Kelembagaan merupakan social form ibarat organ-organ dalam tubuh
manusia yang hidup dalam masyarakat. Kata “kelembagaan” menunjuk kepada sesuatu yang bersifat mantap (established) yang hidup (constitued) di dalam
masyarakat. Suatu kelembagaan adalah suatu pemantapan perilaku (ways) yang
hidup pada suatu kelompok orang. Ia merupakan sesuatu yang stabil, mantap, dan berpola; berfungsi untuk tujuan-tujuan tertentu dalam masyarakat; ditemukan dalam sistem sosial tradisional dan modern, atau bisa berbentuk tradisional dan modern; dan berfungsi untuk mengefisienkan kehidupan sosial. Hal ini terlihat pula dalam kelembagaan sosial ekonomi Jojobo yang bersifat mantap yang hidup
di Maluku Utara, khususnya pada komunitas masyarakat petani perladangan di Kecamatan Jailolo Selatan dengan mengembangkan solidaritas kerjasama.
Kesepakatan yang solid akan membawa rasa solidaritas terhadap para pelaku kerjasama dalam kelembagaan Jojobo ini. Akan muncul ‘sense of
84
belonging’ di antara para pelaku kerjasama dalam kelembagaan Jojobo yang
kemudian akan melahirkan sikap untuk saling mendukung, saling percaya, dan saling membantu satu sama lain. Akan muncul satu tujuan bersama yang kemudian menjadi pedoman bagi para pelaku kerjasama dalam kelembagaan
Jojobo tersebut untuk mencapai keseahteraan bersama.
Kerjasama yang solid dibangun dari sikap dan sifat solider dari para pelaku kerjasama. Solidaritas antara pelaku akan menciptakan hubungan yang solid, atau kuat, kukuh dan padat. Dengan begitu kerjasama pun dapat memberikan hasil seperti yang diharapkan oleh pihak-pihak yang bekerjasama dalam suatu kelembagaan sosial ekonomi. Faktor-faktor tersebut adalah mengumpulkan dana ataupun barang-barang sesuai dengan kebutuhan dari warga yang mendesak, dan juga menyumbangkan tenaga untuk membantu warga yang membutuhkan19.
Salah satu tujuan utama pembentukan kelembagaan Jojobo yaitu berupa penggalangan dana untuk disalurkan kepada anggota yang sangat membutuhkan. Selain itu kelembagaan Jojobo tidak hanya berorientasi pada bantuan dalam bentuk finansial atau uang, namun juga bantuan dalam bentuk material atau barang dan bahkan dapat pula berupa bantuan dalam bentuk tenaga. Penjelasan ini memperlihatkan bahwa peran keberadaan kelembagaan Jojobo, sangat membantu terwujudnya rasa solidaritas dan kesetiakawanan yang diperoleh dari kerjasama antar para anggotanya. Kemandirian merupakan kebutuhan siapapun dan berprofesi apapun di negeri ini. Mandiri akan melahirkan kebersamaan, karena tidak mungkin seseorang bisa memenuhi kebutuhan hidupnya tanpa peran orang lain. Mandiri akan melahirkan pemberdayaan setiap diri untuk bisa melakukan produktifitas pada bidangnya masing-masing sehingga ia dibutuhkan orang lain. Jika setiap individu dalam suatu komunitas masyarakat bisa mandiri, maka wilayah keberadaan komunitas masyarakat akan mampu mensejahterakan masyarakatnya tanpa harus bergantung pada wilayah lainnya. Kemandirian inilah yang dapat diperoleh dari keberadaan Jojobo pada komunitas petani peladangan di
Kecamatan Jailolo Selatan dalam memberdayakan masyarakatnya.
