapat kejadian demi kejadian ketegangan konflik dan sampai ke klimaks yang notabene semuanya merupakan hal-hal yang essensial dalam plot.

Dari tokoh-tokoh tersebut, terdapat dua teknik penggambaran tokoh, yaitu teknik ekspositori dan teknik dramatik. Teknik ekspositori disebut juga dengan teknik analitis, penulisan tokoh cerita dilakukan dengan memberikan deskripsi, uraian, atau penjelasan secara langsung oleh pengarang. Deskripsi kedirian tokoh yang dilakukan secara langsung oleh pengarang akan berwujud penuturan yang bersifat deskriptif pula. Artinya, hal itu tidak akan berwujud penuturan yang berbentuk dialog. Hal inilah yang membantu pembaca dengan mudah memahami ciri-ciri kedirian tokoh tanpa harus menafsirkan sendirir dengan

kemungkinan-kemungkinan yang kurang tepat. Berbeda halnya dengan teknik dramatik, yaitu dilakukan secara tidak langsung. Maksudnya, pengarang tidak mendeskripsikan secara eksplisit sifat dan sikap serta tingkah laku para tokoh. Pengarang membiarkan para tokoh cerita menunjukkan kediriannya sendiri melalui berbagai aktivitas yang dilakukan, baik secara verbal lewat kata atau ucapan maupun nonverbal lewat tindakan, dan juga melalui peristiwa yang terjadi (Nurgiyantoro, 2013:279-283).

Nurgiyantoro (2013:283-297) mengemukakan penampilan tokoh secara dramatik dapat dilakukan dengan sejumlah teknik. Berbagai teknik yang dimaksud, yaitu (a) teknik cakepan, (b) teknik tingkah laku, (c) teknik pikiran dan perasaan, (d) teknik arus kesadaran, (e) teknik reaksi tokoh, (f) teknik reaksi tokoh lain, (g) teknik pelukisan latar, (h) teknik pelukisan fisik, (i) catatan tentang identifikasi tokoh.

Dari penjelasan di atas dapat dikatakan bahwa penokohan berbeda dengan tokoh. Penokohan merupakan gambaran pengarang dalam menampilkan karakter atau watak tokoh dalam sebuah cerita. Karakter tokoh tersebut dapat ditampilkan dengan du acara, yaitu secara langsung dan tidak langsung. Artinya, karakter tokoh dapat dilihat melalui deskripsi pengarang atau melalui dialog antar tokoh.

2.2.2.2 Alur

Stanton (2007:26) mengemukakan bahwa alur atau plot merupakan rangkian peristiwa dalam sebuah cerita. Istilah alur biasanya terbatas pada

peristiwa-peristiwa yang terhubung secara kausal saja. Peristiwa kausal merupakan peristiwa yang menyebabkan dampak dari berbagai peristiwa lain dan tidak dapat diabaikan karena berpengaruh pada keseluruhan karya. Peristiwa-peristiwa yang tidak terhubung secara kausal sering dipandang ‘irelevan’ terhadap alur dan sering diabaikan dalam penulisan ringkasan alur. Akan tetapi, sebuah cerita yang dianggap bagus jarang sekali mengandung peristiwa-peristiwa irelevan. Bahkan, semakin sedikit karakter dalam sebuah cerita, semakin rekat dan padat pula alur yang mengalir di dalamnya.

Selain itu, Kenny (dalam Nurgiyantoro, 2013:167) mengemukakan plot sebagai peristiwa-peristiwa yang ditampilkan dalam cerita yang tidak bersifat sederhana karena pengarang menyusun peristiwa-peristiwa itu berdasarkan kaitan sebab akibat. Sama halnya pengertian plot menurut Forster (dalam Nurgiyantoro, 2013:167) yang menjelaskan bahwa plot adalah peristiwa-peristiwa cerita yang memunyai penekanan pada adanya hubungan kausalitas. Jadi, dari beberapa pandangan ahli terhadap pengertian dari plot sendiri sebenarnya memiliki inti yang sama, bahwa plot merupakan sebuah urutan kejadian yang berisi peristiwa-peristiwa yang terjadi karena adanya sebab dan akibat untuk mencapai suspense dan surprise pada pembaca.

Plot merupakan cerminan bahkan berupa perjalanan tingkah laku para tokoh dalam bertindak, berpikir, berasa dan bersikap dalam menghadapi berbagai masalah kehidupan. Kejadian, perbuatan, atau tingkah laku kehidupan manusia bersifat plot jika memiliki sifat khas, yaitu mengandung unsur konflik, saling berkaitan dan yang terpenting adalah menarik untuk diceritakan. Sebagaimana dikatakan oleh Forster

(dalam Nurgiyantoro, 2013:169) bahwa plot dalam cerita fiksi memiliki sifat misterius dan intelektual. Artinya, plot dapat dipertanggungjwabkan secara ilmiah.

Plot juga menampilkan kejadian-kejadian yang mengandung konflik yang mampu menarik atau bahkan mengharukan dan mencekam bagi pembaca. Hal itu mendorong pembaca untuk mengetahui kejadian-kejadian berikutnya.

