• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

C. Sosio Ekonomi a. Pendidikan

Pendidikan responden pad 4 kecamatan wilayah penelitian diklasifikasikan dalam 4 kategori menurut pendidikan formal, dimana kategori pertama yaitu tidak tamat SD sampai dengan SD, kategori kedua tamat SMP, kategori ketiga SMA dan kategori keempat Perguruan Tinggi.

Tabel 8. Distribusi responden menurut pendidikan pada 4 kecamatan wilayah penelitian Kecamatan No Pendidikan Blang kejeren Kuta Panjang Blang Pegayon Puteri Betung Jumlah Persentase (%) 1 ≤ SD 48 30 39 37 154 40.63 2 SMP 24 26 23 31 104 27.44 3 SMA 23 27 29 15 94 24.80 4 PT 3 12 3 9 27 7.12 Jumlah 98 95 94 92 379 100.00

Tabel 8 menunjukkan jumlah responden yang tidak tamat SD sampai dengan SD lebih tinggi (40.63 %) sedangkan responden yang mengenyam pendidikan sampai Perguruan Tinggi memiliki persentase terendah (7.12 %). Hal ini menunjukkan penduduk yang memiliki pendidikan rendah lebih banyak dibandingkan penduduk yang telah menduduki pendidikan tinggi.

Pendidikan masyarakat di daerah penelitian dapat menjadi hambatan terhadap tingkat partisipasi masyarakat dalam memanfaatkan kawasan penyangga disebabkan penduduk yang memiliki pendidikan yang sangat rendah tentu akan berbeda dengan pola pikir penduduk yang memiliki pendidikan tingggi. Pendidikan menghasilkan

potensi partisipasi yang dilakukan untuk mengelola dan memanfaatkan serta mengorganisir kawasan penyangga dengan baik.

Pendidikan yang rendah akan menghasilkan pola pemikiran yang rendah dalam hal keterlibatan ataupun partisipasi yang dilakukan. Jika keterlibatan partisipasi yang dilakukan pada taraf pemikiran yang rendah, tentu saja keberhasilan dalam mengelola dan memanfaatkan kawasan penyangga di wilayah penelitianpun sangat kecil.

b. Lama Menetap/bermukim

Lama menetap atau bermukim ditentukan dari lamanya responden pada 4 kecamatan wilayah penelitian yang menempati lokasi kabupaten Gayo Lues sebagai tempat tinggal. Kategori yang digunakan ditentukan dalam 4 kategori yaitu kategori pertama menetap dibawah atau sama dengan 5 tahun, kategori kedua menetap antara 6 sampai 10 tahun, kategori ketiga menetap antara 11 sampai 15 tahun dan kategori keempat menetap diatas 15 tahun.

Tabel 9. Distribusi responden menurut lama menetap atau bermukim pada 4 kecamatan wilayah penelitian

Kecamatan No Lama Menetap

Blang-kejeren Kuta Panjang Blang Pegayon Puteri Betung Jumlah Persentase (%) 1 0 – 5tahun 0 3 1 2 6 1.58 2 6 – 10 tahun 2 9 2 6 19 5.01 3 11 – 15 tahun 18 9 30 16 73 19.3 4 ≥ 15 tahun 78 74 61 68 281 74.1 Jumlah 98 95 94 92 379 100

Berkaitan dengan Tabel 9, jumlah responden yang menetap pada wilayah penelitan persentase tertinggi pada kategori keempat yaitu diatas 15 tahun (74,14 %). Jumlah ini melebihi anggka 50 %. Hal ini menyatakan bahwa penduduk diwilayah penelitian lebih banyak penduduk yang sudah lama menetap atau dari kecil dan sejak lahir telah tinggal pada wilayah tersebut.

Lama menetap masyarakat di sekitar kawasan penyangga Taman Nasional Gunung Leuser dari hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa jumlah tertinggi adalah penduduk yang sudah lama menetap di daerah tersebut dan lebih didominasi oleh penduduk asli yang sejak lahir sudah tinggal didaerah tersebut. Hasil wawancara dengan masyarakat setempat pada umumnya masyarakat yang telah lama menetap di kawasan penyangga telah hidup sejak sebelum daerah tersebut ditetapkan sebagai kawasan konservasi. Mereka telah turun temurun menjalankan kehidupan tradisional yang dicirikan dengan eratnya hubungan masyarakat tersebut dengan alam sekitar.

Lama menetap yang dilakukan penduduk pada wilayah penelitian merupakan domisili yang sejak lahir telah berada didaerah tersebut dan hal ini dapat diartikan sebagai masyarakat adat yang mendiami suatu wilayah. Hal ini diperkuat oleh pendapat Manulang (1999) yang menyatakan bahwa masyarakat yang berdomisili lama atau sejak lahir menetap disuatu wilayah telah turun temurun menjalankan kehidupan tradisional yang dicirikan dengan eratnya hubungan mereka dengan alam sekitar.

