• Tidak ada hasil yang ditemukan

VII. SOLUSI MODEL DAN PEMBAHASAN

7.2. Solusi Model Untuk Tujuan Pembangunan Lingkungan

Solusi model untuk skenario tujuan pembangunan lingkungan mengarahkan para pelaku pembangunan aga r menerapkan teknologi yang ramah lingkungan, sedangkan hasil ekonomi tidak dipentingkan. Sebagaimana disajikan pada Tabel 35 bahwa teknologi produksi yang tidak ramah lingkungan seperti budidaya udang intensif dan semi intensif disarankan untuk tidak dilakukan. Hal ini karena kedua jenis pola budidaya tersebut masih menggunakan asupan pakan udang yang dibuat oleh pabrik (pelet) yang berpotensi mencemari lingkungan sehingga akan mengancam kelestarian ekosistem disekitarnya. Indikator- indikator teknologi ramah lingkungan begitu menonjol seperti : udang organik, dan hutan mangrove mengalami peningkatan.

Tabel 35. Alokasi Penggunaan Lahan Untuk Tujuan Pembangunan Lingkungan Luas (Ha) Variabel

Keputusan Strategi Pengembangan Lahan

Kondisi Saat Penelitian

Solusi Optimal

X1 Bandeng intensif + U. Campur 6 481.800 6 556.552

X2 B intensif + U Cmpr – Tumpang gilir dg

Garam 12.000 18.248

X3 Bndg + U Organik + U Cmpr 8 541.700 8 803.496

X4 U Intensif 50.000 0.000

X5 Semi Intensif 680.700 0.000

X6 Eksploitasi Campuran Ht Mangrove 722.335 1 110.239

Total 16 488.535 16

488.535 Pada skenario ini target keuntungan mengalami penurunan yang signifikan yaitu mencapai Rp 36 299 806 908 atau turun sekitar 14,44 persen dari yang

ditargetkan. Penurunan ini lebih banyak dikontribusi oleh penurunan target produksi udang intensif. Walaup un secara umum produksi berbagai jenis komoditi seperti kupang, kerang dan bandeng mengalami peningkatan, namun ada penurunan sedikit saja pada produksi udang, maka dampaknya secara akonomis akan sangat terasa karena harga udang relatif mahal yaitu mencapai Rp 60 000/kg. Informasi tentang deviasi target produksi barang dan jasa untuk skenario pembangunan lingkungan secara lengkap dapat dilihat pada Tabel 36.

Tabel 36. Deviasi Target Untuk Skenario Pembangunan Lingkungan

Deviasi Target No. Barang dan Jasa Yang

Ditargetkan Satuan Target 2006 Deviasi 1 Bandeng (000/th) 112 500 801 (+) 82 909 466.658 2 Udang Organik (000/th) 263 845 960 (-) 20 222 148.955 3 Udang Intensif (000/th) 157 980 000 (-) 157 980 000.000 4 Udang Campuran (000/th) 48 499 710 (+) 22 859 261.959 5 Kupang (000/th) 8 899 983 (+) 14 603 659.201 6 Kerang (000/th) 4 432 200 (+) 4 733 268.872 7 Garam (000/th) 108 000 (+) 91 576.642

8 Kayu Bakar (mangrove) (000/th) 450 000 (+) 79 291.809 9. Jasa Lingkungan (000/th) 1 440 515.2 (+) 2 419 742.165 10 Keuntungan (000/th) 251 323 522 (-) 36 299 806.908

Tabel 37 menunjukan kondisi sumberdaya setelah dialokasikan untuk tujuan skenario pembangunan lingkungan. Semua sumberdaya dapat teralokasi 100 persen kecuali untuk biaya petani dan tenaga kerja. Solusi untuk skenario pembangunan lingkungan mengarahkan pada penggunaan teknologi yang ramah lingkungan dan cenderung tidak padat modal. Seperti pola budidaya udang organik dan eksploitasi hutan mangrove, kedua jenis pengusahaan tersebut lebih banyak mengandalkan proses alamiah dalam memproduksi barang-barang seperti udang organik, kupang, kerang dan kayu bakar. Teknologi budidaya udang organik dan eksploitasi hutan mangrove tidak padat karya. Hal itu terbukti dari

besarnya potensi tenaga kerja yang tidak terpakai yang mencapai 3 978 579.9 HOK atau sekitar 56 persen lebih.

