Eksistensi adat akan mencuat apabila nilai-nilai luhurnya mampu diangkat,
dicerna dan diamalkan oleh seluruh lapisan masyarakat.15 Dalam kehidupan
sosial, masyarakat suku Domo menjunjung tinggi nilai kebersamaan, saling
memerlukan, seperasaan, sepenanggugan, kekompakan serta persaudaraan
mereka. Salah satu contoh tradisi masyarakat suku Domo yang menjunjung
nilai-nilai tersebut tercermin pada saat salah seorang masyarakat mereka baik
sepersukuan atau sekampung yang akan melangsungkan pernikahan sebagai
berikut:16
Ninik mamak beserta masyarakat berkumpul bersama dirumah anggota
masyarakat yang akan melangsungkan pernikahan tersebut atau dirumah walinya
guna bermusyawarah duduk bersama berembuk bersama untuk mengadakan ritual
pernikahan17 dan syukuran atau walimah yang dalam istilah adat dikenal dengan
baungguok atau mangampuong. Ninik mamak memimpin musyawarah yang didampingi alim-ulama guna menjalankan ritual pernikahan yang tidak
menyimpang dari ajaran agama dan ketentuan adat suku Domo.
15
Tenas Effendy, Eksistensi Adat Istiadat Kabupaten Kampar Dalam Dinamika Global, h. 7
16
Wawancara Pribadi dengan Datuk Sawir. Siak Hulu, 29 April 2016. 17
Biasanya akad nikah diadakan di masjid atau di rumah mempelai wanita. Sebelum dan sesudah akad nikah ada beberapa tradisi adat yang dilaksanakan seperti mengantar tanda, hantaran belanja, tepuk tepung tawar dan sebagainya.
Selain itu, masyarakat suku Domo juga mengumpulkan dana dari masyarakat
untuk membantu biaya pelaksanaan acara pernikahan tersebut.18 Musyawarah
dalam rangka membantu biaya pelaksanaan acara pernikahan tersebut masyarakat
membantu dengan memberikan sumbangan berupa beras atau bahan makanan
serta membantu dengan memberikan sumbangan berupa uang. Orang tua-tua dulu
mengatakan dalam baungguok atau mangampuong masyarakat mengumpulkan
boghe bapompek-ompek, piti bauang-uang (beras seperempat-seperempat, uang berupiah-rupiah).
Selain itu, masyarakat suku Domo juga sering bergotong-royong
membersihkan kampung halaman dan sebagainya yang dilanjutkan dengan acara
makan bersama dengan bekal yang dibawa dari rumah masing-masing. Dalam
acara makan bersama tersebut masyarakat, pemuka adat, alim ulama dan
pemerintah setempat berkumpul duduk bersama (biasanya diadakan di lapangan atau
di balai adat) dan saling bertukar makanan sesama mereka. Tidak ada tempat yang
ditinggikan untuk dijadikan tempat pemuka adat, alim ulama atau pemerintah
setempat. Seluruh masyarakat duduk sama rendah tegak sama tinggi untuk
menumbuhkan rasa seiya sekata dan senasip sepenanggungan serta kesamaan
dalam diri masyarakat tersebut.
Masih banyak lagi tradisi masyarakat suku Domo yang dilakukan
bersama-sama dan saling membahu antar sebersama-sama yang mencerminkan nilai-nilai sosial
yang tinggi dan dijaga serta dilestarikan dari generasi ke generasi seterusnya.
18
Sumbangan tersebut dipergunakan oleh keluarga calon mempelai untuk membiayai tradisi adat dan syukuran atau walimah. Sumbangan dari masyarakat tersebut tidak dipergunakan untuk membiayai hantaran terlebih mahar perkawinan.
Dalam kehidupan masyarakat suku Domo, ninik mamak dianggap sebagai
panutan masyarakat dalam suku Domo ini. Beliaulah yang mengajarkan nilai-nilai
luhur kepada anak-kemenakan dan beliau juga yang memberikan contoh hidup
beradat dan beragama secara langsung kepada anak-kemenakan. Ninik mamak
dijadikan tempat bertanya oleh masyarakat dan pendapat serta perkataannya
didengarkan dan dipertimbangkan.
Ninik mamak suku Domo mengajarkan kepada masyarakat untuk senantiasa
berpegang kepada ketentuan adat, ketentuan agama dan ketentuan negara dalam
menjalankan roda kehidupan.19 Demikianlah sikap, kebiasaan, petuah-petuah,
tutur kata dan cakap ninik mamak sebagai pemuka adat dijadikan juga menjadi
contoh dan pembelajaran bagi anak-kemenakan dan cucu.20
2. Adat Istiadat
Ketentuan adat suku Domo menetapkan bahwa masyarakat suku Domo mulai
terikat oleh ketentuan adat semenjak ia dilahirkan dari rahim ibunya. Salah satu
ketentuan adat yang berlaku ketika si anak dilahirkan adalah pengambilan suku si
anak tersebut. Sebagaimana yang telah dipaparkan pada penjelasan sebelumnya
bahwa si anak akan mengikuti suku dari ibunya menurut ketentuan adat suku
Domo.
