BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.3 Smart City (Kota Cerdas)
Smart City atau Kota Cerdas merupakan kota impian bagi kota-kota besar di dunia. Smart city dapat didefinisikan sebagai kota yang berfungsi secara maksimal dalam mengelola berbagai sumber daya untuk menjawab tantangan atau permasalahan yang ada melalui pengembangan teknologi sebagai fondasi utamanya. Bukan hanya sebuah nama, smart city menjadi salah satu langkah dalam memajukan suatu kota dengan pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Hal demikian seperti pernyataan Endra (2015:4) bahwa:
”Smart city biasa digunakan untuk mempresentasikan kemampuan sebuah kota menyediakan layanan terhadap individu atau masyarakat untuk bereksplorasi dalam dunia maya dengan kecepatan optimal dalam menyediakan informasi yang dibutuhkan tentang kota tersebut dengan struktur, infrastruktur, dan suprastruktur yang terdiri atas:
1. Struktur: pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) pelaksana (people) dan penerima manfaat smart city, mempersiapkan sumber daya anggaran, dan mengorganisasi sumber daya;
2. Infrastruktur: pembangunan infrastruktur pendukung smart city yang meliputi infrastruktur fisik, infrastruktur digital atau TIK, dan infrastruktur sosial untuk kepentingan umum;
3. Suprastruktur: penyiapan kebijakan atau peraturan daerah, kelembagaan, dan tata laksana pelaksanaan pembangunan smart city.”
Pernyataan Endra menjelaskan bahwa smart city merupakan sebuah kota yang menjadikan kecanggihan teknologi sebagai penopang dalam menjawab problematika di perkotaan dan merespon setiap permasalahan yang disampaikan masyarakat. Smart city tidak hanya berbicara tentang kecanggihan teknologi.
Lebih dari itu, teknologi pada smart city digunakan untuk mengintegrasikan seluruh infrastruktur dan pelayanan dari pemerintah kepada masyarakat.
Selanjutnya, Boyd (dalam Hasibuan dan Sulaiman, 2019:128) juga menyatakan:
“Smart City adalah sebuah pendekatan yang luas, terintegrasi dalam meningkatkan efisiensi pengoperasian sebuah kota, meningkatkan
kualitas hidup penduduknya, dan menumbuhkan ekonomi daerahnya.
Smart city menggunakan ICT secara pintar dan efisien dalam menggunakan berbagai sumber daya, menghasilkan penghematan biaya dan energi, meningkatkan pelayanan dan kualitas hidup, serta mengurangi jejak lingkungan.”
Boyd menjelaskan bahwa dalam smart city terdapat sistem yang terintegrasi untuk mengatur pembangunan maupun pengelolaan kota dalam mewujudkan kota yang cerdas. Melalui pengembangan e-Government dalam smart city, berbagai macam data dan informasi yang berada di setiap tempat dapat diakses menjadi satu kesatuan, dianalisis dengan aplikasi/layanan cerdas, lalu disajikan sesuai kebutuhan pengguna melalui aplikasi/layanan. Dengan kata lain, smart city menjadikan kota lebih layak huni dan mampu menghubungkan berbagai fasilitas sehingga saling terintegrasi.
2.3.1 Dimensi-dimensi Smart City
Pada intinya, smart city adalah kota cerdas yang menghubungkan aspek infrastruktur, manusia, teknologi, ekonomi, pemerintahan, lingkungan, dan mobilitas. Melalui smart city maka semua aspek tersebut saling berintegrasi untuk mewujudkan kawasan yang ramah lingkungan dan layak huni. Menurut Sukmatama dan Ashadi (2019:2-4), dalam pembangunan dan pengelolaan kota dengan konsep smart city terdapat enam dimensi yang perlu diperhatikan, yaitu:
1. Smart Economy (Ekonomi Cerdas)
Dimensi smart economy menggambarkan bahwa kota cerdas memiliki tingkat perekonomian yang baik diikuti dengan pemanfaatan sumber daya dan potensi secara efektif dan efisien. Smart economy ditandai dengan pertumbuhan ekonomi sebagai indikator untuk mengukur tingkat pembangunan di suatu daerah
pada jangka waktu tertentu sehingga dapat meningkatkan pendapatan maupun kesejahteraan masyarakat. Smart economy dikenal dengan adanya inovasi melalui penggunaan uang elektronik dan kemudahan layanan bertransaksi secara online.