Tabel 37. Kondisi Sumberdaya Setelah Dia lokasikan Untuk Tujuan Skenario Pembangunan Lingkungan

Deviasi No. Jenis Sumber Daya Satuan

RHS Value Deviasi

1 Biaya Petani (000) 655 761 788.000 (-) 490 955 684.660

2 Tenaga Kerja HOK 7 077 000.000 (-) 3 978 579.928

3 Tenaga Kerja Untuk

Garam HOK 10 000.000 0.000

4 Luas Satuan Lahan 1 (Ha) 6574.800 0.000

5 Luas Satuan Lahan 2 (Ha) 9191.400 0.000

6 Luas Satuan Lahan 3 (Ha) 175.300 0.000

7 Luas Satuan Lahan 4 (Ha) 261.695 0.000

8 Hutan Mangrove Lestari 1 (Ha) 124.700 0.000

9 Hutan Mangrove Lestari 2 (Ha) 160.640 0.000

10 Luas Lahan Seluruhnya (Ha) 16 488.535 0.000

7.3. Solusi Model Untuk Skenario Terjadinya Eksternalitas dan Upaya Untuk Mengatasinya

Solusi model untuk skenario ini akan mengarahkan pada pola pemanfaatan lahan yang mengurangi budidaya udang organik. Kita tahu bahwa budidaya udang organik sangat rentan akibat tekanan lingkungan oleh polusi dari limbah udang intensif. Jika mereka berada bersama-sama dalam satu lokasi, maka hal tersebut akan berdampak pada penurunan potensi produksi udang organik.

Budidaya udang organik mengandalkan asupan makanan dari aliran air laut yang masuk ke dalam tambak melalui pintu outlet dan inlet secara bebas tanpa ada hambatan (open access). Bersamaan dengan itu unsur-unsur polutan yang dihasilkan oleh budidaya udang intens if masuk kedalam lingkungan tambak organik. Jika pada suatu kondisi dimana lingkungan sekitar tambak terjadi

pencemaran, maka solusinya adalah sementara waktu masyarakat tidak mengusahakan budidaya udang organik yang rentan terhadap kondisi lingkungan yang tercemar tersebut. Dan bersamaan dengan hal tersebut usaha budidaya udang intensif sementara waktu juga dihentikan. Penghentian kedua bentuk teknologi budidaya udang tersebut harus ada teknologi alternatif yang bisa menggantikan yaitu budidaya udang semi intensif.

Langka kedua untuk mengatasi dampak eksternalitas yaitu memperbanyak tegakan mangrove, karena kita tahu bahwa mangrove terbukti dapat menyerap racun-racun yang berpotensi mengancam ekosistem tambak. Uraian ini sejalan dengan solusi alokasi lahan sebagaimana disajikan pada Tabel 38.

Tabel 38. Alokasi Penggunaan Lahan Untuk Skenario Terjadinya Eksternalitas

Luas (Ha) Variabel

Keputusan Strategi Pengembangan Lahan Kondisi Saat Penelitian

Solusi Optimal

X1 Bandeng intensif + U. Campur 6 481.800 6 556.552 X2 B intensif + U Cmpr – Tumpang gilir dg

Garam 12.000 18.248

X3 Bndg + U Organik + U Cmpr 8 541.700 0.000

X4 U Intensif 50.000 0.000

X5 Semi Intensif 680.700 5 377.451

X6 Eksploitasi Campuran Ht Mangrove 722.335 3 867.881

Total 16 488.535 16 488.535

Akibat terjadinya pergeseran dari pola budidaya udang organik ke arah udang semi intensif, maka terjadi peningkatan produksi udang intensif yang signifikan sebaliknya produksi udang organik menurun tajam. Secara umum target produksi barang dan jasa dari skenario ini mengalami peningkatan kecuali untuk udang organik, udang campur dan garam. Secara kumulatif dampak dari skenario ini menunjukkan peningkatan keuntungan yang cukup besar hampir dua

kali lipat dari target semula. Secara ekonomis skenario ini cukup menjanjikan dan secara lingkungan dampak penggunaan taknologi yang ada dijamin tidak akan menimbulkan dampak eksternalitas negatif yang besar sehingga skenario ini sebenarnya cukup ideal untuk direkomendasikan. Informasi tetang deviasi pencapaian target produksi barang dan jasa dapat dilihat pada Tabel 39.

