• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

Bagan 2.2 Skema Hubungan Status Kesehatan, Perilaku dan Pendidikan

Hubungan Status Kesehatan, Perilaku dan Pendidikan Kesehatan Keturunan

Pelayanan Status Lingkungan

Kesehatan Kesehatan

Perilaku

Proses Perubahan

Predisposting Enabling Factors Reinforcing Factor Factors (ketersediaan sumber- (sikap dan perilaku (pengetahuan,sikap Sumber/fasilitas) petugas) kepercayaan, tradisi,

nilai,dsb)

Komunikasi Pemberdayaan Masyarakat Training

Pendidikan Kesehatan (Promosi Kesehatan)

Sumber : Notoatmodjo (2003), Pendidikan dan Perilaku Kesehatan

 

Perilaku manusia pada hakikatnya adalah suatu aktifitas dari manusia itu sendiri yang mencakup berjalan, berbicara, bereaksi, berpakaian, bahkan kegiatan internal seperti berpikir, persepsi dan emosi. (Notoatmodjo, 2003).

Perilaku kesehatan pada dasarnya adalah suatu respons seseorang baik bersifat pasif (pengetahuan, persepsi dan sikap), maupun bersifat aktif (tindakan yang nyata atau practice) terhadap stimulus yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan serta lingkungan. Menurut Becker (1979) perilaku kesehatan berkaitan dengan tindakan atau kegiatan seseorang dalam memelihara dan meningkatkan kesehatannya. Termasuk juga tindakan-tindakan untuk mencegah penyakit, kebersihan perorangan, memilih makanan, sanitasi dan sebagainya.

Benyamin Bloom (1908) membagi perilaku ke dalam tiga domain pendidikan yang terdiri dari kognitif, afektif dan psikomotor. Kemudian dalam perkembangan selanjutnya oleh para ahli pendidikan, ketiga domain ini diukur dari pengetahuan, sikap dan tindakan.

2.4.1. Pengetahuan (Knowledge)

Pengetahuan merupakan hasil tahu setelah adanya penginderaan terhadap suatu objek dan sangat penting dalam pembentukan tindakan seseorang. Penelitian Rogers (1974) mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru, di dalam diri orang tersebut terjadi proses berurutan yakni :

a. Awareness (kesadaran), dimana orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui terlebih dahulu terhadap stimulus (objek).

b. Interest (merasa tertarik) terhadap stimulus atau objek tersebut. Disini sikap subjek sudah mulai timbul.

c. Evaluation (menimbang-nimbang) terhadap baik atau tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya. Hal ini berarti sikap responden sudah lebih baik lagi.

d. Trial, dimana subjek mulai mencoba melakukan sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh stimulus.

e. Adoption, dimana subjek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran dan sikapnya terhadap stimulus.

Perilaku yang didasari oleh pengetahuan, kesadaran dan sikap yang positif akan bersifat langgeng. Sebaliknya perilaku yang tidak didasari pengetahuan dan kesadaran tidak akan berlangsung lama. Ada enam tingkatan pengetahuan yakni :

1. Tahu (know)

Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) terhadap suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Tahu merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan dan sebagainya.

Memahami diartikan sebagi suatu kemampuan menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi secara benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari.

3. Aplikasi (application)

Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi riil (sebenarnya). Aplikasi disini dapat diartikan aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain.

4. Analisis (analysis)

Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek kedalam komponen, tetapi masih didalam suatu stuktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata-kata kerja menggambarkan (membuat bagan), membedakan, memisahkan dan sebagainya.

5. Sintesis (synthesis)

Sintesis menunjukkan suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain kemampuan menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada.

Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian itu berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau kriteria yang telah ada.

2.4.2. Sikap (Attitude)

Sikap adalah reaksi atau respon seseorang yang masih tertutup suatu stimulus atau objek. Sikap itu tidak dapat langsung dilihat, tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup. Sikap secara nyata menunjukkan konotasi adanya kesesuaian reaksi terhadap stimulus tertentu. Newcomb seorang ahli psikologi sosial menyatakan bahwa sikap merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak dan bukan merupakan pelaksanaan motif tertentu. Sikap merupakan reaksi terhadap objek di lingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap objek.

