BAB IV PENYAJIAN DAN PEMBAHASAN DATA
3. Skenario Pembelajaran Novel Jilbab In Love
F. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian dengan judul “Nilai Moral Novel Jilbab In Love Karya Asma Nadia dan Skenario Pembelajarannya di SMA” dapat ditinjau dari dua segi yaitu, teoretis dan praktis. Paparan mengenai manfaat tersebut adalah sebagai berikut.
1. Segi Teoretis
Dari segi teoretis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan ilmu sastra, seperti teori struktural dan aspek nilai moral.
Menambah khasanah pengetahuan karya sastra, dan masukan yang digunakan sebagai acuan memahami makna karya sastra dalam novel Jilbab In Love karya Asma Nadia.
2. Segi Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat praktis bagi siswa, guru, instansi sekolah, dan peneliti lain. Di bawah ini dijelaskan manfaat praktis bagi pihak-pihak tersebut.
a. Manfaat bagi Siswa
Bagi siswa, hasil penelitian ini diharapkan dapat membangkitkan minat siswa terhadap karya sastra serta menambah wawasan mengenai nilai-nilai moral dalam novel Jilbab In Love.
Dengan wawasan ini, siswa diharapkan dapat mengamalkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
b. Manfaat bagi Guru
Bagi guru, hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan sebagai salah satu alternatif bahan ajar dalam pembelajaran sastra di SMA.
c. Manfaat bagi Instansi Sekolah
Bagi instansi sekolah, hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan untuk memenuhi kebutuhan novel-novel masa kini yang syarat akan nilai moral yang relevan di perpustakaan sekolah.
d. Manfaat bagi Peneliti Lain
Hasil penelitian ini dapat dijadikan rujukan bagi para peneliti yang berminat menganalisis karya sastra, khususnya penelitian tentang kajian nilai moral.
G. Sistematika Skripsi
Hasil penelitian ini terdiri dari lima bab. Pada halaman awal berisi halaman judul, pengesahan, moto dan persembahan, kata pengantar, daftar isi dan abstrak.
Bab I, berisi pendahuluan sebagai awal pembahasan. Pada bab ini membahas tentang latar belakang masalah, penegasan istilah, identifikasi masalah, batasan permasalahan, rumusan masalah tujuan dan manfaat pene-litian, serta sistematika skripsi.
Bab II, berisi tinjauan pustaka dan kajian teoretis yang memuat landasan penelitian sebelum melakukan penelitian. Teori ini dijadikan sebagai pedoman dalam melakukan pembahasan data hasil penelitian.
Bab III, berisi metodologi penelitian. Metodologi penelitian meliputi sumber data, objek penelitian, fokus penelitian, instrumen penelitian, teknik pengumpulan data, teknik analisis data, dan teknik penyajian hasil analisis data.
Bab IV, berisi penyajian data dan pembahasan data hasil penelitian.
Dalam bab ini penulis menguraikan data penelitian yang diambil dari novel Jilbab In Love karya Asma Nadia berupa kutipan-kutipan langsung dan subbab pembahasan data yang membahas unsur intrinsik dan nilai moral novel tersebut serta skenario pembelajarannya di SMA.
Bab V, berisi penutup. Penutup terdiri atas simpulan dan saran yang relevan dengan penelitian tersebut, kemudian sebagai acuan penelitian, penulis melampirkan sinopsis novel Jilbab In Love karya Asma Nadia beserta biografi pengarang dan daftar pustaka.
1 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN KAJIAN TEORETIS
Pada bab ini akan dibahas tentang tinjauan pustaka dan kajian teoretis.
Di bawah ini penulis menyajikan uraian masing-masing dari pokok pembahasan tersebut.
H. Tinjauan Pustaka
Tinjauan pustaka berfungsi sebagai peninjauan kembali terhadap pustaka (laporan penelitian, dan sebagainya) tentang masalah yang memiliki relevansi dengan penelitian yang akan dilakukan. Selain itu, dengan tinjauan pustaka, seorang peneliti dapat mengetahui persamaan dan perbedaan antara penelitiannya dengan penelitian sebelumnya.
