• Tidak ada hasil yang ditemukan

republik ini. Hal ini sangat penting mengingat dalam kenyataannya target-target pembangunan nasional dan pembangunan daerah yang telah disusun sering tidak dapat terimplementasi secara optimal karena adanya ketidaksinkronan dalam hal pengaturan dan ketidaksinkronan antara perencanaan pembangunan dan penganggaran, baik di pemerintah pusat maupun di pemerintah daerah. Hal-hal yang diatur dalam RUU ini meliputi seluruh proses penyusunan APBN dan APBD, mulai dari perencanaan penganggaraan, pembahasan dan penetapan pelaksanaan, pelaporan dan pertanggungjawaban, hingga pemantauan serta evaluasi APBN dan APBD. Selain itu, juga terdapat penguatan sinergi perencanaan dan penganggaran pada APBN dan sinergi perencanaan dan penganggaran pada APBD. Terakhir, berkaitan dengan kerangka waktu pada proses penyusunan APBN dan APBD sehingga terdapat sinergi antara APBN dan APBD. Dalam hal ini, pagu indikatif APBN agar disampaikan lebih awal kepada daerah, yaitu pada awal tahun sehingga daerah dalam menyusun APBD dapat mengantisipasi arah anggaran dalam APBN. Terkait penyusunan kapasitas fiskal, DPD juga meminta agar penyusunan dimulai sejak dua tahun sebelumnya. Misalnya, untuk tahun 2015, penyusunan fiskalnya sudah dimulai sejak bulan Desember 2013. Dalam rangka menyelaraskan perencanaan antara pemerintah pusat-daerah, proses singkronisasi dalam tahapan musyawarah perencanaan pembangunan (Musrembang) dilakukan dengan penguatan peran gubernur. Ini terutama terkait dengan identifikasi program dan kegiatan yang akan dibiayai melalui skema pendanaan dekonsentrasi tugas pembantuan urusan bersama dana transfer ke daerah DAU, DBH, DAK serta Otsus, dan dana penyesuaian. Terkait peran DPD dalam RUU ini, yaitu DPD memberikan pertimbangan tertulis kepada DPR paling lambat sebelum pelaksanaan rapat khusus dengan DPR. Dalam hal ini, rapat khusus dihadiri tiga lembaga: Badan Anggaran DPR, pemerintah, dan DPD. Begitu pun dalam Rapat Paripurna di DPR dihadiri oleh DPR, DPD, dan pemerintah. Dalam rapat tersebut dilakukan penyampaian pandangan akhir DPR, pandangan akhir pemerintah, dan pandangan akhir DPD. Dengan demikian, dalam RUU ini banyak sekali hal-hal baru terutama mengenai peran DPD dalam pembahasan APBN bersama DPR dan pemerintah pemerintah. Hal ini didasarkan bahwa dengan otonomi daerah, begitu banyak anggaran yang diberikan kepada daerah sesuai dengan urusan yang telah menjadi kewenangan daerah. Oleh karena itu, sebagai lembaga representasi daerah DPD sangat berkepentingan untuk terlibat dalam pembahasan pengelolaan anggaran negara demi kemajuan daerah yang diwakili perwakilannya.

Dua, Usul inisiatif RUU tentang Kekayaan Negara. Dasar pemikiran UU Pengelolaan Kekayaan Negara adalah untuk memberikan payung hukum sebagai salah satu upaya penyempurnaan perangkat perundangan-undangan di bidang keuangan negara, yaitu UU No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara dan Undang-Undang No. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara yang ditempuh dengan melengkapi dan menjabarkan pengaturan di bidang pengelolaan kekayaan negara dan menegaskan penafsiran yang tidak sesuai dengan falsafah dan prinsip dasar pengelolaan kekayaan negara. Sesuai dengan amanat Pasal 33 UUD 1945, falsafah rancangan Undang-Undang tentang pengelolaan kekayaan negara tetap mempertahankan peranan pemerintah yang dominan dalam upaya mengelola kekayaan negara untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Oleh karena itu, DPD mengusulkan undang-undang yang baru. Ruang lingkup UU Kekayaan Negara meliputi: 1) kekayaan negara dikuasai berupa bumi air, wilayah udara, antariksa dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dalam wilayah Republik Indonesia serta kekayaan lainnya; 2) kekayaan yang dimiliki berupa uang, piutang, utang, BUMN, BUMD, investasi pemerintah, kekayaan negara dipisahkan, dan kekayaan daerah dipisahkan yang berasal dari kekayaan negara. Sebagaimana yang dimaksud pada Ayat (1) Huruf b berupa uang piutang dan investasi pemerintah dan saham pemerintah daerah yang berasal dari kekayaan negara kekayaan daerah yang dipisahkan diatur dengan undang-undang tersendiri; 3) kekayaan

