BAB III KONSEP DASAR NEGARA
C. Soekarno dan Perumusan Dasar Negara
Pelajaran dan pengalaman dari sejarah dimasa lampau, serta realitas kondisi sosial masyarakat Indonesia, hampir tidak lepas dari perhatian dan pertimbangan Soekarno. Sehingga rumusan Pancasila, merupakan refleksi dari kepribadian dirinya. Salah satu kekuatan Pancasila yang tak ternilai adalah berakar dalam dinamika kebangsaan Indonesia.68 Maka, secara tegas Soekarno menawarkan Pancasila yang
dinilainya mampu menjadi ruang konsolidasi nasional yang terdiri dari berbagai suku, ras, agama dan kompleksitas etnik dan budaya.
Bukan saja persatuan secara geografis yang menjadi perhatian , tetapi ia juga mengupayakan perdamaian di antara berbagai kelompok keagamaan di Indonesia dan keserasian ideologis. Soekarno tidak merasa yakin pada masa pascarevolusi untuk
67
Dikutif dari Badri Yatim, Soekarno, Islam, dan Nasionalisme,(Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999), h. 95.
68
Ahmad Syafi’I Ma’arif, Islam dan Pancasila; Pertemuan Ideologi yang Menguntungkan, dalam kata pengantar M. Abdul Karim, Menggali Muatan Pancasila dalam Perspektif Islam,
mencapai kosensus politik yang melebihi prinsip-prinsip dasar Pancasila. Menurut Soekarno, pemerintahan yang harus bisa mencerminkan kebersamaan yang harmonis antara aliran ideologi yang ada di Indonesia dan saling menghargai di antara para penganutnya. Seperti apa yang dikatakan Benedict Anderson dalam karyanya “The Idea of Power in Javanese Culture”, yang dikutif oleh Audrey R. Kahin dan George McT. Kahin, kekuasaan pemimpin bergantung pada “kemampuan untuk mengatakan perbedaan dan merangkul para pengikutnya”.69 Begitupun juga, sebuah pemerintahan
yang kuat dan efektif diperlukan untuk mengatasi dan merangkul aliran-aliran utama dalam negeri.
Menurut Soekarno, Pancasila memiliki dua landasan fundamental, yaitu landasan politik dan landasan etika. Konsep nasionalisme merupakan landasan dari politik, sementara prinsip Ketuhanan basis etikanya. Makanya tak heran Soekarno meletakan prinsip nasionalisme pada urutan pertama, selain prinsip internasionalisme atau perikemanusiaan, mufakat atau demokrasi, kesejahteraan sosial dan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Soekarno tidak menghendaki negara Indonesia berdasarkan agama, termasuk Islam. Walaupun demikian, bukan berarti ia mengebiri eksistensi ideologi yang yang berbasiskan pada ajaran-ajaran agama (Islam). Karena situasi dan kondisi ketika itulah yang mengharuskan Soekarno bersikap tegas dalam menegakan Pancasila. Hal
69
Audrey R. Kahin dan George McT. Kahin, Subversi Politik Luar Negeri: Menyingkap Keterlibatan CIA di Indonesia, cet II, (Jakarta: PT Temprint, 2001), h. 50.
