(1)
Yang membeberkan hajat kebutuhan dan keluh kesah kepada Ku, telah jelas terlontar dari lisannya jalan pelarian
Simpanlah hajat kebutuhanmu dalam hatimu dan jangan engkau beberkan, niscaya Aku menjadi tempat pelarianmu dan bukan lisanmu.
Sesorang yang tenang tenteram, ialah siapa yang menjadikan Aku tempat pelariannya, bukan lisannya; lisan-lisan itu tidak mendapat perlindungan Ku, dan kata-kata pun tidak pula mendapat pertolongan Ku. Hendaklah engkau menutup lisanmu agar diam, dan engkau sajalah yang berdiri di antara kedua tangan Ku
(2)
Kawanku yang semajelis adalah hamba-hamba Ku yang paling dekat pada Ku, melebihi dekatnya dari pada mereka yang melihat Ku... Duduk semajelis dengan Ku adalah buah dari “Penglihatan Yang Agung” yaitu melihat Ku dalam segala sesuatu dan pada setiap waktu, dan barangsiapa yang mencapainya, maka ssampai pula kepada ketenangan dan ketentraman di bawah ssayap ke Maha Agungan dan Ketetapan nan Teguh.
Kawan Ku yang semajelis adalah kawan duduk Ku, sudah enggan berkawan duduk dengan selain Ku; Kalau bersama Kitab Ku, ia pun akan berpisah dengan
An-Nafri | Sopan Santun Bermajelis 111
yang mesti, darurat, yang artinya bahwa hanya dengan izin dan perintah dari pada Ku, barulah ia dapat keluar dan berkawan duduk bersama hamba-hamba Ku.
(3)
Bila engkau melihat Ku, jangan hendaknya engkau menjadi kawan duduk Ku; Penglihatan itu jangan diartikan izin untuk berkawan semajelis, melainkan bila penglihatan itu adalah “Penglihatan Yang Agung” yang dengannya engkau melihat Ku dalam segala sesuatu dan pada setiap waktu.
Duka cita itu adalah sifat hamba Ku. Barang siapa yang menghambakan diri pada Ku, akan memperoleh kesedihan hingga sampai ke tahap “Milhat Ku” dan yang sudah melihat Ku akan bersedih pula sebelum sampai pada “Berkawan duduk semajelis” Dan barang siapa yang “Berkawan duduk semajelis” dengan Ku disusul pula oleh kesedihan “Luput daripada Ku”. Karena Aku yang akan meluputkan . Keluputan itu aalah sifat Ku, karenanya, duka cita dan kesedihan itu akan selalu menyertainya. Sesungguhnya yang menyertainya itu adalah jru bicara dari lisan-lisan di bawah pemeliharaan Ku. Adapun “Berita gembira” (Al Busyra) adalah juru bicara dari lisan-lisan keridhaan Ku; Jangan hendaknya engkau berhenti, baik dalam duka maupun suka, berdirilah hanya untuk Ku, sebagaimana layaknya para “Kawan duduk semajelis” dengan Ku, berdiri di anatara kedua tangan Ku. Baru tahap inilah
112 Sopan Santun Bermajelis | An-Nafri
Nur Cahaya Ku akan memancar, menyinar, menjulang naik ke lubuk hatimu.
(4)
Di dalam kawan duduk semajelis, sudah tiadalagi zikir, dan tiada pula berzikir, dalam ia memandang tidak berbalik kembali pandangannya, paham... tiada ucap pemahamannya.
(5)
Sudah berkesudahan keteguhann ilmu-ilmu pada ketenangan makrifat, telah berkesudahan ketentuan makrifat pada budi pekerti penglihatan, telah berkesudahan budi pekerti penglihatan pada budi pekerti kawan duduk semajelis. Kesemuanya telah berlalu, kesemuanya sudah dikenal dan dialami, maka ia pun akan melihat Ku antara hati dan kemauan kerasnya, dan antara lidah dan tutur katanya.
Maka berserulah Ia kepda Ku “Seorang” kawan duduk semajelis” sudah tidak lagi memohon fatwa dan tidak pula memohon perkenan, tidak juga pertolongan apalagi minta-minta, ungkapan pun juga tidak..
