Bab IV MENELUSUR KE SETIAP SUDUT
Diagram 4.10. Skema limbah padat
Limbah cair Perangkap
lemak
Riol kota
Limbah Tangki aerasi Tangki
pengendapan
Tangki chloronasi
FINDING THE GLASSBOX OF WONDER
Helen Kartika 110406066
4.3.6.Analisa Pencahayaan
Sistem pencahayaan dibagi menjadi 2, yaitu:
1. Sistem pencahayaan alami, dimana setiap ruangan pada bangunan mendapatkan sinar matahari yang cukup sehingga bangunan tidak memerlukan pencahayaan buatan pada pagi dan siang hari.
2. Sistem pencahayaan buatan, pemanfaatan pencahayaan buatan pada bangunan diterapkan pada seluruh ruangan untuk memastikan bahwa bangunan dapat tetap beroperasi secara optimal pada keadaan intensitas sinar matahari yang kurang, pada petang atau malam hari.
4.3.7.Analisa Penghawaan
Sistem penghawaan pada bangunan adalah sistem penghawaan alami. Cross ventilation diterapkan di setiap ruangan dengan bukaan-bukaan yang dimaksimalkan pada sisi Utara-Selatan yang merupakan orientasi bangunan gedung utama kampus. Bukaan juga diberikan pada sisi Timur-Barat untuk menciptakan sirkulasi udara yang bebas dari segala arah ke dalam bangunan.
BAB V
BAB V
MELIHAT DARI DEKAT
Petualangan berujung pada sebuah penemuan akan “kotak kaca misterius”. Melihatnya dari dekat tentu hal yang paling diimpikan, untuk itu, maju sedikit untuk merasakan kedekatannya, membuka mata akan sesuatu yang dulunya imajiner dan masuk ke dalamnya, melihat dunia yang tersimpan di dalam si “kotak kaca misterius”.
5.1. Menemukan Si Kotak Kaca
Melihat tujuan akhir dari dekat, mempelajari bagaimana sejarah dibaliknya dan elemen alam apa yang memberi warna khas pada tempat tersebut.
5.1.1.Konsep Pembentukan Massa Bangunan
Konsep pembentukan massa menggabungkan antara bentukan geometris yang fungsional dan rigid dengan bentukan dasar oval dari siluet denah rumah adat Nias Utara, Omo Hada. Perpaduan ini kemudian menghasilkan suatu bentukan yang dinamis melalui garis-garis linear dan lengkung pada massa bangunan. Bentukan massa memiliki komposisi asimetris yang diterapkan melalui pelebaran elemen lengkung pada salah satu sisi massa. Hal ini bertujuan untuk memberikan variasi pola dasar pembentuk bangunan agar tidak terkesan kaku dan monoton.
Gambar 5.1. Tahapan pembentukan massa bangunan
5.1.2.Konsep Orientasi Bangunan
Orientasi bangunan menghadap Utara-Selatan pada bagian massa utama. Orientasi memberikan efek paparan matahari dengan intensitas panas dan cahaya yang nyaman bagi manusia. Orientasi bangunan juga memberikan keuntungan visual dimana setiap sisi yang menarik dari bangunan dapat terlihat disepanjang perjalanan kita menuju ke dalam kawasan kampus, baik arah pandang dari jalan raya, arah pandang dari arah danau dan dari jalan utama kampus juga dari student centre.
Gambar 5.2. a) pemandangan dari arah jalan raya; b) pemandangan dari jalan utama
kampus; c) pemandangan dari area key building.
5.1.3.Konsep Lansekap
Lansekap kawasan kampus memberikan implementasi karakter daerah dan fungsi bangunan yang sangat kuat. Hamparan kebun entres karet terlihat dari sisi jalan raya kota dan lahan pertanian sayur-mayur juga persawahan dapat dinikmati sepanjang perjalanan menuju kawasan kampus. Pada sekeliling kampus D-2 Jurusan Budidaya Tanaman Karet AKNIRA diberikan ruang terbuka yang dikelilingi pohon kelapa muda dan pohon pinang sebagai pembatas area terbuka dengan area pertanian sayur-mayur. Perkerasan pada area terbuka merupakan
pada pedesaan masyarakat Nias. Kesan menyatu dengan alam berpadu dengan suasana perkampungan masyarakat Nias mempertegas keberadaan bangunan kampus, “this is Nias after all”.
