Skema Hirarki Kegiatan Servis

Dalam dokumen Perancangan Deli Youth Center di Kawasan Bersejarah Pulo Berayan Medan (Halaman 82-133)

BAB V KONSEP PERANCANGAN

Diagram 2.4 Skema Hirarki Kegiatan Servis

Diagram 2.3 Skema Hirarki Kegiatan Penyewa Cafe dan Restoran (Sumber : Pengolahan data pribadi)

2.4.2 Deskripsi Perilaku 1. Pengunjung

Pengunjung yang termasuk dalam golongan orang yang datang dan berkunjung ke bangunan Youth Center yang melakukan suatu kegiatan tertentu yang telah difasilitasi di dalam dan di luar bangunan termasuk para siswa/ mahasiswa ataupun remaja, anggota komunitas, maupun masyarakat umum yang ingin menggunakan fasilitas permainan, olahraga, melihat pertunjukan seni, yang dipertunjukan oleh komunitas-komunitas yang ada, sehingga memerlukan sirkulasi bangunan yang saling berkoordinasi antara 1 fasilitas dengan fasilitas lainnyadengan baik untuk menciptakan suasana yang nyaman bagi pengunjung.

2. Pengelola Bangunan

Merupakan pekerja yang bertanggung jawab untuk mengurus lingkungan Deli Youth Center baik secara administrasi maupun fisik bangunan. Pengelola juga melakukan pemeliharaan, promosi dan juga dapat mengelola even kegiatan yang akan diadakan di auditorium pada bangunan ini.

3. Pengelola Tempat Usaha (Cafe Dan Restoran)

Pengelola bertanggung jawab atas usaha yang dijalankan serta disediakan, serta bertanggung jawab menberi kenyaman dan keamanan bagi penyewa cafe dan restoran yang ada.

Tabel 2.4 Analisa Pelaku, Kegiatan Dan Kebutuhan Ruang KELOMPOK

KEGIATAN

UNIT

KEGIATAN PELAKU KRITERIA KEGIATAN KEBUTUHAN RUANG

Penerimaan Penerimaan Resepsionis Pengelola bangunan yang mendata pengunjung f. Promosi g. Memberi Informasi h. Berbincang i. Lobby j. R Tunggu k. Security l. Pusat Informasi Kegiatan Utama Edukatif Siswa Mahasiswa Ramaja Pengajar Pelatih Remaja yang berkegiatan di dalam bangunan  Bermain  Pertunjukan  Latihan Menari, Bernyanyi, Bermusik  Taman  Perpustakaan  Auditorium

 Area Perkumpulan Komunitas  Area Pelatihan Seni Dan

Kreatifitas Rekreatif Penonton Pengunjung Penonton dan pengunjung yang melakukan aktifitas di alam maupun di luar bangunan.  Penonton Pertunjukan Seni

 Pelatih Olah Raga Dan Pertunjukan Seni  Anggota Komunitas

 Ampiteater Outdoor  Taman

 Lapangan Outdoor  Area Berkumpul

 Area Skate Board, Grafity Dan Rock Climbing Kegiatan Pendukung Makan dan minum dll Pengunjung Pengelola

Orang yang datang dan berkunjung dan melakukan kegiatan dan memerlukan makan dan minum

 Berkumpul Untuk Makan Dan Minum

 Restoran, caffe  Musholah  Toilet Umum

(Sumber : Pengolahan dara primer) Perawatan bangunan Pelayanan umum Bongkar muatan barang Penyimpana n barang karyawan Gudang Looding dock

Staff dan pengelola bangunan dan teknisi 

Mengelola Pelayanan Bangunan

 Menjaga Keamanan  Menerima Barang

Yang Masuk Dan Keluar  Ruang cctv  Ruang AHU  Ruang chiller  R.genset  R. Travo  R. Panel  R. pompa

2.4.3 Dekskripsi Persyaratan dan Kriteria Ruang

Data berikut merupakan suatu kriteria ruang luar yang harus di miliki oleh youth center ini:

1. Dekat dengan jalan primer dan berada pada lahan dengan nilai tanah rendah. 2. Lokasi berada pada kawasan strategis, berbudaya, sesuai dengn fungsi. 3. Berada dekat dengan RTH.