Hasil penelitian yang relevan dengan penelitian ini, di antaranya Ulfalilah (2012) dalam penelitiannya yang berjudul “Nilai Moral dalam Novel Air Mata Surga karya E. Rokajat Asura dan Alternatif Pembelajaran di SMA”, Valma (2012) dalam penelitiannya yang berjudul “ Nilai Moral dalam Novel Padang Bulan Karya Andrea Hirata sebagai Bahan Pembelajarannya di Kelas XI SMA”.
1. Ulfalilah (2012)
Ulfalilah (2012) telah melakukan penelitian “Nilai Moral dalam Novel Air Mata Surga karya E. Rokajat Asura dan Alternatif Pembelajaran di SMA”. Hasil data tersebut, Ulfalilah menyimpulkan bahwa aspek moral yang ada dalam novel Air Mata Surga meliputi kesopanan, kebaktian, kejujuran dan
12
kerendahatian. Keseluruhan unsur nilai tersebut berkaitan dan membentuk satu kesatuan cerita yang padu.
Persamaan penelitian Ulfalilah dengan penulis adalah sama-sama meneliti mengenai nilai-nilai moral yang terkandung dalam novel. Perbedaan penelitian yang dilakukan penulis dan Ulfalilah adalah objek penelitian. Objek yang diteliti oleh Ulfalilah adalah novel Air Mata Surga karya E. Rokajat Asura, sedangkan penulis menggunakan novel Jilbab in Love karya Asma Nadia.
2. Valma (2012)
Valma (2012) menulis penelitian berjudul “ Nilai Moral dalam Novel Padang Bulan Karya Andrea Hirata sebagai Bahan Pembelajarannya di Kelas XI SMA”. Permasalahan yang disajikan dalam penelitian ini antara lain mendeskripsikan unsur-unsur intrinsik pada novel yang meliputi tema, tokoh, alur, latar, dan sudut pandang.
Penelitian yang dilakukan oleh Valma mempunyai kesamaan dan perbedaan dengan penelitian yang dilakukan oleh penulis. Kesamaannya, keduanya membahas nilai moral novel. Perbedaannya, Valma mendeskripsikan cara pengarang dalam menyampaikan wujud nilai moral dalam karya sastra, sedangkan penulis mendeskripsikan unsur-unsur intrinsik pada novel yang meliputi tema, tokoh, alur, latar, dan sudut pandang.
I. Kajian Teoretis
Teori yang digunakan sebagai acuan penelitian meliputi struktur karya sastra novel, nilai moral, nilai moral dalam karya sastra, dan novel sebagai skenario pembelajaran apresiasi sastra. Paparan mengenai teori tersebut adalah sebagai berikut.
1. Struktur Karya Sastra
Sebuah karya sastra baik cerpen, novel, naskah drama, dan cerita wayang terbentuk dari kesatuan unsur intrinsik pembentuknya. Hubungan antara tema cerita, alur cerita serta tokoh dan penokohan dalam cerita yang bersifat timbal balik, saling menentukan, dan saling melengkapi sehingga membentuk kesatuan yang utuh dalam sebuah karya sastra.
Terbentuknya karya sastra tidak lepas dari struktur pembangunnya.
Struktur karya sastra juga menyaran pada hubungan antara unsur (instrinsik) yang bersifat timbal balik, saling menentukan, saling mempengaruhi secara bersama membentuk satu kesatuan yang utuh.
Strukturalisme dapat dipandang sebagai salah satu pendekatan kesastraan yang menekankan pada kajian antarpembangun yang bersangkutan (Nurgiyantoro, 2013: 36).
Banyak pakar dan teori yang membahas unsur-unsur pembangun prosa fiksi. Berikut ini diuraikan unsur-unsur pembangun prosa fiksi yang meliputi dari tema, alur, tokoh dan penokohan, latar dan pusat pengisahan.
