• Tidak ada hasil yang ditemukan

C. Deskripsi Data Penelitian

2. Skor Kategori Skala

Penentuan kategori rendah, sedang, dan tinggi didasarkan pada

perhitungan manual yang melibatkan mean teoritik, nilai t(α/2,n-1), standar deviasi, dan standar error mean. Menurut Azwar (2009) rumus ini dapat dituliskan sebagai berikut:

µ –t(α/2,n-1) (s/√n) ≤ x ≤ µ + t(α/2,n-1) (s/√n)

Keterangan:

µ = Mean teoritis

t(α/2,n-1) = nilai t (lihat table T)

(s/√n) = Standar mean error pada hasil spss

Perhitungan di atas digunakan untuk menentukan kategori tengah atau Sedang pada setiap variabel. Kategori Sedang ini menjadi patokan untuk menentukan kategori rendah dan kategori tinggi. Apabila mean empirik lebih kecil dari mean teoritis maka hasil variabel 1 masuk dalam kategori rendah. Kategori Tinggi dilihat dari mean empirik yang lebih tinggi daripada mean teoritis.

Rumus ini dilakukan untuk kedua variabel untuk menggambarkan tingkat kompetensi interpersonal para pengajar dari sudut pandang pengungsi dan tingkat kepuasan pengungsi terhadap layanan yang diberikan oleh JRS.

Berdasarkan rumus di atas ditemukan perhitungan manual untuk menentukan kategori sedang pada variabel kompetensi interpersonal pengajar sebagai berikut:

µ – t(α/2,n-1) (s/√n) ≤ x ≤ µ + t(α/2,n-1) (s/√n)

= 50 – t(0,025,14) (std. mean errors) ≤ x ≤ 50 + t(0,025,14) (std. mean errors)

= 50 –(2,144) (2,335) ≤ x ≤ 50 + (2,114) (2,335) = 50 –5,006 ≤ x ≤ 50 + 5,006

= 45 ≤ x ≤ 55

Berdasarkan rumus yang sama maka hasil kategori sedang untuk variabel kepuasan pengungsiterhadap layanan JRS adalah:

µ – t(α/2,n-1) (s/√n) ≤ x ≤ µ + t(α/2,n-1) (s/√n)

= 37,5 –t(0,025,14) (std. mean errors) ≤ x ≤ 37,5+ t(0,025,14) (std. mean errors)

= 37,5–(2,144) (1,360) ≤ x ≤ 37,5 + (2,144) (1,360) = 37,5–2,915 ≤ x ≤ 37,5+ 2,915

= 35 ≤ x ≤ 40

Jadi kategori pada skala kompetensi interpersonal dan skala kepuasan layanan adalah sebagai berikut:

Table 19. Kategori pada skala kompetensi interpersonal

Kategori Jumlah (S) Persentase

X < 45 Tidak Berkompeten 0 0%

45 ≤ x ≤ 55 Cukup Kompeten 3 20%

X > 55 Sangat Berkompeten 12 80%

Hasil analisa tersebut menunjukkan 3 pengungsi menilai para relawan cukup berkompeten dalam kompetensi interpersonal, 12 pengungsi menilai para relawan sangat berkompeten dalam kompetensi interpersonal dan tidak ada pengungsi yang menyatakan para relawan tidak berkompeten dalam kompetensi interpersonal.

Table 20. Kategori pada skala kepuasan layanan

Kategori Jumlah (S) Persentase

X < 35 Tidak puas 0

35 ≤ X ≤ 40 Cukup Puas 2 13,3 %

X > 40 Sangat Puas 13 86,7 %

Hasil analisa tersebut menunjukkan bahwa 13 orang pengungsi menilai merasa sangat puas dengan layanan yang diberikan oleh JRS. 2 orang pengungsi menilai cukup puas terhadap layanan yang diberikan oleh JRS, dan tidak ada yang tidak puas terhadap layanan yang diberikan oleh JRS.