Diantara hal lain yang menjadi sebab kuatnya peran Jojobo dalam memberdayakan masyarakat komunitas petani perladangan di Kecamatan Jailolo
19 Hasil wawancara dengan Bpk Farid, petani di Desa Tabadamai, Kecamatan Jailolo Selatan, tanggal 29 Agustus 2011.
85 Selatan Halmahera Barat adalah adanya sifat toleransi yang sangat tinggi terhadap sesama warga dan mampu memahami kebutuhan setiap warga.20
Hasil wawancara ini memperlihatkan adanya semangat dan implementasi dari kemauan untuk saling bekerja sama dalam upaya memenuhi kepentingan sosial dan kepentingan individu atau personal telah termanivestasikan dalam berbagai bentuk aktivitas bersama yang secara umum termasuk dalam kelembagaan Jojobo, yang dikenal dengan kegiatan "saling tolong-menolong",
atau secara luas terwadahi dalam tradisi "gotong-royong".
Tradisi gotong-royong memiliki aturan main yang disepakati bersama (norma), menghargai prinsip timbal-balik dimana masing-masing pihak memberikan kontribusi dan dalam waktu tertentu akan menerima kompensasi atau
reward sebagai suatu bentuk dari sistem resiprositas (reciprocity), ada saling kepercayaan antarpelaku bahwa masing-masing akan mematuhi semua bentuk aturan main yang telah disepakati (trust), serta kegiatan kerja sama tersebut diikat kuat oleh hubungan-hubungan spesifik antara lain mencakup kekerabatan (kinship), pertetanggaan (neighborship) dan pertemanan (friendship), sehingga semakin menguatkan jaringan antarpelaku (network).
Secara nyata, tradisi gotong-royong telah melembaga dalam kelembagaan
Jojobo pada komunitas petani perladangan telah mengakar kuat. Ini diwujudkan
dalam berbagai aktivitas keseharian masyarakat di Kecamatan Jailolo Selatan. Praktek gotong-royong, walau cenderung mengalami penurunan, baik dari sudut pandang lingkup aktivitas maupun jumlah orang yang terlibat, secara umum masih mendapatkan apresiasi positif dari komunitas masyarakat petani peladangan di Kecamatan Jailolo Selatan. Hal ini tampaknya juga dipengaruhi oleh salah satu karakteristik khusus, yaitu keeratan hubungan sosial yang dimiliki oleh komunitas masyarakat di Kecamatan Jailolo Selatan.
Orientasi komunitas petani perladangan di Kecamatan Jailolo Selatan Halmahera Barat untuk mengikuti Jojobo dikemukakan oleh salah seorang petani
yaitu Bapak No Haji Saleh, diantara orentasinya adalah: 1) Kebutuhan-Kebutuhan hidup sehari hari bisa terpenuhi, 2) Terjalinnya hubungan kekeluarga menjadi lebih baik, 3) Saling mendukung sesama warga.
20 Hasil wawancara dengan Bpk Hi. Abdullah Ketua Adat dan Bpk Burhanudin Tokoh masyarakat di kecamatan Jailolo Selatan, 27 september 2011.
86
Menggalang kerjasama dan solidaritas sosial sesungguhnya merupakan sifat alamiah yang dimiliki manusia demi survival. Solidaritas yang dapat diartikan sebagai berkumpul bersama secara setara untuk memenuhi kepentingan dan kebutuhan bersama. Bentuk-bentuk perkumpulan yang tidak didasarkan pada solidaritas akan menghancurkan individualitas yang tunduk kepadanya. Hal ini ditunjukkan pula oleh petani yaitu Bapak IHB (2011) yang menyatakan bahwa orientasinya mengikuti kelembagaan Jojobo berkaitan dengan solidaritas dan
pengakuan mengenai kepentingan bersama, yang bertujuan untuk, 1) Tidak terputusnya tali persaudaraan dan kekeluargaan, 2) Saling membantu antar warga, 3) Mempermudah kebutuhan-kebutuhan yang mendesak.
Solidaritas adalah faktor utama dalam merekatkan hubungan sosial dalam sebuah komunitas. Karena rasa solidaritaslah masyarakat bisa menyatukan persepsinya tentang hal yang ingin mereka perjuangkan. Merujuk pada teori Emile Durkheim (1973), solidaritas itu terdiri dari dua jenis, yaitu mechanical solidarity
dan organic solidarity. Perbedaan kedua jenis solidaritas ini adalah sumber dari solidaritas mereka, atau hal apa yang telah menyatukan mereka dalam bentuk kerjasama. Kerjasama dalam suatu kelembagaan membutuhkan dukungan dan partisipasi dari para pelakunya.