Gambar 5.3. komposisi penyusun lansekap yang mempertegas fungsi bangunan, a) kebun entres karet; b) kebun sayur-mayur; c) persawahan.
Gambar 5.4. komposisi penyusun lansekap yang mempertegas karakter bangunan, a) perkerasan dari batuan belah; b) deretan pohon kelapa dan pinang sebagai pembatas wilayah.
5.2. Melihat Yang Terdapat di Dalamnya
Petualangan menyingkap misteri yang terdapat di dalam si “kotak kaca misterius”, mari masuk lebih dalam lagi untuk melihat bagaimana dia memperoleh kekokohannya.
Sistem pondasi yang mampu memberikan dukungan perbaikan tanah sehingga kondisi dan sifat tanah yang lunak atau labil pada lokasi perancangan tidak menimbulkan efek merusak terhadap bangunan nantinya. Konstruksi bawah untuk desain bangunan kampus juga dipersiapkan untuk pembangunan secara vertikal di masa depan. Pondasi KSLL (Konstruksi Sarang Laba-Laba) merupakan sistem struktur yang akan diterapkan pada perancangan kampus D-2 Jurusan Budidaya Tanaman Karet AKNIRA.
Gambar 5.5. Sistem Pondasi KSLL; a) pola rib KSLL; b) arah gaya pada KSLL; c) tanah pengisi ruang antar rib sebagai struktur pendukung bangunan.
Pondasi KSLL mengandalkan rib-rib tipis yang tinggi sebagai penyebar beban dari kolom yang diapitnya ke tanah. Pondasi ini memiliki tahap pengerjaan yang relatif lebih singkat dari sistem pondasi dalam lain dengan metode yang jauh lebih sederhana pula. Pengerjaan sistem pondasi KSLL tidak membutuhkan bantuan alat berat seperti pada tiang pancang dan juga padat karya, yaitu pengerjaannya mampu menyerap lebih banyak tenaga manusia daripada mesin. Pola pembebanan pada pondasi ini disebarkan secara merata sehingga mampu mengatasi masalah penurunan tanah akibat berat bangunan.
5.2.2.Konsep Struktur Utama
Konsep sistem struktur utama mengandalkan beton bertulang sebagai pembentuk kolom dan balok. Balok yang digunakan adalah balok sistem dua arah sedangkan untuk kolom struktur, dimensi kolom adalah 50 cm, kolom ini cukup besar untuk bangunan 3 lantai, namun tentu saja struktur ini mampu menopang pembangunan vertikal yang kemungkinan besar akan terjadi dimasa depan.
Atap yang dipakai merupakan atap jenis skilion sebagai analogi bentuk bukaan udara pada atap rumah tradisional Nias. Atap ini memungkinkan aliran air hujan jatuh ke satu bagian yang terpusat sehingga mendukung konservasi air hujan bagi bangunan kampus. Atap skilion ini menggunakan baja ringan sebagai material penyusun rangkanya dan atap genteng metal sebagai penutup atapnya. Bagian bawah dari atap ini nantinya dapat digunakan untuk area bercocok tanam atau difungsikan untuk kebutuhan lainnya.
Atap lainnya adalah dak beton. Atap ini memungkinkan penutupan area yang tidak dapat menggunakan jenis atap biasa. Dak beton ini juga mampu menjadi plat lantai bangunan.
5.2.4.Konsep Struktur Kanopi Tengah
Kanopi tengah merupakan kanopi yang menutup bagian koridor dan taman tengah. Kanopi ini berbentuk setengah silinder dengan struktur baja ekspos. Penutup atap akan menggunakan penutup UPVC transparan, namun pada bagian tengah tidak diberikan penutup atap sehingga air hujan dapat langsung jatuh ke bagian tengah bangunan. Hal ini bertujuan untuk memberikan pengalaman meruang yang alami bagi masyarakat kampus.
Gambar 5.8. Aksonometri Atap Silinder berusuk
5.2.5.Konsep Struktur Kubah
Kubah pada bagian barat bangunan berfungsi sebagai selubung kebun butani kecil bangunan kampus. Kubah ini menggunakan struktur geodesik dimana bentukan segitiga digunakan sebagai modul kubah. Struktur kubah diekspos tanpa penutup atau selubung sehingga udara dan cahaya bebas masuk ke dalam area tengah bangunan. Hal ini juga bertujuan untuk menghindari perasaan seakan terperangkap yang mungkin dialami oleh masyarakat kampus yang beraktiftas di
depan, terjadi penambahan material selubung kubah atau pemanfaat kubah sebagai ruang fungsional.
