KONSEP DASAR NEGARA
(STUDI ANALISIS TERHADAP PEMIKIRAN SOEKARNO)
SKRIPSI
Diajukan kepada Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh
gelar Sarjana Strata Satu (S1)
Oleh :
AJAT SUDRAJAT 203033202172
JURUSAN PEMIKIRAN POLITIK ISLAM
FAKULTAS USHULUDDIN DAN FILSAFAT
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
KONSEP DASAR NEGARA
(STUDI ANALISIS TERHADAP PEMIKIRAN SOEKARNO)
SKRIPSI
Diajukan kepada Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh
gelar Sarjana Strata Satu (S1)
Oleh :
AJAT SUDRAJAT 203033202172
Di bawah bimbingan :
Drs. Nawiruddin, M.A NIP. 150317965
JURUSAN PEMIKIRAN POLITIK ISLAM
FAKULTAS USHULUDDIN DAN FILSAFAT
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
Skripsi yang berjudul Konsep Dasar Negara (Studi Analisis Terhadap Pemikiran Soekarno), telah di ujikan dalam sidang munaqasyah Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, pada tanggal 28 Mei 2007. Skripsi ini telah
di terima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana program strata
satu ( S 1) pada jurusan Pemikiran Politik Islam.
Sidang munaqasyah
Jakarta, 28 Mei 2007
Ketua merangkap anggota Sekretaris merangkap anggota
Drs. Harun Rasyid, MA Suzanti Ikhlas, A.Md
NIP. 150 232 921 NIP. 150 286 874
Anggota,
Penguji I Penguji II
Dr. Sirajuddin Aly, MA Drs. Masri Mansoer, MA
NIP. 150 318 684 NIP. 150 224 493
Pembimbing,
Kata Pengantar
Alhamdulillah, atas segala keterbatasan dan kekurangan, akhirnya penulis berhasil menyelesaikan tugas akhir sebagai mahasiswa Strata Satu (S1) di program
studi Pemikiran Politik Islam, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta. Berbagai rintangan dan hambatan penulis hadapi dengan penuh
kesabaran. Keberhasilan penulis dalam menyandang predikat sarjana bukan sebuah
kebetulan atau kewajaran, tetapi ini adalah sebuh upaya perjalanan dalam meniti
intelektualitas yang penuh duka. Penulis masih merasakan betapa pahitnya untuk
meraih semua ini (sarjana), jika saja baju yang bersimbah keringat, air hujan yang
mengguyur sekujur tubuh dan letih karena perjalanan ke kampus yang sangat jauh,
bisa bercerita kepada semua orang, maka semua itu akan bercerita tentang
pengalaman pahit yang penulis jalani selama ini. Semua ini penulis lakukan demi
sebuah intelektualitas. Tanpa perjalanan ini, penulis tidak akan bisa disebut seorang
sarjana.
Atas izin-Nyalah, penulis telah menyelesaikan sebuah skripsi dengan judul
Konsep Dasar Negara: Studi Analisis Pemikiran Soekarno. Judul ini sengaja penulis angkat mengingat masalah ini memiliki daya tarik tersendiri bagi penulis, apalagi
ketika penulis hubungkan dengan sosok penggali dari dasar negara Indonesia, yaitu
Soekarno. Peranan Soekarno sebagai ploklamator, tokoh nasionalis, bapak bangsa,
sang revolusioner dan bahkan ada juga yang menyebut diri-nya (Soekarno) sebagai
pemikiran Soekarno, menurut penulis, hingga saat ini di Indoesia belum ada yang
menandingi. Disamping itu, ada beberapa alasan lain yang membuat penulis tetap
mengangkat tema tersebut (Konsep Dasar Negara...). yakni, pertama, sependek pengetahuan penulis, di lingkungan UIN Jakarta tema ini belum ada yang mencoba
menggarapnya. Kedua, pembuatan skripsi ini dilaksanakan pada bulan Mei, mudah-mudahan bermanfaat karena bulan Mei memiliki nilai historis bagi bangsa Indonesia
dalam perumusan dasar negara (Indonesia) melalui BPUPKI.
Dalam skripsi ini, penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada:
1. Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bapak Prof. Dr. Komaruddin Hidayat.
2. Dekan Fakultas Ushuluddin dan Filsafat bapak Amin Nurddin, MA.
3. Ketua program non reguler dan seluruh dosen pemikiran politik Islam.
4. Bapak Drs. Nawiruddin, MA selaku pembimbing.
5. Kedua orang tua penulis.
6. Kawan-kawan seperjuangan, Margono, Suhadi, Kosasih dan Abadul Syukur.
Kepada mereka penulis ingin katakan: belajarlah yang rajin dan maaf jika penulis
selalu terdepan dari kalian.
7. Tak lupa kepada keluarga besar yayasan pesantren Baitussalam, pak Heri
Hermansyah, Ibu Een Yuparni ( Bu Yuyu), penulis tidak akan pernah melupa-kan
segala budi-baik yang telah penulis rasakan.
8. Kepada adik-adik penulis, janganlah kalian membuat kecewa. Hidup kita penuh
yang berfikir untuk saat ini, tetapi ia berfikir untuk waktu yang akan datang
(future tense).
9. Kawan-kawan seide dan sepemikiran, ceria dan duka, mereka ialah yang masuk di
dapur intelektualitas HMI dan IMM cab. Ciputat.
10.Terakhir, kepada seseorang yang telah tulus mendo’akan penulis siang malam,
yang memberi inspirasi, semangat dan harapan masa depan, karena dia adalah
mata air bagi penulis. Walau dalam perjalanan, penulis dan dia seringkali terjadi
salah paham, tetapi semua itu bukan menjadi penghalang. Dia adalah seorang
wanita berkerudung merah jambu. Retno Septiyani namanya.
Akhirul kalam, semoga skripsi ini bisa bermanfaat. Atas segala kekurangan
dan kelemahan skripsi ini, semuanya kembali kepada penulis sendiri. Oleh karena itu,
tegur sapa dan saran atas perbaikan skripsi ini penulis sangat mengharapkan.
Bogor, 1 Juni 2007
Belajar Berkreasi, ya…hanya Belajar Berkreasi
Aku tidak pandai dalam tulis menulis, apalagi bahan yang bagus untuk
disajikan kepada para pembaca, modalku pas-pasan, bahkan bisa tergolong seret. Tetapi, keinginanlah yang mengantarkanku memberanikan diri untuk menulis,
padahal wawasan keilmuan aku tidak ubahnya bagai anak jalanan, yang mencari
sesuap nasi untuk kelangsungan hidup. Bukan materi, bukan populeritas yang aku
dambakan, aku ingin berbagi, aku ingin mengobrol dengan para pembaca.
Ketika aku harus memilih, apakah aku diam tanpa seutas karya dalam hidup
ini atau memilih menulis dengan segala keterbatasan ? Hingga akhirnya aku memilih
menulis, karena lebih baik tulisan buruk dengan maksud yang baik, dari pada aku
diam tanpa karya dan upaya.
Aku ingin membebaskan segala imajinatifku, biarlah pikiranku melayang, aku
tidak bermaksud untuk melukai orang, jika ternyata tulisanku menyinggung, tapi apa
yang kulihat itulah yang kutulis dengan tenang, akan tetapi idealismeku tetap
tertanam dalam raga ini, hingga akhirnya aku tidak mau asal menulis, melainkan
bagaimana memperbaiki kondisi sosial masyarakat yang sepertinya, makin hari
semakin tidak menentu. Aku ingin berkontemplasi atas masa lalu dan sekaligus
melakukan meditasi tentang masa depan. Mudah-mudahan kedepan, dengan tulisan,
mengingatkan kepada kita semua akan makna yang lebih hakiki.
berjalan ? Untuk mengetahui fikiran itu bisa berjalan kita harus tahu tentang alur
huruf demi haruf, kata demi kata yang kemudian terbentuklah kalimat. Dengan
kalimat (Baca: tulisan) itulah bisa berjalan dari satu tujuan menuju tujuan lain.
Sebuah pristiwa sehari-hari adalah ilham yang tak akan habis diekplorasi,
walau kulambat menyadari, tapi bukan alasan untuk tidak berkreasi. Adanya
kesedihan, keceriaan membuka diri untuk saling membagi. Sejalan pengalaman dan
sederet pristiwa yang kualami, aku refleksikan melalui untaian kata. Apa yang terjadi
pada hari ini, aku ukir dengan sebuah kejujuran sanubari. Sepert inilah keseharian aku
jalani, desisan-desisan hati takkan henti bergumam sendiri.
Dalam renungan keseharian, aku bertanya-tanya atas makna kehidupan ini,
apa sebenarnya keinginan Sang Kreasi ini ? Celah-celah perjalanan tak pernah lupa
kupapasi dan ternyata semua hampa tak berarti. Penyesalankah ungkapan ini atau aksi
protes kepada Dia ? jawabku tidak !
Bahkan kuingin katakan kepada Dia “Ya…Allah, jangan Kau jadikan kebodoh-anku sebagai bulan-bulanaan orang-orang yang tidak suka padaku, tapi jadikan kebodohanku sebagai kekuatan agar aku terus belajar”. Akhirnya, kepada Allah jualah kuserahkan segala urusan. Semoga Allah meridhai apa yang aku lakukan
“Ya…Allah, berikan kesanggupan pada diriku untuk berusaha dalam kegagalan,
bersabar dalam keputusasaan, berjalan kedepan tanpa teman, jihad tanpa senjata, amal
tanpa pamrih, perjuangan dalam kesunyiaan, keagungan tanpa kemahsyuran, iman
tanpa pengaruh riya, kebajikan tanpa unsur kemunafikan, keberaniann yang matang,
Ketahuilah bahwa dengan kepergianmu
pikiran dan keyakinanku telah terlucuti.
Hatiku yang lemah ini tak lagi punya kesabaran dan ketetapan hati.
Jangan tanya daku tentang wajahku yang lesu,
hatiku yang risau atau kebakaran dalam jiwaku.
