• Tidak ada hasil yang ditemukan

Anti Nyamuk Daun Cengkeh

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Anti Nyamuk Daun Cengkeh"

Copied!
56
0
0

Teks penuh

(1)

SKRINING FITOKIMIA DAN UJI EKSTRAK DAUN

SKRINING FITOKIMIA DAN UJI EKSTRAK DAUN

CENGKEH (

CENGKEH (

E

E ugen

ugeniia

a A

Arro

om

ma

attiica

ca

.L) SEBAGAI PENGUSIR

.L) SEBAGAI PENGUSIR

NYAMUK (

NYAMUK (

 M

 Mo

osq

squit

uito

o

) PADA SEDIAAN KRIM DENGAN BASIS

) PADA SEDIAAN KRIM DENGAN BASIS

VANISHING KRIM

VANISHING KRIM

ABSTRAK ABSTRAK

Cengkeh (

Cengkeh (Syzyginium aromaticumSyzyginium aromaticum  atau  atau  Eugenia  Eugenia aromaticumaromaticum) merupakan) merupakan tanaman asli Indonesia dan banyak dibudidayakan. Bunganya banyak di gunakan tanaman asli Indonesia dan banyak dibudidayakan. Bunganya banyak di gunakan sebagai bahan

sebagai bahan rokok krokok kretek khas Indretek khas Indonesia, onesia, bumbu masakan bumbu masakan di Asia terutamadi Asia terutama Indonesia dan Eropa, bahan dupa di RRC, aromaterapi, dan mengobati sakit gigi. Indonesia dan Eropa, bahan dupa di RRC, aromaterapi, dan mengobati sakit gigi. Secara tradisional daun cengkeh kering yang ditumbuk halus dapat digunakan Secara tradisional daun cengkeh kering yang ditumbuk halus dapat digunakan sebagai pestisida nabati, dan daunnya yang masih segar digunakan sebagai sebagai pestisida nabati, dan daunnya yang masih segar digunakan sebagai  pengusir

 pengusir serangga. serangga. Aktifitas Aktifitas daun daun cengkeh cengkeh sebagai sebagai pengusir pengusir seranggaserangga kemungkinan karena adanya kandungan eugunol (C

kemungkinan karena adanya kandungan eugunol (C1010HH1212OO22) mempunyai bau khas) mempunyai bau khas

dan tajam yang tidak disukai oleh serangga, sehingga sangat berpotensial dan tajam yang tidak disukai oleh serangga, sehingga sangat berpotensial digunakan sebagai bahan pengusir nyamuk Penggunaan daun cengkeh sebagai digunakan sebagai bahan pengusir nyamuk Penggunaan daun cengkeh sebagai  pengusir

 pengusir nyamuk nyamuk secara secara langsung langsung pada pada tubuh tubuh tanpa tanpa di di formulasikan formulasikan dirasakandirasakan kurang praktis, maka penulis mencoba menformulasikan menjadi sediaan krim kurang praktis, maka penulis mencoba menformulasikan menjadi sediaan krim sehingga penggunaannya mudah, merata, terasa lembut, dan mudah di cuci sehingga penggunaannya mudah, merata, terasa lembut, dan mudah di cuci dengan air.

dengan air.

Penelitian ini menggunakan ekstrak etanol daun cengkeh dibuat secara Penelitian ini menggunakan ekstrak etanol daun cengkeh dibuat secara  perkolasi

 perkolasi menggunakan menggunakan etanol etanol 80%. 80%. Sediaan Sediaan krim krim diformulasikan diformulasikan menggunakanmenggunakan  basis vanishing

 basis vanishing krim dengan krim dengan konsentrasi ekstkonsentrasi ekstrak daun rak daun cengkeh 1%, cengkeh 1%, 2%, 3%, 2%, 3%, 4%,4%, 5%, dan 6%. Beberapa uji yang dilakukan terhadap sediaan meliputi uji pH, 5%, dan 6%. Beberapa uji yang dilakukan terhadap sediaan meliputi uji pH,  pameriksaan

 pameriksaan homogenitas, homogenitas, pemeriksaan pemeriksaan tipe tipe krim, krim, pengamatan pengamatan stabilitas, stabilitas, ujiuji iritasi, dan uji kemampuan sediaan sebagai pengusir nyamuk dibandingkan iritasi, dan uji kemampuan sediaan sebagai pengusir nyamuk dibandingkan dengan

dengan lotion soffel ylotion soffel yang beredar ang beredar di pasaran.di pasaran.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pH sediaan 6,3

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pH sediaan 6,3 –  – 7,1, sediaan cukup7,1, sediaan cukup homogen, tipe sediaan krim M/A, sediaan cukup stabil pada penyimpanan selama homogen, tipe sediaan krim M/A, sediaan cukup stabil pada penyimpanan selama 12 minggu tidak mengalami perubahan warna, bau dan pecahnya fase krim, tidak 12 minggu tidak mengalami perubahan warna, bau dan pecahnya fase krim, tidak menimbulkan iritasi, dan mempunyai efektifitas sebagai pengusir nyamuk yaitu menimbulkan iritasi, dan mempunyai efektifitas sebagai pengusir nyamuk yaitu formula yang mengandung ekstrak daun cengkeh 6% setara dengan lotion soffel, formula yang mengandung ekstrak daun cengkeh 6% setara dengan lotion soffel, sehingga formula dengan konsentrasi 6% sangat baik digunakan sebagai krim sehingga formula dengan konsentrasi 6% sangat baik digunakan sebagai krim  pengusir nyamuk

 pengusir nyamuk

Kata kunci : Daun cengkeh, pengusir n

(2)

FORMULATION AND EVALUATION OF THE

FORMULATION AND EVALUATION OF THE

CLOVE

CLOVE LEAVES

LEAVES EXTRACT

EXTRACT ((

E

E ug

uge

eni

nia

a A

Arro

om

ma

attiica

ca

.L) CREAM

.L) CREAM

WITH VANISHING BASIS ON THE MOSQUITO REPELLENT

WITH VANISHING BASIS ON THE MOSQUITO REPELLENT

ABSTRACT

ABSTRACT

Cengkeh (

Cengkeh ( Eugenia  Eugenia aromaticumaromaticum) is native to Indonesia and widely) is native to Indonesia and widely cultivated in Indonesia. Clove widely used for the manufacture of typical cultivated in Indonesia. Clove widely used for the manufacture of typical Indonesian

Indonesian clove cigarettes, clove cigarettes, cooking cooking materials in Asia materials in Asia particulary in particulary in Indonesia,Indonesia, and Europe, incence ingredients materials in China, aromatherapy, and treatment and Europe, incence ingredients materials in China, aromatherapy, and treatment of dental pain.. Traditionally the dried leaves that have been mashed clove used of dental pain.. Traditionally the dried leaves that have been mashed clove used for plant-based pasticides, Clove of fresh leaves used for insect repellent. Clove for plant-based pasticides, Clove of fresh leaves used for insect repellent. Clove leaves activity as a insect repellent maybe because there is eugenol wich has a leaves activity as a insect repellent maybe because there is eugenol wich has a special smell and sharp as feared by insect, so is potential for clove leaves used as special smell and sharp as feared by insect, so is potential for clove leaves used as mosquito repllent. The use of clove leaves

mosquito repllent. The use of clove leaves directly to the skin as directly to the skin as mosquito withoutmosquito without formulated were less practical, therefore we try to make a cream preparation of formulated were less practical, therefore we try to make a cream preparation of the ethanol extract of leaves, so that their use more practical, soft, comfortable, the ethanol extract of leaves, so that their use more practical, soft, comfortable, and easily washed by water.

and easily washed by water. This study

This study used used the ethanol the ethanol extract of extract of clove leaves clove leaves wich prepared wich prepared byby  percolation using

 percolation using ethanol as ethanol as solvent. The solvent. The cream preparaticream preparations formulated ons formulated using byusing by vanishing base, and using various concentrations of clove leaves extract 1%, 2%, vanishing base, and using various concentrations of clove leaves extract 1%, 2%, 3%, 4%, 5%, dan 6%. Some test had been carried out against the cream includes 3%, 4%, 5%, dan 6%. Some test had been carried out against the cream includes  pH

 pH test, test, test test of of homogenty, test homogenty, test of of type type of of cream, cream, stability stability testing, testing, irritation irritation test,test, and test its ability as mosquito repellen compared with soffel lotion on the market. and test its ability as mosquito repellen compared with soffel lotion on the market.

The results o

The results of research showed f research showed that the pH that the pH of the of the cream is cream is 6,36,3 –  – 7,1, its7,1, its homogeneous, type of cream is O/W, the cream is stable in storagefor 12 weeks homogeneous, type of cream is O/W, the cream is stable in storagefor 12 weeks does not cause irritation to the skin, dan have a good effect as mosquito repellent does not cause irritation to the skin, dan have a good effect as mosquito repellent that is a fo

that is a formula that uses rmula that uses clove leaves extracts 6% clove leaves extracts 6% equivalent to soffel equivalent to soffel lotin onlotin on the market. Therefore the cream of clove leaves extract 6 % very well be used as a the market. Therefore the cream of clove leaves extract 6 % very well be used as a mosquito repellent

mosquito repellent

Key words : Clove leaves, repellen mosquito, vanishing cream Key words : Clove leaves, repellen mosquito, vanishing cream

(3)

FORMULATION AND EVALUATION OF THE

FORMULATION AND EVALUATION OF THE

CLOVE

CLOVE LEAVES

LEAVES EXTRACT

EXTRACT ((

E

E ug

uge

eni

nia

a A

Arro

om

ma

attiica

ca

.L) CREAM

.L) CREAM

WITH VANISHING BASIS ON THE MOSQUITO REPELLENT

WITH VANISHING BASIS ON THE MOSQUITO REPELLENT

ABSTRACT

ABSTRACT

Cengkeh (

Cengkeh ( Eugenia  Eugenia aromaticumaromaticum) is native to Indonesia and widely) is native to Indonesia and widely cultivated in Indonesia. Clove widely used for the manufacture of typical cultivated in Indonesia. Clove widely used for the manufacture of typical Indonesian

