• Tidak ada hasil yang ditemukan

DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA RISALAH SIDANG PARIPURNA KE-19 MASA SIDANG IV TAHUN SIDANG DEWAN PERWAKILAN DAERAH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA RISALAH SIDANG PARIPURNA KE-19 MASA SIDANG IV TAHUN SIDANG DEWAN PERWAKILAN DAERAH"

Copied!
54
0
0

Teks penuh

(1)

Nomor : DPD.220/SP/19/2014

DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA

---

RISALAH

SIDANG PARIPURNA KE-19

MASA SIDANG IV TAHUN SIDANG 2013-2014 DEWAN PERWAKILAN DAERAH

I. KETERANGAN

1. Hari : Selasa

2. Tanggal : 30 September 2014 3. Waktu : 11.15 WIB s.d. selesai

4. Tempat : R. Nusantara V

5. Pimpinan Rapat : Pimpinan Rapat

H. Irman Gusman, S.E., M.B.A. (Ketua DPD RI) 6. Sekretaris Rapat :

7. Acara : 1. Laporan Pelaksanaan Tugas Alat Kelengkapan;

2. Penyampaian Laporan Kinerja PURT Tahun Sidang 2013-2014;

3. Pengesahan Keputusan DPD RI;

4. Penutupan Masa Sidang IV Tahun Sidang 2013-2014 dan Penutupan Keanggotaan DPD RI 2009-2014.

8. Hadir : Orang

9. Tidak hadir : Orang

(2)

PIMPINAN SIDANG : Dr. LAODE IDA (WAKIL KETUA DPD RI)

Karena waktu sudah satu seperempat jam berlalu, maka saatnya saya kira untuk kita buka Sidang Paripurna ini. Kita mulai Sidang Paripurna ini. Pak Ketua memang seharusnya yang memimpin langsung sidang penutupan ini, tetapi beliau masih ada ada sedikit kegiatan di dalam lingkungan ini. Nanti akan menyusul, tetapi saya kira afdol sekali kalau palu itu diketok oleh ketua ya. Harusnya seperti itu. Saya, Bu Ratu sepakat untuk dibuka saja, baru diskors sambil tunggu Pak Ketua.

PEMBICARA : H. ABDUL GAFAR USMAN, MM. (RIAU)

Saya kira kita berpedoman kepada tata tertib saja, Pak Pimpinan. Garis yang paling tepat mengacu kepada nash, pada tata tertib. Jadi, saya kira itu acuan kita, jadi kita tidak sekarang meminta pendapat karena ini sudah termasuk dalam agenda, dalam tatib yang makanya disebut pimpinan. Jadi, tidak tergantung kepada ketua karena ketua itu bukan kepala kantor.

Terima kasih, Pak.

PIMPINAN SIDANG : Dr. LAODE IDA (WAKIL KETUA DPD RI) Terima kasih, Pak Gafar.

Ini saya konfirmasi saja sebetulnya karena ini adalah sidang penutup untuk kita semua dan memang kita mulai saja saya kira.

PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI)

Baik, Bapak-Ibu sekalian, pertama saya mohon maaf di belakang tadi itu menyiapkan beberapa hal yang harus diselesaikan.

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Salam sejahtera buat kita semua.

Shalom.

Om swastyastu.

Sebelum kita memulai Sidang Paripurna DPD RI ini, ini adalah Sidang Paripurna kita yang terakhir pada masa sidang pada masa periode kita di tahun 2009 – 2014. Kita berbahagia banyak daripada kita dengan segala kesibukannya bisa menghadiri acara yang istimewa hari ini. Lima tahun kita bersama-sama, ada yang melanjutkan terus, tetapi ada juga yang pindah kamar sebelah, ada juga yang mengabdi di tempat lain, dan lain sebagainya. tentu hari ini di samping membahagiakan buat sebagian teman -teman Anggota DPD yang terpilih, yang hadir juga, tetapi apa pun ya, the soldier never fade away, the soldier never die

but fading away. Maklum agak kurang tidur. Jadi, seorang pejuang itu tidak pernah akan

mati, tetapi hanya akan bertugas di pertempuran yang lain.

Untuk itu, Bapak-Ibu sekalian, untuk kita memulai siang ini marilah kita menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Kepada seluruh Anggota Dewan yang terhormat dan juga seluruh hadirin yang ada di ruangan ini untuk dapat berdiri bersama-sama menyanyikan lagu kebangsaan kita.

(3)

PEMBICARA : PADUAN SUARA Hiduplah Indonesia raya… Indonesia tanah airku. Tanah tumpah darahku. Disanalah aku berdiri. Jadi pandu ibuku.

Indonesia kebangsaanku. Bangsa dan Tanah Airku. Marilah kita berseru. Indonesia bersatu. Hiduplah tanahku Hiduplah negriku.

Bangsaku Rakyatku semuanya. Bangunlah jiwanya.

Bangunlah badannya. Untuk Indonesia Raya. Indonesia Raya. Merdeka Merdeka.

Tanahku negriku yang kucinta. Indonesia Raya.

Merdeka Merdeka. Hiduplah Indonesia Raya. Indonesia Raya.

Merdeka Merdeka.

Tanahku negriku yang kucinta. Indonesia Raya.

Merdeka Merdeka. Hiduplah Indonesia Raya.

PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI) Kami persilakan untuk duduk kembali.

Sidang Dewan yang mulia, sebelum kita memasuki Sidang Paripurna, pada kesempatan ini kami ingin menyampaikan bahwa di ruang sidang ini telah hadir para calon anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia terpilih periode 2014 – 2019. Silakan berdiri, silakan berdiri teman-teman sekalian Anggota DPD RI yang merasa. Terima kasih hadir semua sebagian ya. Mungkin yang lain masih dalam perjalanan. Selain itu, juga hadir bersama kita Direktur Utama PT Taspen (Tabungan Asuransi Pensiun) beserta jajarannya yang akan menyerahkan kartu tabungan hari tua. Jadi, kalau yang merasa sudah mau tua, ini tabungannya. Yang hadir pada kesempatan ini, saya ingin perkenalkan ini sahabat lama saya Saudara Iqbal Latanro, betul ya? Sudahlah sama-sama dari Makassar itu. Pak Iqbal ini dulu pernah jadi Dirut utama Bank BTN. Kemudian, bersama beliau hadir Pak Hermansyah Direktur Operasi Taspen, kemudian sebagai Kepala Cabang Utama Pak Khomeidi. Jadi, rekan-rekan sekalian para senator Republik Indonesia, pada pagi ini karena masa pengabdian

(4)

dari kita dari tahun 2004 dan 2009 ada sebagian, seperti Pak Bambang Soeroso, siapa lagi? Ada yang 2009 dan 2014 dan tentu juga ada yang melanjutkan, pada pagi ini secara simbolis melalui pimpinan akan diserahkan kartu tabungan untuk hari tua. Mudah-mudahan dengan adanya kartu tabungan ini supaya mengangkat martabat mantan anggota DPD RI masih tetap terhormat. Walaupun juga bukan lagi sebagai anggota, kembali ke tengah masyarakat tentu akan tetap berjuang sesuai dengan bidangnya masing-masing. Untuk itu, kami persilakan kepada pembawa acara untuk mengagendakan acara simbolis pada pagi ini menjelang nanti kita akan memasuki Sidang Dewan yang mulia itu. Waktu dan tempat kami persilakan. PEMBICARA: SEKRETARIAT JENDERAL DPD RI

Penyerahan secara simbolis Kartu Tabungan Hari Tua Anggota DPD Periode 2009 – 2014. Kepada yang terhormat Ketua DPD dan para Wakil Ketua DPD RI dan yang kami hormati Direktur Utama PT Taspen dipersilakan untuk mengambil tempat.

Terim kasih, kami persilakan untuk kembali ke tempat masing-masing. PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI)

Baik Bapak-Ibu sekalian, apa yang saya terima tadi otomatis juga akan diterima oleh para anggota DPD RI secara simultan. Ini hanya secara simbolis saja. Jumlahnya dibilang banyak, banyak. Dibilang sedikit, juga banyak gitu ya. Karena ini rahasia negara, terpaksa masing-masing tidak boleh membukakan karena ada di situ rahasia, katanya karena ada agak berbeda saya dengan Ibu karena Ibu tidak dapat tunjangan istri katanya, tidak dapat tunjangan suami ya karena suami tidak ditunjang. Maaf, Bu, saya agak banyak sedikit ini karena ada istri yang harus didukung. Ada diskriminasi kata Ibu. Tetapi, teman-teman sekalian, apa pun tentu kita mengucapkan terima kasih kepada bangsa dan negara yang telah menghargai apa yang telah kita lakukan selama ini, inilah sebagai sebuah simbol sebagaimana disampaikan oleh Pak Iqbal Latanro sehingga mudah-mudahan ini ada berkat dan manfaatnya buat kita dan ini menunjukkan pengabdian kita itu dihargai. tepuk tangan buat kita semua. Baiklah untuk itu kami sekali lagi mengucapkan terima kasih kepada PT Taspen. Untuk itu, karena kami akan memulai sidang, diminta pada Pak Sesjen untuk bisa mendampingi meninggalkan ruang sidang, tetapi kalaupun mau hadir kami persilakan. Terima kasih, Bapak-Ibu sekalian.

Baik, Bapak-Ibu sekalian, mohon duduk ditempatnya yang telah ditentukan. Sidang Dewan yang mulia, berdasarkan catatan daftar hadir yang disampaikan oleh Sekretariat Jenderal, sampai saat ini telah hadir ya, ini mungkin 10 menit yang lalu, tetapi saya lihat ada beberapa yang sudah datang, telah hadir 73 orang dari 130 anggota, oh bahkan telah mencapai 82 ini. Rekor di akhir-akhir ini, hadirnya presentasinya 70% jauh daripada kehadiran anggota saudara tua kita di sebelah pada sidang-sidang penutupan. Dengan demikian, Sidang dewan ini telah memenuhi syarat untuk kita buka. Dengan mengucapkan

bismillahirrahmanirrahim, Sidang Paripurna ke-19 DPD ini kami buka dan dinyatakan

terbuka untuk umum. Ketok 1x

Sidang Dewan yang mulia, sesuai dengan jadwal acara, Sidang Paripurna hari ini mempunyai empat agenda. Pertama, laporan pelaksanaan tugas alat kelengkapan. Yang kedua, penyampaian laporan kinerja PURT Tahun Sidang 2013 – 2014 Panitia Urusan Rumah Tangga. Yang ketiga, pengesahan berbagai keputusan DPD RI. Yang terakhir adalah

(5)

penutupan Masa Sidang IV Tahun Sidang 2013 – 2014 dan penutupan akhir jabatan keanggotan DPD RI 2009 dan 2014.