negara yang dipisahkan yang meliputi: 1) penyertaan modal pemerintah pusat pada Badan Usaha Milik Negara, Badan Usaha Milik Daerah, perseroan terbatas; 2) penyertaan modal pemerintah daerah dan Badan Usaha Milik Negara, Badan Usaha Milik Daerah, perseroan terbatas; 3) kekayaan negara pada badan hukum lainnya; 4) kekayaan negara pada lembaga internasional.

Ketiga, usul inisiatif tentang RUU perubahan UU No. 15 Tahun 2006 tentang Badan Pemeriksaan Keuangan. Undang-Undang No. 15 Tahun 2006 tentang BPK belum dapat menjamin independensi dan profesionalitas Badan Pemeriksa Keuangan dilihat dari:

1. kompetensi Anggota BPK, Undang-Undang No. 15 Tahun 2006 tidak mengatur mengenai syarat kompentensi calon anggota BPK;

2. pemilihan anggota BPK tidak jelas bagaimana seharusnya DPR memperhatikan pertimbangan DPD dalam proses pemilihan Anggota BPK. Pada periode 5 tahun ini kita sudah 4 kali memberikan pertimbangan, tetapi tidak begitu jelas;

3. ruang lingkup tugas pemeriksaan BPK, apakah kewenangan BPK memeriksa pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan negara berdasarkan UU No. 15 Tahun 2006 ini meniadakan atau bertentangan dengan pengaturan khusus dalam berbagai peraturan perundangan lainnya;

4. ruang lingkup kewenangan BPK, bagaimana menjaga independensi BPK dalam desain pengendalian interpemerintah;

5. kode etik BPK walaupun sudah dibentuk suatu majelis kehormatan kode etik BPK untuk memeriksa dugaan pelanggaran kode etik oleh anggota BPK, tidak cukup jelas dinyatakan kewajiban untuk menindaklanjuti keputusan majelis ini dan melaporkannya kepada DPD;

6. penyampaian laporan hasil BPK oleh akuntan publik, tidak semua pemeriksaan atas keuangan negara khususnya dilakukan oleh akuntan publik disampaikan kepada DPR-DPD dan dipublikasikan;

7. pemeriksaan sistem pengendalian mutu BPK, independensi hasil pemeriksaan sistem pengendalian mutu BPK yang dilakukan oleh badan pemeriksa keuangan negara lainnya terganggu karena pemeriksaan tersebut ditunjuk oleh BPK sebagai pihak yang ditela'ah.

Oleh karena itu, beberapa ketentuan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2006 yang diubah antara lain:

1. ketentuan bahwa pemilihan Anggota BK dilakukan bersama oleh DPR dan DPD dengan cara membentuk satu panitia seleksi. Hasil panitia seleksi tersebut kemudian dipilih oleh DPD sekurang-kurangnya dua calon untuk direkomendasikan dipilih oleh DPR;

2. ketentuan bahwa calon anggota BPK memiliki keahlian dalam bidang akuntansi hukum dan bidang lain yang menjadi lingkup pemeriksaan BPK;

3. ketentuan bahwa ruang lingkup pemeriksaan BPK adalah pengelolaan dan tanggung jawab pengunaan keuangan negara yang dilakukan oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah, lembaga negara lainnya, Bank Indonesia, BUMN, dan Badan Layanan Umum, Badan Usaha Milik Daerah, dan lembaga atau badan lain yang mengelola keuangan negara dengan memperhatikan peraturan perundang-undangan lainnya;

4. ketentuan bahwa laporan hasil pemeriksaan ditandatangani oleh seorang anggota BPK untuk atas nama BPK, ketentuan yang mengatur mengenai syarat pemberhentian anggota BPK.

Yang keempat adalah materi pengawasan dalam pelaksanaan undang-undang APBN tahun 2014. Pimpinan dan Anggota Sidang Paripurna yang kami hormati, dari hasil

pengawasan atas Undang-Undang APBN tahun 2014, DPD merekomendasikan hal-hal sebagai berikut.

1. Dana dekonsentrasi tugas pembantuan perlu dijadikan DAK agar dapat dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan daerah.

