BAHAN DAN METODE
15. Spesies Anadara uropygimelana
Spesies Anadara uropygimelana memiliki bentuk cangkang hampir bulat dengan ukuran 3-4 cm. Permukaan cangkang berwarna putih keruh berselaput lapisan berwarna kecoklatan dan berbulu. Jalur-jalur radial yang terpusat ke arah umbo terlihat jelas. Hidup dengan cara membenamkan diri di pantai-pantai yang berpasir.
Kelimpahan
Berdasarkan hasil pengambilan sampel bivalvia yang telah dilakukan pada ketiga stasiun pengamatan sebanyak 4 kali ulangan dengan interval waktu 2 minggu sekali di Pantai cermin Kabupaten Serdang Bedagai dan di dapatkan hasil kelimpahan pada Tabel 5.
Tabel 5. Jenis dan Nilai Kelimpahan Bivalvia (ind/m²) di Perairan Pantai Cermin, Kabupaten Serdang Bedagai
Spesies Kelimpahan
Stasiun I Stasiun II Stasiun III
Spisula solida 9 27 44 Mactrellona alata 18 - - Mactrellona exolata 4 9 - Mactra ornata - 4 - Donax cuneatus 150 331 247 Donax faba 4 13 18 Paphies subtriangulata 4 9 4 Batissa fortis - - 4 Hiatula diphos 4 - 115 Anadara floridana 40 27 18 Pinctada margaritifera - 4 4 Pinna carnea 13 13 - Modiolus americanus - 4 - Musculus senhousia - - 13 Anadara uropygimelana 4 - - Total Kelimpahan 250 441 467
Jumlah keseluruhan kelimpahan populasi bivalvia pada stasiun I yaitu 250 ind/m² dengan jumlah kelimpahan pada masing-masing spesies yaitu spesies
Spisula solida sebanyak 9 ind/m², spesies Mactrellona alata sebanyak 18 ind/m²,
spesies Mactrellona exolata sebanyak 4 ind/m², spesies Donax cuneatus sebanyak 150 ind/m², spesies Donax faba sebanyak 4 ind/m², spesies Paphies
subtriangulata sebanyak 4 ind/m², spesies Hiatula diphos sebanyak 4 ind/m²,
spesies Anadara floridana sebanyak 40 ind/m², spesies Pinna carnea sebanyak 13 ind/m², spesies Anadara uropygimelana sebanyak 4 ind/m². Hasil studi terhadap kelimpahan populasi bivalvia (ind/m2) pada stasiun I di perairan Pantai Cermin disajikan pada Gambar 12.
Gambar 12. Kelimpahan Stasiun I
Jumlah keselurahan kelimpahan populasi bivalvia pada stasiun II yaitu 441 ind/m² dengan jumlah kelimpahan pada masing-masing spesies yaitu untuk spesies Spisula solida sebanyak 27 ind/m², spesies Mactrellona exolata sebanyak 9 ind/m², spesies Mactra ornata sebanyak 4 ind/m², spesies Donax cuneatus sebanyak 331 ind/m², spesies Donax faba sebanyak 13 ind/m², spesies Paphies
subtriangulata sebanyak 9 ind/m², spesies Anadara floridana sebanyak 27 ind/m²,
spesies Pinctada margaritifera sebanyak 4 ind/m², spesies Pinna carnea sebanyak 13 ind/m², spesies Modiolus americanus sebanyak 4 ind/m². Hasil studi terhadap kelimpahan populasi bivalvia (ind/m2) pada stasiun II di perairan Pantai Cermin disajikan pada Gambar 13.