Unsur-unsur tersebut yang membangun suatu karya sastra secara utuh.
a. Tema
Tema adalah ide sentral yang menjadi dasar ide cerita. Untuk menentukan tema dalam cerita biasanya dilakukan melalui pemahaman alur, penokohan, dan bahasa yang saling berhubungan dan mengisi.
Tema bisa berwujud satu fakta dari pengalaman kemanusiaan yang digambarkan atau dieksplorasi oleh cerita seperti keberanian, ilusi, dan masa tua. Bahkan, tema juga dapaSelanjutnyat berupa gambaran kepribadian salah satu tokoh (Stanton, 2012: 8).
Selanjutnya, Nurgiyantoro (2013: 70) menjelaskan bahwa tema sebagai dasar cerita, gagasan dasar umum dalam sebuah karya sastra.
Gagasan utama dari suatu cerita biasanya berisi pandangan atau perasaan tertentu mengenai kehidupan.
Dari paparan di atas, penulis menyimpulkan bahwa tema merupakan dasar yang sangat penting untuk mendasari seluruh cerita.
Suatu cerita yang tidak memiliki gagasan dasar menjadi tidak berguna dan tidak memiliki sebuah makna.
b. Tokoh dan Penokohan
Tokoh dan penokohan merupakan unsur yang sangat penting dalam sebuah karya naratif. Abrams menjelaskan bahwa tokoh adalah pelaku dalam sebuah cerita (Nurgiyantoro, 2013: 173). Jadi, tokoh diartikan sebagai orang-orang yang ditampilkan dalam sebuah cerita naratif atau drama yang ditafsirkan terhadap sikap, watak, dan kualitas pribadi seorang tokoh yang sangat mendasarkan diri pada apa yang diucapkan dan apa yang dilakukan.
Bertumpu pada pengertian di atas, Nurgiyantoro (2013: 176) menambahkan bahwa tokoh-tokoh cerita dalam sebuah fiksi dapat dibedakan ke dalam beberapa jenis penamaan, yaitu:
1) Tokoh Utama
Tokoh utama adalah tokoh yang diutamakan penceritaannya dalam novel yang bersangkutan. Tokoh yang menjadi pusat pengisahan dalam suatu cerita, yaitu tokoh yang paling banyak berhubungan dengan persoalan yang dibicarakan dan paling banyak berhubungan dengan tokoh lain. Bahkan pada novel-novel tertentu, tokoh utama senantiasa hadir dalam setiap kejadian dan dapat ditemui dalam tiap halaman buku cerita.
2) Tokoh Tambahan
Tokoh tambahan adalah tokoh figuran yaitu tokoh yang kehadirannya sebagai pelengkap dalam sebuah cerita, tidak dipentingkan, dan kehadirannya jika ada keterkaitannya dengan tokoh utama, secara langsung ataupun tak langsung.
Penokohan adalah penciptaan citra tokoh di dalam karya sastra. Pengarang yang dapat menciptakan tokoh-tokoh fiktif secara meyakinkan akan membuat pembaca seolah-olah berhadapan dengan tokoh yang sebenarnya, sedang yang dimaksud dengan tokoh adalah individu rekaan yang mengalami peristiwa atau perlakuan dalam berbagai peristiwa di dalam cerita. Tokoh
pada umumnya, berwujud manusia, tetapi dapat juga berwujud binatang atau benda yang diinsankan.