Indonesian clove cigarettes, clove cigarettes, cooking cooking materials in Asia materials in Asia particulary in particulary in Indonesia,Indonesia, and Europe, incence ingredients materials in China, aromatherapy, and treatment and Europe, incence ingredients materials in China, aromatherapy, and treatment of dental pain.. Traditionally the dried leaves that have been mashed clove used of dental pain.. Traditionally the dried leaves that have been mashed clove used for plant-based pasticides, Clove of fresh leaves used for insect repellent. Clove for plant-based pasticides, Clove of fresh leaves used for insect repellent. Clove leaves activity as a insect repellent maybe because there is eugenol wich has a leaves activity as a insect repellent maybe because there is eugenol wich has a special smell and sharp as feared by insect, so is potential for clove leaves used as special smell and sharp as feared by insect, so is potential for clove leaves used as mosquito repllent. The use of clove leaves

mosquito repllent. The use of clove leaves directly to the skin as directly to the skin as mosquito withoutmosquito without formulated were less practical, therefore we try to make a cream preparation of formulated were less practical, therefore we try to make a cream preparation of the ethanol extract of leaves, so that their use more practical, soft, comfortable, the ethanol extract of leaves, so that their use more practical, soft, comfortable, and easily washed by water.

and easily washed by water. This study

This study used used the ethanol the ethanol extract of extract of clove leaves clove leaves wich prepared wich prepared byby  percolation using

 percolation using ethanol as ethanol as solvent. The solvent. The cream preparaticream preparations formulated ons formulated using byusing by vanishing base, and using various concentrations of clove leaves extract 1%, 2%, vanishing base, and using various concentrations of clove leaves extract 1%, 2%, 3%, 4%, 5%, dan 6%. Some test had been carried out against the cream includes 3%, 4%, 5%, dan 6%. Some test had been carried out against the cream includes  pH

 pH test, test, test test of of homogenty, test homogenty, test of of type type of of cream, cream, stability stability testing, testing, irritation irritation test,test, and test its ability as mosquito repellen compared with soffel lotion on the market. and test its ability as mosquito repellen compared with soffel lotion on the market.

The results o

The results of research showed f research showed that the pH that the pH of the of the cream is cream is 6,36,3 –  – 7,1, its7,1, its homogeneous, type of cream is O/W, the cream is stable in storagefor 12 weeks homogeneous, type of cream is O/W, the cream is stable in storagefor 12 weeks does not cause irritation to the skin, dan have a good effect as mosquito repellent does not cause irritation to the skin, dan have a good effect as mosquito repellent that is a fo

that is a formula that uses rmula that uses clove leaves extracts 6% clove leaves extracts 6% equivalent to soffel equivalent to soffel lotin onlotin on the market. Therefore the cream of clove leaves extract 6 % very well be used as a the market. Therefore the cream of clove leaves extract 6 % very well be used as a mosquito repellent

mosquito repellent

Key words : Clove leaves, repellen mosquito, vanishing cream Key words : Clove leaves, repellen mosquito, vanishing cream

(4)

BAB I BAB I

PENDAHULUAN PENDAHULUAN 1.1

1.1 Latar BelakangLatar Belakang

Berkisar lebih dari 50% fauna yang menghuni muka bumi adalah serangga Berkisar lebih dari 50% fauna yang menghuni muka bumi adalah serangga yaitu suatu fauna pemakan tanaman (fitofagus), pemakan serangga lain yaitu suatu fauna pemakan tanaman (fitofagus), pemakan serangga lain (entomofagus), pemakan binatang lain atau sisa-sisa tanaman dan binatang lain (entomofagus), pemakan binatang lain atau sisa-sisa tanaman dan binatang lain (Sastrodihardjo, 1984). Selama ini kehadiran beberapa jenis serangga telah (Sastrodihardjo, 1984). Selama ini kehadiran beberapa jenis serangga telah mendatangkan manfaat bagi manusia, misalnya lebah madu, ulat sutera dan mendatangkan manfaat bagi manusia, misalnya lebah madu, ulat sutera dan serangga penyerbuk. Meskipun demikian, tidak sedikit serangga yang justru serangga penyerbuk. Meskipun demikian, tidak sedikit serangga yang justru membawa kerugian bagi kehidupan manusia, misalnya serangga perusak tanaman membawa kerugian bagi kehidupan manusia, misalnya serangga perusak tanaman dan nyamuk. Kelompok serangga nyamuk lebih berbahaya bagi kesehatan dan nyamuk. Kelompok serangga nyamuk lebih berbahaya bagi kesehatan manusia

manusia dibandingkan dibandingkan dengan dengan jenis seranggjenis serangga lainnya. a lainnya. Kehadiran Kehadiran nyamuk nyamuk seringsering dirasakan mengganggu kehidupan manusia karena gigitannya menyebabkan rasa dirasakan mengganggu kehidupan manusia karena gigitannya menyebabkan rasa gatal dan

gatal dan perannya sebagai perannya sebagai vektor vektor (penular) penyakit (penular) penyakit berbahaya seperti demberbahaya seperti demamam  berdarah, malaria dan kaki gajah (Kardinan, 20

 berdarah, malaria dan kaki gajah (Kardinan, 2004).04).

Seiring dengan perkembangan zaman untuk menghindari dari gigitan Seiring dengan perkembangan zaman untuk menghindari dari gigitan nyamuk saat ini

nyamuk saat ini masyarakat telah banyak masyarakat telah banyak menggunakan menggunakan sediaan pengusir nyamsediaan pengusir nyamukuk antara lain obat nyamuk bakar, elektrik, cairan, aerosol yang digunakan di dalam antara lain obat nyamuk bakar, elektrik, cairan, aerosol yang digunakan di dalam ruangan dan dalam bentuk sediaan lotion atau krim dipergunakan langsung pada ruangan dan dalam bentuk sediaan lotion atau krim dipergunakan langsung pada kulit yang mengandung bahan kimia sintetis N,N-diethyl-m-toliamide (DEET), kulit yang mengandung bahan kimia sintetis N,N-diethyl-m-toliamide (DEET), contohnya adalah sofel

contohnya adalah sofel®®  (Kardinan, 2007). Penggunaan bahan kimia sintetis ini  (Kardinan, 2007). Penggunaan bahan kimia sintetis ini sering menimbulkan masalah pada kulit misalnya terjadinya iritasi dan kemerahan sering menimbulkan masalah pada kulit misalnya terjadinya iritasi dan kemerahan

1 1

(5)

 pada kulit, maka perlu dicari alternatif dari bahan alam sebagai pengusir nyamuk.  pada kulit, maka perlu dicari alternatif dari bahan alam sebagai pengusir nyamuk. Cara tradisional untuk mengusir nyamuk adalah dengan membakar bunga Cara tradisional untuk mengusir nyamuk adalah dengan membakar bunga kluih, kulit durian, dan kulit langsat karena asapnya akan meracuni nyamuk kluih, kulit durian, dan kulit langsat karena asapnya akan meracuni nyamuk  bahkan

 bahkan dapat dapat membunuhnya, membunuhnya, di di samping samping itu masitu masyyaraarakakat t menmengugusir nysir nyamuamuk dengk denganan cara menanam tanaman

cara menanam tanaman tertentu yang tertentu yang mempunyai bau mempunyai bau khas di khas di pekarangan rupekarangan rumah.mah. Tanaman ini dapat mengeluarkan aroma atau komponen kimia (minyak atsiri) yang Tanaman ini dapat mengeluarkan aroma atau komponen kimia (minyak atsiri) yang dapat menguap dari daun atau bunganya, contohnya antara lain tanaman zodia, dapat menguap dari daun atau bunganya, contohnya antara lain tanaman zodia, geranium, lavender, dan sereh wangi.

geranium, lavender, dan sereh wangi.

Secara trasdisional penggunaan tanaman sebagai anti nyamuk dengan cara Secara trasdisional penggunaan tanaman sebagai anti nyamuk dengan cara meremas-remas daun atau bunganya kemudian digosokkan pada kulit agar meremas-remas daun atau bunganya kemudian digosokkan pada kulit agar terhindar dari gigitan nyamuk. Efek ini kemungkinan terjadi karena tumbuhan terhindar dari gigitan nyamuk. Efek ini kemungkinan terjadi karena tumbuhan tersebut mempunyai bau yang khas dan tajam sehingga nyamuk tidak menyukai tersebut mempunyai bau yang khas dan tajam sehingga nyamuk tidak menyukai dan menghindarinya, bahkan ada yang mampu mematikan (Kardinan, 2004).

dan menghindarinya, bahkan ada yang mampu mematikan (Kardinan, 2004).

Salah satu tumbuhan yang memiliki bau yang khas dan tajam adalah Salah satu tumbuhan yang memiliki bau yang khas dan tajam adalah tunbuhan cengkeh (Eugenia aromaticum L). Indonesia merupakan negara tunbuhan cengkeh (Eugenia aromaticum L). Indonesia merupakan negara  penghasil cegkeh

 penghasil cegkeh terbesar terbesar ketiga di ketiga di dunia setdunia setalah alah Tanzania da Tanzania da pulau madagaskar.pulau madagaskar. Cengkeh selain, bunga dan gagang daun nya mengandung minyak atsiri yang Cengkeh selain, bunga dan gagang daun nya mengandung minyak atsiri yang dalam dunia perdagangan disebut dengan Clove

dalam dunia perdagangan disebut dengan Clove Oil, mengandung 70-93% euginolOil, mengandung 70-93% euginol (C

(C1010HH1212OO22). Euginol sudah terbukti sebagai anti jamur,anti septic dan anti). Euginol sudah terbukti sebagai anti jamur,anti septic dan anti

serangga, sehingga sangat efektif digunakan sebagai bahan obat gosok atau lotion serangga, sehingga sangat efektif digunakan sebagai bahan obat gosok atau lotion  pengusir nyamuk (Kardinan 20

 pengusir nyamuk (Kardinan 2003).03).

Penggunaan daun cengkeh yang digosokkan langsung pada kulit sebagai Penggunaan daun cengkeh yang digosokkan langsung pada kulit sebagai  pengusir nyamuk

(6)

tidak menyukainya. Sediaan krim dalam bentuk vanishing krim banyak di sukai tidak menyukainya. Sediaan krim dalam bentuk vanishing krim banyak di sukai masyarakat karena penggunaannya mudah, merata, terasa lembut, dan mudah di masyarakat karena penggunaannya mudah, merata, terasa lembut, dan mudah di cuci maka dicoba membuat sediaan krim degan basis vanishing krim, maka cuci maka dicoba membuat sediaan krim degan basis vanishing krim, maka  peneliti

 peneliti tertarik tertarik untuk untuk melakukan melakukan penelitian penelitian terhadap terhadap daun daun cengkehcengkeh diformulasikan dalam bentuk sedian krim pegusir nyamuk dengan basis vanishing diformulasikan dalam bentuk sedian krim pegusir nyamuk dengan basis vanishing krim

krim 1.2

1.2 Perumusan Perumusan MasalahMasalah

Berdasarkan latar belakang di atas di buat perumusan masalah sebagai Berdasarkan latar belakang di atas di buat perumusan masalah sebagai  berikut :

 berikut : 1.

