• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

2. Objek Lanskap Sejarah

2.5 Situs Ranggapat

Situs Ranggapati merupakan sebuah makam yang terletak di kompleks Gudang Elpiji di Jalan Batutulis, tidak jauh dari Gereja Bethel Indonesia Elohim. Kompleks situs ditanami deretan pohon jati (Tectona grandis) tepat di depan pintu masuk situs. Pada bagian sebelah kiri dari pintu masuk situs, terdapat tumpukan sampah organik dan non-organik. Sampah-sampah ini sebagian berasal dari para peziarah yang datang berkunjung. Situs ini berada di dalam sebuah ruangan berdinding sederhana, beberapa bagian dinding tampak lapuk dan berlumut karena kurang sorotan sinar matahari. Pada bagian luar terdapat pagar berbahan material

a b c

48

besi yang mengelilingi dinding situs dan di beberapa bagian pagar terdapat tindak vandalisme.

Gambar 38 Papan informasi (a) dan kondisi di luar situs (b & c) Sumber: dokumentasi lapang

Situs ini terdiri dari 7 buah batu tegak bercorak megalitik, yaitu 2 batu berukuran besar, 3 batu berukuran sedang, dan 2 batu berukuran kecil. Masing- masing batu dibungkus kain putih. Adanya bekas sesajen berupa bunga-bunga, dupa atau hio, dan kendi air mengindikasikan bahwa kegiatan spiritual masih dilakukan umumnya oleh para peziarah dari Kota Bogor. Menurut juru kunci situs, peziarah datang paling banyak menjelang bulan Ramadhan. Nama Ranggapati (sering disebut Eyang atau Embah Ranggapati) sendiri diambil dari nama salah satu tangan kanan kepercayaan Prabu Siliwangi pada masa pemerintahannya di Pakuan.

Gambar 39 Tujuh batu tegak bercorak megalitik di dalam situs Sumber: dokumentasi lapang

Potensi Benda Cagar Budaya

Terdapat sepasang batu disolit yang berada di dalam sebuah rumah penduduk keturunan etnis Tionghoa di Gang Amil, Jalan Batutulis, dan hanya berjarak beberapa meter dari Situs Prasasti Batutulis. Menurut Danasasmita (2014), pasangan batu disolit Gang Amil terdiri atas sebuah menhir persegi lima alami dan sebuah stone slab atau batu pipih yang berada berdampingan dengan menhir.

Gambar 40 Pasangan menhir persegi lima dan batu pipih (stone slab) Sumber: Ermawan (2010)

Gang Amil sebenarnya merupakan sebuah peninggalan sejarah Kota Bogor pada periode kerajaan. Danasasmita dalam bukunya mengutip laporan Winkler, yaitu disebutkan bahwa Winkler menemukan sebuah jalan yang dikeraskan dengan jajaran batu yang rapi menuju ke bekas paseban. Paseban dalam bahasa Sunda berarti ‘balai untuk menghadap raja’ atau ‘balai penghadapan’. Pasangan disolit di Gang Amil sendiri merupakan tempat duduk dan bertapa para pengawal bangsawan kerajaan.

Dalam kajian mengenai lokasi keraton Pakuan, keraton ini berada dekat dengan Prasasti Batutulis dan pasangan disolit sebagai penanda gerbang masuk keraton. Pada sisi gerbang masuk terdapat deretan 7 pohon beringin yang mengindikasikan bahwa akhir dari deretan tersebut adalah lokasi keraton Pakuan.

Gambar 41 Jalan masuk Gang Amil (a), mulut Gang Amil yang berhadapan dengan Jalan Batutulis dan Istana “Hing Puri Bima Sakti” (b)

Sumber: dokumentasi lapang

Kondisi Gang Amil pada saat ini merupakan gang dengan deretan perumahan padat penduduk. Tidak ada papan informasi yang menunjukkan keberadaan pasangan batu disolit Gang Amil, serta tidak pula terdaftar dalam data persebaran benda bersejarah di Disbudparektif Kota Bogor karena keberadaannya merupakan milik pribadi. Menurut penduduk sekitar, masih banyak rumah penduduk yang di dalamnya terdapat batu-batu serupa. Pasangan batu disolit ini memiliki potensi untuk dijadikan Benda Cagar Budaya sesuai kriteria Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.

