• Tidak ada hasil yang ditemukan

Skenario I : Cukai Terhadap Produksi Semen Dalam Negeri

Dalam dokumen MANAJEMEN LINGKUNGAN (Halaman 49-54)

II. OPTIMALISASI PENERIMAAN

2.1. Skenario I : Cukai Terhadap Produksi Semen Dalam Negeri

Dari proses pembuatan semen di atas akan terjadi penguapan karena pembakaran dengan suhu mencapai 900 derajat Celcius sehingga menghasilkan : residu (sisa) yang tak larut, sulfur trioksida, silika yang larut, besi dan alumunium oksida, oksida besi, kalsium, magnesium, alkali, fosfor, dan kapur bebas.

II. Optimalisasi Penerimaan

2.1. Skenario I : Cukai Terhadap Produksi Semen Dalam Negeri

Tujuan utama dari ekstensifikasi obyek barang kena cukai (BKC) adalah untuk mengoptimalkan penerimaan negara dengan tidak mengesampingkan segi karakteristik barang tertentu untuk dikenakan cukai.

Untuk mengetahui tingkat pertumbuhan permintaan semen selama kurun waktu tertentu berikut ini disajikan tabel jumlah produksi :

Tabel 1. Tabel Jumlah Produksi Semen (dalam ton)

Tahun Jumlah Pabrik Jumlah produksi Perubaha n 1988 11 13719049 1989 11 14145048 0,031 1990 11 13822102 -0,023 1991 11 15836894 0,146 1992 11 15802349 -0,002 1993 12 19686066 0,246 1994 12 18111104 -0,080 1995 12 17108774 -0,055 1996 11 25039672 0,464 1997 11 20879018 -0,166

Rata-rata

17415008 0,062 Sumber : Data BPS

Berdasarkan tabel jumlah produksi semen selama periode tahun 1988-1997 dapat diketahui bahwa rata-rata tingkat pertumbuhan jumlah produksi semen adalah 6,2% per tahun. Dengan melihat besarnya rata-rata tingkat pertumbuhan jumlah produksi tersebut, maka diharapkan akan ada peningkatan penerimaan negara di sektor cukai apabila produksi semen dikenakan cukai. Hal ini disebabkan karena :

1. Berdasarkan trend produksi semen dapat diketahui ada peningkatan jumlah produksi semen meskipun dalam jumlah yang relatif sedikit.

2. Semen merupakan barang inelastis yang artinya berapapun tingkat harga semen tidak terlalu mempengaruhi jumlah produksi semen sehingga diharapkan penerimaan negara akan meningkat.

2.1.1. Perkiraan Penerimaan Cukai Tahun 2000 Berdasarkan Data Nilai Produksi

Berdasarkan analisa statistik data dari BPS mengenai tingkat harga dan jumlah produksi semen selama periode tahun 1988 – 1997 dapat diramalkan penerimaan cukai dari semen untuk masa yang akan datang. Berikut ini disajikan tabel peramalannya dengan metode perhitungan regresi.

Tabel 2a. Tabel Peramalan Penerimaan Cukai Tahun 2000

Tarif NP kena cukai satu tahun

NP kena cukai (9 bl) Penerimaan satu tahun Penerimaan (9 bl) 0 3540288699 2655216524 0 0 5 3398677151 2549007863 169933858 127450393 10 3257065603 2442799202 325706560 244279920 15 3115454055 2336590541 467318108 350488581 20 2973842507 2230381880 594768501 446076376 25 2832230959 2124173219 708057740 531043305 30 2690619411 2017964558 807185823 605389368 35 2549007863 1911755897 892152752 669114564 40 2407396315 1805547236 962958526 722218895 45 2265784767 1699338576 1019603145 764702359

50 2124173219 1593129915 1062086610 796564957 55 1982561671 1486921254 1090408919 817806689 60 1840950123 1380712593 1104570074 828427556 65 1699338576 1274503932 1104570074 828427556 70 1557727028 1168295271 1090408919 817806689 75 1416115480 1062086610 1062086610 796564957 Sumber : Data BPS

Dengan menggunakan historical data (perhitungan time series analysis) nilai produksi selama periode tahun 1988 – 1997diperoleh angka koefisien sebesar 1,0266 (artinya rata-rata nilai produksi pada time t adalah 1,0266 nilai produksi pada time t-1) yang digunakan untuk memprediksikan nilai produksi tahun 2000 yaitu sebesar Rp. 3.540.288.699.000,00. Prediksi nilai produksi tahun 2000 dihitung dengan cara interpolasi berdasarkan angka koefisien yang dikalikan dengan nilai produksi mulai tahun 1997 akan menghasilkan nilai produksi tahun 1998. Nilai produksi tahun 1999 diperoleh dengan cara mengalikan angka koefisien dengan nilai produksi tahun 1998. Sedangkan nilai produksi tahun 2000 dihitung dari perkalian angka koefisien dengan nilai produksi tahun 1999.