Sidang Dewan yang mulia, marilah kita segera memasuki agenda pertama, yaitu penyampaian laporan perkembangan pelaksanaan tugas alat kelengkapan DPD dan pengesahan keputusannya di mana untuk urutan penyampaian laporan akan dimulai dari alat kelengkapan yang materinya daripada laporan itu akan diambil sebuah keputusan. Untuk mengawali laporan tersebut, kami persilakan kepada yang mewakili dari pimpinan PPUU, tetapi saya lihat ada pimpinannya langsung untuk menyampaikan laporan terlebih dahulu karena materi yang akan disampaikan berkaitan dengan pelaksanaan harmonisasi usul RUU dari berbagai komite yang nantinya akan kita ambil keputusan. Untuk itu, kami persilakan kepada pimpinan PPUU untuk menyampaikan laporan perkembangan pelaksanaan tugasnya. Waktu dan tempat kami persilakan. Silakan, PPUU, pak Wayan.

PEMBICARA : I WAYAN SUDIRTA, SH. (KETUA PPUU)

Laporan pelaksanaan tugas Panitia Perancang Undang-Undang Masa Sidang IV Tahun Sidang 2013 – 2014 disampaikan pada Sidang Paripurna ke-19 DPD RI hari ini, Selasa tanggal 30 September 2014. Saudara Pimpinan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia yang kami hormati, saudara-saudara Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia yang saya hormati pula, hadirin yang berbahagia yang kami hormati, Saudara Sesjen beserta seluruh jajarannya yang kami hormati pula.

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Salam sejahtera bagi kita semua.

Om swastyastu.

Pertama-tama, kami mohon maaf karena saya pakai pakaian pendek begini karena lari-lari dari mengikuti tes kesehatan di KPK. Jadi, baru saja saya langsung saya lari-lari ke sini ya, jadi saya tidak bisa berganti pakai lengan panjang seperti teman-teman yang gagah-gagah ini. Sekali lagi mohon maaf. Yang kedua, kami harus mengucapkan puji dan syukur senantiasa kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua sehingga sidang pada hari ini dapat kita laksanakan dengan baik dan lancar. Di penghujung masa bakti Anggota DPD RI periode tahun 2009 – 2014, izinkan kami atas nama Anggota dan Pimpinan Panitia Perancang Undang-Undang menyampaikan laporan pelaksanaan tugas Panitia Perancang Undang-Undang selama Tahun Sidang 2013 – 2014. Sebagaimana ketentuan Pasal 78 Ayat (1) Huruf C Tata Tertib DPD, PPUU telah melaksanakan tugas harmonisasi pembulatan dan pemantapan konsepsi di ruu dari komite, yaitu:

a. Komite I RUU tentang Pengelolaan Terpadu Kawasan Megapolitan Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi-Cianjur;

b. Komite II RUU tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan dan RUU tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal; c. Komite III RUU tentang Pengetahuan Tradisional dan Ekspresi Budaya Tradisional,

dan;

d. Komite IV RUU tentang Penyusunan, Pelaksanaan, dan Pertanggungjawaban Anggaran Pendapatan Belanja Negara serta Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, RUU tentang Kekayaan Negara, dan RUU tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2006 tentang Badan Pemeriksaan Keuangan.

Pada sidang gabungan antara PPUU dan komite, disepakati bahwa usulan RUU yang diajukan oleh masing-masing komite yang berjumlah 7 RUU tersebut telah disepakati bersama. Oleh karena itu, Sidang Paripurna kali ini dapat mengambil keputusan dan

(6)

mengesahkan RUU tersebut. Namun, izinkan kami menyampaikan beberapa catatan berkaitan dengan RUU di atas.

Pertama, terkait lingkup DPD. pilihan untuk menyusun sebuah RUU haruslah disesuaikan dengan lingkup tugas DPD sebagaimana ketentuan Pasal 22d Ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Beberapa RUU yang disampaikan komite kepada PPUU harus melalui diskusi panjang tentang konstitusionalitas RUU tersebut. Karena, ruu tersebut dalam konteks harmonisasi pembulatan dan pemantapan konsepsi, bukan merupakan lingkup tugas DPD. setelah ada jaminan politis dari pimpinan Komite, maka ruu tersebut dapat diteruskan untuk dilakukan harmonisasi, pembulatan, dan pemantapan konsepsi. Perlu kami garis bawahi bahwa ruang lingkup dan tugas PPUU itu adalah harmonisasi yang berkaitan dengan legal drafting. Tetapi, karena semangat dan aspirasi dari berbagai daerah seringkali menurut kacamata legal drafting, RUU yang diajukan sesungguhnya kalau dikaji menurut pikiran subjektif dari PPUU itu sebenarnya tidak masuk ruang lingkup DPD berdasarkan 22d, tetapi PPUU harus bisa mengambil jalan. Kalau memang itu putusan politik dan itu kewenangan dari Komite, tentu kami tidak bisa mengganjal karena alasan-alasan legal drafting. Oleh karena itu, kelak kalau RUU ini sampai ke DPR, saya berharap demikian kuatnya pertahanan teman-teman kenapa RUU ini diajukan. Argumennya harus berlapis-lapis.

Para anggota yang saya hormati, selanjutnya ke depan perencanaan legislasi komite yang nantinya disampaikan kepada PPUU sebagai bahan penyusunan soal Prolegnas DPD harus benar-benar memperhatikan ketentuan Pasal 22d Ayat (1) satu Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia. Kecermatan ini bisa terwujud antara lain ketika anggota serius membahas, ketika sekretariat bekerja sungguh-sungguh, ketika kita mendapatkan ahli-ahli yang baik. Ketika periode pertama, tahun-tahun pertama, kami merasakan betapa sulitnya mengukur dan memposisikan posisi DPD dari segi legal drafting. Setelah 10 tahun berjalan, kondisi ini bisa ditemukan dengan jernih, mana putusan politik, mana RUU yang sesuai dengan legal drafting.

Para hadirin, masalah yang kedua berkaitan dengan perencanaan legislasi. PPUU ke depan harus menyusun instrumen perencanaan legislasi DPD. Instrumen tersebut paling tidak dapat memberikan arah bagi penyusunan Prolegnas di lingkup DPD RI tahun 2015 – 2019 agar sesuai dengan ketentuan Pasal 22d Ayat (1) UUD Negara RI Tahun 1945. Selanjutnya, dapat kami laporkan dalam kesempatan ini bahwa terkait RUU tentang perubahan atas Undang-Undang No. 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (RUU P3) yang menjadi inisiatif RUU dari PPUU, RUU tersebut telah kami sesuaikan berdasarkan putusan Mahkamah Konstitusi dalam perkara No. 92 PPUU X/2012. Oleh karena itu, kami mohon Sidang Paripurna kali ini dapat mengesahkan RUU P3 sebagai RUU dari DPD RI. Sekali lagi, kami mohon agar Sidang Paripurna ini dapat mengesahkan RUU P3.

Hadirin yang kami hormati, sehubungan dengan telah ditetapkannya Peraturan DPD No. 1 Tahun 2014 tentang Tata Tertib dan Putusan MK perkara No. 92 PPUU X/2012, Keputusan DPD No. 17 DPD RI/2009 tentang Pusat Perancangan Kebijakan dan Informasi Hukum Pusat Daerah yang sering kita sebut Law Center, harus diubah dan disesuaikan berdasarkan tata tertib. Kami telah mencoba membuat desain pengembangan Law Center DPD RI di mana postur dan struktur kelembagaan Law Center akan didukung penasihat ahli yang akan lebih memfokuskan kegiatan-kegiatan Law Center sebagai pendukung fungsi legislasi DPD sehingga baik diminta atau tidak, Law Center akan terus menghasilkan produk-produk yang dapat digunakan oleh Panitia Perancang Undang-Undang Komite maupun Anggota DPD dalam setiap tahapan penyusunan RUU.

Para hadirin yang saya hormati, dalam bulan-bulan terakhir PPPU menghasilkan lima kajian yang ternyata kajian ini digunakan oleh berbagai pihak. Salah satu misalnya, program

(7)

tentang kejaksaan sudah diambil oleh MAPI, diminta. Kedua, kajian tentang pembukaan kotak suara malah diminta oleh PPUU dan pihak-pihak terkait. Insya Allah, putusan MK tentang pembukaan kotak suara sama persis dengan kajian kita sekalipun pendapatnya agak berbeda dengan Pak Jimmly Asshidiq. Jadi, ada lima kajian dalam bulan-bulan terakhir ini. Kalau kajian-kajian ini ternyata di luar dugaan, di waktu dulu kita mengatakan bahwa 35 perguruan tinggi yang mendukung kita, kita tidak mampu memberdayakannya. Tetapi bulan-bulan terakhir, atas bantuan berbagai universitas, lima kajian itu sudah digunakan oleh berbagai pihak. Kelak apabila Law Center ini dikembangkan entah siapa pun yang memimpin, kajian-kajian ini bisa berguna untuk berbagai lembaga negara. Sekali lagi kami ulangi, kelak kalau Law Center ini dikembangkan, kalau punya sekretariat yang baik, punya staf sekretariat yang baik, punya tim ahli yang baik, punya manajer yang baik, mudah-mudahan Law Center ini menjadi penunjang bukan hanya untuk PPUU, tetapi juga seluruh kegiatan alat kelengkapan, bahkan kebijakan pimpinan juga bisa buat secara bagus, secara akademis dan dapat dipertanggungjawabkan.

