tg. 26 Pebroeari 1946. Sekretaris Negara, A. G. PRINGGODIGDO. i ) L jh a t p e r a tu r a n P e m e rin ta h n o . 8 th . 1946 (h . 191 d a r i b a g ia n in i).
a. Pendjelasan.
B.R.I, th. II no. 9, h. 86— 89-PENDJELASAN OEMOEM.
I. Berdasarkan pasal II Atoeran Peralihan Oendang-oendang Dasar berhoe- boeng dengan Peratoeran Presiden Repoeblik Indonesia tertanggal 10 Oktober 1945 No. 2 (Berita Repoeblik Indonesia Tahoen I No. 1), maka sekarang berlakoe semoea peratoeran hoekoem pidana jang ada pada tanggal 17 Agoestoes 1945, baik jang asalnja dari pemerintah Hindia- Belanda maoepoen jang ditetapkan oleh pemerintah balatentara Djepang.
Hal ini sekarang ternjata menimboelkan kesoekaran jang dengan singkat akan dioeraikan dibawa ini.
Peratoeran peratoeran jang dikeloearkan oleh pemerintah Hindia- Belanda pada oemoemnja berlakoe boeat seloeroeh Indonesia, sedangkan peratoeran-peratoeran jang ditetapkan oleh pemerintah balatentara Djepang hanja berlakoe boeat sebagian dari Indonesia sadja, oleh karena Indonesia pada zaman Djepang dibagi mendjadi beberapa daerah (Djawa, Soema- tera, Borneo, dll.) jang masing2 mempoenjai pemerintah dan peratoeran- sendiri. Dari sebab itoe maka moengkin soeatoe peratoeran Hindia-Belanda, jang doeloe berlakoe boeat seloeroeh Indonesia, oleh pemerintah Djepang di Djawa dan Madoera diganti seloeroehnja dengan peratoeran baroe, di Soematera hanja sebagian d i g a n t i d m d i Borneo sama sekali tidak diganti.
Moengkin poela boeat tiap3 daerah tentang soeatoe hal oleh pem erin tah daerah Djepang diakan soeatoe peratoeran baroe jang satoe sama lain tidak sama isinja.
Selain dari pada itoe peratoeran hoekoem pidana Hindia Belanda dan Djepang tidak sama sisteemnja.
Sedangkan peratoeran hoekoem pidana Hindia Belanda berdasarkan azas. Nullum delictum, nulla poena sine praevia lege penali (tidak ada pelanggaran dan tidak ada hoekoeman djikalau tidak lebih doeloe ada soeatoe atoeran hoekoem pidana) (lihatlah pasal 1 W etboek van Strafrecht voor Nederlandsch-Indie), maka peratoeran hoekoem pidana D jepang berazas loeas (lihatlah misalnja pasal 14 dan pasal 35 No. 8 Gunsei Keizirei).
Disini tidak akan diroendingkan sisteem manakah sebagai sisteem terlebih baik, akan tetapi soedah barang tentoe, bahwa tidak baik meng- goenakan doea sisteem itoe dalam peratoeran-peratoeran hoekoem pidana, jang bersama-sama berlakoe dalam sesoeatoe daerah.
Lagi poela peratoeran tentang bagian oemoem (algemeene leerstukken) dari hoekoem pidana Hindia-Belanda dan Djepang tidak sama. Didalam praktek peratoeran bagian oemoem dari W etboek van Strafrecht voor Nederlandsch-Indie haroes dipakai djikalau pelanggaran mengenai peratoer an Hindia-Belanda sedang peratoeran bagian oemoem dari Gunsei Keizirei haroes dipergoenakan, djikalau peratoeran Djepang jang dilanggar.
Dirasa ta’ perloe memberi keterangan pandjang lebar, bahwa menjam- poerkan peratoeran-peratoeran hoekoem pidana Hindia-Belanda dan Djepang itoe tidak memoeaskan dan menimboelkan kesoelitan bagi mereka jang haroes mendjalankan hoekoem pidana itoe, lebih-Iebih bagi pegawai polisi jang boekan ahli hoekoem.
Dari sebab itoe tidak mengherankan, bahwa dari beberapa tempat dan pihak dioesoelkan soepaja satoe peratoeran kriminil sadjalah dipakai. Lebih tegas dioesoelkan oleh mereka soepaja peratoeran-peratoeran hoekoem pidana Djepang dihapoeskan.
Memang tidak dapat disangkal, bahwa peratoeran-paratoeran hoekoem pidana Djepang, jang berlakoe ditanah kita, bersifat fasdstisch, lagi poela tidak meroepakan peratoeran jang boelat, kerap kali tidak djelas dan mengandoeng banjak boekti, bahwa peratoeran2 itoe disoesoen dengan tergesa-gesa pada masa jang ta tenang, sedang Gunsei Keizirei kadang2
memaksa hakim mendjatoehkan hoekoeman jang tidak setimbang dengan kesalahan pesakitan, oleh karena beberapa pasal ta’ memberi kesempatan kepada hakim memberi hoekoeman lebih enteng dan pada batas tetloekis dalam pasal2 itoe.