Datang dan lihatlah dengan matamu sendiri,
karena kekuatan kata-kata tak dapat menjelaskan semua ini!
Wajahku berubah menjadi seperti panggangan roti dalam baramu.
Kini aku remuk bagai roti basi dan terhambur.
Tangisan Sebuah Tulisan
Tulisan ini bukan untuk dibaca tapi untuk dimengerti, kutulis kata hatiku
dalam sebilah pulpen dengan sobekan-sobekan kertas yang berserakan. Jangan
ditanya apa istimewanya tulisan ini, karena sulit untuk dicari. Apa lagi tulisan ini,
hanya untuk mengenang segala kehampaan, emosi, yang berklindan dalam diri.
Kejadian demi kejadian tak lalai untuk kutulis dalam catatan harian. Banyak
persoalan yang kupendam dalam-dalam, kutulis dengan bahasa sindiran. Bukan
karena aku orang pengecut, tapi kuingin ajak mereka berfikir, bergulat dalam alam
perenungan.
Aku bukan seorang filosof atau seorang kreasi dipertapaan. Aku tak indahnya
seekor kutu perjalanan, yang sulit mencapai puncak sana atau barangkali pula hanya
seperti angin bertiup sepoi yang tak kuasa mengeringkan setetes air dibebatuan. Aku
hanya ingin mengungkapkan kebenaran, sebuah awal kehidupan, yang ditandai
dengan akhir riwayat kehidupan.
Biarlah aku gagal menjalani tepi, tapi jangan terputus harapan-harapan
kedepan. Aku membaca setiap malam, berfikir setiap malam dan aku sudah bangun
lagi setiap jam tiga pagi. Aku bukan manusia tanpa dosa, bayak sekali
kesalahan-kesalahan yang pernah kulakukan. Aku selalu mengejar cita-cita, hidupku penuh
dengan keseriusan, sehingga orang menganggapku bukan seorang yang humoris. Aku
selalu mencoba menundukan keadaan atau menciptakan keadaan. Akibatnya tidak
“…dengarlah setitik suara hatiku”
Rasa nyeri tak kurasakan dalam luka.
Rasa nyeri di dada, lebih terasa.
Hatiku tergores jauh lebih dalam. Perih…, seperti disobek-sobek trisula.
Aku memang bukan kesatria. Apa lagi penguasa, seperti paduka
Aku hanya lelaki jelata yang penuh duka
yang hanya bermimpi dengan buaian cita-cita
Aku sekedar ingin mencicipi ilmu dalam mahligai paduka
Dan kemudian kubaktikan demi kaumku para jelata
Tak sedikitpun kuberharap sebagai pahlawan si pembela
Berdosakah seorang jelata memiliki cita-cita ?
Sayang, aku tidak memiliki kedudukan istimewa seperti paduka
Yang selalu menjadi pemeran utama
Layaknya jelata, aku harus tetap terpendam,
sementara paduka berdiri jauh diatas sana
Aku sadar akhirnya, cita-citaku terlalu tinggi menggantung dilangit maya
Mana bisa rakyat jelata menerobos begitu saja
Apa lagi kuhadir tanpa nama, seperti paduka terpuji bahasa dan tata
Dibanding paduka, aku tentu bukan apa-apa
Inilah suara hati sang jelata
Entah kapan paduka melihat alam nyata. Berpihak kepada rakyat jelata dan duka
# Akhir Penantian #
Setapak telah terlewati untuk berganti tahun
Embun-embun pagi berceceran
Bagai sorak porai berlindan dari kegelapan
Kurenungi hari demi hari mencapai puncak tahun
Tubuhku gemetar, teringat tahun terlewati dengan sampan
Hikayatku salah dalam perjalanan
Babad demi babad telah kulalui dengan penyesalan
Inikah kenyataan ?
Perjalanan yang sesak, beribu manusia yang berduyun
Namun, oh…ternyata merpati berkicau di perbukitan
Para pendusta berkhutbah dengan keangkuhan
Mengusungkan lengan
Sambil berkomat-kamit inilah kebenaran
Oh..pendusta, kau raih sesuatu demi keuntungan
Kau tak mau rugi, tapi mengaku dermawan
Sadarilah ini akhir penantian
Rambut tumbuh beruban
Hari gelap, tanda sang maut datang membawa persoalan
Jangan sampai menyesal dihari depan. Karena itu kehinaan
Jadikanlah pengorbanan
Alam Badut
Sebenarnya, tidak ada alam badut dalam permukaan alam ini. Tapi, karena
penghuni alam itu terdiri dari para badut, maka alam itu diberi nama alam badut.
Sebelumnya, alam badut itu tampak penuh kedamaian, keharmonisan,
toleransi dan bahu-membahu dalam banyak persoalan, tetapi entah apa yang terjadi
beberapa saat kemudian suasana alam badut dicekam oleh langit yang selalu redup
dan gelap. Berhari-hari sang surya tak muncul diperlangitan. Hujan, halilintar, badai
dan topan terus menyambar para sang badut, sesungguhnya semua itu bukan alam
badut yang tak lagi bersahabat, melainkan para badut yang tak mengerti akan arti
sebuah ikatan kebersamaan. Sehingga udara lembap, senyap dan gerah.
Nyaris, tak ada lagi badut yang bisa tertawa terbahak-bahak. Padahal
pekerjaan para badut selalu berkaitan dengan canda tawa. Presiden badut yang
hobinya tersenyum, kini hanya bisa mondar-mandir kebingungan, karena tak tahu apa
yang harus dilakukan.
Namanya juga alam badut, system kekuasaan dan strukturnya lucu dan
amburadul tak perlu lagi kebenaran, yang penting saya senang itulah motto dan
harapan para badut. Badut lupa akan canda dan tawa. Siapa yang berani melawan
lelucon presiden badut, maka sang presiden badut tak segan-segan menyingkirkan
dari pentas kekuasaannya.
Entah sampai kapan semua bisa berjalan seperti semula, biarlah sang waktu
yang menjawab semua itu. Namun yang pasti, tak pernah ada sesuatu yang diam,
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR... i
DAFTAR ISI... iv
BAB I PENDAHULUAN... 1
A. Latar Belakang Masalah... 1
B. Perumusan Masalah ... 10
C. Tujuan Penelitian ... 10
D. Metode Penelitian ... 10
E. Sistematika Penulisan ... 11
BAB II BIOGRAFI SOEKARNO... 13
A. Riwayat Hidup dan Pendidikan... 13
B. Aktivitas dan Karir Politik ... 19
C. Ideologi dan Konsep Dasar Pemikiran Politik Soekarno (NASAKOM)... 23
BAB III KONSEP DASAR NEGARA ... 30
A. Pengertian Konsep Dasar Negara... 30
B. Sejarah Kelahiran dan Perumusan Pancasila ... 31
BAB IV NILAI-NILAI DASAR NEGARA
DALAM PERSPEKTIF SOEKARNO ... 47
A. Konsep Ketuhanan ... 48
B. Kemanusiaan ... 54
C. Persatuan ... 56
D. Kerakyatan dan Demokrasi ... 60
E. Keadilan ... 64
BAB V PENUTUP... 68
A. Kesimpulan ... 68
B. Saran-Saran ... 69
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Proses awal pembentukan Negara Indonesia yang paling fundamental dan
krusial ialah bagaimana menyepakati dan komitmen terhadap dasar Negara. Dalam
sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPKI), paling
tidak ada empat persoalan pokok yang menjadi sorotan, yaitu : Pertama, persoalan bentuk negara. Kedua, batas geografis negara. Ketiga, dasar filsafat negara dan
keempat, persoalan yang bertalian dengan pembuatan suatu konstitusi. Empat persoalan tersebut berjalan dengan lancar, kecuali tentang persoalan dasar negara.
Ketika dasar negara mulai disinggung, iklim politik pun menjadi hangat.
Di tengah arus dinamika politik dan nuansa pencarian jati diri bangsa, saat
bendera kemerdekaan berkibar, Indonesia sangat berpotensi melahirkan konflik, baik
konflik karena SARA, kepentingan, dan bahkan idiologi. Proses pembentukan dan
mempertahankan kedaulatan negara baru, seperti Indonesia, telah menimbulkan
pertarungan kepentingan dari berbagai kelompok yang saling bersaing
kelompok ideologi utama yang tumbuh sejak zaman pergerakan (kemerdekaan, peny), yaitu kelompok Islam, Nasionalisme Sekuler dan Komunisme.1
Untuk perumusan pembentukan dasar negara, ketika itu para wakil rakyat
Indonesia dapat dibagi atas dua kelompok besar, yakni mereka yang mengusulkan
Islam sebagai dasar negara dan mereka yang mengajukan agar negara Indonesia
berdasarkan kebangsaan, termasuk golongan komunis2 mendukung dasar kebangsaan,
tanpa harus terkait dengan agama (Baca: sekuler). Kelompok ini diwakili oleh para
tokoh, seperti Dr. Radjiman, Soekarno, Mohammad Hatta, Profesor Supomo,
Mohammad Yamin, Wongsonegoro, Sartono, R.P. Suroso dan Dr. Buntaran
Martoatmodjo, semua tokoh ini adalah hasil didikan Barat. Dari kelompok pembela
dasar Islam diwakili oleh tokoh terkemuka, seperti Ki Bagus Hadikusumo, KH.
Ahmad Sanusi, Kahar Muzakkar dan KH. A. Wachid Hasjim.3
Kalangan agamis meyakini bahwa agama (Islam) dan politik tidak dapat
dipisahkan (integral), seperti yang diungkapkan dalam pidato Ki Bagoes Hadikoesoemo pada tanggal, 31 Mei 1945, mengatakan:
“…Oleh karena itu tuan-tuan, saya sebagai seorang bangsa Indonesia tulen, bapak dan ibu saya bangsa Indonesia, nenek moyang saya pun bangsa Indonesia juga asli dan murni belum ada campurannya; dan sebagai seorang muslim yang mempunyai cita-cita Indonesia raya dan merdeka, maka supaya negara Indonesia merdeka itu dapat berdiri tegak dan teguh, kuat dan kokoh,
1
Yusril Iza Mahendra, Modernisme dan Fundamentalisme Politik Islam: Perbandingan Partai Masyumi (Indonesia) dan Partai Jama’at-Islami (Pakistan), (Jakarta: Paramadina, 1999), h. 67.