Kajian terakhir, pimpinan sudah melakukan rapat bersama tim ahli. Kajian yang kami adakan adalah membuat kita semua dari DPD menyadari bahwa DPD sebenarnya tidak boleh tinggal diam kalau ada Undang-Undang Pilkada yang mengatakan pemilihan langsung oleh rakyat itu sekarang sudah ditiadakan. Saya tidak tahu caranya apakah forum ini dapat menyetujui, tetapi kami menawarkan apakah kita setuju kami lemparkan kepada Pimpinan untuk menawarkan pada anggota. Setujukah kita mengadakan judicial review atas Undang-Undang yang menyatakan bahwa pemilihan kepala daerah melalui DPRD. Kalau kajian di pimpinan dan staf ahli dan sekretariat, belum pada anggota, menyatakan itu harus di-judicial

review dan konsepnya sudah siap, Pak Ketua. Hari ini konsep itu sudah siap. Kalau forum

Paripurna ini menyepakati, tinggal mengatur waktu kapan kita ajukan. Kalau boleh kami memberikan catatan, kalau tidak disebut panjang lebar, agak menarik dan ironis kalau DPD sampai diam karena ini sangat menjadi kepentingan anggota DPD, kepentingan daerah. Oleh karena itu, saya tidak tahu mekanismenya, sekali lagi saya lemparkan, apakah periode ini masih dalam sisa waktu yang beberapa jam lagi masih mau bekerja, bekerja untuk mengerjakan kepentingan daerah, bekerja untuk kepentingan rakyat, yaitu mengajukan

judicial review atas RUU Pilkada yang mendapat protes dari berbagai pihak.

Para hadirin, untuk implementasi pengembangan program Law Center, kelembagaan

Law Center akan dibagi menjadi empat bidang, yaitu Bidang Penelitian dan Pengkajian

Hukum Pusat Daerah; Bidang Perencanaan, Monitoring, dan Evaluasi Peraturan Perundang-Undangan; lalu kemudian Bidang Dokumentasi dan Jaringan Informasi Pusat Daerah; kemudian juga Bidang Ketatausahaan Law Center. Keempat bidang tersebut pelaksanaan tugasnya akan dikoordinasi oleh koordinator Law Center. Kami harapkan desain Law Center dapat disahkan dalam Sidang Paripurna kali ini. Sekali lagi perlu kami katakan, tidak mudah merangkul 35 perguruan tinggi negeri dan swasta yang utama di Indonesia. Kini, PPUU sudah melakukan MoU dengan 35 perguruan tinggi. 35 perguruan tinggi sudah membuat petisi untuk mendukung amandemen ke-5. Sesuatu yang dulu tidak dianggap penting kerja sama itu, sesuatu yang dulu Law Center dan PPUU tidak dianggap penting, ternyata kami berhasil merangkul 35 perguruan tinggi dengan prestasi yang luar biasa, yaitu mereka membuat petisi betapa pentingnya amandemen ke-5 UUD 1945. Oleh karena itu, 35 perguruan tinggi potensinya yang luar biasa, kalau kelak misalnya Prolegnas direncanakan bersama misalnya, mana bagian DPD RI, mana bagian pemerintah, mana bagian DPR RI. kalau pembahasannya benar-benar tripartit sesuai dengan Putusan MK, jika DPD RI diberikan 1 tahun 35 RUU, kita hanya tinggal bekerja sama, masing-masing satu perguruan tinggi dengan DPD bisa bekerja sama, lalu 35 RUU itu bisa kita buat dalam satu tahun. Kalau ini yang bisa kita lakukan, prestasi DPD sama dengan prestasi senat di Australia yang bisa menghasilkan 100 RUU dalam waktu satu tahun. Oleh karena itu, penting sekali pada

(8)

saat-saat terakhir saya memberi catatan, kalau menurut istilah Gus Dur, Saya sudah banyak mengatakan hal-hal yang penting, tetapi kalau bicara terakhir yang paling penting harus dinyatakan pula, Pak Ketua, yaitu bagaimana 35 perguruan tinggi ini dirangkul dan Law

Center dibesarkan. Tetapi, sekali lagi sebentar lagi kan kami sudah menjadi laskar tak

berguna. Nanti Prof Farouk, Pak Bahar Ngitung, dan lain-lain kami titip aspirasi ini. Saya percaya beliau-beliau itu orang yang hebat-hebat, juga yang lain yang terpilih Nurmawati dan lain-lain bisa merasakan apa yang kami maksud. Kami tidak berani berkata terlalu banyak, tetapi teman-teman harap mampu menebak yang baik-baik dari pikiran saya yang belum keluar tolong diterjemahkan untuk kemampuan dan kekuatan DPD ke depan.

Hadirin yang berbahagia, pada akhir pengantar ini kami ingin menyampaikan rasa bangga dan penghargaan kepada Pimpinan DPD. Sekali lagi kebanggaan kami pada Pimpinan DPD itu tidak setengah-setengah. Kami sampaikan juga kepada anggota baru betapa bangganya kami punya Pimpinan yang tiga ini. Kalau cari kekurangannya pasti ada, tapi kalau cari kekurangan, saya lebih banyak dari Pimpinan. Kalau mau cari kekurangan Pak Laode, banyak, tetapi lebih banyak lagi kelebihan yang dia punya. Sekali sekali dia protes sama saya, sekali-sekali saya protes sama dia, tetapi saling mengagumi jauh lebih penting daripada protes itu. Jadi, para hadirin saya memuji Pimpinan DPD di dalam forum di mana kita ada diskusi tentang KPK, saya hanya bisa mengatakan omong kosong, omong besar kalau Pimpinan DPD dianggap tidak berprestasi. Siapa yang bisa mengajukan judicial review mempengaruhi MK sampai kita punya kewenangan yang lebih walaupun belum ditampung. Saya mau tanya, ada tidak pimpinan yang bisa melahirkan hasil judicial review seperti itu. Tanpa Pimpinan tanda tangan PPUU itu tidak bisa berbuat apa-apa. Kalau hasil judicial

review itu tidak diakui sebagai prestasi Pimpinan, itu omong kosong, omong besar, biar saya

menanggung risikonya. Saya tidak palsu memuji Pimpinan karena saya paling sering mengkritik pimpinan. Tetapi, kali ini catatan terakhir harus saya katakan, Pimpinan sudah bekerja maksimal.

Lalu, Pimpinan Komite, ini kesempatan terakhir juga saya bicara. Mula-mula memang ada beberapa komite yang belum memahami kerja PPUU dari segi legal drafting karena mereka lebih cenderung menyampaikan apa yang dimaksud dengan putusan politik. Tetapi, di akhir-akhir masa jabatan kita seluruh kerja sama sudah berjalan baik. Saya mengucapkan terima kasih kepada Komite I, Pimpinan dan Anggotanya sudah bekerja sama dengan baik, Komite II, Komite III, Komite IV. Demikian juga alat kelengkapan yang lain. Jadi, saya harus puji saya bisa berdiri seperti di sini karena kerja sama mereka. Kerja sama mereka yang baik menyebabkan saya kadang-kadang merasa tidak layak dipilih lagi, tetapi dipilih terus dipilih terus secara aklamasi. Karena apa? Karena komite telah bekerja sama dengan dengan baik. Komite itulah membesarkan nama saya sehingga saya dapat terpilih terus-menerus, tetapi tidak bisa terpilih yang kesebelas, cukup dua periode.

Kemudian, Anggota PPUU. Saya takjub melihat bagaimana Anggota PPUU. Katanya, kalau dia ikut di alat kelengkapan lain, banyak tuntutan. Kok, begitu sampai di PPUU dia tidak pernah menuntut apa-apa. Dan, PPUU selalu patuh kepada putusan pleno. Jika Rapim memutuskan si A harus ke Papua, yang lain ke Sumatera Barat, ada 1 – 2 yang ingin usul, Pak tolong saya dipindah. Kalau anggota tidak mampu memberikan penjelasan, saya memberi penjelasan langsung. Anda ingin ke Papua? Ya. Kalau begitu karena hari ini sudah tersusun baik, tetap ke Sumatera Barat. Periode kesempatan berikutnya untuk Papua, Anda nomor 1, dan akhirnya semua itu bisa diselesaikan.

Para hadirin, seluruh Anggota DPD RI tentu kami harus sapa. Tetapi, kemajuan-kemajuan dan hasil-hasil yang dicapai oleh PPU selama ini adalah terutama berkat kemauan dan usaha yang sungguh-sungguh dari seluruh anggota dan dukungan dari pimpinan, juga anggota DPD lainnya tak terkecuali. Segala kekurangan dan kegagalannya, terutama terletak karena keterbatasan waktu dan keterbatasan kemampuan kami dalam memimpin PPUU

(9)

melaksanakan program-program kerja PPUU, kadang-kadang di sana-sini tidak sesuai dengan harapan. Maka, selanjutnya izinkan kami memanjatkan ucapan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dalam merintis PPUU selama ini, saya diberi kepercayaan dan kehormatan oleh seluruh Anggota PPUU untuk memimpin. Di PPUU-lah kalau mau diperdebatkan, bisa diperdebatkan. Sidang selalu dibuka tepat waktu berapa pun yang hadir, baru dilihat kuorumnya ketika mengambil keputusan. Maka, banyak anggota yang datang terlambat awal-awalnya karena kami menawarkan rapat, rapat 15 menit atau 1 jam. Maksimal 1 jam karena tugas-tugas anggota menunggu di luar. Ternyata, ini berjalan efektif. tidak ada yang mempersoalkan itu pelanggaran tatib, dan akhirnya kami memutuskan janganlah habis waktu di dalam gedung. Jangan habis anggota PPUU di ruang-ruang yang dingin. Di ruang-ruang yang dingin itu cukup 15 menit rapat, maksimal satu jam. Keluarlah, dan itu ternyata membawa hasil yang lumayan.