4. Lokasi dekat dengan prasaran seperti jaringan kota, listrik, air, telepon, dan saluran pembuangan.

5. Pencapaian yang mudah.

6. Berada di kawasan yang ramai/di permukiman 7. Dekat dengan sarana dan prasarana

8. Tapak memiliki kontur relatif datar 9. Memiliki daerah Struktur kota yang baik 10.Ukuran lahan yang luas

11.dilalui angkutan umum

12.Lokasi tidak rawan dari bencana banjir 13.Berada di zona pendidikan

Data berikut merupakan suatu kriteria ruang dalam yang harus di miliki oleh Youth Center ini:

1. Memiliki space yang luas untuk menampung penonton yang kan berkunjung. 2. Memiliki RTH yang luas sebagai wahana rekreasi bagi pengunjung.

3. Ruangan yang ada pada bangunan di pisahkan berdasarkan zooning dan fungsi yang telah di tetapkan.

Gambar 2.10 Penzoningan Euralille Youth Centre

(Sumber : www.archdaily) 2.4.4 Studi Banding Arsitektur

1. JDS Architects Euralille Youth Centre Lokasi: Lille, Prancis

Gambar 2.9 Perspektif Euralille Youth Centre (Sumber : www.archdaily)

Arsitek: JDS Arsitek Lokasi: Lille, Prancis

Tim Proyek: Antoine Allard, dll Klien: SAEM Euralille

Kolaborator: Agence Franck Boutte Konsultan, Egis, SL2EC

Anggaran: 11400000 EUR Ukuran: 6.000 m²

Status sqm : Konstruksi 2012

Proyek ini muncul dari ide menciptakan katalis perkotaan, menampung tiga program yang berbeda di situs segitiga, dengan fungsi rumah youth hostel, taman kanak-kanak dan kantor ini merupakan hasil dari kompetinsi yang di undang oleh JDS dimenangkan dan bekerja sama dengan egis, franck agence boutle konsultan.

Dengan menempatkan program di setiap titik dari segitiga bangunan ini menawarkan privasi maksimal yang memungkinkan pengunjung untuk dapat berinteraksi di ruang luar yang diselenggarakan di sekitar taman, seperti berada tenang di pusat kota. Pencabutan massa program di sudut-sudut menerangi dan mengaktifkan ruang publik yang berdekatan dan menciptakan kesinambungan dari luar ke dalam gedung.

Gambar 2.11 JDS Architects Euralille Youth Centre Lokasi: Lille

(Sumber : www.archdaily)

Gambar 2.12 Gubahan massa JDS Architects Euralille Youth Centre Lokasi: Lille, Prancis

Dari analisa dan gubahan massa yang di lakukan oleh bangunan ini, bangunan ini sangat baik menerima sinar matahari sebagai sinar cahaya alami yang di terima oleh bangunan tersebut.

Selama dua puluh tahun terakhir bangunan ini menjadi hubungan Eropa sebagai sebuah tujuan bisnis, dan kongre dan sebagi tempatyang bagus untuk belajar dan hidup, dan juga sebagi tujuan wisata.

Gambar 2.13 Site plan dan groundplan JDS Architects Euralille Youth Centre Lokasi: Lille, Prancis)

(Sumber : www.archdaily)

Gambar 2.14 Interior JDS Architects Euralille Youth Centre Lokasi: Lille, Prancis)

2. Rivas Vaciamadrid Youth Center / MI5 Arquitectos

Rivas-Vaciamadrid, Madrid, Spanyol  Arsitek

Manuel Collado Arpia y Nacho Martín Asunción  kolaborator

Eider Holgado, Richar y Diego Barajas  Teknik

Juan Travesí (Estructuras)

Gambar 2.15 Peta Lokasi Rivas Vaciamadrid Youth Center / MI5

Arquitectos (Sumber : www.archdaily)

 Kontraktor Dragados  anggaran belanja 2.344.502 €  Luas Site 1.834,0 meter persegi  proyek Tahun 2009

Gambar 2.16 Ekseterior Rivas Vaciamadrid Youth Center / MI5

Arquitectos (Sumber : www.archdaily)

Youth center di Rivas Vaciamadrid ini berada di Spanyol dan merupakan bangunan youth center yang didirikan untuk pemuda kelas menengah di kota Madrid Spanyol, sejak awal proyek ini di dirikan dengan kemungkinan yang akan dibuat di bawah tanah, sedangkan konstruksi yang dirancang berlandaskan radikal pemuda Madrid pada umumnya, dan pemuda Rivas pada khususnya.