2
Komunisme hanya terlibat dalam waktu yang sangat singkat, karena peristiwa pemberonta-kan yang pernah dilakupemberonta-kannya, yaitu pada tahun 1926 di jawa Barat dan tahun 1927 di Sumatra. Dengan peristiwa tersebut, maka dialog idiologis selanjutnya hanya melibatkan dua kelompok, yakni kelompok Islamis dan kelompok sekuler.
3
saya mengharapkan akan berdirinya negara Indonesia ini berdasarkan agama Islam...”4
Sementara Soekarno dari kalangan nasionalis berpendapat, bahwa agama
harus dipisahkan dari negara, karena untuk menjaga kemurnian, kesucian dan
ke-ilahi-an Islam dari tabiat manusia yang rusak budi pekertinya. Ketidak setujuan Soekarno dalam mengintegrasikan agama dan negara bukan untuk mendurhakai Islam
tetapi justru agar Islam dapat lepas dari belenggu yang menghalangi kemajuannya:
“…maka kemerdekaan agama dari ikatan negara itu berarti djuga, kemerdekaan negara dari ikatan anggapan-anggapan agama jang djumud,
jakni kemerdekaan negara dari hukum-hukum tradisi dan faham-faham Islam kolot jang sebenernja bertentangan dengan djiwa Islam sedjati, tetapi njata selalu mendjadi rintangan bagi gerak-geriknja negara kearah kemadjuan dan kemoderenan. Islam dipisahkan dari negara, agar supaja Islam mendjadi merdeka, dan negarapun mendjadi merdeka. Agar supaja Islam berdjalan sendiri. Agar supaja Islam subur, dan negarapun subur pula…”5
Menanggapi pendapat Soekarno, Natsir mengatakan bahwa Islam tidak
mengenal pemisahan agama dengan negara. Lebih lanjut, Natsir berkata; kemajuan
adalah berhimpunnya kejayaan dunia dan kemenangan akhirat dan hidup duniawi
dengan hidup rohani tidak bisa dipisah dalam idelogi Islam,6 walaupun demikian,
Soekarno tetap teguh pada pendapatnya.
Dengan kerenggangan yang terjadi ketika itu, sungguh gagasan yang cerdas
bagi Soekarno sebagai founding father memberi sebuah solusi pengikat sosial politik yang dapat menjadi faktor kohesi yang mampu memberi ruang terhadap identitas
4
Iman Totok Rahardjo dan Herdianto WK (ed), Bung Karno Wacana Konstitusi dan Demokrasi: Kenangan 100 tahun Bung Karno, (Jakarta: PT Grasindo, 2001), h.15.
5
Soekarno, Dibawah Bendera Revolusi, (Djakarta: Gunung Agung, 1965), h. 405. 6
nasional sekaligus melanggengkan entitas Indonesia. Faktor kohesi yang diistilahkan
oleh Robert Bellah adalah sebagai “civil religion”. Jika idiom dari Bellah ini kita tarik ke dalam perspektif keindonesiaan, akan tertuju pada perekat sosial yang kita
kenal sebagai Pancasila.
Soekarno adalah seorang pemimpin bangsa yang mempunyai kecerdasan dan
kemampuan intelektual tinggi, dengan ijtihad politiknya Soekarno menggali dari
berbagai arus pemikiran besar dari nasionalisme, sosialisme, kapitalisme dan paham
keagamaan, yang disintesiskan menjadi apa yang disebut Pancasila.7 Ia melakukan ini
dengan penuh semangat, mengungkapkan gagasan-gagasan yang merupakan inti dari
pemikiran politiknya selama 20 tahun, yang dikemukakannya dengan beberapa
tambahan dan beberapa tekanan baru, dalam bentuk lima prinsip dasar, Pancasila.
Pecetusan ide Pancasila berawal dari idenya tentang persatuan bangsa yang
memiliki banyak aliran pemikiran, suku, agama dan keanekaragaman masyarakat. Ia
sangat yakin Pancasila sebagai landasan filosofi negara akan mampu merangkul
semua aliran yang berbeda-beda dan memungkinkan terwujudnya persatuan, yang
begitu ia dambakan. Sehingga ia (Soekarno) ingin menetapkan asas bersama, agar
dengan asas tersebut bangsa Indonesia dapat bersatu dan menerimanya. Soekarno
mengatakan dalam pidatonya:
“…kita harus mencari persetujuan, mencari persetujuan paham. Kita harus bersama-sama mencari persatuan philoshopisce grondslag, mencari satu “Weltanschauung” yang kita semua setuju. Saya katakan lagi setuju ! yang saudara Yamin setuju, yang Ki Bagoes setuju, yang Ki Hadjar setuju, yang saudara Sanoesi setuju, yang saudara Abikoesno setuju, yang saudara Lim
7
Koen Hian setuju, pendeknya kita semua mencari satu modus…”8
Berkali-kali Soekarno mengupayakan pengembangan sebuah idiologi, termasuk
juga apa yang dinamakan Marhaenisme, sebuah nama seorang petani yang pernah ia
ketemukan sekitar tahun 1930-an, yang kemudian oleh Soekarno di jadikan ideologi
perjuangan atau sebagai counter ideology terhadap ideologi reaksioner yang direpresentasikan oleh imperialisme Belanda ketika itu. Lebih dari itu, bahwa cita-cita
marhaenisme bukan sekedar untuk mengusir penjajah Belanda, tetapi adalah untuk
mengenyahkan ideologi kapitalisme. Walaupun kemudian pemikirannya hanya menjadi
suatu rumusan politik yang tidak menentu. Sebab ideologi marhaenisme disyaratkan
menjadi pembebas dan penebus segala kesengsaraan rakyat Indonesia yang diakibatkan
oleh imperialisme Belanda. Sekalipun memang, Marhaenisme pernah diterima secara
resmi oleh Partai Nasional Indonesia (PNI) sebagai idiologinya.
Untuk kesempatan yang berbeda dalam sidang konstituante, Soekarno dalam
pidatonya mengatakan:
“,…tetapi saya persoonalijk ada mempunyai doa kepada Allah swt., moga-moga konstituante menerima pancasila sebagai dasar kekal dan abadi daripada Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sebab saudara-saudara, sebagai tadi saya katakan, saya tidak melihat jalan lain untuk mempersatukan bangsa Indonesia ini diatas dasar lain dari pada pancasila…”.9
Istilah Pancasila ditukil dari bahasa Sansekerta, yaitu; Panca artinya lima dan
Sila artinya prinsip. Sebelum dibakukan sebagai dasar idiologi negara, Pancasila
8
Rahardjo dan Herdianto WK (ed), Bung Karno Wacana Konstitusi dan Demokrasi, h. 25. 9
mengundang kontroversi seputar tentang siapa yang sesungguhnya merumuskan,
karena sebelum Soekarno pidato pada tanggal 1 Juni 1945 di depan Badan Penyelidik
Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), Mumammad Yamin
(1903-1962) pada sidang pertama BPUPKI lebih dahulu, tepatnya tanggal 29 Mei
1945, menawarkan lima prinsip untuk digunakan sebagai dasar negara, yaitu;
Prikebangsaan, Prikemanusiaan, Priketuhanan, Prikerakyatan dan Kesejahteraan Rakyat. Sementara Soekarno, dalam pidatonya,10 menyampaikan prinsip-prinsip yang tidak jauh berbeda dari konsep Yamin, hanya saja yang membedakan penyusunan
atau urutan dari prinsip-prinsip tersebut. Prinsip tersebut menurut Soekarno ialah
Kebangsaan Indonesia, Internasionalisme atau Prikemanusiaan, Kesejahteraan Sosial, jauh setelah empat prinsip tersebut dikemukakan secara panjang lebar, kemudian di susul dengan prinsip Ketuhanan. Seperti dalam pidatonya Soekarno
mengatakan:
“saudara-saudara, apakah prinsip kelima ? Saya telah mengemukakan empat prinsip:… Prinsip kelima hendaknya:… Prinsip Ketuhanan ! Bukan saja bangsa Indonesia ber-Tuhan, tetapi masing-masing orang Indonesia hendaknya bertuhan Tuhannya sendiri.,… Marilah kita di dalam Indonesia merdeka yang kita susun ini, sesuai dengan itu, menyatakan: bahwa prinsip kelima daripada negara kita ialah Ketuhanan yang berkebudayaan, Ketuhanan yang berbudi pekerti yang luhur, Ketuhanan yang hormat-menghormati satu sama lain…”.11
Menanggapi tentang siapa yang pertama menggagas ide tersebut (Pancasila),
10
Pidato tersebut dilaksanakan pada tanggal 1 Juni 1945, yang kemudian tanggal tersebut diperingati sebagai hari lahirnya Pancasila.
11
Bung Hatta, Ir. Rooseno, Baswedan, KH Masjkur, Ahmad Subardjo, AA Maramis,
Sayuti Melik dan Sunario. Para bapak negara-bangsa itu semua menyatakan bahwa
Pancasila itu dari Bung Karno.12 Bahkan dengan kebesaran hatinya, Muhammad
Yamin mengakui bahwa Pancasila adalah hasil galian Soekarno yang mendalam dari
jiwa dan kepribadian bangsa Indonesia.13
Soekarno yakin, bangsa Indonesia akan besar dan maju jika
kekuatan-kekuatan idiologi di Indonesia mau bersatu, seperti gagasan yang telah ditulis dalam
bukunya, Dibawah Bendera Revolusi,
“…Partai Boedi Oetomo, “marhum” Nationaal Indische Partj jang kini masih “hidup”, Partai Sarekat Islam, Perserikatan Minahasa, Partai Komunis Indonesia, dan masih banjak partai-partai lain…itu masing-masing mempunjai roch Nasionalisme, roch Islamisme, atau roch Marxisme adanja. Dapatkah roch-roch ini dalam politik djadjahan bekerdja bersama-sama mendjadi satu roch jang besar, roch persatuan ?...”14
Pancasila dalam Pemikiran politik Soekarno pada tataran praksis belum
sepenuhnya dipahami dan diterima masyarakat. Sehingga yang sering muncul
dipermukaan adalah sikap eksklusifisme. Sikap inilah yang sangat rentan konflik
yang kemudian mengakibatkan runtuhnya rasa persatuan, kebersamaan dan
keharmonisan bangsa Indonesia.