9 18 4 150 4 4 4 40 13 4 0 20 40 60 80 100 120 140 160 Ke limp a h a n (in d /m² ) Spesies
Gambar 13. Kelimpahan Stasiun II
Jumlah keseluruhan kelimpahan populasi bivalvia pada stasiun III yaitu sebanyak 467 ind/m² dengan jumlah kelimpahan pada masing-masing spesies yaitu spesies Spisula solida sebanyak 44 ind/m², spesies Donax cuneatus 247 ind/m², spesies Donax faba sebanyak 18 ind/m², spesies Paphies subtriangulata sebanyak 4 ind/m², spesies Batissa fortis sebanyak 4 ind/m², spesies Hiatula
diphos sebanyak 115 ind/m², spesies Anadara floridana sebanyak 18 ind/m²,
spesies Pincatada margaritifera sebanyak 4 ind/m², spesies Musculus senhousia sebanyak 13 ind/m². Hasil studi terhadap kelimpahan populasi bivalvia (ind/m2) pada stasiun III di perairan Pantai Cermin disajikan pada Gambar 14.
27 9 4 331 13 9 27 4 13 4 0 50 100 150 200 250 300 350 Ke limp a h a n (in d /m² ) Spesies
Gambar 14. Kelimpahan Stasiun III
Indeks Keanekaragaman Jenis, Indeks Keseragaman, Indeks Dominansi
Indeks keanekaragaman jenis, indeks keseragaman, dan indeks dominansi pada ketiga stasiun pengamatan dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6. Indeks Keanekaragaman Jenis, Indeks Keseragaman dan Indeks Dominansi
Indeks Stasiun I Stasiun II Stasiun III
Indeks Keanekaragaman Jenis (H’) 1,22 0,85 1,14 Indeks Keseragaman (E) 0,30 0,18 0,24 Indeks Dominansi (D) 0,39 0,57 0,35 44 247 18 4 4 115 18 4 13 0 50 100 150 200 250 300 Ke limp a h a n (in d /m² ) Spesies
a. Indeks Keanekaragaman Jenis
Indeks keanekaragaman Jenis (H’) pada stasiun pengamatan berkisar antara 0,85 – 1,22. Indeks keanekaragaman tertinggi terdapat pada stasiun I sebesar 1,22 kemudian diikuti oleh stasiun III sebesar 1,14 dan indeks keanekaragaman terendah terdapat pada stasiun II sebesar 0,85. Dapat dilihat pada Gambar 15.
Gambar 15. Indeks Keanekaragaman Jenis (H’)
b. Indeks Keseragaman
Indeks keseragaman (E) pada stasiun pengamatan berkisar antara 0,18 – 0,30. Indeks keseragaman tertinggi terdapat pada stasiun I sebesar 0,30 kemudian diikuti pada stasiun III sebesar 0,24 dan indeks keseragaman terendah terdapat pada stasiun II sebesar 0,18. Dapat dilihat pada Gambar 16.
1.22 0,85 1,14 0 0,2 0,4 0,6 0,8 1 1,2 1,4
Stasiun I Stasiun II Stasiun III
In d e k s K e an e k ar agaman (H ') Stasiun Pengamatan
Gambar 16. Indeks Keseragaman (E)
c. Indeks Dominansi
Indeks dominansi (D) pada stasiun pengamatan berkisar antara 0,35 – 0,57. Indeks dominansi tertinggi terdapat pada stasiun II sebesar 0,57 kemudian diikuti oleh stasiun I sebesar 0,39 dan indeks dominansi terendah terdapat pada stasiun III sebesar 0,35. Dapat dilihat pada Gambar 17.
