BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.5 Spektrofotometri
2.5.2 Spektrofotometri Inframerah (IR)
Spektrofotometri inframerah pada umumnya digunakan untuk:
1. Menentukan gugus fungsi suatu senyawa organik
2. Mengetahui informasi struktur suatu senyawa organik dengan membandingkan daerah sidik jarinya.
Prinsip kerja spektrofotometri inframerah yaitu interaksi energi dengan suatu materi. Spektrofotometri inframerah berfokus pada radiasi elektromagnetik pada rentang frekuensi 4000-200 cm-1 (Khopkar, 1990). Bentuk spektrum inframerah yang dihasilkan berupa grafik yang menunjukkan persentase transmitan yang bervariasi pada setiap frekuensi radiasi inframerah. Satuan frekuensi yang digunakan pada garis horizontal yang dinyatakan dalam bilangan gelombang yang didefinisikan sebagai banyaknya gelombang dalam tiap satuan panjang.
Pengukuran pada spektrum inframerah dilakukan pada daerah cahaya inframerah tengah (mid-infrared) yaitu panjang gelombang 2,5-50 µm atau bilangan gelombang 4000-200 cm-1. Energi yang dihasilkan oleh radiasi ini akan menyebabkan vibrasi atau getaran pada molekul yang dapat menyebabkan pita dan absorbs sinar inframerah sangat khas dan spesifik untuk setiap tipe ikatan kimia
atau gugus fungsi (Dachrianus, 2004). Daerah spektra spektroskopi inframerah dibagi dalam tiga kisaran yaitu inframerah dekat (12.500-4000 cm-1), inframerah tengah (4000-400 cm-1) dan inframerah jauh (400-100 cm-1). Daerah inframerah tengah merupakan daerah yang digunakan untuk penentuan gugus fungsi (Gandjar, 2007).
Identifikasi setiap ikatan yang khas dari setiap gugus fungsi merupakan basis dan interpretasi spektrum inframerah. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi dalam menginterpretasikan spektrum (Dachriyanus, 2004) yaitu:
1. Spektrum harus tajam dan jelas
2. Spektrum harus berasal dari senyawa yang murni
3. Spektrofotometer harus dikalibrasi sehingga akan menghasilkan pita atau serapan pada bilangan gelombang yang tepat
4. Metode penyiapan sampel harus dinyatakan
Suatu inframerah yang dilewatkan melalui cuplikan senyawa-senyawa organik, maka sejumlah frekuensi diserap sedang frekuensi yang lain diteruskan/ditransmisikan tanpa serap (Sastrohamidjojo, 1985).
BAB III
METODE PENELITIAN
Metode penelitian ini meliputi pengumpulan dan pembuatan simplisia, karakterisasi simplisia, skrining fitokimia, pembuatan ekstrak, analisis ekstrak dengan kromatografi lapis tipis (KLT), isolasi alkaloid dari ekstrak kasar alkaloid (crude alkaloid), uji kemurnian isolat dan karakterisasi isolat dengan spektrofotometri ultra violet (UV) dan spektrofotometri infra merah (IR).
3.1 Alat
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah alat-alat gelas, blender, eksikator, neraca analitik, neraca kasar, oven listrik, penangas air, penguap vakum putar (rotary evaporator), seperangkat alat kromatografi lapis tipis (Desaga), seperangkat alat penentuan kadar air (alat stahl), spektrofotometer infra merah (Shimadzu), spektrofotometer ultra violet (Shimadzu) dan tanur.
3.2 Bahan
Bahan yang digunakan adalah kulit kayu landoyung (Litsea cubeba (Pers.) Lour.). Bahan kimia yang digunakan berkualitas pro analisa (E. Merck) yang terdiri dari α-naftol, ammonia, asam asetat anhidrida, asam asetat glacial, asam klorida, asam nitrat, asam sulfat, benzen, besi (III) klorida, bismuth (III) nitrat, etanol 96%, etil asetat, iodium, isopropanol, kalium iodida, kloroform, metanol, natrium hidroksida, natrium sulfat anhidrat, n-heksan, plat pra lapis silica gel 60 F254, raksa (II) klorida, serbuk seng, silica gel 60 mesh 230-400 ASTM, timbal (II) asetat dan toluen. Selain itu juga digunakan air suling (aquades) dan etanol 80% hasil destilasi.
