• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.3 Ekstraksi

2.3.3 Pembagian Ekstraksi

2.3.3.2 Ekstraksi Secara Panas

2.3.3.2.2 Soklet

Sokletasi dilakukan dalam sebuah alat yang disebut soxhlet. Cairan penyari diisikan pada labu, serbuk simplisia diisikan pada tabung dari kertas saring, atau tabung yang berlubang-lubang dari gelas, baja tahan karat, atau bahan lain yang cocok. Cairan penyari dipanaskan hingga mendidih. Uap cairan penyari naik ke atas melalui pipa samping, kemudian diembunkan kembali oleh pendingin tegak. Cairan turun ke labu melalui tabung yang berisi serbuk simplisia. Cairan penyari sambil turun melarutkan zat aktif serbuk simplisia. Karena adanya sifon maka setelah cairan mencapai permukaan sifon, seluruh cairan akan kembali ke labu (Voigt, 1994).

Rangkaian alat soklet dapat dilihat pada Gambar 2.17 berikut ini :

Gambar 2.17 Rangkaian alat soklet Keterangan :

1. Kondenser berfungsi sebagai pendingin, dan juga untuk mempercepat proses pengembunan.

2. Timbal berfungsi sebagai wadah untuk sampel yang ingin diambil.

3. Pipa F berfungsi sebagai jalannya uap, bagi pelarut yang menguap dari proses penguapan.

4. Sifon berfungsi sebagai perhitungan siklus, bila pada sifon larutannya penuh kemudian jatuh kelabu alas bulat maka hal ini dinamakan satu siklus.

5. Labu alas bulat berfungsi sebagai wadah sampel dan pelarutnya.

6. Hot plate berfungsi sebagai pemanas larutan.

 Kelemahan metode sokletasi sebagai berikut :

a. Waktu yang dibutuhkan untuk ekstraksi cukup lama, sehingga kebutuhan energinya tinggi, dan bahan terekstraksi yang terakumulasi dalam labu mengalami beban panas dalam waktu yang cukup lama.

b. Pemanasan berlebih terhadap kandungan kimia dalam serbuk, sehingga tidak cocok untuk zat kimia yang termolabil.

c. Jumlah bahan terbatas (30-50 gram).

d. Tidak bisa dengan penyari air (harus solvent organik), sebab titik didih air 100°C harus dengan pemanasan tinggi untuk menguapkannya.

e. Memerlukan energi listrik.

 Kelebihannya antara lain sebagai berikut :

a. Cairan penyari yang diperlukan lebih sedikit dan secara langsung diperoleh hasil yang lebih pekat

b. Serbuk simplisia disari oleh penyari yang murni sehingga dapat menyari zat aktif lebih banyak

c. Penyari dapat diteruskan sesuai dengan keperluan tanpa menambah volume cairan penyari.

2.4. Analisis Lemak Babi (Lard) 2.4.1 Analisis Sifat Fisika

Dari rantai asam lemak didapatkan bahwa asam lemak jenuh . Mempunyai rantai karbon pendek ini berarti bahwa kedua asam lemak ini berupa zat cair pada suhu kamar sedangkan makin panjang rantai karbon menunjukkan makin tinggi titik leburnya zat padat. Makin banyak ikatan rangkap, makin rendah titik leburnya, ini dapat dilihat pada asam lemak butirat larut dalam air. Pelarutan asam lemak dalam air berkurang dengan bertambah panjangnya rantai karbon. Asam kaproat larut sedikit dalam air, sedangkan asam palmitat, stearat, oleat dan linoleat tidak larut dalam air. Asam linoleat mempunyai kelarutan dalam air sangat kecil (ngili, 2009).

Pengujian sifat fisikokimia dilakukan terhadapmasing-masing sampel lemak hewani yang meliputi : indeks bias, titik leleh dan bilangan penyabunan (AOAC, 2000)

2.4.2 Analisa Kualitatif 2.4.2.1 Uji Noda

Sampel yang mengandung minyak lemak hewani dilarutkan dalam campuran.

Sampel kemudian diteteskan diatas kertas saring dan kertas tulis.