1. Golongan senyawa kimia apa saja yang terkandung di dalam daun cengkehGolongan senyawa kimia apa saja yang terkandung di dalam daun cengkeh segar dan daun cengkeh segar

segar dan daun cengkeh segar yang dikeringkan dengan cara pendinginanyang dikeringkan dengan cara pendinginan 2.

2. Apakah daun cengkeh yang telah dikeringkan dengan cara pendinginanApakah daun cengkeh yang telah dikeringkan dengan cara pendinginan dapat diformulasikan ke dalam sediaan krim dengan basis vanishing krim. dapat diformulasikan ke dalam sediaan krim dengan basis vanishing krim. 3.

3. Bagaimana reaksi nyamuk terhadap kulit yang telah di olesi krim daunBagaimana reaksi nyamuk terhadap kulit yang telah di olesi krim daun cengkeh.

cengkeh. 1.3 Hipotesis 1.3 Hipotesis

1.

1. Daun cengkeh segar dan daun cengkeh segar yang dikeringkan dengan caraDaun cengkeh segar dan daun cengkeh segar yang dikeringkan dengan cara  pendinginan cengkeh me

 pendinginan cengkeh mengandung berbagai ngandung berbagai golongan sengolongan senyawa kimia yawa kimia yangyang sama

sama 2.

2. Daun cengkeh yang telah dikeringkan dengan cara pendinginan dapatDaun cengkeh yang telah dikeringkan dengan cara pendinginan dapat diformulasikan ke dalam sediaan krim dengan basis vanishing krim.

diformulasikan ke dalam sediaan krim dengan basis vanishing krim. 3.

3. Kulit yang telah di olesi krim daun cengkeh dengan konsentrasi tertentuKulit yang telah di olesi krim daun cengkeh dengan konsentrasi tertentu tidak dihinggapi nyamuk

(7)

1.4 Tujuan Penelitian

Adapun Tujuan dari penelitian ini adalah :

1. Untuk mengetahui golongan senyawa kimia yang terkandung di dalam daun cengkeh segar dan daun cengkeh segar yang dikeringkan dengan cara  pendinginan

2. Untuk membuktikan daun cengkeh yang telah dikeringkan dengan cara  pendinginan dapat diformulasikan ke dalam sediaan krim dengan basis

vanishing krim.

3. Untuk mengetahui reaksi nyamuk terhadap kulit yang telah di olesi krim daun cengkeh.

1.5 Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan bermanfaat sebagai bahan informasi kepada masyarakat tentang kemampuan krim daun cengkeh sebagai pengusir nyamuk,dan apabila penelitian ini berhasil dengan baik,selanjutnya dapat dikembangkan menjadi satu produk yang bermutu dan mempunyai nilai ekonomis.

(8)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Uraian Tumbuhan

Pada abad yang ke empat, cengkeh, pala dan merica sangat mahal harganya di zaman romawi.cengkeh menjadi bahan tukar menukar oleh bangsa arab di abad pertengahan.pada akhir abad ke -15, orang fortugis mengambil alih  jalan tukar menukar di laut india.bersama itu diambil alih juga perdagangan cengkeh dengan perjanjian tordesillas dengan spanyol,selain itu juga perjanjian dengan sultan ternate.

Pohon cengkeh yang dianggap tertua yang masih hidup terdapat dikelurahan tongole, kecamatan ternate tengah sekitar 6 km dari pusat kota ternate.pohon yang disebut sebagai cengkeh ini berumur 416 tahun, tinggi 36,60 m, berdiameter 198 m, dan keliling batang 4,26 m. setiap tahun nya ia mampu menghasilkan sekitar 400 kg bunga cengkeh.

Kandungan bahan aktif dalam bunga dan daun cengkeh adalah minyak esensial dari cengkeh yang mempunyai fungsi anastetik dan atimikroba.minyak cengkeh sering digunakan untuk menghilangkan bau nafas dan untuk menghilangkan sakit gigi.zat yang terkandung dalam cengkeh adalah euginol,yang digunakan dokter gigi untuk menenangkan saraf gigi. Minyak cengkeh juga digunakan dalam campuran tradisional.

Cengkeh (syzyginium aromaticum atau Eugenia aromaticum) dalam  bahasa inggris disebut cloves,adalah tangkai bunga kering beraroma dari keluarga  pohon myrtaceae.cengkeh adalah tanaman asli Indonesia.cengkeh ditanam terutama di Indonesia,banyak di gunakan sebagai bumbu masakan pedas di  Negara eropa,dan sebagai bahan utama rokok kretek khas Indonesia.cengkeh di

(9)

tanam terutama di Indonesia (kepulauan banda) dan madagaskar.selain itu juga di  budidayakan di Zanzibra,India dan Srilanka.

Pohon cengkeh merupakan tanaman tahunan yang dapat tumbuh dengan tinggi 10 - 20 m,mempunyai daun bentuk lonjong yang berbunga pada pucuk- pucuknya.tangkai buah pada awalnya berwarna hijau dan berwarna merah jika  bunga sudah mekar.cengkeh akan dipanen jika sudah mencapai panjang 1,5 - 2 meter. Cengkeh dapat digunakan sebagai bumbu, baik dalam bentuknya yang utuh atau sebagai bubuk.bumbu ini digunakan di eropa dan asia.terutama di Indonesia,cengkeh digunakan sebagai bahan rokok kretek.cengkeh juga digunakan sebagai bahan dupa di RRC cina dan Jepang.minyak cengkeh di gunakan di aromaterapi dan juga untuk mengobati sakit gigi.daun cengkeh kering yang ditumbuk halus dapat digunakan sebagai pestisida nabati. (http://id. Wikipedia.org/wiki/cengkeh) 2.1.2 Sistematika Tumbuhan Kingdom : Plantae Filum : Angiospermae Ordo : Myrtales Family : Myrtaceae Genus : Eugenia

Spesies : Eugenia aromaticum 2.2 Skrining Fitokimia

Skrining fitokimia merupakan pemeriksaan terhadap golongan senyawa kimia yang terkandung dalam daun cengkeh.golongan senyawa kimia yang diperiksa meliputi glikosida, flavonoida, steroida/triterpenoida, alkaloida, tannin, saponin, dan minyak atsiri.

(10)

1.2.1 Steroida / triterpenoida

Steroida merupakan suatu golongan senyawa triterpenoida yang mengandung inti siklopentan perhidrofenantrena yang terdiri dari tiga cincin sikloheksana dan sebuah cincin siklopentana. Nama sterol dipakai khusus untuk steroida alkohol, tetapi karena semua steroida tumbuhan berupa alkohol dengan gugus hidroksil pada C-3 maka disebut sterol. Sterol terdapat dalam bentuk bebas atau sebagai glikosida sederhana (Harborne, 1987). Struktur dasar steroid dapat dilihat pada gambar 2.6 di bawah ini:

R 1 R2 12 17 12 17 11 13 16 11 13 16 1 14 15 1 3 14 15 9 9 10 8 2 8 2 10 3 5 7 3 5 7 4 6 4 6

Siklopentan Perhidrofenantrenan Steroid Gambar 2.6 Struktur Steroid dan Penomorannya

Aktivitas biologis dari senyawa steroida antara lain sebagai hormon reproduksi pada manusia (estradiol, progesteron, testosteron), hormon pengganti kulit pada serangga (ekdiksol), kardiotonik (digitoksin), precursor vitamin D (ergosterol), oral kontrasepsi (estrogen dan progestin), dan obat anti inflamasi (kortikosteroida) (Tyler, 1976).

Triterpenoida adalah senyawa yang kerangka karbonnya berasal dari enam satuan isoprene dan secara biosintetis diturunkan dari hidrokarbon C 30 asiklik yaitu skualen. Senyawa berstruktur siklik yang relatif rumit, kebanyakan berupa alkohol, aldehid atau asam karboksilat, merupakan senyawa tak berwarna,

(11)

 berbentuk kristal, sering kali bertitik leleh tinggi dan optis aktif, yang umumnya sukar dicirikan karena tidak ada kereaktifan kimianya. Uji yang banyak digunakan adalah pereaksi Lieberman –  Bauchard (asam asetat anhidrat –  asam sulfat pekat), yang umumnya triterpenoida memberikan warna merah atau ungu sedangkan steroida memberikan warna hijau –  biru (Harborne, 1987).

2.2.2 Senyawa Terpenoid

Terpenoida merupakan senyawa hidrokarbon tidak jenuh yang terdiri dari kelipatan 5 atom karbon untuk satu unit, dan unit terkcilnya disebut dengan isoprene ( C5H8 ). Kelima atom karbon dari setiap unit isoprene digambarkan

dengan struktur bangun berbentuk kepala dan ekor, antara satu unit isoprene  berkaitan dengan unit isoprene lain dengan cara penggabungan pada atom C dibagian ekor dari satu unit isoprene dengan bagian kepala isoprene lainnya sehingga membentuk senyawa-senyawa terpenoid (Sjamsul, 1986).

Terpenoid terdiri dari beberapa macam senyawa, mulai dari komponen minyak atsiri, yaitu monoterpen dan seskuiterpen (C10) dan (C15) yang mudah

menguap, diterpen(C20), yang lebih sukar menguap dan senyawa yang tidak

menguap yaitu triterpenoid dan sterol (C30), serta piqmen karotenoid (C40)

(Harborne, 1987).

Beberapa contoh golongan terpenoid adalah Mirsen, Sitronelol, dan Mentol.

2.2.3 Flavonoid

Flavonoida merupakan salah satu golongan senyawa fenol alam terbesar. Flavonoida sebenarnya terdapat pada semua bagian tumbuhan termasuk daun, akar, kayu, kulit, tepung sari, bunga, buah, dan biji. Umunya flavonoida terikat

(12)

 pada gula sebagai glikosida. Golongan flavonoid dapat digambarkan sebagai deretan senyawa C6 ─ C3 ─ C6. Artinya, kerangka karbonnya terdiri atas dua

gugus C6  (cincin benzena tersubstitusi) disambungkan oleh rantai alifatik tiga

karbon:

C C C

Gambar 2.8 Kerangka flavonoid

Flavonoida secara umum berupa senyawa yang larut dalam air karena  berupa glikosida. Flavonoida terdapat baik dalam bentuk bebas maupun terikat oleh gula sebagai glikosida, bentuk bebas dijumpai pada jaringan berkayu, sedangkan bentuk glikosidanya banyak terdapat pada bagian bunga, buah dan daun. Beberapa fungsi flavonoida adalah sebagai pengatur tubuh, sebagai antimikroba dan anti virus, dan penarik serangga (Robinson, 1995).