Proyek ini bercita-cita untuk menjadi eksplisit remaja dengan mengambil suara dan bahasa mereka sebagai bahan proyek.

Bentukan massa seperti bintang 2 dimensi selanjutnya dipertegas dengan garis plafon yang seperti bintang 3 dimensi yang akhirnya ditutupi oleh penutup atap yang berbentuk bintang pula. Hal ini dilakukan bertujuan sebagai filosofi agar para pemuda tetap bersemangat dalam meraih bintang, dan bentukan yang ekspresi tidak hanya pada fasade bangunan tapi juga layout denah bangunan ini.

Gambar 2.17 Gubahan Massa Rivas Vaciamadrid Youth Center /

MI5 Arquitectos (Sumber : www.archdaily)

Bentuk yang dinamis yang diterapkan pada bangunan ini memberi kesan bebas bagi para pemuda, sehingga para pemuda lebih semangat dalam melakukan suatu kegiatan mereka, warna tebal dan warna yang mencolok juga dapat meningkatkan semangat bagi para pemuda yang ada di Spanyol.

Gambar 2.18 Interior 1 Rivas Vaciamadrid Youth Center / MI5

Arquitectos (Sumber : www.archdaily)

Ruang-ruang yang disediakan pada bangunan youth center ini adalah a) Ruang konser b) Bar c) Serambi d) R. Kuliah e) R. Peralihan tertutup f) R. Kebersihan

g) R. Pelatihan dan toilet h) R. Beladiri

i) Administrasi dan pengelola

Gambar 2.19 Interior 2 Rivas Vaciamadrid Youth Center / MI5

Arquitectos (Sumber : www.archdaily)

2.5 Elaborasi Tema

Green Architecture

2.5.1 Pengertian

Konsep green architecture atau arsitektur hijau menjadi suatu tema yang menarik, salah satunya karena kebutuhan untuk memberdayakan potensi site dan menghemat sumber daya alam yang sudah semakin terlupakan, akibat menipisnya sumber energi tak terbarukan. Green arsitektur ialahsebuah konsep arsitektur yang berusaha meminimalkan pengaruh buruk terhadap lingkungan alam maupun manusia dan menghasilkan tempat hidup yang lebih baik dan lebih sehat, yang dilakukan dengan cara memanfaatkan sumber energi dan sumber daya alam secara efisien dan optimal.

Konsep arsitektur ini lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan, memiliki tingkat keselarasan yang tinggi antara strukturnya dengan lingkungan, dan penggunaan sistem utilitas yang sangat baik. Green architecture dipercaya sebagai desain yang baik dan bertanggung jawab, dan diharapkan digunakan di masa kini dan masa yang akan datang.10

Dalam jangka panjang, biaya lingkungan sama dengan biaya sosial, manfaat lingkungan sama juga dengan manfaat sosial. Persoalan energi dan lingkungan merupakan kepentingan profesional bagi arsitek yang sasarannya adalah untuk meningkatkan kualitas hidup.