D. Hasil penelitian

1. Uji Hipotesis

a. Korelasi Spearman’s rho

Uji hipotesis pada penelitian ini menggunakan teknik korelasi spearman's rho. Hasil pengujian hipotesis pada penelitian ini dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Table 21. Uji hipotesis

Correlations Kompetensi Kepuasan Kompetensi Pearson Correlation 1 .816** Sig. (1-tailed) .000 N 15 15 Kepuasan Pearson Correlation .816** 1 Sig. (1-tailed) .000 N 15 15

**. Correlation is significant at the 0.01 level (1-tailed).

Hasil tersebut menunjukkan bahwa korelasi antara kompetensi interpersonal dan kepuasan layanan sebesar 0,816 dengan signifikansi sebesar 0,000. berdasarkan hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa terdapat korelasi yang positif dan signifikan antara kompetensi interpersonal relawan dan kepuasan pengungsi terhadap layanan yang diberikan JRS. Begitu pula sebaliknya, semakin rendah kompetensi interpersonal relawan maka kepuasaan pengungsi terhadap layanan

yang diberikan JRS juga akan semakin rendah.

E. Pembahasan

Hasil dari penelitian ini diperoleh nilai koefisien korelasi (r) sebesar 0,816 dengan signifikansi 0,000 (p<0,05). Hasil ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara kompetensi interpersonal dan kepuasan layanan dari sudut pandang pengungsi dapat diterima. Hasil ini dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi kompetensi interpersonal relawan maka semakin tinggi pula tingkat kepuasan pengungsiterhadap layanan yang diberikan oleh JRS.

Dalam penelitian ini, pengungsi memandang kompetensi interpersonal yang dimiliki para relawan sangat tinggi atau sangat berkompeten. Hal ini disebabkan karena mereka berdinamika selama 6 hari seminggu bersama relawan. Setiap harinya ada satu sampai dua kegiatan yang diselenggarakan JRS dengan bantuan para relawan seperti belajar komputer, belajar bahasa inggris ataupun olahraga yang meliputi olahraga renang dan futsal. Selain kegiatan-kegiatan diatas, sering kali relawan juga datang ke kamar-kamar pengungsi untuk mengakrabkan diri, mendengarkan cerita-cerita keseharian pengungsi, mendengarkan curahan hati pengungsi terhadap sesuatu, sampai hanya sekedar minum kopi di kamar pengungsi. Rata-rata para relawan secara bergantian berkegiatan bersama dengan pengungsi dari jam 10 pagi sampai jam 18 petang. Dinamika yang terjadi setiap hari antara relawan dan pengungsi membuat adanya komunikasi satu sama lain dan disini pentingnya kompetensi interpersonal bagi relawan.

Buhrmester, Wittenberg, dan Reis (1998) mampu mengembangkan sikap inisiatif dalam membina hubungan interpersonal dengan pengungsi, mampu bersikap asertif, mampu membuka diri, mampu memberikan dukungan emosi, dan mampu mengatasi konflik yang muncul dari hubungan interpersonal dengan pengungsi. Hasil penelitian diperoleh mean empiris dari masing-masing indikator kompetensi interpersonal. Mean empiris indikator inisiatif sebesar (x̄=13,60), mean indikator dukungan emosi sebesar (x̄=13,27), mean bersikap asertif sebesar (x̄=13,07), mean mengatasi konflik sebesar (x̄=12,93), dan mean kemampuan membuka diri sebesar (x̄=12,07).

Dari indikator tersebut ternyata relawan di nilai memiliki sikap inisiatif, memberikan dukungan emosi dan bersikap asertif yang tinggi oleh pengungsi. Adanya sikap inisiatif dapat mendukung hubungan dengan para pengungsi, contohnya adalah relawan mendatangi kamar pengungsi tanpa diminta atau dengan kesadaran sendiri mendatangi kamar pengungsi. Hal ini tentu saja menjadikan pengungsi dihargai dan merasa dilayani oleh relawan.