Persoalannya sekarang adalah seberapa jauh kesungguhan kita terhadap
konsensus yang telah kita sepakati dalam Pancasila sebagai “kontrak sosial” yang
12
Slamet Soetrisno, Kontroversi dan Rekonstruksi Sejarah, (Yogyakarta: Media Pressindo, 2006), h. 3.
13
Muhammad Yamin, Pembahasan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia,
dikutif dari M. Abdul Karim, “Menggali Muatan Pancasila dalam Perspektif Islam”, (Yogyakarta: Surya Raya, 2004), h. 9.
14
telah menginspirasi lahirnya Bangsa Indonesia ? Pancasila sebagai identitas
kebangsaan membawa nilai integratif atau dalam istilah Soekarno, semua untuk
semua.
Perdebatan mengenai penerapan dasar negara, tampaknya merupakan polemik
yang tak pernah berkesudahan. Selain perdebatan yang terjadi sejak BPUPKI pada
tahun 1945. Pada masa pasca Orde Baru, persoalan ini muncul kembali melalui
perdebatan tentang perlunya amandemen pasal 29 UUD 1945, yang bergulir pada
sidang tahunan MPR. Dua fraksi Partai Bulan Bintang (F-PBB) dan fraksi Partai
Persatuan Pembangunan (F-PPP) bersikeras untuk memasukan tujuh kata seperti apa
yang pernah tertera dalam Piagam Jakarta.
Selain itu, Pancasila sebagai dasar negara mengalami kemerosotan selama era
reformasi. Hal ini menarik untuk ditanggapi, apalagi Otonomi Daerah telah bergulir,
seperti fenomena Aceh dengan Otonomi Khusus-nya, ini pun tidak menutup
kemungkinan akan muncul fenomena politik yang memanipulasi sentimen
kedaerahan kesukuan dan aliran keagamaan untuk kepentingan segelintir atau
sekelompok tertentu.
Hal yang tidak menutup kemungkinan terjadi, Pancasila akan turut lengser
dan hanya akan menjadi catatan sejarah bangsa Indonesia, karena beberapa pengamat
menilai kecenderungan-kecendrungan politik akhir-akhir ini serta proses globalisasi
yang melanda Indonesia menimbulkan pertanyaan serius tentang daya tahan
menilai Pancasila tidak akan mampu bertahan menghadapi gempuran zaman.15 Jika
dilihat fenomena sekarang ini, tidak terlalu salah jika Sanit berpendapat seperti itu,
apa lagi ketika Orde Baru lengser, era reformasi bergulir, meniscayakan munculnya
kebebasan. Melalui kebebasan itulah, memungkinkan ideologi-ideologi yang pernah
di penjarakan oleh Orde Baru akan bebas berkeliaran mengguncang eksistensi
Pancasila, yang menurut Din Syamsuddin sudah final.
Sebuah negara tidak bisa membiarkan perjalanan bangsa ke depan tanpa dasar
negara yang kuat. Apalagi di sini Indonesia, sebuah negara yang paling heterogen di
dunia. Oleh karena itu, ancaman disintegrasi selalu merupakan ancamap baik rill
maupun potensial, sehingga mau tak mau membicarakan konsep dasar negara
Indonesia dalam realitas kehidupan berbangsa dan bernegara sangat relevan, agar
dasar negara (Pancasila) tidak lagi menjadi slogan kosong dan alat legitimasi
kekuasaan sang rezim.
Atas dasar latar belakang tersebut di atas, dalam sekripsi ini penulis ingin
melihat lebih dalam tentang relevansi konsep dasar negara (pancasila), dengan
pendekatan pemikiran Soekarno.
15
B. Perumusan Masalah
Agar terarahnya pemaparan masalah ini, penulis merumuskan pada dua sub
masalah:
1. Bagaimana konsep Soekarno tentang Dasar Negara ?
2. Bagaimana nilai-nilai kandungan Dasar Negara dalam pandangan Soekarno.
C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian skripsi (penulis) ini ialah:
1. Untuk menguraikan dan menjelaskan konsep Soekarno tentang Dasar Negara.
2. Untuk menguraikan dan menjelaskan nilai-nilai kandungan Dasar Negara
dalam pandangan Soekarno.
3. Memenuhi khazanah keilmuan di Fakultas Ushuluddin dan Filsafat
D. Metode Penelitian
Untuk dapat memaparkan persoalan-persoalan yang akan dimunculkan dalam
skripsi ini. Penulis menggunakan metode library rescarch, yaitu penelitian dengan mengumpulkan data-data dan informasi lainnya dengan cara membaca dan
menganalisis buku-buku, jurnal-jurnal dan dokumen serta bahan-bahan informasi
tertulis lainnya yang masih berkaitan dengan masalah yang diangkat. Sehingga jenis
Dalam pengolahan data skripsi ini penulis menggunakan deskriftif-analitis,
yakni menggambarkan dan menjelaskan pemikiran tokoh (Soekarno) yang penulis
angkat, kemudian penulis melakukan analisis terhadap pemikirannya.
Adapun untuk teknis penulisan mengacu pada buku pedoman skripsi UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta.
E. Sistematika Penulisan
Dalam penulisan, penulis mencatat atas lima bab, setiap bab terdiri dari
sub-sub. Hal ini diperuntukan bagi penulis agar memudahkan jalannya penulisan,
sistematik, dan menarik intisari dari akhir pembahasan, tetapi sebelum itu pemakalah
melakukan analisis pada sub-sub pembahasan.
Bab pertama, didahului oleh pendahuluan, dalam bab ini juga menguraikan sub-sub, seperti latar belakang masalah, alasan pemilihan judul, pembatasan dan
perumusan masalah, metode penelitian dan sitematika penulisan.
Bab kedua, yaitu biografi politik Soekarno yang terdiri dari riwayat hidup dan pendidikan, aktivitas dan karir politik, ideologi dan konsep dasar pemikiran politik
Soekarno (NASAKOM).
Bab ketiga, yaitu pengertian konsep dasar negara, sejarah kelahiran dan perumusan pancasila, soekarno dan perumusan dasar negara.
Bab keempat, inti dari sekripsi ini ialah nilai-nilai dasar negara (Pancasila), dalam perspektif Soekarno, konsep ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan
Bab kelima, adalah bab akhir sekaligus bab penutup. Dalam bab ini penulis membuat kesimpulan dari masalah yang diangkat, sesuai dengan metode penelitian
BAB II
BIOGRAFI SOEKARNO
A. Riwayat Hidup dan Pendidikan
Soekarno, dilahirkan pada saat fajar kebangkitan Bangsa Indonesia mulai
menyingsing, yaitu di masa permulaan era kebangkitan dan pergerakan nasional
mulai terpupuk. Tepatnya pada kamis pon tanggal 18 Sapar 1831 tahun Saka,
bertepatan dengan tanggal 6 Juni 1901 di Lawang Seketeng, Surabaya. Ia adalah anak
kedua dari kandungan Ibu Idayu Nyoman Ray. Ayahnya bernama R. Soekemi
Sosrodiharjo, sedangkan kakaknya bernama Soekarmini.16 Ayahnya, Raden Soekemi
Sosrodiharjo, satu dari delapan orang anak Raden Hardjodikromo, adalah anggota
golongan bangsawan Jawa kelas priyayi, seperti ditunjukan oleh gelar “Raden” itu. Lahir di tahun 1869, Soekemi menerima unsur pendidikan Belanda pada sekolah
Pendidikan Guru Pertama di ibu kota Kabupaten Probolinggo di Jawa Timur.17
Di Singaraja Raden Soekemi Sosrodihardjo bertemu Idayu Nyoman Rai, yang
menurut Soekarno adalah putri salah satu keluarga Bali dari kelas Brahmana.
Perkawinan mereka (orang tua Soekarno), masih menurut Soekarno, mengalami
kesulitan. Soekemi adalah orang Jawa yang agama resminya Islam, sekalipun ia
menjalankan Theosofi. Perkawinan mereka tidak direstui oleh orang tua Idayu dan
akhirnya, mereka memutuskan untuk menjalankan perkawinan lari.
16
Badri Yatim, Soekarno, Islamisme dan Nasionalisme, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999), h. 5.
17
Setelah menikah, Soekemi dan istrinya tetap tinggal di Singaraja sampai anak
pertamanya lahir (Soekarmini). Dua tahun setelah kakak Soekarno lahir, Soekemi
pindah ke Surabaya dan di sanalah Soekarno dilahirkan.
Hari kelahiran Soekarno ditandai oleh angka serba enam, yaitu tanggal enam
bulan enam. Hal ini tergambar dalam pengakuannya, yang ditulis oleh Cindy Adams:
“…Adalah menjadi nasibku yang paling baik untuk dilahirkan dengan bintang Gemini, lambang kekembaran. Dan memang itulah aku sesungguhnya. Dua sifat yang berlawanan. Aku bisa lunak dan aku bisa cerewet. Aku bisa keras laksana baja dan aku bisa lembut berirama. Pembawaanku adalah paduan daripada pikiran sehat dan getaran perasaan. Aku seorang yang suka memaafkan, akan tetapi aku pun seorang yang keras kepala. Aku menjebloskan musuh-musuh negara ke belakang jeruji besi, namun demikian aku tidak sampai hati membiarkan burung terkurung di dalam sangkar...”18
Soekarno seorang sosok yang sangat kompleks. Kekomplekan tersebut erat
kaitannya dengan persoalan bangsa Indonesia itu sendiri, sehingga ada sekelompok
orang yang melihat Soekarno sebagai figur revolusi, bapak proklamator dan penggali
Pancasila serta pemimpin bangsa Indonesia.