Persebaran Objek Lanskap Sejarah

Lanskap sejarah Periode Kerajaan di Kota Bogor memiliki karakter penyusun yang di dominasi oleh objek-objek berupa situs bersejarah. Seluruh objek yang terdata dan dikaji dalam penelitian ini terdapat di wilayah Kelurahan Batutulis dengan Situs Prasasti Batutulis dianggap menjadi pusat karakter penyusun. Hal ini disebabkan, pada masa Kerajaan Pajajaran, situs tersebut adalah tempat bagi para raja untuk memuja dewa dan sebagai balai berkumpul pada saat peristiwa penobatan raja. Objek selain Situs Prasasti Batutulis yang tersebar di sekelilingnya, seluruhnya masih memiliki keterkaitan sejarah. Pada gambar berikut ini (Gambar 42) adalah peta persebaran objek pada lanskap sejarah di wilayah Kelurahan Batutulis.

50

Gambar 42 Persebaran objek-objek lanskap sejarah

Pada gambar diatas dapat dilihat bahwa keberadaan objek lanskap sejarah berada di tengah-tengah laju pesat pembangunan dan juga pemukiman padat penduduk. Hal ini mengakibatkan keberadaanya sulit terlacak, didukung dengan rendahnya kelengkapan dan kualitas fasilitas pendukung, seperti adanya papan yang rusak, papan yang terhalang pohon, informasi yang terlalu dekat dengan jalan sehingga menyulitkan orang yang ingin membacanya, dan tidak adanya juru kunci. Selain objek-objek tersebut, karakter penyusun pada lanskap sejarah dapat diperkuat dengan adanya batas fisik lanskap. Keberadaan batas fisik lanskap sebenarnya merupakan bagian yang tidak terpisahkan, karena batas fisik lanskap pun memiliki keterkaitan sejarah pada periode yang sama dengan objek lanskap sejarah. Perlakuan yang tepat untuk mempertahankan batas fisik lanskap dibutuhkan untuk menjadikannya dapat dilihat dan dirasakan oleh masyarakat yang tinggal di sekitarnya, dan dapat pula membantu pihak pemerintah dalam mengembangkan Kota Pusaka pada aset pusaka periode Kerajaan. Berikut ini adalah peta nomor 1, yaitu Peta Delineasi Wilayah Bekas Kota Pakuan.

Analisis Nilai Signifikansi Lanskap Sejarah

Hasil analisis penilaian signifikansi lanskap sejarah Periode Kerajaan di Kota Bogor berdasarkan aspek keaslian, aspek keunikan, serta aspek kondisi fisik dan lingkungan dapat dilihat pada Tabel 19. Berdasarkan ketiga penilaian tersebut kemudian diperoleh hasil keseluruhan nilai signifikansi lanskap sejarah yang tertera pada Tabel 20.

Tabel 19 Penilaian keaslian, keunikan, kondisi fisik dan lingkungan pada lanskap sejarah

Aspek Kriteria Skor

Keaslian

1 Pola penggunaan lahan 2

2 Elemen lanskap 3

3 Aksesibilitas dan Sirkulasi 2

Skor Total 7 Kategori Sedang Keunikan 1 Asosiasi kesejarahan 3 2 Integritas 2 3 Kelangkaan 2 4 Kualitas Estetik 2 Skor Total 9 Kategori Tinggi Kondisi Fisik Lingkungan 1 Kondisi Fisik 2 2 Kondisi Lingkungan 1 Skor Total 3 Kategori Rendah