Selain itu relawan mampu memberikan dukungan emosi kepada pengungsi yang sedang mengalami kesedihan, contohnya ketika ada pengungsi yang dinyatakan direject di Negara ketiga, relawan mampu untuk memberikan dukungan emosi kepada pengungsi agar pengungsi menjadi tabah dan sabar menunggu tempat lain yang mau menerimanya.

Bersikap asertif memberikan kejelasan terhadap perasaan-perasaan, meminta orang lain melakukan sesuatu dan menolak melakukan hal yang tidak diinginkan tanpa melukai perasaan orang lain. Contohnya disaat

relawan kesulitan membawa perlengkapan mengajar, relawan mengungkapkan perasaannya dan dengan ramah meminta tolong kepada pengungsi agar membawakan sebagian perlengkapan mengajar.

Mengatasi konflik yang muncul dari hubungan interpersonal juga dapat membantu relawan bersikap objektif dalam memandang permasalahan. Hal ini juga didukung oleh Spitxzberg dan Cupach (De Vito, 1992) yang mengungkapkan bahwa kompetensi interpersonal adalah kemampuan individu untuk berinteraksi secara efektif dengan orang lain. Keterangan di atas dapat menggambarkan mengapa pengungsi menilai bahwa para relawan memiliki kompetensi interpersonal yang tinggi.

Kompetensi relawan yang dinilai tinggi oleh pengungsi berkaitan terhadap layanan JRS. Hal ini dapat terjadi karena JRS memberikan layanan kepada para pengungsi melalui para relawan dan relawan mampu mengerjakan tugasnya dalam memberikan pelayanan kepada pengungsi dengan baik. Batasan pelayanan JRS yang dilakukan oleh relawan selama ini adalah memberikan kegiatan-kegiatan untuk para pengungsi selama para pengungsi menunggu proses selanjutnya dari pihak keimigrasian. Selama menunggu proses selanjutnya tersebut membuat kondisi psikologis pengungsi tidak menentu seperti perasaan depresi, cemas, ketakutan, kerinduan dsb. Keadaan psikologis yang dialami oleh pengungsi ini membuat JRS memberikan pelayanan yang bersifat penemanan. Tujuannya supaya pengungsi merasa nyaman, dihargai, yang berdampak terhadap perasaan senang. Pelayanan bersifat penemanan inilah yang membuat para relawan di

hadapakan langsung dengan pengungsi, bagaimana relawan harus berhadapan dengan pengungsi, mau melayani pengungsi, menghibur pengungsi, memberi dukungan kepada pengungsi, dsb. Skill-skill semacam ini merupakan kompetensi interpersonal yang harus dimiliki oleh relawan dalam memberikan pelayanan kepada pengungsi. Relawan adalah pelaksana dari kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan JRS. Maka dari itu dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara kompetensi interpersonal yang dimiliki relawan dengan kepuasan layanan para pengungsi yang dilayani oleh JRS. Artinnya, kompetensi interpersonal yang dimiliki relawan yang dinilai tinggi tersebut membuat mereka merasa puas dengan pelayanan yang diberikan oleh JRS.

Kepuasan layanan merupakan sikap yang ditunjukan konsumen atas jasa setelah mereka memperolehnya. Menurut Sciffman dan Kanuk (2004) kepuasan layanan adalah persepsi individu terhadap performasi jasa yang dikaitkan dengan harapan konsumen dimana alternatif yang dipilih sekurang- kurangnya memberi hasil sama atau melampaui harapan konsumen. Faktor- faktor yang mempengaruhi kepuasan menurut Zeithaml dan Bitner (1996) dalam service marketing mengemukakan bahwa kepuasan dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu kualitas produk, harga, faktor situasi dan personal, dan kualitas pelayanan. Dari beberapa faktor tersebut faktor kualitas pelayanan di bagi menjadi 5 dimensi yang dapat meningkatkan kepuasan konsumen yaitu keandalan, daya tanggap, kepastian, empati, dan berwujud.