Penerapan teknologi budidaya tambak semi intensif menuntut penggunaan sumberdaya terutama sumberdaya modal dan tenaga kerja yang cukup banyak. Potensi sumberdaya modal (pembiayaan) yang tersedia semuanya terserap habis, sementara potensi tenaga kerja yang ada tidak mencukupi untuk menopang kelangsungan pola usaha ini. Hanya untuk sumberdaya lahan masih ada sisa lahan yang tidak teralokasi yaitu sebesar 668.403 Ha. Penggunaan sisa lahan yang tidak teralokasi ini bebas sepanjang tidak menimbulkan pencemaran lingkungan. Dan karena letaknya ada pada satuan lahan 2 yang umumnya digunakan orang untuk budidaya udang organik, maka peruntukan lahan sisa tersebut dapat digunakan untuk melanjutkan usaha udang organik atau usaha udang semi intensif. Informasi kondisi sumberdaya setelah dialokasikan untuk tujuan skenario ini dapat dilihat pada Tabel 40.

Tabel 39. Deviasi Target Untuk Skenario Terjadinya Eksternalitas

Deviasi Target No. Barang dan Jasa Yang

Ditargetkan Satuan Target 2006 Deviasi 1 Bandeng (000/th) 112 500 801 (+) 130 379 337.140 2 Udang Organik (000/th) 263 845 960 (-) 254 435 420.410 3 Udang Intensif (000/th) 157 980 000 (+) 551 843 557.360 4 Udang Campuran (000/th) 48 499 710 (-) 6 893 596.521 5 Kupang (000/th) 8 899 983 (+) 72 982 631.514 6 Kerang (000/th) 4 432 200 (+) 27 498 704.500 7 Garam (000/th) 108 000 (+) 91 576.642

8 Kayu Bakar (mangrove) (000/th) 450 000 (+) 3 880 092.738 9. Jasa Lingkungan (000/th) 1 440 515.2 (+) 12 007 952.192 10 Keuntungan (000/th) 251 323 522 (+) 245 178 194.600

Tabel 40. Kondisi Sumberdaya Setelah Dialokasikan Untuk Skenario Terjadinya Eksternalitas

Deviasi No. Jenis Sumber Daya Satuan

RHS Value Deviasi

1 Biaya Petani (000) 655 761 788.000 0.000

2 Tenaga Kerja HOK 7 077 000.000 (+) 2 742.603 3 Tenaga Kerja Untuk Garam HOK 10 000.000 (+) 5 798.526

4 Luas Satuan Lahan 1 (Ha) 6574.800 0.000

5 Luas Satuan Lahan 2 (Ha) 9191.400 (-) 668.403

6 Luas Satuan Lahan 3 (Ha) 175.300 0.000

7 Luas Satuan Lahan 4 (Ha) 261.695 0.000

8 Hutan Mangrove Lestari 1 (Ha) 124.700 0.000

9 Hutan Mangrove Lestari 2 (Ha) 160.640 0.000

10 Luas Lahan Seluruhnya (Ha) 16 488.535 (-) 668.403

7.4. Solusi Model Untuk Skenario Jika Tidak Ada Hutan Mangrove

Skenario ini dimaksudkan untuk melihat sejauhmana peranan hutan mangrove dalam pembangunan ekonomi yang ada. Jika tidak ada lagi hutan mangrove maka fungsi penyaringan polutan dari laut yang masuk ke kawasan tambak tidak ada lagi. Kondisi ini hampir bisa dipastikan bahwa untuk pola budidaya udang baik udang intensif maupun udang organik tidak lagi bisa diusahakan, karena udang sangat peka terhadap polusi air laut. Sehingga praktis yang masih bisa bertahan hanya bandeng dan garam. Hasil solusi optimal mengarahkan agar semua lahan yang ada semuanya diusahakan untuk budidaya bandeng, lihat Tabel 41.