Berdasarkan pernyataan di atas, penulis menyimpulkan bahwa tokoh dan penokohan merupakan unsur pembangun utama di mana tokoh atau penokohan adalah karakter seseorang di dalam cerita yang menggambarkan sifat seseorang tersebut. Tokoh merupakan pelaku cerita yang memperagakan dan menyampaikan pesan cerita secara langsung dan penokohan adalah gambaran dari sifat tokoh itu sendiri.
c. Alur/Plot
Alur merupakan rangkaian peristiwa dalam cerita yang menjalin hubungan sebab-akibat yang membentuk suatu kesatuan di dalam sebuah cerita. Aminuddin (2013: 83), mendefinisikan alur adalah rangkaian cerita yang dibentuk oleh tahapan-tahapan peristiwa sehingga menjalin suatu cerita yang dilahirkan oleh para pelaku dalam suatu cerita. Sedangkan Waluyo (2008: 146), berpendapat bahwa alur adalah peristiwa yang dialami tokoh dan disusun sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah cerita, tetapi tidak berarti semua kejadian dalam hidup tokoh ditampilkan secara lengkap.
Selanjutnya, Tasrif membedakan tahapan plot menjadi lima bagian, yaitu:
1) Tahap situation (tahap penyituasian)
Tahap ini berisi pelukisan dan pengenalan situasi (latar) dan tokoh-tokoh cerita.
2) Tahap generating circumstances (tahap pemunculan konflik) Tahap ini berisi masalah-masalah dan peristiwa-peristiwa yang menyulut terjadinya konflik.
3) Tahap ricing action (tahap peningkatan konflik)
Tahap ini berisi konflik yang telah dimunculkan pada tahap sebelumnya semakin berkembang.
4) Tahap climax (tahap klimak)
Tahap ini berisi konflik atau pertentangan yang terjadi pada tokoh-tokoh cerita mencapai titik puncak.
5) Tahap denouement (tahap penyelesaian)
Tahap ini berisi penyelesaian dari konflik yang sedang terjadi (Nurgiyantoro, 2013: 149-150).
Dari pendapat di atas, penulis menyimpulkan bahwa alur atau plot adalah serangkaian peristiwa pada sebuah cerita dari awal hingga akhir yang memiliki tahapan-tahapan atau urutan kejadian, dan peristiwa dalam cerita harus terjalin dengan baik, serta memiliki hubungan sebab-akibat untuk dapat membentuk suatu cerita. Alur merupakan bagian yang penting dan sangat mempengaruhi kualitas sebuah cerita fiksi atau karya sastra, karena ketika sebuah karya sastra menggunakan alur yang jelas, maka akan mempermudah pembaca dan penikmat karya sastra dalam memahami sebuah karya sastra.
d. Latar/ Setting
Latar atau setting dalam sebuah cerita adalah hal-hal yang berhubungan dengan tempat, waktu, kondisi, lingkungan serta suasana terjadinya peristiwa di dalam sebuah cerita. Stanton (2012: 35), mengemukakan latar adalah lingkungan yang melingkupi sebuah peristiwa dalam cerita, semesta yang berinteraksi dengan peristiwa-peristiwa yang sedang berlangsung. Sedangkan Aminuddin (2013: 67), berpendapat bahwa setting adalah latar peristiwa baik berupa tempat, maupun waktu dalam karya fiksi.
Selanjutnya, Nurgiyantoro (2013: 216) menyatakan latar adalah lingkungan atau tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan. Latar dapat dibedakan ke dalam tiga unsur pokok, yaitu:
(1) latar tempat, Latar tempat menyaran pada lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi.
(2) latar waktu, Latar waktu adalah latar yang berhubungan dengan masalah “kapan” terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi.
(3) latar sosial, latar sosial menyaran pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku kehidupan sosial masyarakat disuatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi berupa kebiasaan hidup, adat istiadat, tradisi, keyakinan, pandangan hidup, cara berpikir dan bersikap.