pelayanan pada konsumen yang dijanjikan secara terpercaya. Adanya daya tanggap dari penyedia layanan juga dapat memberikan kemampuan untuk membantu, melayani dan memberikan pelayanan dengan cepat dari perusahaan kepada konsumen. Selain itu, ada juga kepastian, empati, dan berwujud. Kepastian yaitu kemampuan untuk memberikan kepercayaan kepada konsumen. Empati merupakan kemampuan untuk peduli dan memberikan perhatian secara pribadi kepada konsumen yang membutuhkan penelitan. Berwujud atau tangible merupakan penampilan fisik yang dimiliki dan materi komunikasi yang ada dan dimiliki oleh penyedia layanan.

Penjelasan dari Zeithaml dan Bitner (1996) ini memiliki hubungan dengan aspek kompetensi interpersonal. Dimensi daya tanggap mempunyai hubungan dengan aspek inisiatif pada kompetensi interpersonal. Dimensi kepastian dan berwujud memiliki hubungan dengan keterbukaan dalam aspek dalam kompetensi interpersonal. Dengan sikap yang terbuka menjadikan pelayanan menjadi pasti dan terlihat. Dimensi empati mempunyai hubungan dengan emotional support. Dari hasil penjelasan diatas memperjelas bahwa adanya hubungan antara kompetensi interpersonal dengan kepuasan layanan. Artinya, kepuasan layanan dirasakan oleh pengungsi tersebut tidak lepas dari peran kompetensi interpersonal penyedia jasa yaitu JRS melalui relawan.

Untuk mendukung hasil korelasi yang ditemukan, peneliti juga membandingkan mean empirik dan mean teoritis setiap variabel untuk melihat tinggi atau rendahnya variabel tersebut. Pada deskripsi data penelitian

menunjukkan bahwa mean empiris kompetensi interpersonal (x̄ = 64,93) lebih besar daripada mean teoritis skala kompetensi interpersonal (x̄ = 50) dengan siginifikansi sebesar 0,000 (p<0,05). Hasil ini menunjukkan bahwa para pengungsi merasa bahwa relawan memiliki kompetensi interpersonal yang tinggi. Variabel kepuasan juga tergolong tinggi . Hal ini ditunjukkan dengan hasil mean empirik (x̄ = 46,80) yang lebih besar dibandingkan dengan mean teoritis (x̄=37,5) dengan signifikansi sebesar 0,000 (p<0,05).

Hasil korelasi dan perbandingan antara mean empirik dengan mean teoritis semakin diperkuat dengan prosentase jumlah subjek dalam menilai kompetensi interpersonal relawan dan tingkat kepuasan mereka terhadap layanan yang diberikan oleh JRS. Dari hasil penelitian mengenai kompetensi interpersonal para relawan, 12 subjek (80%) mengatakan bahwa para relawan sangat berkompeten untuk menjalin hubungan interpersonal dengan para pengungsi. Kemudian, 3 subjek lainnya (20%) merasa bahwa para relawan cukup berkompeten. Selain itu, dari hasil penelitian mengenai kepuasan layanan sebesar 86,7% atau sebanyak 13 subjek menyatakan bahwa mereka merasa sangat puas dengan kompetensi yang dimiliki oleh relawan. Dua subjek lainnya merasa cukup puas dengan kompetensi relawan. Hal ini menggambarkan bahwa kompetensi interpersonal yang dimiliki oleh para relawan mempengaruhi tingkat kepuasan para pengungsi. Hasil ini semakin mendukung nilai korelasi yang telah ditemukan sebelumnya.

Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa terdapat hubungan antara kompetensi interpersonal dengan kepuasan layanan. Akan tetapi, jumlah

sampel yang tidak mewakili populasi membuat peneliti melakukan uji hipotesis dengan menggunakan pendekatan statistik non-parametrik. Hal ini

menyebabkan hasil dari penelitian hanya dapat menggambarkan populasi pengungsi JRS Yogyakarta. Hasil ini tidak dapat digeneralisasikan untuk populasi yang lebih besar, yaitu seluruh pengungsi yang dilayani oleh JRS.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan tentang hubungan antara kompetensi interpersonal relawan JRS dan kepuasan layanan para pengungsi yang dilayani JRS di Yogyakarta, mempunyai hubungan positif yang signifikan. Dengan demikian, hipotesis dalam penelitian ini diterima. Hal ini juga berarti bahwa semakin tinggi kompetensi interpersonal relawan, maka semakin tinggi kepuasan layanan para pengungsi yang di layani JRS. Begitupun sebaliknya, semakin rendah kompetensi interpersonal relawan, maka semakin rendah kepuasan layanan para pengungsi yang di layani JRS.

B. Saran

1. Bagi Relawan

Adanya penelitian ini diharapkan relawan dapat meningkatkan kompetensi interpersonal yang dimiliknya. Hal ini di karenakan dengan kompetensi interpersonal dari relawan yang tinggi dapat meningkatan kepuasan para pengungsi terhadap layanan JRS di Yogyakarta.

2. Bagi JRS

Bagi organisasi, berdasarkan hasil yang diperoleh maka organisasi perlu mempertahankan tentang kompetensi interpersonal relawan. Dan jika organisasi akan merekrut relawan, hendaknya kompetensi interpersonal perlu menjadi hal yang sangat penting dan mutlak dipertimbangkan karena dengan kompetensi interpersonal yang di miliki relawan sangat membantu

relawan bahkan organisasi untuk mewujudkan visi misinya yaitu company, serve, dan advocate bagi pengungsi. Selain itu, dengan relawan yang mempunyai kompetensi interpersonal yang baik akan meningkatkan kepuasan pengungsi terhadap layanan yang diselenggarakan oleh organisasi.

3. Bagi Peneliti selanjutnya

Dalam proses penelitian, peneliti mengalami beberapa hambatan yang menjadi keterbatasan pada penelitian ini. Keterbatasan tersebut ialah peneliti kesulitan untuk memperoleh data yang disebabkan karena keadaan emosi subjek yang labil sehingga pada penelitian selanjutnya diharapkan peneliti sebaiknya lebih jeli dan banyak mencari informasi terkait dengan keadaan emosi, dan psikologis para pengungsi. Hal ini dilakukan agar peneliti secara pasti dapat memperkirakan seberapa lama penelitian akan berjalan. Selain itu, sebaiknya peneliti secara mandiri dapat lebih aktif untuk melakukan pendekatan pada pengungsi sebagai subjek penelitian sehingga pengungsi tidak merasa selalu di manfaatkan.

Keterbatasan kedua yang ada dalam penelitian ini adalah masih jarang atau sulit mencari penelitian mengenai kompetensi interpersonal dan kepuasan layanan di lembaga-lembaga sosial. Hal ini penting untuk membandingkan penelitian yang kita miliki dengan penelitian lain yang dapat memberikan gambaran dan penjelasan tentang penelitian yang dilakukan.

DAFTAR PUSTAKA

Achmad Romsan dkk. Pengantar Hukum Pengungsi Internasional. (Bandung: Sanic Offset, 2003). Hlm. 40.

Almesa, Inri K., Widyastuti Maria T., & Mardiana. 2007. Kompetensi Interpersonal pada Manajer Level Operasional (ditinjau dari dari teori trait kepribadian big-five). Phronesis Jurnal Ilmiah Psikologi Industri dan Organisasi, 9, 93-114.

Amidjojo, Sri Badini. 2006. Perlindungan Hukum Terhadap Pengungsi Berdasarkan Konvensi Jenewa 1951. Jakarta: Badan Pembinaan Hukum Nasonal Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia RI.