Gambar 5.9. Kubah geodesic dan modul.
5.2.6.Konsep Material Penutup Lantai
Material penutup lantai menggunakan dua jenis material yaitu keramik dan conwood. Keramik merupakan material yang dominan penggunaannya sebagai penutup lantai bangunan, sedangkan conwood digunakan hanya untuk ruang komunal untuk mengimbangi material kaca yang menyelubungi dinding Timur bangunan, yaitu ruang-ruang komunal sehingga ruang tidak berkesan “dingin” dan kaku.
Gambar 5.10. Pola Lantai
Gambar 5.12. Pola Lantai lt.3
5.3. Meruang
Dalam perjalanan kita menelusuri setiap sudutnya, ada pengalaman ruang yang kita rekam. Pengalaman ini memberikan kita pengetahuan yang berbeda tentang bagaimana indera merasakan setiap sentuhan alam melalui bangunan.
5.3.1.Konsep Penghawaan
Pada bangunan dikonsepkan sistem penghawaan alami dengan sistem cross ventilation. Kemasifan ruang dipecah dengan adanya taman tengah. Kubah selubung kebun juga didesain tanpa penutup kaca untuk memberikan keleluasaan pergerakan angin dari luar ke dalam bangunan dan sebaliknya. Pada bangunan diberikan bukaan berupa jendela-jendela dengan ukuran besar dan ventilasi udara
tanpa kusen di sisi kiri dan kanan setiap ruang sehingga pertukaran udara di dalam bangunan tidak terhalang sama sekali. Kehadiran elemen hijau yaitu taman juga memberikan efek sejuk, disempurnakan dengan adanya shading pada sisi terpanjang bangunan juga digunakan untuk menurunkan temperatur dalam bangunan selain sebagai elemen dekorasi.
Gambar 5.13. Taman tengah sebagai jalur pertukaran udara alami utama dalam bangunan.
Pencahayaan dalam bangunan menggunakan pencahayaan alami dari matahari secara maksimal untuk penggunaan dari pagi sampai ke petang. Pencahayaan alami ini di dapat dari keterbukaan struktur bangunan baik atap maupun elemen tengah yang dibuka untuk mengekspos cahaya. Pada bagian Barat yaitu kubah selubung kebun, cahaya matahari petang paling banyak terpapar ke dalam bangunan, untuk itu, bukaan pada bagian ini sangat minim dan ruang komunal dibuat jauh dari letak kubah. Di sisi Timur diberikan elemen kaca sebagai selubung bangunan mengingat cahaya matahari pagi sangat baik untuk kesehatan manusia.
Untuk sistem pencahayaan buatan, digunakan lampu LED di seluruh ruangan. Lampu LED memiliki daya yang jauh lebih rendah dibandingkan lampu TL dengan luminasi yang sama. Dipasaran, lampu ini terkenal relatif mahal dibanding lampu TL, namun jika dipertimbangkan dari segi umur lampu dan kehematan energi yang dihasilkan, maka lampu ini jauh lebih menguntungkan penggunaannya. Umur lampu sendiri sangat panjang, dimana lampu TL dapat bertahan 2-5 tahun, sementara lampu LED mampu bertahan hingga 115 tahun tanpa terjadi penguningan atau peredupan cahaya yang dihasilkannya.
Gambar 5.15. Cahaya matahari yang merambat dari arah Barat akan semakin tereduksi dengan adanya taman tengah dan jarak jangkau yang jauh antara kubah dengan ruang komunal
Gambar 5.16. Perbandingan energi lampu LED dan TL
5.3.3.Konsep Sirkulasi Manusia
Sirkulasi horizontal manusia di dalam gedung berupa koridor yang saling menghadap ke taman tengah. Sirkulasi vertikal manusia di dalam gedung mengandalkan tangga yang terbagi atas 2 zona, yaitu di Barat gedung A dan di Timur gedung B, juga sebuah ramp yang terintegrasi dengan koridor gedung A untuk memudahkan orang-orang berkebutuhan khusus. Ramp dirancang dengan kemiringan 1:8 untuk memberikan kenyamanan bagi penggunanya.