Allport (1954) menjelaskan bahwa sikap mempunyai tiga komponen pokok a. Kepercayaan (keyakinan), ide dan konsep terhadap objek.

b. Kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu objek. c. Kecenderungan untuk bertindak (trend to behave)

Ketiga komponen ini membentuk sikap yang utuh (total attitude). Dalam penentuan sikap yang utuh ini, pengetahuan, berpikir, keyakinan dan emosi memegang peranan penting.

Sikap terdiri dari berbagai tingkatan, yakni ; 1. Menerima (Receiving)

2. Merespons (Responding)

Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap. Karena dengan suatu usaha untuk menjawab pertanyaan atau mengerjakan tugas yang diberikan, lepas pekerjaan itu benar atau salah adalah berarti menerima ide tersebut.

3. Menghargai

Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan dengan orang lain terhadap suatu masalah adalah indikasi sikap tingkat tiga.

4. Bertanggung jawab (Responsible)

Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala resiko adalah sikap yang paling tinggi.

2.4.3. Praktek atau Tindakan (Practise)

Suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan (overt behavior) sehingga diperlukan faktor pendukung atau kondisi yang memungkinkan antara lain fasilitas dan dukungan berbagai pihak.

Tingkatan-tingkat tindakan : 1. Persepsi (Perception)

Mengenal dan memilih objek sehubungan dengan tindakan yang akan diambil adalah praktek tingkat pertama.

Dapat melakukan sesuatu sesuai dengan urutan yang benar sesuai dengan contoh adalah merupakan indikator praktek tingkat dua.

3. Mekanisme (Mechanism)

Apabila seseorang telah dapat melakukan dengan benar secara otomatis atau sesuatu itu sudah merupakan kebiasaan maka ia sudah mencapai praktek tingkat tiga.

4. Adaptasi (Adaptation)

Adaptasi adalah suatu praktek atau tindakan yang sudah berkembang dengan baik, artinya tindakan itu sudah dimodifikasinya sendiri tanpa mengurangi kebenaran tindakannya tersebut.

Variabel Independen Variabel Dependen Faktor Lingkungan Fisik Rumah : - Luas ruangan - Ventilasi - Lantai - Pencahayaan Keterangan: ______ :Variabel diteliti ---: Variabel tidak diteliti

2.6. Hipotesis Penelitian

‐ Pengetahuan Kejadian Tuberkulosis

Paru Karakteristik : - Umur - Jenis kelamin - Pendidikan - Pekerjaan - Penghasilan ‐ Sikap ‐ Tindakan - Pengukuran kondisi fisik rumah - Observasi terhadap sanitasi perumahan

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat dirumuskan hipotesa penelitian sebagai berikut:

Ha : Ada hubungan pengetahuan, sikap dan tidakan tentang lingkungan fisik rumah dengan kejadian Tuberkulosis Paru di wilayah kerja Puskesmas Sukarame Kecamatan Kualuh Hulu.

Ho : Tidak ada hubungan pengetahuan, sikap dan tidakan tentang lingkungan fisik rumah dengan kejadian Tuberkulosis Paru di wilayah kerja Puskesmas Sukarame Kecamatan Kualuh Hulu.

METODE PENELITIAN 3.1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian menggunakan metode survey yang bersifat analitik dengan desain Cross sectional study yaitu untuk mengetahui hubungan pengetahuan, sikap dan tindakan masyarakat tentang faktor lingkungan fisik rumah terhadap kejadian Tuberkulosis Paru serta pemeriksaan lingkungan fisik rumah di wilayah kerja Puskesmas Sukarame Kecamatan Kualuh Hulu Kabupaten Labuhanbatu Utara.

3.2. Lokasi Penelitian dan Waktu Penelitian 3.2.1. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Sukarame Kecamatan Kualuh Hulu Kabupaten Labuhanbatu Utara yang terdiri dari 4 Desa tahun 2010 dan tahun 2011.

3.2.2. Waktu Penelitian

Waktu pelaksanaan penelitian ini adalah dimulai bulan Nopember 2010 sampai dengan bulan Juli 2011.

3.3. Populasi dan Sampel 3.3.1. Populasi

Populasi adalah seluruh masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Sukarame Kecamatan Kualuh Hulu tahun 2010 sebanyak 3268 keluarga.