Azwar, Saifuddin. 2004. Reliablititas dan Validitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Azwar, Saifuddin. 2009. Penyusunan Skala Psikologis. Yogyakarta: Pustaka

Pelajar.

Azwar, Saifuddin. 2013. Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Azwar, Saifuddin. 2013. Sikap Manusia, Teori, dan Pengukurannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Bee, H. 1981. The Developing Child 3rd Edition. New York: Harper and Row Publisher, Inc.

Bowen, D.E., Schneider, B. 1988. Services Marketing and Management: Implications For Organizational Behavior. Research in Organizational Behavior 10, 43–80.

Buhrmester, D. Furman, W. Wittenberg, M.T.,& Reis D. 1998. Five Domains of Interpersonal Competence in Peer Relationship. Journal of Personality and Social Psychology.

Calhoun, J. F. & Acocella, J. R. 1990. Psychology of Adjustmen and Human Relationships. 3rd ed. New York: McGraw-hill Publishing Company. Daniel, Wayne W. 1989. Statistik Nonparametrik Terapan. Jakarta: Gramedia.

De Vito, J.A. 1992. The Interpersonal Communication Book 6th Edition. New York: Harper Collins Publisher.

Dessler, Gary. 1986. Manajemen Personalia: Teknik. Jakarta: Erlangga.

Dessler, Gary. 2004. Manajemen Sumber Daya Manusia Edisi Kesembilan.

Jakarta: PT Indeks Kelompok Gramedia.

Dessler, Gary. 2009. Manajemen Sumber Daya Manusia (edisi 10/jilid 2). Jakarta Barat: PT. Index.

Dessler, Gary. 2010. Manajemen Sumber Daya Manusia (Edisi 10/Jilid 1). Jakarta barat: PT. Index.

Devito, Joseph A. 1992. Interpersonal Communication. Boston: Pearson Education Inc.

Drs. Djarwanto, Ps. 2007. Statistik Nonparametrik. Yogyakarta: BPFE. Goleman, D. 2000. Kecerdasan Emosional. Jakarta: PT. Gramedia.

Gouran, Wiedhoff. Dolger. 1994. Mastering Communicating. USA: A Division of Paramount Publishing 160 Gould Street Needham Height, MA 02194 Grasha, A. F.1987. Pratical Application in Psychology. Springfield, Illnois: The

Hadi, Sutrisno.2000. Metodologi Penelitian. Yogyakarta: Andi Yogyakarta

Haryomataram. 1998. Internasional Law dan Internasional Humanitarian Law. Makalah. Disampaikan dalam Seminar Nasional Refugee Law dan Displaced Persons yang diselenggarakan kerjasama Pusat Studi Hukum Humaniter Fakultas Hukum Trisakti dengan United Nations High Commisioner for Refugees tanggal 26 Maret 1998. Jakarta: UNHCR dan PSHH FH Trisakti. (cari linknya).

Hawkins del I, dan Mothersbaugh, David L.. 2013. Consumer Behavior: Building Marketing Strategy (12th Editon). New York: McGraw- Hill.

Hawkins del I, Mothersbaugh, David L., dan Best, Roger J. 2007. Consumer Behaviour, 10th Edition. Australia: Mc Graw Hill.

Hetheringthon, E.M. & Parke R.D. 1979. Child Psychology: A Contemporary View Point. 2nd Ed. New York: McGraw-Hill.

Hill, C.A. 1991. Seeking Emotional Support: The Influence of Affiliation Need and Partner Warmth. Journal of Personality and Social Psychology. Vol. 60 No. 1. American Psychological Association, Inc.

Hurlock, Elisabeth B. 1999. Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjamg Rentang Kehidupan. Ed. 5. Jakarta: Erlangga.

Hurlock, Elizaberth B. 1997. Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Jakarta: Penerbit Erlangga.