2. DAK hendaknya memasukan prioritas peningkatan budaya, khususnya sektor pariwisata yang selama ini belum mendapat perhatian serius dari pemerintah pusat. 3. Besaran dana bagi hasil untuk daerah yang berasal dari sumber daya alam juga perlu

ditingkatkan dan pembagiannya dilakukan secara transparan.

4. Penerimaan negara bukan pajak yang diperoleh pemerintah yang berasal dari tenaga kerja asing yang bekerja di Indonesia sebesar 100 USD perorang setiap bulan agar dibagihasilkan kepada daerah tempat tenaga kerja asing tersebut bekerja.

5. Pelaksanaan corporate social responsibilty oleh perusahan BUMN di daerah agar dikoordinasikan dengan daerah setempat sebab daerahlah yang lebih mengetahui situasi dan kondisi yang memerlukan CSR.

Pimpinan dan Anggota serta hadirin Sidang Paripurna yang kami hormati, pada Sidang Paripurna yang terhormat ini kami menyampaikan materi ini dengan harapan dapat diambil keputusan sebagai berikut.

1. Usul inisiatif RUU tentang Penyusunan Pelaporan dan Pertanggungjawaban APBN-APBD.

2. Usul inisiatif tentang RUU Kekayaan Negara.

3. Usul inisiatif RUU tentang perubahan atas Undang-Undang No 15 Tahun 2006 tentang Badan Pemerikasa Keuangan.

4. Hasil pengawasan terhadap pelaksanaan Undang-Undang APBN tahun 2014

Selanjutnya, Pimpinan dan Anggota serta Sidang Paripurna yang kami hormati, di akhir masa jabatan ini hari demi hari berlalu, demikian pula minggu, bulan, dan tahun tanpa terasa kebersamaan kita, terutama rekan-rekan di komite IV telah sampai pada penghujung waktu. Di akhir masa bakti DPD pada periode 2009 – 2014, perkenankanlah saya atas nama Pimpinan dan Anggota Komite IV serta Sekretariat Komite IV yang mereka menamakan Sekretariat Komite IV ini adalah laskar Komite IV, lascar katanya, itu mengiringi berakhirnya kepengurusan pimpinan dan keanggotaan Komite IV Tahun Sidang 2013 – 2014 sekaligus menutup Komite IV DPD RI periode 2009 – 2014. Ya untuk periodenya, tetapi belum sampai Pak, dengar dulu ujungnya, Pak. Ujungnya untuk periode 2009 – 2014 ditutup. Tepuk tangan dulu.

Komite IV telah melaksanakan berbagai program sesuai dengan lingkup tugas yang diamanatkan Undang-Undang Dasar 1945, Undang-Undang MD3, dan peraturan Tata tertib DPD, serta mengemban aspirasi masyarakat dan daerah. Pada tahun sidang yang berakhir ini, yaitu tahun 2013 – 2014, Komite IV total telah menghasilkan sebanyak 59 rancangan keputusan jika empat rancangan keputusan terakhir yang diajukan Komite IV diputuskan, termasuk yang empat mau diputuskan. Terdiri dari: keputusan DPD hasil Komite IV usul inisiatif RUU, 7 keputusan; pandangan dan pendapat, 7 keputusan; pertimbangan DPD yang berkaitan dengan anggaran, 30 keputusan; pertimbangan atas pemilihan Anggota BPK, 4 keputusan; hasil pengawasan, 11. Jumlah, 59 keputusan. Selain itu, Komite IV bersama Komite I, II, dan III juga terlibat dalam Pansus Dana Bagi Hasil yang telah merekomendasikan masukan untuk mempertajam usul inisiatif RUU atas pertimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

Bapak-Ibu, hadirin yang berbahagia, selama pelaksanaan tugas utamanya dalam hal anggaran, Komite IV mendapat dukungan akademis dari Budget Office DPD. Peran unit kajian ini cukup strategis dalam memperkuat pelaksanaan fungsi-fungsi DPD. Meskipun saat

ini struktur organisasinya masih relatif minim dengan hanya diperkuat tiga orang tenaga ahli profesional. Oleh karena itu, keanggotaan DPD periode mendatang kiranya dapat memanfaatkan keberadaan unit kajian tersebut sekaligus mendorong pengembangan kapasitas Budget Office seirama dengan kebutuhan penguatan kelembagaan DPD RI.