Bila fatwa yang diminta, maka ia pun menurun kepada ilmu, bila yang diminta perkenan, balik lagi ia kepada makrifat, jika pertolongan yang diharapkan, turunlah ia ke hajat, dan jika ia masih minta-minta, jelas dia turun ke kefakiran, jika ungkapan yang diharapkan ia turun ke berpaling.
IA pun melanjutkan tutur kata Nya : Di sini, kawan duduk semajelis, baginya dari setiap sesuatu itu berupa ilmu, dan dari setiap ilmu itu adalah zikir,
An-Nafri | Sopan Santun Bermajelis 113
sudah melihat takdir-takdir, dan melihat bagaimana Aku menghalau takdir demi takdir, dan melihat bagaimana Aku mengulangi takdir-takdir itu dengan aneka cara yang Ku kehendaki; karena sesungguhnya Akulah yang memulai penciptaan kemudian mengulanginya (Al Mubdi-u wal Mu’ied). Keyakinannya itu terlihat merupakan Nur antara kedua tangan Ku... Nur, cahaya berpadu cahaya yang bermakrifat. Dan ia melihat Ku, sebagaimana Aku menjulangkan Nur demi Nur ... Cahaya demi cahaya...atas siapa yang Ku kehendaki.... tampak semua itu, terlihat semua ilmu dan semua kejahilan, sehingga tampaklah “Duka dan waham; Terlihat jelas bagaiana cara Ku menimpakan “Dua dan waham” dengan apa dan kepada siapa yang Ku kehendaki. Hati demi hati terlihat jinak dan tenang manakala duduk bersama Ku semajelis.
Disambung pula kata Ny : Seorang yang sudah Ku jadikan “Kawan duduk semajelis” tidak lagi ke derajat ilmu dan makrifat, kecuali dalam keadaan mendesak, kalaupun mendatangninya juga, maka datangnya dengan penuh cara yang sopan, begitu selesai apa yang diperlukan, ia pun surut ke tempat asalnya.
Mendatangi dengan cara yang demikian, niscaya derajat ilmu dan makrifatnya tetap diperoleh tanpa kehilangan derajatnya yang semula. Ia akan “Dimiliki” dan tidak akan dilepaskan dan tidak memperoleh kemenangan.
114 Sopan Santun Bermajelis | An-Nafri
(6)
Bila engkau duduk di antara kedua tangan Ku, dan masih ada padamu ilmu dan makrifat yang saling berkaitan pada dirimu, niscaya Aku akan mengeluarkan engkau dari majelis Ku untuk kembali masuk ke dalam ilmu dan makrifat, dan Ku serahkan padamu menentukan pilihan untuk mengambil keputusan dan hukum antaranya dan antaramu.
Bila putusanmu duduk dalam ilmu, maka ilmu itu tidak mendatangimu dengan kepuasan, lalu engkau pindah kepada makrifat, maka makrifat itu tidak mendatangimu dengan kepuasan; Kedudukan saja engkau di antara kedua tangan Ku. Dalam Majelis Ku tidak akan dimasuki oleh langganan-langganan. Kawan duduk Ku tidak akan menoleh ke belakang dan tiada lisan yang akan mengajak bicara.
(7)
Kawan dudu Ku itu sudah melihat pada Ku, bagaimana Aku memegang segala sesuatu dan bagaimana sesuatu-sesuatu itu tidak dapat saling berpegang tanpa Aku, sedangkan ia sudah melihat bahwa segala sesuatu adalah buatan Ku, tidak dapat berdiri tegak melainkan dengan Ku. Tiada juga dikecualikan “duka cita dan waham”, tiada pula benih-benih buah buahan yang berserakan di jalan-jalan, tidak juga batu merah tembok bangunan, semua, semua... Maka segala sesuatu itu dalam genggaman Ku. Jika telah fana kawan duduk Ku, baru Ku ungkapkan tirai hijab, dan lumatlah langit-langit dan bumi-bumi demi kerinduan kepada mereka agar mereka menjadi kawan duduk dan dekat bersanding dalam majelis Ku yang baru.
An-Nafri | K e s a b a r a n 115
K e s a b a r a n
Pintu yang terdekat dengan pintu Ku adalah pintu kesabaran. Demikianlah kata Tuhan kepadaku: Tiada pintu lagi antar Ku dan antaranya, dan pintu-pintu lain berada di belakang pintu sabar. Setiap pintu satu hijab, dan pintu kesabaran tidaklah berhijab, maka hendaklah engkau iqamah di dalamnya.