3.3 Pembuatan Larutan Pereaksi
Pembuatan larutan pereaksi yaitu pereaksi Mayer, Bouchardat, Dragendorff, Molish, timbale (II) asetat 0,4 M (Depkes, 1995), pereaksi asam klorida 2 N, asam sulfat 2 N, natrium hidroksida 2 N, asam nitrat 0,5 N, besi (III) klorida 1%
(Depkes, 1979), pereaksi Liebermann-Burchard (Harborne, 1987).
3.3.1 Pereaksi Mayer
Sebanyak 1,359 g raksa (II) klorida ditimbang, dilarutkan dalam air suling hingga 60 ml. Pada wadah lain kalium iodida sebanyak 5 g dilarutkan dalam 10 ml air suling. Kedua larutan dicampurkan lalu ditambahkan air suling hingga 100 ml.
3.3.2 Pereaksi Bouchardat
Sebanyak 4 g kalium iodida ditimbang, dilarutkan dalam air suling dan sebanyak 2 g iodium ditimbang, dilarutkan dalam larutan kalium iodida dan dicukupkan dengan air suling hingga 100 ml.
3.3.3 Pereaksi Dragendorff
Sebanyak 0,85 g bismuth (III) nitrat ditimbang, dilarutkan dalam 10 ml asam asetat glacial, lalu ditambahkan 40 ml air suling. Pada wadah lain dilarutkan 8 g kalium iodida dalam 30 ml air suling. Kedua larutan dicampurkan sama banyak, lalu ditambahkan 20 ml asam asetat glacial dan diencerkan dengan air suling hingga volume 100 ml.
3.3.4 Pereaksi Liebermann-Burchard
Dua puluh bagian asam asetat anhidrida dicampurkan dengan satu bagian asam sulfat pekat dan 50 bagian kloroform, dicampur. Larutan ini dibuat baru.
3.3.5 Pereaksi asam klorida 2 N
Sebanyak 17 ml asam klorida pekat diencerkan dengan air suling secukupnya sampai volume 100 ml.
3.3.6 Pereaksi natrium hidroksida 2 N
Ditimbang 8,002 g kristal natrium hidroksida, dilarutkan dalam air aquades sehingga diperoleh larutan 100 ml.
3.3.7 Pereaksi asam sulfat 2 N
Sebanyak 9,8 ml asam sulfat pekat diencerkan dengan air suling secukupnya hingga volume 100 ml.
3.3.8 Pereaksi Molish
Sebanyak 3 g α-naftol ditimbang, dilarutkan dalam asam nitrat 0,5 N hingga diperoleh larutan 100 ml.
3.3.9 Pereaksi besi (III) klorida 1%
Sebanyak 1 g besi (III) klorida ditimbang, dilarutkan dalam air suling sehingga diperoleh larutan 100 ml.
3.3.10 Pereaksi timbal (II) asetat 0,4 M
Sebanyak 15,17 g timbal (II) asetat ditimbang, dilarutkan dalam air suling bebas karbondioksida sehingga diperoleh larutan 100 ml.
3.4 Penyiapan Bahan Tanaman
Penyiapan bahan tanaman meliputi pengambilan bahan tanaman, identifikasi tanaman, dan pengolahan bahan tanaman.
3.4.1 Pengambilan bahan tanaman
Pengambilan bahan tanaman dilakukan secara purposif, yang artinya tanpa membandingkan dengan daerah lain. Bahan tanaman yang digunakan adalah kulit batang landoyung (Litsea cubeba (Lour.) Pers.) diambil dari kebun di daerah Gambiri, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Pengambilan kulit batang dengan cara mengikis kulit batang pohon tanpa ikut lendir (kambium) pohon.