Konsep partisipasi menurut Mikkelsen (Susiana, 2002) dapat diartikan sebagai alat untuk mengembangkan diri sekaligus tujuan akhir. Keduanya merupakan satu kesatuan dan dalam kenyataan sering hadir pada saat yang sama meskipun status, strategi serta pendekatan metodologinya berbeda. Partisipasi akan menimbulkan rasa harga diri dan kemampuan pribadi untuk dapat turut serta dalam keputusan penting yang menyangkut masyarakat banyak. Partisipasi juga menghasilkan pemberdayaan, di mana setiap orang berhak menyatakan pendapat dalam pengambilan keputusan yang menyangkut kehidupannya. Dalam jaringan sosial, partisipasi memegang peranan yang cukup penting, karena kerjasama yang ada dalam komunitas dapat terjadi karena adanya partisipasi individu-individu. Para peserta Jojobo memiliki dorongan untuk selalu berpartisipasi yaitu
dengan cara saling membantu ketika salah satu warga mengalami musibah atau membuat hajatan baik bantuan secara materi maupun tenaga. Dan juga saling membantu pada saat salah satu warga mendapat musibah atau membuat hajatan,
87 serta menyumbangkan dana untuk warga yang membutuhkan. Hal inilah yang sering terjadi di dalam keseharian masyarakat dalam mempraktekkan nilai-nilai
Jojobo.
Memahami prinsip partisipasi memposisikan solidaritas yang berarti suatu upaya untuk meningkatkan partisipasi sesama dalam kesejahteraan umum. Atau, dengan kata lain, solidaritas adalah usaha mewujudkan keadilan sosial. Ukuran keadilan sosial adalah terwujudnya partisipasi dua arah dalam kesejahteraan umum bagi setiap individu dan kelompok. Solidaritas dalam kelembagaan Jojobo
adalah bagaimana kebutuhan anggotanya dapat terpenuhi. Arah peningkatan partisipasi dalam kelembagaan Jojobo mampu mendorong gerakan-gerakan solidaritas dan keadilan sosial.
Dorongan komunitas petani perladangan untuk menyeleggarakan kelembagaan Jojobo berupa memperoleh manfaat dalam untuk pemenuhan kebutuhan keluarganya. Manfaat dalam keluarga adalah saling mengenal antara satu keluarga dengan keluarga yang lain dan kebutuhan hidup sehari-hari dan kebutuhan yang tidak terduga bisa terpenuhi. Hal ini dipertegas lagi oleh seorang petani yaitu Bapak Iksan Tuada (Petani) yang mengatakan bahwa: Manfaat dalam keluarganya adalah 1) Terpenuhinya kebutuhan tidak terduga, 2) Kebutuhan hidup keluarga sehari-hari bisa terpenuhi, 3) Hubungan silatuhmi antar keluarga tetap berjalan dengan baik. dengan demikian nampak bahwa, selain manfaat dari aspek ekonomi berupa pemenuhan kebutuhan sehari-hari, juga berkaitan dengan manfaat keamanan jika terjadi kebutuhan yang tidak terduga. Selain faktor ekonomi dorongan komunitas petani perladangan di Kecamatan Jailolo Selatan juga menghendaki manfaat sosial berupa hubungan silaturahmi yang akan terjaga dan berjalan dengan baik. Manfaat ekonomi yang diperoleh dari keikutsertaannya dalam Kelembagaan Jojobo dikemukakan oleh seorang petani yaitu Ibu Alwia
(Tahun 2011) yang mengatakan bahwa dengan memakai kelembagaan Jojobo
pemenuhan kebutuhan ekonominya menjadi lebih baik dan pendapatan menjadi lebih meningkat.
