Keterangan EDC :Ekstrak Daun Cengkeh
Tabel 2 di atas menunjukkan bahwa pH yang diperoleh pada sediaan formula EDC 1%, EDC 2%, EDC 3%, EDC 4%, EDC 5%, EDC 6%, dan Soffel adalah 6,3 – 7,1 Menurut Balsam (1972), pH untuk sediaan krim kulit tangan dan badan adalah 5-8, sehingga formula di atas memenuhi syarat pH kulit.
3.6.2 Uji Tipe Emulsi Sediaan
Hasil percobaan untuk pengujian tipe emulsi dengan menggunakan biru metil, tertera pada table 3
Tabel 3. Data Hasil Uji Tipe Emulsi Sediaan
NO FORMULA HASIL PENGAMATAN KETERANGAN
1 EDC 1% Larutan biru merata Emulsi O/W
2 EDC 2% Larutan biru merata Emulsi O/W
3 EDC 3% Larutan biru merata Emulsi O/W
4 EDC 4% Larutan biru merata Emulsi O/W
5 EDC 5% Larutan biru merata Emulsi O/W
6 EDC 6% Larutan biru merata Emulsi O/W
7 SOFFEL Larutan biru merata Emulsi O/W
Menurut Ditjen POM (1985) penentuan tipe emulsi pada suatu sediaan dapat dilakukan dengan menggunakan biru metal, larutan bila diaduk akan memberikan warna biru, maka tipe emulsi tersebut adalah M/A
Tabel 3 di atas memperlihatkan bahwa pengujian tipe emulsi semua formula dengan konsentrasi 1% hingga 6% dan Soffel menunjukkan larutan berwarna biru, berarti biru metil dapat larut dalam emulsi atau krim tersebut.
Dengan demikian sediaan krim yang dibuat mempunyai tipe emulsi M/A.
3.6.3 Uji Stabilitas Sediaan
Menurut Ansel (1989) dan Baie.S.H (1985) suatu emulsi dianggap tidak stabil secara fisik, apabila pada penyimpanan terjadi “UP ward creaming” yaitu pembentukan masa krim ke atas yang disebabkan berat jenis fase terdispersi lebih kecil dari pada berat jenis fase pendispersi, sebaliknya “down ward creaming” yaitu pembentukan masa krim ke arah bawah, hal ini disebabkan berat jenis terdispersi lebih besar dari pada fase pendispersi. Selain itu suatu emulsi menjadi tidak stabil akibat penggumpalan dari pada glanul - granul (bulatan-bulatan) dari fase terdispersi. Rusak atau tidaknya suatu sediaan yang mengandung bahan yang mudah teroksidasi dapat diamati dengan adanya perubahan warna, perubahan bau, dan kemungkinan perubahan fase/tipe emulsi. Untuk mengatasi kerusakan bahan akibat adanya oksidasi dapat dilakukan dengan penambahan suatu bahan antioksidan. Kerusakan juga dapat ditimbulkan oleh jamur atau mikroba, untuk mengatasi hal tersebut dapat dilakukan dengan penambahan anti mikroba yang banyak digunakan adalah kombinasi nipagin dan nipasol.
Berdasarkan data yang diperoleh bahwa masing-masing formula yang telah diamati selama 8 minggu memberikan hasil yang baik,dapat dilihat pada table 4 dibawah ini.
Tabel 4. Data Hasil Uji Terhadap Kestabilan Sediaan Pada Berbagai Waktu Penyimpanan. No Formula Pengamatan setelah Selesai dibuat 1 minggu 4 minggu 6 minggu 8 Minggu w y z w y z w y z w y z w y Z 1 EDC 1% -2 EDC 2% -3 EDC 3% -4 EDC 4% -5 EDC 5% -6 EDC 6% -7 Soffel -Keterangan : EDC : Ekstrak Daun Cengkeh
x : Perubahan warna y : Perubahan bau z : Perubahan fase - : Tidak
Tabel 4 menunjukkan bahwa tidak adanya perubahan warna, perubahan bau, serta tidak terjadi pemisahan fase (pecahnya emulsi). Sehingga semua
formula dapat digunakan untuk pembuatan sediaan krim.
