• Tidak ada hasil yang ditemukan

South East Asian Central Banks (SEACEN 27 )

Pelaksanaan Tugas Pokok dan Wewenang Bank Indonesia

2) South East Asian Central Banks (SEACEN 27 )

Pada bulan September 2012, Bank Indonesia turut mengambil bagian dalam SEACEN Deputies Meeting di Korea. Dalam pertemuan tersebut antara lain dibahas mengenai peran SEACEN dalam upaya meningkatkancapacity building negara-negara BCMLV (Brunei Darussalam, Cambodia, Myanmar, Laos, dan Vietnam) guna menghadapi ASEAN Financial Integration Framework (AFIF). Upaya tersebut dilakukan dengan menyelenggarakan workshop guna memperkenalkan alat identifikasi kebutuhan dan pemilihan solusi capacity building. Selain itu, SEACEN bekerjasama dengan AFIF akan membantu negara-negara BCMLV dalam menentukan prioritas kebutuhan capacity building dan learning roadmaps 2013-2015. 2) Kerjasama dengan The People’s Bank of China

Melanjutkan kerjasama bilateral swap (Bilateral Curency Swap Agreement) yang telah dilakukan antara Bank Indonesia dengan The People’s Bank of China (PBOC), pada tanggal 21 Juni 2012, Bank Indonesia dan PBOC menandatangani Agency Agreement on Bond Investment in the Interbank Bond Market of China. Dengan adanya perjanjian tersebut, Bank Indonesia diperkenankan untuk melakukan investasi pada pasar obligasi antar bank Cina (China Interbank Bond Market/CIBM). CIBM merupakan pasar obligasi dengan denominasi RMB terbesar di Cina yakni sebesar RMB 21.36 triliun per tahun 2011 dan saat ini hanya dapat diakses oleh investor domestik atau investor non domestik yang mendapatkan izin dari PBOC.

26 The Executives Meeting of East Asia-Pacific Central Banks (EMEAP), adalah organisasi kerjasama antara bank sentral dan otoritas moneter di kawasan Asia Timur dan Pasifik. EMEAP terdiri dari 11 anggota yaitu Reserve Bank of Australia, People’s Bank of China, Hong Kong Monetary Authority, Bank Indonesia, Bank of Japan, The Bank of Korea, Bank Negara Malaysia, Reserve Bank of New Zealand, Bangko Sentral ng Pilipinas, Monetary Authority of Singapore, dan Bank of Thailand. Kerjasama dilakukan a.l melalui sharing informasi tentang perkembangan ekonomi, keuangan terkini dan kebijakan yang ditempuh oleh masing-masing bank sentral/otoritas moneter di kawasan EMEAP, serta koordinasi kerjasama pada area banking supervision, financial markets, payment system dan information technology dengan tujuan untuk menjaga stabilitas ekonomi dan sistem keuangan di kawasan.

27 SEACEN atau South East Asian Central Banks adalah forum kerjasama bank sentral/otoritas moneter kawasan Asia Pasifik yang beranggotakan 18 negara yaitu: Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, Brunei, Cambodia, Myanmar, Vietnam, Korea, China, Taiwan, Fiji, Mongolia, Nepal, Papua NG, Laos, dan Sri Lanka.

Investasi Bank Indonesia pada CIBM ini sejalan dengan tujuan optimalisasi pengelolaan cadangan devisa, di tengah situasi ekonomi global yang melemah dengan suku bunga yang rendah. Selain itu investasi tersebut juga ditujukan untuk diversifikasi pengelolaan cadangan devisa Bank Indonesia. Investasi pada CIBM ini diharapkan dapat memberikan nilai tambah pada pengelolaan cadangan devisa dengan tetap memperhatikan prinsip keamanan (safety) dan ketersediaan (liquidity).