10

2.5.2 Interprestasi Tema

1. Prinsip-Prinsip Green Architecture

a. Hemat energi / Conserving energy : Pengoperasian bangunan harus meminimalkan penggunaan bahan bakar atau energi listrik ( sebisa mungkin memaksimalkan energi alam sekitar lokasi bangunan ).

b. Memperhatikan kondisi iklim / Working with climate : Mendisain bagunan harus berdasarkan iklim yang berlaku di lokasi tapak kita, dan sumber energi yang ada.

c. Minimizing new resources : mendisain dengan mengoptimalkan kebutuhan sumberdaya alam yang baru, agar sumberdaya tersebut tidak habis dan dapat digunakan di masa mendatang/Penggunaan material bangunan yang tidak berbahaya bagi ekosistem dan sumber daya alam.

d. Tidak berdampak negative bagi kesehatan dan kenyamanan penghuni bangunan tersebut / Respect for site

e. Merespon keadaan tapak dari bangunan / Respect for user : Dalam merancang bangunan harus memperhatikan semua pengguna bangunan dan memenuhi semua kebutuhannya.

f. Menetapkan seluruh prinsip – prinsip green architecture secara keseluruhan / Holism : Ketentuan diatas tidak baku, artinya dapat kita pergunakan sesuai kebutuhan bangunan.

2. 3 Sifat – sifat pada bangunan berkonsep green architecture.

Green architecture (arsitekture hijau) mulai tumbuh sejalan dengan kesadaran dari para arsitek akan keterbatasan alam dalam menyuplai material yang mulai menipis. Alasan lain digunakannya arsitektur hijau adalah untuk memaksimalkan potensi site.

Penggunaan material-material yang bisa didaur-ulang juga mendukung konsep arsitektur hijau, sehingga penggunaan material dapat dihemat.

Green’ dapat diinterpretasikan sebagai sustainable (berkelanjutan), eaRTHfriendly (ramah lingkungan), dan high performance building (bangunan dengan performa sangat baik).11

a. Sustainable ( Berkelanjutan ).

Bangunan green architecture tetap bertahan dan berfungsi seiring zaman, konsisten terhadap konsepnya yang menyatu dengan alam tanpa adanya perubahan – perubuhan yang signifikan tanpa merusak alam sekitar.

b. Earth Friendly (Ramah lingkungan).

Suatu bangunan belum bisa dianggap sebagai bangunan berkonsep green architecture apabila bangunan tersebut tidak bersifat ramah lingkungan. Maksud tidak bersifat ramah terhadap lingkungan disini tidak hanya dalam perusakkan terhadap lingkungan. Tetapi juga menyangkut masalah pemakaian energi. Oleh karena itu bangunan berkonsep green architecture mempunyai sifat ramah terhadap lingkungan sekitar, energi dan aspek – aspek pendukung lainnya.

c. High performance building.

Bangunan berkonsep green architecture mempunyai satu sifat yang tidak kalah pentingnya dengan sifat – sifat lainnya. Sifat ini adalah “High performance building”. Salah satu fungsinya ialah untuk meminimaliskan penggunaan energi dengan memenfaatkan energi yang berasal dari alam ( Enrgy of nature ) dan dengan dipadukan dengan teknologi tinggi ( High technology performance ). Contohnya :

 Penggunaan panel surya ( Solar cell ) untuk memanfaatkan energi panas matahari sebagai sumber pembangkit tenaga listrik rumahan.

 Penggunaan material – material yang dapat di daur ulang, penggunaan konstruksi – konstruksi maupun bentuk fisik dan fasad bangunan tersebut yang dapat mendukung konsep green architecture.

11

2.5.3 Keterkaitan tema dengan judul

Tema green arsitektur ini sangat baik jika diterapkan pada bangunan Youth Center ini, dikarenkan bangunan ini memiliki fungsi sebagai area rekreasi dan sarana berkumpul dan bersosialisasi yntuk melakukan suatu kegiatan yang positif yang dilakukan oleh remaja yang ada di kota Medan khususnya penduduk yang berada di kawasan pilo brayan bengkel Medan. Selain itu lokasi site Deli Youth Center ini berada di kawasan yang strategis dan berada di dekat sungai Deli sehingga dengan kondisi tersebut tema yang sangat sesuai untuk diterapkan dikawasan ini adalah tema “Green Architecture”.

2.5.4 Study banding arsitektur yang mempunyai tema sejenis

Kantor Manajemen Pusat (KAMPUS) PT Dahana (Persero) di Subang

Gambar 2.20 Bangunan tema sejenis ((KAMPUS) PT Dahana (Sumber : www.wikipedia.org)

1. Data Bangunan

Sebagai gedung yang dirancang dengan konsep green building, KAMPUS yang menempati sebagian dari lahan Energetic Material Center (EMC) seluas 600 hektar PT Dahana ini diganjar berbagai penghargaan, baik penghargaan bidang lingkungan, maupun bidang arsitekstur.