Pimpinan dan Anggota Sidang Paripurna yang kami hormati, tentunya dengan mengucapkan puji dan syukur kepada Allah SWT Tuhan Yang Maha Kuasa, tugas mulia Anggota DPD RI, khususnya Komite IV periode 2009 – 2014 telah dapat diselesaikan. Ini semua tentunya tidak terlepas dukungan dari Ketua dan Wakil Ketua DPD RI, dukungan dari Sekretariat Jenderal, dukungan dari semua rekan-rekan, baik insan pers dan dari pihak pihak yang telah dapat membantu menyelesaikan tugas ini, tentunya kami menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang sebesar besarnya. Apalagi, dengan tugas dukungan daripada laskar sekretariat komite. Tanpa dukungan kalian semua, tentunya kami anggota Komite IV tidak dapat melaksakan tugas dengan sebaik baiknya. Begitu juga bimbingan dan arahan dari Ketua DPD RI dan para Wakil Ketua, kita yakin setiap ada hal-hal yang mendapatkan arahan, kita selalu konsultasi dengan pimpinan DPD RI. Sayangnya ini Pak Wakil Ketua, sendiri yang hadir ya. Yang terpilih Pak Irman, Bu Hemas tidak ada ini. Jadi, barangkali Pak Laode, saya dengan Pak Laode ini beliau inilah yang mengajak saya seminggu setelah terpilih untuk keluar negeri. Ini luar biasa Pak Laode ini. Untuk ini, saya mengucapkan terima kasih pada kesempatan Sidang Paripurna yang berbahagia ini. Ya karena beliau ini spesialis ini, tetapi saya berani mengatakan karena beliau tidak akan calon pimpinan DPD untuk tahun ini. Tetapi, karena yang dua ada tuntuk calon pimpinan, kita tidak berani ngomong, nanti Pak Bahar marahin saya. Tetapi, saya doakan semoga yang dari timur Insya Allah ini ada Pak Bahar dan Pak Farouk yah bisa mewakili kita untuk memimpin DPD. Bagi teman-teman yang tidak terpilih, besok sampai malam tanggal 1 dan 2 kami tetap memantau siapa yang terpilih jadi pimpinan DPP, Pak Bahar. Langsung kita rekomendasi ada Komite V yang mengawasi pimpinan DPD. Itu perintah Pak Alirman Sori, termasuk Pak Azis.

Barangkali demikian yang dapat saya sampaikan dan sekali lagi kami ucapkan terima kasih kepada Pak Sesjen dan Pak Wasesjen serta jajarannya para Kepala Biro dan Sekretariat, khususnya Kepala Sekretariat Komite IV Ibu Mediana yang selalu membantu kita ini. Jadi, dimarahi pun dia tetap marah juga, tapi akhirnya juga tidak lagi. dia juga pintar marah. Saya salut juga dengan sekretariat Komite IV ini. Kita marah, dia marah juga sama anggota, cuma dengan saya tidak saja tidak pernah marah. Kalau dengan anggota pernah dikenai marah. Karena, dua tahun lebih sebagai Ketua Komite IV, seingat saya belum pernah juga marah sama sekretariatnya dan begitu begitu juga sama anggota karena saya tidak pandai marah. Tetapi, kalau duit kurang, saya marah juga, itu saja marahnya.

Saya kira itu yang dapat saya sampaikan dan akhirnya dengan mengucapkan syukur kepada Allah SWT dengan hati yang tulus dan hati yang lapang, kalau ada hal yang kurang berkenan, baik kepada Sekretariat Jenderal, kepada Pimpinan, dan segenap teman-teman Anggota Dewan Perwakilan Daerah, saya mohon dibukakan pintu maaf. Kepada teman-teman, saya sudah terlebih dulu memaafkannya. Setuju tidak? Bisa dimaafkan? Bisa ya. Karena apa? Karena, pengabdian kita tentu tidak hanya di DPD ini. Saya yakin Bapak dan Ibu adalah negarawan katanya, akan tetap mengabdi untuk bangsa dan negara di mana pun kita berada. Yakinlah itu bahwa Alllah SWT, Tuhan Yang Mahakuasa selalu memberikan jalan yang terbaik kepada kita.

Demikian yang dapat saya sampaikan. Saya pantunnya adalah “burung di Irian di atas kayu, cukup sekian thank you”.

Wabillahi taufik walhidayah, wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Selamat sore,

Untuk penyerahan, karena ini akhir masa sidang, saya mohon semua Anggota Komite IV menyerahkan kepada ke Pimpinan DPD untuk maju ke depan. Semua Komite IV, setelah itu berfoto.

