Tabel XXI
sistim. dispersi solida
Tabel XXIII
Jumlah kadar yang terlarut darl campuran. fisis dan sistim dispersi solida tolbutamida : PVP K30
Waktu (menit)
Kadar yang terlarut (mg/100 ml) Substansi tolbutamida Campuran fisis Dispersi solida T:P*10:90 T : P* 10; 90 2,5 11,02 - 289,95 5 18,69 - 387,91 7,5 - 25,15 421,07 10 75,18 52,70 423,62 15 105,64 118,01 426,17 ■ 20 117,45 168,01 423,62 30 139,32 235,36 413,42 45 158,33 311,38 411,38 60 160,50 316,99 393,01 90 181,99 333,32 374,13
104
-Gambar 56 : Profil kecepatan melarut tolbutamida substansi, campuran fisis, dispersi solida T : P K30 * 10 : 90
Keterangan :
--- - • tolbutamida substansi . ▲ campuran fisis
Tabel XXIV
Peningktan kecepatan melarut dispersi solida Tolbu tamida PVP dalam berbagai perbandingan dibanding -kan terhadap tolbutamida substansi
Bah an
Peningkatan kecepatan me larut pada menit ke 2,5 Tolbutamida-FVP K25 90 ; 1.0 13,86 X 80 : 20 14,83 X 70 : 30 19,92 X 60 : 40 13,44 X 50 : 50 11,00 X 40 : 60 11,08 X-30 : 70 18,00 X 20 ; 80 18,12 X 10 : 90 27,80 X
106
-Tabel XXV
Peningkatan kecepatan melarut dispersi solida Tolbu tamida - PVP K30 dalam semua perbandingan dlbandlng-kan terhadap tolbutamida substansi
Bahan
Peningkatan kecepatan me-larut pada menit ke 2,5 Tolbutamida-PVP K30 90 ; 10 12,10 X 80 ; 20 16,69 X 70 : 30 22,01 X 60 : 40 15,66 X 50 : 50 8,44 X 40 : 60 14,88 X 30 : 70 18,07 X 20 ; 80 28,40 X 10 ; 90 26,31 X Tabel XXVI
Kadar tolbutamida terlarut dalam. larutan PVP K25 dan PVP K30. Kadar (%) PVP Kadar tolbutamida terlarut dalam PVP K25 (mg/100ml) Kadar tolbutamida terlarut dalam PVP K30 (mg/100ml) 0 181,95 181,95 70 372,60 352,20 30 326,68 296,07
B A B I
P E M B A H A S A N
Tolbutamida sukar larut dalam air dan diketahui bah wa kecepatan melarutnya merupakan tahap penentu bioavaila-bilitasnya. Salah satu cara meningkatkan kecepatan melarut maupun kelarutannya dapat dilakukan dengan membuat sistem dispersi solida dengan pembawa PVP K.25 dan PVP K30.
Sebelum dilakukan pembuatan dispersi solida dilaku kan pemeriksaan kualitatif dan kuantitatif substansi tol-butainida yang akan digunakan dan hasilnya memenuhi per.sya ratan Farmakope Indonesia, seperti terlihat pada tabel II, III.
Karena pada pembuatan sistem dispersi. solida dengan pelarutan dan dipanaskan kemungkinan mengalami peruraian, oleh karena itu sistim dispersi solida dilakukan pemerik saan kualitatif tolbutamida secara kromatografi lapisan ti pis (KLI), dimana diperoleh tinggi noda yang dihasilkan 5,5 cm dan tinggi pelarut 8 cm sehingga harga RF adalah 0,680 cm untuk semua komposisi yang diuji, begitu pula d e ngan substansi tolbutamida. Dengan demikian menunjukkan bahwa tolbutamida yang ada dalam dispersi solida tidak te-rurai dengan adanya pongaruh pelarutan dan pemanasan.
Untuk melihat perbedaan antara dispersi solida d e ngan campuran fisis maka dilakukan fotokristal terhadap
108
solidanya. .Dari fotokristal dapat terlihat bahwa pada campuran fisis masih terlihat adanya kristal tolbutamida maupun PV.P Uan P V P K 3 0 sendiri-sendiri, sedangkan pada dispersi solida tidak terlihat lagi kristal-kristal terse- but karena telah terdispersi homogen.
Pembuatan dispersi solida tolbutamida - PYP K25 ma-upun PVP K30 dilakukan dengan cara pelarutan kemudian pe-larut»ya- diuapkan dengan pemanasan. Setiap perbandingan yang dibuat, dilakukan pemeriksaan dengan DSC untuk meat -bandingkan sistim dispersi solida yang terbentuk dengan campuran fisis.
Dari hasil termogram yang diperoleh ternyata. disper si solida tolbutamida - PYP menun^ukkan tidak ada puncak suhu lebur. Berdasarkan data tersebut, maka siatim disper si solida tolbutamida - PYP kemungkinan menunjukkan salah satu dari ketiga interaksi di bawah ini :
1* Larutan padat (solid solution) 2. Endapan amorf dalam pembava amorf 3. "Glass Solution* dan "Glass Suspensi" Berdasarkan data termograa DSC tersebut, maka dispersi so lida tolbutamida - PVP tidak ditentukan suhu leburnya, se-hingga tidak dapat digambarkan diagram fasanya. Karena dis persi solida tolbutamida - PYP menunjukkan tidak ada pun-cak suhu lebur, maka tidak dapat ditentukan sistim disper si solida yang terpilih untuk diuji kecepatan melarutnya* sehlngga pada semua perbandingan ditentukan kecepatan me
-larutnya baik untuk dispersi solida tolbutamida - PVP K25 maupun tolbutamida - PVT K30.