ini juga pernah disampaikan, Letnan Jendral H. Soedirman, seorang Ketua Pendidikan Tinggi Dakwah Islam (PTDI), dalam tulisannya:
“karena keadaan situasi dan kondisi tanah air masih didalam mara bahaya, dimana sekutu sudah mengelilingi kita, akan mengembalikan kolonialisme Belanda/NICA untuk menjajah kembali negara kita…”.70
Itulah sebabnya segala kepentingan ideologi dan perdebatan-perdebatan prinsip-prinsip falsafah negara dikesampingkan lebih dahulu. Meskipun, jauh setelah UUD 18 Agustus 1945 ditetapkan, perdebatan tentang dasar negara dalam masa 1950 – 1955 terjadi di dewan konstituante, terutama ketika Soekarno menyampaikan pernyataan yang penuh kontraversi di Amuntai, Kalimantan Selatan, ia berkata:
“Negara yang kita susun dan yang kita ingini ialah negara nasional yang meliputi seluruh Indonesia, kalau kita dirikan negara berdasarkan Islam, maka banyak daerah-daerah yang penduduknya tidak beragama Islam akan melepaskan diri, misalnya Maluku, Bali, Flores, Timor, Kai, dan juga Irian Barat yang belum masuk wilayah Indonesia tidak akan mau ikut dalam Republik”.71
Dari pidatonya itu, Soekarno banyak mendapat kritik dari kalangan Islam. A. Dahlan Ranuwihardjo, Ketua Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam, salah satunya, yang kemudian mengirim surat kepada Soekarno selaku presiden pada tanggal 13 April 1953. Dalam surat tersebut ada tiga buah probleemstelling
(persoalan) yang dipertanyakan oleh Ranuwihardjo, satu diantaranya ialah mengenai hubungan antara ideologi Pancasila dan ideologi Islam.72 Untuk menjawab semua itu,
70
Anshari, Piagam Jakarta 22 Juni 1945, h. 65. 71
Anshari, Piagam Jakarta 22 Juni 1945, h. 68. 72
Lebih lengkap lihat, Soekarno, Negara Nasional dan Cita-Cita Islam, (kuliah umum Presiden Soekarno), (Jakarta: Pusat Data Indikator, 1999), h. 5-9.
Soekarno memaparkan melalui kuliah umum pada tanggal 7 Mei 1953 di Universitas Indonesia dengan mengutif pendapat Natsir, menurutnya:
“Tentang kedudukan Pancasila dan Islam, aku tidak bisa menyatakan lebih daripada itu dan mensitir (mengutif) Saudara Pemimpin Besar Masyumi, Mohd. Natsir. Di Pakistan, di Karachi, tatkala beliau mengadakan ceramah di hadapan Pakistan Institute for International Relation beliau mengatakan bahwa Pancasila dan Islam tidak bertentangan satu sama lain, bahkan sama satu sama lain”.73
Kemudian dari akhir pidatonya, Soekarno kembali mengutif pendapat Natsir:
“Pakistan is Moslem country. So is my country Indonesia. But though we recognize Islam to be the faith of the Indonesia people, we have not made an expressed mention of it in our Contitution. Nor have we excluded religion from our national life Indonesia has expressed its creed in the Pancasila, or the five principles, which have been adopted as the spiritual, moral, and ethical foundation of our nation and our state…”.74
(Pakistan adalah sebuah negeri muslim. Begitupun Indonesia. Walaupun kami mengakui Islam sebagai agama rakyat Indonesia, tapi kami tidak menyatakan hal itu secara tegas dalam konstitusi kami. Akan tetapi, kami tidak menafikan agama dari kehidupan nasional kami. Indonesia telah menyatakan keyakinanya yang tertuang dalam lima prinsip dasar Pancasila yang telah kami ambil sebagai dasar spiritual, moral dan etis bangsa…)
Berkaitan dengan persoalan pemisahan agama dari negara, maka menurutnya (Soekarno) bukan berarti ajaran Islam dikesampingkan, sebab rakyat dapat memper-juangkan ajaran Islam kedalam kebijakan negara melalui DPR. Oleh sebab itu, Soekarno meyakini demokrasi sebagai alternatif bentuk dari negara Indonesia. Sehingga negara yang menganut demokrasi, semua kelompok keagamaan dituntut menguasai parlemen, dengan begitu, menguasai lembaga berarti menguasai negara