Hasil pemantauan diperoleh karena mengandung lemak yang terkandung dalam larutan. Setelah kedua kertas disimpan dengan air, sisa tersebut masih ada karena larutan yang mengandung minyak tidak dapat larut dalam air yang menyebabkan sisa tetap tidak berasal dari kertas saring dan kertas tulis. Hasil yang diperlihatkan lemak pada saat penetesan, tidak ada noda (transparan) dikertas saring maupun kertas (Ramadhani, 2016)

2.4.2.2 Uji Kelarutan

Analisis kelarutan lipid serta derivat lipid terdahadap berbagai macam pelarut.

Dalam uji ini, kelarutan lipid ditentukan oleh sifat kepolaran pelarut. Jika lipid dilarutkan ke dalam pelarut polar maka lipid tersbut tidak akan larut. Hal ini karena lipid memiliki sifat nonpolar sehingga hanya akan larut pada pelarut yang sama-sama nonpolar (Poedjiadi,1994).

2.4.3 Analisis Kuantitatif Spektrofotometri

Spektrofotometri merupakan ilmu yang mempelajari tentang penentuan jumlah senyawa yang terdapat di dalam suatu sampel dengan cara mengukur secara akurat atau banyaknya cahaya yang diserap atau diemisikan oleh atom– atom atau molekul– molekul yang terdapat di dalam sampel tersebut (Cairns, 2008).

Spektrofotometri adalah metode yang terdiri dari spektrometer dan fotometer.

Spektrofotometri menghasilkan sinar dari spektrum dengan panjang gelombang tertentu dan fotometer adalah alat pengukur intensitas cahaya yang ditransmisikan atau diabsorbsi. Spektrofotometri merupakan alat untuk mengukur energi secara relatif jika energi tersebut ditransmisikan, direfleksikan atau diemisikan sebagai fungsi dari panjang gelombang (Khopkar, 1990).

Forcier (1971) Spektrofotometri merupakan pengukuran jauhnya penyerapan energi cahaya oleh suatu sistem kimia itu sebagai fungsi dari panjang gelombang,

radiasi, demikian pula pengukuran penyerapan yang menyendiri pada suatu panjang gelombang tertentu. Benda bercahaya seperti matahari atau suatu bohlam listrik memancarkan spektrum yang lebar dan terdiri dari panjang gelombang. Panjang gelombang yang dikaitkan dengan cahaya tampak mampu mempengaruhi selaput pelangi mata manusia dan karenanya menimbulkan kesan subjektif dan ketampakan.

Prinsip dasar spektrofotometri ini adalah apabila suatu sinar melalui senyawa tertentu, maka senyawa tersebut akan menyerap sinar dengan panjang gelombang tertentu. Warna senyawa (larutan) tergantung pada jenis sinar yang dipancarkan yang tertangkap oleh mata kita, sehingga senyawa ada yang berwarna maupun yang tidak berwarna (Suhartono,1989).

Spektrofotometri merupakan salah satu metode yang sangat penting dalam analisis kimia kuantitatif. Banyak kelebihan yang dimilikinya antara lain:

1. Dapat digunakan secara luas dalam berbagai pengukuran kuantitatif untuk senyawa senyawa organik

2. Kepekaannya tinggi karena dapat mengukur dalam satuan ppm

3. Sangat selektif, bila suatu komponen X akan diperiksa dalam suatu campuran dengan mengetahui panjang gelombang maksimum hanya komponen X yang mengabsorbsi cahaya tersebut

4. Lebih teliti karena hanya mempunyai persen kesalahan 1-3 % bahkan mempunyai persen kesalahan 0,1%

5. Mudah dan cepat, hal ini terutama sangat bermanfaat untuk pengukuran cuplikan dalam jumlah besar (Day dan Underwood, 1983).

Apabila sinar polikromatis (sinar yang terdiri dari beberapa panjang gelombang) dilewatkan melalui suatu larutan, maka sinar dengan panjang gelombang yang lain dilewatkan dari larutan (Ewing.G.W, 1985).