Para hadirin, kepercayaan dan kehormatan itulah yang telah memberikan kekuatan lahir dan batin bagi saya beserta Pimpinan dan Anggota bagaimana melaksanakan tugas ini dengan baik. Kepada mereka yang telah memberikan nasihat, kepada mereka yang telah memberikan petunjuk, dorongan, kami sampaikan terima kasih yang sedalam-dalamnya karena dengan itu kami merasa tidak berjalan seorang diri. Kepada mereka yang telah mengkritik, kami juga mengucapkan terima kasih karena dengan itu merasa diawasi dan mendapat cambukan untuk bekerja lebih keras. Semua cerita indah di sini hanya akan menjadi sepenggal kenangan di masa depan, menjadi bekal kita melangkah ke depan yang lebih baik buat kepentingan bangsa dan negara dan kepentingan kita bersama. Suatu hari nanti, kita pasti akan merindukan masa-masa indah seperti ini, seperti kali ini, seperti rapat-rapat di PPUU. Jadi, jangan putus silaturahmi di antara kita, jangan padam semangat kita untuk mengabdi kepada bangsa dan negara. Kepada teman-teman yang terpilih kami titip, jaga DPD. Kepada pimpinan yang terpilih, jaga DPD. Kalau dapat pimpinan yang luar biasa, kami bersyukur. Tetapi, kalau dapat pimpinan yang tidak merusak citra, menurunkan citra, itu sudah luar biasa. Kalau dapat pimpinan tak merusak citra ke depan, memajukan DPD, itu luar biasa kami berdoa dari lubuk hati.

Para hadirin, itu pesan pada yang terpilih. Kepada yang tak terpilih, kehilangan sesuatu, kehilangan kursi bukan kekalahan. Kepada teman yang dapat kursi, bukan kemenangan. Kata siapa, kata ustadz kita dari Sulawesi Barat. Jadi, itu bukan kekalahan dan kemenangan karena ini manajemen waktu. Orang bisa di atas, turun ke bawah. Orang di bawah, turun ke atas. Yang terpilih, nanti bisa tidak. Yang tidak, bisa terpilih lagi ke depan. Menggarisbawahi teman-teman yang tak terpilih, jangan merasa gagal dan kalah. Titanic bilang, dalam ketiadaan harapan, kita tidak boleh kehilangan harapan. Jika teman-teman yang terpilih, kerja 3 kali, seharusnya kita yang tidak terpilih kerja 30 kali supaya kita menyamai teman-teman yang terpilih. Saya percaya dalam waktu pendek kalau Anda 10 kali lipat dari yang terpilih, yang tak terpilih pun dalam waktu pendek akan meroket dan bisa bersama-sama, setara dan sejajar dengan yang terpilih. Tidak ada waktu untuk kita bersedih, tidak boleh kita menangisi nasib karena terpilih dan tidak terpilih sekali lagi hanyalah manajemen waktu. Semua orang akan bisa mengalami itu. Maka, salam saya buat Pak Laode khususnya, jadilah menteri yang baik kalau nanti terpilih, jadilah guru besar dan mengajar di berbagai negara, dan itu tidak kalah penting daripada DPD karena DPD memang ada waktunya datang dan pergi.

Kepada seluruh jajaran Sekretariat Jenderal DPD RI, terutama Sekretariat PPUU, kami mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya atas dukungan dan kerja sama yang luar biasa selama ini. Saya kagum pada sekretariat di tempat-tempat lain, tetapi saya harus jujur, saya tidak kalah kagum kepada Sekretariat PPUU. Ketika tahun pertama saya dilantik menjadi PPUU, seorang senior dari Sekretariat Jenderal mengatakan titip kalau PPUU ingin baik, mohon maaf, jaga dia baik-baik, jaga dia baik-baik. Jadi, setiap PPUU menghadapi perubahan di sekretariat, kami selalu berdebar jantung kami karena mengingat

(10)

pesan itu. Janganlah Sekretariat PPUU diubah-ubah, di geser-geser karena ini berat sekali mendidik. Itu mendidik anak-anak PPUU tidak mudah. Di awal tahun pertama, kita tidak punya anggaran, tolonglah Pak Ketua ingat. Kita sering mencoba bagaimana urunan agar bisa membikin RUU. Suatu saat saya membawa uang Rp10 juta karena kekurangan dana, tetapi ditolak. Lalu, dari mana uang itu? Jadi, kalau mau kita ungkap bagaimana sejarah PPUU dan itu dianggap penting, satu-satunya permintaan saya janganlah staf yang bagus di PPUU dirombak-rombak, digeser-geser. Kalau stafnya digeser-geser, saya percaya staf ahli akan pergi. Saya sudah pergi, pimpinan bisa dicari. Tetapi, kalau nanti staf ahli pergi, kemudian sekretariat berantakan, saya tidak jamin PPUU ini akan lebih baik dari yang sekarang. Padahal, kami ingin PPUU lebih baik dari yang sekarang. Kalau PPUU ingin lebih baik, pegang itu sekretariat yang bagus-bagus, pegang tim ahli, dijaga. Cari pimpinan yang memang benar-benar dapat melanjutkan ini. Pasti PPUU lebih baik, pasti PPUU berguna buat DPD. Inilah imbauan saya terakhir. Kalau pesan orang mau meninggal tidak didengar, bahaya itu, Pak. Orang mau meninggalkan tempat tidak didengar, padahal dia baik, itu bahaya, meninggalkan tempat.

Baik, demikian laporan yang dapat kami sampaikan dalam Sidang Paripurna kali ini. Semoga ke depan DPD dapat lebih baik dari saat ini dalam memperjuangkan aspirasi masyarakat dan daerah.

Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.

Salam sejahtera bagi kita kita semua.

Om shanty shanty shanty om.

Pimpinan Panitia Perancang Undang-Undang DPD RI. Ketua, saya sendiri Wayan Sudirta, Wakil Ketua Ibu Khairiah, Wakil Ketua lainnya adalah Pak Anang Prihantoro.

Sekali lagi, terima kasih dan mohon maaf kalau ada segala kekurangannya. PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI)

Mari kita berikan tepuk tangan yang besar buat Pak Wayan.

Baik, Bapak-Ibu sekalian, memang hari ini yang penuh kenangan, hari yang bersejarah, terutama buat kami. Sebagian anggota ada yang 10 tahun, ada yang 5 tahun bersama, khususnya Pak Wayan Sudirta. beliau ini kalau ibaratnya gedung, beliau itu tonggaknya daripada DPD ini, pilar utama. betul tadi yang di sampaikan bagaimana di awal-awal kita tidak punya apa-apa, anggaran sangat terbatas, bahkan pun kita iuran, saya ingat waktu itu. jadi Pak Wayan itu adalah yang meletakan dasar-dasar dari tiap PPUU, dia itu adalah motornya, utama daripada legislasi ini. jadi kalau istilah Bu Ratu Kanjeng Hemas itu, kalau ada award, beliau ini mungkin satu-satunya dalam sejarah, 10 tahun berturut-turut tetap menjadi ketua PPU. yang menyamakan beliau yang dibawah itu hanya Pak Sarwono Kusumaatmadja 5 tahun berturut-turut menjadi Ketua Komite II, kemudian Pak Bambang Susilo, mana beliau ? nah, saya memang sengaja tidak sebut biar yang lain anggota yang mengingatkan. nanti kita juga berikan waktu. Jadi, terima kasih Pak Wayan mudah-mudahan pengabdian kita di tempat lain akan tetapbersama-sama , dan selalu Pak Wayan adalah keluarga besar kita.

baik teman-teman sekalian, saya harus melanjutkan ini yah kalau tidak saya akan terlarut nanti. Begitu banyak saya punya hubungan yang sangat emosional dengan Pak Wayan. tetapi kita harus memutuskan 2 RUU, tapi tadi Pak Wayan menyebutkan sebuah usulan masalah judicial review daripada pemilukada yang kita menganggap tidak selaras dengan apa yang telah kita putuskan. setelah saya berunding sementara dengan Pimpinan, karena ini adalah periode akhir tentu agak sulit buat kita, tetapi kalau boleh ini merupakan catatan yang bisa kita jadikan rujukan. nanti saya minta Pak Sesjen untuk jadikan ini adalah bagian nanti yang kita akan bahas di awal-awal masa sidang yang mendatang Begitu ya

(11)

teman-teman sekalian Kita lihat nanti, tetapi ini adalah catatan dari masa sidang periode kita ini.

Pertama saya ingin memintakan kepada sidang dewan yang mulia apakah kita bisa menyetujui Rancangan UU Inisiatif dari DPD RI tentang perubahan atas Undang-Undang No. 12 Tahun 2011 tentang pembentukan peraturan perundang-undangan? Yang kedua, apakah dapat juga menyetujui tentang rancangan pengembangan pusat perancangan kebijakan dan informasi hukum pusat dan daerah atau yang kita kenal dengan Law Center DPD RI? Apakah kita dapat menyetujui bersama Bapak Ibu sekalian? Setuju.

Baik, tepuk tangan Terima kasih kepada Pimpinan PPUU dan semua anggotanya yang telah bekerja siang malam yang luar biasa sampai saya mohon maaf tidak bisa menghadiri acara perpisahan di sebuah tempat karena kesibukan kita masing-masing.

Baik, para Anggota DPD RI yang terhormat selanjutnya kita berangkat ke acara selanjutnya, yaitu mendengarkan atau penyampaian laporan dari tim Komite I tentang perkembangan pelaksanaan tugasnya. Untuk itu, kami persilakan langsung oleh Pak Ketuanya.

PEMBICARA : ALIRMAN SORI, SH., M.Hum., MM. (KETUA KOMITE I)

Laporan akhir pelaksanaan tugas Komite I Masa Sidang IV Tahun 2013 – 2014 disampaikan pada Sidang Paripurna ke-19 DPD RI tanggal 30 September 2014.

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Selamat siang.

Salam sejahtera untuk kita semua

Om swastyastu.