Desain Dahana yang terdiri dari Kantor Manajemen dan Aula Serbaguna ini dalam penghargaan FutureARc. FutureArc sendiri merupakan penghargaan bangunan berwawasan lingkungan yang pertama kalinya digelar tahun 2009, dan diikuti oleh banyak perusahaan dari berbagai negara di Benua Asia dan Australia. PT Dahana meraih predikat juara pertama ketegori BUMN dengan bangunan baru paling efisien dalam penggunaan energi

2. Pembahasan Mengenai Arsitektur Bangunan PT Dahana (Persero) a. Bangunan ini sudah menggunakan konsep arsitektur berkelanjutan dikarena

bangunan ini menggunakan bahan material yang dapat menghemat penggunaan ac pada ruangan yaitu menggunakan double glasses. Bangunan yang dikembangkan sejak 2008 lalu sukses menghemat energi 35%. Selain itu, buangan air per orang per hari mencapai 40 liter. Umumnya sekitar 50 liter. Lahan area perkantoran ini juga bisa 100% menyerap air hujan. Selain itu bangunan ini juga memanfaatkan lahan menjadi ramah lingkungan,yaitu dengan mendominasi lahan dengan tanaman.

b. Konsep green building atau bangunan hijau merupakan salah satu bentuk respon bangunan ini untuk menunjukan bahwa bangunan ini merupakan bangunan yang menggunakan konsep iklim sustainable. Hal ini berkaitan dengan perbaikan perilaku dan teknologi terhadap sebuah bangunan dapat berkontribusi bagi pengurangan pemanasan global.

c. Massa bangunan ini terbagi menjadi 5 gedung serupa dengan fungsi yang berbeda. Kelima gedung tersebut mengelilingi gedung bundar yang berfungsi sebagai musholah di lantai 1 dan auditorium di lantai 2. Bentuk jaring (shading) menyitari gedung auditorium dan berfungsi enahan panas matahari

agar tidak menerobos masuk ke dalam bangunan,shading juga berfungsi sebagai fentilasi sehingga angin dapat menyusup melalui sela-sela angin. d. Konstruksi yang diterapkan bangunan ini sehingga bangunan ini

dikategorikan sebagai bangunan sustainable dapat dilihat dari cara bangunan ini menentukan konsep bangunan yaitu “green building” yang menggunakan roof garden sehingga dapat menggurangi panas yang masuk ke dalan bangunan dan hal ini juga dapat memberi efek positif terhadap lingkungan dan juga bangunan ini juga menggunakan double glass pada bagian dindingnya agar dapat menghalangi panas matahari yang masuk kedalam bangunan agar dapat menghemat penggunaan lisrik di dalam ruangan,dengan desaign tersebut bangunan ini dapat menghemat 35% penggunaan energi listrik pada bangunan.

3. Kelebihan Bangunan

a. Lansekap di sekitar bangunan ini didominasi dengan tanaman, dan memiliki bentuk yang unik pada rooftop nya, hal ini sangat baik dilakukan untuk melestarikan lingkungan, dan dikarenakan lansekap bangunan ini didominasi oleh tanaman, maka Lahan diarea bangunan ini juga bisa 100% menyerap air hujan.

b. Bangunan ini merupakan bangunan yang hemat energi.

c. Bangunan ini juga menciptakan kehidupan yang berkwalitas, melalui konsep green yang diterapkannya.

d. Menggunakan teknologi yang canggih untuk menghemat energi listrik.

e. Dahana telah menerapkan penggunaan energi seefisien mungkin. Setiap sudut ruangan dilengkapi dengan human cencor yang mengatur penggunaan lampu dan air conditioner secara efisien, tidak menggunakan air tanah, penerangan alami, dan pemanfaatan kembali limbah buang secara maksimal.Dari konsep tersebutlah bangunan ini dapat menghemat 35% energi listrik dari total seluruh penggunaan energi listrik yang digunakan oleh bangunan.

