• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

B. Sosok Profesionalitas Guru BK

1. Pengertian Guru BK (Konselor di sekolah)

Menurut Purwadarminta ( 1999 : 519) guru BK adalah penasihat, orang yang melayani konseling. Bruce Shertzer dan Shelly C. Stone (Winkel, 2005 : 176) mengartikan guru BK di sekolah adalah seorang tenaga profesional yang memperoleh pendidikan khusus di perguruan tinggi dan mencurahkan seluruh waktunya pada pelayanan bimbingan. Winkel (2005 : 171) berpendapat bahwa guru BK di sekolah adalah tenaga profesional yang mencurahkan seluruh waktunya pada pelayanan bimbingan.

Konseling merupakan kegiatan yang tidak dapat dilaksanakan secara mekanis. Kegiatan ini merupakan suatu perjumpaan di mana seseorang membantu sesamanya dalam sebuah relasi yang dibentuk untuk tujuan tersebut.

Agar dapat mencapai konseling efektif, kunci utamanya adalah guru BK sendiri. Ini merupakan unsur utama untuk bisa meraih hasil gemilang – artinya, sebagai guru BK, harus memiliki bobot tertentu yang dapat memperlancar relasi konseling; memiliki pengetahuan dasar menyangkut teori dan praktek konseling serta keterampilan berwawancara dan intervensi dalam pemecahan masalah.

2. Ciri Kepribadian Guru BK

Belkin (Winkel, 2005 : 184) membagi tiga ciri kepribadian yang harus dimiliki oleh seorang guru BK, yaitu :

a) Mengenal diri sendiri. Guru BK harus menyadari keunikannya sendiri, kelemahan dan kelebihannya, serta harus tahu dalam usaha-usaha apa dia kiranya akan berhasil. Untuk membantu guru BK dalam mengenal dirinya sendiri ada tiga kualitas yang perlu diperhatikan, yaitu merasa aman dengan diri sendiri (security), percaya pada orang lain (trust), dan memiliki keteguhan hati (courage). Merasa aman dengan diri sendiri mengandaikan mempunyai rasa percaya diri, rasa harga diri, dan tidak merasa cemas serta gelisah tentang diri sendiri. Percaya pada orang lain berarti mampu untuk memberikan sesuatu dari diri sendiri dan menerima sesuatu dari kepribadian orang lain. Memiliki keteguhan hati berarti berani untuk memberikan pelayanan bimbingan, dan mengambil resiko tidak selalu mendapat tanggapan yang positif atau mendapatkan balas jasa dalam bentuk dikagumi serta dihargai;

b) Memahami orang lain. Kualitas ini menuntut keterbukaan hati dan kebebasan dari cara berpikir yang kaku menurut keyakinan / pandangan pribadi saja. Guru BK ini akan mampu mengikuti beraneka pandangan dan perasaan di pihak klien dengan berpedoman pada kerangka acuan internal siswa. Terbuka hatinya juga berarti tidak mengambil sikap mengadili orang lain, meskipun dapat menilai tindakan dan perbuatan orang menurut norma moralitas yang obyektif. Keterbukaan hati dan pikiran memungkinkan menjadi peka (sensitivity) terhadap pikiran dan perasaan yang diungkapkan oleh orang lain, baik dengan kata-kata maupun dengan ungkapan nonverbal, dan ikut menghayatinya tanpa kehilangan identitasnya sendiri. Istilah yang digunakan untuk kepekaan ini adalah emphaty atau emphatic

understanding, yaitu guru BK mampu mendalami pikiran dan

menghayati perasaan siswa seolah-olah guru BK pada saat ini menjadi siswa, tanpa terbawa-bawa sendiri oleh semua itu dan kehilangan kesadaran akan pikiran serta perasaan pada diri sendiri.

c) Kemampuan berkomunikasi dengan orang lain. Kemampuan ini bertumpu pada kemampuan untuk memahami orang lain. Kemampuan untuk berkomunikasi dengan orang lain pada taraf pertemuan antarpribadi mendapat dukungan dari beberapa kualitas yang lain, yaitu sejati, tulen atau ikhlas (genuine), bebas dari kecenderungan untuk menguasai orang lain (nondominance), mampu mendengarkan dengan baik (listening), mampu menghargai orang lain (positive

regard), dan mampu mengungkapkan perasaan serta pikiran secara memadai dalam kata-kata (verbal communication) dan isyarat-isyarat (nonverbal communication). Bertindak sejati, tulen atau ikhlas mengandung unsur kejujuran atau kelurusan hati (honesty) dan keterusterangan (candor). Bagi guru BK di sekolah bertindak sejati atau berhati tulus, berarti berkata-kata dan berbuat tanpa memakai topeng atau main sandiwara; secara pribadi sungguh terlihat tanpa berpura-pura. Bebas dari kecenderungan untuk menguasai orang lain bagi guru BK di sekolah berarti, bahwa dia tidak secara sadar mau memaksakan kehendaknya sendiri atas siswa, dan tidak secara sadar mau memaksakan siswa ke cara berpikir serta cara bertindak tertentu. Mampu mendengarkan dengan baik bagi guru BK di sekolah berarti berusaha menangkap apa yang sebenarnya diungkapkan oleh siswa; tidak hanya mendengar aneka bunyi yang diucapkan, tetapi menggali makna yang terkandung dalam kata-kata itu. Bagi guru BK, kemampuan menghargai orang lain berarti bahwa dia dapat mendekati siswa dan didekati oleh siswa, dengan sikap yang positif dan kerelaan menerima siswa seadanya. Guru BK harus terampil menyampaikan pikiran dan perasaan dalam kata-kata yang memadai, baik pikiran dan perasaannya sendiri maupun pikiran dan perasaan siswa yang dipantulkan kembali kepadanya karena guru BK di sekolah lebih banyak berkomunikasi dengan siswa dalam bentuk bahasa lisan.