0,3 0,18 0,24 0 0,05 0,1 0,15 0,2 0,25 0,3 0,35
Stasiun I Stasiun II Stasiun III
In d ek s K esera g a m a n (E ) Stasiun Pengamatan 0,39 0,57 0,35 0 0,1 0,2 0,3 0,4 0,5 0,6
Stasiun I Stasiun II Stasiun III
Inde k s D o m ina ns i (D ) Stasiun Pengamatan
Pembahasan
Parameter Fisika dan Kimia Perairan
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa suhu air pada ketiga stasiun penelitian berkisar 29ºC – 34ºC, dengan suhu tertinggi pada stasiun III (kawasan aliran muara) sebesar 34ºC dan terendah pada stasiun I (kawasan pariwisata) sebesar 29ºC. Perbedaan suhu ini disebabkan oleh kondisi cuaca pada saat pengamatan, pada stasiun I pengukuran suhu dilakukan terlebih dahulu pada waktu pagi hari, dimana intensitas cahaya matahari yang diterima oleh perairan sedikit sehingga nilai rata-rata suhu pada stasiun tersebut relatif lebih rendah dibandingkan stasiun lain. Suhu yang diperoleh pada stasiun III (kawasan aliran muara) dari hasil pengukuran lebih tinggi dari pada stasiun lainnya, hal ini dipengaruhi oleh waktu pengamatan. Dimana pada saat pengambilan data pada stasiun III dilakukan pada siang hari, sehingga intensitas cahaya matahari yang diterima oleh perairan di daerah tersebut lebih besar. Menurut Odum (1994) menyatakan bahwa suhu ekosistem akuatik dipengaruhi oleh intensitas matahari, ketinggian geografis dan faktor kanopi (penutupan vegetasi) dari pepohonan yang tumbuh di sekitarnya. Suhu pada ketiga stasiun penelitian tersebut masih dapat mendukung bagi kehidupan bivalvia pada perairan tersebut. Hal ini sesuai dengan pendapat Eltringham (1971) diacu oleh Risawati (2002) menyatakan bahwa secara umum organisme moluska dapat mentolerir suhu antara 0ºC – 48,6ºC dan aktif pada kisaran 5ºC - 38ºC.
Nilai salinitas perairan pada hasil pengamatan berada pada kisaran 31- 32‰. Kisaran salinitas antar stasiun pengamatan tidak memiliki perbedaan yang besar. Kisaran salinitas yang relatif sama antar stasiun disebabkan karena
stasiun-stasiun ini selalu mendapatkan pasokan air laut setiap harinya. Menurut Nontji (2007) sebaran salinitas di laut dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti pola sirkulasi air, penguapan, curah hujan, aliran sungai. Gerakan pasang surut menyebabkan terjadinya pengadukan pada kolam air sehingga terjadi pertukaran air secara vertikal. Karena berada di bawah kendali pasang-surut maka salinitas di semua titik dapat berubah, bergantung pada kedudukan pasang-surut. Pada saat surut, salinitas didominasi oleh air tawar yang datang dari sungai sedangkan pada saat pasang, masuknya air lautlah yang banyak menentukan salinitas. Nilai salinitas yang terdapat pada ketiga stasiun pengamatan termasuk dalam kondisi yang mendukung kehidupan bivalvia sesuai dengan Ritniasih (2007) bahwa kisaran salinitas 5-35‰ merupakan kondisi yang optimal bagi kelangsungan hidup bivalvia.
Kisaran pH yang diukur pada stasiun pengamatan antara 7,4 – 8,5. Nilai pH yang didapatkan pada masing-masing stasiun penelitian berbeda. Hal ini disebabkan adanya perbedaan aktivitas, seperti aktivitas nelayan, pertambakan, dan aktivitas pariwisata yang mengakibatkan perubahan bahan organik pada setiap stasiun. Menurut Odum (1994) Perairan dengan pH yang terlalu tinggi atau rendah akan mempengaruhi ketahanan hidup organisme yang hidup didalamnya. Dari hasil pengamatan nilai pH yang didapatkan dari ketiga stasiun tersebut dapat dikatakan bahwa pH perairan masih mendukung kehidupan organisme laut termasuk bivalvia hal ini sesuai dengan Effendi (2003) sebagian besar biota akuatik sensitif terhadap perubahan pH dan menyukai nilai pH sekitar 7 – 8,5.