3.4.2 Identifikasi tanaman
Identifikasi tanaman dilakukan di Herbarium Bogoriense, Bidang Botani, Pusat Penelitian Biologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Cibinong.
3.4.3 Pengolahan bahan tanaman
Kulit batang landoyung diambil dari pohon landoyung, dibersihkan, dipotong kira-kira berukuran 5 cm. Kulit batang ini kemudian dikeringkan di lemari pengering hingga kering dan ditimbang sebagai berat kering.
3.5 Pemeriksaan Karakterisasi Simplisia 3.5.1 Pemeriksaan makroskopik
Pemeriksaan makroskopik dilakukan dengan mengamati bentuk luar dari simplisia kulit batang landoyung (Litsea cubeba (Lour.) Pers.).
3.5.2 Penetapan kadar air
Penetapan kadar air dilakukan dengan metode Azeotropi (destilasi toluen).
Alat terdiri dari labu alas bulat 500 ml, alat penampung, pendingin, tabung penyambung dan tabung penerima.
a. Penjenuhan toluena
Sebanyak 200 ml toluena dan 2 ml air suling dimasukkan ke dalam labu alas bulat, dipasang alat penampung dan pendingin, kemudian didestilasi selama 2 jam.
Destilasi dihentikan dan dibiarkan dingin selama 30 menit, kemudian volume air dalam tabung penerima dibaca dengan ketelitian 0,05 ml.
b. Penetapan kadar air simplisia
Dimasukkan 5 gram serbuk simplisia yang telah ditimbang seksama, labu dipanaskan hati-hati selama 15 menit. Setelah toluena mendidih, kecepatan tetesan diatur 2 tetes untuk tiap detik sampai sebagian besar air terdestilasi, kemudian
kecepatan destilasi dinaikkan sampai 4 tetes tiap detik. Setelah semua air terdestilasi, bagian dalam pendingin dibilas dengan toluena. Destilasi dilanjutkan selama 5 menit, kemudian tabung penerima dibiarkan mendingin pada suhu kamar.
Setelah air dan toluena memisah secara sempurna, volume air dibaca dengan ketelitian 0,05 ml. Selisih kedua volume air yang dibaca sesuai dengan kandungan air yang terdapat dalam bahan yang diperiksa. Kadar air dihitung dalam persen (WHO, 1998).
3.5.3 Penetapan kadar sari yang larut dalam air
Sebanyak 5 gram serbuk simplisia dimaserasi selama 24 jam dalam 100 ml air-kloroform (2,5 ml kloroform dalam air suling sampai 1 liter) dalam labu bersumbat sambil dikocok sesekali selama 6 jam pertama, kemudian dibiarkan selama 18 jam, kemudian disaring. Sejumlah 20 ml filtrat pertama diuapkan sampai kering dalam cawan penguap yang berdasar rata yang telah dipanaskan dan ditara. Sisa dipanaskan pada suhu 105 oC sampai bobot tetap. Kadar dalam persen sari yang larut dalam air dihitung terhadap bahan yang telah dikeringkan di udara (Depkes RI, 1995).
3.5.4 Penetapan kadar sari yang larut dalam etanol
Sebanyak 5 gram serbuk simplisia dimaserasi selama 24 jam dalam 100 ml etanol 96 % dalam labu bersumbat sambil dikocok sesekali selama 6 jam pertama, kemudian dibiarkan selama 18 jam. Disaring cepat menggunakan kertas saring untuk menghindari penguapan etanol tersebut. Sejumlah 20 ml filtrat diukur menggunakan gelas ukur dan diuapkan sampai kering ke dalam cawan penguap berdasar rata yang telah dipanaskan dalam oven dan ditara. Sisa dipanaskan pada suhu 105oC sampai bobot tetap. Kadar dalam persen sari yang larut dalam etanol 96% dihitung terhadap bahan yang telah dikeringkan di udara (Depkes RI, 1995).
