Bab II MEMBACA PETA BUTA
2.3. Menandai Titik
2.3.4. Survey
Berdasarkan foto-foto survey kawasan perancangan diketahui bahwa kawasan perancangan merupakan lahan belum terbangun baik di dalam maupun disekelilingnya. Kawasan perancangan dikeliligi oleh hutan milik masyarakat adat. Kondisi tapak sendiri sudah memasuki tahap pembersihan lahan. Tanah di lokasi perancangan merupakan tanah labil yang tergenang air dengan tingkat keasaman yang tinggi.
Gambar 2.6. Kondisi eksisting site. (a dan b) Kondisi drainase kawasan; (c) Kondisi jalan pada site; (d) Foto tim survey.
Sumber: Dokumentasi pribadi Ir. Rudolf Sitorus, MLA.
a
b
Tim yang melakukan survey lokasi merupakan tim dosen Arsitektur USU, termasuk dosen pembimbing kelompok Perancangan Arsitektur 6. Sesuai dengan standar pengerjaan kasus Perancangan Arsitektur 6, sebenarnya kelompok wajib melakukan survey lokasi yang jauh dan mempertimbangkan kesiapan kelompok dalam berinteraksi dengan pihak AKNIRA maka dosen pembimbing mengambil alternatif survey. Survey dilakukan pada kawasan terpencil di Kota Pancur Batu. Pengalaman survey merupakan pengalaman yang menarik untuk diulas sebagai materi penambahan kawasan.
Tidak kenal maka tidak sayang. Pancur batu, kota yang dekat di mata jauh di hati. Sebuah perjalanan bukan sekedar beranjak dari posisi kita biasa berdiri ke lokasi baru yang asing, perlu persiapan untuk melakukan perjalanan tersebut. Ketika hendak berangkat ke Kota Pancur Batu, yang ada di benak saya hanyalah masalah fisik belaka seperti lamanya perjalanan, apa yang harus saya pakai dan perbekalan. Alangkah tergugahnya saya ketika sebelum pergi, kami disuguhkan sebuah pertanyaan, “ Apakah Kota Pancur batu bagi kita? Mengapa kota itu ada? Apa yang menghidupinya?” jawabannya sederhana, “ saya tidak tahu apa-apa mengenai kota tersebut”. Ada rasa malu yang timbul. Sebuah perjalanan menuju lokasi yang asing, hanya bermodalkan perlengkapan fisik belaka, tidak ada pengetahuan apa-apa tentang lokasi tersebut, barulah saya menyadari bahwa hal tersebut hanya akan membawa saya menuju makna sebenarnya dari kata tersesat.
Kota Pancur batu sendiri, seperti yang telah dijelaskan kepada kami, merupakan kota yang hidup karena pertanian tembakau pada masa pemerintahan
FINDING THE GLASSBOX OF WONDER
Helen Kartika 110406066
Hindia-Belanda. Jejak-jejak peninggalan kolonial di kota tersebut masih dapat kita jumpai pada gaya arsitektur pasar dan rumah-rumah disepanjang Pasar Pancur batu. kondisinya tidaklah seindah dulu ketika baru dibangun. Keindahannya aus dimakan usia, kemegahannya hilang karena tidak lagi dirawat dan pola-pola kehidupan yang sangat berubah benar-benar menyamarkan wajah asli dari kawasan ini. Kebun-kebun tembakau deli yang dulunya pernah menjadi tembakau terbaik dan termahal di dunia sudah habis diganti dengan perkebunan kelapa sawit. Penduduknya jelas bertambah dari sejak kota ini dibangun, namun kemajuan beradaban sangat kontras dari Kota Medan maupun Kota Berastagi yang mengapitnya.