Sebelumnya, Soekarno diberi nama Keosno Sosro Soekarno.19 Tetapi ketika
ia masih kanak-kanak kedua nama pertama itu dibuang dan selanjutnya sesuai dengan
kebiasaan Jawa, ia (hanya) bernama Soekarno.20 Dalam masa kanak-kanak ia
(Soekarno) hidup sebagai anak yang berpenyakitan, ia pernah menderita malaria,
disentri dan penyakit lainnya. Itulah sebabnya orang tuanya memindahkan Soekarno
18
. Cindy Adams, Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, cet VII (Jakarta: Ketut Masagung Corporation, 2001), h. 25.
19
. Sumber lain menjelaskan, menurut pengakuan Soekarno, nama kelahirannya adalah Kusno, yang kemudian diganti oleh ayahnya dengan nama Karna. Sebuah nama yang terinspirasi oleh seorang pahlawan dari cerita klasik Mahabarata. Lihat Adams, Bung Karno, h. 32.
20
ke kota Tulung Agung, mengikuti kakeknya yang notabene ahli ilmu hikmah dan
pandai mengobati penyakit. Sebagai seorang cucu, Soekarno sangat disayang dan
bahkan seringkali dimanjakan. Oleh karena itu, inilah salah satu faktor penyebab
Soekarno menjadi anak yang keras kepala. Masa usia enam tahun, kegemaran
ayahnya nonton wayang kulit, sudah mulai menurun kepadanya dan bahkan
seringkali ia menonton wayang kulit sampai larut malam.
Sebagai sosok yang kompleks, Soekarno banyak dipengaruhi oleh
orang-orang di sekelilingnya, selain didikan kedua orang-orang tuanya, Sarinah, seorang-orang pembantu
keluarga dan yang juga ikut membesarkannya, ikut mewarnai corak kepribadiannya.
Nama Sarinah, yang kemudian hari dipuja sebagai lambang wanita Indonesia;
khususnya sebagai wakil “rakyat kecil” yang membentuk sebagian besar negeri ini.21
Soekarno mengakui, akan pengaruh tunggal paling besar terhadap sosok Sarinah.
“Dialah yang mengajariku untuk mengenal cinta-kasih, mencintai rakyat jelata
(common people, peny)”.22
Di samping itu, Wagiman seorang petani miskin yang tinggal di dekat
Mojokerto, seringkali di datangi Soekarno hanya untuk mendengarkan cerita-cerita
wayang, tentang Kumbakarna, Arjuna, Gatotkaca, Kresna, Semar yang lucu namun
perkasa dan masih banyak lagi yang lainnya, semua itu lengkap dengan
keunggulan-nya dan watakkeunggulan-nya masing-masing. Hal yang perlu digarisbawahi akan
keterpengaruh-annya dengan wayang ialah ia sering mengidentifikasikan dirinya dengan tokoh
21
Leggi, Sukarno Biografi Politik, h. 29. 22
Bima. Sifat dari Bima yang seringkali dijadikan rujukannya ialah tentang keberanian,
kejujuran, galak yang tak kenal kompromi, kasar, meremehkan otoritas yang mapan
dan siap membantah.
Pendidikan formal Soekarno, pertama kalinya diperoleh di Sekolah Dasar di
Tulung Agung. Dalam lingkungan keluarga yang memang melek pendidikan, sehingga mengantarkan Soekarno dalam kalangan masyarakat papan atas, seperti
pendapat Badri Yatim yang mengatakan: “Salah satu hal yang menentukan dan
menempatkan Soekarno dalam kalangan masyarakat-atas di Indonesia adalah
pendidikan”.23 Sangat memungkinkan bagi Soekarno menjadi anak yang cerdas,
melalui bimbingan tambahan pendidikan dari seorang ayah, yang kebetulan ia
seorang guru. Soekarno dipaksa untuk terus belajar, meskipun ia telah belajar
berjam-jam, namun tetap dipaksa untuk terus belajar membaca dan menulis. Setamatnya dari
Sekolah Dasar, ia kemudian melanjutkan ke Hogere Burger School (HBS) tahun 1915
dan lulus pada 11 Juni 192124. Melalui jasa baik seorang teman, yang juga tinggal di
Surabaya, yaitu Oemar Said Tjokroaminoto, Soekarno berhasil diterima sebagai
murid HBS sampai tamat. Tidak hanya itu, Soekarno pun tinggal dirumahnya untuk
beberapa lama. Dengan mondoknya Soekarno di rumah tokoh sekaliber
Tjokroaminoto, kelak akan membawa arti yang menentukan untuk masa depannya,
karena Tjokroaminoto yang menjabat ketua Organisasi Massa Nasionalis Sarekat
23
. Badri Yatim, Soekarno, Islamisme dan Nasionalisme, h. 8. 24
Islam adalah tokoh pusat nasionalisme Indonesia pada waktu itu dan Surabaya
merupakan tungku (dapur, peny) pemikiran dan aksi nasionalis.25
Mondoknya Soekarno dirumah Tjokro, merupakan kesempatan baik untuk
mendengar, berdialog mengenai banyak hal yang berkaitan dengan politik, karena
setiap saat rumah Tjokro tak pernah sepi dari kunjungan tokoh-tokoh pergerakan
nasional lainnya. Bahkan setelah Soekarno resmi menjadi menantu Tjokroaminoto
dengan mengawini putrinya, Oetari, ia mendapatkan kesempatan kemanapun untuk
mengikuti Tjokro pergi dalam pertemuan-pertemuan. Ketika, Tjokro berpidato,
Soekarno dengan serius memperhatikan semua isi pidato Tjokro yang berkharisma
itu. Makanya, tidak heran bila Soekarno mengatakan bahwa Tjokroaminoto sangat
mempengaruhi hidupnya, bahkan dialah orang yang mengubah seluruh hidupnya.
Dari Djokroamonoto pula, Soekarno mendapat banyak pengetahuan tentang konsep
politik Islam.
Setelah tamat dari HBS pada tahun 1921, sebenarnya Soekarno dapat
langsung terjun ke masyarakat, semisal menjadi elit politik, karena bekal yang
didapat sudah cukup kuat. Akan tetapi, ia lebih memilih melanjutkan studinya di
Technische Hogere School (THS), yang sekarang ITB (Institut Tekhnologi Bandung). Masa-masa ia menjadi mahasiswa hampir seluruh waktunya dipergunakan untuk
membaca buku mengenai nasionalisme, marxisme, persoalan-persoalan internasional
25
dan sejarah yang tidak dapat diperoleh dari bangku kuliah.26 Dalam mengarungi
kegiatannya itu (membaca), Soekarno merasa seakan bertemu dan berdialog secara
langsung dengan banyak tokoh, seperti: Gladston, Beatrice Webb, Mazzini, Cavour,
Garibaldi, Otto Beuer, Karl Marx, Frederich Engels, Lenin, Jean Jacquas Rousseau,
Jean Jaures, Danton dan Voltaire.27 Walau keadaannya serba kekurangan (miskin),
namun hasratnya untuk belajar dan membaca mendapatkan dukungan dari
lingkungan tempat ia tinggal, karena ia berada dirumah seorang “raja yang tidak
dinobatkan” H.O.S. Tjokroaminoto, termasuk istri Tjokro sangat memperhatikan
disiplin pelajar-pelajar yang tinggal di rumahnya.
Berkaitan dengan keberagamaan Soekarno, sejak kecil ia sangat dipengaruhi
oleh latar belakang keagamaan kedua orang tuanya, dalam konteks agama Jawa, oleh
Clifford Geertz dapat dimasukan dalam kategori “varian abangan”:
“…sistema keagamaan desa lazimnya terdiri dari suatu integrasi yang berimbang antara unsur-unsur animisme, Hindu dan Islam…”28
Ketiga unsur tersebut diatas diistilahkan dengan sinkritisme. Dalam kebudaya-an jawa sinkritisme ketika itu sangat menonjol. Dengan sifat sinkritisme itulah memungkinkan Soekarno terpengaruh, selain orang tuanya juga lingkungannya, yang
memadukan apa yang baik dari dalam dirinya sendiri dengan apa yang dianggapnya
baik dari luar. Pemahamannya terhadap Islam lebih banyak melalui buku-buku yang
26
Ong Hok Ham, Sukarno: Mitos dan Realitas, dalam Yanto Bashri dan Retno Suffanti (ed),
“Sejarah Tokoh Bangsa”, h.7 27
Adams, Bung Karno, h. 21. 28
dibaca, disamping itu ia pun acapkali berdialog atau diskusi tentang keislaman oleh
tokoh-tokoh Islam, seperti KH. Ahmad Dahlan dan bahkan ketika ia belajar di
Bandung, ia bertemu dan berkenalan dengan A. Hassan, seorang tokoh pemikir Islam
dan pendiri organisasi Persatuan Islam (Persis). Dari perkenalan itulah kerapkali
terjadi percakapan dan dialog mengenai berbagai masalah, termasuk menyoal tentang
Islam.