Yang saya hormati, Pimpinan Dewan Perwakilan Daerah RI, hadir lengkap pada hari ini Bapak Irman Gusman, Gusti Kanjeng Ratu Hemas, dan Bapak Laode Ida; yang saya hormati para Anggota Senator RI Periode 2009 – 2014; dan juga yang saya hormati Bapak-bapak dan Ibu-ibu Anggota Senator terpilih Periode 2014 – 2019 yang insya Allah besok pagi secara resmi akan dilantik menjadi Anggota DPD yang terhormat; dan yang saya hormati Saudara Sesjen-Wasesjen dan para pejabat Eselon II, Eselon III, IV lingkungan jajaran Sekretariat Jenderal; hadirin sekalian yang saya banggakan. Izinkan kami menyampaikan laporan akhir Komite I DPD RI dan saya akan membacakan secara runut sesuai dengan teks yang sudah disiapkan oleh Sekretariat Jenderal Komite I. Tentu pertama kita menyampaikan rasa puji dan syukur kepada Allah Tuhan Yang Maha Kuasa pada hari ini kita dalam kondisi sehat walafiat dapat melaksanakan tugas di akhir masa jabatan periode 2009 – 2014. Semoga kita semua selalu dalam pelukan dan kasih sayang Allah diberi kesehatan lahir dan batin.

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa Komite I dalam menjalankan tugas dan wewenang konstitusional pada Masa Sidang IV tahun 2013 – 2014 pada dasarnya diarahkan untuk mengoptimalkan penyelesaian program-program kegiatan terkait penyusunan Rancangan Undang-Undang usul inisiatif dan pembahasan Rancangan Undang-Undang bersama DPR serta penanganan atas permasalahan aktual yang terjadi di daerah. Tanpa terasa sudah lima tahun pengabdian periodenisasi keanggotaan DPD RI sebentar lagi akan kita akhiri. Setidaknya dengan kewenangan Dewan Perwakilan Daerah RI yang masih amat terbatas dan penuh dengan keterbatasan ini, Komite I mencoba secara maksimal memainkan peran dalam memperjuangkan aspirasi masyarakat di daerah yang pada hari ini akan kami laporkan berbagai kegiatan di antaranya.

(12)

Pertama, penyusunan rancangan tentang pengelolaan terpadu kawasan megapolitan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, dan Cianjur yang tersebut dengan singkatan RUU Jabodetabekjur. Pada Masa Sidang IV Tahun Sidang 2013 – 2014, Komite I telah selesai membahas Rancangan Undang-Undang tentang Jabodetabekjur sebagai upaya menjawab berbagai problema persoalan pembangunan yang dihadapi Daerah Khusus Istimewa Jakarta sebagai ibu kota negara dan pusat perekonomian nasional bersama-sama daerah-daerah penyangga lainnya. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa hingga saat ini pengelolaan kawasan ibu kota beserta daerah penyangga dilakukan oleh sebuah badan yang kita sebut Badan Kerja Sama Pembangunan Jabodetabekjur (BKSB) dan tidak memiliki kewenangan yang esekutorial, hanya bersifat koordinatif. Keberadaan lembaga tersebut ternyata tidak dapat menyelesaikan ragam permasalahan yang terjadi di ibu kota berserta daerah penyangganya. Ancaman banjir pada saat musim hujan, kelangkaan air bersih pada saat kemarau, urbanisasi, kemacetan lalu lintas dan lainnya semakin hari semakin menjadi momok bagi masyarakat Jakarta dan sekitarnya. Dalam rangka menyelesaikan berbagai permasalahan yang dihadapi oleh ibu kota negara serta mengantisipasi perkembangan pada masa mendatang, Komite I telah menginisiasi penyusunan Rancangan Undang-Undang Jabodetabekjur. Setelah melalui pembahasan selama lebih kurang 2 masa sidang, maka pada hari ini Komite I meminta kesediaan Sidang Paripurna untuk dapat mengesahkan Rancangan Undang-Undang tentang Pengelolaan Terpadu Kawasan Megapolitan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, dan Cianjur (Jabodetabekjur) sebagai RUU usul inisiatif DPD RI.

Yang kedua, pembahasan RUU bersama DPR dan pemerintah. Terkait dengan tugas legislasi lainnya, Komite I masa sidang ini telah melakukan pembahasan RUU secara intensif bersama dengan DPR dan pemerintah. Dapat kami laporkan sebagai berikut.

RUU tentang Pemilukada pemilu kepala daerah. Komite I Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia bersama dengan Komisi II DPR RI dan pemerintah secara intensif terus melakukan pembahasan terhadap rancangan pemilihan kepala daerah. Berbagai substansi terhadap rumusan pasal perpasal dalam Rancangan Undang-Undang ini juga selalu dirumuskan bersama-sama antara ketiga lembaga negara ini. Tingginya tensi pembahasan yang menyeruak di dalam ruang sidang antarfraksi-fraksi di DPR berimbas pada disepakatinya dua draf RUU Pilkada: RUU Pilkada Langsung dan RUU Pilkada Tidak Langsung. Sejatinya perlu kita ketahui bersama bahwa kedua draf Rancangan Undang-Undang tersebut telah memuat berbagai perbaikan dalam penyelenggaraan pilkada, baik langsung maupun tidak langsung. Sebuah pemahaman yang seharusnya dapat disampaikan kepada masyarakat luas bahwa kedua pilihan politik tersebut masing-masing memiliki landasan pemikiran yang sama-sama kuat dan logis. Kemudian, perlu juga disampaikan pula bahwa dalam pembahasan RUU Pilkada dikarenakan tingginya pertentangan antara kedua kubu, baik pilkada langsung maupun tidak langsung, maka Dewan perwakilan Daerah Republik Indonesia sebenarnya sudah mengusulkan jalan tengah, yaitu mekanisme yang memadukan keduanya. Pilkada langsung untuk gubernur dan Pilkada tidak langsung para bupati dan walikota, dan ini mendapat dukungan dari fraksi PKB. Namun, dalam perkembangannya usulan Dewan Perwakilan Daerah tidak dituangkan dalam draf dan Panja RUU Pilkada hanya menyepakati membahas dua draf, yaitu pilkada langsung dan pilkada tidak langsung. Kendati pilihan politik DPR telah memiliki pilkada dilaksanakan secara tidak langsung, beberapa pemikiran dan usul DPD RI telah terakomodasi dalam RUU tersebut. Di antaranya, mekanisme pemilihan tidak satu paket penyelenggaraan Pilkada yang dibebankan kepada APBD karena dipilih melalui DPRD calon independen dan lain sebagainya. Tim kerja Komite I melaksanakan pembahasan RUU Pilkada dipimpin langsung oleh Prof. Doktor Farouk Muhammad dan beberapa anggota yang tercatat secara aktif dan terus-menerus dengan penuh konstrasi dan tanggung jawab dalam pembahasan RUU ini, di antaranya adalah Drs. Paulus Yohanes Sumino, M.M., kemudian Bapak Ir. Emanuel Babu

(13)

Eha, H. Dani Anwar, Jacob Jack Ospara, kemudian almarhumah Pendeta Dr. Silvia Pandegirot, dan yang keenam adalah Drs. H. Kamaruddin, M.H. sebagai koordinator.

Pembahasan terhadap 65 Rancangan Undang-Undang tentang pembentukan daerah otonomi baru yang kita sebut dengan RUU DOB. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa sejak awal tahun 2014 hingga akhirnya masa keanggotaan DPD RI periode 2009 – 2014, DPR melalui Komisi II melakukan pembahasan terhadap 65 RUU pembentukan DOB yang melibatkan Komite I dan pemerintah. Kemudian, perlu kita ketahui bersama bahwa dalam pembahasan terhadap 65 RUU DOB tersebut tercapai kesepakatan bersama antara pemerintah, Komisi II, dengan DPD RI bahwa seluruh Rancangan Undang-Undang Daerah Otonomi Baru yang diusulkan untuk dibahas harus mendapat rekomendasi pandangan dari Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia. Hal mana kemudian menjadikan banyak daerah pengusul yang mengajukan permohonan untuk mendapatkan rekomendasi dari Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia. Selama ini, praktiknya adalah 65 termasuk 22 yang belum mendapatkan rekomendasi dari kita. Atas kesepakatan DPR, pemerintah, dan DPD akhirnya kita setuju, bagi calon Daerah Otonomi Baru yang tidak mendapat pandangan dan rekomendasi dari DPD tidak akan dibahas tripartit antara DPR, DPD, dan pemerintah. Itu praktik yang kita lakukan dan berlangsung secara terus-menerus saat ini. Terhadap pembahasan 60 pembentukan mengingat tingginya tekanan baik dari luar, internal, pemerintah, dan DPR, maka disepakati bersama Komisi II, pemerintah, DPD RI untuk menunda pembahasan 65 Rancangan Undang-Undang DOB hingga periode pemerintahan yang akan datang. Tim kerja Komite I yang intensif melakukan pembahasan 65 rancangan DOB yang dipimpin oleh Prof. Farouk Muhammad sebagai ketua Timja DOB non-Papua dan H. Dani Anwar sebagai Ketua Timja DOB Papua dan Papua Barat dengan beberapa anggota yang tetap aktif dalam pembahasan, yaitu Bapak Drs. Paulus Yohanes Sumino, M.M., darahnya mengalir terus DOB-DOB untuk Papua, itulah Pak Paulus orangnya; kemudian Pak Emanuel Babu Eha; dan Bapak H. Kamaruddin yang juga bertindak sebagai koordinator. Perlu diketahui bersama bahwa perjuangan para anggota DPD RI ini sungguh luar biasa karena mereka telah berhasil menjadikan DPD RI masuk ke dalam mekanisme forum lobi antara DPR dan pemerintah. Semoga pada periodesasi keanggotaan yang akan datang, mekanisme lobi tersebut dapat menjadi konvensi ketatanegaraan yang terus diperlihara dengan baik secara berkelanjutan. Kemudian, terhadap pembahasan 22 RUU tentang Pembentukan Daerah Otonomi Baru (DOB), sebagaimana kita ketahui bersama bahwa setelah dilanjutkan pembahasan 65 RUU DOB, DPR juga mengajukan 22 RUU DOB susulan yang juga mendapat respons dari presiden melalui surat presiden yang kita sebut dengan Amanat Presiden atau Ampres. Namun, sama halnya dengan 65 RUU DOB sebelumnya, pembahasan terhadap 22 RUU DOB juga dilakukan penundaan hingga pemerintahan yang akan datang.