73
Soekarno, Negara Nasional, h. 60. 74
dan pada akhirnya keinginan luhur para elit (tokoh Islam) dapat terlaksana. Hal ini seperti yang digambarkan Soekarno:
“Lagi pula, disesuatu negeri jang ada demokrasi jang ada perwakilan rakjat jang benar-benar mewakili rakjat, di negeri jang demikian itu, rakjatnja toch dapat memasukan segala matjam “keagamaan” kedalam tiap-tiap tindakan negara, kedalam tiap-tiap politik jang dilakukan oleh negara, walaupun disitu agama dipisahkan dari negara. Asal sebagian besar dari anggauta-anggauta parlemen politik agama, maka semua putusan-putusan parlemen itu politiknja politik Islam, maka tidak akan dapat berdjalanlah satu usul djuapun jang tidak bersifat Islam…”.75
Untuk lebih meyakinkan tentang konsepsi politiknya, Soekarno dengan semangat mengatakan:
“…Gerakanlah Tuan punja propaganda dikalangan rakjat Tuan itu dengan tjara jang sehaibat-haibatnya, supaya rakjat Tuan itu mengirim sebanjak mungkin wakil-wakil Islam dikalangan rakjat Tuan… dan badan-perwakilan itu akan dibandjiri dengan utusan-utusan jang politiknja Islam, hatinja Islam… Maka negara itu dengan sendirinja menjadilah bersifat negara Islam…”.76
Walaupun perhatian sesungguhnya terpusat pada keinginan terwujudnya suatu kesepakatan yang merangkul semua golongan yang ada ketika itu. Akan tetapi dalam kenyataannya Soekarno tidak menginginkan golongan Islam berada dalam posisi kuat (Islam sebagai dasar negara). Hal ini terlihat dari keterus-terangannya yang mengatakan:
“sebenarnya Indonesia bukanlah sebuah negara Islam”. “kita berkata, 90% daripada kita beragama Islam, tetapi lihatlah….berapa persen (umat Islam,
peny) memberikan suaranya kepada Islam…Bagi saya, hal itu adalah suatu
75
Soekarno, Dibawah Bendera Revolusi, (Djakarta: Gunung Agung, 1965), h. 407. 76
bukti bahwa Islam belum hidup sehidup-hidupnya di dalam kalangan rakyat”.77
Bagaimana pun kesimpulan Soekarno, nampaknya alasan yang cukup sehat dan rasional. Akan tetapi, pernyataannya merupakan suatu tantangan dan kritikan yang tajam bagi umat Islam itu sendiri, walau pada kenyataan bahwa sintesisnya (baca: Nasakom, 1926) bukanlah bersifat merangkul, tetapi jelas bersifat memihak. Dalam hal ini ialah kepentingannya sendiri.
77
BAB IV
NILAI-NILAI DASAR NEGARA DALAM PERSPEKTIF SOEKARNO
Sejak awal kelahirannya, Pancasila telah berfungsi sebagai kompromi politik atau “Payung Politik” yang cukup lebar untuk menaungi orientasi politik yang berbeda-beda. seperti yang dikatakan Alisjahbana, yang dikutif oleh Eka Darmaputra, mengatakan bahwa:
“…Pancasila adalah sebuah kompromi, sebuah kesepakatan pada saat yang kritis di dalam sejarah kita sebagai bangsa yang menuntut kita bekerja cepat dan efisien. Dan kita harus bersyukur karenanya, sebab sebagai kompromi Pancasila telah mampu menolong kita pada saat yang paling menentukan didalam sejarah kita”.78
Pancasila juga bagaikan mahluk yang arif dan bijaksana dalam memberi ruang kepada ideologi-ideologi untuk terlibat didalam proses dialogis politis antara satu dengan yang lainya. Hal ini menandakan bahwa segala pemikiran mempunyai ruang di dalam tubuh Pancasila. Dengan kata lain, bahwa Pancasila merupakan pilihan terbaik dari pilihan lainnya yang tersedia di tubuh bangsa Indonesia. la telah membuktikan mampu mempersatukan bangsa Indonesia dengan tetap berpegang pada kultur masa lalu yang sangat kaya dan beraneka-ragam, serta secara efektif telah mampu mengatasi masalah-masalah pokok yang dihadapi bangsa Indonesia. Bahkan Pancasila telah berhasil memberikan jalan kepada
78
Eka Darmaputra, Pancasila: Identitas dan Modernitas; Tinjauan Etis dan Budaya, (Jakarta: Gunung Mulia, 1997), h. 136.