B. Aktivitas dan Karir Politik
Di THS atau Institut Tekhnologi Bandung (ITB), Soekarno adalah seorang
dari sebelas mahasiswa yang berasal dari anak bumiputra. Sebagai mahasiswa ia
sangat aktif dan rajin belajar. Sekitar tahun 1923-an ia ikut mengubah nama “Jong
java” menjadi “Jong Indonesia”, dan pernah pula menjadi anggota organisasi
kepanduan di Bandung.29 Ketika masih di Surabaya, Soekarno telah mendirikan
perkumpulan politik yang diberimana Trikoro Darmo, yang berarti tiga tujuan suci dan melambangkan kemerdekaan politik, ekonomi dan sosial. Organisasi ini
berlandaskan pada kebangsaan, yang kegiatannya diprioritaskan untuk
masalah-masalah sosial. Disamping itu, ia juga aktif di studie club, sebuah kelompok semacam perkumpulan diskusi. Dalam studie club inilah Soekarno untuk pertama kalinya berpidato. Pidatonya itu, berawal dari ketidaksetujuannya terhadap pidato ketua
studie clube yang intinya mengatakan bahwa keharusan menguasai bahasa Belanda bagi generasi muda. Mendengar pidato tersebut, Soekarno langsung berdiri dan
29
berpidato, yang menghimbau seluruh pemuda untuk bersatu dan mengembangkan
bahasa Melayu.
Setelah lulus sebagai seorang sarjana, tentu peluang-peluang di depan sudah
menanti. Tetapi atas dasar pertimbangan dari beberapa peluang yang ia dapat,
akhirnya ia menceburkan dirinya sebagai guru pada Sekolah Yayasan Ksatrya. Tetapi
ia mengajar tidak lama, menurut penuturan ia, gayanya (Soekarno) mengajar sejarah
yang bersifat menghasut menyebabkannya bertentangan dengan seorang Inspektur
Belanda dari Departemen Pendidikan yang datang berkunjung, yang akhirnya
membawa ia keluar dari pekerjaan itu. Disamping itu, pada tahun 1927 Soekarno
bersama Ishaq Tjokrohadisurjo, dr. Tjipto Mangunkusumo, Budiarto dan Sunario
mendirikan Perserikatan Nasional Indonesia, yang selanjutnya pada bulan Mei 1928
dirubah menjadi sebuah partai politik (PNI).
Akibat aktivitas politik dan pergerakan perjuangannya, maka pada tanggal 29
Desember 1929 Soekarno ditangkap bersama Mangkupradja, Maskun dan
Supriadinata oleh Pemerintah Hindia Belanda. Kemudian, ia (Soekarno) diadili
sekitar tanggal 22 Desember 1930, dengan keputusan hukuman 4 tahun. Dalam
sidang tersebut oleh Soekarno diucapkan pledoi pembelaan, yang kemudian
diabadikan sebagai dokumen sejarah yang diberi judul “Indonesia Menggugat”.
Soekarno pun dibebaskan setelah Gubernur Jendral De Graeff, berakhir masa
jabatannya. Akan tetapi, bulan Juli 1933 Soekarno kembali ditangkap dengan tuduhan
diasing-kan ke Endeh (flores), selain itu ia kemudian dipindahdiasing-kan ke Bengkulu pada tahun
1937.30
Pada waktu api pemikiran nasionalisme membara, ditengah-tengah inilah
Soekarno bergerak, dari penahanan dirinya ia bertambah semangat dan terus
melakukan propaganda, hingga ia pun berkenalan dengan tokoh-tokoh pergerakan,
Douwes Dakker (Setiabudi), Dr. Tjipto Mangkusuma dan Ki. Hadjar Dewantoro
(Soewardi Soerjaningrat). Selain itu, tokoh lain yang mempengaruhi alam cakrawala
pemikiran Soekarno waktu itu ialah Tan Malaka.31 Melalui pengaruh-pengaruh tokoh
tersebutlah pemikiran politik Soekarno mulai tersusun secara teratur. Bacaannya
mengenai sejarah sosialisme Eropa dan pengalamannya di Surabaya telah
memberi-kan kepadanya pengertian terhadap bahayanya perpecahan suatu bangsa. Oleh karena
itu, pemikirannya dipusatkan pada masalah terjaminnya persatuan dan kesatuan. Hal
ini dapat dilihat ketika ia mendasarkan konsep bangsa pada teori Renan, yang
mengatakan bahwa;
“…Bangsa itu menurut pudjngga ini adalah suatu njawa, suatu azas akal, jang terjadi dari dua hal: pertama-tama rakjat itu dulunja harus bersama-sama mendjalani satu riwajat: kedua rakjat itu sekarang harus mempunjai kemauan, keinginan hidup mendjadi satu. Bukanja djenis (ras), bukanja bahasa, bukanja
30
Lebih lengkap lihat Yulianto Sigit Wibowo, Marhainisme Ideologi Perjuangan Soekarno,
(Yogyakarta: Buana Pustaka, 2005), h. 28. 31
agama, bukanja persamaan butuh, bukanja pula batas-batas negeri jang mendjadi “Bangsa” itu...”32
Dari teori Renan tersebut di atas, oleh Soekarno dijadikan sebagai konsep
nasionalisme, dalam artian luas. Bukan nasionalisme sempit. Secara subtansial
nasionalisme Soekarno berangkat dari suatu bangsa, yaitu rakyat. Pengertian rakyat di
sini adalah sekumpulan manusia yang secara histories mempunyai kesamaan riwayat,
kemauan dan keinginan untuk menjadi satu,33 melepaskan dan memerdeka-kan diri
dari cengkraman penjajah.
Pada tanggal 17 Agustus 1945, Soekarno bersama Mohammad Hatta
memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, yang selanjutnya kedua tokoh tersebut
dipilih sebagai presiden dan wakil presiden, Soekarno sebagai presiden dan
Mohammad Hatta sebagai wakil presiden, yang secara resmi dilantik pada tanggal 16
Desember 1949. Searas perputaran waktu, maka tanggal 17 Agustus 1959, presiden
Soekarno menyampaikan pidato tahunan. Pidato itu diberinama Manifesto Politik
(MANIPOL). Soekarno mengingatkan kepada Lahirnya Pancasila, ia juga berbicara tentang gotong-royong dalam Pancasila. Atas dasar itulah ia memberikan kebijakan
pemerintahannya, yang dikenal dengan istilah USDEK, singkatan dari UUD 1945, Sosialisme Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin dan Keperibadian
Indonesia. MANIPOL-USDEK oleh Soekarno dinyatakan sebagai pelaksanaan
Pancasila.
32
Soekarno, Dibawah Bendera Revolusi, (Djakarta: Gunung Agung, 1965), h. 3, lihat juga pada Soekarno, Panca Azimat Revolusi: Nasakom, Pancasila, Manipol Usdek, Trisakti Tavip, Berdikari, (Ciputat: Totalitas, 2002), h. 12-13.
33
C. Ideologi dan Konsep Dasar Pemikiran Politik Soekarno (NASAKOM)
Atas dasar konsep kebangsaannya, Soekarno sering disebut manusia sintesa,
karena ia merupakan personifikasi dari tiga aliran idiologi yang berkembang di
Indonesia ketika itu: Nasionalisme, Islam dan Komunisme.34 Menurut Hatta dan
Sjahrir, idiologi Soekarno bersifat “Soekarnois”. Sementara yang menjadi dasar
pemikiran politiknya yaitu berangkat dari penentangannya terhadap kapitalisme dan
imperialisme. Kebencian ini dapat dilihat melalui kritikannya, menurut ia kapitalisme
adalah:
“…sistem pergaulan hidup yang timbul dari cara produksi yang memisahkan kaum buruh dari alat-alat produksi…kapitalisme timbul dari cara priduksi yang tidak sampai ketangan kaum buruh, melainkan jatuh didalam tangan kaum majikan. Kapitalisme, oleh karenanya pula, menyebabkan akumulasi kapital, konsentrasi kapital, sentralisasi capital. Kapitalisme mempunyai arah kepada verelending…”35 (pemiskinan).
Kritik selanjutnya juga menghujani imperialisme, karena ia melihat bahaya
imperialisme yang menyebabkan terjadinya segala kesengsaraan bangsa, pemiskinan
dan bahkan ruang lingkup kebebasan maupun pembangunan di Indonesia sangat
dibatasi. Ia mengidentikan imperialisme dengan kolonialisme, menurutnya,
“imperialisme juga suatu faham, imperialisme juga suatu pengerian. Ia (imperialisme,
peny) bukan B B (pejabat), bukan pemerintah, bukan gezag (penguasa), bukan badan apapun juga. Ia adalah satu nafsu, suatu sistem menguasai atau mempengaruhi
34
Yatim, Soekarno, Islamisme dan Nasionalisme, h. 48 35
ekonomi bangsa atau negeri”.36 Pandangan hidupnya selalu untuk perjuangan
mempersatukan bangsa. Oleh karena itu, upaya memerangi kapitalisme dan
imprealisme, Soekarno mencoba mengawinkan tiga entitas idelogis yang berkembang
ketika itu, yakni Nasionalisme, Islam dan Komunisme atau yang kemudian lebih
dikenal istilah NASAKOM.
Nasionalisme berasal dari kata nation yang berarti bangsa. Bangsa oleh Badri Yatim, dibagi menjadi dua pengertian, yakni: pengertian antropologis-sosiologis dan
pengertian politis.37 Bangsa dalam pengertian politis inilah yang kemudian oleh
Soekarno dijadikan sebagai konsep dasar nasionalisme.
Untuk merumuskan konsepnya (nasionalisme), Soekarno mengutip pendapat
Renan, bahwa syarat bangsa ialah kehendak akan bersatu, orang-orang merasa diri
bersatu dan mau bersatu; menurut Otto Bauer, bangsa adalah satu kesatuan perangai
yang timbul karena persatuan nasib; dan menurut Ki Bagus Hadikusumo, bangsa
adalah persatuan antara orang dan tempat.38 Dari ketiga pendapat tersebut, oleh
Soekarno dipadu menjadi satu pengertian, sehingga diakuinya sebagai konsepnya,
bahwa nasionalisme ialah rasa ingin bersatu, persatuan perangai dan nasib serta
persatuan antara orang dan tempat.