Gambar 2.7. Lahan perkebunan memiliki kontur terjal
Karena nila setitik, rusak susu sebelanga. Ungkapan ini cukup untuk menggambarkan apa yang saya lihat disepanjang perjalanan kami menuju kota
Pancur batu. deretan ruko-ruko yang mayoritas masih dalam tahap pembangunan menjadi panorama yang menemani kami. Tren, ini yang menjadi landasan pembangunan di Sumatera Utara. Tidak peduli saya ke kota manapun di provinsi ini, yang saya temui hanyalah pembangunan ruko-ruko yang tidak tahu kapan akan berhenti. Bukannya tidak boleh, namun sesuatu yang berlebihan hanyalah memberikan efek negatif. Kota ini begitu monoton, begitu membosankan. Bangunan-bangunan baru muncul dan bangunan-bangunan bersejarah sengaja dibiarkan rusak agar pihak-pihak berkepentingan khusus punya alasan untuk merubuhkannya dan membangun ruko-ruko favorit mereka diatasnya. Sungguh menggugah hati pemandangan tersebut. Perjalanan ini menyadarkan saya dari mimpi-mimpi indah yang kami lihat di kampus ketika kami merancang tugas- tugas kami. Dunia yang kami lihat di lembaran kertas putih sangat imajiner. Saya kembali berpikir bagaimana cara untuk mengalahkan tren? Hampir mustahil rasanya, namun bukan tidak mungkin hal itu akan terjadi.
Pembangunan yang cepat dan besar-besaran mengindikasikan kemajuan kota. Ini mungkin merupakan target yang hendak dicapai oleh pemerintah kita. Hal ini benar-benar dilakukan mereka dengan serius. Pembangunan ruko-ruko di sepanjang perjalanan kami dari Medan ke Pancur batu misalnya, walaupun sedikit melenceng. Pembangunan ini juga sudah mulai merambah ke desa-desa terpencil dalam konteks pembangunan fasilitas jalan raya. Ketika kami sudah sampai ke Kota Pancur batu, kami langsung meneruskan perjalanan kami untuk masuk lebih dalam lagi, melihat sisi lain dari kota ini. Jalan beraspal sudah sampai ke desa-
FINDING THE GLASSBOX OF WONDER
Helen Kartika 110406066
desa pedalaman di Kota Pancur batu, dan pembangunan jalan raya ini terus dilakukan sampai hari ini. Kondisi sosial kemasyarakatan di desa yang kami lewati memang masih sangat tertinggal. Mereka tinggal di rumah-rumah semi permanen dan rumah-rumah panggung yang usianya sudah sangat tua, hanya ada beberapa rumah yang sudah dibangun secara permanen. Bangunan permanen ini seakan-akan menunjukkan perbedaan kelas ekonomi yang kontras dengan masyarakat yang tinggal bersebelahan dengannya. Pembangunan jalan ini selayaknya mendapat respon positif dari kita, karena dengan jalan inilah pemerintah menunjukkan bahwa harapan untuk melaksanakan pembangunan secara merata masih mungkin untuk kita raih.
Kami meneruskan perjalanan menuju daerah yang masih belum banyak terbangun. Ada bangunan bekas pabrik cat yang kini tidak lagi difungsikan dan ada vihara yang baru dibangun di daerah itu. Kami juga berkunjung ke tanah pribadi pembimbing kami. Masyarakat masih buta tentang keindahan. Mereka tidak menyadari potensi lahannya dan malah merusak keindahan alam daerah itu dengan membangun secara sembarangan. Ketika kami meneruskan perjalanan menuju sungai untuk makan siang, pemandangan hijau tersuguh di depan kami. Deretan perkebunan sawit yang berada di tanah yang berlereng-lereng adalah satu hal yang paling saya sayangkan. Satu batang kelapa sawit menyerap 11 liter air per hari, yang saya lihat bahkan lebih dari seratus batang kelapa sawit. Hari ini sudah terasa bagaimana pun hijaunya tanah kita, tidak kita nikmati suasana sejuk disekeliling kita. Di masa depan, mungkin tidak kita temui lagi tanah yang subur seperti hari ini. Inilah yang saya khawatirkan ketika melihat bagaimana tren sekali lagi menjadi sebuah inti dari permasalahan pembangunan di Negara ini. Sampai di tepi sungai, betapa kecewanya saya melihat bangunan permanen berdiri dengan tegak di tepiannya. Benar-benar mengherankan melihat sebuah bangunan yang harusnya mendukung bahkan menambah keindahan alam sekitarnya malah memiliki efek sebaliknya dari atas, sangatlah sulit untuk menikmati pemandangan kearah sungai secara langsung. Kita harus turun ke bawah untuk langung merasakan suasana alamnya. Wajah alam dirusak dan ada yang tanpa sadar disembunyikan. Inilah akibat buruk dari pembangunan tanpa visi yang jelas. Membangun hari ini namun tidak meninggalkan apa-apa di masa depan. Kita
FINDING THE GLASSBOX OF WONDER
Helen Kartika 110406066
tidak menyadarinya karena kita terpaku dengan pemikiran bahwa apa yang kita lakukan baik untuk diri kira sendiri. Kekuatan finansial, inilah titik tolak pemikiran kita, lalu setelah ini tercapai, apa lagi yang kita harapkan? Ketika tanah sudah hilang kesuburannya, ketika air bersih sudah susah ditemukan, ketika tren masa kini sudah tidak lagi bisa diaplikasikan, apa lagi yang tersisa dari generasi kita? Inilah yang saya lihat akan terjadi di masa depan.