2.2.4 Glikosida

Glikosida adalah senyawa yang jika dihidrolisis akan menghasilkan satu atau lebih gula dan komponen non gula. Secara kimia glikosida adalah asetal, dimana gugus hidroksil dari komponen non-gulanya, dan gugus hidroksil yang lain berkondensasi ke dalam gulanya sendiri membentuk cincin oksida. Komponen non gula disebut aglikon, sedangkan komponen gulanya disebut glikon (Tyler dkk, 1976).

Sebagai senyawa hidroksil, karbohidrat mampu membentuk eter dengan alkohol lain. Sifat yang paling penting dari eter tersebut adalah mudah di hidrolisis. Dengan cara mendidihkan sebentar dalam asam encer sudah cukup

(13)

untuk menghidrolisis bagian gula dan melepaskannya dari bagian a glikon. Hampir semua glikosida alam mempunyai konfigurasi beta. Gula yang paling sering dijumpai dalam glikosida ialah glukosa (Robinson, 1995).

Secara kimia, glikosida dibagi berdasarkan aglikonnya, yaitu: kardioaktif, fenol, alkohol,aldehida, lakton, saponin, antrakuinon, isotiosianat, sianogenik, dan flavanol (Tyler dkk,1976).

Berdasarkan atom penghubung bagian gula (glikon) dan bukan gula (aglikon), maka glikosida dapat dibedakan menjadi:

1. C-glikosida, jika atom C menghubungkan bagian glikon dan aglikon. 2.  N-glikosida, jika atom N menghubungkan bagian glikon dan aglikon. 3. O-glikosida, jika atom O menghubungkan bagian glikon dan aglikon. 4. S-glikosida, jika atom S menghubungkan bagian glikon dan aglikon.

Gula yang paling sering dijumpai dalam glikosida ialah glukosa, ramnosa dan fruktosa (Robinson, 1995).

2.2.5 Alkaloid

Alkaloida adalah senyawa yang bersifat basa yang mengandung satu atau lebih atom nitrogen, biasanya dalam gabungan, sebagai bagian dari sistem heterosiklik. Alkaloida biasanya larutan tidak berwarna (bening), bersifat optis aktif, berbentuk kristal, namun ada juga yang berbentuk cairan pada suhu kamar (misalnya nikotina). Alkaloid sering kali beracun bagi manusia dan banyak yang mempunyai kegiatan fisiologis yang menonjol, digunakan secara luas dalam  bidang pengobatan (Harborne, 1987).

2.2.6 Minyak atsiri

(14)

dari campuran zat yang mudah menguap, dengan komposisi dan titik didih yang  berbeda-beda. Minyak atsiri di kenal juga dengan nama minyak eteris atau minyak

terbang di hasilkan oleh tanaman. Minyak atsiri mudah menguap pada suhu kamar tanpa mengalami dekomposisi, mepunyai rasa getir, berbau wangi sesuai dengan  bau tanaman penghasilnya, umumnya larut dalam pelarut organik dan tidak larut dalam air. Bagian utama minyak atsiri adalah terpenoid, biasanya terpenoid terdapat pada fraksi atsiri yang tersuling uap (Ketaren, 1985).

2.2.6.1 Aktivitas biologi minyak atsiri

Minyak atsiri pada tumbuhan mempunyai tiga fungsi, yaitu membantu  proses penyerbukan dan menarik beberapa jenis serangga atau hewan,mencegah kerusakan tanaman oleh serangga atau hewan, mencegah kerusakan tanaman oleh serangga atau hewan, dan sebagai cadangan makanan bagi tanaman. Pada umumnya kerusakan minyak atsiri disebabkan perbedaan kondisi iklim, tanah tempat tumbuh, umur panen, metode ekstraksi yang digunakan, cara penyimpanan minyak atsiri dan jenis tanaman penghasil.(Ketaren, 1985).

2.2.6.2 Manfaat minyak atsiri

Minyak atsiri digunakan sebagai bahan baku dalam berbagai industri, misalnya industri parfum, kosmetik, farmasi, bahan penyedap dalam industri makanan dan minuman. Keharuman minyak atsiri ditentukan oleh kandungan komponen terbanyak yang terdapat dalam minyak atsiri dan juga oleh golongan hidrokarbon atau golongan hirokarbon teroksigenasi. Beberapa jenis tumbuhan diketahui memiliki khasiat pengobatan karena kandungan minyak atsirinya, contohnya cengkeh dan pala, tetapi ada juga jenis minyak atsiri yang setelah disuling dari

(15)

tumbuhan hasilnya diketahui memberikan efek pengobatan, misalnya minyak kayu putih.

2.3 Uraian Tentang Nyamuk 2.3.1 Morfologi nyamuk

 Nyamuk tersebar meluas di seluruh dunia mulai dari daerah kutub sampai daerah tropis, dapat dijumpai 5000 m di atas permukaan laut dan kedalaman 1500 m di bawah permukaan tanah pada daerah pertambangan. Nyamuk adalah golongan serangga yang termasuk suku Culcidae, ordo  Diptera  yang berbentuk kecil sayap maupun proboscisnya, Diptera termasuk  Anopheles, Culex,  Psorophora, Ardes, Sabethes, Culiseta, Haemagoggus. Dalam bahasa Inggris nyamuk di gabung dengan nama “ Mosquito” berasal dari sebuah kata dalam  bahasa Spanyol atau bahasa Portugis yang berarti lalat kecil, kata mosquito digunakan berawal pada tahun 1583. Dan di Britania Raya nyamuk dikenal dengan nama “Gnats”. Nyamuk betina memerlukan protein untuk pembentukan telur, kebanyakan nyamuk betina perlu menghisap darah untuk mendapatkan  protein yang diperlukan. (Levine, 1994)

Pada nyamuk betina bagian mulutnya berbentuk probosis panjang untuk menembus kulit mamalia, pada nyamuk jantan tidak memiliki proboscis untuk menghisap darah, karena nyamuk jantan memperoleh makanan dari tumbuh-tumbuhan. Proboscis adalah alat untuk menghisap cairan darah sebagai makanannya. Nyamuk dewasa hidup di udara, telur diletakkan di air sedangkan larva dan pupa hidup di dalam air (aquatic), Sebagai tempat berkembang biak ( Breeding place) adalah air yang bervariasi jenisnya. Nyamuk betina lebih  berbahaya dari nyamuk jantan karena nyamuk betina merupakan serangga

(16)

 penghisap darah berperan sebagai perantara (vector). Jenis bibit penyakit, seperti  penyakit malaria, penyakit kaki gajah, dan demam berdarah (Nugroho, 1994).

 Nyamuk betina yang baru berubah menjadi nyamuk dewasa akan terbang dan mencari darah untuk makanannya, sedangkan nyamuk jantan akan terbang di sekitar perindukannya dan memakan cairan tumbuhan yang ada di sekitarnya. Pada umumnya umur nyamuk relatif pendek dan nyamuk betina umumnya  berumur lebih panjang, rata-rata dapat mencapai selama 14 hari sedangkan

nyamuk jantan pada umumnya berumur kurang dari tujuh hari (Kardinan, 2004). 2.3.2 Anatomi nyamuk

 Nyamuk  mempunyai berat badan sekitar 12 mg dan panjang 16 mm tubuhnya terdiri dari tiga bagian utama yaitu kepala (head ), torax, abdomen, memiliki, antena yang pendek, se pasang mata majemuk, halter, probosis.  Nyamuk juga mempunyai dua sayap yang bersisik, tubuh yang langsing relatif lunak dan enam kaki yang panjangnya berbeda-beda diantara berbagai spesies tetapi jarang sekali melebihi 15mm (Jumar, 2000).

Gambar 2.1 Anatomi Nyamuk

2.3.3 Siklus Hidup Nyamuk

Siklus hidup nyamuk diawali dari berkembang biaknya nyamuk jantan yang sudah matang dengan menggunakan antenanya sebagai alat pendengar untuk

(17)

mendengar nyamuk betina. Perkawinan biasanya terjadi selama 24-48 jam antara nyamuk jantan dan betina setelah ke luar dari kepompong, pada ujung antena terjadi rambut yang sangat sensitif terhadap suara yang ditimbulkan oleh nyamuk  betina. Tidak jauh dari organ untuk berkembang biak terdapat pengait yang  berfungsi untuk memegang nyamuk betina ketika berpasangan (kopulasi) selama di udara. Setelah perkawinan, nyamuk betina akan mulai menghisap darah hewan maupun manusia untuk memperoleh zat makanan yang di perlukan untuk  pembentukan telur.

 Nyamuk mengalami metamorfosis yang sempurna (holometabola) melalui empat tahap yaitu dari telur, larva (jentik), pupa hingga imago (nyamuk dewasa), yang membutuhkan waktu sekitar satu bulan. Selama bertelur seekor nyamuk  betina mampu meletakkan 100-400 butir telur. Biasanya telur tersebut diletakkan  pada bagian yang berdekatan dengan air yang tidak berhubungan langsung dengan tanah, dan pada daun yang lembab maupun kolam yang kering. Pemilihan tempat untuk bertelur dilakukan oleh induk nyamuk dengan menggunakan reseptor yang ada di bawah perutnya. Reseptor ini berfungsi sebagai sensor suhu dan kelembaban, setelah tempat ditemukan induk nyamuk mulai mengerami telurnya. Setelah itu telur berada pada masa inkubasi (pengeraman), inkubasi yang sempurna terjadi pada musim dingin (Kardinan, 2004).

Telur menetas menjadi larva (jentik) setelah tujuh hari, di dalam air jentik menjadi sangat aktif yaitu membuat gerakan ke atas dan ke bawah jika air terguncang. Jika sedang istirahat (diam) tubuh larva akan membentuk sudut pada  permukaan air. Larva akan mengalami empat kali proses pergantian kulit (instar),  proses ini akan menghabiskan waktu selama 7-9 hari. Setelah itu larva akan

(18)

 berubah menjadi pupa (fase transisi) proses ini di namakan “fase pupa”. Pada fase ini nyamuk sangat rentan terhadap kebocoran pupa, agar tetap bertahan sebelum  pupa siap untuk perubahan kulit terakhir dua pipa nyamuk muncul ke atas air. Pupa bernafas dengan pipa nyamuk yang muncul ke atas air melalui rongga dada,  bentuk pupa menekuk dan kepalanya membesar. Fase pupa membutuhkan waktu 2-5 hari, selama fase ini pupa tidak makan. Setelah melewati fase ini, pupa  berubah menjadi nyamuk yang dapat terbang dan ke luar dari air dengan

organ-organnya seperti antena, belalai, kaki, dada, perut, dan sayap (Kardinan, 2004).