Walaupun si anak telah terikat oleh ketentuan adat semenjak ia dilahirkan,
namun tidak seluruh ketentuan adat wajib dilakukan oleh si anak yang baru
dilahirkan. Hal ini dikarenakan si anak belum cakap untuk melakukan perbuatan
19
Wawancara Pribadi dengan Datuk Sawir. Siak Hulu, 29 April 2016. 20
hukum. Sehingga, hanya beberapa ketentuan adat saja yang dapat diterapkan pada
si anak tersebut.
Katentuan-ketentuan adat yang menjadi kewajiban seorang anak kemenakan
(masyarakat) suku Domo, seperti menjaga nama baik suku, mulai dijalankan
ketika si anak kemenakan tersebut sudah berakal atau baligh. Dengan demikian, maka seorang anak kemenakan tidak memiliki kewajiban yang mengakibatkan
penjatuhan hukuman atas pelanggaran terhadap kewajiban tersebut sebelum ia
berakal atau baligh.
Pelanggaran terhadap ketentuan adat oleh anak kemenakan yang sudah
berakal akan diberikan sanksi oleh ninik mamak melalui musyawarah para
pemuka adat, pemuka masyarakat dan si pelanggar ketentuan adat. Musyawarah
tersebut membahas seberapa berat pelanggarannya serta membahas penjatuhan
sanksi yang akan diberikan kepada si pelanggar ketentuan adat. Musyawarah ini
biasanya dilakukan jika si palanggar ketentuan adat melakukan pelanggaran yang
dinilai sakral oleh adat, seperti berzina, kawin satu suku, kawin sedarah, dan
sebagainya. Jika pelanggaran tersebut dilakukan oleh anak kemenakan yang
belum baligh, maka sanksi akan dijatuhkan kepada orang tua si anak karena pada dasarnya mereka adalah orang yang berkewajiban khusus untuk menjaga dan
mendidik anak mereka, namun hukuman yang diberikan biasanya tidak seberat
sanksi yang diberikan kepada pelanggar yang sudah baligh. Penjatuhan sanksi ini berlaku untuk siapa saja termasuk kepada pemuka adat. Namun sanksi tidak dapat
diberikan kepada anak kemenakan yang belum baligh atau kepada anak
kemenakan yang tidak sehat akalnya.21
Pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh masyarakat pada dasarnya
mendapat sanksi sosial yakni berupa pengucilan, seperti tidak diikutsertakannya
dalam pembelajaran dan musyawarah adat. Namun untuk pelanggaran yang
dinilai sakral oleh adat atau dalam istilah adat disebut pelanggaran pusako adat, seperti menikah dengan saudara kandung, adat melalui ketetapan nenek moyang
menjatuhkan hukuman berupa diantegh nyo ka imbo nan longang, ka lawuik nan lope, ka bukit indak di agie makanan, ka lugha indak diagie minum, inyo tidak dipakai didalam adat istiadat di kampuong dalam nagoghi (diantar dia ke hutan yang sunyi, ke laut lepas, ke bukit tanpa diberikan makanan, ke lembah tidak
diberi minum. Dia tidak dipakai dalam ketentuan-ketentuan adat di kampung).22
Selain itu sanksi yang diberikan adalah yang bersangutan tidak dapat dijadikan
sebagai pemuka adat atau sebagai ninik mamak serta dinilai oleh masyarakat
sebagai orang yang tidak beradat. Penjatuhan sanksi ini diberikan kepada
pelanggar hukum adat tersebut yang didahului musyawarah bersama para pemuka
adat (ninik mamak) dan masyarakat setempat yang dilakukan di balai adat atau di
rumah si pelanggar hukum. Dalam musyawarah tersebut akan ditentukan besarnya
nilai pelanggaran tersebut. 23
Suku Domo menempatkan hukum Islam, hukum adat serta hukum yang
ditetapkan oleh pemerintah sejajar dan sejalan yang dalam istilah adat disebut tali
21
Wawancara Pribadi dengan Datuk Sawir. Siak Hulu, 29 April 2016. 22
Wawancara Pribadi dengan Datuk Sawir. Siak Hulu, 29 April 2016. 23
bapintegh tigo (tali berpilin tiga). Untuk hukum Islam, suku Domo memiliki nilai tersendiri, yakni sebagai dasar pedoman dalam ketentuan-ketentuan adatnya.