Di wilayah penelitian dijumpai juga penduduk sebagai pendatang atau bukan penduduk asli dari wilayah tersebut. Sejalan dengan pendapat Manulang (1999) tidak jarang terjadi bahwa masyarakat yang sebenarnya pendatang di daerah sekitar hutan sengaja menerobos ke dalam kawasan untuk mengambil hasil hutan atau membuka kebun karena alasan-alasan ekonomis yang mendesak.

c. Jumlah Tanggungan

Jumlah tanggungan responden pada 4 kecamatan wilayah penelitian terbagi atas 4 kategori yaitu kategori pertama l kurang dan sama dengan 2 orang, kategori kedua 3 sampai dengan 5 orang, kategori ketiga 6 sampai 8 orang dan kategori keempat lebih dari 8 orang.

Tabel 10. Distribusi responden menurut jumlah tanggungan pada 4 kecamatan wilayah penelitian Kecamatan No Jumlah tanggungan Blang kejeren Kuta Panjang Blang Pegayon Puteri Betung Jumlah Persentase (%) 1 ≤ 2 orang 14 18 15 11 58 15.30 2 3 - 5 orang 8 11 14 6 39 10.29 3 6 – 8 orang 8 8 6 7 29 7.65 4 ≥ 8 orang 68 58 59 68 253 66.75 Jumlah 14 18 15 11 58 15.30

Dari hasil penelitian pada Tabel 10, diperoleh data responden berdasarkan jumlah tanggungan yang memiliki persentase tertinggi pada kategori keempat (≥ 8 orang) sebanyak 66.97 %. Untuk jumlah tanggungan 6 sampai dengan 8 orang sebanyak 7.65 % merupakan jumlah yang terendah. Hal ini menunjukkan bahwa responden pada penelitian ini memiliki banyak tanggungan didalam keluarga.

Jumlah tanggungan yang dimaksud termasuk istri atau suami, anak dan anggota keluarga yang berada dalam satu rumah atau tempat tinggal yang harus disantuni kehidupannya oleh responden setiap harinya.

d. Pekerjaan

Pekerjaan responden pada 4 kecamatan wilayah penelitian dibagi atas 2 bagian yakni pekerjan utama dan pekerjaan sampingan. Pekerjaan utama dikategorikan dalam 4 kategori yaitu kategori pertama responden yang memiliki pekerjaan sebagai PNS/pegawai swasta atau tenaga honorer lainnya di perkantoran, kategori kedua responden yang memiliki pekerjaan sebagai pedagang, kategori ketiga responden yang memiliki pekerjaan sebagai peternak dan kategori keempat sebagai petani.

Tabel 11. Distribusi responden menurut pekerjaan pada 4 kecamatan wilayah penelitian Kecamatan No Pekerjaan Blang kejeren Kuta Panjang Blang Pegayon Puteri Betung Jumlah Persentase (%) 1 PNS/pegawai swasta/tenaga honorer 14 18 22 19 73 19.26 2 Berdagang 8 2 7 17 34 8.97 3 Berternak 3 2 11 5 21 5.54 4 Bertani/berkebun 73 73 54 51 251 66.23 Jumlah 98 95 94 92 379 100.00

Dari keempat kategori pekerjaan responden pada kategori pertama dengan pekerjaan bertani atau berkebun terdapat 251 responden yang merupakan jumlah terbanyak mencapai 66.23 % dari keseluruhan responden. Sedangkan responden dengan kategori 2 dengan pekerjaan utama PNS/pegawai honorer memiliki jumlah

responden sebesar 19.26 %, sedangkan untuk kategori pekerjaan berdagang pada urutan ketiga sebesar 8.97 dan pekerjaan utama sebagai peternak hewan sebesar 5.54 % (Tabel 11).

Pekerjaan utama masyarakat disekitar kawasan penyangga adalah bertani dengan persentase mencapai 66.75 %. Hasil persentase ini sejalan dengan pendapat Manulang (1999) yang mengatakan bahwa masyarakat sekitar hutan konservasi maupun kawasan penyangga adalah petani dengan sistem bertani yang sederhana.

Mata pencaharian utama mempengaruhi terhadap tingkat perekonomian dan pendapatan masyarakat sehingga masyarakat dituntut untuk mencari peluang lain dalam memenuhi kebutuhannya. Hal ini dipertegaskan oleh Manulang (1999) bahwa masyarakat sekitar hutan atau kawasan konservasi memiliki ciri-ciri masyarakat miskin oleh karena akses pasar dan peluang kerja di luar sangat kecil oleh ketiadaan kemudahan akses.

e. Pekerjaan Sampingan

Pekerjaan sampingan responden pada pada 4 kecamatan wilayah penelitian ini tidak dilihat dari jenis pekerjaan sampingan setiap responden, tetapi melihat ada atau tidaknya pekerjaan sampingan responden setiap harinya.

Pembagian kategori pekerjaan sampingan responden terbagi atas kategori pertama tidak ada, kategori kedua tidak tentu, kategori ketiga ada tapi tidak dapat diandalkan dan kategori keempat ada dan mencukupi.