Gambar 2.2 Siklus hidup nyamuk 2.3.4 Jenis Nyamuk

Ada lebih dari 3.500 jenis nyamuk yang diketahui di dunia yang diidentifikasi pada area-area tertentu. Ada 3 jenis utama nyamuk yang dapat mendominasi di seluruh dunia, yaitu  Aedes Albopictus, Culex Pipines, dan  Anopheles quadrimaculatus (Soedarto, 2003).

1.  Nyamuk Malaria ( Anopheles Quadrimaculatus)

Malaria berasal dari bahasa Italia yaitu mala =  buruk, aria = udara. Dengan ciri-ciri penyakit infeksi demam berkala, mengigil, dan berkeringat yang di sebabkan oleh plasmodium melalui gigitan nyamuk betina Anopheles yang dapat menyebabkan kematian (Soedarto 2003).

(19)

Falciparum, Plasmodium vivax, Plasmodium malariae, dan Plasmodium ovale.  Nyamuk malaria banyak terdapat di rawa-rawa.

a. Malaria falciparum

Malaria falciparum merupakan jenis malaria paling ganas dan berbahaya dan paling menyebabkan kematian, yang disebabkan oleh  Plasmodium  falciparum. Manifestasi klinik yang sering terjadi pada malaria falciparum yang  berat adalah terjadinya malaria serebral, anemia terutama pada anak, gagal ginjal,

asidosis, hemoglobinuria. Gejala klinik Malaria falciparum biasanya terjadi 7-14 hari sesudah gigitan nyamuk. Bila tidak segera diobati akan menyebabkan kematian hanya dalam beberapa hari akibat adanya eritrosit yang rusak

 b. Malaria malariae

Merupakan jenis malaria yang di sebabkan oleh  Plasmodium malariae. Ciri-cirinya adalah demam berkala empat hari sekali, dengan puncak demam setiap 72 jam dan dapat kambuh kembali.

Ada 2 faktor utama dalam penyebaran penyakit pada manusia yang disebabkan oleh nyamuk:

1. Vektor atau perantara yaitu, nyamuk yang membawa protozoa, virus dan larva cacing.

2. Sumber infeksi yaitu, manusia yang sedang sakit dan masih mengandung virus aktif malaria (Kardinan, 2003).

c. Malaria Vivax

Penyakit malaria merupakan suatu penyakit yang disebabkan oleh  Plasmodium vivax  atau  Plasmodium ovale. Penyakit ini jarang menimbulkan kematian terhadap penderita. Ciri-cirinya adalah penderita mengalami sakit yang

(20)

mendadak, demam berkala tiga hari sekalidengan puncak setelah 48 jam di sertai dengan menggigil, nyeri kepala dan punggung, mual, berkeringat, dan  pembesaran limpa pada awal penyakit,anemia dan disertai trombositopenia.

Gambar 2.3 Nyamuk Anopheles 2.  Nyamuk Demam Berdarah (Aedes Aegypti)

Penyakit demam yang dapat berkembang menjadi demam berdarah yang disebabkan oleh virus dengue dan sebagai vektor adalah nyamuk Aedes Aegypti. Virus ini terdiri dari empat tipe, yaitu virus dengue tipe 1, 2, 3, dan 4 yang dapat di bedakan secara serologis. Nyamuk demam berdarah memiliki ciri-ciri yang spesifik, yaitu memiliki lingkaran putih pada lingkaran kaki dan bintik-bintik  putih di tubuhnya. Nyamuk demam berdarah biasanya mengigit pada pukul delapan pagi hingga satu siangdan pada pukul tiga hingga lima sore. Pada malam hari hari nyamuk bersembunyi di sela-sela pakaian yang tergantung, gorden, ruangan gelap dan lembab (Kardinan, 2003).

Masa inkubasi dengue pada manusia sekitar 4-5 hari. Gejala dan keluhan awal dengue tidak spesifik berlangsung selama 1-5 hari berupa demam ringan, sakit kepala, dan malaise. Demam yang terjadi berlangsung secara mendadak, kemudian dalam waktu 2-7 hari menurun menuju suhu normal. Bersamaan

(21)

dengan berlangsungnya demam, gejala klinik yang tidak spesifik yaitu nyeri  punggung, nyeri tulang, dan sendi, rasa lemah, dan nyeri kepala. Pada demam  berdarah dengue perdarahan biasanya terjadi pada hari ke dua dari demam,  perdarahan juga mudah terjadi di tempat vena pungsi. Pemeriksaan darah pada  penderita demam berdarah menunjukkn jumlah trombosit yang kurang dari 100.000 per ml, hematokrit lebih dari 20%. Pada pemeriksaan yang kedua kadar hemoglobin Sahli lebih dari 20% (Soedarto, 2003).

Gambar 2.4 Nyamuk Aedes aegepty 3.  Nyamuk biasa (Culex)

 Nyamuk Culex memiliki ciri-ciri pada rongga dada, kaki, dan urat pada sayap selalu ditutupi dengan sisik berwarna coklat. Berwarna pudar, ujung perut selalu menumpul. Larva nyamuk culex bersarang pada 45° permukaan air. Telur  berwarna coklat, panjang, dan silinder, vertikal pada permukaan air, tersementasi  pada susuna 300 telur. Panjang susunan biasanya 3-4 mm dan lebar 2-3 mm.

Pada dasarnya perkembangan habitatnya terjadi di ladang padi, genangan air limbah, dan saluran pipa. Umumnya nyamuk culex menggit pada malam hari,  biasanya berdiam diri dalam ruangan sebelum dan setelah makan darah.

Terkadang nyamuk culex beristirahat di luar ruangan, lebih menyukai warna yang lebih gelap.

(22)

 Nyamuk Culex merupakan vektor yang dapat menyebabkan penyakit  Encephalitis - B. Encephalitis adalah adalah penyakit yang menyerang pada susunan saraf pusat disebabkan oleh virus yang ditularkan oleh nyamuk Culex. salah satu jenis penyakit Encephalitis yaitu Jepenes Encephalitis, sebagai vektor adalah jenis nyamuk Culex Tritaeniorhyncus. Culex Tritaeniorhyncus adalah nyamuk Culex yang berkembang biak di daerah sekitar kandang peternakan sapi,  babi, sawah, dan parit.

Gambar 2.5 Nyamuk Culex 2.4 Insektisida

Insektisida adalah bahan-bahan kimia yang digunakan untuk memberantas serangga. Berdasarkan atas stadium serangga yang dibunuhnya, maka insektisida dibagi menjadi imagosida yang ditunjukkan pada serangga dewasa, la rvasida yang ditujukan pada larva serangga dan ovosida yang ditujukan untuk membunuh telurnya. Insektisida dapat membunuh serangga dengan dua mekanisme, yaitu dengan meracuni makanannya (tanaman) dan dengan langsung meracuni serangga tersebut (Soedarto, 1990).

Berdasarkan cara masuknya insektisida ke dalam tubuh serangga dapat dibedakan menjadi 3 kelompok, yaitu sebagai berikut:

a. Racun kontak

(23)

melalui kulit, celah/lubang alami yang pada tubuh (trachea) langsung mengenai mulut serangga. Serangga akan mati apabila bersinggungan langsung (kontak) dengan bahan tersebut. Kebanyakan racun kontak juga berperan sebagai racun lambung.

 b. Racun pernafasan

Racun pernafasan adalah insektisida yang masuk melalui trachea serangga dalam bentuk partikel mikro yang melayang di udara. Serangga akan mati bila menghirup partikel mikro insektisida dalam jumlah yang cukup. Kebanyakan racun pernafasan berupa gas, asap, dan uap dari insektisida (Munaf, 1997).

c. Racun perut

Racun perut adalah insektisida yang membunuh serangga sasaran dengan cara masuk ke pencernaan melalui makanan yang mereka makan. Insektisida akan masuk ke organ pencernaan serangga dan dibawa oleh cairan tubuh serangga menuju pusat syaraf serangga, organ-organ respirasi. Dalam hal ini serangga harus memakan tanaman yang sudah disemprot insektisida yang mengandung residu dalam jumlah yang cukup untuk membunuh.

Berdasarkan mekanisme kerjanya, insektisida dapat dibedakan atas: a. Insektisida Golongan antikolinesterase:

1. Organofosfat seperti parathion, malathion, systox, hETP, diazinon, diklorvos, dan lain-lain.

2. Golongan karbamat seperti carbaryl aldicarb, propoxur, zectan, metacil, dan lain-lain.

 b. Insektisida Golongan organoklorin: 1. Derivat kloroethana

(24)

2. Siklodenia

3. Klorosikloheksan

Insektisida sintesis tersebut walaupun mempunyai manafaat yang cukup  besar pada masyarakat, namun dapat pula memberikan dampak negatif pada manusia dan lingkungan. Pada manusia dapat menimbulkan keracunan yang dapat mengancam jiwa manusia atau menimbulkan penyakit atau cacat. DDT dan organoklorin yang lain dapat berlaku sebagai agen kanker (karsinogenik)  penyebab penyakit kardovaskular yang dapat menyebabkan kematian. Sedangkan  parathion dapat menyebabkan asma bronchial . Karena insektisida sintetis membutuhkan waktu yang lama untuk bisa didegredasi, sehingga memberikan dampak negatif terhadap lingkungan (Munaf, 1997).

Obat nyamuk bakar dan semprot pada umumnya mengandung bahan kimia sintesis propoxur, transfluthrin, dan dikhlorvos. Dan anti nyamuk atau penolak sediaan lotion umumnya mengandung N,N-diethyl-m-toluamide (DEET). Mekanisme kerja senyawa kimia ini terhadap serangga dengan cara menghambat aktivitas sisitem saraf pusat dan enzim acetylcholinesterase, yang menyebabkan kelumpuhan dan kematian (Munaf, 1997).