3.5.5 Penetapan kadar abu total
Ditimbang 2 g serbuk yang telah digerus, dimasukkan dalam kurs porselen yang telah dipijar dan ditara, kemudian diratakan. Kurs dipijar perlahan-lahan sampai arang habis, pijaran dilakukan pada suhu 600oC di dalam tanur selama 3 jam, kemudian didinginkan dan ditimbang sampai diperoleh bobot tetap. Kadar abu dihitung terhadap bahan yang telah dikeringkan di udara (Depkes RI, 1995).
3.5.6 Penetapan kadar abu yang tidak larut dalam asam
Abu yang diperoleh dalam penetapan kadar abu total, dididihkan dalam 25 ml asam klorida encer selama 5 menit, bagian yang tidak larut dalam asam dikumpulkan, disaring melalui kertas saring bebas abu, dipijarkan di dalam tanur sampai bobot tetap, kemudian didinginkan dan ditimbang. Kadar abu yang tidak larut dalam asam dihitung terhadap bahan yang telah dikeringkan di udara (Depkes RI, 1995).
3.6 Skrining Fitokimia
Pemeriksaan skrining fitokimia (uji pendahuluan) dilakukan berdasarkan metode dari Depkes (1995) dan Farnsworth (1966) yang meliputi senyawa alkaloid, glikosida, flavonoid, saponin, tannin dan triterpenoid/steroid.
3.6.1 Pemeriksaan alkaloid
Sebanyak 0,5 gram serbuk simplisia ditimbang menggunakan neraca analitik, kemudian ditambahkan 1 ml larutan HCl encer (HCl 2N) dan 9 ml air suling di dalam labu erlenmeyer, dipanaskan di atas penangas air selama 2 menit, kemudian didinginkan dan disaring. Filtrat yang diperoleh dipakai untuk percobaan berikut:
a. Tiga tetes filtrat, ditambahkan 2 tetes pereaksi Mayer, akan terbentuk endapan berwarna kuning.
b. Tiga tetes filtrat, ditambahkan 2 tetes pereaksi Bouchardat, akan terbentuk endapan berwarna jingga.
c. Tiga tetes filtrat, ditambahkan 2 tetes pereaksi Dragendorff akan terbentuk endapan berwarna kuning (Depkes RI. 1995).
3.6.2 Pemeriksaan glikosida
Sebanyak 3 gram serbuk simplisia ditimbang, lalu disari dengan 30 ml campuran dari 7 bagian etanol 95% dan 3 bagian air suling. Direfluks selama 10 menit, didinginkan, lalu disaring. Diambil 20 ml filtrat, ditambahkan 25 ml air suling dan 25 ml timbal (II) asetat 0,4 M, dikocok, didiamkan selama 5 menit lalu disaring. Filtrat disari dengan 20 ml campuran 2 bagian isopropanol dan 3 bagian kloroform, perlakuan ini dilakukan sebanyak 3 kali. Sari air dikumpulkan dan ditambahkan Na2SO4 anhidrat, disaring, kemudian diuapkan pada temperatur tidak lebih dari 50oC, sisanya dilarutkan dalam 2 ml metanol. Larutan sisa digunakan untuk percobaan berikut: 0,1 ml larutan percobaan dimasukkan dalam tabung reaksi, kemudian diuapkan di atas penangas air. Pada sisa ditambahkan 2 ml akuades dan 5 tetes larutan pereaksi Molish, lalu ditambahkan dengan hati-hati 2 ml asam sulfat pekat, terbentuk cincin ungu pada batas kedua cairan menunjukkan adanya ikatan gula (glikon) (Depkes RI, 1995).
3.6.3 Pemeriksaan steroid/triterpenoid
Sebanyak 1 gram serbuk simplisia dimaserasi dengan 20 ml n-heksan selama 2 jam, disaring, lalu filtrat diuapkan dalam cawan penguap. Pada sisa ditambahkan 20 tetes asam asetat anhidrida dan 1 tetes asam sulfat pekat (pereaksi Liebermann-Burhard), diteteskan pada saat akan mereaksikan sampel uji. Apabila terbentuk warna biru atau biru hijau menunjukkan adanya steroid, sedangkan warna merah, merah muda atau ungu menunjukkan adanya triterpenoid (Harborne, 1987).