f. Konsep hemat energi diterapkan pada bagian lobby yang sudah terang walau tidak dihidupkan lampu, dan pada lampu kamar mandi menggunakan sersor

gerak sehingga dapat menditeksi keberadaan pengguna toilet, apabila tidak ada yang menggunakan toilet lampu toilet tersebut akan mati dengan sendirinya.

g. Kampus Dahana memanfaatkan cahaya matahari secara optimal sehingga sekitar 30% luas lantai yang digunakan mendapat intensitas cahaya minimal 300 lux. Apabila cahaya kurang dari 300 lux, maka sensor akan mengaktifkan lampu untuk menerangi ruangan.

BAB I PENDAHULUAN

Kota Medan merupakan kota yang berada di posisi strategis IMT-GT (Indonesia-Malaysia-Thailand Growt Triangle). Dari keadaan itu pula Kota Medan menjadi salah satu Kawasan Strategis Nasional. Oleh sebab itu, Kota Medan saat ini sedang berbenah diri untuk menjadi kota yang ideal, melalui kerjasama Mebidangro (Medan – Binjai - Deli Serdang - Kabupaten Karo) diharapkan dapat “menggemukkan” kegiatan yang ada di pusat kota, meratakan penyebaran penduduk dan mencapai tujuan kawasan strategis nasional.

Namun ada kendala dari penyebaran penduduk yaitu penyebaran masih terpusat pada inti kota. Hal ini dikarenakan pembangunan plaza (tempat orang berkumpul), infrastruktur, maupun bangunan yang menjadi generator aktifitas masyarakat masih sangat kurang pada daerah pinggir kota. Sehingga perlu didesainnya suatu wahana yang menyenangkan yang dapat digunakan oleh siapa pun sekaligus dapat menjadi suatu area berkumpul dan bersosialisasinya masyarakat Kota Medan khususnya para remaja. Menanggapi issue tersebut kami sebagai perencana memikirkan sebuah solusi, yaitu dengan menciptakan “magnet” pada daerah pinggir kota untuk menarik minat masyarakat agar berpindah ke wilayah yang baru. Tahap yang dilakukan adalah dengan menarik garis vertikal dan horizontal dalam radius 5 km dari titik 0 pusat kota, maka didapatkan empat titik yang bersinggungan yaitu :

1. Utara : Kelurahan Pulo Brayan Lama (Kecamatan Medan Timur, Kecamatan Medan Barat dan Kecamatan Medan Deli)

2. Timur : Kelurahan Bandar Selam dan Kelurahan Bantan (Kecamatan Medan Tembung)

3. Selatan : Kelurahan Sarirejo (Kecamatan Medan Polonia)

4. Barat : Kelurahan Sei Sikambing dan Kelurahan Sei Sikambing C II (Kecamatan Medan Helvetia dan Kecamatan Medan Sunggal)

Disini kami sekelompok akan mengambil satu contoh yaitu kelurahan Pulo Brayan Lama. Kawasan ini menjadi contoh yang menarik, dikarenakan kawasan ini merupakan kawasan bersejarah Kota Medan pada masa kejayaan transportasi kereta api. Namun sekarang citra kawasan ini berubah menjadi kawasan perdagangan yang dikarenakan banyaknya rumah toko (ruko) yang dibangun pada kawasan ini. Fenomena ini juga terjadi hampir di seluruh bagian Kota Medan lainnya. Salah satu cara untuk mengembalikan citra kawasan dan menarik masyarakat untuk pindah dari inti kota adalah menerapkan metode renewal pada titik “magnet” tersebut. Hal ini diharapkan akan menciptakan kesan aman dan nyaman bagi masyarakat yang tinggal di kawasan tersebut.