Intensitas warna adalah salah satu faktor utama dalam penentuan konsentrasi suatu analit secara spektrofotometri. Pada analisa spektrokimia, spektrum radiasi elektromagnetik digunakan untuk menganalisa spesies kimia dan menelaah interaksinya dengan radiasi elektromagnetik. Radiasi dapat berinteraksi dengan spesies kimia, dan kita akan memperoleh informasi (Srobel.H.A, 1973).

2.4.3.1 Spektroskopi Ultra Violet

Berbeda dengan spektrofotometri visible, pada spektrofotometri Ultra Violet berdasarkan interaksi sampel dengan sinar Ultra Violet. Sinar Ultra Violet memiliki panjang gelombang 190 – 380 nm sebagai sumber sinar dapat digunakan lampu deuterium. Deuterium disebut juga heavy hidrogen merupakan isotop hidrogen yang stabil yang terdapat berlimpah dilaut dan daratan. Inti atom deuterium mempunyai satu proton dan satu neutron,

sementara hidrogen hanya memiliki satu proton dan tidak memiliki neutron. Nama deuterium diambil dari bahasa Yunani, deuteras yang berarti dua, mengacu pada intinya yang memiliki 2 partikel (Day dan Underwood, 1983).

Karena sinar UV tidak dapat dideteksi dengan mata kita maka senyawa yang dapat menyerap sinar ini terkadang merupakan senyawa yang tidak memiliki warna, bening, dan transparan. Oleh karena itu, sampel tidak berwarna tidak perlu dibuat berwarna dengan penambahan reagen tertentu bahkan sampel dapat langsung dianalisa meskipun tanpa preparasi. Namun perlu diingat, sampel keruh tetap harus dibuat jernih dengan filtrasi atau sentifungi. Prinsip dasar pada spektrofotometri adalah sampel harus jernih dan larut sempurna, tidak ada partikel koloid/ suspense (Day dan Underwood, 1983).

2.4.3.2 Spektroskopi Visible

Pada spektrofotometri ini yang digunakan sebagai sumber sinar atau energi adalah cahaya tampak (visible). Cahaya variable termasuk spektrum elektromagnetik yang dapat ditangkap oleh mata manusia. Panjang gelombang sinar tampak adalah 380– 750 nm sehingga semua sinar yang di dapat berwarna putih, merah, biru, hijau, apapun itu selama ia dapat dilihat oleh mata maka sinar tersebut termasuk dalam sinar tampak (visible) (Day dan Underwood, 1983).

Sumber sinar tampak yang umumnya dipakai pada spektro visible adalah lampu Tungsten. Tungsten yang dikenal juga dengan nama wolform merupakan unsur kimia dengan simbol W dan nomor atom 74 (Day dan Underwood, 1983).

Sampel dapat dianalisa dengan metode ini hanya sample yang memiliki warna. Hal ini menjadi kelemahan tersendiri dari metode spektrofotometri visible.

Oleh karena itu, untuk sampel yang tidak memiliki warna harus terlebih dahulu dibuat berwarna dengan menggunakan reagen spesifik yang akan menghasilkan senyawa berwarna. Reagen yang digunakan harus benar– benar spesifik hanya bereaksi dengan alat yang akan dianalisa. Selain itu juga produk senyawa berwarna yang dihasilkan harus benar– benar stabil (Day dan Underwood, 1983).

2.4.3.3 Spektroskopi UV– Vis

Merupakan alat dengan teknik spektrofotometer pada daerah ultra– violet dan sinar tampak. Alat ini digunakan mengukur serapan sinar ultra violet atau sinar tampak oleh suatu materi dalam bentuk larutan. Konsentrasi larutan yang dianalisis sebanding dengan jumlah sinar yang diserap oleh zat yang terdapat dalam larutan tersebut (Day dan Underwood, 1983). Prinsip dari alat adalah radiasi pada rentang panjang gelombang 200-700 nm dilewatkan melalui suatu larutan senyawa.

Elektron- elektron pada ikatan didalam molekul menjadi tereksitasi sehingga menempati keadaan kuantum yang lebih tinggi dan dalam proses menyerap sejumlah energi yang melewati larutan tersebut. Semakin longgar elektron tersebut ditahan didalam ikatan molekul, semakin panjang gelombang (energi lebih rendah) radiasi yang diserap (Watson, 2007). Dalam hal ini, hukum Lambert– beer dapat menyatakan hubungan antara serapan cahaya dengan konsentrasi zat dalam larutan.