bangsa, satu kerangka nasional dalam mewujudkan cita-cita bersama (baca: Nasional).
Setiap selompok aliran bisa menafsirkan sendiri-sendiri, namun demikian bukan berarti harus menghilangkan identitasnya. Dalam artian, penafsiran tunggal tidaklah mungkin, karena jika itu dilakukan, maka sudah pasti akan terjadi ketegangan dan konflik terulang kembali.
Atas dasar itulah, Soekarno sebagai penggali Pancasila memberikan sebuah rumusan diantara butir-butir yang terkandung dalamnya. Hal yang perlu digaris- bawahi mengenai susunan atau urutan Pancasila resmi, tidak sama dengan urutan yang dikemukakan dalam pidato Soekarno. Urutan tersebut baginya bukan hal yang prinsip, tetapi yang lebih utama ialah subtansi masing-masing sila.
F. Konsep Ketuhanan
Dalam Pancasila mengandung konsep Ketuhanan, seperti tergambar dari sila pertama, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, berasal dari kata Tuhan, Sang Pencipta segala sesuatu yang ada di alam raya ini. Yang Maha Esa berarti Maha Tunggal, tidak sekutu dan tidak ada yang setara dengan-Nya. Sila pertama ini merupakan karakteristik dari bangsa Indonesia itu sendiri, karena sejak dulu bangsa Indonesia beratus-ratus tahun lamanya sudah mengenal sang pencipta. Karena pada hakekatnya manusia adalah mahluk religius. Butir ini sebelumnya berada pada urutan kelima dalam pidato Soekarno. Dalam pidatonya ia mengatakan:
“Marilah kita menyusun Indonesia merdeka dengan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, akan tetapi bukan saja bangsa Indonesia ber-Tuhan , tetapi masing-masing orang Indonesia hendaknya bertuhan Tuhannya sendiri. Hendaknya tiap-tiap orang menyembah Tuhannya secara leluasa. Marilah kita amalkan, jalankan agama dengan cara berkeadabaan. Apakah cara yang berkeadabaan itu ? ialah percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan hormat menghormati satu sama lain”.79
Dalam kesempatan lain, Soekarno mengatakan:
“Nabi Muhammad saw., telah memberikan bukti yang cukup tentang
verdraagzaamhcid, tentang menghormati agama-agama lain. Nabi Isa pun telah menunjukan verdraagzaamhcid, itu ialah Ketuhanan yang berkebudayaan, Ketuhanan yang berbudi pekerti yang luhur, Ketuhanan yang hormat-menghormati satu sama lain”.80
Ia menginginkan seluruh bangsa Indonesia memiliki keyakinan (beragama). Dengan itu, bangsa akan hidup dalam keadaan harmonis, kondusif, toleransi dan saling bahu-membahu satu dengan yang lainnya. Maka tak salah jika Soekarno memasukan sila ini ke dalam Pancasila. Karena yang membuat Pancasila ini unik dan khas adalah sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Disinilah letak dari ruh Pancasila, yang menggambarkan dari kemajemukan keberagamaan di Indonesia. Oleh karena itu, bila menjalankan agamanya masing-masing dan toleransi dijunjung tinggi niscaya sila-sila lain dapat terwujud dengan baik.