Kisaran kandungan oksigen terlarut pada ketiga stasiun penelitian adalah antara 3,0 mg/l – 4,9 mg/l. Nilai tertinggi terdapat pada stasiun I (kawasan
pariwisata) sebesar 4,9 mg/l, hal ini disebabkan karena pada stasiun I pengamatan dilakukan pada pagi hari dengan suhu terendah dibandingkan dengan stasiun II dan stasiun III yang dilakukan pengamatan pada siang hari. Selain itu stasiun I tidak terlalu banyak kegiatan manusia yang mempengaruhi ekosistem perairan, di sebabkan stasiun I (kawasan pariwisata) tersebut hanya aktif digunakan pada hari-hari tertentu sehingga tidak terlalu banyak limbah yang masuk ke badan air sesuai dengan Effendi (2003) bahwa semakin besar suhu dan ketinggian (altitude) serta semakin kecil tekanan atmosfer, kadar oksigen terlarut semakin kecil. Selain itu kadar oksigen terlarut juga berfluktasi secara harian (diurnal) dan musiman, tergantung pada pencampuran (mixing) dan pergerakan (turbu lence) massa air, aktivitas fotosintesis, respirasi dan limbah (effluent) yang masuk ke badan air. Oksigen terlarut terendah terdapat pada stasiun II (kawasan aliran pembuangan limbah tambak udang) hal ini disebabkan karena adanya aktivitas tambak udang di sekitar kawasan pantai yang langsung membuang limbahnya ke perairan dan adanya aktivitas nelayan. Hasil dari pembuangan limbah disekitar stasiun II memperkaya bahan organik sesuai dengan Connell and Miller (2006) jika sedimen di dasar diperkaya oleh bahan organik maka air di dasar tersebut dapat menjadi kurang akan oksigen terlarut. Akibat dari pembuangan limbah pembenihan udang tersebut menyebabkan terganggunya ekosistem organisme di kawasan tersebut, sehingga terdapatnya beberapa ikan, udang, ubur-ubur serta organisme lainnya yang mati hal ini sesuai dengan Dahuri (2008) kegiatan tambak seperti aplikasi pupuk dan obat pemberantas hama dapat menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan perairan sekitarnya. Menurut Effendi (2003) kadar oksigen terlarut 1,0 mg/liter – 5,0 mg/liter ikan dapat bertahan hidup tetapi
pertumbuhannya ikan terganggu sedangkan pada kadar oksigen terlarut >5 mg/l hampir semua organisme akuatik menyukai kondisi ini termasuk bivalvia.
Total Padatan Tersuspensi (Total Suspended Solid atau TSS) pada ketiga stasiun penelitian berkisar antara 26,82 mg/liter – 30,72 mg/liter, dengan kadar
tertinggi terdapat pada stasiun II (kawasan aliran pembuangan limbah tambak udang) sebesar 30,72 mg/liter dan terendah pada stasiun III (kawasan
aliran muara) sebesar 26,82 mg/liter. Rendahnya Total Suspended Solid pada stasiun III ini disebabkan stasiun ini merupakan aliran muara pantai yang mengalirkan limbah senyawa organik maupun anorganik yang berasal dari berbagai aktivitas masyarakat yang berpengaruh terhadap perkembangan organisme perairan. Nilai total padatan tersuspensi (TSS) pada stasiun penelitian lebih besar dari nilai baku mutu yang telah ditetapkan sesuai dengan KEPMEN LH No. 51 (2004) tentang baku mutu air laut untuk biota laut nilai total padatan tersuspensi yang sesuai untuk biota laut yaitu 20 mg/l. Menurut Effendi (2003) kesesuaian perairan untuk kepentingan perikananan berdasarkan nilai padatan tersuspensi (TSS) adalah jika nilai padatan tersuspensi (TSS) 25 – 80 mg/liter maka sedikit berpengaruh terhadap kepentingan perikanan yang artinya sedikit berpengaruh terhadap kehidupan organisme perairan. Pada hasil pengamatan ini diperoleh hasil diatas nilai 25 mg/l yang artinya nilai TSS tersebut sudah berpengaruh terhadap kehidupan organisme di perairan Pantai Cermin walaupun masuk dalam kriteria sedikit berpengaruh. Makrozoobentos termasuk bivalvia kurang toleran dengan padatan tersuspensi hal ini sesuai dengan Harteman (2011) bahwa makrozoobentos kurang adaptif dan toleran terhadap endapan padatan tersuspensi. Kandungan total padatan tersuspensi yang tinggi dapat menyebabkan
insang makrozoobentos tersumbat dan mengganggu pandangan makrozoobentos dalam mencari makan.
