• Tidak ada hasil yang ditemukan

SITUASI PEMBANGUNAN MANUSIA ANTAR WILAYAH

Dalam dokumen KATA SAMBUTAN WALIKOTA MADIUN (Halaman 59-67)

Indonesia memiliki sekitar 17.504 Pulau yang menyebar dari 60 04’ 30” Lintang Utara hingga 110 00’36” Lintang Selatan dan 940 58’ 21” hingga 1410 01’10” Bujur Timur (Statistik Indonesia 2016). Seluruh pulau tersebut membentuk 514 kabupaten/ kota dan bergabung menjadi 34 provinsi dengan ciri khas yang berbeda. Setiap daerah melakukan berbagai aktivitas yang menunjukkan entitas masing-masing. Pembangunan terus bergulir dari waktu ke waktu dalam berbagai aspek, baik ekonomi, sosial, budaya, dan lain-lain. Pembangunan yang tidak merata antar wilayah dapat menimbulkan kesenjangan pembangunan termasuk juga kesenjangan dalam pembangunan manusia antar wilayah. Antar wilayah, masih terjadi provinsi/ kabupaten/ kota dengan status pembangunan manusia “rendah”.

Dari sisi regional, capaian IPM Provinsi Jawa Timur berada pada katagori “Sedang” Capaian tertinggi di level provinsi ditempati oleh Provinsi DKI Jakarta dengan capaian IPM sebesar 78,99. Sedangkan capaian terendah ditempati oleh Provinsi Papua dengan IPM sebesar 57,25 (BPS, 2016). Di Jawa Timur, pada level kabupaten capaian IPM tertinggi ditempati oleh Kota Malang yaitu sebesar 80,46. Sedangkan capaian terendah ditempati oleh Kabupaten Probolinggo sebesar 66,31. Kesenjangan pembangunan manusia dalam perspektif kabupaten/ kota menjadi indikator penting dalam kinerja yang telah diupayakan pemerintah dalam pemerataan pembangunan pada tingkat provinsi. Sementara itu kesenjangan pada setiap dimensi pembentuk pembangunan manusia juga akan memberikan fokus yang lebih detil.

Analisis Situasi Pembangunan Manusia 44

Kota Madiun memiliki capaian pembangunan manusia Tahun 2016 sebesar 80,01 selisih 0,45 poin dibanding Kota Malang dan 0,37 poin jika dibandingkan dengan Kota Surabaya. Capaian ini menjadikan Kota Madiun berstatus “Sangat Tinggi” dalam pencapaian pembangunan manusia. Sejak lima tahun terakhir berturut-turut, ketiga kota yaitu Malang, Madiun, dan Surabaya menempati posisi tiga kota dengan status ‘Sangat Tinggi’ di Jawa Timur. Setiap dimensi pembentuk pembangunan manusia di tiga kota tersebut menunjukkan pencapaian yang tinggi meskipun secara nasional masih berstatus ‘Sedang’. Hal ini memberi gambaran bahwa perbaikan terhadap seluruh dimensi pembangunan manusia masih perlu ditingkatkan.

Gambar 6.1

Indeks Pembangunan Manusia Jawa Timur berstatus ‘Sangat Tinggi’ Tahun 2016

Sumber : BPS Provinsi Jawa Timur

Rata-rata harapan hidup saat lahir di Kota Madiun mencapai 72,44 Tahun menempati urutan kesepuluh di antara kabupaten/ kota di Jawa Timur. Rata-rata harapan hidup tertinggi dicapai oleh Kota Surabaya mencapai 73,87 Tahun, sedang yang terendah dicapai Kabupaten Bondowoso mencapai 65,89 tahun. Kesenjangan rata-rata harapan hidup

Analisis Situasi Pembangunan Manusia 45

kedua kabupaten tersebut sebesar 7,98 Tahun. Di wilayah Madiun rata-rata harapan hidup tertinggi dicapai oleh Kota Madiun dan terendah ditempati oleh Kabupaten Madiun yaitu 70,55 Tahun.

Gambar 6.2

Angka Harapan Hidup Wilayah Madiun Tahun 2012–2016

Sumber : BPS Provinsi Jawa Timur

Kesenjangan rata-rata harapan hidup antar Kota Madiun dan Kabupaten Madiun adalah 1,89 Tahun. Kondisi demikian dapat dilihat antara lain dari akses terhadap Rumah Sakit masyarakat Kota Madiun lebih tinggi dari Kabupaten Madiun (Podes 2014).