3.3.2. Sampel

Sampel dalam penelitian ini dipilih dengan cara simple random sampling

yakni sampel dipilih dengan pemeriksaan kontak yaitu penderita Tuberkulosis Paru dan tetangga yang sering terpajan dan berinteraksi dengan penderita Tuberkulosis

Paru dan diambil dengan menggunakan rumus yang dikemukakan Vicent (1991), yaitu sebagai berikut :

N.Zc2.p.(1 – p) n =

NG2 + Zc2.p.(1 – p)

Keterangan :

Zc = Nilai derajat kepercayaan 95% = 1,96 P = Proporsi dari populasi ditetapkan p = 0,5 G = Galat pendugaan = 0,1

N = Besar populasi = 3268 keluarga n = Besar sampel Dengan perhitungan 3268.(1,96)2.0,5.(1 – 0,5) n = 3268.(0,1)2 + 1,962.0,5(1 – 0,5) n= 3138,6/33,6 = 93,3 n= 93 keluarga

3.4. Metode Pengumpulan Data 3.4.1. Data Primer

a. Pengumpulan data primer dilakukan melalui wawancara kepada responden yang di rumah tersebut ada penderita Tuberkulosis Paru dan tetangga yang bertempat tinggal disekitarnya dengan menggunakan kuesioner.

b. Melakukan observasi dan pengukuran terhadap lingkungan fisik rumah penderita Tuberkulosis Paru dan tetangga yang bertempat tinggal di sekitarnya.

Data sekunder diperoleh dari register Tuberkulosis Paru Puskesmas Sukarame Kecamatan Kualuh Hulu di wilayah penelitian.

3.5. Variabel dan Definisi Operasional 3.5.1. Variabel Penelitian

Variabel independen dalam penelitian ini adalah pengetahuan, sikap dan tindakan masyarakat tentang faktor lingkungan fisik rumah. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah kejadian Tuberkulosis Paru. Pengukuran kondisi fisik rumah dan observasi terhadap sanitasi perumahan merupakan variabel pendukung penyebab kejadian Tuberkulosis Paru.

3.5.2. Definisi Operasinal

Definisi operasional yang dibuat tentang batasan-batasan dari istilah yang dipakai dalam penulisan, yaitu :

1. Penderita Tuberkulosis Paru adalah orang yang menderita penyakit Tuberkulosis Paru yang terdaftar dalam register TB Paru di Puskesmas Sukarame Kecamatan Kualuh Hulu tahun 2010.

2. Responden adalah orang yang tinggal di sekitar rumah atau tetangga penderita Tuberkulosis Paru dan orang yang tinggal di rumah tersebut ada penderita Tuberkulosis Paru ataupun penderita itu sendiri di wilayah kerja Puskesmas Sukarame Kecamatan Kualuh Hulu tahun 2010.

3. Umur adalah usia responden dari mulai lahir sampai ulang tahun terakhir. 4. Jenis kelamin adalah responden yang dinyatakan dengan jenis kelamin pria dan wanita

5. Pendidikan adalah tingkat/jenjang pendidikan formal yang terakhir ditamatkan oleh responden mulai dari SR/SD sampai dengan Perguruan Tinggi.

6. Pekerjaan adalah sumber mata pencarian yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan hidup responden.

7. Penghasilan keluarga adalah pendapatan keluarga dari hasil pekerjaan utama maupun tambahan (dalam rupiah) yang dikategorikan berdasarkan Upah Minimum Regional (UMR) Kabupaten Labuhan Batu = Rp. 1.050.000,- yang dikategorikan :

1. Rendah (< Rp. 1.050.000,-)

2. Sedang (Rp. 1.050.000,- – Rp.2.000.000) 3. Tinggi (> Rp.2.000.000,-)

8. Lingkungan fisik rumah adalah keadaan bagian-bagian dari rumah responden yang diperkirakan ikut berperan dalam penularan penyakit Tuberkulosis Paru, yaitu luas ruangan, ventilasi, lantai, kelembaban dan pencahayaan.

9. Kepadatan hunian ruangan tidur adalah luas ruangan minimal 8 meter, dan tidak dianjurkan digunakan lebih dari 2 orang tidur dalam satu ruang tidur, kecuali anak dibawah umur 5 tahun.

10. Ventilasi rumah yang saniter adalah rumah yang memiliki luas jendela/lubang udara pada rumah paling sedikit 10% dari luas lantai ruangan

dan 50% dari luas jendela atau lubang udara harus dapat dibuka, sehingga ada aliran udara yang segar terus berlangsung.