Dibawah ini adalah persamaan Lambert beer:

A = - log T = ε.b.c

Pada spektrofotometri UV – Vis, warna yang diserap oleh suatu senyawa atau unsur adalah warna komplementer dari warna yang teramati. Hal tersebut dapat

diketahui dari larutan berwarna yang memiliki serapan maksimum pada warna komplementernya. Namun, apabila larutan berwarna dilewati radiasi atau cahaya putih maka radiasi tersebut pada panjang gelombang tertentu akan secara selektif sedangkan radiasi yang tidak diserap akan diteruskan (Day dan Underwood, 1983).

2.5 Metode Validasi

Validasi pada metode analisis kimia terdiri dari beberapa seri percobaan laboratorium yang tujuannya untuk memastikan bahwa metode analisis yang digunakan telah memenuhi beberapa persyaratan yang telah ditetapkan terlebih dahulu (Ratnasari, 2012).

Harmita (2004) menjelaskan bahwa analisis instrumentasi merupakan suatu tindakan penilaian terhadap parameter tertentu dengan menggunakan instrument khusus, berdasarkan percobaan laboratorium, untuk membuktikan bahwa parameter tersebut memenuhi persyaratan untuk penggunaannya.

Parameter validasi metode analisis yang diuji adalah kecermatan (akurasi), keseksamaan (presisi), linearitas, batas deteksi (LOD) dan batas kuantisasi (LOQ).

2.5.1 Kecermatan (akurasi)

Kecermatan adalah ukuran yang menunjukkan derajat kedekatan hasil analisis dengan kadar analit yang sebenarnya (Harmita, 2004). Kecermatan dinyatakan sebagai persen perolehan kembali (recovery) analit yang ditambahkan. Kecermatan hasil analis sangat tergantung kepada sebaran galat sistematik di dalam keseluruhan tahapan analisis. Oleh karena itu untuk mencapai kecermatan yang tinggi hanya dapat dilakukan dengan cara mengurangi galat sistematik tersebut seperti menggunakan peralatan yang telah dikalibrasi, menggunakan pereaksi dan pelarut yang baik, pengontrolan suhu, dan pelaksanaannya yang cermat, taat asas sesuai prosedur.

(Harmita, 2004).

Cara penentuan kecermatan :

1. Metode simulasi (spiked-placeb orecovery) : Analisis kadar analit yang ditambahkan ke dalam matriks sampel (plasebo) yang dianalisis.

2. Metode penambahan baku (standard addition method) : Jika matriks dan eksipien tidak tersedia, maka akurasi dinyatakan sebagai persen perolehan kembali kadar analit yang ditambahkan pada produk jadi yang sudah mengandung analit.

3. Analisis kadar analit dengan metode yang divalidasi terhadap sampel yang telah diketahui kadarnya. Sampel yang digunakan adalah sampel acuan baku yang dikeluarkan badan resmi.

Membandingkan hasil anlisis analit dengan metode yang divalidasi terhadap hasil dengan metode standar atau cara grafik (Harmita, 2004).

Persen perolehan kembali (% recovery) dapat dihitung dengan rumus :

Keterangan:

CF = konsentrasi total sampel yang diperoleh dari pengukuran setelah penambahan bahan baku (standard)

CA = konsentrasi analit sebelum penambahan bahan baku (standard

C*A = konsentrasi bahan baku (standard) yang ditambahkan (Harmita, 2004) 2.5.2 Keseksamaan (presisi)

Keseksamaan (presisi) merupakan ukuran yang menunjukkan derajat kesesuaian antara hasil uji individual ketika suatu metode dilakukan secara berulang untuk sampel yang homogen(Harmita, 2004).

Percobaan keseksamaan dilakukan terhadap paling sedikit 6 (enam) sampel.

Presisi diukur sebagai standar deviasi (SD) dan standard deviasi relative (RSD). Nilai standard deviasi relatif yang memenuhi persyaratan menunjukkan adanya keseksamaan metode yang dilakukan (Harmita, 2004).