3.6.4 Pemeriksaan flavonoid
Sebanyak 10 gram serbuk simplisia ditambah 100 ml air panas, dididihkan selama 5 menit dan disaring dalam keadaan panas. Ditambahkan 0,1 gram serbuk Mg, 1 ml asam klorida pekat dan 2 ml amil alkohol ke dalam 5 ml filtrat, dikocok dan dibiarkan memisah. Flavonoid positif jika pada lapisan amil alkohol terjadi warna merah kekuningan atau jingga (Farnsworth, 1966).
3.6.5 Pemeriksaan tanin
Sebanyak 0,5 gram serbuk simplisia disari dengan 10 ml air suling lalu disaring, filtratnya diencerkan dengan air sampai tidak berwarna. Larutan diambil sebanyak 2 ml dan ditambahkan 1-2 tetes pereaksi besi (III) klorida 1%. Jika terjadi warna biru atau kehitaman menunjukkan adanya tanin (Farnsworth, 1966).
3.6.6 Pemeriksaan saponin
Sebanyak 0,5 gram serbuk simplisia dimasukkan ke dalam tabung reaksi, ditambahkan 10 ml air suling panas, didinginkan, kemudian dikocok kuat-kuat selama 10 detik. Saponin positif jika terbentuk busa yang stabil tidak kurang dari 10 menit setinggi 1 sampai 10 m dan dengan penambahan 1 tetes asam klorida 2 N buih tidak hilang (Depkes RI, 1995).
3.7 Pembuatan Ekstrak Etanol Kulit Batang Landoyung (Litsea cubeba (Lour.) Pers.) (EEKBL)
Pembuatan ekstrak etanol kulit batang landoyung (Litsea cubeba (Lour.) Pers.) (EEKBL) dilakukan secara maserasi. Prosedur pembuatan ekstrak:
Sebanyak 250 gram serbuk simplisia kulit batang landoyung dimasukkan ke dalam sebuah bejana, dituangi dengan cairan penyari etanol 80% sebanyak 2500 ml, ditutup rapat, dibiarkan selama 5 hari pada tempat yang terlindung dari cahaya sambil sering diaduk, lalu saring, peras dan cuci ampas dengan penyari etanol 80%
secukupnya. Dipindahkan ke bejana tertutup, dibiarkan di tempat sejuk, terlindung dari cahaya selama 2 hari, lalu disaring (Ditjen POM, 1979). Maserat yang diperoleh kemudian dipekatkan dengan alat rotary evaporator hingga diperoleh ekstrak kental.
3.8 Isolasi Senyawa Alkaloid dari Ekstrak Etanol dengan Metode Pengocokan Asam Basa
Senyawa alkaloid yang terdapat dalam ekstrak etanol 80% diisolasi dengan menggunakan metode pengocokan asam basa sampai diperoleh alkaloid kasar.
Cara kerja:
Sebanyak 30 gram ekstrak etanol ditambahkan HCl 2 N hingga pH 2-3, disaring dan filtrat dibasakan dengan NH4OH hingga pH 9-10. Filtrat dikocok dengan 100 ml kloroform dalam corong pisah, lapisan air dan lapisan kloroform dipisahkan. Perlakuan ini dilakukan sebanyak tiga kali. Lapisan kloroform yang diperoleh dikumpulkan dan disaring. Volume kloroform yang diperoleh diuapkan menjadi sepertiganya dengan penguap vakum putar pada suhu tidak lebih dari 40◦C. Ditambahkan HCl 2N sama banyak ke dalam fraksi kloroform, dikocok dalam corong pisah, lalu lapisan asam dan lapisan kloroform dipisahkan. Perlakuan ini dilakukan sebanyak tiga kali. Lapisan asam dikumpulkan dan disaring, kemudian dibasakan dengan NH4OH hingga pH 9-10, dikocok dengan 100 ml kloroform kemudian kedua lapisan dipisahkan. Perlakuan ini dilakukan sebanyak tiga kali, lapisan kloroform dikumpulkan dan diuapkan dengan penguap vakum putar bertekanan rendah sampai didapat ekstrak alkaloid kasar yang kental.