Investasi pada CIBM dilakukan dengan beberapa pertimbangan antara lain (i) pertumbuhan ekonomi Cina walaupun melambat namun tetap lebih baik dibandingkan developed market saat ini, (ii) nilai tukar yang mengalami apresiasi selama ini, (iii) yield surat-surat berharga (SSB) relatif lebih tinggi dibandingkan SSB developed market pada umumnya, (iv) kapitalisasi pasar obligasi yang cukup besar dan likuid, serta (v) volatilitas harga obligasi Pemerintah Cina yang relatif rendah. Selain itu, mata uang Cina di masa yang akan datang diperkirakan berpotensi tinggi menjadi salah satu reserve currency utama dunia yang saat ini sudah dimulai dengan penggunaan RMB sebagai mata uang untuk perdagangan di beberapa negara. c. Kerjasama International Monetary Fund (IMF)

Dalam rangka memajukan kerjasama internasional guna menjaga stabilitas keuangan dan moneter, Bank Indonesia mewakili Indonesia sebagai anggota IMF, berpartisipasi aktif pada Pertemuan Tahunan IMFC28 yang diselenggarakan pada bulan Oktober 2012. Sebagai persiapan bagi pembahasan pada pertemuan tahunan tersebut, pada tanggal 11-12 September 2012 diselenggarakan pertemuan IMFC level Deputies di Paris, Perancis yang juga dihadiri oleh Bank Indonesia. Topik utama yang dibahas pada pertemuan tersebut mencakup quota formula, consolidated multilateral surveillance report (CMSR), serta building block for IMFC Communique.

Dalam kerangka kerjasama IMF, salah satu isu yang mengemuka adalah penguatan IMF financial resources.Ketidakpastian perekonomian dan pasar keuangan global akibat berlarut-larutnya krisis di kawasan Eropa dan ruang gerak pemerintah (fiskal) dan otoritas moneter yang semakin terbatas, berpotensi menghambat pemulihan krisis ekonomi global. Mempertimbangkan keterbatasan pendanaan untuk pemulihan krisis dari negara yang terkena krisis maupun IMF, maka diperlukan peningkatan kapasitas pendanaan IMF.

Sumber dana utama IMF berasal dari kuota yang disetorkan oleh negara anggota. Namun, IMF dapat melakukan pinjaman bilateral kepada negara anggota apabila kapasitas pendanaan yang tersedia tidak mencukupi. Kontribusi/pinjaman bilateral tersebut bersifat sementara (bridging), sebelum sumber pendanaan IMF yang berasal dari kuota mengalami peningkatan. Mengingat proses kenaikan kuota IMF membutuhkan waktu yang cukup lama, maka pinjaman kontribusi/ bilateral dari negara anggota menjadi pilihan utama saat ini.

Beberapa aspek penting terkait dengan kontribusi bilateral tersebut yakni :

28 IMFC (International Monetary Financial Committee) merupakan forum komite pengambilan keputusan tertinggi IMF di bawah Board of Governor (Dewan Gubernur) yang terdiri dari 24 wakil grup konstituen yang mewakili suara 187 negara anggota. IMFC bersidang 2 kali setahun, yaitu saat Spring (spring meeting) dan Fall (annual meeting).

i. Pinjaman bilateral dapat dilakukan melalui penandatanganan bilateral loan agreement ataupun pembelian note purchase agreement (NPA) oleh bank sentral atau pemerintah. ii. Dana yang diperoleh dapat dimanfaatkan oleh seluruh negara anggota dan tidak dimaksudkan

untuk menutupi kebutuhan likuiditas kawasan tertentu.

iii. Komitmen kontribusi diperlakukan sebagai second line of defense IMF. IMF baru akan mencairkan komitmen pinjaman ini ketika kapasitas pendanaan IMF yang berasal dari kuota saldonya turun hingga mencapai USD 100 miliar. Saat ini, IMF memiliki kapasitas pendanaan sebesar USD 385 miliar. Selama kapasitas pendanaan IMF masih diatas USD 100 miliar, komitmen kontribusi tersebut tidak akan ditarik dan negara yang berkomitmen tidak perlu menyetorkan dana kepada IMF. Adapun jangka waktu komitmen adalah 2 tahun.

iv. Pinjaman bilateral mendapatkan bunga dari IMF sebesar SDR (Special Drawing Rights) interest rate.

v. Dalam hal terjadi tekanan BOP, negara kreditor dapat menarik kembali pinjamannya (Full Encashbility).

vi. Penempatan dalam surat berharga IMF ini tergolong aman karena IMF memiliki preferred creditor status. Dengan demikian, apabila terjadi default di negara anggota yang mendapatkan bantuan IMF, pinjaman dari IMF dikembalikan paling pertama.

vii. Pembelian NPA oleh bank sentral tetap diperhitungkan sebagai cadangan devisa, seperti halnya penempatan pada T-bills atau surat berharga lainnya.