Adapun renewal pada kawasan Pulo Brayan yaitu dengan membangun beberapa fungsi bangunan sebagai generator aktifitas masyarakat seperti Stasiun Kereta Api, Deli Youth Center , Apartemen, Museum, Convention and Exhibition Centre, Pusat Industri, Concert Hall serta Ruang Terbuka Hijau (RTH) sebagai plaza dan penyumbang Ruang Terbuka Hijau kota. Direncanakan Renewal kawasan Pulo Brayan nantinya menjadi “Green Deli Oasis” dengan menerapkan tema sustainable yang tetap mensinergiskan lingkungan sekitar dengan kegiatan manusia yang ada.

1.1 Latar Belakang

Remaja merupakan suatu periode transisi dari masa awal anak-anak hingga masa awal dewasa, yang dimasuki pada usia kira-kira 10 hingga 12 tahun dan berakhir di usia 18 hingga 22 tahun. Remaja memiliki hobi yang beraneka ragam, dari hobi yang dilakukannya para remaja ini dapat meraih kebahagiannya tersendiri, baik kebahagiaan dalam bersosialisasi, maupun kebahagian dirinya sendiri. Maka sudah seharusnya, Kota Medan menyediakan suatu wadah untuk memuliakan kehidupan remaja, sehingga remaja di Kota Medan dapat menjadi bibit-bibit unggul untuk memajukan Kota Medan.

Deli Youth Center ini merupakan suatu tempat berkumpulnya remaja di Kota Medan yang bertujuan untuk pengembangan bakat remaja dalam

mengekspresikan minat seni dan olah raga serta kreatifitas dirinya secara positif, sehingga dengan adanya bangunan ini, angka kenakalan remaja yang terjadi pada pemuda dan pemudi di Kota Medan dapat diminimalisir.

Pemuda menurut UU Nomor 40 tahun 2009 adalah warga negara Indonesia yang memasuki periode penting pertumbuhan dan perkembangan yang berusia 16 (enam belas) sampai 30 (tiga puluh) tahun. Mengingat batasan pemuda pada usia produktifitas sangat menggelora dan tidak terkendali dengan baik, sehingga apabila tidak hati-hati maka bukan tidak mungkin usia seperti ini mudah sekali terpengaruh pada pemilihan aktifitas yang keliru dan dan terjerumus pada hal-hal yang yang dilarang oleh negara, hal ini dapat merusak masa depan generasi pemuda di Indonesia khususnya pemuda di Kota Medan.

Sehingga dengan adanya wadah penampungan minat dan bakat remaja yang ada di Kota Medan ini, generasi muda yang ada di Kota Medan memiliki keahlian dan kemampuan yang produktif yang dapat menghadapi serta memasuki dunia kerja dengan baik dan akan siap untuk menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) untuk meningkatkan perekonomian Indonesia khususnya Kota Medan, yang sesuai dengan tujuan Mebidangro.

Minat pemuda dan pemudi yang ada di Kota Medan dalam bidang seni dan olah raga masih sangat kuat dan sangat dominan, namun kurangnya sarana dan prasara mengakibatkan kemampuan mereka tidak terealisasikan dengan baik, sehingga memuliakan kehidupan remaja menjadi salah satu tujuan perancang.

Pemerintah, pemerintah daerah, atau masyarakat harus saling bekerja sama untuk memfasilitasinya agar minat dan bakat anak bangsa dapat terealisasi dengan baik.

Pasal 20 dikatakan bahwa “Untuk memajukan prestasi dalam bidang olahraga, Pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau masyarakat dapat mengembangkan: a. perkumpulan olahraga; b. pusat penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi keolahragaan; c. sentra pembinaan olahraga prestasi; d. pendidikan dan pelatihan tenaga keolahragaan; e. prasarana dan sarana olahraga prestasi.

(Sumber: BPS Provinsi Sumatera Utara)

Dari tabel di atas bahwa jumlah remaja putra dan putri yang ada di Kota Medan memiliki jumlah yang relatif banyak, sehingga untuk meminimalisir kenakalan remaja yang terjadi sekarang ini pemuda dan pemudi tersebut harus difasilitasi wadah atau tempat untuk mengekspresikan diri mereka ke hal yang positif dan dapat menyibukkan diri mereka dengan hal positif.

Dalam dokumen Perancangan Deli Youth Center di Kawasan Bersejarah Pulo Berayan Medan (Halaman 82-133)