John, D. R. 1999. Consumer Socialization of Children: A Retrospective Look at Twenty-Five Years of Research. Journal of Consumer Research, Vol 26, No. 3, hal 182-213.

Jourard, M.S. 1964. The Transparent Self: Self Disclosure and Well Being. Van Nostrant Reinhold Company.

Kanuk, L. L. & Schiffman, L. 2010. Consumer Behavior (10t. Edition). New Jersey: Prentice-Hall.

Kotler, P. & Keller, K. L. 2003. Manajemen Pemasaran. Jakarta: PT. Indeks. Kotler, P. (2002), Marketing Management, Eleventh Edition. New Jersey: Prentice

Hall.

Kotler, P. 2000. Manajemen Pemasaran, Edisi milenium. Jakarta: Prehallindo. Kotler, P. 2004. Manajemen Pemasaran Edisi Milenium 1 (Edisi Bahasa

Indonesia). Jakarta: PT. Indeks.

Kotler, P. dan Amstrong, G.. 1997. Dasar-dasar Pemasaran. Jakarta: Prenhallindo. Kramer, L.,& Gottman,J. M. 1992. Becoming a sibling:with a little help from my

friend. Journal of Developmental Psychology. Vol.28, No.4

Lovelock, Christopher H. dan Lauren F. Wright.2007. Managemen pemasaran jasa. Jakarta: Indeks

Mowen, John dan Minor, Michael. 2002. Perilaku Konsumen Jilid 1/Edisi 5. Jakarta: Erlangga.

Mulyati, Rina. 1993. Kompetensi Interpersonal pada Anak Panti Asuhan Sistem Pengasuhan Tradisonal dan Panti Asuhan dengan Sistem Pengasuhan Ibu

Asuh. Skripsi UGM: Tidak diterbitkan

Narimawati, Umi. 2007. Riset Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: Agung Media.

Noor, Juliansyah. 2011. Metodologi Penelitian: Skripsi, Tesis, Desertasi, dan Karya Ilmiah. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Paul C. cuzby.1985. Method In Behavioral Research. London: Mayfreld. Priyatno, Duwi. 2014. SPSS Pengolah Data Terpraktis. Yogyakarta: Andi.

Prounfoot, Malcom J.1957. European Refugee:1935-52 A Study in Forced Migration movement. London : Faber& faber,Ltd

Ritonga, Abdulrahman. 1987. Statistika Terapan Untuk Penelitian. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Sciffman, Leon G., dan Kanuk, Leslie L. 2004. Perilaku Konsumen Edisi Ketujuh.

Alih Bahasa oleh Zoelkifli Kasip. Jakarta: PT. Indeks Gramedia.

Sekaran, Uma. 2006. Research Methods for Bussiness. Jakarta: Salemba Empat Smart,M.S, and Smart, R.C. 1972. Children Development and Relationship. New

York: The MacMilla Company.

Sujarweni V. Wiratna dan Endrayanto, P. 2012. Statistika Untuk Penelitian

Yogyakarta: Graha Ilmu.

Sukmawati, Kartika. 2011. Pengaruh Kualitas Layanan, Harga, dan Kepuasan Pelanggan Terhadap Loyalitas Pelanggan Jasa Transportasi Kereta Api

Eksekutif. Diunduh pada 24 Juni 2015, dari http://publication.gunadarma.ac.id/bitstream/123456789/1232/1/10 207626.pdf.

Supranto, J, .1997. Pengukuran Tingkat Kepuasan Pelanggan untuk Menaikkan Pangsa Pasar. Jakarta: Rineka Cipta.

Universitas Sanata Dharma.

Tim komputer, Wahana, Andi offset. 2015. Belajar Cepat Analisis Statistika Parametrik dan Non Parametrik dengan SPSS. Yogyakarta: Andi.

Tjiptono, Fandy dan Chandra, Gregorius. 2005. Manajemen Kualitas Jasa.

Yogyakarta: Andi.