11. Lantai rumah yang saniter adalah kondisi kedap air, terbuat dari bahan yang cukup keras, kuat, rata dan mudah dibersihkan.

12. Kelembaban adalah keadaan lembab dalam ruangan yang berkisar 40%- 70% diukur dengan alat Hygrometer. Pengukuran dilakukan bersamaan dengan pengukuran suhu ruangan kamar sekitar 22-30º C. Cara menggunakan alat yaitu dengan meletakkan alat pada ruang tidur dan ruang kumpul keluarga.

13. Pencahayaan yang memenuhi syarat adalah masuknya sinar matahari kedalam ruangan dan menyebar secara merata, terang dan tidak silau sehingga dapat membaca secara normal.

14. Pengetahuan adalah apa yang diketahui oleh responden tentang penyakit Tuberkulosis Paru dan lingkungan fisik rumah.

15. Sikap adalah cara responden memandang sesuatu hal yang telah diketahuinya tentang penyakit Tuberkulosis Paru dan lingkungan fisik rumah.

16. Tindakan adalah perlakuan atau kegiatan yang dilakukan responden sebagai respon dari apa yang diketahuinya tentang penyakit Tuberkulosis Paru dan lingkungan fisik rumah.

Untuk mengukur variabel pengetahuan, sikap dan tindakan pada penelitian ini didasarkan pada jawaban responden dari semua pertanyaan yang diberikan digunakan skala likert. ( Sugiono, 2007).

3.6.1. Pengukuran Pengetahuan

Dari pertanyaan pengetahuan 1-19 mempunyai nilai jawaban, jika menjawab a diberi skor = 2, jika responden menjawab b diberi skor = 1 dan jika responden menjawab c diberi skor = 0, sehingga didapat skor tertinggi adalah 38. Selanjutnya akan dikategorikan baik, sedang dan kurang dengan ketentuan sebagai berikut :

a. Pengetahuan baik jika jawaban responden nilainya > 75 % dari total skor jawaban pada kuesioner atau skor >29.

b. Pengetahuan sedang jika jawaban responden nilainya 40% – 75 % dari total skor jawaban pada kuesioner atau skor 15 – 29.

c. Pengetahuan kurang jika jawaban responden nilainya 40 % dari total skor jawaban pada kuesioner atau skor < 15.

3.6.2. Pengukuran Sikap

Dari pertanyaan sikap 1 – 11 mempunyai nilai jawaban, jika responden menjawab setuju (a) akan diberi skor = 2, jika responden menjawab kurang setuju (b) akan diberi skor = 1 dan jika responden menjawab tidak setuju (c) maka diberi skor = 0, sehingga didapat skore tertinggi adalah 22. Selanjutnya akan dikategorikan baik, sedang dan kurang, dengan ketentuan sebagai berikut :

a. Sikap baik jika jawaban responden nilainya > 75 % dari total skor jawaban pada kuesioner = skor > 17

b. Sikap sedang jika jawaban responden nilainya 40 – 75 % dari total skor jawaban pada kuesioner = skor 9 – 17.

c. Sikap kurang jika jawaban responden nilainya 40 % dari total skor jawaban pada kuesioner = skor < 9.

3.6.3. Pengukuran Tindakan

Dari pertanyaan 1 – 10 mempunyai nilai jawaban, jika responden menjawab a akan diberi skor = 2, jika responden menjawab b akan diberi skor = 1 dan jika responden menjawab c maka diberi skor 0. Sehingga di dapat skor tertinggi adalah 20. Selanjutnya akan dikategorikan baik, sedang dan kurang. Dengan ketentuan sebagai berikut :

a. Tindakan baik jika jawaban responden nilainya > 75 % dari total skor jawaban pada kuesioner atau skor >15.

b. Tindakan sedang jika jawaban responden nilainya 40 – 75 % dari total skor jawaban pada kuesioner atau skor 8 – 15.

c. Tindakan kurang jika jawaban responden nilainya 40 % dari total skor jawaban pada kuesioner atau skor < 8.