3.9 Analisis Senyawa Alkaloid Hasil Isolasi Secara Kromatografi Lapis Tipis (KLT)
Ekstrak alkaloid kasar diKLT untuk melihat kandungan alkaloidnya dengan menggunakan plat pra lapis tipis silika gel 60 F254 sebagai fase diamnya, fase gerak
digunakan campuran kloroform-metanol-amonia dengan berbagai perbandingan dan penampak bercak larutan Dragendorff.
Cara kerja:
Campuran pengembang di masukkan ke dalam chamber (berbagai perbandingan). Ekstrak alkaloid kasar ditotolkan pada plat pra lapis silika gel 60 F254, setelah kering dimasukkan ke dalam chamber yang telah jenuh dengan uap pengembang dan ditutup rapat. Sesudah pengembangan selesai plat dikeluarkan dari chamber dan dikeringkan di udara, kemudian plat disemprot dengan larutan penampak bercak Dragendorff, warna bercak yang terjadi diamati dan dihitung harga Rf-nya.
3.10 Isolasi Senyawa Alkaloid Secara Kromatografi Lapis Tipis Preparatif
Isolasi senyawa alkaloid dilakukan secara KLT preparatif, sebagai fase gerak digunakan kloroform-metanol-amonia (90:10:1) dan penampak bercak digunakan pereaksi Dragendorff.
Cara kerja:
Ekstrak kasar alkaloid diencerkan dengan kloroform dan ditotolkan pada jarak 2 cm dari tepi bawah plat pra lapis silika gel 60 F254 berukuran 20 x 20 cm yang telah diaktifkan sehingga membentuk pita. Plat dimasukkan ke dalam bejana yang telah jenuh dengan uap fase gerak, pengembang dibiarkan naik. Plat yang selesai dielusi, ditutup dengan kaca yang bersih sedangkan pada sisi kanan dan kiri disemprot dengan pereaksi Dragendorff dan dipanaskan dengan hair dryer. Bercak berwarna merah jingga yang terdapat pada sisi kiri yang dihubungkan pada sisi kanan terhadap isolat yang diperoleh dikerok dan dikumpulkan (Hostettmann,
1995), direndam dengan metanol satu malam dan disaring kemudian pelarutnya diuapkan. Dilakukan uji kemurnian terhadap isolat yang diperoleh.
3.11 Analisis Senyawa Alkaloid Hasil Isolasi Secara Kromatografi Lapis Tipis (KLT) Satu Arah
Hasil isolasi ekstrak alkaloid kasar (isolat) dilakukan KLT satu arah untuk melihat kandungan alkaloidnya menggunakan plat pra lapis silika gel F254 dengan fase gerak yang berbagai macam, yaitu kloroform-metanol-amonia (90:10:1), diklorometan-metanol-amonia (60:35:5) dan kloroform-etil asetat (60:40).
Penampak bercak dipakai pereaksi Dragendorff.
Cara kerja:
Campuran pengembang dimasukkan ke dalam chamber. Isolat ditotolkan pada plat pra lapis silika gel 60 F254, dimasukkan ke dalam chamber yang telah jenuh dengan uap pengembang dan ditutup rapat. Plat setelah pengembangan dikeluarkan dari chamber dan dikeringkan di udara, kemudian disemprot dengan larutan penampak bercak Dragendorff. Warna bercak diamati dan dihitung harga Rf-nya (Sastrohamidjojo, 1985 dan Stahl, 1985).
3.12 Uji Kemurnian Senyawa Alkaloid Hasil Isolasi
Uji kemurnian isolat dengan KLT dua arah menggunakan fase gerak I diklorometan-metanol-amonia (50:50:1) dan fase gerak II kloroform-metanol-amonia (85:15:1). Fase diam plat pra lapis silika gel F254 ukuran 10 x 10 dan penampak bercak digunakan pereaksi Dragendorff.