Tjiptono, Fandy. 1997. Strategi Pemasaran. Yogyakarta: Andi Offset. Tjiptono, Fandy. 2000. Managemen Jasa. Yogyakarta: Andi.

Trihendradi, C. 2013. Langkah Praktis menguasai Statistik untuk Ilmu Sosial dan Kesehatan. Yogyakarta: Andi.

UNHCR. 2007-2008. Melindungi pengungsi dan peran UNHCR. Jakarta :UNHCR

Verry. Pietro. 1992. Dictionary of The International Law and Armed Conflict, International Committee of the Red Cross,Geneva

Wibowo. 2007. Manajemen Kinerja. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Winarsunu, Tulus. 2006. Statistik dalam Penelitian Psikologi dan Pendidikan.

Malang: Penerbitan UMM.

Wrightsman, L.S. dan Deaux, Kay. 1981. Social Psychology in The 80’s.

Monterey, California: Brools.

Zeithaml, Valerie A., dan Bitner M. J. 1996. Service Marketing. Singapore: McGrow Hill.

http://suaka.or.id/2014/11/20/suaka-press-release-australian-policy-against- refugee-resettlement-further-complicates-refugee-transit-in-indonesia/ http://jrs.or.id/campaigns/urban-refugees/perjalanan-untuk-menemukan-harapan/

http://jrs.or.id/accompany/

www.unhcr.or.id/images/pdf/3d58e13b4.pdf. situs resmi UNHCR Indonesia diakses pada Rabu, 03 Februari 2016.

http://www.tribunnews.com/internasional/2013/10/03/82orangtewas tenggelam- karenanyalakanapidikapal http://suaka.or.id/2014/07/23/perkembanganisupengungsidanpencarisuaka di- indonesia http://harianandalas.com/kanalhukumkriminal/rumahdetensiimigrasimedantahan- 232wargaasingselama2013 http://jrs.or.id/campaigns/detention/tobuildanimmigrationdetentionhome/ http://jrs.or.id/campaign/detention/ http://www.tribunnews.com/nasional/2013/05/28/58imigrandirumahdetensi- imigrasidenpasarmogokmakan http://jrs.or.id/newsrooms/penemananjrsindonesiabagipengungsidanpencarisuaka- 2013

THE RELATIONSHIP BETWEEN INTERPERSONAL

COMPETENCE AND SATISFACTION OF THE JRS

SERVICE

Disusun oleh:

Benedictus Alit Purwa Arintaka 109114124

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA 2015

Kepada Yth Para Refugee,

Dengan hormat, Dengan ini saya:

Nama : Benedictus Alit purwa Arintaka NIM : 109114124

Mahasiswa tingkat akhir Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang sedang menyusun skripsi, memohon bantuan Anda untuk bersedia mengisi kuesioner ini. Hasil kuesioner ini akan saya gunakan untuk

penelitian saya untuk memenuhi tugas skripsi saya dengan judul “The Relationship Between Interpersonal Competence And Satisfaction Of The Jrs

Service”

Saya mohon agar Anda bersedia mengisi dengan sebenar-benarnya demi keakuratan dari penelitian saya. Atas kerjasama Anda saya mengucapkan terima kasih.

Yogyakarta, ………2015

Benedictus Alit Purwo Arintaka Peneliti

IDENTITAS

Saya yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan bersedia untuk menjadi responden dalam penelitian ini. Saya juga menyatakan bahwa keterlibatan saya bersifat suka rela tanpa paksaan dari pihak manapun.

Inisial : _________________________________

Usia :_________________________________

Jenis kelamin :_________________________________

Asal :_________________________________

Status : Refugee/ asylum seekers * Lama tinggal di Indonesia : bulan

Lama tinggal di asrama : bulan Lama mengenal JRS : bulan

catatan:

(*coret yang tidak perlu)

Yogyakarta,………2015

Subjek penelitian

PETUNJUK

Dokumen terkait