3.6.4. Lingkungan Fisik Rumah

Penilaian terhadap lingkungan fisik rumah dilakukan dengan melakukan observasi, pengukuran dan kemudian menilai persyaratan untuk masing-masing objek yang diteliti, dengan menggunakan Kepmenkes no. 829 tahun 1999 dan Pedoman Teknis Penilaian Rumah Sehat.

3.7.1. Pengolahan Data

Pengolahan data dilakukan dengan bantuan komputer, untuk menggambarkan hasil observasi, wawancara dan pengukuran yang dilakukan.

3.7.2. Analisa data 1. Analisa Univariat

Analisa data dengan mendistribusikan variabel penelitian yaitu variabel faktor lingkungan fisik rumah yang diperkirakan ikut berperan dalam penularan penyakit Tuberkulosis Paru dan variabel pengetahuan, sikap dan tindakan yang disajikan dalam tabel distribusi frekuensi.

2. Analisa Bivariat

Variabel pengetahuan, sikap dan tindakan dengan faktor lingkungan fisik rumah yang diperkirakan ikut berperan dalam penularan penyakit Tuberkulosis Paru akan dianalisa dengan menggunakan uji chi-square atau Excat fisher pada taraf kepercayaan 95% sehingga diketahui hubungan antar variabel penelitian.

.

BAB IV

HASIL PENELITIAN 4.1.Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Kabupaten Labuhanbatu Utara adalah Kabupaten yang baru dimekarkan dari Kabupaten Labuhanbatu, sesuai dengan undang-undang nomor 23 tahun 2008 tentang pembentukan Kabupaten Labuhanbatu Utara dengan ibukota Aekkanopan dengan batas wilayah sebagai berikut:

1. Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Asahan dan Selat Malaka. 2. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Tapanuli Selatan, Kabupaten

Padang Lawas Utara dan Kabupaten Labuhanbatu.

3. Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Toba Samosir dan Kabupaten Tapanuli Utara.

4. Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Labuhanbatu.

Kecamatan Kualuh Hulu merupakan salah satu dari 8 kecamatan yang ada di Kabupaten Labuhanbatu Utara terdapat 4 Puskesmas. Puskesmas Sukarame termasuk yang berada di wilayah Kecamatan Kualuh Hulu mempunyai wilayah kerja 4 desa dengan luas seluruhnya ± 22.900 m². Keadaan daerah terdiri dari daratan dan sebagian bertanah gambut dan rawa-rawa. Sebagian besar diusahakan untuk perkebunan kelapa sawit, karet dan persawahan. Sebagian kecil digunakan untuk

peternakan, perumahan dan industri. Jumlah penduduk 16728 jiwa terdiri dari 3268 kepala keluarga dengan mata pencarian sebagian besar adalah sebagai petani, sisanya adalah sebagai karyawan, pedagang, pegawai negeri dan lainnya.

Berdasarkan profil Puskesmas Sukarame (2010) diketahui jumlah penderita Tuberkulosis Paru 20 orang. Persentase rumah tangga berperilaku hidup bersih sehat 30,90% dari 2.259 keluarga yang dipantau atau sebanyak 523 rumah tangga. Persentase rumah sehat yang diperiksa 62,90% dari 2.259 rumah yang diperiksa, sebanyak 1.435 rumah atau sebesar 63,52% memiliki jamban keluarga yang memenuhi syarat kesehatan, sebanyak 1.855 rumah atau sebesar 82,12% memiliki tempat pembuangan sampah (TPS) yang memenuhi syarat kesehatan.

4.2. Analisis Univariat

4.2.1. Karakteristik Responden

Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada responden yang berjumlah 93 orang, di mana karakteristik responden yang diteliti meliputi umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, dan penghasilan keluarga.

Karakteristik responden Jumlah (n) Persentase (%) 1 Kategori Umur 1. >20 tahun 2. 21-30 tahun 3. 31-40 tahun 4. 41-50 tahun 5. 51-60 tahun 6. >61 tahun 7 24 31 12 12 7 7,5 25,8 33,3 12,9 12,9 7,5 Total 93 100,0 1. Jenis Kelamin 1. Pria 2. Wanita 39 54 41,9 58,1 Total 93 100,0 2. Pendidikan 1. Tidak Sekolah 2. SD 3. SLTP 4. SLTA 5. D3/PT 12 37 15 17 12 12,9 39,8 16,1 18,3 12,9 Total 93 100,0