 N,N-diethyl-m-toluamide (DEET) adalah minyak agak kuning bahan aktif repelan (penolak) serangga yang digunakan pada kulit dalam bentuk sediaan lotion terutama untuk mengusir dan melindungi dari gigitan nyamuk. Senyawa  N,N-diethyl-m-toluamide (DEET) tidak berbau tetapi mempunyai efek samping

yang dapat mengiritasi mata, menimbulkan rasa terbakar pada kulit yang terluka atau jaringan membran (Munaf, 1997).

(25)

mengaburkan penglihatan, keringat berlebih, pusing, sakit kepala, dan badan lemah, propoxur juga dapat menurunkan aktivitas enzim yang berperan pada transmisi, dan berpengaruh buruk pada hati dan reproduksi, sedangkan dichlorvos  bersifat teratogenik (membahayakan perkembangan janin) pada percobaan mencit, yang mungkin juga sama membahayakannya bagi perkembangan manusia. Selain itu dikhlorvos juga dapat memicu kanker pada bagian tubuh yang kontak dengan zat tersebut (Munaf, 1997).

Berbagai tanaman hias ternyata juga mampu menjadi tanaman anti nyamuk atau penolak nyamuk dengan cara menanam tanaman tersebut di depan rumah yang dapat mengeluarkan aroma atau komponen kimia (minyak atsiri) yang dapat menguap dari daun dan bunganya, contohnya: Selasih yang mengandung eugenol, linalool, geraniol, tanaman hias yang lain adalah geranium yang mengandung geraniol, sitronelal dan terpineol, tanaman anti nyamuk yang lain adalah bunga kenanga mengandung linalool, dan tumbuhan lainnya. Sebagaian tanaman ada yang dapat digunakan dengan cara meremas-remas daun atau bunganya kemudian di gosokkan ke kulit agar terhindar dari gigitan nyamuk seperti tumbuhan zodia yang mengandung bahan aktif evodiamine  dan rutaecarpine.

2.4 Krim

Krim adalah bentuk sediaan setengah padat berupa emulsi kental yang mengandung satu atau lebih bahan obat terlarut atau terdispersi dalam bahan dasar yang sesuai yang mengandung tidak kurang dari 60% air, dimaksudkan untuk  pemakaian luar. Krim ada dua tipe yaitu krim dengan type minyak dalam air

(26)

Krim tipe A/M merupakan krim yang tidak dapat dicuci dengan air sedangkan krim tipe M/A merupakan krim yang dapat dicuci dengan air. Untuk krim tipe A/M digunakan basis: Sabun polivalen, span, adeps lanae, cholesterol, cera. Untuk tipe krim M/A digunakan: triethanolaminum stearat, natrium stearat, kalium stearat, ammonium stearat.

Sediaan krim menggunakan setil alkohol sebagai  stiffening  yang berfungsi sebagai bahan pengental atau pengeras di dalam formula krim, ditambah gliserin untuk mencegah efek pengeringan, zat pengemulsi berupa surfaktan-surfaktan anionik, kationik, dan nonionik, dan kestabilan krim ditambahkan zat antioksidan dan zat pengawet misalnya nipagin 0,12-0,18%, nipasol 0,02-0,05% (Anief, 1999).

Pembuatan krim secara umum adalah sebagai berikut: bagian lemak dilebur di atas penangas air kemudian ditambahkan bagian airnya dengan zat  pengemulsi lalu diaduk sampai terjadi suatu campuran berbentuk krim. Dasar

emulsi hidrofil melalui penambahan air akan membentuk tipe emulsi M/A. Menurut Voight (1995), keuntungan dari tipe emulsi ini adalah:

a. Mampu menyebar dengan baik pada kulit  b. Memberikan efek dingin terhadap kulit

c. Bersifat lembut

d. Mudah dicuci dengan air sehingga dapat hilang dengan mudah dari kulit. e. Pelepasan obatnya baik (Syamsuni, 2006).

2.5 Kulit

Kulit adalah organ tubuh yang terletak paling luar yang membatasi manusia dari lingkungan hidup, merupakan suatu organ besar yang berlapis-lapis,

(27)

mempunyai bermacam-macam fungsi dan kegunaan. Secara garis besar kulit  berfungsi sebagai pembatas terhadap serangan fisika dan kimia yang datang dari

luar tubuh.

2.6.1 Anatomi kulit

Pembagian kulit secara umum tersusun atas tiga lapisan utama yaitu: 1. Lapisan epidermis (kutikel atau kulit ari)

2. Lapisan dermis adalah lapisan di bawah epidermis yang jauh lebih tebal dari  pada lapisan epidermis.

3. Lapisan subkutis adalah kelanjutan dermis, terdiri atas jaringan ikat longgar  berisi sel-sel lemak (Wasitaatmadja, 1997).

Gambar 2.9 Anatomi Kulit 2.6.2 Jenis kulit

Berdasarkan faktor-faktor yang mempengaruhinya, kulit tubuh secara umum dapat dibedakan sebagai berikut:

1. Jenis kulit sensitif

Kulit jenis ini mudah sekali mengalami gangguan dan masalah yang disebabkan oleh perubahan suhu, kelembapan, maupun penggunaan kosmetik yang tidak sesuai.

2. Jenis kulit reaktif

Kulit jenis ini cepat mengalami perubahan secara tiba-tiba akibat adanya  perubahan lingkungan. Reaksi ini meskipun dalam jangka waktu yang tidak

(28)

terlalu lama akan kembali normal. Misalnya, kulit muka menjadi merah secara tiba-tiba karena pelebaran pembuluh darah kapiler di bawah kulit tanpa diketahui  penyebab yang jelas.

3. Jenis kulit alergi

Jenis kulit ini berhubungan dengan sistem kekebalan tubuh. Pada kasus tertentu sistem kekebalan tubuh tidak dapat berperan sehingga akan timbul alergi. Tanda-tanda alergi yaitu kulit kemerahan dan biasaya juga timbul gatal-gatal pada kulit (Wirakusumah, 2007).

2.6.3 Fungsi kulit

 berdasarkan fungsi kulit pada manusia ada 6 fungsi yaitu sebagai: a. Fungsi proteksi

Fungsi proteksi adalah fungsi kulit yang melindungi bagian dalam tubuh manusia terhadap gangguan fisik maupun mekanik misalnya tekanan, gesekan, tarikan, gangguan kimiawi seperti zat-zat kimia yang dapat menyebabkan iritasi kulit contoh: karbol, lisol atau asam dan basa kuat.

 b. Fungsi absorbsi (penyerapan)

Fungsi asorbsi adalah fungsi kulit yang membatasi tubuh dari penyerapan air, larutan, maupun benda padat. Kemampuan absorbsi kulit dipengaruhi oleh tebal tipisnya kulit, kelembapan udara, dan jenis zat yang menempel di kulit. c. Fungsi ekskresi

Fungsi ekskresi adalah fungsi kulit yang mempunyai kemampuan mengeluarkan zat-zat yang tidak berguna atau sisa hasil metabolisme dalam tubuh, misalnya urea, natrium klorida, dan sedikit lemak.

(29)

d. Fungsi pengatur suhu tubuh

Fungsi pengatur suhu tubuh adalah fungsi kulit yang mempunyai

kemampuan untuk mengatur keadaan suhu pada tubuh, misaln ya pada saat suhu lingkungan menurun (cuaca dingin) kulit akan membakar s ebagain lemak untuk menghangatkan tubuh.

e. Fungsi pengindera

Fungsi pengindera adalah fungsi kulit untuk menerima ransangan dingin dan panas, misalnya pada saat kulit terkena gelas yang berisi air panas maka secara spontan tangan akan menjauhi gelas tersebut.

f. Fungsi ekspresi emosi

Fungsi ekspresi emosi adalah fungsi kulit untuk meyatakan emosi yang terdapat dalam jiwa manusia, misalnya pada saat gembira kulit akan relaksasi atau tersenyum, pada saat tegang kulit akan mengeluarkan keringat, dan pada saat ketakutan kulit akan berubah menjadi pucat (Wasitaatmadja, 1997).

(30)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian dilakukan terhadap daun cengkeh (Eugenia aromaticum) yang terdiri dari tahapan persiapan bahan penelitian, pemeriksaan organoleptis,  pembuatan simplisia, penetapan kadar air simplisia kering, pembuatan ekstrak etanol daun cengkeh, pemeriksaan kandungan kimia dari bahan segar simplisia kering, dan ekstrak etanol. pembuatan formula sediaan krim, dan uji fisik sediaan yang meliputi uji PH sediaan, tipe emulsi sediaan, stabilitas sediaan, homogenitas sediaan, uji iritasi sediaan terhadap sukarelawan, dan uji kemampuan sediaan sebagai pengusir nyamuk pada lengan sukarelawan..

3.1 Tempat Penelitian

Penelitian dilakukan di labratorium penelitian Universitas Sariimutiara Indonesia –  Medan.

3.2 Alat dan Bahan

3.2.1 Alat yang digunakan

Alat –  alat gelas laboratorium, blender, beker gelas, freeze dryer, lumpang forselin, stamper, tisu, batang pengaduk, neraca analitik, termometer, penangas air, oven, kotak untuk pengujian anti nyamuk.

3.2.2 Bahan

 – 

 bahan yang digunakan

Daun cengkeh, asam stearat, trietanolamin, propilen glikol, vaselin alba, cera alba, akuades, isopropyl miristat, paraffin cair, nipagin, nipasol, natrium metabisulfit, setil alkohol, emulsifying wax. jentik nyamuk, air suling,

(31)

3.3 Prosedur Kerja

3.3.1 Pengumpulan Bahan Tumbuhan

Bahan yang digunakan adalah daun cengkeh yang masih segar.  pengambilan sampel dilakukan secara purposif yaitu tanpa membandingkan

dengan tanaman yang sama dari daerah lain, diambil dari pekarangan rumah masyarakat di daerah Sunggal Medan.

3.3.1 Pemeriksaan Organoleptis

Pemeriksaan organoleptis dilakukan terhadap tumbuhan segar meliputi warna, bau, dan rasa dari daun cengkeh, dan pemeriksaan makroskopis meliputi ukuran dan bentuk daun cengkeh.