Dengan menggunakan instrumen tarif maka dapat dihitung nilai produksi setelah dikenakan cukai. Nilai produksi setelah dikenakan cukai dapat dihitung dari nilai produksi tahun 2000 sebelum dikenakan cukai, dikurangi angka elastisitas permintaan yang dikalikan tarif dan nilai produksi tahun 2000 sebelum dikenakan cukai (= Rp. 3.540.288.699.000,00-(0,8 x tarif x Rp. 3.540.288.699.000,00)/100).

Penerimaan cukai cukai dapat dihitung dengan cara mengalikan besarnya tarif cukai dengan nilai produksi setelah dikenakan cukai. Oleh karena tahun anggaran 2000 hanya berlangsung selama 9 (sembilan) bulan yaitu dari bulan April s/d Desember 2000, maka prediksi penerimaan cukai hanya dihitung selama sembilan bulan saja.

Besarnya tarif cukai yang digunakan dalam analisa ini adalah dari 0% - 250% (dengan kelipatan 5) yaitu sesuai dengan ketentuan UU no.11 tahun 1995 tentang Cukai bahwa besarnya tarif cukai yang didasarkan pada harga pabrik dikenakan cukai setinggi-tingginya 250%.

Untuk analisa prediksi penerimaan cukai, produksi semen tahun 2000 diprediksikan sama dengan produksi semen tahun 1997 (pertumbuhan ekonomi tahun 1999 adalah 2% dan prediksi pertumbuhan ekonomi tahun 2000 adalah 3%) dengan asumsi bahwa selama periode tahun 1998-1999 dianggap tidak ada kenaikan produksi semen bahkan produksi semen ada kecenderungan mengalami penurunan, sehingga produksi semen tahun 1997 digunakan sebagai acuan untuk memperhitungkan produksi semen tahun 2000. Meskipun demikian, nilai produksi

tahun 2000 akan mengalami perubahan karena terjadinya inflasi, sehingga perlu dibuat prediksi nilai produksi tahun 2000.

Berdasarkan tabel tersebut di atas, penerimaan optimal tercapai pada tingkat tarif cukai sebesar 60%. Namun demikian pada tingkat tarif tersebut, penurunan produksi mencapai sekitar 48%. Hal ini akan mengakibatkan dampak negatif baik pada sektor sosial maupun ekonomi yang tidak diharapkan. Sehingga dengan memperhitungkan aspek penerimaan, sosial dan ekonomi, maka tarif ad valorum yang ideal adalah 25% dengan penurunan produksi sekitar 20% (dengan asumsi kondisi yang lain tidak berubah/ceteris paribus), yang akan memberikan penerimaan negara yang paling optimal, yaitu sebesar Rp. 531.043.305.000,00. Penerimaan negara tersebut bukanlah jumlah sebenarnya, karena berdasarkan data BPS yang dikonversikan ke dalam harga pabrik sebelum dikenakan cukai diperoleh harga semen sebesar Rp. 8.500,00 per zak (@ 50 kg). Angka sebesar Rp. 8.500,00 diperoleh dari prediksi nilai produksi tahun 2000 di bagi dengan jumlah produksi semen per zak tahun 2000. Sementara harga jual eceran semen di pasaran rata-rata sebesar Rp. 20.000,00 per zak (@ 50 kg). Jadi harga pabrik seharusnya Rp. 12.000,00 per zak (@ 50 kg) atau 60% dari HJE. Angka ini diperoleh dari metode deduksi dengan memperhitungkan : keuntungan distributor, agen, pengecer, dan biaya angkut dan distribusi) sebesar ± 40%. Sehingga penerimaan cukai seharusnya adalah Rp. 749.708.195.294,00. Bila tarif spesifik yang digunakan pada harga pabrik Rp. 8.500,00 per zak, maka tarif cukai yang ideal adalah sebesar Rp. 43,00 per kg (harga pabrik sebesar Rp. 170,00 per kg).