3.6.4 Uji Homogenitas Sediaan
Dari percobaan yang telah dilakukan pada sediaan krim pengusir nyamuk dikatakan homogen. Perlakuan yang sama juga dilakukan terhadap sediaan pembanding yaitu formula lotion soffel. hasil yang diperoleh menunjukkan tidak
adanya butir butiran pada kepingan kaca.
3.6.5 Uji Iritasi Terhadap Kulit Sukarelawan
Ada berbagai reaksi negatif (efek samping) yang disebabkan oleh krim kosmetik yang tidak baik pada kulit, untuk mengetahui ada tidaknya efek samping tersebut maka dilakukan uji seperti pada tabel 5 berikut ini.
Tabel 5. Data Hasil Uji Iritasi Terhadap Kulit Sukarelawan
No Pernyataan Sukarelawan
I II III IV V VI
1 Iritasi pada kulit - - -
-2 Gatal pada kulit - - -
-3 Kulit menjadi kasar - - -
-Keterangan : (-) = tidak terjadi iritasi
Menurut Waasitaatmaja (1997), uji kulit yang dilakukan untuk mencegah terjadinya efek samping terhadap kulit adalah dengan menggunakan kosmetik tersebut di bagian bawah lengan atau di belakang telinga dan dibiarkan selama 24 jam. Tabel 5 memperlihatkan tidak adanya efek samping berupa iritasi, gatal, dan pengkasaran pada kulit yang ditimbulkan oleh sediaan krim pengusir nyamuk. Salah satu sebab tidak adanya efek samping karena pH sediaan krim pengusir nyamuk yang dibuat adalah 6,3 – 7,1. pH ini sesuai dengan ketentuan pH kulit yaitu 5 – 8 , sehingga kulit normal masih biasa menerima pH tersebut.
3.6.6 Uji Ukuran Partikel Sediaan
Penentuan ukuran partikel formula sediaan ditentukan dengan menggunakan mikroskop bermikrometer pada perbesaran 10 x 40, dilakukan pada berbagai waktu yaitu sediaan yang baru selesai pembuatan, 1 minggu sampai 8
minggu selesai pembuatan.. Hasil yang diperoleh tertera pada table 6 sebagai berikut.
Tabel 6. Data Hasil Uji Ukuran Partikel Formula Sediaan Pada Berbagai Waktu Penyimpanan Ukuran partikel (µ) Formula Selesai dibuat Pada Minggu ke 1 2 3 4 5 6 7 8 EDC 1% 0,87 0,78 0,84 0,88 0,92 0,96 1,01 1,05 1,08 EDC 2% 0,82 0,82 0,87 0,92 0,96 1,00 1,04 1,09 1,13 EDC 3% 0,86 0,86 0,92 0,97 1,02 1,06 1,10 1,14 1,18 EDC 4% 0,85 0,85 0,90 0,94 0,99 1,04 1,09 1,13 1,16 EDC 5% 0,80 0,86 0,91 0,97 1,01 1,06 1,09 1,14 1,18 EDC 6% 0,90 0,96 0,95 1,00 1,03 1,09 1,13 1,17 1,20 Keterangan : EDC : Ekstrak Daun Cengkeh
Tabel 6 menunjukkan bahwa ukuran partikel formula EDC 1%, EDC 2%, EDC 3%, EDC 4%, EDC 5%, dan EDC 6%, yang relatif stabil pada penyimpanan. Menurut Ditjen POM (1985), Ukuran partikel emulsi adalah berkisar antara 0,1 – 10 µ, maka ukuran partikel formula di atas memenuhi syarat ukuran partikel emulsi.