3. Pekerjaan 1. PNS 2. Wiraswasta 3. Pedagang 4. Petani 5. Buruh 6. Lain-lain 5 15 8 34 18 13 5,4 16,1 8,6 36,6 19,4 14,0 Total 93 100,0 1 2 3 4 4. Penghasilan 1. <1.050.000 2. 1.050.000-2.000.000 3. >2.000.000 36 42 15 38,7 45,2 16,1 Total 93 100,0

Berdasarkan hasil penelitian umur responden secara umum dapat digambarkan sebagian besar pada kelompok umur 31-40 tahun yaitu sebanyak 31 orang (33,3%). Berdasarkan jenis kelamin yang terbanyak adalah perempuan sebanyak 54 orang (58,1%) sedangkan laki-laki sebanyak 39 orang (41,9%).

Distribusi responden berdasarkan pendidikan, terbanyak dari tamat sekolah dasar yakni sebanyak 37 orang (39,8%). Dilihat dari status pekerjaannya adalah petani yakni sebanyak 34 orang (36,6%). Sedangkan dilihat dari pendapatannya yang tertinggi yang termasuk dalam kategori sedang (Rp 1.050.000-Rp 2.000.000) yakni sebanyak 42 orang (45,2)

4.2.2. Gambaran Pengetahuan, Sikap dan Tindakan Masyarakat tentang Faktor Lingkungan Fisik Rumah terhadap Kejadian Tuberkulosis Paru.

4.2.2.1. Gambaran Pengetahuan Masyarakat tentang Faktor Lingkungan Fisik Rumah terhadap Kejadian Tuberkulosis Paru.

Variabel pengetahuan dalam penelitian diketahui dengan menanyakan 19 pertanyaan mengenai pengetahuan tentang lingkungan fisik rumah terhadap kejadian Tuberkulosis Paru. Hasil penelitian masyarakat yang tahu Tuberkulosis Paru sebanyak 56 orang (60,2%), yang mengetahui maksud dari Tuberkulosis Paru

sebanyak 42 orang (45,2%), mengetahui penyebab penyakit Tuberkulosis Paru sebanyak 28 orang (30,1%), mengetahui tanda-tanda dan gejala Tuberkulosis Paru sebanyak 45 orang (48,4%).

Pengetahuan mengenai penularan penyakit Tuberkulosis Paru kepada anggota keluarga lain sebanyak 32 orang (34,4%), mengetahui media penularan Tuberkulosis Paru sebanyak 57 orang (61,3%), mengetahui bilamana penularan Tuberkulosis Paru sebanyak 73 orang (78,5%), mengetahui cara terbaik menghindari penularan Tuberkulosis Paru sebanyak 48 orang (51,6%).

Pengetahuan cara mencegah penularan Tuberkulosis Paru melalui lantai sebanyak 46 orang (49,5%), mengetahui lantai rumah yang baik sebanyak 43 orang (46,2%), mengetahui luas ruang tidur bagi orang dewasa sebanyak 66 orang (71,0%). Pngetahuan tentang fungsi ventilasi sebanyak 56 orang (60,2%), mengetahui luas ventilasi yang baik sebanyak 27 orang (29,0%), mengetahui dengan baik udara yang masuk ke ruangan rumah sebanyak 41 orang (44,1%).

Pengetahuan manfaat sinar matahari pagi terhadap ruangan sebanyak 36 orang (38,7%), mengetahui syarat pencahayaan alami ruangan sebanyak 86 orang (92,5%), mengetahui dengan benar penyakit Tuberkulosis Paru dapat dicegah dengan imunisasi sebanyak 57 orang (61,3%), mengetahui dengan benar hubungan pengobatan Tuberkulosis dengan gizi sebanyak 77 orang (82,8%) dan mengetahui dengan benar cara penyembuhan penyakit Tuberkulosis Paru sebanyak 77 orang (82,8%). Secara rinci dapat dilihat dalam tabel 4.1 berikut ini.

Tabel 4.1. Distribusi Pengetahuan Masyarakat tentang Faktor Lingkungan Fisik Rumah terhadap Tuberkulosis Paru.