Saat ini 39 negara anggota IMF telah berkomitmen untuk berkontribusi dengan total komitmen sebesar USD 461 miliar. Di kawasan ASEAN, Singapore memberikan komitmen sebesar USD 4 miliar, sementara Malaysia, Thailand dan Phillippina masing-masing berkomitmen sebesar USD 1 miliar. Sementara Indonesia turut mendukung penguatan IMF financial resources dengan memberikan komitmen pinjaman sebesar USD 1 miliar. Komitmen ini mempertimbangkan manfaatnya terhadap kestabilan sistem keuangan global serta menunjukkan solidaritas negara ASEAN dalam upaya menjaga mencegah dan menanggulangi krisis global.

d. Kerjasama APEC

Pada triwulan III-2012, Bank Indonesia juga berperan aktif berpartisipasi pada forum APEC yakni dalam rangkaian pertemuan APEC Finance Minister Meeting (30 Agustus 2012), APEC Finance Deputies Meeting (29 Agustus 2012) serta Senior Finance Official Meeting (28 Agustus 2012) yang berlangsung di Moscow, Russia. Topik utama yang dibahas dalam pertemuan tersebut adalah mengenai (i) Global outlook and perspective for Asian-Pacific Region, (ii) Long term fiscal sustainability, (iii) National strategies for financial literacy, dan (iv) Financial policy measures to address the impact of natural disasters. Keempat topik tersebut merupakan isu yang diangkat sebagai tema pembahasan dalam pertemuan-pertemuan APEC Finance Minister Process sepanjang tahun 2012. Selanjutnya pembahasan isu-isu tersebut dituangkan dalam suatu Joint Ministerial Statement (JMS) yang disahkan saat pertemuan level Menteri pada 30 Agustus 2012.

e. Kerjasama Negara-Negara G-20

Melanjutkan pembahasan pasca G-20 Leaders’ Summit pada Juni 2012, di triwulan III-2012, Bank Indonesia berpartisipasi aktif dalam Deputies Meeting yang diselenggarakan di Mexico City. Pertemuan Deputies G-20 tersebut membahas lima isu utama, yakni: (i) Global Economy and Framework; (ii) International Financial Architecture; (iii) Financial Regulation/Financial Inclusion; (iv) Energy, Commodities and Climate Finance; dan (v) Agenda G-20 ke depan.

Pembahasan isu global economy and framework, merupakan bagian dari rangkaian pembahasan upaya G-20 yang berlangsung sejak tahun 2008 untuk mendorong percepatan pemulihan ekonomi global. Dalam pertemuan dihasilkan konsensus bahwa negara G-20 perlu mengupayakan kemajuan yang lebih nyata atas implementasi dari seluruh komitmennya ditengah kondisi perekonomian global yang masih labil dan memiliki potensi downside risks yang besar.

Selain itu, disepakati bahwa framework for strong, sustainable and balanced growth akan terus diperkuat. Pertemuan juga menyepakati untuk memperkuat proses Accountability Assessment29 yang selama ini dilakukan IMF melalui peer review terhadap komitmen kebijakan yang telah disampaikan negara-negara anggota G20.

Dalam pembahasan topik International Financial Architecture, G-20 menegaskan kembali komitmen untuk mendorong penyelesaian Review Quota Formula sebelum Januari 2013. Isu lain yang disepakati adalah penyempurnaan laporan inisiatif pengembangan Local Currency Bond Market danisu Financing for Infrastructure. Selanjutnya, pertemuan juga menyepakati untuk melanjutkan pembahasan yang tertunda mengenai SDR Basket, Global Liquidity dan beberapa isu lainnya pada tahun 2013.

Dalam pembahasan mengenai Financial Regulation/Financial Inclusion, G-20 memfokuskan pada isu regulasi sektor keuangan yakni pengembangan framework Systemically Important Financial Institutions (SIFIs), khususnya untuk Domestically Important Banks/DSIBs, regulasi shadow banking, framework untuk Legal Entity Identifier, data gaps initiative dan perkembangan implementasi reformasi over the counter derivatives.

Dalam pertemuan Deputies G-20 juga dibahas topik Energy, Commodities and Climate Finance yang menyepakati untuk melanjutkan upaya mendorong transparansi dan perbaikan fungsi baik pasar fisik maupun financial energy markets. Isu lain yang mengemuka dalam pertemuan adalah pengelolaan risiko akibat bencana alam.

Dokumen terkait