Keberadaan kelembagaan Jojobo pada komunitas masyarakat petani pedesaan ini memperlihatkan tipe masyarakat komunal merupakan ciri yang universal ketika ketergantungan antar penduduk tinggi, dan campur tangan pihak
88
luar rendah sekali. Tipe masyarakat seperti ini ditemui pula di Kecamatan Jailolo Selatan. Salah satu cirinya adalah kepemilikan sumber daya secara bersama dan distribusi manfaatnya juga bersama-sama, serta berbagai aktivitas kerja bersama yang dikenal dengan istilah gotong-royong. Seluruh keputusan-keputusan yang penting dilakukan dengan cara musyawarah-mufakat atas prinsip kebersamaan dalam kesetaraan.
Kelembagaan Jojobo merupakan kelembagaan yang dibangun sendiri oleh
masyarakat. Mereka sendiri yang memutuskan untuk membentuk suatu kelembagaan, bagaimana bentuk strukturnya, bagaimana pemilihan anggotanya, pola kepemimpinannya, serta aturan-aturan beserta sanksi-sanksinya. Sanksi yang banyak diterapkan pada waktu itu berupa sanksi adat bagi anggota komunitas yang melanggar.
Kelembagaan Jojobo ini adanya saling keterkaitan antar bagiannya, penetapan keputusan yang demokratis, serta luas jangkauan yang terbatas. Khusus untuk aktifitas ekonomi tidak memiliki keleluasaan khusus namun sudah tercakup di dalam kelembagaan yang terbentuk. Kelembagaan Jojobo belum cukup berkembang, dan ketergantungan atau pertukaran barang antar wilayah masih rendah. Pertukaran barang lebih banyak terjadi antar warga dalam komunitas yang relatif terbatas.
Memperhatikan kondisi saat ini, yang dapat mempercepat terjadinya proses penerapan Jojobo sebagai modal sosial yang dapat memberdayakan masyarakat
komunitas petani perladangan di Kecamatan Jailolo Selatan Halmahera Barat dikemukakan oleh Ketua adat yaitu Bapak Haji Mudasir (Tahun 2011) yang mengatakan bahwa terdapat hubungan sosial yang terjalin dengan baik, menanamkan sikap gotong royong dan toleransi kepada setiap warga. Hal ini juga didukung oleh Tokoh masyarakat yaitu Bapak Jauhar (Tahun 2011) yang mengatakan bahwa hubungan-hubungan yang terjalin msih bersifat eksklusif, hanya pada sekelompok golongannya sendiri. Sebab, terdapat; 1) Adanya hubungan sosial antar warga, 2) Tidak terputusnya hubungan kekeluargaan, 3) Saling membantu antar sesama warga, 4) Kebutuhan warga terpenuhi. Namun semua hubungan itu lebih banyak hanya pada golongan mereka saja. Baik yang terikat karena kekeluargaan maupun etnis dan budaya.
89 Gotong royong merupakan suatu bentuk saling membantu atau tolong menolong yang berlaku di daerah pedesaan Indonesia. Gotong royong sebagai bentuk kerjasama antarindividu dan antarkelompok membentuk status norma saling percaya untuk melakukan kerjasama dalam menangani permasalahan yang menjadi kepentingan bersama. Bentuk kerjasama gotong royong ini merupakan salah satu bentuk solidaritas sosial. Guna memelihara nilai-nilai solidaritas sosial dan partisipasi masyarakat secara sukarela dalam pembangunan di era sekarang ini, maka perlu ditumbuhkan dari interaksi sosial yang berlangsung karena ikatan kultural Sehingga memunculkan kebersamaan komunitas yang unsur-unsurnya meliputi: seperasaan, sepenanggungan, dan saling butuh. Pada akhirnya menumbuhkan kembali solidaritas sosial.
Saran-saran yang diajukan agar Jojobo lebih berperan dalam meningkatkan perekonomian masyarakat pada komunitas petani perladangan di Kecamatan Jailolo Selatan Halmahera Barat dikemukakan oleh Tokoh Adat yaitu Bapak Din Haji Yusup (Tahun 2011) yang mengatakan perlu untuk mengembangkan Jojobo, ke arah yang lebih modern.
“Perlu adanya perubahan Jojobo yang lebih modern dan tetap mempertahankan nilai-nilai tradisi yang telah ada dalam Jojobo, serta meningkatkan peran Jojobo untuk kebutuhan masyarakat sehingga dapat
meningkatkan perekonomian komunitas petani perladangan.”