Rumus menentukan SD adalah :

% Recovery = (𝐶𝐹−𝐶𝐴) 𝑥 100 % 𝐶∗𝐴

SD = √Σ (x − x )2 𝑛−1

Keterangan :

Rumus untuk menentukan RSD adalah :

Keterangan :

x = Kadar rata – rata sampel SD = Standard Deviasi

RSD = Relatif standard deviation (Harmita, 2004).

2.5.3 Linearitas

Linearitas adalah kemampuan metode analisis memberikan respon proporsional terhadap konsentrasi analit dalam sampel. Rentang metode adalah pernyataan batas terendah dan tertinggi analit yang sudah ditunjukkan dapat ditetapkan dengan kecermatan, keseksamaan, dan linearitas yang dapat diterima (Harmita, 2004).

Linearitas biasanya dinyatakan dalam istilah variansi sekitar arah garis regresi yang dihitung berdasarkan persamaan matematik data yang diperoleh dari hasil uji analit dalam sampel dengan berbagai konsentrasi analit. Perlakuan matematik dalam pengujian linearitas adalah melalui persamaan garis lurus dengan metode kuadrat terkecil antara hasil analisis terhadap konsentrasi analit. (Harmita, 2004). Dalam beberapa kasus, untuk memperoleh hubungan proporsional antara hasil pengukuran dengan konsentrasi analit, data yang diperoleh diolah melalui transformasi matematik dulu sebelum dibuat analisis regresinya (Harmita, 2004).

Dalam praktek, digunakan satu seri larutan yang berbeda konsentrasinya antara 50 – 150% kadar analit dalam sampel. Di dalam pustaka, sering ditemukan

RSD = 𝑆𝐷𝑥x100%

rentang konsentrasi yang digunakan antara 0 – 200%. Jumlah sampel yang dianalisis sekurang-kurangnya delapan buah sampel blanko (Harmita, 2004).

Sebagai parameter adanya hubungan linier digunakan koefisien korelasi r pada analisis regresi linier Y = bX + a. Hubungan linier yang ideal dicapai jika nilai b

= 0 dan r = +1 atau –1 bergantung pada arah garis. Sedangkan nilai a menunjukkan kepekaan analisis terutama instrumen yang digunakan. Parameter lain yang harus dihitung adalah simpangan baku residual.

Dengan menggunakan kalkulator atau perangkat lunak komputer, semua perhitungan matematik tersebut dapat diukur (Harmita, 2004).

2.5.4 Batas deteksi (LOD) dan batas kuantitasi (LOQ)

Keunggulan teknik analisis menggunakan instrument adalah kemampuannya mendeteksi dan menentukan kadar analit yang sangat kecil dibandingkan metode analisis klasik (Harmita, 2004).

Walaupun demikian untuk menganalisis analit yang berkadar sangat rendah dimana sinyal instrument yang diberikan analit sangat lemah atau hampir sama dengan derau atau latar belakang, diperlukan suatu kriteria yang menggambarkan kehandalan metode (Harmita, 2004). Pada analisis sampel yang mengandung analit sangat rendah, kesulitan dalam mengambil keputusan akan dialami karena adanya keraguan antara sinyal analit atau derau. Ketidakpastian dan keraguan inilah yang memicu penggunaan kriteria kinerja metode analisis yang disebut batas deteksi (Limit of detection, LOD) dan batas kuantitasi (Liquid of quantitation, LOQ) (Harmita, 2004).

Batas deteksi dan batas kuantitasi metode perlu ditentukan kalau metode tersebut digunakan untuk menganalisis sampel yang mengandung analit berkadar rendah, seperti pada analisis obat dalam cairan tubuh,

analisis dalam penetapan uji batas dan lain-lain. Batas deteksi sangat penting dalam trace analysis untuk menentukan jumlah kontaminan yang ada di bawah atau di atas batas yang diperbolehkan. Batas deteksi merupakan kriteria untuk pemilihan metode tersebut (Harmita, 2004).

Batas deteksi (LOD) adalah jumlah terkecil analit dalam sampel yang dapat dideteksi yang masih memberikan respon signifikan dibandingkan dengan blanko.