Gambar 2.9. Bangunan permanen yang terabaikan di tepi sungai
Karena mata buta, karena hati mati. Ungkapan ini saya rasa layak dijadikan tema pembangunan Pasar Induk Tuntungan yang kami singgahi diperjalanan kami pulang menuju Medan. Saya benar-benar takjub melihat betapa lebarnya jalan masuk menuju pasar induk yang baru ini. Lebar jalannya mengalahkan jalan protokol yang ada. Saya kembali teringat ketika saya pergi ke Thailand dengan teman-teman saya. Betapa irinya saya melihat kemegahan jalan raya di sana. Betapa bangganya rakyat ibu kota Bangkok bisa menyusuri fasilitas
jalan raya yang begitu lebar dan bagus. Barulah saya sadari bahwa ada jalan selebar itu di halaman rumah kami sendiri, namun justru tidak memberikan kebanggaan seperti yang ada dalam imajinasi saya. Saya bertanya-tanya, untuk siapa dan untuk kebutuhan apa jalan seluarbiasa lebarnya ini? Pasar induk yang baru begitu jauhnya dari jalan protokol, ini merupakan kenyataan yang menurut saya layak untuk ditertawakan. Bagaimana bisa sebuah pasar induk lokasinya begitu tersembunyi?
Gambar 2.10. Pasar Induk Tuntungan
Setelah beberapa waktu perjalanan yang bagi saya cukup sia-sia, akhirnya kami sampai ke lokasi bangunan Pasar Induk Tuntungan. Bangunannya? Saya sempat berpikir jangan-jangan kami salah jalur dan masuk ke lokasi pelatihan atlet nasional. Lansekap taman bagian depannya saya nilai tidak kontekstual dan tidak fungsional. Kawasannya terdiri dari 3 bangunan utama yang difungsikan sebagai pasar. Ketika kami masuk ke dalamnya, saya benar-benar tercengang melihat
FINDING THE GLASSBOX OF WONDER
Helen Kartika 110406066
kemegahan bangunan ini. Terlepas dari kemegahan struktur bajanya, perencanaan saya nilai masih kurang. Utilitas bangunan pasar induk tidak terencana dengan baik. Kami menemui banyak sekali stop kontak, namun utilitas drainase di dalam pasar induk tidak ada. Saya bisa membayangkan betapa kotornya pasar ini nantinya. Saya juga bisa membayangkan banyaknya genangan air yang tak tahu harus kemana dialirkan.
Gambar 2.11. Interior megah Pasar Induk Tuntungan
Kembali saya tertawa melihat kondisi bangunan sub pasar induk disebelahnya yang memberikan fasilitas kios-kios permanen. Entah bagaimana dan siapa yang mengerjakan konstruksinya, kolom-kolom kios-kios tersebut tak satupun ada yang lurus, semuanya miring dan bengkok. Ketika kami berjalan keluar dan melewati lokasi parkir samping, kami melihat tembok-tembok penahan tanah rubuh di 2 titik berbeda. Kembali saya merasa ngeri dengan pemandangan
tersebut. Belum lagi, bangunan pasar yang dibangun 5 tahun yang lalu ini sudah rusak di sana-sini padahal belum aktif difungsikan. Ini menyadarkan saya akan kenyataan pahit politik kotor dan budaya korupsi bangsa ini.