Gambar 5.17. Ramp pada bangunan kampus D-2 Jurusan Budidaya Tanaman Karet AKNIRA
5.3.4.Gambaran Suasana
1. Ekserior Bangunan
Eksterior bangunan menggunakan ekspos struktur pada bagian kubah dan atap. Pada sebelah Timur, desain bangunan diselubungi oleh kaca untuk memberikan jangkauan panjang yang luas. Pada akhirnya, konsep bangunan diarahkan pada keterbukaan, kedinamisan dan keanekaragaman sisi bangunan seperti yang dicirikan oleh bangunan berarsitektur kontemporer. Penerapan tema ketidaklekangan ditunjukkan dengan pembentukan karakter desain. Kubah pada sebelah barat yang menyelubungi kebun botani kecil dan juga penerapan elemen kaca sebagai elemen selubung yang dominan memberikan citra bangunan “rumah kaca” sebagai identitas dari kampus pertanian.
Gambar 5.18. Suasana Bangunan dari arah Barat
Gambar 5.19. Suasana Bangunan dari pintu masuk bangunan kampus.
2. Interior Bangunan
Interior bangunan menerapkan konsep “humble and warm” dimana suasana
penuh kehangatan menjadi fokus utama perancangan interior bangunan. Eksterior bangunan yang mengekspos struktur memberikan kesan dingin dengan dominasi kaca dan baja, untuk mengimbangi kekakuan yang dihasilkan dari penggunaan material ini, maka suasana di dalam bangunan dibuat senyaman mungkin dengan menggunakan warna-warna hangat dan alami seperti coklat dan abu-abu. Perpaduan keduanya menghasilkan kesan “berasal
ruang komunal yang pada dasarnya merupakan ruangan paling “dingin” pada bangunan.
Gambar 5.20. Suasana pada koridor lantai satu bangunan kampus .
3. Perspektif Bangunan
Gambar 5.22. Perspektif bangunan kampus D-2 Budidaya Tanaman Karet AKNIRA .
4. Maket Bangunan
Pembuatan maket dipercayakan kepada junior angkatan 2012. Ketidakmampuan dalam membuat maket dan manajemen waktu yang buruk merupakan penyebab tidak dirancangnya maket bangunan secara pribadi. Kesulitan dalam pembuatan maket diakui oleh tim maketor, adalah ketika harus merancang kubah. Banyak sekali waktu dan tenaga yang tercurah dalam penyelesaian maket bangunan kampus pertanian ini.
Desain maket dikonsepkan monochrome, namun detail arsitektural dan structural jelas diimplementasikan di desain maket.
Gambar 5.23. Maket tampak depan.
KESIMPULAN
Proses perancangan kampus D-2 Jurusan Budidaya Tanaman Karet Akademi Komunitas Negeri Nias Utara menghasilkan beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1. Perancangan kawasan kampus Akademi Komunitas Negeri Nias Utara merupakan perwujudan dari semangat masyarakat Nias Utara dalam rangka pemajuan kesejahteraan daerah melalui jalur keilmuwan
2. Tema besar “Spirit of Place” dan “Timelessness” diterapkan dengan cara mengadaptasi bentuk rumah adat Nias Utara pada bangunan dan konsep hijau pedesaan yang alami pada konsep lansekap
3. Kawasan kampus AKNIRA merupakan kawasan kampus padat manusia, dimana akses kendaraan bermotor hanya diperkenankan pada area jalur masuk utama dengan sebuah area parkir yang terpusat pada bagian key building
4. Penataan lansekap kampus didesain dengan mengutamakan kenyamanan dan keamanan pengendara sepeda dan pejalan kaki
5. Tanah yang labil dengan kondisi air permukaan yang tinggi dipadatkan dengan metode pembuatan danau kecil pada sisi depan dari kawasan perancangan kampus AKNIRA
6. Perancangan kawasan kampus didominasi dengan area hijau yang merupakan taman, perkebunan, persawahan dan beberapa titik pengembangan kawasan di masa depan
kombinasi rumah kaca dan gedung perkuliahan untuk mewujudkan interaksi yang kuat antara mahasiswa dan objek belajarnya