Kemudian yang ketiga, pandangan DPD RI terhadap Rancangan Undang-Undang DOB, sebagaimana disebutkan di atas bahwa saat ini terdapat beberapa usulan DOB yang belum dapatkan rekomendasikan dari DPD RI, baik yang terdapat dalam kategori 65 maupun 22. Terhadap permasalahan tersebut, kesepakatan bersama yang di ambil oleh Komite I dan Komisi II dan pemerintah bahwa Komite I diminta untuk tetap melakukan kajian terhadap DOB-DOB yang bersangkutan. Beberapa DOB yang telah mendapat kajian secara mendalam oleh Komite I dan akan diminta pengesahan pada Sidang Paripurna yang terhormat hari ini: 1) pembentukan DOB Kabupaten Mimika Barat sebagai pemerkaran dari Kabupaten Mimika Provinsi Papua; 2) pembentukan DOB Kabupaten Luwuk Tengah sebagai pemekaran dari Kabupaten Luwuk Provinsi Sulawesi Selatan; dan 3) pembentukan DOB Kota Lembah Balian sebagai pemekaran dari Kabupaten Jayawijaya Provinsi Papua.

Keempat, pengawasan terhadap pelaksanaan undang-undang. Sesuai dengan program kerja yang telah disusun oleh Komite I, pada Masa Sidang IV Komite I menyepakati untuk

(14)

melakukan melaksanakan pengawasan atas sinkronisasi pelaksanaan Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang dengan UU No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan dan Undang-Undang No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Pengawasan ini merupakan tindak lanjut dari pengawasan pelaksanaan UU Penataan Ruang terdahulu yang merekomendasikan untuk melakukan pengawasan terhadap beberapa undang-undang sektoral, Selain itu, Komite I juga telah melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan Undang-Undang No. 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik sebagai respons terhadap tingginya keluhan atas pelayanan publik di daerah. Berdasarkan hasil kajian dan pengawasan secara mendalam, maka Komite I pada Sidang Paripurna hari ini memohon kesediaan Dewan Perwakilan Daerah melalui sidang yang terhormat ini untuk dapat melakukan pengesahan terhadap pengawasan ini.

Pertama, hasil pengawasan DPD RI atau sinkronisasi pelaksanaan Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang dengan Undang-Undang No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan dan Undang-Undang No. 32 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Dua, hasil pengawasan Undang-Undang No. 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik.

Demikianlah laporan akhir pelaksanaan tugas Komite I pada Masa Sidang IV Tahun Sidang 2013 – 2014. Sebelum kami menutup laporan ini, kiranya kami atas nama Pimpinan dan semua Anggota Komite I menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh pihak yang selama ini membantu pelaksanaan tugas-tugas Komite I. Kami berharap seluruh capaian hasil kerja Komite I, termasuk mekanisme pembahasan rancangan RUU di DPR selama ini yang telah terjalin dengan baik dapat diteruskan dan ditingkatkan, sedangkan untuk beberapa hal yang masih sebelum tercapai sesudah harapan, kiranya anggota Dewan Perwakilan Daerag RI terpilih yang akan datang dapat memperjuangkannya lebih baik lagi.

Atas perhatian kita semua, kami sampaikan terima kasih dan kami juga menyampaikan rasa terima kasih dan bangga kami kepada tiga orang pimpinan yang selalu memberikan dukungan untuk kerja-kerja Komite I dengan pemerintah dan DPR. Saya kira apa yang disampaikan oleh Ketua PPUU Pak Wayan Sudirta, itulah potret tiga orang pimpinan yang sudah mencoba secara maksimal bagaimana lembaga terhormat ini tumbuh dan berkembang dengan lembaga-lembaga lainnya. Mudah-mudahan ke depan lembaga ini akan semakin

strong, semakin kuat dan ekuivalen dengan DPR dan pemerintah juga karena urusan MK 92

menunjukkan bahwa posisi kita ketiga lembaga ini sejajar. Selamat Pak Ketua, Pak-Ibu Wakil Ketua Pak Laode, mudah-mudahan kerja bakti yang Bapak lakukan selama ini menjadi amal ibadah dan tetap mendapat kepercayaan dari Bapak dan Ibu sekalian, baik

incumbent maupun anggota yang baru, itu doa saya secara pribadi. Kemudian, juga saya

menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada Saudara Sesjen, Wasesjen, dan seluruh jajarannya yang selama ini sudah menfasilitasi kegiatan Komite I. Tanpa dukungan dari jajaran kesekretariatan, kami tidak mungkin bisa maksimal melakukan tugas-tugas konstitusional sebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah Indonesia. Untuk itu, sekali lagi saya mohon maaf yang sebesar besarnya atas pribadi kalau ada pergaulan kita selama ini yang tidak pada tempatnya. Salah mohon dimaafkan. Mudah-mudahan kita semua selalu dalam lindungan dan kasih saying-Nya. Saya ingin mengatakan pada forum yang terakhir kali ini, tentu kepada teman-teman yang terpilih kami berharap perjuangan yang sudah dimulai sepuluh tahun dari periode pertama dan kedua untuk terus lanjutkan. Mana yang baik diteruskan, mana yang kurang baik diperbaiki, itu harapan kami. Kemudian yang kedua, bagi teman-teman yang tidak terpilih termasuk saya sendiri, sebagai politisi sejati itu adalah menerima kekalahan dengan kesabaran, menerima kekalahan dengan kehormatan. Itulah tempat yang hakiki yang sesungguhnya sebagai politisi. jangan pernah merasa keder, jangan pernah merasa kecil hati, perjuangan ke depan masih panjang. Demikian yang dapat saya sampaikan.

(15)

Wabillahi taufik walhidayah, wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Selamat siang.

Salam sejahtera untuk kita semua.

Om shanty shanty shanty om.

PEMBICARA : Drs. PAULUS YOHANES SUMINO, MM. (PAPUA)

Mohon interupsi sebentar, Pak Ketua. Sebelum Pak Ketua turun, saya mohon interupsi sebentar. Ada hal yang sangat mendesak kemarin, Pak, tentang otonomi khusus Papua. Memang ini belum sempat diproses secara standar di dalam tata tertib Komite I, tetapi Komite I dengan amanat juga daripada pimpinan telah mengerjakan itu. Oleh karena itu, kami mohon Pak Ketua juga menyinggung ini dan kemudian men-take over-kan kembali kepada generasi berikutnya karena kita memang, ,kita sudah menyusun DIM kemarin kita sudah menyerahkan DIM di Baleg, Pak Ketua. Oleh karena itu, mohon ini pekerjaan kita juga walaupun belum dapat mekanisme lengkap, standar belum sesuai dengan tata tertib, tetapi kita sudah kerjakan karena kecintaan kita kepada negara ini, kecintaan kita kepada integritas Papua di dalam NKRI.

Terima kasih.

PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI) Terima kasih kepada Ketua Komite I.

Saudara Alirman Sori, saya tahu betul bagaimana beliau berkerja keras karena kami satu daerah pemilihan. Ini memang tanggung jawab yang penuh sehingga barangkali mungkin ada tugas yang lain nanti setelah ini yang bisa ditempatkan buat Pak Alirman Sori ini, seorang pekerja keras ya dan saya merasa terbantu betul.

Baik, teman-teman sekalian.

PEMBICARA : AIDA ZULAIKA NASUTION ISMETH, SE., MM. (KEPULAUAN RIAU)

Pimpinan, boleh sedikit?

PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI) Silakan, Ibu.

PEMBICARA : AIDA ZULAIKA NASUTION ISMETH, SE., MM. (KEPULAUAN RIAU)

Saya ingin menambahkan sedikit apa yang disampaikan Pak Paulus. Kalau boleh mohon pesan kami kepada nanti Bapak-bapak sekalian supaya Papua ini betul-betul lebih diperhatikan. Karena, berdasarkan kunjungan kemarin, kami melihat 69 tahun merdeka apakah Papua akan demikian. Hati kami menangis melihat keadaannya. Jadi, itu pesan kami sebagai neli.

Terima kasih.

(16)

Baik. Saya putuskan ini dulu, nanti saya akan mengomentari tadi apa yang disampaikan Pak Paulus supaya waktu kita bisa berjalan dengan baik.

Pertama, ada beberapa keputusan yang harus kita putuskan. Pertama, setelah kita dapat mendengarkan laporan dari Pimpinan Komite I tadi, untuk kita dimintakan persetujuannya. Sebaiknya ini saya baca semua atau satu persatu? Satu persatu saja yak arena berbeda-beda. Baik, apakah kita dalam Sidang Paripurna ini dapat menyetujui Rancangan Undang-Undang usul DPD RI tentang Pengelolaan Terpadu Kawasan Megapolitan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, dan Cianjur atau yang lebih dikenal dengan Jabodetabekjur? Setuju.

Yang kedua, apakah kita dapat menyetujui hasil pengawasan DPD RI atas pelaksanaan UU No. 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik? Setuju? Baik.

Yang ketiga, dapatkah kita menyetujui hasil pengawasan DPD RI atas sinkronisasi pelaksanaan UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang dengan Undang-Undang No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan dan UU No. 32 Tahun 2009 tentang Lingkungan Hidup? Setuju?

Yang keempat, dapatkah kita menyetujui pandangan dari DPD RI terhadap rancangan Undang-Undang tentang pembentukan Kabupaten Mimika Barat di Provinsi Papua? Setuju?

Kok, di sana belum? Setuju ya?

Yang kelima, dapatkah kita menyetujui pandangan DPD RI terhadap Rancangan Undang-Undang tentang pembentukan Kabupaten Luwuk Tengah di Provinsi Sulawesi Selatan?

Saya harus lihat dulu daerahnya kan? Yang terakhir dapatkah kita menyetujui pandangan dari Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia terhadap Rancangan Undang-Undang tentang pembentukan Kota Limbah Baliem di Provinsi Papua? setuju?

Baik, tepuk tangan buat kita semua.