Pertimbangan lain pengenaan tarif sebesar 25% adalah karena harga pabrik akan dikonversikan ke dalam HJE. Sehingga apabila dikenakan tarif sebesar 60% selain terlalu besar juga tidak mungkin, karena batas maksimal pengenaan tarif berdasarkan pasal 5 ayat (1) huruf b UU No. 11 Tahun 1995 tentang Cukai adalah 55%. Disamping itu perhitungan tarif cukai harus juga memperhatikan kandungan lokal dan kandungan impor, penyerapan tenaga kerja, dampak negatif yang dihasilkan, kualitas jenis semen dan lain-lain.

Prediksi penerimaan cukai tersebut di atas mengasumsikan income per

capita tetap. Berdasarkan bukti empiris pertumbuhan produk domestik bruto (PDB)

tahun1999 mencapai sebesar 2% dan pertumbuhan PDB tahun 2000 (menurut analisis Badan Analisa Keuangan dan Moneter) diprediksikan sebesar ± 3%. Pertumbuhan PDB sebesar 5% tersebut diperkirakan akan mengakibatkan pertumbuhan industri semen sebesar 3%. Sehingga penurunan nilai produksi semen setelah dikenakan cukai dengan tarif 25%, dengan memperhitungkan pertumbuhan ekonomi, akan menjadi 17% (20% - 3%).

2.1.2. Perkiraan Penerimaan Cukai Tahun 2000 Berdasarkan Data Jumlah Produksi

Prediksi penerimaan cukai tahun 2000 adalah 103% atau (100% + 3%), sehingga diperoleh prediksi penerimaan cukai untuk Tahun Anggaran 2000 (9 bulan) sebesar Rp. 531.043.305.000,00 x 103% = Rp. 546.974.604.200,00 dengan

asumsi harga pabrik sebelum kena cukai Rp. 8.500,00. Apabila harga pabrik diasumsikan sebesar Rp. 12.000,00 maka prediksi penerimaan cukai untuk Tahun Anggaran 2000 adalah Rp. 772.199.441.223,50.

Prediksi penerimaan cukai di atas berdasarkan nilai produksi. Untuk menguji keabsahan dari analisa tersebut perlu dilakukan sensitivity analysis dengan menggunakan pengaruh pembebanan cukai terhadap penurunan produksi (dalam ton), untuk mendapatkan prediksi jumlah penerimaan cukai. Tabel 2b. menggambarkan pengaruh pembebanan cukai terhadap tingkat produksi maupun penerimaan cukainya.

Menganalisa tabel 2b tersebut, pembebanan cukai sebesar 25% mengakibatkan penurunan produksi sekitar 20% sehingga jumlah produksi setelah dikenakan cukai menjadi 16.703.214 ton dan harga pabrik setelah kena cukai Rp. 211.750,00 per ton dengan penerimaan cukai untuk tahun 2000 sebesar Rp. 884.226.412.300,00. Untuk tahun anggaran 2000 yang berlangsung hanya sembilan bulan diperoleh penerimaan cukai sebesar Rp. 663.169.809.225,00 (dengan asumsi pendapatan perkapita konstan).

Tabel 2b. Tabel Prediksi Penerimaan Cukai Th. 2000 Berdasarkan Jumlah Produksi Tarif Harga Pabrik (Rp) Prosentase Penurunan Jumlah produksi Jumlah produksi (ton) Penerimaan Cukai 0 169400 0 20879018 0 5 177870 4 20043857 178260044720 10 186340 8 19208697 357934851699 15 194810 12 18373536 536902277549 20 203280 16 17538375 713040178879 25 211750 20 16703214 884226412300 30 220220 24 15868054 1048338834423 35 228690 28 15032893 1203255301858 40 237160 32 14197732 1346853671215 45 245630 36 13362572 1477011799106 50 254100 40 12527411 1591607542140 55 262570 44 11692250 1688518756928 60 271040 48 10857089 1765623300081

65 279510 52 10021929 1820799028208

70 287980 56 9186768 1851923797921

75 296450 60 8351607 1856875465830

80 304920 64 7516446 1833531888545

85 313390 68 6681286 1779770922677

2.2. Skenario II : Cukai Dikenakan Terhadap Semen Yang Dikonsumsi di Daerah

Dalam dokumen MANAJEMEN LINGKUNGAN (Halaman 49-54)

Dokumen terkait