3.4 Pembuatan Larutan Pereaksi 2.6 Pembuatan Larutan Pereaksi 2.6.1 FeCl3 1 % b/v

Sebanyak 1 g FeCl3 dilarutkan dalam akuades sampai 100 ml (Depkes RI, 1989)

2.6.2 Asam Klorida 2 N

Sebanyak 7 ml asam klorida P diencerkan dengan akuades sampai 100 ml (Depkes RI, 1989)

2.6.3 Timbal (III) asetat 0,4 M

Timbal III asetat sebanyak 15,17 g dilarutkan dalam akuades bebas CO2 hingga

100 ml (Depkes RI,1989) 2.6.4 Pereaksi Mayer

Kalium iodida sebanyak 5 g dilarutkan dalam akuades secukupnya kemudian ditambahkan merkuri (II) krorida 1,356 g larutan dikocok dan ditambahkan air suling hingga 100 ml (Depkes RI,1989)

(32)

2.6.5 Peraksi Molish

Sebanyak 3 g alfa- naftol dilarutkan dalam asam nitrat 0,5 N secukupnya dan ditambahkan akuades hingga 100 ml (Depkes RI,1989)

2.6.6 Pereaksi Bouchardat

Sebanyak 4 g kalium iodida dilarutkan dalam akuades secukupnya kemudian ditambahkan 2 g iodida, lalu tambahkan akuades hingga 100 ml (Dekes RI, 1989)

2.6.7 Pereaksi Dragendorf

Sebanyak 8 g bismuth nitrat dilarutkan dalam asam nitrat 20 ml kemudian dicampur dengan larutan kalium iodida sebanyak 27,2 g dalam 50 ml akuades. Campuran didiamkan sampai memisah sempurna, larutan jernih diambil dan diencerkan dengan air secukupnya hingga 100 ml (Depkes RI, 1989)

2.6.8 Pereaksi Lieberman

 – 

 Bauchardat

Lima bagian volume asam sulfat P dengan 50 bagian etanol 95 % tambahkan hati- hati 5 bagian volume asam asetat an hidrat kedalam campuran kemudian dinginkan (Depkes RI, 1989)

2.7 Pemeriksaan Skrinig Fitokimia

Pemeriksaan skrining fitokimia menurut Materia Medika Indonesia Jilid V 1989. Skrining fitokimia merupakan pemeriksaan terhadap golongan senyawa kimia yang terkandung di dalam daun cengkeh, golongan senyawa kimia yang diperiksa meliputi glikosida, flovonoida, steroida/triterpenoida, alkaloida, tannin, saponin dan minyak atsiri.

2.7.1 Pemeriksaan Glikosida (Depkes RI, 1995 )

(33)

Erlemeyer, masukkan batu didih dan tambahkan 20 ml etanol 95 % dan air (7 : 3 ) dipanaskan dengan pendingin balik selama kurang lebih 10 menit, dinginkan dan saring, tambahkan 10 ml air dan 10 ml larutan Pb asetat 0,4 M, diamkan selama 5 menit, saring kurang lebih 10 ml filtratnya masukkan kedalam corong pisah, sari dengan 10 ml campuran kloroform dan isopropanal (3 : 2 ) sebanyak 3 kali, kumpulkan sari tambahkan asam sulfat anhidrat, saring dan uapkan pada suhu 50oC, larutkan sisa dalam methanol p sebagai larutan percobaan.

Kemudiaan uapkan 0,1 ml larutan percobaan di atas dengan penangas air, larutkan sisa di dalam 5 ml asam asetat anhidrat p, tambahkan 10 tetes asam sulfat  p jika terjadi warna biru atau hijau menunjukkan adanya glikosida (reaksi

Lieberman –  bauchardat ).

Masukkan 0,1 ml larutan percobaan dalam tabung reaksi uapkan di atas penangas air, ditambahkan 2 tetes air dan 5 tetes pereaksi molish LP, tambahkan 2 ml hati-hati asam sulfat, jika terbentuk cicin warna biru pada batas cairan, menunjukkan adanya ikatan gula ( reaksi molish ).

2.7.2 Pemeriksaan Flavonoida (Depkes RI, 1995)

Sebanyak kurang lebih 500 mg sampel, dimasukkan kedalam labu erlemeyer ditambahkan 10 ml methanol,menggunakan alat pendingin balik selama 10 menit. Saring panas melalui kertas saring.filtrat diencerkan dengan 10 ml air, setelah dingin tambahkan 5 ml eter minyak tanah, kocok hati-hati dan diamkan. Ambil lapisan methanol, lalu uapkan pada suhu 40oC, sisanya dilarutkan dalam 5 ml etil asetat, lalu saring.filtrat digunakan untuk uji.

(34)

- Sebanyak 1 ml filtrat diuapkan sampai kering, sisanya dilarutkan dalam 2 ml etanol 95%, lalu ditambahkan 0,5 g serbuk Zn dan 2 ml asam klorida 2  N. Jika dalam waktu 2-5 menit terjadi merah intensif menunjukkan adanya

flavonoid.

- Sebanyak 1 ml filtrat diuapkan sampai kering, sisanya dilarutkan dalam 2 ml etanol 95%, lalu ditambahkan 0,1 g serbuk magnesium dan 10 tetes asam klorida pekat. Jika terlihat warna merah jingga sampai merah ungu menunjukkan adanya flavonoid.

2.7.3 Pemeriksaan Steroida (Depkes RI, 1995)

Sebanyak kurang lebih 500 mg sampel, disari dengan 20 ml eter, hasilnya diuapkan dengan cawan penguap, pada sisa ditambahkan 5 ml asam asetat anhidrat dan 5 tetes asam sulpat p, ( pereaksi liberman  –   bauchardat ), apabila terbentuk warna merah atau ungu yang kemudian akan berubah menjadi warna  biru atau biru hijau menunjukkan adanya senyawa steroida/triterpenoida bebas.

2.7.4 Pemeriksaan Alkaloida (Depkes RI, 1995)

Sebanyak 500 mg sampel dimasukkan ke dalam tabung reaksi ditambahkan 10 ml HCL 0,2 N, dipanaskan di dalam penangas air selama 10 menit, dan disaring selanjutnya:

Filtrat dipakai untuk percobaan berikut :

- Sedikit filtrat ditambahkan 2 tetes larutan iodium, diamati apakah terjadi kekeruhan atau endapan coklat.

- Sedikit filtrat ditambahkan 2 tetes larutan menyer, diamati apakah terjadi kekeruhan atau endapan kuning sampai coklat.

Jika reaksi di atas terbentuk endapan dilanjutkan reaksi:

- Sedikit filtrat ditambahkan 2 tetes larutan Bouchardat, diamati apakah terjadi endapan coklat

- Sedikit filtrat ditambahkan 2 tetes larutan Dragendorf, diamati apakah terjadi endapan coklat.

(35)

Tetapih jika reaksi 1 dan 2 hanya terjadi kekeruhan dilanjutkan pemeriksaan  berikut:

Sebanyak 8 ml filtrat ditambahkan 2 ml ammonia pekat, dan dikocok dengan 5 ml campuran eter-kloroform (3:1), dan dibiarkan memisah, diambil lapisan eter-kloroform, ditambahkan sedikit natrium sulfat anhidrit, disaring dan diuapkan filtrat di dalam gelas arloji diatas penangas air dilarutkan residunya dengan sedikit HCL 2 N. dilakukan reaksi seperti 1 s/d 4 di atas. Alkaloida positif  jika terjadi endapan atau kekeruhan paling sedikit pada dua dari tiga percobaan di

atas.

2.7.5 Pemeriksaan Tanin (Depkes RI, 1995)

Sebanyak 2 g sampel dipanaskan dengan 50 ml air mendidih di atas tangas air selama 30 menit sambil diaduk. Diamkan, kemudian dienap tuangkan melalui segumpal kapas ke dalam labu takar 250 ml. Filtratnya direaksikan dengan besi (III) amonium sulfat, apabila terbentuk warna biru atau hijau kehitaman menunjukkan adanya tanin.

2.7.6 Pemeriksaan Saponin (Depkes RI, 1995) Uji Busa

Sampel ditimbang sebanyak 0,5 g dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi, lalu ditambahkan 10 ml air panas, dinginkan dan kemudian kocok kuat-kuat selama 10 detik. Jika terbentuk busa setinggi 1-10 cm yang stabil tidak kurang dari 10 menit dan tidak kurang dengan penambahan asam klorida 2 N, menunjukkan adanya saponin.

2.7.7 Pemeriksaan Minyak Atsiri ( Depkes RI, 1995 )

Sedikit sampel yang telah dihaluskan disari dengan metanol, kemudian dibagi dua, sebagian ditambah asam borat dan sebagian lagi ditambah vanilin

(36)

asam sulfat. Endapan warna merah menunjukkan adanya minyak atsiri. 2.8 Pengolahan Tanaman Cengkeh

Daun segar dibersihkan dari kotoran dan hama, lalu dicuci hingga bersih kemudian dikeringkan dari air cucian.. Kemudian daun diiris menjadi bagian kecil dan dihaluskan dengan belender, hasil yang diperoleh dikeringkan dengan cara  pendinginan menggunakan freeze dryer selama 72 jam pada suhu -4oC dan

tekanan 4 atm, sehingga di peroleh daun cengkeh kering 2.9 Pembuatan Lilin Pengemulsi (Emulsifying wax)

Formula lilin pengemulsi :

R/ setil alkohol 90 g  Natrium lauril sulfat 10 g

Akuades 4 ml

Cara pembuatan :

Setil alkohol dipanaskan hingga suhu 70  –  75oC pada penangas air, kemudian tambahkan natrium lauril sulfat dan diaduk, kemudian ditambahkan akuades, lalu diaduk kuat hingga membentuk busa.pengadukan dihentikan hingga didapatkan masa yang homogen selanjutnya didinginkan dengan cepat ( menggunakan air dingin pada bagian bawah ).

2.10 Pembuatan dasar Krim

Formula dasar krim untuk 600 gr : Isoprofil miristat 4 ml Paraffin liquidum 2 ml Asam stearat 15 gr Emulsifying wax 1 gr Cera alba 2 gr Vaselin alba 8 gr

(37)

Trietanolamin 1 ml Propilenglicol 8 ml  Nipagin 0,150 mg  Nipasol 0,050 mg  Na.metabisulfit 0,1 mg Akuades ad 100 ml Farfum q s

Dasar krim yang dibutuhkan sebanyak 600 gr, maka susunan formulanya adalah sebagai berikut :  Isopropil miristat : 600 X 4 ml = 24 ml 100  Paraffin liquidum : 600 X 2 ml = 12 ml 100  Asam stearat : 600 X 15 gr = 90 gr 100  Emulsifying wax : 600 X 1 gr = 6 gr 100  Cera alba : 600 X 2 gr = 12 gr 100  Vaselin alba : 600 X 8 gr = 48 gr 100  Trietenolamin : 600 X 1 ml = 6 ml 100  Propilenglicol : 600 X 8 ml = 48 ml 100   Na. metabisulfit : 600 X 0,1 mg = 0,6 mg 100   Nipagin : 600 X 0,150 mg = 0,9 mg 100   Nipasol : 600 X 0,050 mg = 0,3 mg 100  Aquades ad 600 ml = 600 –  ( 24 + 12 + 90 + 6 + 12 + 48 + 6 + 0,9 + 0,3 + 0,6 ) = 600 –  199,8 = 400,2 ml  Parfum : q s

(38)

2.11 Cara Pembuatan

Dalam cawan penguap dimasukkan parafin cair, isopropil miristat, asam stearat, lilin pengemulsi, cera alba, dan vaselin alba, kemudian dipanaskan diatas  penangas air sampai meleleh sempurna. didapat masa I

Dalam beker gelas dimasukkan trietanolamin, propilenglicol ,nipagin, nipasol, na-metabisulfit, dan akuades kemudian aduk, maka didapat masa II

Kedalam lumpang yang telah dipanaskan terlebih dahulu dimasukkan  bagian masa I yang masih panas lalu gerus, kemudian tambahkan masa II yang

masih panas sedikit demi sedikit secara perlahan  –   lahan sambil gerus secara konstan (tetap) hingga homogen,maka didapat dasar krim.