Seperti sayur dengan rumput. Ungkapan ini berarti perbedaan yang sangat drastis. Dimanakah pusat kota Medan saat pemerintahan Hindia-Belanda? Saya, ketika baru mempelajari hal ini cukup terkejut karena bukan kawasan Balai Kota yang menjadi pusat kota, melainkan Central. Mengapa? Saya justru mendapat jawabannya dari ayah saya. Ketika sebuah kota baru hendak dibangun, hal pertama yang harus segera dibangun selain pusat pemerintahan adalah pasar. Pasar merupakan tempat semua orang, tidak peduli datang dari mana dan dengan latar belakang apa berkumpul. Pasar merupakan lapangan pekerjaan bagi semua orang dan sumber pemenuhan kebutuhan pokok bagi masyarakat. Sebegitu penting dan krusialnya fungsi ini sehingga pusat kota Medan tempo dulu adalah Pasar Central. Disini juga saya melihat perbedaan karakter yang kontras antara pemerintah pra kemerdekaan dengan pasca kemerdekaan. Dari segi arsitektur, Pasar Central merupakan bangunan pasar terindah se-Asia Tenggara saat pembangunannya rampung. Bagaimana dengan arsitektur Pasar Induk Tuntungan? Ini pertanyaan besar bagi pemerintah kita. Apa sebenarnya yang kita harapkan dari pasar induk yang baru?
Sudah terantuk baru tengadah. Penyesalan memang selalu datang terlambat. Sepanjang perjalanan pulang itu saja yang terngiang dipikiran saya. Pembangunan yang terjadi hari ini ada baiknya dan ada buruknya. Jaringan jalan
FINDING THE GLASSBOX OF WONDER
Helen Kartika 110406066
raya sudah sampai ke desa-desa, ini menumbuhkan harapan baru bagi kita. Pembangunan Pasar Induk Tuntungan dan tren ruko yang menjadi batu sandungan kita untuk menuju kota yang memiliki masa depan. Dimasa depan, saya khawatir akan banyak muncul kota-kota yang monoton, kota-kota yang tidak memiliki ciri khas. Saya pikir kita butuh orang-orang dengan komitmen yang kuat untuk berdedikasi dalam menciptakan pembangunan yang memiliki masa depan. Dedikasi bukan hal yang mudah jika dilakukan sendirian dan dalam lingkup yang luas, namun jika dilakukan bersama-sama, dedikasi untuk pembangunan berkelanjutan ini akan menjadi beban bersama sehingga cita-cita dapat lebih cepat dan tepat pencapaiannya.
Membagi sama adil, memotong sama panjang. Dari perjalanan kami ke Pancur batu, saya semakin diyakinkan bahwa pembangunan yang memiliki masa depan adalah pembangunan yang adil dan merata. Masyarakat, dimanapun mereka berada dan apapun pekerjaannya, sudah selayaknya dapat menikmati kemudahan yang sama. Tidak hanya orang-orang di pusat kota saja yang pantas memiliki akses jalan raya, melainkan masyarakat desa juga harus bisa menikmati akses jalan yang sama baiknya. Jalan merupakan fasilitas yang mampu menghubungkan kita dengan dunia luar sehingga peradaban kita bisa berkembang beriringan. Pembangunan fasilitas lain juga haruslah sama baiknya di desa maupun kota, sehingga kesejahteraan merata dan arus urbanisasi menurun. Pembangunan yang memiliki masa depan bukan membangun untuk mencapai kota megapolitan, namun bagaimana semua daerah dapat terhubung dan kesejahteraannya merata.
Bagaimana bangunan baru bukan menjadi fokus pembangunan namun pemanfaatan bangunan lama dalam konteks konservasi adalah jalan yang harus diambil untuk saat ini. Hal ini perlu sehingga guratan sejarah perkembangan kota tidak hilang dan kehilangan lahan untuk pertanian dan area hijau tidak semakin besar. Saat ini Pancur batu, dibandingkan Medan, masih sangat tertinggal dari segi pembangunan, namun bukan tidak mungkin di masa depan perkembangannya akan sama pesatnya. Hal ini menjadi harapan dan juga pengingat bagi kita agar pembangunan yang sekarang sudah dimulai tidak mengantarkan kita pada ketersesatan.