Nurgiyantoro (2013:212-213) mengemukakan bahwa plot dapat dikategorikan ke dalam beberapa jenis yang berbeda berdasarkan sudut-sudut tinjauan atau kriteria yang berbeda pula. Salah satunya yaitu didasarkan pada tinjauan dari kriteria urutan waktu jumlah dan kepadatan. Urutan waktu yang dimaksud adalah waktu terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam teks fiksi yang bersangkutan. Urutan waktu dalam hal ini berkaitan dengan logika cerita.

Oleh sebab itu, karena memiliki kebebasan kreativitas, pengarang dapat memanipulasi urutan waktu kejadian sekreatif mungkin, tidak harus bersifat linear kronologis. Dalam hal ini dapat dibedakan plot ke dalam dua kategori: kronologis dan tidak kronologis. Dari dua kategori tersebut, dapat dibedakan ke dalam dua jenis plot, yang pertama disebut sebagai plot lurus, maju atau dapat disebut dengan progresif dan yang kedua disebut sebagai regresif flash-back, atau sorot balik/mundur.

Plot dalam sebuah novel dikatakan progresif jika peristiwa-peristiwa yang dikisahkan bersifat kronologis, peristiwa yang pertama diikuti oleh peristiwa selanjutnya, atau secara runtut dimulai dari tahap awal, tengah dan akhir. Lalu, urutan kejadian yang berplot regresif berarti tidak bersifat kronologis. Cerita tidak dimulai dari tahap awal, melainkan dapat dimulai dari tahap tengah bahkan akhir,

kemudian dilanjutkan dengan tahap awal cerita. Pada pemlotan jenis regresif ini, pembaca langsung disuguhkan dengan teks adegan-adegan konflik yang meninggi, kemudian pembaca baru disuguhkan peristiwa secara kronologis (Nurgiyantoro, 2013:213-214).

Dari kedua plot tersebut, terdapat pula jenis plot lainnya, yaitu plot campuran. Secara garis besar plot sebuah novel bersifat progresif, tetapi di dalamnya beberapa adegan bersifat regresif. Demikian pula sebaliknya. Selain itu, pengategorian plot sebuah novel ke dalam progresif atau regresif, sebenarnya lebih didasarkan pada jenis plot yang lebih menonjol. Hal itu disebabkan pada kenyataan sebuah novel pada umumnya yang mengandung kedua jenis plot tersebut (Nurgiyantoro, 2013:216).

Secara umum plot cerita memiliki unsur-unsur dan tahapan di dalamnya, berikut penjelasannya:

1. Unsur-Unsur Plot a. Peristiwa

Luxemburg (dalam Nurgiyantoro, 2013:173) mengartikan bahwa peristiwa sebagai pearalihan dari suatu keadaan ke keadaan yang lain.

Melalui pengertian ini dapat dibedakan kalimat dalam cerita fiksi menampilkan peristiwa dengan yang tidak. Peristiwa

sendiri dapat dibedakan menjadi beberapa kategori, yaitu peristiwa fungsional, kaitan dan acuan. (1) Peristiwa fungsional adalah peristiwa-peristiwa yang menentukan atau memengaruhi perkembangan plot. Kehadiran peristiwa-peristiwa tersebut dalam

kaitannya dengan logika cerita merupakan suatu keharusan dan jika sejumlah peristiwa fungsional ditinggalkan atau dihilangkan, hal itu akan menyebabkan cerita menjadi lain atau bahkan menjadi kurang logis. (2) Peristiwa kaitan adalah peristiwa-peristiwa yang berfungsi mengaitkan peristiwa-peristiwa penting dalam pengurutan penyajian cerita atau secara plot. Berbeda halnya dengan peristiwa fungsional, peristiwa kaitan kurang memengaruhi perkembangan plot cerita, sehingga seandainya ditinggalkan atau dihilangkan tidak berpengaruh terhadap lagika cerita. (3) Peristiwa acuan, peristiwa ini adalah peristiwa yang tidak secara langsung berpengaruh atau berhubungan dengan pengembangan plot, melainkan mengacu pada unsur-unsur lain, misalnya berhubungan dengan masalah perwatakan atau suasana yang melingkupi batin seorang tokoh.

b. Konflik

Konfik adalah sesuatu yang dramatik, mengacu pada pertarungan antara dua kekuatan yang seimbang dan mengisyaratkan adanya aksi dan aksi balasan menurut Wellek & Werren (dalam Nurgiyantoro, 2013:179). Konflik menunjuk pada pengertian sesuatu yang bersifat tidak menyenangkan yang terjadi dan dialami oleh tokoh-tokoh cerita yang jika tokoh-tokoh itu mempunyai kebebasan untuk memilih,

Konfik adalah sesuatu yang dramatik, mengacu pada pertarungan antara dua kekuatan yang seimbang dan mengisyaratkan adanya aksi dan aksi balasan menurut Wellek & Werren (dalam Nurgiyantoro, 2013:179). Konflik menunjuk pada pengertian sesuatu yang bersifat tidak menyenangkan yang terjadi dan dialami oleh tokoh-tokoh cerita yang jika tokoh-tokoh itu mempunyai kebebasan untuk memilih,

Dokumen terkait