Dari pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa latar merupakan landasan tumpu yang menyaran kepada pengertian tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa dalam sebuah cerita. Latar atau setting pada dasarnya merupakan tempat atau suatu permasalahan yang berbeda namun saling memiliki keterkaitan.
e. Pusat Pengisahan
Pusat pengisahan sebenarnya menyangkut posisi seorang pengarang dalam sebuah karya sastra. Pusat pengisahan memiliki kesamaan arti dengan sudut pandang. Nurgiyantoro (2013: 246), menjelaskan bahwa sudut pandang dalam sebuah karya fiksi adalah menunjuk pada siapa yang menceritakan atau dari posisi mana peristiwa dan tindakan dilihat. Jadi, pengarang dalam hal ini bebas menempatkan posisinya di dalam sebuah cerita, baik di dalam penceritaan maupun di luar penceritaan. Aminuddin (2013: 91), memaknai sudut pandang adalah cara pengarang menampilkan para pelaku dalam cerita yang dipaparkannya.
Waluyo (2008: 37), menggolongkan beberapa jenis sudut pandang atau pusat pengisahan:
1) pengarang sebagai orang pertama dan menyatakan pelakunya sebagai “aku” dan disebut teknik akuan;
2) pengarang sebagai orang ketiga dan menyebut pelaku utama sebagai “dia” dan disebut sebagai teknik diaan;
3) teknik yang disebut omniscient narratif atau pengarang serba tahu yang menceritakan segalanya atau memasuki berbagai peran secara bebas, pengarang tidak memfokuskan kepada satu tokoh cerita di dalam bercerita, tetapi semua tokoh mendapatkan penonjolan.
Jadi, pada penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa pusat pengisahan atau sudut pandang merupakan bentuk penempatan posisi pengarang dalam sebuah karya fiksi. Pada dasarnya posisi pengarang terhadap cerita dibagi menjadi dua yaitu pencerita ikut bermain dan pencerita tidak ikut bermain atau dengan kata lain termasuk sudut pandang orang pertama, sudut pandang orang ketiga atau sudut pandang campuran. Oleh sebab itu, seorang pengarang cerita fiksi harus pintar memperhitungkan kehadiran dan bentuk sudut pandang karena pemilihan sudut pandang akan berpengaruh terhadap penyajian cerita.
2. Nilai Moral
a. Pengertian Nilai
Di dalam Dictionary of Soscology and Relation Sciences dikemukakan bahwa nilai adalah kemampuan yang dipercaya yang terkandung dalam suatu benda untuk memuaskan manusia (Darmadi, 2009: 67). Darmadi (2009: 67), menjelaskan bahwa menilai berarti
menimbang, suatu kegiatan manusia untuk menghubungkan sesuatu dengan sesuatu lain, kemudian diambil keputusan. Berdasarkan pendapat di atas, apabila seseorang melakukan suatu perbuatan, maka akan merasa puas apabila perbuatannya itu berdasarkan atas suatu pilihan nilai yang diyakini kebenaran, kebaikan, dan kemanfaatannya;
baik bagi dirinya maupun bagi orang lain. Nilai di samping berfungsi sebagai landasan perbuatan, juga berfungsi sebagai pengarah dan pendorong seseorang dalam melakukan perbuatan. Dengan demikian nilai tersebut dapat menimbulkan tekad bagi yang bersangkutan untuk diwujudkan dalam perbuatan sehari-hari.
Notonagoro menyebutkan bahwa nilai dapat dibagi menjadi:
1) nilai material yaitu segala sesuatu yang berguna bagi kehidupan jasmani manusia;
2) nilai vital yaitu segala sesuatu yang berguna bagi manusia untuk melakukan kegiatan;
3) nilai kerohanian yaitu segala sesuatu yang berguna bagi kehidupan rohani manusia, nilai kerohanian dibagi menjadi empat macam yaitu: (1) nilai kesabaran: bersumber dari akal (rasio, budi, cipta) manusia, (2) nilai keindahan atau estetis: bersumber pada perasaan manusia, (3) nilai kebaikan atau nilai moral: bersumberdari unsur kehendak manusia, (4) nilai religius: bersumber dari kepercayaan atau keyakinan manusia (Darmadi, 2009: 69).