Engkau menginginkan Tuhanmu?
Hendaklah engkau memandang kepada Nya dan bersabar, hingga Dia yang mendahuli!
Engkau menginginkan Tuhan mu?
Hendaklah engkau memandang kepada Nya dengan kekhusukan, sampai Dia yangmengajakmu!
Tutur Tuhan kepadaku : Bila engkau menjadi seorang yang mulaia dengan kesabaran atas Ku dan kesabaran atas Ku itu menjadikan engkau mulia; Karena sesungguhnya engkau telah berdiri di Gerbang Kesabaran, berarti engkau berdiri di kemuliaan, maka ucapkanlah kalimat-kalimat kesabaran. Dan kata Nya : Kalimat-kalimat pintu kesabaran ialah : Ya... Tuhan ku! Engkaulah yang berkuasa berbuat atas segala sesuatu”.
IA telah mendatangi hamba Nya dengan suruhan : Hendaklah engkau mengerjakan sesuatu ini dan itu!! I
116 K e s a b a r a n | An-Nafri
mendatangi hamba Nya dengan membawa hijab, agar hamba Nya tidak melihat amal perbuatannya!
Ia pula yang menguji. Ia pula yang mencoba.
Hamba itu telah termakan fitnah oleh amal perbuatannya.
Lalu apa yang dikerjakan oleh si hamba itu?
Ia harus bersabar demi tuhannya, ia harus bersabar atas Tuhannya, hingga tiba saatnya “Keyakinan” mendatanginya.
Bila ia diserang dengan tebasan pedang hendaklah ia maju menghadapinya.
Arti Ayat : Bukanlah kamu yang membunuh mereka, tetapi Allah-lah yang membunuh mereka (QS. Al Anfal 8:17).
Maka inilah ungkapan hakikat, Dialah yang membunuh kuffar itu ... satu persamaan yang terjasdi, pada dhahirnya ... Kaum Mislimin telah bersabar! Penuh ketabahan serta gigih mempertahankan ... mereka diserang oleh pedang mereka, malahan maju dan tetap melakukan perlawanan. Bila mengatakan “Hendaklah kalian melakukan peperangan dan saling bunuh membunuhlah! Lakukanlah! Laksanakan! Dan berjihadlah dengan penuh perasaan mengetahui akan kebenaran, bahwa Dia lah yang membunuh dan Dia lah yang melaksanakan segala sesuatu.
Dan Ia bertutur kata kepadaku : Bila aku telah datang kepadamu dalam penglihatanmu kepada Ku, maka sudah tidak ada lagi kemuliaan”. Kemuliaan telah tunduk kepada Yang Maha Mulia, dan Yang Maha Mulia telah mendatangi hamba-Nya.
An-Nafri | K e s a b a r a n 117
kemuliaan. Bila engkau berpaling, maka Aku lah yang meluruskan. Bila engkau menoleh, Aku lah yang mengembalikan.
Seru Nya Pula : Pintu Hadirat Ku, ialah pintu kesabaran atas Ku.
Dan kata Nya : Di dalam pintu kesabaran atas Ku engkau akan dapat mengetahui siapa engkau dan siapa namamu di sisi Ku.
Dan kata Nya : Ilmu itu tangga naik menuju makrifat, setelah itu ia akan melihat dirinya dan tiada lagi terlihat makrifat... makrifat itu tangga naik menuju penghentian (Al Waqwah) penghentian itu tangga naik menuju rahasia (As Sir), setelah itu akan terlihat penghentian dan tidak lagi terlihat “rahasia” Dan setelah itu tidak terlihat lagi selain Nya.
Lalu Ia bertutur kata padaku : Sesungguhnya engkau telah melihat segala sesuautu, dan engkau akan melihatnya apapbila ia naik, apa yang terlihat adalah dirinya sendiri; maka engkau jangan naik kepada sesuatu sekalipun ia mengungkapkan tentang dirinya kepadamu. Jangan pula engkau bersembunyi di kala sesuatu itu mendatangi untuk mengikutimu, tetapi bersembunyilah manakala ia mengajakmu berbicara.
118 Siapa Pelindungku dari Hawa Nafsu | An-Nafri
BAB 26