Tahap selanjutnya campuran fisis dan dispersi soli da tolbutamida - PVP pada semua perbandingan di tentukan profil kecepatan melarutnya. Hasil yang diperoleh terli -hat bahwa kecepatan melarut tolbutamida dalam dispersi so lida meningkat apabila dibandingkan dengan substansi tol butamida maupun campuran fisisnya seperti terlihat pada tabel VI - XXv dan gambar 40 - 56 Untuk menentukan bentuk dispersi solida yang terpilih dapat dilihat pada tabel pe ningkatan kecepatan melarutnya tolbutamida dalam bentuk dispersi solida pada semua perbandingan dibandingkan dengan substansi tolbutamida seperti terlihat pada tabel XXIV
XXV dari tabel tersebut dapat diketahui bahwa peningka -tan kecepa-tan melarut tolbutamida pada sistim dispersi so lida1 dengan komposisi T : P K25 * 70 : 30 dimenit-menit awal jauh lebih besar dari pada komposisi yang lainnya* Pada sistim dispersi solida dengan komposisi T : P K30 *= 70 : 30 dimenit-menit awal 3auh lebih besar dari pada kom posisi yang lainnya.
Berdasarkan asumsi bahwa makin cepat obat dilepas -kan ke dalam larutan maka makin cepat. proses absorbs! obat tersebut, terutama untuk obat yang sukar larut dan kecepa tan melarutnya merupakan tahap penentu seperti hatnya tol butamida, maka bentuk dispersi solida yang terpilih adalah
110
rutannya dimenit-menit awal paling besar,
Berdanarkan data bahwa kecepatan melarut dari cam-puran fisis lebih rendah dari pada sistim dispersi solida dan larutan PVP dapat meningkatkan kecepatan melarut tol -butamida, maka dapat diduga bahwa mekanisme kecepatan me larut tolbutamida dalam sistim dispersi solida disebabkan adanya dispersi tolbutamida dalam pembawa yang mudah la -rut, sehingga partikelnya lebih. kecil serta adanya pembawa yang bersifat sebagai "Solubilizing agent1'.
R I N G K A S A N BAB
Dispersi solida tolbutamida dan PVP K25 maupun PYP K30, pembuatannya dilakukan dengan metoda pelarutnya pada berbagai perbandingan*
Hasil pembuatan dispersi solida dilakukan pemeriksa an dengan alat "Differential Scanning Calorimetry"„ Dari data pemeriksaan DSC ternyata menunjukkan tidak ada pun-cak suhu lebur, maka dispersi solida Tolbutamida - PYP tidak dapat ditentukan suhu leburnya. Sehingga tidak dapat digambarkan diagram fasanya, maka tidak dapat ditentukan sistin dispersi solida yang terpilih untuk diuji kecepatan melarutnya. Sehingga pada eemua perbandingan ditentukan kecepatan melarutnya baik untuk dispersi solida Tolbutami da - PVP K25 maupun Tolbutamida - PVP K30.
Hasil pemeriksaan kromatografi lapisan tipis, di -hasilkan satu noda yang sama dengan tolbutamida substansi. Hal ini menunjukkan bahwa campuran tersebut tidak menga -lami peruraian selama pembuatan.
Dari percobaan penentuan profil kecepatan melarut dispersi solida T ; P K25 meningkat pada perbandingan I : P 3 TO : 30 dan pada T ; P ■ 1.0 : 90. Pada dispersi
solida T : P K30 meningkat pada perbandingan T : P * 70 s 30 dan pada T : P * 10 : 90, Bila dibandingkan
d«-112
fisisnya, ternyata kelarutan tolbutamida dalam sistim dis persi solida lebih baik dan kecepatan pelepasan tolbutaai-da tolbutaai-dari 3istim dispersi solitolbutaai-da dimenit-menit awal jauh le bih besar*
Efek solubilisasi PVP K25 dan PVP K30 dapat terli -hat pada uji kecepatan melarut tolbutamida yang dilakukan dengan cara menggunakan media disolusi larutan PVP K25 maupun PVP K30 dalam dapar fosfat pH 7,0 suhu 37 °C pa -da setiap komposisi, Hasilnya menunjukkan a-danya peningka-tan kelarupeningka-tan tolbutamida maupun tidak sebesar yang terja-di pada sistim terja-dispersi solidanya*
Dari data-data tcrsebut diduga bahwa mekanisme ke cepatan melarut tolbutamida dalam sistim dispersi solida disebabkan adanya dispersi molekul tolbutamida dalam pem bawa yang mudah larut, sehingga partikelnya lebih kecil
B A B IV O S I M P U I A N
1. Peningkatan kecepatan melarut pada dispersi solida Tol