Tabel 12. Distribusi responden menurut pekerjaan sampingan pada 4 kecamatan wilayah penelitian

Kecamatan No Pekerjaan sampingan Blang-

kejeren Kuta Panjang Blang Pegayon Puteri Betung Jumlah Persentase (%) 1 Tidak ada 44 38 21 7 110 29.02 2 Tidak Tentu 23 29 32 32 116 30.61

3 Ada dan tidak dapat diandalkan

27 23 36 45 131 34.56

4 Ada dan mencukupi 4 5 5 8 22 5.80

Jumlah 98 95 94 92 379 100.00

Berdasarkan data pada Tabel 12, jumlah responden yang memiliki pekerjaan sampingan tetapi tidak bisa diandalkan penghasilannya sebanyak 131 responden atau sebanyak 34.56 % sedangkan jumlah responden yang memiliki pekerjaan sampingan dan mencukupi sebanyak 5.80 % merupakan jumlah terkecil dari persentase data responden yang memiliki pekerjaan sampingan.

Responden yang memiliki pekerjaan sampingan dari hasil wawancara dengan masyarakat, responden bekerja sebagai buruh pada perkebunan masyarakat dan beberapa responden bekerja sampingan sebagai pedagang kecil. Berdasarkan informasi dari responden, pekerjaan sampingan ini tidak dapat menjadi andalan oleh karena penghasilan yang diperoleh dari pekerjaan tersebut nominalnya tidak tetap setiap bulannya sehingga tidak menjadi ukuran bahwa setiap bulannya pekerjaan ini dapat diandalkan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

f. Pendapatan

Pendapatan responden pada 4 kecamatan wilayah penelitian terbagi atas kategori pertama kurang dari Rp. 1.000.000, kategori kedua Rp. 1.000.000 – Rp.

1.500.000, kategori ketiga Rp. 1.500.000 – Rp. 2.000.000 dan kategori keempat lebih dari Rp. 2.000.000

Tabel 13. Distribusi responden menurut pendapatan pada 4 kecamatan wilayah penelitian Kecamatan No Pendapatan Blang- kejeren Kuta Panjang Blang Pegayon Puteri Betung Jumlah Persentase (%) 1 ≤ Rp. 1.000.000,- 69 57 78 38 242 63.85 2 Rp. 1.000.000,- s/d Rp. 1.500.000,- 17 21 5 18 61 16.09 3 Rp. 1.500.000,- s/d Rp. 2.000.000,- 7 8 7 20 42 11.08 4 ≥ Rp. 2.000.000,- 5 9 4 16 34 8.97 Jumlah 98 95 94 92 379 100.00

Dari hasil penelitian di lapangan, diperoleh hasil pada Tabel 13 yang menyatakan bahwa responden dengan jumlah pendapatan kurang dari Rp. 1.000.000 memiliki persentase tertinggi (63.85 %) angka ini menunjukkan penduduk yang berpenghasilan sangat rendah lebih tercermin pada daerah penelitian. Dimana saat ini Upah Minimum daerah penelitian adalah sebesar Rp. 800.000 (Delapan ratus ribu rupiah).

Pendapatan masyarakat diwilayah penelitian berkaitan dengan nilai ekonomi yang dan sosial budaya sehingga mempengaruhi taraf hidup masyarkat. Mengenai pendapatan masyarakat ini sejalan dengan penelitian Bismark dan Sawitri (2006) yang menyatakan bahwa pembangunan kawasan konservasi, kawasan penyangga dan ekonomi masyarakat memiliki hubungan timbal balik yang dapat menguntungkan. Selanjutnya Beckman (2004) menegaskan bahwa kemiskinan penduduk tidak

menjadi suatu indikator besar tidaknya partisipasi yang diberikan untuk mengelola kawasan penyangga sebagai sumber hidup, dimana masyarakat hutan pada umumnya menikmati hidup dihutan dengan mengondisikan fasilitas yang dimiliki mereka selama bermukim di hutan dengan cara tradisional.

Pada wilayah penelitian juga ditemui permasalahan pendapatan rendah disebabkan sangat sempitnya lapangan kerja yang dapat diolah masyarakat. Hal tersebut disebabkan lebih luasnya wilayah hutan yang dilindungi dibandingkan wilayah lapangan kerja yang dapat dimanfaatkan, sedangkan peranan kawasan penyangga belum optimal dimanfaatkan penggunaannya untuk peningkatan perekonomian yang memihak terhadap konservasi alam.

Tampaknya upaya pengentasan penduduk miskin pada saat ini lebih sukar dengan masa-masa sebelumnya. Dimana kebutuhan hidup semakin tinggi sedangkan lahan yang akan diolah sama luasnya dari dulu, disebabkan penetapan kawasan telah ditetapkan pemerintah jauh sebelumnya. Pergerakan perekonomian masyarakatpun semakin sempit yang tentu saja berimbas terhadap pendapatan yang kecil dan kemiskinan.

D. Pemahaman Terhadap TNGL

Dokumen terkait