KETOK 2X KETOK 2X KETOK 2X KETOK 2X KETOK 2X KETOK 2X

(17)

Tadi Pak Paulus karena memang Inpres, Surpres dari presiden itu sampai di tangan pimpinan itu tanggal 19 September. Jadi, pas saya terima itu langsung saya bicara dengan Pak Paulus untuk disegerakan, tetapi berhubung mekanismenya belum memenuhi persyaratan yang kita lakukan sehingga menurut saya ini merupakan menjadi agenda prioritas RUU Otonomi Khusus ini karena kita yakin dan percaya melalui perubahan Undang-Undang Otonomi Khusus yang lebih komprehensif tentu pelaksanaan pembangunan di Papua ini bisa kita akan percepat. Jadi, ini sebagai catatan teman-teman, ya Pak Sesjen jadikan ini prioritas untuk dilaksanakan dalam periode berikutnya. Saya rasa teman-teman dari Papua sepakat untuk itu ya dan masih ada lanjutan perjuangan ini.

Baik, tanpa mengurangi waktu yang lain, saya ingin melanjutkan ini karena masih banyak hal yang harus kita selesaikan, yaitu kami persilakan kepada Pimpinan Komite II untuk menyampaikan laporan perkembangan pelaksanaan tugasnya. Kepada Pak Bambang Susilo Yudhoyo, Yudhoyo-nya tidak ada ini. Silakan, Pak Bambang.

PEMBICARA : Ir. H. BAMBANG SUSILO, M.M. (KETUA KOMITE II)

Bismillahirrahmanirrahim, assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Salam sejahtera untuk kita semua.

Om swastyastu.

Yang terhormat Pimpinan DPD RI, Pimpinan Alat Kelengkapan DPD RI, Anggota DPD RI, yang saya hormati jajaran Sekretariat Jenderal DPD RI, rekan-rekan media, dan rekan-rekan Anggota DPD RI tahun 2014 – 2019 yang telah hadir, selamat datang, dan yang saya hormati rekan-rekan media yang saya banggakan. Pertama-tama, marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan nikmat dan karunia-Nya kepada kita semua sehingga paripurna DPD yang ke-19 hari ini dalam keadaan sehat walafiat. Pada kesempatan yang berbahagia ini, perkenalkan saya sebagai Ketua Komite II DPD RI yang membidangi Sumber Daya Alam dan Perekonomian melaporkan pelaksanaan tugas Komite II pada Masa Sidang IV 2013 – 2014 sekaligus penutupan keanggotaan DPD RI 2009 – 2014.

Pimpinan rekan-rekan senator dan hadirin sekalian yang saya banggakan, perlu kami sampaikan bahwa pada Sidang Paripurna yang mulia ini, Komite II meminta pengesahan terhadap: pertama, RUU usul inisiatif: a) RUU tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal; b) RUU tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan. Kedua, pandangan dan pendapat terhadap RUU, antara lain RUU tentang Pertembakauan, RUU tentang Konservasi Tanah dan Air, dan RUU tentang Perkebunan. Ketiga, pengawasan mohon juga dimintakan pengesahan pada Paripurna ke-19 pada siang hari ini, yaitu pengawasan atas pelaksanaan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007 tentang Lalu Lintas Angkutan Jalan.

Pimpinan dan rekan-rekan hadirin yang saya banggakan, perlu juga kami laporkan terkait undangan Duta Besar Indonesia di Republik Rakyat Tiongkok. Komite II DPD RI telah diundang khusus dalam rangka FGD di Universitas Brawijaya pada tanggal 25 September beberapa hari yang lalu. Oleh sebab itu, ini merupakan suatu momen yang sangat penting untuk melanjutkan perjuangan-perjuangan atau kerja sama antara Republik Rakyat Tiongkok dengan pemerintah Indonesia pada masa-masa akan datang, khususnya daerah yang kita cintai bersama.

Pimpinan DPD RI, pimpinan alat kelengkapan DPD RI, Anggota DPD RI, sekretariat jendral DPD RI serta rekan-rekan media dan hadirin yang saya banggakan, hari ini sungguh hari yang sangat bersejarah bagi DPD RI karena perjuangan legislasi DPD RI telah diakui dan disahkan oleh DPR RI produk Undang-Undang dari DPD RI yang telah disahkan dalam Sidang Paripurna tanggal 29 September 2014 pada kemarin malam, yaitu RUU Kelautan

(18)

menjadi Undang-Undang Kelautan. Perlu kami sampaikan penyusunan RUU Kelautan sempat mengalami pasang surut layaknya gelombang di laut. RUU Kelautan ini sudah digulirkan sejak Presiden Abdurrahman Wahid sebagai inisiatif pemerintah. Selanjutnya pada tanggal 13 Maret 2013, DPD RI menyampaikan usul inisiatif RUU Kelautan ke DPR RI, namun inisiatif ini sempat terhenti karena putusan Mahkamah Konstitusi No. 92/PPUU-10/2012 yang menetapkan bahwa DPD RI dalam mengajukan Rancangan Undang-Undang. Akhirnya, pada tanggal 17 Desember 2013 DPR RI menetapkan RUU tentang Kelautan sebagai inisiatif DPD RI masuk dalam Prolegnas prioritas tahun 2014. Dengan disahkannya Rancangan Undang-Undang tentang Kelautan menjadi Undang-Undang tentang Kelautan, maka tugas lebih lanjut pemerintah adalah melakukan sosialisasi serta penyelesaian peraturan perundangan yang diamanatkan sehingga Undang-Undang ini dapat implementasikan dengan baik. Pimpinan, para hadirin sekalian yang saya muliakan, dengan dibahas bersama berdasarkan amanat keputusan Mahkamah Konstitusi Nomor 92 dan Undang-Undang Dasar 45 Pasal 22d Ayat (1) dan (2), ini merupakan suatu program atau peristiwa sejarah bagi parlemen di Indonesia karena DPD RI, DPR RI, dan pemerintah membahas bersama semua hasil daripada keputusan MK itu dengan baik dan lancar.

Pimpinan rekan-rekan Sidang Paripurna ke-19 yang saya hormati, dengan disahkannya RUU Kelautan menjadi Undang-Undang Kelautan, saya atas nama Komite II DPD RI menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya. Pertama, kepada Pimpinan DPR RI dan seluruh Anggota DPR RI, kedua Pimpinan DPD RI dan seluruh Anggota DPD RI, ketiga Pimpinan Komisi IV beserta Anggota Komisi IV, kelima Ketua Panja RUU Kelautan Komisi IV, yaitu Bapak Firman Subagyo S.E., M.H., kelima Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Luar Negeri, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Pertahanan dan Keamanan, serta Kementerian Hukum dan HAM. Saya ucapkan juga terima kasih kepada Sekretariat Jenderal DPD RI dan Sekretariat Komite II DPD RI, Sekretariat Jenderal DPR RI serta Sekretariat Komisi IV DPR RI, serta pihak-pihak yang telah berkontribusi membahas dan menyelesaikan Rancangan Undang-Undang tentang Kelautan menjadi Undang-Undang Kelautan sebagai amanah daripada deklarasi Djuanda 1953 dan UNCLOS 1982.

Pimpinan DPD RI, Pimpinan Alat Kelengkapan DPD RI, Anggota DPD RI, Sekretariat Jenderal DPD RI, rekan media dan hadirin sekalian yang sangat berbahagia, sebelum mengakhiri laporan ini, sekali lagi kami memohon kiranya pada Sidang Paripurna Yang Mulia ini dapat mengesahkan RUU inisiatif pandangan dan pendapat dan pengawasan terhadap pelaksanaan Undang-Undang.

Demikian laporan pengembangan pelaksanaan tugas Komite II pada Paripurna ke-19 penutupan Masa Sidang ke-4 Tahun Sidang 2014 sekaligus penutupan keanggotaan DPD RI 2019 – 2014. Sebelum kami tutup laporan tugas Komite II pada Tahun Sidang 2013 – 2014, saya laporkan kepada Pimpinan dan rekan-rekan Senator Masa Sidang 2013 – 2014, RUU Kelautan yang telah disahkan tadi malam menjadi Undang-Undang Kelautan satu-satunya DPD RI di konsideran Undang-Undang Kelautan sudah masuk di konsideran. Mengingat ini baru terjadi di sejarah legislasi mulai DPD RI berdiri 2004 – 2014, ini luar biasa. Kita kasih

aplause untuk Komite II dan DPD RI. Ini semua adalah kado Dirgahayu DPD RI yang ke-10.

Demikian mohon atas izin Pimpinan, perkenankan kami bersama Ketua Timja RUU Kelautan dan Sekretaris Timja Kelautan dan Anggota Komite II untuk menyerahkan RUU Kelautan kepada Pimpinan yang kita banggakan bersama.

Akhirul kalam, wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Salam sejahtera untuk untuk kita semua.

Om shanty shanty shanty om.

(19)

PIMPINAN SIDANG : Dr. LAODE IDA (WAKIL KETUA DPD RI)

Terima kasih kepada Pimpinan dan rekan-rekan Senator dari Komite II. Ada sejumlah keputusan, rancangan keputusan yang harus kita ambil dari Komite II. Saya mintakan persetujuan rekan-rekan di dalam Sidang Paripurna ini satu-persatu.

RancanganUndang-Undang usul DPD RI tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal, setuju?

Rancangan Undang-Undang usul DPD RI tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan, setuju?

Pandangan dan pendapat DPD RI terhadap Rancangan Undang-Undang tentang Pertembakauan, setuju?

Dimintai keras oleh Ibu Ratu. Pandangan dan pendapat DPD RI tentang Rancangan Undang-Undang tentang Konservasi Tanah dan Air, setuju?

Pandangan dan pendapat DPD RI terhadap Rancangan Undang-Undang tentang Perkebunan, setuju?

Hasil pengawasan DPD RI atas pelaksanaan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, setuju?

Terima kasih kepada Pimpinan dan rekan-rekan Komite II yang telah menyelesaikan tugas di akhir Masa Sidang periode 2009 – 2014. Selanjutnya, kami persilakan kepada perwakilan dari Komite III untuk menyampaikan laporannya.

PEMBICARA : Dra. Hj. ELVIANA, M.Si. (KETUA KOMITE III)

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Salam sejahtera untuk kita semua.