Namun perlu juga Jojobo untuk tetap dipertahankan karena terbukti mampu
lebih berperan dalam meningkatkan perekonomian masyarakat. Maka mengikuti pendapat seorang Tokoh Masyarakat yaitu Bapak Muzamhir Haji Adam SH (Tahun 2011) mengatakan, maka perlu; 1) tetap mempertahankan Jojobo sebagai salah satu tradisi yang sudah dilakukan sejak jaman dulu. 2) Lebih meningkatkan peran Jojobo untuk kebutuhan masyarakat”
Hal ini juga ditambahkan agar Jojobo lebih berperan dalam meningkatkan perekonomian masyarakat oleh petani-petani yaitu Bapak Mahfud, Bapak Yamin dan Bapak Yusran Haji Halek, Ibu Hasna dan Ibu Nurain yang mengatakan bahwa
“Perlu adanya perubahan Jojobo yang lebih modern dan lebih menguntungkan untuk meningkatkan peerekonomian masyarakat pada komunitas petani perladangan. “
90
Hal di atas memperlihatkan bahwa tiap kelembagaan memiliki tujuan tertentu, dan orang-orang yang terlibat di dalamnya merniliki pola perilaku tertentu serta nilai-nilai dan norma yang sudah disepakati yang sifatnya khas. Kelembagaan merupakan kelompok-kelompok sosial yang dijalankan oleh masyarakat. Tiap kelembagaan dibangun untuk satu fungsi tertentu, karena itu dikenal kelembagaan pendidikan, kelembagaan-kelembagaan di bidang ekonomi, agama, dan lain-lain. Pada masyarakat berisi kelembagaan-kelembagaan. Semua manusia pasti masuk dalam kelembagaan. Tidak satu, tapi sekaligus dalam banyak kelembagaan, mulai dari di rumah, di sekolah, di tempat kerja, di tempat ibadah, dan lain-lain. Di kalangan agen-agen pembangunan pedesaan dan pertanian, kelembagaan umumnya dipersempit terutama hanya menjadi kelembagaan kelompok tani, koperasi. subak, kelompok petani peserta program, kelompok pengrajin, dan lain-lain yang sejenis, termasuk kelembagaan sosial ekonomi
Jojobo.
Penelitian ini menemukan arah tantangan pemberdayaan masyarakat desa melalui keberadaan kelembagaan sosial yaitu kelembagaan Jojobo sebagai basis pemberdayaan pada komunitas petani perladangan di Kecamatan Jailolo Selatan. Pentingnya peranserta dan pemberdayaan masyarakat di bidang sosial ekonomi, penerapan nilai-nilai Jojobo dalam aktivitas komunitas petani perladangan di
Kecamatan Jailolo Selatan Halmahera Barat, kemampuan kelembagaan Jojobo dalam memenuhi kebutuhan komunitas petani perladangan di Kecamatan Jailolo Selatan Halmahera Barat, dan peran kelembagaan sosial ekonomi Jojobo dalam
mengembangkan solidaritas kerjasama antar warga masyarakat desa di Maluku Utara; merupakan fokus dalam kajian kelembagaan Jojobo sebagai basis
pemberdayaan masyarakat desa di Maluku Utara yang merupakan studi yang dilakukan pada Komunitas Petani Perladangan di Kecamatan Jailolo Selatan Halmahera Barat.
7.3 Ikhtisar
Salah satu fungsi kelembagaan mengatur berbagai kebutuhan manusia dalam hidupnya, sebab institusi-institusi sosial pada hakekatnya merupakan kumpulan dari norma-norma (struktur-struktur sosial) yang diciptakan untuk dapat
91 melaksanakan suatu fungsi masyarakat. Jojobo sebagi kelembagaan sosial juga
mengikat dan menciptakan kepatuhan dan kontinuitas yang wajib dilaksanakan oleh para pelaksana Jojobo. Dampaknya adalah menguatnya solidaritas sosial
masyarakat. Sebab, kelembagaan Jojobo mengandung nilai “kearifan masyarakat”
terhadap kelestarian budaya lokal, dan berbagai bentuk pantangan adat, perlu terus dipertahankan, bahkan jika masih diperlukan, dapat digali kembali lembaga- lembaga tradisional yang efektif sebagai pengendali dalam pemenuhan kebutuhan komunitas petani perladangan. Satu hal yang mungkin perlu mendapatkan perhatian berupa terjadinya proses transisi dari model kelembagaan Jojobo lama
ke model kelembagaan Jojobo baru.