Sebaliknja boleh dikatakan, bahwa peratoeran kriminil Hindia-Belanda, walaupoen tidak sempoerna, tjoekoep lengkap dan pada oemoemnja tidak mengandoeng tjatjat2 seperti dimaksoed diatas, sehingga peratoeran2 ini, sebeloem dapat diselesaikan peratoeran2 hoekoem pidana nasional, boleh dipakai boeat sementara waktoe, sesoedah peratoeran2 itoe dirobah dan ditambah seperloenja.
Berdasarkan pertimbangan2 terseboet dirasa perloe melenjapkan pera toeran8 kriminil Djepang, sehingga boeat sementara waktoe berlakoe lagi peratoeran2 hoekoem pidana Hiindia-Belanda jang ada pada tanggal 8
Maret 1942.
Perloe kiranja diterangkan disini, bahwa jang akan tidak berlakoe lagi itoe, ialah peratoeran3 hoekoem pidana sahadja, jaitoe Gunsei Keizirei dan peratoeran2 Djepang lain jang memoeat „materieel strafrecht”. Peratoeran2
Djepang jang bersifat lain teroes berlakoe.
keadaan perang dengan Negara manapoen, dan keadaan bahaja tidak dinja takan oleh Presiden (lihadah pasal 12 Oendang-oendang Dasar), maka dianggap koerang tepat mengadakan peratoeran2 sebagai „Verordeningen van het Militair Gezag” jang dikeloearkan oleh panglima tertinggi balaten- tara Hindia-Belanda.
Dari sebab didalam praktek disangsikan, apakah peratoeran2 itoe masih berlakoe atau tidak, maka sebaiknja dinjatakan, bahwa oendang® itoe ditjaboet (lihatlah pasal 2 dari rentjana).
III. Tidak perloe diterangkan, bahwa semoea peratoeran jang berlakoe pada tanggal 8 Maret 1942, mestinja satoe demi satoe sedapat-dapat haroes disesoeaikan dengan keadaan sekarang. Hal ini sedapat-dapat dilaksanakan terhadap Kitab oendang-oendang hoekoem pidana (W etboek van Straf- recht voor Nederlandsch-Indie). Tetapi pekerdjaan itoe tidak moengkin sekali goes diselenggarakan terhadap semoea peratoeran.
Berhoeboeng dengan itoe, maka dengan pasal III, IV dan V dari rentjana diberi petoendjoek — walaupoen djaoeh dari sempoerna — kepada mereka jang haroes mendjalankan peratoeran hoekoem pidana sehari-hari, djalan manakah jang haroes ditempoeh oentoek menjesoeaikan peratoeran lama dengan kaadaan sekarang, sebeloem peratoeran2 itoe dapat dirobahatau diganti.
IV. Tentang bahasa., j a n g dipakai d a la m perobahan-perobahan dalam xca oendang-oendang hoekoem pidana, baik kiranja diberi keterangan Se e arnla- Karena kitab terseboet ditoelis dalam bahasa Belanda, maka agar soepaja tidak menimboelkan kekatj auan dalam membatjanja — pero- a an itoe, jang hanja mengenai satoe atau doea perkataan atau sebagian ari pasal atau.ajat, ditoelis poela dalam bahasa Belanda.
V. Selain dari pada perobahan ketjil2 ini, dirasa perloe djoega merobah pasal 171 Kitab oendang-oendang hoekoem pidana seanteronja serta mengadakan beberapa atoeran2 baroe antara lain goena melindoengi masjarakat kita pada zaman pantjaroba ini.
Oleh karena perobahan2 dan tambahan2 jang dimaksoed ini sangat dipengaroehi keadaan sekarang dan kini beloem dapat ditetapkan dengan pasti, apakah peratoeran® itoe seperti jang dioesoelkan sekarang, akan tetap diboetoehkan, djoega boeat kemoedian hari, maka dianggap Iebih tepat memberi tempat kepada pasal-pasal terseboet diloear badan K itab oendang- oendang hoekoem pidana. Pasal-pasal ini ditoelis dalam bahasa Indonesia (lihatlah pasal IX, X. XI, XII, XIII dan X V ).
VI. Hingga kini terdjemahan nama „Wetboek van Strafrecht voor Nederlandsch-Indie” dalam bahasa Indonesia tidak sama. Nama2 jang dipakai ialah antara lain: „Kitab Oendang-oendang Hoekoem Siksa”, „Kitab Oendang oendang Hoekoem”, „Kitab Oendang-oendang Hoekoem Pidana” dsb.
Oentoek mentjapai persamaan dalam terdjemahan nama terseboet, dipandang perloe menetapkan terdjemahan resmi dengan oendang-oendang (lihatlah pasal 6).
Istilah „hoekoem pidana” dalam arti „strafrecht” ialah istilah jang ditetapkan oleh Panitia istilah dari Panitia penjelenggara oendang8 di Departemen Kehakiman pada zaman Djepang.