PIMPINAN SIDANG : Dr. LAODE IDA (WAKIL KETUA DPD RI)

Terima kasih, Pak Zulbahri. Tadi produknya memang luar biasa dan saya lihat catatannya ini ternyata 30 putusan yang terkait dengan anggaran. Ini artinya secara statistik memang kerja Komite IV itu fokus pada anggaran, itu luar biasa. Secara keseluruhan di 59, berarti lebih dari sekitar 60% produknya untuk bidang anggaran meskipun program-program lain sangat menonjol juga. Tetapi, empat putusan yang terakhir yang kita dimintakan persetujuan untuk ditetapkan untuk diputuskan di sini adalah Rancangan Undang-Undang usul DPD tentang Penyusunan Pelaksanaan dan Pertanggungjawaban APBN dan APBD, setuju?

Kemudian, kedua rencana Undang-Undang usul DPD RI tentang Kekayaan Negara, setuju?

Juga, Rancangan Undang usul DPD RI tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2006 tentang Badan Pemeriksa Keuangan, setuju?

PEMBICARA : Prof. Dr. FAROUK MUHAMMAD (NTB)

Interupsi. Saya mengusulkan di pengertian ditambahkan tentang tindak lanjut. Kata “tindak lanjut” yang diamanatkan oleh Undang-Undang Dasar maupun Undang-Undang MD3 itu masih kurang clear. Itu sudah kita klarifikasi dalam pertemuan dengan BPK maupun perlu ada. Jadi, saya mengsulkan pada pengertian itu ditambah apa yang dimaksud dengan tindak lanjut. Nanti kita bisa share untuk perumusannya. Terima kasih.

PIMPINAN SIDANG : Dr. LAODE IDA (WAKIL KETUA DPD RI) Saya kira itu cacatan tambahan ya.

Yang keempat adalah hasil pengawasan DPD RI atas pelaksanaan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2013 tentang APBN Tahun Anggaran 2014. Terima kasih.

Baik sekali tadi memang kesannya Pak Zulbahri tidak pernah marah, tidak pernah marah. Kalau kata-kata orang bijak ini bagus sekali, Pak Dani ya, dari Pak Umar bin Khatab itu sekali lagi saya ingatkan. Kemarahan itu berpangkal dari ketidakwarasan kata beliau, dan berujung pada penyesalan. Tetapi, ada kata-kata bijak yang lain, marah itu ternyata lonceng pengingat kebenaran. Seperti itu, makanya itu antara kemarahan yang karakter dan marah itu

KETOK 2X

KETOK 2X

penegasan sebagai lonceng pengingat kebenaran ternyata itu perlu selalu direnungkan kita bersama.

Silakan Pak, saya kira selanjutnya Pak Farouk sebagai ketua PAP menyampaikan laporannya. Silakan.

PEMBICARA : Prof. Dr. FAROUK MUHAMMAD (KETUA PAP) Terima kasih, Pimpinan.

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Selamat siang. Salam sejahtera.

Om swastyastu.

Pimpinan dan forum yang saya hormati, sebelum saya menyampaikan laporan tentang PAP, saya nanti mohon petunjuk Pimpinan karena saya berperan sebagai koordinator tim kerja pada Panmus yang di dalam ini akan menetapkan diusulkan menetapkan dua naskah. Apakah nanti sekalian atau tersendiri? Sekalian. Baik.

Pertama, untuk PAP. Kami sebagaimana lazimnya menyiapkan laporan naskah hasil pengawasan PAP terhadap penindaklanjutan rekomendasi BPK. Itu dalam konteks juga pelaksanaan APBN, tetapi terkait dengan penindaklanjutan rekomendasi BPK. Itu kami mengajukan substansi dan format masih seperti biasa, hanya tentu ini dikaitkan semua laporan semester Hapsem 1 dan 2 Tahun 2013 – 2014. Saya pikir saya tidak perlu membacakan semua ini. Sebenarnya saya mau bacakan, kira-kira besok pagi baru selesai.