Partikel fase dispersi secara terus menerus akan cendurung membentuk aglumurat, lama kelamaan akan membentuk massa terpisah sebagai fase kontiniu kedua. Untuk memperlambat terjadinya pemisahan tersebut diperlukan penambahan zat pengemulsi. Dalam kosmetik diperlukan zat yang sesuai, sehingga disamping faktor stabilitas juga tidak mengganggu bentuk akhir, yang meliputi estetika dan keamanan sediaan.
3.7 Uji Kemampuan Sediaan Sebagai Krim Pengusir Nyamuk Pada Kulit Uji kemampuan sediaan sebagai pengusir nyamuk dilakukan dengan cara pengolesan 2 g krim pada setiap lengan sukarelawan sebanyak 6 orang yang telah diuji efek iritasi dan tidak menimbulkan reaksi iritasi. Setelah dilakukan pengolesan, lengan sukarelawan dimasukkan ke dalam kotak kassa yang telah dipersiapkan berisi 20 ekor nyamuk dewasa. Kemudian dibiarkan selama 2 jam, diamati dan dihitung jumlah nyamuk yang hinggap
Tabel 7. Data Hasil Uji Kemampuan Krim Daun Cengkeh Mengusir Nyamuk Pada Kulit
Bahan uji nyamuk yang digunakan (ekor) rata-rata nyamuk yang hinggap (%) Standar deviasi Nyamuk yang hinggap sebenarnya (%) EDC 1% 20 78 2.74 77.50 ± 4.51 EDC 2% 20 60 3.16 60.00 ± 5.21 EDC 3% 20 32 2.58 31.67 ± 4.25 EDC 4% 20 16 3.76 15.83 ± 6.20 EDC 5% 20 5 2.04 0.83 ± 3.36 EDC 6% 20 - 0.00 0.00 ± 0.00 Soffel 20 - 0.00 0.00 ± 0.00
Dari tabel 7 di atas dapat dilihat bahwa krim ekstrak daun cengkeh memiliki kemampuan untuk mengusir nyamuk yang setara dengan sediaan lotion sofel yang beredar dipasaran yaitu tidak ada satupun nyamuk yang hinggap pada lengan yang diolesi sediaan tersebut. Hal ini kemungkinan nyamuk tidak menyukai aroma yang diberikan oleh daun cengkeh dengan konsentrasi 6% yang terkandung di dalam krim, sedangkan berdasarkan wawancara dengan sukarelawan yang mempergunakan krim ini sebagai iji coba mengatakan konsistensi dan aroma krim ini menyenangkan.
Dilihat dari uji stabilitas sediaan, seluruh sediaan stabil pada penyimpanan sampai minggu ke 8 maka, krim daun cengkeh dengan konsentrasi 6% dikatakan cukup baik dijadikan sebagai krim pengusir nyamuk.
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN 4.1 Kesimpulan
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa :
1. Golongan senyawa yang dikandung daun cengkeh adalah gologan senyawa flavonoida, steroida,tannin, dan minyak atsiri.
2. Ekstrak daun cengkeh dapat diformulasikan menjadi sediaan krim dengan emulsi tipe M/A dan diperoleh pH 6,3 – 7,1 dan stabil secara fisik pada penyimpanan selama 8 minggu.
3. Hasil uji kemampuan krim daun cengkeh sangat baik dalam mengusir nyamuk pada kosentrasi 6% tidak ada satupun nyamuk yang hinggap pada lengan sukarelawan.