No Indikator dan Jawaban Aspek Pengetahuan JLH %

1 2 3 4

1. Apakah tahu penyakit Tuberkulosis Paru - Tahu - Ragu-ragu - Tidak tahu 56 23 14 60,2 24,7 15,1 2. Apa yang dimaksud dengan Tuberkulosis Paru

- Penyakit batuk berdahak bercampur darah - Penyakit batuk-batuk akibat merokok - Batuk dengan gatal ditenggorokan

42 16 35 45,2 17,2 37,6 1 2 3 4

3. Penyebab penyakit Tuberkulosis Paru - Kuman atau bakteri

- Debu, asap dan udara kotor - Guna-guna 28 62 3 30,1 66,7 3,2 4. Tanda-tanda / gejala penyakit Tuberkulosis Paru

- Batuk berdahak lebih dari 3 minggu, bercampur darah, sesak napas, rasa nyeri dada, badan lemas, nafsu makan menurun, berat badan turun, berkeringat malam walaupun tanpa kegitan dan demam lebih dari sebulan.

- Batuk yang disertai demam. - Batuk dengan gatal ditenggorokan

45 23 25 48,4 24,7 26,9 5. Tuberkulosis Paru dapat menular kepada anggota keluarga lain karena

- Terhirup percikan ludah atau dahak penderita Tuberkulosis Paru - Bicara berhadap-hadapan dengan penderita Tuberkulosis Paru - Sudah ada dari masih dikandungan

32 60 1 34,4 64,5 1,1 6. Penularan Tuberkulosis Paru melalui

- Udara. - Pakaian. - Makanan/minuman 57 2 34 61,3 2,2 36,6 7 Penyakit Tuberkulosis Paru dapat menular apabila

- Tidur sekamar dengan penderita Tuberkulosis Paru - Tidak tidur sekamar dengan penderita Tuberkulosis Paru - Tidur beramai-ramai 73 3 17 78,5 3,2 18,3 8

Cara terbaik menghindari penularan terhadap orang lain

- Menutup mulut/hidung saat batuk/bersin dan tidak meludah disembarang tempat. - Tidak meludah disembarang tempat

- Tidak menutup mulut/hidung saat batuk/bersin dan meludah disembarang tempat

48 43 2 51,6 46,2 2,2 10

Lantai rumah yang baik

- Kedap air, terbuat dari bahan yang cukup keras, rata dan mudah dibersihkan. - Mudah dibersihkan dan tidak licin

- Terbuat dari keramik

43 25 25 46,2 26,9 26,9 10 Lantai rumah yang baik

- Kedap air, terbuat dari bahan yang cukup keras, rata dan mudah dibersihkan. - Mudah dibersihkan dan tidak licin

- Terbuat dari keramik

43 25 25 46,2 26,9 26,9 11

Luas ruang tidur 8 m² cukup untuk - 2 orang dewasa. - 3 orang dewasa. - 4 orang dewasa. 66 20 7 71,0 21,5 7,5

12

Fungsi ventilasi

- Tempat keluar masuknya udara segar sehingga ruangan tidak pengap dan segar. - Agar ruangan tidak bau.

- Sebagai hiasan. 56 37 0 60,2 39,8 0 13

Luas ventilasi yang baik - 10% dari luas lantai. - Harus ada disetiap ruangan.

- Hanya di ruangan kamar dan depan saja.

27 66 0 29,0 71,0 0 1 2 3 4

14 Udara yang masuk ruangan harus :

- Harus bersih tidak dicemari oleh asap dari pembakaran sampah atau pabrik, dari knalpot kenderaan dan debu.

- Yang penting tidak bau dan tidak pengap. - Yang penting udara bisa masuk.

41 43 9 44,1 46,2 9,7 15 Manfaat sinar matahari pagi terhadap ruangan rumah

- Mematikan bakteri dan mikroorganisme lain yang terdapat di lingkungan rumah dan dapat menghambat perkembang biakan kuman Tuberkulosis dan kuman penyakit lainnya.

- Untuk penerangan. - Tidak ada manfaatnya.

36 57 0 38,7 61,3 0 16 Pencahayaan alami ruangan yang memenuhi syarat

- Terang, dapat menerangi seluruh dalam ruangan dan menyebar merata. - Terang dan hanya menerangi sebagian ruangan saja.

- Remang-remang. 86 6 1 92,5 6,5 1,1 17 Penyakit Tuberkulosis dapat dicegah dengan imunisasi

- Ya dengan imunisasi BCG. - Ya dengan imunisasi apa saja.

Dokumen terkait