Konsep Islamisme yang dimaksudkan Soekarno dapat dilihat dari
pemaparan-nya, sebagai berikut:
36
Soekarno, Indonesia Menggugat, h. 8. 37
Yatim, Soekarno, Islamisme dan Nasionalisme, h. 57. 38
“Islam jang sedjati tidaklah mengandung azas anti-nasionalis; Islam jang sedjati tidaklah bertabiat anti-sosialistis. Selama kaum Islamis memusuhi faham-faham Nasionalisme jang luas-budi dan marxisme jang benar, selama itu kaum Islamis tidak berdiri diatas Sirothol Mustaqim;… kita sama sekali tidak mengatakan jang Islam itu setudju pada Materalisme atau perbendaan…. Kita hanja mengatakan, bahwa Islam jang sedjati itu mengandung tabiat-tabiat jang sosialistis…”.39
Islam yang dipahami Soekarno lebih bercorak rasional-liberal, gagasan
rasionalisasi Islamnya timbul karena banyak mempelajari karya-karya orientalis pada
waktu pembuangannya di Ende. Soekarno mulai berani melakukan reinterprestasi
nilai-nilai dalam Islam, sehingga pemahamannya sangat berbeda dari tokoh Islam
lainnya. Ia mengatakan bahwa nilai-nilai marxisme juga dikandung dalam Islam,
seperti prinsip-prinsip kesamarataan, demokrasi, baik dalam bidang politik, sosial dan
ekonomi. Akibat cara pandang yang berbeda, Soekarno selanjutnya mendapat kritikan
yang sangat tajam oleh Abdul Qahhar Mudzakkir dalam sebuah karyanya yang diberi
judul, Revolusi Ketatanegaraan Indonesia Menudju Persaudaraan Manusia,
Mudzakkir mengatakan:
“Soekarno memang tidak mengenal Agama (Islam, peny), sebab Agama hanja diteropong oleh Soekarno dari djauh, dan Agama hanja didjadikan “topeng politik” oleh Soekarno…”40
Lebih pedas lagi, Mudzakkir berkata tentang Soekarno:
“Soekarno tidak mengenal baik Islam Soekarno hanja melihat Islam dari luar Soekarno hanja mengenal kulitnja Islam
Soekarno hanja mengenal nama Islam, menjebabkan Soekarno tidak tahu Nasionalisme sedjati…”.41
39
Soekarno, Dibawah Bendera Revolusi, h. 10. 40
Kritikan tersebut sebetulnya tidak ada persoalan yang signifikan, cuma
persoalannya terletak pada cara dan pendekatan dalam rangka memahami Islam.
Soekarno lebih mendekatkan pada rasio dalam memahami Islam. Seperti, oleh
Soekarno teori marxisme sudah dimodifikasi dalam bentuk yang lebih realistis dan
toleran, marxisme yang ada di Indonesia adalah marxisme yang mempercayai
keberadaan Tuhan, karena ia menggunakan teori marxisme hanya sebagai alat
pergerakan perjuangan melepas rakyat dari penderitaan belenggu feodal.
Munculnya ide pengawinan tiga ideologi ini, juga berawal dari rasa
kekecewaan Soekarno atas terjadinya perpecahan di tubuh SI (Syarikat Islam), yang
berakhir dengan berdirinya Partai Komunis Indonesia. Jika dipotret secara kritis,
kondisi objektif pada waktu itu menunjukan bahwa ideologi komunisme42 merupakan
ideologi yang memiliki kekuatan paling nyata di dunia dalam mendobrak belenggu
rezim kapitalisme dunia.
Menyaksikan situasi internal dari tokoh pergerakan yang sedang dilanda
konflik, karena masalah-masalah ideologi Soekarno mengingatkan:
“…pergerakan marxistis di Indonesia ini, ingkarlah sifatja kepada pergerakan jang berhaluan Nasionalistis, ingkarlah kepada pergerakan jang berazas ke-Islam-an. Malah beberapa tahun jang lalu, keinginan ini sudah mendjadi suatu pertengkaran perselisihan faham dan pertengkaran sikap, mendjadi pertengkaran saudara… bahwa dalam pertengkaran jang demikian itulah letaknja kekalahan kita…”.43
41
Qahhar Mudzakkir, Revolusi Ketatanegaraan Indonesia, h. 65. 42
Di Indonesia ajaran komunisme mulai masuk sekitar tahun 1913, tepatnya menjelang perpecahan perang Dunia I, yang dibawa oleh H.J.F.M. Sneevliet. ia adalah seorang Belanda yang sebelumnya pemimpin organisasi Buruh angkatan dan anggota Social Democratische Arbeiders
(SDAP) yang berhaluan marxisme. 43
Atas dasar itulah, Soekarno mencoba memberikan tawaran alternatif baru bagi
wadah pergerakan perjuangan nasional Indonesia, dengan berdirinya Partai Nasional
Indonesia (PNI) pada tanggal 4 Juli 1927 yang berideologikan Marhaenisme.44
Soekarno mengidentifikasikan marhaenisme sebagai marxisme yang
disesuai-kan dengan kondisi Indonesia. Maka, ternyata ia terjebak pada kesulitan berfikir
secara konsisten dalam alur pikir marxisme, akibatnya teori marhaenisme menjadi
utopis dan kehilangan arah.45 Hal tersebut berawal dari sebuah perbedaan subtansial
masing-masing konsep, seperti marxisme akan melahirkan masyarakat sosialis dan
pada tahap berikutnya akan menjadi masyarakat komunis, maka meniscayakan negara
akan lenyap. Berbeda dari konsep marhaenisme Soekarno, negara sangat diperlukan.
Hal ini pernah tertuang dalam amanat Pemuda Marhaenisme, pada 20 Desember
1966;
“…,bahwa negara nasional adalah mutlak perlu bagi wadah, …negara adalah wadah. Negara apapun, negara adalah wadah…”.46
Apalagi jika dilihat dari kacamata sosiologis, marhaenisme versi Soekarno
tidak sesuai yang dicita-citakan sosialisme. Seorang Marhaen dari keterangan
Soekano, bukanlah seseorang yang tidak memiliki alat-alat produksi tetapi dalam
ukuran serba kecil, tanah kecil, modal kecil. Seorang marhaen sulit dinamakan
44
Marhaenisme adalah nama seorang petani miskin yang diketemukan oleh Soekarno pada waktu ia masih studi di Bandung. Lebih lengkap baca: Adams, Bung Karno, h. 87.
45
Wibowo, Marhainisme Ideologi, h. 78. 46
seorang sosialis dan lebih tepat masuk kedalam Petit Gourgeoisie atau berjuasi kecil.47
Walaupun demikian, bukan berarti konsep Marhaenisme merupakan sebuah
konsep pemikiran semu yang tak berarti sebab dalam perkembangan selanjutnya
prinsip-prinsip marhaenisme juga terangkum dalam Pancasila. Karena ide sentral dari
marhaenisme yang mencakup aspek dari demokrasi politik dan ekonomi ialah
partisipasi rakyat. Dengan begitu, dalam demokrasi politik dituntut tersedianya ruang
bagi setiap rakyat untuk terlibat dan berpartisipasi dalam system politik, begitu
halnya dengan demokrasi ekonomi, setiap orang memiliki hak yang sama atas kerja
yang sama. Di sini, Soekarno memberi penegasan terhadap konsep
sosio-nasionalisme dan sosio-demokrasi, yakni untuk membebaskan seluruh rakyat dari
belenggu kemiskinan dan kesengsaraan. Hal ini diungkapkan oleh Soekarno yang
dikutip oleh Yulianto Sigit Wibowo. Dalam pernyataannya, Soekarno mengatakan:
“sosio-nasionalisme adalah nasionalisme marhaen dan menolak tiap bentuk borjuasi yang menjadi sebabnya kepincangan ekonomi masyarakat. Sosio-nasionalisme adalah suatu Sosio-nasionalisme yang bermaksud mencari keberesan politik dan keberesan ekonomi, keberesan negeri dan keberesan rejeki”.48
Disamping itu, konsep marhaenisme telah diterima oleh kader-kader PNI yang
didirikan Soekarno sebagai ideologi. Soekarno menjelaskan keadaan masyarakat
Indonesia dan kenyataan yang terjadi, bahwa masyarakat Indonesia seringkali
tertindas dan dihisap oleh kapitalistik, imprealisme dan kolonialisme. Oleh sebab itu,
47
Ignas Kleden, Menulis Politik: Indonesia Sebagai Utopia, (Jakarta: Kompas, 2000), h. 238. 48
menurut Soekarno salah satu alat yang paling epektif untuk mendobrak penindasan
tersebut ialah dengan menggunakan teori yang diidentikan dengan teori marxisme.
Sebab marhaenisme menolak segala bentuk borjuasi yang merupakan produk
masyarakat kapitalis. Penolakan terhadap bentuk borjuasi ini disebabkan oleh
kecenderungan dari borjuisme dalam menciptakan kesenjangan masyarakat, yang
BAB III
KONSEP DASAR NEGARA
A. Pengertian Konsep Dasar Negara
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, konsep ialah ide atau pengertian yang
diabstrakan dari pristiwa-pristiwa konkret.49 Lebih spesifik lagi, menurut B.N.
Marbun dalam karyanya Kamus Politik, konsep yaitu pokok pertama yang mendasari
seluruh pemikiran.50 Sedangkan Dasar Negara ialah asas, fundamen, filsafat, pikiran
yang sedalam-dalamnya tentang landasan suatu negara. Pendapat ini sesuai dengan
pidato Soekarno, yang mengatakan:
“…philosofische grondslag (Dasar Filoshofi Negara, peny) itulah fundamen, filsafat, pikiran yang sedalam-dalamnya, jiwa hasrat yang sedalam-dalamnya untuk di atasnya didirikan gedung Indonesia merdeka yang kekal dan abadi…”.51
Dari pengertian tersebut di atas dapat ditarik benang merahnya bahwa Konsep
Dasar Negara adalah ide, pokok utama tentang sebuah rumusan fundamen dan suatu
format awal dalam mencapai kesepakatan-kesepakatan tentang landasan suatu negara
merdeka demi menuju terwujudnya masa depan negara yang menjadi cita-cita
bersama.