Dalam istilah masyarakat disebut adat basondi syarak, syarak basondi Kitabullah
(adat bersendi/berpondasi pada syarak, syarak bersendi/berpondasi pada
kitabullah), sehingga dalam setiap prilaku masyarakat suku Domo mencerminkan,
secara khusus, dua nilai yang dijalankan bersamaan yakni nilai-nilai adat dan
nilai-nilai Islam sebagai dasar ketentuan-ketentuan adat suku Domo.24
Dasar pedoman ketentuan adat suku Domo tidak berbentuk tertulis, malinkan
aturan atau ketentuan-ketentuan adat yang telah ditetapkan oleh nenek moyang
terdahulu yang diturunkan secara turun-temurun hingga saat ini. Ungkapan petuah
adat mengatakan, nan la pase dek baikuik, nan la losuo dipakai (yang sudah
berbekas/ bertapak diikuti, yang sudah lusuh dipakai). Ketentuan-ketentuan adat
tersebut diturunkan secara turun-temurun kepada anak kemenakan, sehingga
ketentuan-ketentuan adat tidak hilang dan dilupakan. Dengan demikian, maka
ketentuan-ketentuan adat akan tetap ada dan adat akan tetap hidup. Masyarakat
suku Domo belum sanggup untuk menulis ketentuan-ketentuan kewarisan suku
Domo maupun ketentuan-ketentuan adat yang lainnya. Masyarakat suku Domo
untuk saat ini belum mampu untuk mengumpulkan, menulis, menyusun dan
membukukan seluruh ketentuan-ketentuan adat tersebut. Hal ini dikarenakan
luasnya cakupan ketentuan-ketentuan adat dalam berbagai aspek prilaku hukum.
Pemuka masyarakat suku Domo mengharapkan suatu saat anak kemenakan suku
Domo mampu untuk menulis dan membukukan ketentuan-ketentuan adat tersebut
24
demi menjaga dan melestarikan ketentuan-ketentuan adat suku Domo yang sudah
ada.25
Dalam berbagai permasalahan, baik permasalahan perorangan atau
permasalahan persukuan diselesaikan dengan cara musyawarah yang dipimpin
oleh ninik mamak. Dalam penyelesaian permasalahan tersebut akan dicari solusi
pemecahan permasalahan itu sampai mendapatkan kata mufakat. Istilah adat
menyebutkan tidak ado kusuik nan tidak salosai, tidak ado kowuo tidakkan jonie
(tidak ada kusut yang tidak selesai tidak ada keruh yang tidak akan jernih),
maksudnya setiap permasalahan pasti ada jalan keluarnya.26
Pergantian ninik mamak atau pemuka adat/ pemangku adat terjadi dalam 3
hal. Pertama, ketika seorang pemangku adat atau ninik mamak telah meninggal dunia. Istilah adat mengatakan, sabolun osong di angket golegh ditinggekan
(sebelum keranda diangkat, gelar ditinggalkan). Kedua, seorang ninik mamak akan digantikan jabatan atau gelarnya ketika ninik mamak tersebut mengundurkan
diri dan atau tidak sanggup lagi untuk menjalankan kewajibannya sebagai ninik
mamak atau pemuka adat/ pemangku adat. Ketiga, pergantian juga dilakukan ketika ninik mamak tersebut melakukan pelanggaran adat terlebih pada
pelanggaran pusako adat. Seperti berzina, nikah sedarah, nikah sesuku, membunuh dan sebagainya.27
25
Wawancara Pribadi dengan Muhammad Tamrin. Siak Hulu, 21 April 2016. 26
Wawancara Pribadi dengan Datuk Sawir. Siak Hulu, 29 April 2016. 27
Ada tiga cara yang dilakukan untuk mencari pengganti pemuka adat.
Pertama, dengan menjalankan amanah/ wasiat dari almarhum pemuka adat yang akan digantikan kedudukannya tersebut. Kedua, jika pemuka adat yang akan digantikan tersebut tidak meninggalkan wasiat untuk menjatuhkan kedudukannya
kepada kemenakan suku Domo atau pemuka adat yang akan digantikan itu
melakukan pelanggaran pusako adat sehingga ia diturunkan dari jabatannya sebagai pemuka adat, maka penggantinya akan dipilih dan ditentukan dalam
musyawarah para pemuka adat yang lain, pemuka masyarakat.28 Musyawarah ini
dihadiri oleh ninik mamak/pemangku adat yang lain29, saudara kandung dan atau
saudara seibu,30 alim ulama dan pejabat/ pemerintah setempat seperti Kepala RT,
Kepala RW, Kepala Dusun dan Kepala Desa.31