Tentang keberagamaan masyarakat secara umum, melalui pendekatan sosiologis, Soekarno membentangkan tingkat keberagamaan masyarakat menjadi lima fase. Yaitu fase pertama, Tuhan manusia (polytheisme, peny) menurutnya Tuhan
79
Dikutif dari Cindy Adams, Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, cet. VII, (Jakarta: Ketut Masagung Corporation, 2001), h. 331.
80
Soekarno, Pancasila Azimat Revolusi: Nasakom, Pancasila, Manipol Usdek, Trisakti Tavip berdikari, (Ciputat: Totalitas, tanpa tahun), h. 50.
digambarkan, seperti “Tuhan guntur”, “Tuhan air sungai”, “Tuhan angin”. Manusia pada fase ini hanya sebatas merasakan apa yang terjadi pada fenomena alam. Melangkah fase kedua, manusia hidup dari peternakan (totonisme, peny), karena masyarakat ketika itu berpendapat ia dapat melangsungkan hidupnya disebabkan oleh binatang, yang telah memberi susu, daging dan lain sebagainya. Fase ketiga, manusia hidup dari pertanian. Masa ini pertanian merupakan, istilah Soekarno onzekere factor,
tergantung dari iklim. Masyarakat ini dapat dicirikan, ketika sudah menanam tanaman kemudian mereka (masyarakat) memohon dengan memberi sesaji. Inilah corak masyarakat agraris. Pada masa fase ini pula, “Tuhan” diwujudkan seperti manusia. Dalam ilmu pengetahuan, menurut Soekarno dinamakan anthropomorph81, yang berarti bentuk manusia.
Selanjutnya, Soekarno menggambarkan fase keempat, dalam fase ini masyarakat sudah mulai kreatif, mereka sudah dapat membuat jarum, sabit, bajak walaupun masih sangat primitif. Dengan keadaan seperti itu, ada kegalauan dalam diri masyarakat, dibalik semua ini siapa penentu dari alam ini, merekapun menemukan jawabnnya yaitu akal. Oleh karena akallah yang menjadi penentu hidup mereka. “Tuhan” di fase ini tidak lagi berwujud. Dan fase terakhir, fase kelima industrialisme, zamanpun sudah modern segala sesuatu untuk kebutuhan hidup terdapat alat-alat canggih, komunikasi jarak jauh tanpa harus bertemu orangnya, membuat petir sampai menundukan bulan. Apa yang tidak bisa dilakukan manusia
81
Soekarno, Filsafat Pancasila Menurut Bung Karno, (Yogyakarta: Media Perssindo, 2006), h. 137.
pada fase ini. Sehingga dalam fase ini seperti yang dikatakan Nietzsche “Tuhan telah mati”. Maka tak heran jika gambaran masyarakat yang dipaparkan Soekarno ini, “Tuhan ialah diri manusia itu sendiri”. Walaupun ia sendiri menolak pendapat ini.
Seperti yang digambarkan Soekarno di atas, sebelum manusia mengenal agama, mereka telah percaya bahwa diluar alam yang dapat dijangkau dengan perantaraan alat indranya, diyakini akan adanya kekuatan supranatural yang menguasai hidup alam semesta ini. Untuk dapat berkomunikasi dan mendekatkan diri kepada kekuatan tersebut diciptakanlah mitos-mitos.
Jika demikian tingkat keberagamaan masyarakat yang dibentangkan Soekarno, lalu bagaimana dengan keberagamaan Masyarakat Indonesia ? Menurutnya:
“…pada garis besarnya percaya kepada Tuhan, bahkan Tuhan yang gaib. Sebagian kecil yang telah hidup di dalam alam industrialisme,…tetapi itu bukan lagi corak daripada keseluruhan tingkat masyarakat kita. Tingkat masyarakat kita pada saat sekarang ini, terutama sekali ialah agraris, sebagian
nejverheid, dan baru melangkah ke alam industrialisme”.82
Tampaknya konsep ketuhanan yang dimaksud Soekarno bukanlah ketuhanan