49
P dan K, Kamus Besar Bahasa Indonesia, ed- 3, (Jakarta: Balai Pustaka, 2002), h. 588. 50
B.N. Marbun, Kamus Politik, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1996), h. 345. 51
Pancasila sering disebut dasar falsafah, philosofische grondslag, dan ideologi negara Indonesia. Dalam pengertian ini, Pancasila merupakan dasar negara atau dasar
untuk mengatur penyelenggaraan negara, Pancasila sering disebut weltanschaunng,
yang berarti ideologi atau pandangan hidup. Sementara, pengertian Pancasila sebagai
dasar negara dapat dilihat melalui bunyi Pembukaan UUD 1945. Karena dilihat dari
sisi morfologi bahasa Indonesia kata “berdasar” berasal dari kata dasar, yang berawal
ber menjadi berdasar. Seperti yang secara tegas berbunyi:
“…maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu undang-undang dasar negara Indonesia yang berbentuk dalam suatu susunan negara Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada:…”52
Dengan demikian, sebagai dasar negara Pancasila dituntut untuk tetap
konsisten, koheren dan koresponden, termasuk juga, Pancasila harus menjadi
penyalur dan penyaring kepentingan horizontal, yakni antar masyarakat dengan
masyarakat lainnya dan vertikal adalah antara pemerintah dan masyarakat bawah.
B. Sejarah Kelahiran dan Perumusan Pancasila
Rumusan dasar negara Indonesia berawal dari sidang pertama Badan
Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) atau
Dokuritzu Zyunbi Tyoosakai,53 yang berlangsung dari tanggal 29 Mei sampai 1 Juni
52
Rumusan resmi Pancasila, lihat Endang Saifuddin Anshari, Piagam Jakarta 22 Juni 1945: Sebuah Konsensus Nasional tentang Dasar Negara Repulik Indonesia (1945-1959), (Jakarta: Gema Insani Press, 1997), h. 161.
53
1945, Badan tersebut membahas prinsip-prinsip dasar negara yang akan didirikan.
Ada pertanyaan fundamental dari dr. Radjiman, yang kebetulan pada waktu itu ia
sebagai ketua dari badan tersebut. Pertanyaan tersebut dilontarkan dalam pidato
pembukaan sidang, yaitu apakah dasar negara yang akan dibentuk itu ?
Ternyata pertanyaan tersebut mendapat respon positif, sehingga para anggota
sidang dengan jumlah 60 orang, selain ketua dan wakil ketua, ikut berpartisipasi
dalam merumuskannya. Ternyata perbedaan pendapat pun tidak bisa dielakan,
seluruh perwakilan seperti para golongan priyayi Jawa, pedagang Sumatera, golongan
Petani, kelompok Islam dan nasionalis. Semua kelompok mempunyai gagasan
sendiri-sendiri yang sulit untuk dipertemukan. Namun paling tidak, terdapat dua
kelompok besar yang saling berbeda paham ketika itu dan tetap bersikokoh
mempertahankan landasan negara yang mereka usung, yakni kelompok Islam; yang
menginginkan Islam menjadi dasar dan rujukan dalam sebuah negara Indonesia.
Kelompok lain, yaitu kelompok sekuler menghendaki dasar negara ialah kebangsaan.
Sekitar tiga hari perdebatan tajam itu terus berhujam, maka pada tanggal 1
Juni 1945, Soekarno menyampaikan gagasan dalam pidatonya, yang kemudian
menjadi amanat terkenal dengan sebutan Lahirnya Pancasila. Soekarno menawarkan
lima prinsip sebagai jalan keluar: Indonesia bukan negara agama dan bukan negara
sekuler, tetapi negara yang berdasarkan Pancasila.54 Menurut Kahin, Soekarno
Pergumulan Lahirnya Republik: Nasionalisme dan Revolusi di Indonesia, cet. II, (tanpa kota: UNS Press, 1995), h. 145.
54
menggali lima prinsip dasar, Pantja Sila, yang dirasakan akan membimbing dan
memenuhi syarat sebagai dasar filsafat suatu Indonesia yang merdeka.55 Pidato
Soekarno dalam dokumen (risalah) BUPKI dan PPKI :
“…Saudara-Saudara ! “Dasar-Dasar Negara” telah saya usulkan. Lima bilangannya. Inikah Panca Darma ? Bukan ! nama Panca Darma tidak tepat disini. Darma berarti kewajiban, sedangkan kita membicarakan dasar. Saya senang kepada simbolik. Simbolik angka pula. Rukun Islam lima jumlahnya. Jari kita lima setangan. Kita mempunyai panca indra. Apa lagi yang lima bilangannya ?... sekarang banyaknya prinsip: kebangsaan, internasionalisme, mufakat, kesejahteraan, dan ke-Tuhanan, lima pula bilangannya.
Namanya bukan Panca Darma, tetapi saya namakan ini dengan petunjuk seorang teman kita ahli bahasa-namanya ialah Panca Sila. Sila artinya asas atau dasar dan diatas kelima dasar itulah kita mendirikan Negara Indonesia kekal dan abadi...”.56
Kelima dari dasar Pancasila, menurut Soekarno bisa diperas menjadi tiga
prinsip (tri sila). Dua prinsip pertama, yaitu nasionalisme dan internasionalisme atau
peri kemanusiaan, menurut Soekarno bisa diperas menjadi satu prinsip, yakni
sosio-nasionalisme. Begitupun selanjutnya, dua prinsip berikutnya demokrasi atau
permusyawaratan dan keadilan social dapat diperas menjadi satu prinsip ialah prinsip
demokrasi. Hiangga yang ada kini menjadi tiga perinsip adalah
sosio-nasionalisme, sosio-demokrasi dan Ketuhanan Yang Maha Esa. Akan tetapi, ketiga
perinsip (tri sila) ini masih bisa diperas menjadi satu perinsip (eka sila), yaitu perinsip
“Gotong royong”. Seperti yang pernah diungkapkannya:
55
Kahin, Refleksi Pergumulan Lahirnya Republik, h. 154-155. 56
“…Jika saya peras yang lima menjadi tiga dan yang tiga menjadi satu, maka dapatlah saya satu perkataan Indonesia yang tulen, yaitu perkataan gotong royong. Negara yang kita dirikan haruslah negara gotong royong ! alangkah hebatnya ! negara gotong royong...”57
Untuk mengungkapkan istilah ini (gotong royong), Soekarno melanjutkankan
pidatonya dengan mengatakan:
“Gotong royong adalah faham yang dinamis, lebih dinamis dari “kekeluargaan”, saudara-saudara. Kekeluargaan adalah satu faham yang statis, satu amal, satu pekerjaan,… Gotong royong adalah membanting tulang bersama, memeras keringat bersama, pekerjaan Bantu-membantu bersama.
Ho-lopis-kuntul-baris buat kepentingan bersama ! itulah prinsip gotong royong !
Prinsip gotong royong diantara yang kaya dan yang miskin, antara Islam dan yang Kristen, antara yang bukan Indonesia tulen dengan peranakan yang menjadi bangsa Indonesia…”.58
Pidato tersebut ternyata mendapat respon yang hangat dan positif oleh para
anggota, Soekarno berhasil memberi jalan keluar dari kebuntuan, polemik dan
desakan waktu yang amat dekat ketika itu. Dalam pernyataan itu, maka usaha-usaha
Soekarno telah mencapai klimaks-nya dalam bentuk nyata. Dipotret dari sisi
intelektualitas, sesungguhnya pidato Soekarno tidak jauh berbeda dengan
pemikiran-pemikiran sebelumnya, yakni nasionalisme, Islam dan marxisme, tetapi dengan
tambahan pada penekanan pentingnya keadilan sosial dan kepercayaan kepada Tuhan
sebagai prinsip dasar.
57
Dikutif dari Anshari, Piagam Jakarta 22 Juni 1945, h. 17. juga dapat dilihat Leggi, Sukarno Biografi Politik, h. 216.
58
Segera setelah pidato Soekarno di depan para anggota badan penyelidik yang
menjadi cikal bakal kelahiran pancasila, membentuk panitia kecil yang terdiri dari
sembilan orang.59 Tugas panitia ini adalah merumuskan kembali pancasila
(berdasarkan pidato Soekarno) dan mempergunakan teks tersebut untuk
memprok-lamirkan Indonesia Merdeka. Setelah melalui pembicaraan serius, akhirnya panitia
kecil ini berhasil membentuk sebuah rumusan yang kemudian terwujud dalam istilah
Muhammad Yamin dengan sebutan “the Jakarta Charter” (Piagam Jakarta),
sedangkan Soekiman menyebutnya sebagai Gentlemen Agreement (semacam perjanji-an luhur) yperjanji-ang ditperjanji-andatperjanji-angperjanji-ani pada tperjanji-anggal 22 Juni 1945. Segera setelah Piagam
Jakarta terbentuk, pada tanggal 10 Juli 1945 dalam sidang paripurna BPUPKI,
Soekarno menyampaikan hasil dari pembicaraan panitia sembilan itu:
“…dengan berdasarkan kepada: Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya, menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan-perwakilan serta dengan mewujudkan suatu keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia”.60
Adapun rancangan preambul yang diperuntukan untuk memproklamasikan
Indonesia telah disetujui sebulat-bulatnya oleh panitia sembilan. Isi preambul ini
yang kelak akan diumumkan pada 17 Agustus 1945 sebagai wujud bahwa
kemerdekaan Indonesia semuanya tidak terlepas atas berkat Tuhan Yang Maha
Kuasa. Preambul yang berisikan empat alinea ini disebutkan adanya dorongan yang
59
Panitia kecil tersebut nama-namanya ialah: Soekarno, Mohammad Hatta, A.A. Maramis, Abikoesno Tjokrosoejono, Abdul Kahar Muzzakir, Haji Agus Salim, Achmad Soebarjo, Abdul Wahid Hasjim dan Muhammad Yamin.
60