Kepatuhan komunitas masyarakat petani perladangan di Kecamatan Jailolo Selatan pada umumnya mendorong komitmen terhadap ketentuan yang sudah ditetapkan pada pelaksanaan kelembagaan Jojobo. Keberadaan kelembagaan tradisional Jojobo ini digunakan sebagai sarana komunikasi yang efektif antar warga masyarakat petani perladangan yang pada gilirannya ikut meningkatkan solidaritas sosial. Kelompok-kelompok yang menerapkan kelembagaan Jojobo
biasanya diikat dengan sistem menyerupai arisan antar warga sebagai sarana berkumpulnya warga untuk mengikatkan diri dalam kesatuan “solidaritas sosial” yang kuat yang terbentuk dengan adanya sifat toleransi dan gotong royong.
Kerjasama yang terjalin dalam kelembagaan Jojobo, sikap dan sifat solider
ini jelas dibutuhkan karena inilah yang menentukan keberlanjutan eksistensi kerjasama tersebut. Jika suatu kerjasama tidak disertai sikap solider diantara pelaku kerjasamanya, maka akan timbul konflik. Inilah yang tejadi pada kelembagaan Jojobo. Kelembagaan Jojobo ini dibentuk sesuai dengan kebutuhan
para pesertanya, sehingga kelembagaan ini dituntut solid baik dari segi pesertanya maupun dari segi aturannya. Aturan kelembagaan Jojobo relatif mudah untuk
diwujudkan karena kelembagaan Jojobo mengharuskan adanya suara bulat dalam
musyawarah untuk memperoleh mufakat. Ketika ada satu anggotanya tidak berkenan, maka kelembagaan Jojobo tidak akan terbentuk, sehingga kelembagaan Jojobo terbentuk oleh ketetapan yang diperoleh dari hasil musyawarah yang menghasilkan kesepakatan bersama, sebagai suatu kesatuan kesolidan anggotanya.
92
Salah satu tujuan utama pembentukan kelembagaan Jojobo yaitu berupa
penggalangan dana untuk disalurkan kepada anggota yang sangat membutuhkan. Selain itu kelembagaan Jojobo tidak hanya berorientasi pada bantuan dalam
bentuk finansial atau uang, namun juga bantuan dalam bentuk material atau barang dan bahkan dapat pula berupa bantuan dalam bentuk tenaga yang berupakan solidaritas anggota dalam membantu anggota lainnya untuk memenuhi kebutuhannya. Semangat dan implementasi dari kemauan untuk saling bekerja sama dalam upaya memenuhi kepentingan sosial dan kepentingan individu atau personal sebagai bentuk dari solidaritas telah termanivestasikan dalam berbagai bentuk aktivitas bersama yang dikenal dengan kegiatan "saling tolong-menolong", atau secara luas terwadahi dalam tradisi "gotong-royong".
Secara nyata, tradisi gotong-royong telah melembaga dalam kelembagaan
Jojobo pada komunitas petani perladangan telah mengakar kuat. Ini diwujudkan dalam berbagai aktivitas keseharian masyarakat di Kecamatan Jailolo Selatan. Praktek gotong-royong, walau cenderung mengalami penurunan, baik dari sudut pandang lingkup aktivitas maupun jumlah orang yang terlibat, secara umum masih mendapatkan apresiasi positif dari komunitas masyarakat petani perladangan Kelembagaan Jojobo merupakan kelembagaan yang dibangun sendiri oleh masyarakat. Mereka sendiri yang memutuskan untuk membentuk suatu kelembagaan, bagaimana bentuk strukturnya, bagaimana pemilihan anggotanya, pola kepemimpinannya, serta aturan-aturan beserta sanksi-sanksinya. Sanksi yang banyak diterapkan pada waktu itu berupa sanksi adat bagi anggota komunitas yang melanggar.