Dari beberapa pengertian nilai di atas, dapat disimpulkan bahwa nilai adalah hakikat suatu hal yang berkaitan dengan kebaikan dan menjadi landasan hidup bermasyarakat. Perlu digaris bawahi juga nilai merupakan suatu hal yang melekat pada sesuatu yang sangat berarti bagi kehidupan manusia. Nilai berkaitan erat dengan kebaikan dan menunjuk pada sikap orang terhadap sesuatu hal yang baik. Nilai-nilai yang baik dan berguna itu pantas untuk didapatkan oleh setiap orang untuk membimbing dan membina manusia supaya menjadi lebih luhur dalam berperilaku dan bersikap di segala aspek kehidupan.
b. Pengertian Moral
Moral dalam karya sastra biasanya dimaksudkan sebagai petunjuk dan saran yang bersifat praktis bagi pembaca dalam kehidupan sehari-hari. Kenny menyatakan bahwa moral dalam cerita dimaksudkan sebagai suatu saran yang berhubungan dengan ajaran moral tertentu yang bersifat praktis, yang dapat diambil atau ditafsirkan lewat cerita, sehingga pembaca bisa mengambil nilai moral yang terkandung di dalamnya (Nurgiyantoro, 2013: 321).
Zuriah (2009: 17), menyebutkan moralitas mengandung beberapa pengertian antara lain; (a) adat istiadat, (b) sopan santun, dan (c) perilaku. Namun, pengertian budi pekerti secara hakiki adalah perilaku.
Moralitas diartikan sebagai sikap hati orang yang terungkap dalam tindakan lahiriyah (Budiningsih, 2008: 24-25). Moralitas terjadi
apabila orang mengambil sikap yang baik karena ia sadar akan kewajiban dan tanggung jawabnya dan bukan karena ia mencari keuntungan. Jadi, moralitas adalah sikap dan perbuatan baik yang betul-betul tanpa pamrih.
Berdasarkan pengertian moral yang telah dikemukakan di atas dapat disimpulkan bahwa moral adalah seluruh tatanan atau ukuran yang mengatur tingkah laku, perbuatan dan kebiasaan manusia yang dianggap baik dan buruk oleh masyarakat yang bersangkutan.
3. Nilai Moral dalam Karya Sastra
Karya sastra pada hakikatnya merupakan media komunikasi pengarang dalam menyampaikan pendapat, pandangan, dan penilaiannya terhadap sesuatu kepada pembaca. Nilai moral dalam karya sastra biasanya mencerminkan pandangan hidup pengarang yang bersangkutan, dan hal itulah yang ingin disampaikannya kepada pembaca. Pengertian moral dalam karya sastra itu sendiri tidak berbeda dengan moral secara umum, yaitu menyangkut nilai baik buruk yang diterima secara umum dan berpangkal pada nilai-nilai kemanusiaan. Nilai Moral merupakan sesuatu yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca, merupakan makna yang terkandung dalam karya sastra, makna yang disaratkan lewat cerita (Nurgiyantoro, 2013: 320).
Karya fiksi mengandung dan menawarkan nilai-nilai moral kepada pembaca. Nurgiyantoro (2013: 323-324), menyebutkan bahwa wujud pesan moral dalam karya sastra dibagi menjadi tiga bagian, yaitu:
a. Persoalan hubungan manusia dengan dirinya sendiri
Persoalan hidup dengan dirinya sendiri dapat bermacam-macam jenis dan tingkat intensitasnya seperti mandiri, rasa percaya diri, takut, rindu, dendam, kesepian, kasih sayang, sikap bijak, pantang menyerah dan berpendirian.
b. Hubungan manusia dengan manusia lain dan hubungan manusia dengan alam dalam lingkup sosial
Masalah-masalah yang hubungannya dengan sesama manusia itu antara lain dapat berwujud persahabatan, keakraban, sikap tolong-menolong, memuji (menyanjung), memberi semangat, menasihati, dan sikap kekeluargaan.