Batas deteksi merupakan parameter uji batas. Batas kuantitasi (LOQ) merupakan parameter pada analisis renik dan diartikan sebagai kuantitas terkecil analit dalam sampel yang masih dapat memenuhi kriteria cermat dan seksama (Harmita, 2004).

Penentuan batas deteksi suatu metode berbeda-beda tergantung pada metode analisis itu menggunakan instrumen atau tidak.

Pada analisis yang tidak menggunakan instrumen batas tersebut ditentukan dengan mendeteksi analit dalam. Pada analisis instrumen batas deteksi dapat dihitung dengan mengukur respon blangko beberapa kali lalu dihitung simpangan baku respon blangko dan formula di bawah ini dapat digunakan untuk perhitungan (Harmita, 2004).

Rumus untuk menentukan LOD :

Rumus untuk menentukan LOQ :

Keterangan :

SD = Standard Deviasi

b = Slop (Harmita, 2004).

LOD

=

3.SDb

LOQ = 10.SD b

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Tempat dan Waktu

Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kimia Analitik Universitas Sumatera Utara dari bulan juli s.d. Nopember 2019. Pengambilan Sampel dikawasan Padang Bulan Medan.

Gambar 3.1 Lokasi pengambilan Sampel

3.2 Alat dan Bahan

3.2.1 Alat Spesifikasi Merek

- Erlenmeyer 250 ml pyrex

- Biuret 25 ml pyrex

- Gelas Ukur 10 ml Pyrex

- Beaker Glass 250 ml Pyrex

- Labu takar 1000 ml, 250 ml, Pyrex

- pipet ukur 10 ml pyrex

- Pipet Tetes

- Termometer 100 0C

- Corong Kaca pyrex

- Hot Plate Cimarec

- Neraca Analitis O’haus

- Alat Elektrosintesis 2.4 volt

- Botol Aquadest

3.3 Prosedur Percobaan

3.3.1 Prosedur Pembuatan Reagen 3.3.1.1 Asam Klorida 0,01 N

- Ditimbang Larutan 7.5 ml HCl

- Dimasukkan kedalam labu takar 1000 ml yang berisi 250 ml aquadest - Dituang perlahan-lahan

- Ditambah aquadest sampai garis batas 3.3.1.2 KOH 0,1 N

- Ditimbang Kristal KOH 1 gram

- Dimasukkan ke dalam labu ukur 250 ml - Ditambahkan Aquadest hingga garis batas.

3.3.1.3 KOH 0,5 N Alkoholik - Ditimbang Kristal KOH 7 gram

- Dilarutkan dengan alkohol 95 % dalam labu takar 250 ml sampai garis batas.

3.3.1.4 Alkohol Netral

- Dimasukkan 200 ml larutan Alkohol 96% kedalam gelas beaker - Ditambah 4 tetes indikator fenolptalein

- Dititrasi dengan larutan KOH 0,1 N hingga menjadi larutan merah muda.

3.3.1.5 Indikator Phenolptalein - Ditimbang berat gelas beaker kosong - Ditimbang ±1 gram serbuk phenolptalein - Dilarutkan dengan larutan alkohol - Dimasukkan dalam labu takar 100 ml

- Diencerkan dengan larutan alkohol 96% hingga garis tanda

3.3.2 Preparasi Sampel

Pengumpulan sampel dilakukan secara purposif sampling. Sampel yang diambil adalah sediaan bakso babi yang terdapat pada warung bakso, Medan.

Sampel dibersihkan, dipotong- potong kecil-kecil , dihaluskan menggunakan Alu dan Lumpang kemudian di keringkan selama 2 jam.

3.3.3 Ekstraksi

Ekstraksi lemak babi dari sampel bakso menggunakan maserasi coupling elektrosintesis dengan pelarut n-Heksana sesuai dengan variasi waktu maserasi:

30, 60, 90, 120, 150 menit dengan kuat arus 2.4 volt dan menggunakan katoda anoda Aluminium, kemudian disaring lemak yang sudah diperoleh dengan kain Flannel sehingga diperoleh ekstrak lemak babi (Taufik,2018).