Cara kerja:
Isolat ditotolkan pada plat, lalu dielusi memakai fase gerak I hingga mencapai batas elusi, plat dikeluarkan dari chamber, dikeringkan. Plat dielusi
kembali dengan arah yang berbeda 90◦ memakai fase gerak II dan disemprot pereaksi Dragendorff, setelah itu plat dikeringkan lalu diamati noda yang terlihat.
3.13 Karakterisasi Isolat
Karakterisasi senyawa hasil isolasi dilakukan dengan spektrofotometri ultra violet dan spektrofotometri infra merah.
3.13.1 Karakterisasi isolat dengan spektrofotometri ultra violet
Karakterisasi isolat dengan spektrofotometri ultra violet dilakukan dengan cara melarutkan zat hasil isolasi dengan metanol kemudian diukur absorbansinya pada panjang gelombang 200-400 nm (Khopkar, 1990).
3.13.2 Karakterisasi isolat dengan spektrofotometri infra merah
Karakterisasi isolat dengan spektrofotometri infra merah dilakukan dengan cara mencampur 1 mg isolat dengan 100 mg kalium bromida menggunakan alat mixture vibrator dan dimasukkan ke dalam alat spektrofotometer infra merah lalu diukur pada bilangan gelombang 4000 - 500 cm-1 (Khopkar, 1990).
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Identifikasi Tanaman
Hasil identifikasi tanaman dilakukan di Herbarium Bogoriense, Bidang Botani Pusat Penelitian Biologi-LIPI Bogor menyebutkan bahwa sampel adalah kulit batang landoyung suku Lauraceae, jenis Litsea cubeba (Lour) Pers. Hasil identifikasi dapat dilihat pada Lampiran 1.
4.2 Hasil Karakterisasi Simplisia 4.2.1 Pemeriksaan makroskopik
Hasil pemeriksaan makroskopik simplisia kulit batang landoyung adalah kulit berbentuk gelondong atau silinder (seperti pipa), menggulung membujur, melengkung atau datar, tebal 0,5 mm-1,5 mm. Permukaan luar kasar tidak beraturan, warna coklat muda sampai hitam kecoklatan. Permukaan dalam rata, warna coklatan sampai hitam kecoklatan.
4.2.2 Pemeriksaan karakteristik serbuk simplisia kulit batang landoyung (SSKBL) dan ekstrak etanol kulit batang landoyung (EEKBL)
Hasil karakteristik SSKBL dan EEKBL dapat dilihat pada Tabel 4.1.
Tabel 4.1 Hasil pemeriksaan karakteristik SSKBL dan EEKBL
No Karakteristik Simplisia Ekstrak
1 Kadar air 5,66% 9,33%
2 Kadar sari larut air 8,00% 26,66%
3 Kadar sari larut etanol 8,33% 29,00%
4 Kadar abu total 2,62% 2,24%
5 Kadar abu tidak larut asam 0,65% 0,47%
Hasil tabel 4.1 menunjukkan karakteristik SSKBL yang diperoleh, terdiri dari kadar air 5,66%, kadar sari larut dalam air 8,00%, kadar sari larut etanol 8,33%, kadar abu total 2,62% dan kadar abu tidak larut asam 0,65%. Kadar air SSKBL yang diperoleh memenuhi persyaratan yang tertera dalam Materia Medika Indonesia (tidak lebih dari 10%) (MMI, 1995). Hasil karakterisasi EEKBL (Ekstrak Etanol Kulit Batang Landoyung) yang diperoleh, terdiri dari kadar air 9,33%, kadar abu total 2,62%, kadar abu tidak larut asam 0,47%, kadar sari larut air 26,66% dan kadar sari larut etanol 29,00%. Kadar air EEKBL yang diperoleh memenuhi persyaratan yang tertera dalam Farmakope Herbal Indonesia (tidak lebih dari 10%) (Depkes RI, 1979).