Manusia hidup di dunia ini menempati alam. Itulah sebabnya manusia tidak bisa dilepaskan dari alam. Alam merupakan sumber inspirasi dan sekaligus sumber gairah hidup yang tidak akan habis-habisnya untuk digali. Oleh karena itu, hubungan manusia dengan alam sekitar adalah harus menjaga kelestarian alam.
c. Hubungan manusia dengan Tuhan
Perwujudan hubungan manusia dengan Tuhannya seorang yang religius atau beragama adalah orang yang mencoba memahami dan
menghayati hidup bahwa kehidupan ini tidak lebih dari sekadar lahiriyah saja, tetapi juga mementingkan kebutuhan rohaninya.
Dari pengertian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa untuk menemukan moral yang terdapat dalam karya sastra bukanlah hal yang mudah, karena untuk memahami harusnya diperlukan analisis terhadap karya sastra. Dengan menggunakan analisis dapat ditemukan nilai-nilai yang terdapat pada sebuah karya sastra, sehingga dengan nilai-nilai moral yang terkandung dalam karya sastra serta pesan moral yang disampaikan membawa dampak dan perubahan yang baik pada pembaca.
J. Skenario Pembelajaran Novel Jilbab In Love Karya Asma Nadia di SMA
1. Teori Pembelajaran Sastra
Kehadiran novel sebagai salah satu sastra sangat dimungkinkan untuk diajarkan di sekolah (SMA). Salah satu kelebihan novel sebagai bahan pembelajaran sastra adalah cukup memudahkan karya sastra tersebut dinikmati sesuai dengan tingkat kemampuan masing-masing dalam memahami cerita secara perorangan. Namun, tingkat kemampuan tiap-tiap individu tidak sama. Hal ini dapat menimbulkan masalah di kelas.
Disatu pihak guru harus berusaha meningkatkan kemampuan membaca para siswanya yang masih rendah, dipihak lain guru tidak ingin kemampuan membaca siswanya terhalang (Rahmanto, 1988: 66).
Berkaitan dengan hal tersebut, silabus pembelajaran sastra kelas XI semester 1 yang sesuai dengan judul “Nilai Moral Novel Jilbab In Love Karya Asma Nadia dan Skenario pembelajarannya di SMA”, yaitu: (1) Standar Kompetensi 7. Memahami berbagai hikayat, novel Indonesia/
novel terjemahan; (2) Kompetensi Dasar 7.2 Menganalisis unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik novel Indonesia terjemahan.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran sastra adalah suatu aktivitas atau proses belajar untuk memahami masalah-masalah dunia nyata melalui sebuah karya sastra novel di lingkungan belajar. Dalam pengajaran sastra, keterampilan yang dikembangkan adalah keterampilan yang bersifat indra, yang bersifat penalaran, yang bersifat efektif, yang bersifat sosial dan yang bersifat religius. Oleh karena itu, dapat ditegaskan pengajaran yang dilakukan dengan benar dapat menyediakan kesempatan untuk mengembangkan keterampilan sehingga pengajaran sastra tersebut dapat mendekati arah dan tujuan pengajaran dalam arti yang sesungguhnya.
2. Tujuan Pembelajaran Sastra
Kondisi pembelajaran apresiasi sastra di sekolah-sekolah masih sangat rendah. Hal itu disebabkan karena para siswa tidak diajak untuk mengapresiasi teks-teks yang sesungguhnya, tetapi sekedar menghafalkan nama-nama sastrawan dan hasil karyanya. Pembelajaran sastra haruslah diarahkan agar peserta didik memeroleh sesuatu, sesuatu yang bernilai
Kondisi pembelajaran apresiasi sastra di sekolah-sekolah masih sangat rendah. Hal itu disebabkan karena para siswa tidak diajak untuk mengapresiasi teks-teks yang sesungguhnya, tetapi sekedar menghafalkan nama-nama sastrawan dan hasil karyanya. Pembelajaran sastra haruslah diarahkan agar peserta didik memeroleh sesuatu, sesuatu yang bernilai