4.2 Saran
Disarankan pada peneliti selanjutnya untuk memformulasikan daun cengkeh atau tumbuhan lain yang dapat digunakan sebagai pengusir nyamuk dalam bentuk sediaan yang berbeda misalnya sebagai sediaan lotion atau spray yang saat ini disukai masyarakat dan banyak diperbincangkan
DAFTAR PUSTAKA
Anif. Moh., 2006 , „ Ilmu Meracik Obat „, Yogyakarta . Penerbit Universitas Gadjah Mada. Hal 72
Ansel, H.C., 1989, „ Pengantar Bentuk Sediaan Farmas i‟. Edisi Keempat. Jakarta. Penerbit Universits Indonesia. Hal 387-389
Baie, H.C., 1985, „ Tehnologi Farmaseutik ‟. Pulau Pinang. Penerbit USM. Hal 108-110
Depkes RI, 1995, „ Materia Medica Indonesia‟. Jilid VI, Jakarta. Hal : 297-307, 322-339
Dirjen POM., 1979, „ Farmakope Indonesia ‟. Edisi Ketiga. Departemen Kesehatan RI. Jakarta : Hal 356
Dirjen POM., 1985 ‘ Formularium Kosmetika Indonesia ‘. Jakarta : Hal 356
Charles A. Triplehorn, Donal J Borror, Dan Norman F. Jonson., „ Pengenalan Pelajaran Serangga Edisi Keenam.‟ Bogor. Penerbit
Univesitas Gajah Mada. Hal 24-25
Jumar., 2000. „ Etnologi pertanian.‟ Jakarta. Penerbit Rineka Cipta. Hal 4 - 5 Kardinan Agus,. 2003, „ Tanaman Pengusir dan Pembasmi Nyamuk .‟ Jakarta.
AgroMedia Pustaka. Hal 26-27
Sastrodihardjo., 1984, Pengantar Etnologi Terapan.‟ Bandung.Penerbit ITB. Hal 32-33
Susetya Nugroho Putra.,1994, „Serangga Di Sekitar Kita.‟ Jakarta. Penerbit Rineka Cipta. Hal 89-90
Syamsuni., 2007, „ Ilmu Resep.‟ Jakarta. Penerbit Buku Kedokteran. Hal 74 - 75, 263-264
Wasitaatmadja,S.M.,1997, „ Penuntun Ilmu Kosmetik Medik .‟ Jakarta. Penerbit Universitas Indonesia ( UI-Press). Hal 62-64, 111-112
Zuliyanti Amelia Siregar., 2009 „Serangga Berguna Pertanian.‟ Jakarta.Penerbit Kanisius. Hal 6
Wasitaatmadja, S.M., 1997, „Penuntun Ilmu Kosmetik Medik.‟ Jakarta. Penerbit Universitas Indonesia ( UI-Press). Hal 62-64, 111-112
Zuliyanti Amelia Siregar., 2009 „Serangga Berguna Pertanian.‟ Jakarta.Penerbit Kanisius. Hal 6
Lampiran 1. Gambar Tumbuhan Cengkeh
Gambar 1. Tumbuhan Utuh Cengkeh
Lampiran 2. Gambar Bagan Kerja Penelitian Daun Cengkeh ( Eugenia Aromatic. L)
Dikumpulkan, Dibersihkan, Dan diambil
Daun cengkeh dicuci bersih dan dikeringkan kemudian
dihaluskan
Dikeringkan dengan freeze dryer pada suhu -40oC
Dibuat sediaan krim dan diformulasikan pada dasar krim
Sediaan Krim Daun Cengkeh Dengann Konsentrasi 1%, 2%, 3%, 4%, 5%, dan 6%
Ekstrak Daun Cengkeh
Skrining Fitokimia o Glikosida o Flavonoida o Steroida o Alkaloida o Tannin o Minyak atsiri o Saponin Dilakukan Pengujian 1. Uji Fisik Sediaan
- Uji Ph
- Uji Tipe Emulsi - Uji Stabilitas - Uji Homogenitas - Uji Iritasi
- Uji Ukuran Partikel 2. Uji Kemampuan sediaan
sebagai pengusir nyamuk
Analisis Data Ekstrak kering Daun Cengkeh
Lampiran 3. Gambar Sediaan Jadi Krim Daun Cengkeh
EDC 1% EDC 2% EDC 3%
EDC 4% EDC 5% EDC 6%
Lampiran 4. Gambar Nyamuk (
Mosquito
) Dan Siklus Hidup NyamukLampiran 5. Gambar Uji Kemampuan Sediaan Krim Daun Cengkeh