Kemudian, untuk kedua kami menyampaikan laporan pelaksanaan tugas selama Masa Sidang IV juga tidak ada hal yang menonjol, baik berkaitan dengan temuan hasil BPK yang kami lakukan di beberapa provinsi sehingga secara keseluruhan provinsi yang kami tindak lanjuti sampai 28 selama empat tahun praktisnya karena tahun pertama belum dilaksanakan dan 186 entitas. Kemudian, rapat koordinasi dengan aparat penegak hukum juga berjalan sebagaimana biasanya. Ada kasus-kasus yang menonjol yang sudah kita follow up bersama aparat penegak hukum, misalnya penyalahgunaan alokasi dana desa, tunjangan penghasilan anggota BPD triwulan 4 tahun 2012 di Kabupaten Luwuk, penggunaan dana Bansos Provinsi Kalimantan Barat 2006 – 2008 oleh anggota DPRD dan KONI, kasus bantuan keuangan kepada Fakultas Kedokteran Universitas Tanjung Pura atau Untan tahun 2008, proyek pembangunan pelabuhan laut Teluk Segintung Kabupaten Seruan Kalimantan Tengah 2011, dan kasus mega proyek pembangunan jembatan Brawijaya Kota Kediri. Terhadap kasus tersebut telah dikoordinasikan dan ini perlu dipantau terus sampai perkembangannya.

Kemudian, terkait dengan pengaduan masyarakat konflik agraria soal transmigrasi dan terakhir ada beberapa pengaduan masyarakat terkait terutama dengan PT TPP dari Inhu itu

alhamdulillah sudah sampai kesepakatan, begitu juga dengan PTPN V di Kabupaten

Kampar, Riau, tetapi dewasa ini ada sejumlah yang belum bisa kita tuntaskan. Pada rapat koordinasi pada tingkat pusat, kami juga sudah melakukan koordinasi dengan Polri, Kejaksaan Agung, maupun KPK. Sementara itu, dengan BAKN timbul masalah karena dalam undang-undang baru BAKN tidak diadakan lagi walaupun saya dengar ada sejumlah anggota DPR yang mau yudicial review lembaganya sendiri karena merasa BAKN dibubarkan. Itulah hal-hal yang nanti ke depan kami menyiapkan juga hal-hal yang perlu ditindaklanjuti terhadap kasus-kasus seperti itu, tadi kami usahakan, kami laporkan. Termasuk kasus, misalnya ada pengaduan dari pemerintah kabupaten, salah satu kabupaten di Provinsi Bengkulu ada konflik, ada sengketa ada permasalahan dengan TNI AU dan ini mengharapkan DPD untuk memfasilitasi, mencari jalan keluar. Dalam rangka fungsi representasi, tentu ini perlu kita tindaklanjuti dan ini belum sempat kami laksanakan.

Kemudian, terakhir kami juga menyiapkan laporan kinerja PAP selama 2009 – 2014. Ini adalah himpunan dari seluruh yang kami lakukan bersama-sama anggota PAP walaupun berganti-ganti itu sebagai dokumen negara tentu kami harus sampaikan dan tentu kami juga sudah membukukan dalam sebuah buku yang kami sebut Akuntabiltas Publik Sisi Lain

Lembaga Perwakilan. Di sini menceritakan semua peranan dari PAP yang dilakukan selama

ini. Demikian, tentu terkait dengan pelaksanaan tugas PAP ini tidak lepas dari kebersamaan kita semua, khususnya Anggota PAP dan dukungan dari staf. Untuk itu, kami atas nama Pimpinan menyampaikan terima kasih atas kerja sama yang telah baik selama ini, baik dengan sesama Anggota PAP, BAP nanti itu namanya, maupun dengan seluruh Anggota DPD, begitu juga terima kasih dan penghargaan kepada segenap kepala bagian dan staf dari PAP, BAP nanti namanya. Kami menyampaikan ucapan terima kasih atas kerja sama selama ini dan kami tahu mereka bekerja dengan penuh dedikasi dalam pelaksanaan tugasnya. Kemudian, kami mohon maaf apabila ada hal yang kurang berkenan.

Selanjutnya, kami menyampaikan dalam kapasitas sebagai koordinator kerja Panmus, ada dua naskah yang sebenarnya sudah pernah mau difinalkan sebelum Undang-Undang MD3, tetapi kemudian kita menganggap perlu untuk disinkronkan dengan Undang-Undang Nomor 17. Dan, kedua ini masing-masing peraturan DPD tentang pedoman tindak lanjut hasil pemeriksaan BPK. Mungkin sudah dibagikan kepada para Anggota yang kami hormati. Kemudian, pedoman penyusunan Rancangan Undang-Undang yang berasal dari DPD. Itu

Dokumen terkait