Penetapan kadar air untuk memberi batasan atau rentang besarnya kandungan air di dalam simplisia, karena tingginya kandungan air dapat mempercepat pertumbuhan jamur (Ditjen POM, 2000). Kadar sari larut air dan etanol merupakan pengujian untuk penetapan jumlah kandungan senyawa yang dapat larut dalam air dan kandungan senyawa yang larut dalam etanol (Ditjen POM, 2000). Penetapan kadar sari larut air untuk mengetahui kadar senyawa yang bersifat polar dalam simplisia dan kadar sari larut etanol untuk mengetahui kadar senyawa yang bersifat polar dan non polar. Senyawa-senyawa yang dapat larut dalam air adalah glikosida, tanin, gula, enzim, zat warna dan asam organik.
Senyawa-senyawa yang larut dalam etanol adalah glikosida, flavonoid, steroid/triterpenoid, karotenoid dan dalam jumlah sedikit yang larut yaitu lemak (Depkes RI, 1986). Penetapan kadar abu untuk mengetahui kandungan mineral internal yang terdapat di dalam simplisia yang diteliti, serta senyawa anorganik yang tersisa selama pembakaran. Kadar abu tidak larut asam untuk menentukan jumlah silika, khususnya pasir yang ada pada simplisia (WHO, 1998).
4.3 Hasil Skrining Fitokimia
Hasil skrining fitokimia dari SSKBL dan EEKBL dilihat pada Tabel 4.2.
Tabel 4.2 Hasil skrining fitokimia SSKBL dan EEKBL
No Pemeriksaan Hasil
Simplisia Ekstrak
Keterangan: (+) positif: mengandung golongan senyawa ; (-) negatif: tidak mengandung golongan senyawa
Hasilnya menunjukkan bahwa SSKBL dan EEKBL mengandung alkaloid, triterpenoid/steroid, flavonoid, glikosida, tanin, dan saponin. Penambahan pereaksi Mayer memberikan hasil berupa endapan putih, pereaksi Dragendorff memberikan hasil berupa endapan kuning jingga dan pereaksi Bouchardat menghasilkan endapan kecoklatan. Ketiga hasil tersebut menunjukkan bahwa SSKBL dan EEKBL mengandung alkaloid. Penambahan pereaksi Molish dan asam sulfat pekat pada SSKBL dan EEKBL membentuk cincin ungu yang menunjukkan adanya glikosida. Penambahan pereaksi Liebermann-Buchard (asam asetat anhidrida dan asam sulfat pekat) pada SSKBL dan EEKBL menghasilkan warna merah keunguan yang menunjukkan adanya triterpenoid/steroid. Penambahan serbuk magnesium, asam klorida pekat dan larutan amil alkohol pada SSKBL dan EEKBL memberikan warna merah pada lapisan amil alkohol yang menunjukkan adanya flavonoid.
Penambahan larutan besi (III) klorida 1% pada SSKBL dan EEKBL memberikan warna biru yang menunjukkan adanya tanin. Senyawa saponin dapat dideteksi dengan pengocokan air panas terhadap SSKBL dan EEKBL yang akan menghasilkan busa dan apabila ditambah dengan asam klorida encer (HCl 2N) maka busa tidak hilang.
4.4 Hasil Pembuatan Ekstrak Etanol Kulit Batang Landoyung (EEKBL) SSKBL diekstraksi dengan cara maserasi menggunakan pelarut etanol 80%
yang telah didestilasi sehingga diharapkan kandungan senyawa kimia yang terdapat pada kulit batang landoyung dapat tersari sempurna. Hasil dari 500 g serbuk simplisia setelah diuapkan dengan rotary evaporator diperoleh ekstrak etanol sebanyak 52,24 g.
4.5 Hasil Pembuatan Ekstrak Alkaloid Kasar (Crude Alkaloid) dari EEKBL Pembuatan EEKBL menggunakan metode pengocokan asam basa.
Penambahan asam pada ekstrak etanol kulit batang landoyung untuk membentuk
Penambahan asam pada ekstrak etanol kulit batang landoyung untuk membentuk