Berdasarkan uraian di atas dapat dikatakan bahwa guru BK adalah seorang tenaga profesional yang memperoleh pendidikan khusus di perguruan tinggi yang memiliki pengetahuan menyangkut teori dan praktek konseling serta sejumlah keterampilan seperti keterampilan berwawancara dan melakukan intervensi dalam pemecahan masalah.

3. Peran Guru BK di sekolah

Menurut PP no.74 tahun 2008 (Akhmad Sudrajat: 2010) peran guru BK yaitu membantu peserta didik dalam:

1. Pengembangan kehidupan pribadi, yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami, menilai bakat dan minat. 2. Pengembangan kehidupan sosial, yaitu bidang pelayanan yang

membantu peserta didik dalam memahami dan menilai serta mengembangkan kemampuan hubungan sosial dan industrial yang harmonis, dinamis, berkeadilan dan bermartabat.

3. Pengembangan kemampuan belajar, yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik mengembangkan kemampuan belajar untuk mengikuti pendidikan sekolah/madrasah secara mandiri.

4. Pengembangan karir, yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami dan menilai informasi, serta memilih dan mengambil keputusan karir.

Menurut Khairi Ilham (khairiilham.blogspot.com: 2010), peran guru BK adalah menciptakan suasana yang menyenangkan untuk konseling.

Menurut Sunaryo Kartadinata (disdikpora-kbb.com:2009) peran guru bimbingan dan konseling (guru BK), yaitu membantu peserta didik mengenali potensi dan mengembangkan kepribadiannya.

Myrick dan Witmer (Prayitno,1987:87) mengemukakan lima macam peran guru BK, yaitu sebagai guru BK (dalam arti khusus), sebagai konsultan, sebagai anggota tim kerja, sebagai pengelola, serta sebagai sumber informasi dan layanan bagi masyarakat.

4. Tugas Guru BK di sekolah

Prayitno, dkk (1997:117-140) mengemukakan tugas guru BK di sekolah, sebagai berikut:

(1) memasyarakatkan pelayanan bimbingan dan konseling, (2) merencanakan program bimbingan dan konseling terutama program-program satuan layanan dan satuan kegiatan pendukung untuk satuan-satuan waktu tertentu, program-program tersebut dikemas dalam program harian, mingguan, bulanan, semesteran dan tahunan, (3) melaksanakan segenap satuan layanan bimbingan dan konseling, (4) melaksanakan segenap program satuan kegiatan pendukung bimbingan dan konseling, (5) menilai proses dan hasil pelaksanaan satuan layanan dan kegiatan pendukung, (6) menganalisis hasil penilaian layanan dan kegiatan

pendukung bimbingan dan konseling, (7) melaksanakan tindak lanjut berdasarkan hasil penilaian layanan dan kegiatan pendukung bimbingan dan konseling, (8) mengadministrasikan kegiatan satuan layanan dan kegiatan pendukung bimbingan yang dilaksanakan, (9) mempertanggungjawabkan tugas dan kegiatannya dalam pelayanan bimbingan dan konseling secara menyeluruh kepada koordinator bimbingan dan konseling dan kepala sekolah.

Thantawy (1995:73-77) menyebutkan tugas guru BK di sekolah ialah menyelenggarakan pelayanan bimbingan yang meliputi: bidang bimbingan pribadi, bidang bimbingan sosial, bidang bimbingan belajar dan bidang bimbingan karir yang disesuaikan dengan tahap perkembangan siswa.

Dalam upaya mewujudkan pelaksanaan BK di sekolah, pemerintah melalui SK Bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dan Kepala Badan Administrasi Kepegawaian Negara Nomor 0433/P/1993 dan Nomor 25 Tahun 1993 tentang Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru Pembimbing dan Angka Kreditnya serta Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 025/O/1995 tentang Petunjuk Teknis Ketentuan Pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru Pembimbing dan Angka Kreditnya, menetapkan tugas guru pembimbing (guru BK di sekolah) sebagai berikut: (1) menyusun program bimbingan dan konseling, (2) melaksanakan bimbingan dan konseling, (3) mengevaluasi hasil pelaksanaan bimbingan dan konseling, (4) menganalisis hasil evaluasi

pelaksanaan bimbingan dan konseling, (5) tindak lanjut pelaksanaan bimbingan dan konseling.  

5. Fungsi Guru BK

Semua pendidik, termasuk di dalamnya guru BK melakukan kegiatan pembelajaran, penilaian, pembimbingan dan pelatihan dengan berbagai muatan dalam ranah belajar kognitif, afektif, psikomotor serta keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Sebagaimana telah diutarakan di atas, sebagai seorang guru BK adalah tenaga profesional yang memiliki fungsi: 1) merencanakan dan menyelenggarakan proses pembelajaran, 2) menilai hasil pembelajaran, 3) melakukan pembimbingan dan pelatihan. Arah pelaksanaan pembelajaran yang dimaksud adalah melaksanakan pelayanan BK berupa berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung serta berbagai keterkaitannya.

Guru BK di sekolah adalah tenaga profesional yang mempunyai tugas, tanggung jawab, wewenang dan hak secara penuh dalam kegiatan BK terhadap sejumlah peserta didik. Pelayanan BK di sekolah merupakan kegiatan untuk membantu siswa dalam upaya menemukan dirinya, penyesuaian terhadap lingkungan serta dapat merencanakan masa depannya.

Dokumen terkait