93
BAB VIII SINTESIS
Nilai luhur yang terkandung dalam kelembagaan Jojobo berupa terciptanya
hubungan kekeluargaan dan kekerabatan di dalam komunitas petani perladangan. Hal ini terefleksikan dalam pemenuhan faktor produksi, distribusi dan konsumsi. Oleh karena itu keberadaan kelembagaan Jojobo diharapkan menjadikan sarana
dalam penerapan budaya lokal sebagai suatu upaya terutama pemenuhan kebutuhan ekonomi produksi dan ekonomi keluarga pada komunitas petani perladangan.
Nilai budaya kelembagaan Jojobo masih ada di komunitas petani perladangan dicirikan dari sifat gotong royong antar warganya, dengan seringnya diadakan pertemuan secara periodik, mengundang setiap warganya pada saat ada hajatan atau syukuran, melakukan penggalangan dana pada saat warganya mengalami musibah, serta memberikan bantuan pada saat ada warganya melakukan hajatan.
Pada saat ini kelembagaan Jojobo merupakan konstruksi sosial yang diterima dan disepakati oleh komunitas-komunitas petani perladangan yang tergantung pada nilai dan kekuatan luar desa seperti pasar dan industri perkotaan yang bersifat ekonomi dan individualis. Ukuran yang digunakan tidak lagi hanya menyangkut kelestarian dan kebersamaan saja, namun dipengaruhi pula oleh eksploitasi dan sukses finansial yang menyebabkan masyarakat desanya rapuh terhadap faktor yang berada di luar pengendaliannya.
Kelembagaan Jojobo terdiri dari beberapa komponen, yaitu norma/nilai, tata
perilaku, aktor dan fisik (Soekanto, 1990). Komponen Jojobo tersebut memiliki
dinamika antara periode dulu dan sekarang. Pada zaman dahulu komponen tata nilai/norma seperti kekerabatan, solidaritas, kepercayaan, tolong menolong kejujuran, masih sangat solid. Tata perilaku termanifestasi dalam tolong- menolong/resiprositas dalam hal pemenuhan kebutuhan sosial dan ekonomi keseharian, sementara aktorn atau personilnya lebih banyak adalah keluarga, kerabat dan komunitas petani perladangan. Sedangkan bentuknya fisiknya adalah berupa sarana, prasarana, benda seperti pembangunan tempat ibadah, rumah adat
94
dan fasilitas publik lainnya. Sedangkan sekarang ini norma/nilainya mengalami pergeseran, disebabkan adanya beragam kepentingan sosial, ekonomi dan politik dari komunitas petani perladangan yang ikut dalam Jojobo. Sebagai contoh, Jojobo kadang dipakai untuk kepentingan mencari pengaruh sebagai jalan politik
menjadi pemimpin lokal (pemilihan kepala desa atau kepala dusun). Sementara tata perilakunya dibentuk dari hasil usaha bersama yang bersifat dan dalam aktifitas produktif perladangan. Misalnya, gotong royong pembersihan kebun, penanaman dan panen hasil pertanian.
Para aktor atau personil yang terlibat dalam aktifitas kelembagaan Jojobo
sekarang lebih banyak kelompok marga, komunitas kekerabatan dan antar komunitas (yang masih memiliki kesamaan budaya). Sedangkan bentuk fisik kelembagaan Jojobo tidak banyak berubah dari dulu hingga sekarang, yang tersembunyi dalam aktifitas sosial-ekonomi dan budaya masyarakat yang kemudian dengan nilai-nilai Jojobo tersebut mampu menggerakkan masyarakat untuk bersama-sama dalam membangun berupa sarana dan prasarana, seperti bangunan rumah adat, tempat ibadah, dan fasilitas publik yang dibutuhkan oleh komunitas petani perladangan yang terikat dengan nilai-nilai Jojobo. Secara lebih ringkas penjelasan komponen nilai-nilai Jojobo ini akan diuraikan dalam tabel