Skenario ini juga bisa menjelaskan fenomena pencemaran yang diakibatkan oleh pembuangan Lumpur Lapindo ke laut. Jika tingkat pencemaran sudah sedemikian tinggi sehingga tidak ada lagi lahan yang bisa dibudidaya udang sementara hanya bandeng yang masih tetap bertahan, maka kondisinya mirip denga n skenario tersebut diatas.

Tabel 41. Alokasi Penggunaan La han Untuk Skenario Jika Tidak Ada Hutan Mangrove

Luas (Ha) Variabel

Keputusan Strategi Pengembangan Lahan Kondisi Saat Penelitian

Solusi Optimal

X1 Bandeng intensif + U. Campur 6 481.800 16 488.535 X2 B intensif + U Cmpr – Tumpang gilir dg

Garam 12.000 0.000

Lahan peruntukan lain diluar (X1 dan X2) 9 994.735 0.000

Total 16 488.535 16 488.535

Semua target produksi tidak ada yang tercapai (nol) kecuali untuk bandeng dan udang campur, lihat Tabel 42. Dari hasil perhitungan secara kumulatif nampak bahwa target keuntungan mengalami penurunan sebesar Rp 25 485 004 666 atau turun lebih kurang 10 persen dari target semula. Nilai ini sebenarnya menggambarkan jasa hutan mangrove secara ekonomi. Jika kita menghitung jasa hutan mangrove berdasarkan metode oportunitas, maka nilai kesempatan yang hilang tersebut adalah nilai jasa hutan mangrove yaitu sebesar Rp 25 485 004 666/tahun.

Tabel 42. Deviasi Target Untuk Skenario Jika Tidak Ada Hutan Mangrove

Deviasi Target No. Barang dan Jasa Yang

Ditargetkan Satuan Target 2006 Deviasi 1 Bandeng (000/th) 112 500 801 (+) 320 323 242.750 2 Udang Organik (000/th) 263 845 960 (-) 263 845 960 3 Udang Intensif (000/th) 157 980 000 (-) 157 980 000 4 Udang Campuran (000/th) 48 499 710 (+) 23 116 592.919 5 Kupang (000/th) 8 899 983 (-) 8 899 983 6 Kerang (000/th) 4 432 200 (-) 4 432 200 7 Garam (000/th) 108 000 (-) 108 000

8 Kayu Bakar (mangrove) (000/th) 450 000 (-) 450 000

9. Jasa Lingkungan (000/th) 1 440 515.2 (-) 1 440 515.2

Pengusahaan budidaya bandeng intensif ternyata memerlukan curahan tenaga kerja dan biaya yang sangat besar, sehingga dari potensi biaya dan tenaga kerja yang tersedia ternyata tidak mencukupi untuk itu. Hal itu terbukti dari deviasi yang negatif untuk kedua jenis sumberdaya tersebut sebagaimana nampak pada Tabel 43.

Tabel 43. Kondisi Sumberdaya Setelah Dialokasikan Pada Kondisi Jika Tidak Ada Hutan Mangrove

Deviasi No. Jenis Sumber Daya Satuan

RHS Value Deviasi

1 Biaya Petani (000) 655 761 788.000 (-) 315 327 952.420

2 Tenaga Kerja HOK 7 077 000.000 (-) 2 064 485.360

3 Tenaga Kerja Untuk Garam HOK 10 000.000 -

4 Luas Satuan Lahan 1 (Ha) 6574.800 -

5 Luas Satuan Lahan 2 (Ha) 9191.400 -

6 Luas Satuan Lahan 3 (Ha) 175.300 -

7 Luas Satuan Lahan 4 (Ha) 261.695 -

8 Hutan Mangrove Lestari 1 (Ha) 124.700 -

9 Hutan Mangrove Lestari 2 (Ha) 160.640 -

10 Luas Lahan Seluruhnya (Ha) 16 488.535 0.000

Dokumen terkait