8. Kemasifan bangunan dipecah dengan meletakkan elemen koridor terbuka dan beratap kaca pada bagian tengah bangunan dan sebuah kubah geodesik pada sisi Barat bangunan sebagai area pembibitan karet
9. Elemen kaca sebagai kulit bangunan pada sisi Timur gedung menciptakan kesan terbuka dan mengalir pada bangunan
10. Keberadaan kebun entres karet dan kebun sayur-mayur pada sisi terluar kawasan kampus memberikan identitas visual yang kuat sebagai kampus hijau
11. Bangunan yang modern akan diseimbangkan dengan tata lansekap taman sekeliling bangunan yang mengadaptasi desain plaza perkampungan Nias yang kaya akan elemen bebatuan sebagai penutup jalan dan keberadaan pepohonan khas Nias seperti pohon pinang dan pohon kelapa sebagai tanaman penunjuk arah dan pembatas area kampus
EPILOG
Desain merupakan pencarian tak berujung, namun waktu membatasi jalannya proses desain. Pada perancangan kampus ini, perancang mengalami banyak sekali pergulatan. Desain yang tidak konteks dan membosankan merupakan pernyataan dari penguji dan pembimbing yang tidak akan pernah terlupakan oleh perancang. Ungkapan ini pula yang memotivasi perancang untuk melakukan yang terbaik di tugas akhir ini. Desain final pada akhirnya membuat ketakutan tersendiri bagi perancang karena bentukan yang sangat tidak kompak dengan bangunan lain di kawasan perancangan, namun motivasi dari dosen pembimbing dan keinginan kuat dari perancang memberikan lampu hijau untuk finalisasi desain.
Pada proses desain ini, banyak pelajaran yang bermakna yang menjadi bekal pendewasaan mental. Bagaimana kita harus siap menghadapi perubahan drastic dalam proses merancang, bagaimana kita harus mampu menyelesaikan masalah bukan lari dari masalah, dan bagaimana keegoisan harus diredam demi terlaksananya tugas perancangan ini. Waktu merupakan jawaban final dan tolak ukur terakurat bagi proses desain. Penyelesaian konsep tidak akan maksimal bila pemetaan waktu pengerjaan tidak dipertimbangkan secara matang dan tidak dipatuhi secara disiplin.
Alexander, C. (1979). The Timeless Way of Building. New York: Oxford University Press.
Ann, Vivian, 2004, “Mutualism in Architecture: An Architecture of The In- Between”, trace.tennessee.edu, 26 Februari 2015.
Aditya, 2010, “Hotel Tepi Pantai di Ancol-Jakarta Utara”. library.binus.ac.id, 28 Oktober 2013.
Day, C. (2002). Spirit and Place. Kent: Gray Publishing.
Dewiyanti, D, 2013, “Historical Attachment Sebagai Daya Tarik Place”, temuilmiah.iplbi.or.id, 16 April 2015.
Domes, Pacific. (1971). Dome Book 2. Canada: Pacific Domes.
Hagan, S. (2001). Taking Shape: A new Contract between Architecture & Nature. Oxford: Architectural Press, Butterworth-Heinemann.
Heynen, Hilde. (1999). Architecture and Modernity: a critique. USA: Massachusetts Institute of Technology.
Huthudi, Bambang.S., 2004, “Pandangan Teoritik Rancangan Kubah Geodesik
Dengan Metoda Dua Dimensional”. dimensi.petra.ac.id, 23 Juni 2015.
Kurokawa, K. (1994). Intercultural Architecture: The Philosophy of Symbiosis. Great Britain: Academy Editions.
Purwanto . S., 2012, “Konstruksi Pondasi Sarang Laba-Laba Atas Tanah Daya Dukung Rendah Bangunan Bertingkat Tanggung”, ft.unajy.ac.id, 10 Juli 2015. Rancangan Rencana Strategis Program Studi Luar Domisili Akademi Komunitas Nias Utara.
Sigit, 2014, “Sejarah Karet”, scribd.com, 17 Juli 2015.
Smith R. W., Bugni, V. (2006). Symbolic Interaction Theory and Architecture. Las Vegas: University of Nevada.
Sofyan, H, dkk, t.th, “Paradigma Baru Pendidikan Vokasi”, eprints.uny.ac.id, 18