2.12 Pembuatan Sediaan Krim Pengusir Nyamuk

Konsentrasi ektrak daun cengkeh ( Eugenia aromatica) yang digunakan dalam penelitian ini yaitu : 1 %, 2 %, 3 %, 4 %, 5 %, dan 6 %. Adapun formula yang dibuat adalah sebagai berikut :

Sediaan 1 % = 1 gr ekstrak cengkeh + 99 g dasar krim Sediaan 2 % = 2 gr ekstrak cengkeh + 98 gr dasar krim Sediaan 3 % = 3 gr ekstrak cengkeh + 97 gr dasar krim Sediaan 4 % = 4 gr ekstrak cengkeh + 96 gr dasar krim Sediaan 5 % = 5 gr ekstrak cengkeh + 95 gr dasar krim Sediaan 6 % = 6 gr ekstrak cengkeh + 94 gr dasar krim Cara pembuatan :

Dalam lumpang yang bersih dan kering dimasukkan dasar krim kemudian ditambahkan ekstrak daun cengkeh sedikit demi sedikit, lalu gerus hingga homogen lalu tambahkan parfum secukupnya.

(39)

2.13 Pemeriksaan Sediaan 2.13.1 Uji PH Sediaan

Penentuan pH dilakukan dengan alat pH meter Caranya :

Satu gram sediaan diencerkan dengan aquades 10 ml didalam satu wadah,kemudian ujung pH meter dicelupkan dalam larutan tersebut kemudian angkat, tunggu beberapa menit hingga angka pH meter konstan, angka yang ditunjukkan pH meter merupakan harga pH sediaan.

2.13.2 Uji Tipe Emulsi Sediaan

Sediaan ditimbang sebanyak 1 gr dioleskan di atas wadah kaca secara merata kemudian ditambahkan sedikit biru metil lalu dilihat di bawah mikroskop,  jika warna biru lebih dominan (sediaan larutan dalam biru metil) maka sediaan tersebut adalah emulsi tipe M/A, sedangkan jika warna dari sediaan lebih dominan (zat warna tidak larut) maka sediaan adalah emulsi tipe A/M.

2.13.3 Uji Stabilitas Sediaan Caranya :

Masing  – masing formula sediaan dimasukkan kedalam gelas ukuran 25 ml, ditutup bagian atasnya dengan plastik. Selanjutnya pengamatan dilakukan  pada saat sediaan baru selesai dibuat, kemudiaan setelah 1 minggu, 4 minggu, 6 minggu, 8 minggu, pada temperatur kamar, yang diamati berupa pecah atau tidaknya emulsi dan femisahan fase, perubahan warna dan perubahan bau dari sediaan krim tersebut.

2.13.4 Uji Homogenitas

(40)

Caranya :

Sejumlah tertentu krim dioleskan pada sekeping kaca atau bahan transparan lain yang cocok, sediaan harus menunjukkan susunan yang homogen dan tidak terlihat adanya butiran kasar. (Dirjen POM, 1979).

2.13.5 Uji Iritasi Terhadap Kulit Sukarelawan

Percobaan ini dilakukan pada 6 orang sukarelawan wanita yang memiliki aktifitas yang relatif sama, berusia 21- 23 tahun, tidak mengalami kelainan pada kulit atau penyakit pada kulit, tidak memiliki riwayat alergi, bersedia untuk menjadi sukarelawan pada penelitian ini. Caranya sediaan krim dioleskan pada  bagian lengan bawah sukarelawan, dibiarkan selama 24 jam dan dilihat perubahan yang terjadi berupa iritasi pada kulit, gatal - gatal, atau pengkasaran ( Wisita atmaja, 1997 ).

2.13.6 Uji Ukaran Partikel Sediaan

Ukuran partikel sediaan ditentukan dengan menggunakan mikroskop  bermikrometer dengan perbesaran 10 x 40.

Caranya :

Masing  –   masing sediaan sebaanyak 1 gr dimasukkan kedalam beker gelas, kemudian diencerkan dengan akuades 10 ml diteteskan beberapa tetes di atas objek gelas kemudian ditutup dengan dek gelas dan diamati ukuran  partikelnya di bawah mikroskop dengan perbesaran 10 x 40. Pengamatan dilakukan pada saat sediaan telah selesai dibuat 1 minggu, 2 minggu, 3 minggu, 4 minggu, 5 minggu, 6 minggu, 7 minggu, sampai 8 minggu.

2.13.7 Uji Kemampuan Sediaan Untuk Mengusir Nyamuk

(41)

yang berukuran 45 x 30 x 30 cm. pembiakan dilakukan dengan cara memasukkan  jentik - jentik nyamuk dalam wadah berisi air sebagai media tempat jentik –  jentik  berkembang biak. Jentik akan bertahan 7  –   9 hari kemudian jentik berubah menjadi pupa 2 –  5 hari setelah itu pupa akan keluar dari kepompong dan berubah menjadi nyamuk dewasa yang dapat terbang dan keluar dari air. Pengujian dilakukan setelah nyamuk menjadi dewasa, jumlah nyamuk yang digunakan sebanyak 20 ekor untuk setiap pengujian.

Caranya :

1. Kedua tangan sukarelawan diolesi sediaan krim ekstrak daun cengkeh secara merata hingga siku. Pengujian dilakukan secara bertahap dimulai dari sediaan ekstrak daun cengkah 1%, 2%, 3%, 4%, 5%, 6% dan soffel sebagai pembanding.

2. Kedua tangan sukarelawan yang telah diolesi sediaan krim dimasukkan kedalam kotak yang telah berisi kurang lebih 20 ekor nyamuk, kemudian dibiarkan selama 2 jam dan diamati nyamuk yang hinggap pada kulit dan hitung jumlahnya.

(42)

BAB III

HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil Identifikasi Tumbuhan

Identifikasi tumbuhan dikirimkan ke Laboratorium Taksonomi Tumbuhan Departemen Biologi  –   Universitas Sumatra Utara Medan. hasilnya dinyatakan  bahwa tumbuhan yang digunakan adalah Daun cengkeh ( Eugenia aromatica.L)

family Myrtaceae

3.2 Hasil Uji Organoleptis

Hasil uji organoleptis tumbuhan daun cengkeh ( Eugenia aromatic) menunjukkan daun berwarna hijau kecoklatan, permukaan atas daun berwarna hijau kecoklatan licin dan mengkilat, permukaan bawah berwarna lebih muda. Memberikan bau aromatik, rasa pedas agak pahit, agak menggigit dan menimbulkan rasa tebal di lidah.

3.3 Hasil Uji Makroskopik

Hasil uji makroskopis daun cengkeh ( Eugenia aromatic) menunjukkan daun tunggal, helai daun berbentuk memanjang, pangkal daun runcing dan pinggir daun rata. Panjang daun 6 cm sampai 13,5 cm, lebar daun 1,5 cm sampai 5,5 cm,  panjang tangkai 0,6 cm sampai 2,5 cm.

3.4 Hasil Uji Mikroskopik

Hasil uji mikroskopis daun cengkeh ( Eugenia aromatic) menunjukkan  pada penampang melintang melalui tulang daun tampak epidermis ata s terdiri dari satu lapisan sel berbentuk empat persegi panjang, epidermis bawah dengan stomata. Mesofil meliputi jaringan palisade umumnya terdiri dari dua lapisan sel

Gambar

Gambar 2.1 Anatomi Nyamuk
Gambar 2.2 Siklus hidup nyamuk 2.3.4 Jenis Nyamuk
Gambar 2.3 Nyamuk Anopheles 2.  Nyamuk Demam Berdarah (Aedes Aegypti)
Gambar 2.4 Nyamuk Aedes aegepty 3.  Nyamuk biasa (Culex)
+7

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Berdasarkan dari jenis anti nyamuk yang membunuh atau mengusir nyamuk dari udara seperti bakar, elektrik dan semprot perlu di perhatikan sirkulasi udara ruangan

tidak mengigit, salah satunya yaitu dengan menggunakan sediaan penolak nyamuk.. yang digunakan

Hasil pengamatan menunjukkan bahan aktif dalam obat nyamuk bakar yang paling efektif dalam membunuh seluruh nyamuk Anopheles aconitus adalah Transflutrin 0,03%

Judul Skripsi : PEMANFAATAN EKSTRAK DAUN ZODIA DAN ROSEMARY SEBAGAI ANTI NYAMUK DALAM BENTUK REFILL DENGAN MEMANFAATKAN LIMBAH MAT ELEKTRIK.. Menyatakan dengan

Bagi masyarakat sebaiknya memperhatikan hal- hal sebagai berikut dalam menggunakan obat nyamuk, yaitu: i)Mengetahui efek dan bahaya obat nyamuk yang digunakannya. ii)Mencari informasi

Alat yang digunakan dalam pembuatan anti nyamuk mat elektrik dari daun sukun adalah pisau, timbangan, alat penghalus, pipet tetes, kertas saring, stopwatch, alat

kadar kolinesterase terjadi pada 18 responden yang telah menggunakan obat anti nyamuk bakar ≥5 tahun, 17 responden diantaranya mengalami penurunan. kadar kolinesterase

Pembahasan Tingkat Pengetahuan masyarakat terhadap pencegahan DBD menggunakan tanaman pengusir nyamuk di Dusun Munggur Kec Ngawi Kab Ngawi Berdasarkan tabel 5.6 menunjukkan bahwa