2. Smart Mobility (Mobilitas Cerdas)
Dalam dimensi smart mobility, kota cerdas memiliki kemampuan untuk mengembangkan transportasi dan pembangunan infrastruktur sebagai bentuk penguatan sistem perencanaan infrastruktur kota. Dengan adanya penguatan sistem perencanaan infrastruktur kota dan didukung oleh transportasi yang memadai maka semakin memudahkan masyarakat dalam menjangkau tempat tujuan dan bermobilisasi.
3. Smart Environment (Lingkungan Cerdas)
Dalam dimensi smart environment, kota cerdas memiliki sumber daya yang dimanfaatkan untuk mewujudkan lingkungan yang berkelanjutan.
Lingkungan yang dimaksud ialah lingkungan yang dapat memberikan kenyamanan, keberlanjutan sumber daya, dan keindahan fisik maupun nonfisik, Lingkungan yang cerdas juga merupakan lingkungan yang bersih dan tertata rapi dengan jumlah Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang idealnya terdapat paling sedikit 20% dari luas wilayah kota untuk konsumsi publik
4. Smart People (Masyarakat Cerdas)
Pada dimensi smart people, kota cerdas memiliki masyarakat yang kreatif dan kaya akan modal sosial. Modal sosial ini dapat berupa kepercayaan, gotong royong, toleransi, penghargaan, saling memberi, dan saling menerima maupun berkolaborasi dalam mewujudkan rasa bertanggung jawab terhadap
kepentingan publik. Smart people dapat ditandai dengan kapasitas yang dimiliki manusia untuk mendayagunakan teknologi dan terdapat partisipasi publik yang tinggi. Melalui dimensi ini diharapkan dapat menurunkan tingkat kejahatan dan meningkatkan kepedulian satu sama lain.
5. Smart Living (Hidup Cerdas atau Kualitas Hidup)
Selanjutnya, terdapat dimensi smart living. Pada dimensi ini, masyarakat memiliki kualitas hidup yang terukur. Kualitas hidup ini bersifat dinamis sehingga dapat diartikan bahwa masyarakat selalu berusaha memperbaiki dirinya menuju versi paling baik. Maka dari itu, kualitas pendidikan dan peningkatan kemampuan diri menjadi jaminan atas kualitas hidup dari masyarakat yang bersangkutan.
Dimensi smart living juga ditandai dengan dibangunnya fasilitas pendidikan dan budaya seperti tempat ibadah, galeri seni, museum, sekolah, maupun perpustakaan.
6. Smart Governance (Tata Kelola Pemerintahan yang Cerdas)
Terakhir, pada penerapan smart city terdapat dimensi smart governance, Pada dimensi ini, pemerintah harus bersifat transparan sehingga dapat terwujud transparansi data dan kemudahan akses masyarakat menuju situs pemerintahan maupun fasilitas online yang tersedia. Smart governance juga ditandai dengan kebijakan-kebijakan yang berpihak kepada masyarakat dan terbentuknya administrasi yang saling terintegrasi. Melalui dimensi ini, idealnya pemerintah dapat memberikan pelayanan kepada masyarakat dengan mudah.
Keenam dimensi yang telah dijelaskan mendeskripsikan dengan jelas fondasi-fondasi dari smart city. Dibangunnya situs pemerintah seperti
aplikasi/layanan merupakan contoh realisasi dari smart city, salah satunya ialah Layanan Pengaduan Medan Rumah Kita (MRK). Melalui Layanan Pengaduan Medan Rumah Kita (MRK) diharapkan dapat mewujudkan konsep smart city, khususnya smart governance sehingga dapat menyelenggarakan pelayanan publik dan administrasi pemerintahan yang ideal dengan menekankan pada peran aktif masyarakat, transparansi publik, dan aktivitas pemerintahan yang efisien.