Pada dimensi pendidikan, dua indikator digunakan sekaligus untuk memotret pembangunan manusia, yaitu harapan lama sekolah dan rata-rata lama sekolah. Kota Madiun memiliki harapan lama sekolah mencapai 14,19 Tahun merupakan peringkat ketiga tertinggi di Jawa Timur setelah Kota Kediri yaitu 14,61 Tahun dan Kota Malang mencapai 15,38 Tahun. Pada dimensi standard hidup layak yang diwakili oleh pengeluaran per kapita yang disesuaikan, kesenjangan pada dimensi ini semakin lama semakin meningkat diantara kabupaten/ kota di Jawa Timur selama kurun waktu

Analisis Situasi Pembangunan Manusia 46

2012 hingga 2016. Pengeluaran tertinggi Tahun 2016 terjadi di kota Surabaya sebesar Rp. 16.295 per kapita per hari sedangkan terendah terjadi di Kabupaten Sumenep sebesar Rp. 7.846 per kapita per hari. Kota Madiun sedikit di bawah Surabaya yaitu sebesar Rp. 15.300 per kapita per hari.

Gambar 6.3

Pengeluaran Per Kapita Per Hari Tiga Kota Tertinggi dan Terendah Di Jawa Timur Tahun 2016

7

Kesimpulan

Analisis Situasi Pembangunan Manusia 47

KESIMPULAN

IPM merupakan salah satu indikator penting dalam menilai upaya dan kinerja program pembangunan secara menyeluruh di suatu wilayah. Dalam hal ini IPM dianggap sebagai gambaran dari hasil pembangunan yang telah dilakukan beberapa tahun sebelumnya. Demikian juga kemajuan program pembangunan dalam suatu periode dapat diukur dan ditunjukkan oleh besaran IPM pada awal dan akhir periode tersebut.

Angka IPM mempunyai dimensi yang sangat luas, karena mencerminkan perkembangan kualitas pembangunan manusia dan kesejahteraan masyarakat di suatu wilayah. Besaran IPM menilai kualitas pembangunan manusia, baik dari sisi dampaknya terhadap kondisi fisik manusia (kesehatan dan kesejahteraan) maupun yang bersifat non-fisik (intelektualitas). Pembangunan yang berdampak pada kondisi fisik masyarakat diharapkan tercermin dalam angka harapan hidup dan kemampuan daya beli, sedangkan untuk dampak non-fisik (intelektualitas) dilihat dari tingkat pendidikan yang ditamatkan oleh masyarakat.

Angka IPM yang semakin tinggi mencerminkan tingkat pencapaian kesejahteraan hidup masyarakat yang semakin besar dari waktu ke waktu. Kenaikan dalam angka IPM tersebut tentunya sebagai dampak dari serangkaian kebijakan dalam berbagai program kegiatan yang dapat mendukung kegiatan di bidang pendidikan, kesehatan dan bidang ekonomi. Banyaknya kegiatan yang ada dalam ketiga bidang tersebut tentunya sebagai konsekuensi dari penambahan anggaran pada berbagai kegiatan yang ada.

Analisis Situasi Pembangunan Manusia 48

Dari hasil pengamatan data Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Madiun didapat beberapa kesimpulan diantaranya :

• Tren pembangunan manusia di Indonesia semakin meningkat dari tahun ke tahun. Peningkatan juga terjadi di Tahun 2016. Capaian IPM Kota Madiun pada Tahun 2016 adalah 80,01 dengan pertumbuhan sebesar 0,67 persen dari Tahun 2015.

• Peningkatan terjadi pada seluruh komponen IPM yaitu :

1. Komponen Kesehatan ditunjukkan dengan meningkatnya Angka Harapan Hidup menjadi 72,44 Tahun di Tahun 2016 dibandingkan Tahun sebelumnya sebesar 72,41 Tahun.

2. Komponen Pendidikan dengan meningkatnya Angka Harapan Lama Sekolah menjadi 14,19 Tahun dan Rata-Rata Lama Sekolah menjadi 11,09 Tahun dibandingkan Tahun 2015.

3. Komponen ekonomi yang ditunjukkan dengan meningkatnya pengeluaran per kapita per hari menjadi Rp.15.300 pada Tahun 2016 dibanding Tahun 2015 sebesar Rp. 14.723,-.

• Capaian IPM pada Tahun 2016 Kota Madiun menempati ranking ketiga setelah Kota Surabaya dengan IPM sebesar 80,38 dan Kota Malang dengan IPM sebesar 80,46. Capaian IPM tersebut memposisikan ketiga kota memiliki status pembangunan manusia “Sangat Tinggi”.

• Indikator Angka Harapan Hidup Kota Madiun sebesar 72,44 Tahun menempati urutan kesepuluh dibandingkan dengan kabupaten/ kota di wilayah Jawa Timur. Indikator tertinggi diraih oleh Kota Surabaya sebesar 73,87 Tahun.

Analisis Situasi Pembangunan Manusia 49

• Indikator Rata-Rata Lama Sekolah Kota Madiun Tahun 2016 mencapai 14,19 Tahun. Capaian tertinggi diraih oleh Kota Malang sebesar 15,38 Tahun.

• Indikator pengeluaran per kapita disesuaikan Kota Madiun Tahun 2016 sebesar Rp. 15.300,- per hari. Capaian tertinggi diraih oleh Kota Surabaya sebesar Rp. 16.295,-.

8

Dalam dokumen KATA SAMBUTAN WALIKOTA MADIUN (Halaman 59-67)

Dokumen terkait