Keterangan: Skor total 8-9=Keaslian Tinggi; 6-7=Keaslian Sedang; 3-5=Keaslian Rendah Sumber tabel: modifikasi Harris dan Dines (1988)

Berdasarkan hasil penilaian aspek keaslian pada lanskap sejarah Periode Kerajaan di Kota Bogor, diperoleh total skor 7 dengan kategori Sedang. Hal ini membuktikan bahwa lanskap sejarah mengalami perubahan lahan sebesar 25-50%, dimana elemen-elemen dalam lanskap sejarah mengalami perubahan struktur dan elemen bangunan tetapi masih mewakili karakter dan gaya masa lalu. Kemudian jaringan jalan mengalami penambahan ruas tetapi karakteristiknya tidak berubah.

Hasil penilaian aspek keunikan pada lanskap sejarah Periode Kerajaan di Kota Bogor menghasilkan total skor 9 dengan kategori Tinggi. Hal ini membuktikan bahwa lanskap memiliki hubungan kesejarahan yang kuat, karakter, struktur, dan fungsi elemen menyatu dan harmonis dengan lingkungan di sekitarnya, serta bersifat khas dan jarang dijumpai di tempat lain, sehingga karakter dan strukturnya memiliki estetika yang khas pada hampir semua bagian.

Sementara itu, hasil penilaian aspek kondisi fisik dan lingkungan menghasilkan total skor 3 dengan kategori Rendah. Hal ini membuktikan bahwa beberapa kondisi elemen dalam lanskap sejarah mengalami kerusakan (dalam kondisi tidak terawat) dan lingkungan sekitar tidak mendukung keberadaan lanskap sehingga dapat mengancam eksistensi karakteristiknya.

Tabel berikut ini (Tabel 21) menunjukkan hasil penilaian gabungan dari ketiga aspek yang telah dinilai dan dibahas.

52

Tabel 20 Nilai signifikansi lanskap sejarah Periode Kerajaan di Kota Bogor Lanskap Sejarah Komponen Penilaian Total Skor Keaslian Total Skor Keunikan Total Skor Kondisi Total Skor Kategori Lanskap Sejarah Periode Kerajaan di Kota Bogor 7 9 3 19 Sedang

Keterangan: Skor 22-27=Keaslian Tinggi; Skor 16-21=Keaslian Sedang; Skor 9-15=Keaslian Rendah

Sumber tabel: modifikasi Harris dan Dines (1988)

Berdasarkan hasil penilaian gabungan diatas, diperoleh total skor 19 dengan kategori keseluruhan yaitu Sedang. Hasil penilaian ini dan analisisnya dapat dijadikan sebagai bahan acuan dalam menentukan tindakan pelestarian lanskap sejarah.

Cultural Map

Berdasarkan hasil proses mapping yang telah dilakukan, tersusun suatu cultural map atau peta budaya lanskap sejarah Periode Kerajaan di Kota Bogor yang memuat informasi persebaran objek-objek lanskap sejarah, delineasi wilayah kekuasaan Pakuan, dan persebaran basis pengrajin lokal. Keterlibatan masyarakat, sebagaimana salah satu inti dari sebuah peta budaya, dapat dilihat pada keberadaan basis pengrajin lokal dalam informasi peta. Melalui proses wawancara dengan masyarakat dan pihak kelurahan, dapat diketahui aset-aset budaya masyarakat yang menjadikan karakter masyarakat unik, terutama bagi masyarakat yang tinggal di wilayah lanskap sejarah.

Basis Pengrajin Lokal

Terdapat sebanyak 5 basis pengrajin lokal yang teridentifikasi. Kelima basis-basis ini dipilih karena merupakan basis pengrajin yang menggunakan bahan atau material khas, dimana khas yang dimaksud adalah bahan-bahan tersebut merupakan bahan yang dapat ditemukan dan pernah dipergunakan pula di Kota Bogor pada masa Kerajaan Pajajaran.

Dokumen terkait