KETOK 2X KETOK 2X KETOK 2X KETOK 2X KETOK 2X KETOK 2X

(20)

Yang terhormat Bapak-Ibu Pimpinan DPD RI, yang terhormat Bapak-Ibu Anggota DPD RI, dan hadir juga yang terhormat Bapak-Ibu Anggota DPD RI periode 2014 – 2019, kemudian yang kami hormati juga Bapak Sesjen serta jajarannya. Pada Sidang Paripurna yang mulia ini, perkenankan kami menyampaikan laporan perkembangan tugas kami di Komite III DPD RI pada masa sidang terakhir Tahun 2013 – 2014 dan masa terakhir dalam keanggotaan kami periode 2009 – 2014.

Bapak-Ibu Anggota DPD RI yang kami hormati, ada empat hal yang ingin kami laporkan yang kami kerjakan selama masa sidang terakhir ini. Pertama, Komite III DPD RI telah menyelesaikan penyusunan Undang-Undang inisiatif tentang Pengetahuan Tradisional dan Ekspresi Budaya Tradisional. Kemudian, kami sudah melakukan pengawasan atas pelaksanaan Undang-Undang No. 39 Tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di luar negeri. Kami Komite III DPD RI memberikan catatan khusus tentang poin kedua ini di mana pada dasarnya permasalahan TKI itu tidak hanya didominasi oleh persoalan-persoalan yang timbul di negera-negara tujuan, melainkan 70% berawal dari persoalan yang terjadi dalam proses pengiriman dari luar negeri. Di antaranya, persoalan lainnya penempatan TKI di luar negeri masih dilakukan pada negara yang tidak memiliki

MoU dengan Indonesia. Ini jelas-jelas melanggar Undang-Undang tentang Tenaga Kerja.

Kemudian, tidak ada pelaporan dari penyalur tenaga kerja kepada perwakilan kita di luar negeri. Di samping, perlakuan-perlakuan yang merugikan lainnya yang dialami oleh para TKI kita. DPD sudah mengambil peran, di antaranya sudah mengundang para kepala daerah yang menyalurkan tenaga kerja dan kita sudah meminta agar kepala daerah yang paling banyak mengirim tenaga kerja, seperti NTB, NTT, dan sebagian besar Jawa untuk berkoordinasi dengan para penyalur sambil menunggu revisi Undang-Undang tentang Ketenagakerjaan ini. Kemudian, Bapak-Ibu, itu kegiatan ketiga yang kami lakukan adalah pengawasan atas pelaksanaan pasal Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional. Dalam masa sidang tahun 2013 yang lalu, Komite III dalam forum yang resmi ini sudah mengatakan menolak pelaksanaan kurikulum 2013 pada tahun 2013. Oleh mitra kerja kami Kementerian Agama, hal ini diikuti dengan menunda satu tahun. Jadi, di Kementerian Agama kurikulum 2013 itu baru dilaksanakan tahun 2014. Persoalan yang kami temui, Bapak-Ibu, pertama tidak ada tanggapan apa pun dari Kementerian Pendidikan Nasional terhadap rekomendasi yang sudah dibacakan resmi oleh Komite III DPD RI sebagai mitra kerjanya yang kami sampaikan dalam forum yang terhormat ini sehingga kurikulum 2013 tetap jalan dan persoalan-persoalan bermunculan di daerah. Di antaranya, 70% dari guru belum mengikuti sosialisasi tentang kurikulum 2013, yang kedua distribusi buku bermasalah di seluruh provinsi. Mungkin barangkali DKI pengecualian. Berbagai cara oleh para kepala sekolah diambil inisiatif, di antaranya menggunakan dana BOS untuk memperbanyak buku ajar. Tentu saja, Bapak-Ibu, ini berpotensi untuk menjadi temuan karena objek yang sama, buku pelajaran dianggarkan atau dibiayai oleh dua objek mata anggaran yang berbeda. Pertama, mata anggaran pengadaan buku di pusat, yang kedua oleh dana BOS yang dikucurkan ke daerah yang sebenarnya tidak ada peruntukannya untuk memperbanyak buku ajar kurikulum 2013. Kami titipkan persoalan ini kepada Bapak-Ibu yang masih melanjutkan masa bakti di Komite III DPD RI dan kepada Bapak-Ibu yang akan bergabung di Komite III DPD RI. Kemudian, Bapak-Ibu, hasil pengawasan berikutnya adalah tentang pelaksanaan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji. Bapak-Ibu, rombongan pertama kemarin melaksanakan kegiatan pengawasan pra haji. Satu usulan kita yang dicatat oleh kadaker Mekah dan Madinah adalah dan itu diumumkan di media bahwa Komite III-lah yang mengusulkan supaya semua tenaga kerja, maaf, semua tenaga pengawas haji yang bekerja di Arab Saudi pada tahun haji ini wajib memakai slempang atau jaket pengenal sebagai tenaga pengawas haji Indonesia sehingga kalau ada jemaah kita yang menemukan masalah di lapangan,

(21)

mereka dengan mudah mengenal tenaga yang berasal dari Indonesia. Di samping itu, di Masjidil Haram dan di Masjid Nabawi kita ikut bangga karena berseliweran nama-nama Indonesia yang di pasang dalam jaket para jamaah yang sekaligus bertugas sebagai pengawas haji.

Bapak-Ibu Anggota DPD RI yang kami hormati, sidang dewan yang kami hormati, berdasarkan laporan yang telah kami sampaikan di atas melalui Sidang Paripurna yang mulia ini, Komite III DPD RI meminta kepada pimpinan dan seluruh anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia untuk mengesahkan materi yang sudah kami sampaikan. Pertama Rancangan Undang-Undang tentang Pengetahuan Tradisional dan Ekspresi Budaya Tradisional sebagai RUU inisiatif DPD RI. Selanjutnya, pengawasan atas pelaksanaan Undang-Undang No. 39 Tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri. Dan, pengawasan atas pelaksanaan Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, khususnya yang terkait dengan pelaksanaan kurikulum 2013, untuk dapat diputuskan dalam Sidang Paripurna DPD RI tanggal 30 September 2014 ini.

Akhirnya, perkenankan kami mengucapkan terima kasih kepada yang terhormat pimpinan. Kami Komite III menyampaikan khusus ucapan terima kasih kepada Ibu Ratu Hemas, Bapak Irman Gusman, dan Bapak Laode Ida yang sudah memimpin kami sehingga kami bisa melaksanakan tugas-tugas kami dengan lancar. Kami bangga dengan Bapak-Ibu. Mungkin nama Ibu lebih top dari nama DPD ini sendiri. Semoga karya-karya Bapak-Ibu dalam membina DPD ke depan semakin dihargai oleh rakyat Indonesia dan Bapak Bapak-Ibu berada dalam keadaan sehat walafiat, aamiin.

Kemudian, kami juga mengucapkan terima kasih kepada Bapak Sesjen dan jajarannya. Kami mohon maaf selama dalam melaksanakan tugas kami banyak melaksanakan kesalahan. Kami yakin Bapak-bapak dan Ibu ke depan sudah bisa merancang sedemikian rupa grand

design dari model kerja DPD ke depan sehingga sekali lagi semua rekomendasi yang kami

tinggalkan ini dapat ditindaklanjuti.

Bapak-Ibu, demikian yang bisa saya sampaikan. Izinkan saya juga atas nama kami Anggota DPD Komite III DPD RI yang tidak lagi melanjutkan pengabdian di DPD RI ini, kami mohon diri. Kami titipkan DPD ini kepada Bapak-Ibu. Kami bangga pernah menjadi Anggota DPD. Bapak-Ibu yang saya hormati, sekali lagi kami bangga pernah menjadi Anggota DPD RI. Insya Allah, besok saya akan di lantik menjadi Anggota DPR. Saya sudah mendaftarkan diri di partai saya masuk menjadi Anggota Baleg. Mudah-mudahan ke depan kita bisa bekerja sama dengan maksimal lagi.

Demikian, Bapak-Ibu, saya tutup apa yang kami sampaikan ini dengan sebuah pantun, “kalau ada jarum yang patah jangan disimpan di lemari kaca, kalau ada kami Anggota Komite III DPD RI yang salah jangan dilaporkan kami ke KPK”. Mohon maaf.

Wallahul muwaffiq ila aqwamit thariq, wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

PIMPINAN SIDANG : Dr. LAODE IDA (WAKIL KETUA DPD RI)

Terima kasih, Bu Elvi. Beliau ini sebetulnya air mata kemenangan. Pindah tempat bolak-balik saja beliau dari DPR ke DPD dan dari DPD ke DPR lagi. Tadi Komite III tadi kita mendengar bersama putusan yang dimintakan pada kita pada siang hari ini, ada tiga. Yang pertama, RUU usul DPD RI tentang Pengetahuan Tradisional dan Ekspresi Budaya Tradisional, setuju?

Referensi

Dokumen terkait

bahwa dalam rangka percepatan pelayanan perizinan dan guna menindaklanjuti Rencana Aksi Pemberantasan Koru psi Terintegrasi Tahun 2019- 2020 dari Komisi Pemberantasan

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta Hak Bebas Royalti Non Ekslusif (Non-Exclusive

Meskipun penelitian mengenai kadar timbal dalam darah pada petugas SPBU telah diteliti oleh beberapa peneliti sebelumnya, namun penelitian ini berfokus pada dampak

Adapun tujuan penelitian ini dilakukan adalah untuk mengisolasi gingerol pada rimpang jahe merah secara optimum dan mengidentifikasinya.Metode penelitian yang digunakan meliputi

terkontaminasi dengan batran pencemar yang berasal dari limbah rumah tangga, limbah industri, sisa-sisa pupuk atau pestisida dari daerah pertanian, limbah rumatr sakit,

Beberapa parameter tersebut diperhitungkan untuk menetapkan indeks toleransi tanaman terhadap pencemaran udara yang dinyatakan oleh Singh, Rao, Agrawal, Pandey and

PEMBERIAN EKSTRAK HULBAH SECARA ORAL MENURUNKAN PENYERAPAN TULANG TIKUS PASCA OVARIEKTOMI YANG DITANDAI DENGAN.. PENURUNAN KADAR

Pada sub bab ini, akan menjelaskan mengenai analisis data hasil observasi dengan menerapkan model pembelajaran Make a Match berbantuan media gambar yang terdiri dari