3.3.4 Analisis Lemak Babi (Lard) 3.3.4.1 Analisis Sifat Fisika-Kimia 3.3.4.1.1 Indeks Bias

Sampel diteteskan pada tempat sampel refraktometer. Ditutup dengan rapat dan dibiarkan cahaya melewati larutan dan melalui prisma agar cahaya pada layar dalam alat tersebut terbagi menjadi dua. Digeser tanda batas tersebut dengan memutar knop pengatur, sehingga memotong titik perpotongan dua garis diagonal yang saling berpotongan terlihat pada layar. Diamati dan dibaca skala indeks bias yang ditunjukan oleh jarum layar skala melalui mikroskop.Untuk menentukan indeks bias dapat dihitung menggunakan rumus berikut :

Keterangan : n = indeks bias

c = kecepatan cahaya diudara v = kecepatan cahaya dalam zat

3.3.4.1.2 Titik Leleh

Ekstrak lemak babi yang telah dibekukan dimasukkan kedalam pipa kapiler dengan ketiggian 1 cm, kemudian didinginkan dalam dalam es batu suhu 4-10 0C selama 30 menit, titik leleh sampel diukur dengan beaker glass berisi air bersuhu 8-10 0C yang dilengkapi thermometer dimana ujung bawah pipa kapiler sama tingginya dengan ujung thermometer, beaker glass dipanaskan secara perlahan dengan kenaikan suhu 10C tiap menit sampai titik lebur yang diharapkan dapat dicapaikan dengan adanya pengadukan dengan stirer.

3.3.4.1.3 Bilangan Penyabunan

Sampel sebanyak 2 gram dimasukkan dalam Erlenmeyer ditambahkan sebanyak 25 ml KOH 0,5 N alkoholik. Dipanaskan hingga lemak mencair, kemudian didinginkan yang ditandai dengan terlihatnya butir- butir lemak dalam larutan, ditambahkan 3 tetes indikator phenolptalein, ditandai dengan larutan berwarna merah muda. Larutan yang berwarna merah muda kemudian dititrasi dengan HCl 0,01 N sampai hilangnya warna merah muda pada larutan yang

Sebanyak 10 tetes sampel ekstrak lemak babi + 2 mL campuran Alkohol Netral ke dalam tabung reaksi, dikocok sampai larut. Campuran diteteskan pada kertas saring dan kertas tulis dan dibiarkan pelarut menguap dan diamati noda yang terbentuk.

3.3.4.2.2 Uji Kelarutan

Sebanyak 10 tetes sampel ekstrak lemak babi dicampurkan dengan 1 ml aquadest, dikocok lalu dibiarkan beberapa saat dan diamati sifat kelarutannya.

3.3.4.3 Analisis Kuantitatif menggunakan Spektroskopi Ultra Visible 3.3.4.3.1 Pembuatan Larutan Standard

Lemak babi standard diencerkan variasi konsentrasi 5%, 10%, 20%, 25%, 30%, 40%, 50%, 60%, 65%, 70% kemudian ditentukan persamaan garis lurus.

Larutan standard 70%

Lemak babi diukur 70 ml kemudian dimasukkan kedalam labu ukur 100 ml kemudian ditambahkan n-heksana sampai garis batas. Dilakukan prosedur yang sama untuk standarisasi pada variasi 5%, 10%, 20%, 25%, 30%, 40%, 50%, 60%, 65%.

3.3.4.3.2 Pemeriksaan Sampel

Diukur sebanyak 1 ml sampel lemak babi hasil ekstraksi, dicampurkan dengan n-heksan sebanyak 10 ml, dimasukkan kedalam kuvet sebanyak 2 ml, diukur absorbansi dan konsentrasi, Diulangi untuk setiap variabel perlakuan.

3.3.5 Metode Validasi

Validasi metode dilakukan meliputi Uji akurasi (kecermatan), Keseksamaan (presisi), linearitas, batas deteksi (limit of detection) dan batas kuantitasi (limit of quantification).

3.3.5.1 Uji Akurasi (kecermatan) dengan persen perolehan kembali

Dokumen terkait