Substrat yang diamati pada saat pengamatan yaitu kandungan yang dominan pada substrat di Pantai Cermin Kabupaten Serdang Bedagai adalah pasir. Tipe substrat pada stasiun I adalah pasir berlumpur dan jika dilihat kelimpahan bivalvia pada stasiun I lebih rendah di bandingkan stasiun II dan III yang memiliki substrat pasir hal ini disebabkan substrat pasir berlumpur tersebut sedikit mengandung oksigen hal ini sesuai dengan Odum (1994) substrat berupa lumpur biasanya mengandung sedikit oksigen, oleh karena itu organisme yang hidup didalamnya harus dapat beradaptasi pada keadaan ini. Tipe substrat pada stasiun II dan stasiun III adalah pasir, pada stasiun ini kelimpahan bivalvia lebih tinggi dibandingkan stasiun I yang memiliki substrat pasir berlumpur hal ini disebabkan bivalvia lebih senang hidup di pasir karena memudahkan untuk bergeser dan bergerak ketempat lain serta substrat berpasir mengandung lebih banyak oksigen dibandingkan substrat berlumpur. Substrat yang terdapat pada ketiga stasiun pengamatan tersebut merupakan substrat yang baik untuk kehidupan oleh bivalvia sesuai dengan Junaidi (2010) kebanyakan bivalvia umumnya terdapat di daerah perairan yang berlumpur atau berpasir.
Indeks Pencemaran
Indeks pencemaran yang diperoleh berkisar 1,23 – 1,61. Indeks pencemaran pada stasiun I yaitu sebesar 1,28, indeks pencemaran pada stasiun II yaitu sebesar 1,61 dan indeks pencemaran pada stasiun III yaitu sebesar 1,23. Menurut KEPMEN LH No. 115 (2003) Tentang Pedoman Penentuan Status Mutu
air evaluasi terhadap nilai indeks pencemaran jika nilai indeks pencemaran lebih besar dari 1,0 dan lebih kecil dari 5,0 maka tergolong tercemar ringan. Dengan kondisi yang demikian maka kehidupan organisme yang hidup di Perairan Pantai Cermin akan terganggu serta kegiatan perikanan juga berisiko. Hal ini terjadi karena adanya berbagai aktivitas-aktivitas masyarakat di sekitar perairan Pantai Cermin seperti aktivitas pariwisata, aktivitas industri, aktivitas nelayan dan lain sebagainya yang dapat merusak ekosistem serta kualitas perairan sesuai dengan Delgado diacu oleh Agustina, dkk (2012) aktivitas industri, limbah perkotaan di sepanjang perairan dapat memberikan dampak buruk terhadap perairan tersebut yang ditandai dengan masuknya sejumlah beban pencemar termasuk logam berat ke dalam lingkungan perairan yang menyebabkan terganggunya ekosistem dan degradasi lingkungan.
Kelimpahan
Berdasarkan data jenis dan jumlah bivalvia yang didapatkan pada masing-masing stasiun penelitian didapatkan jumlah kelimpahan terbanyak terdapat pada spesies Donax cuneatus dengan nilai kelimpahan pada stasiun I sebanyak 150 ind/m2, stasiun II sebanyak 331 ind/m2 dan stasiun III sebanyak 247 ind/m2. Total kelimpahan pada masing-masing stasiun, untuk stasiun I sebanyak 250 ind/m², stasiun II sebanyak 441 ind/m² dan total kelimpahan tertinggi pada stasiun III sebanyak 467 ind/m2 hal ini disebabkan lokasi pengamatan pada stasiun III merupakan kawasan aliran muara pantai mengalirkan limbah senyawa organik maupun anorganik yang berasal dari berbagai aktivitas masyarakat yang berpengaruh terhadap perkembangan organisme perairan, bagi kehidupan ikan
tidak toleran karena banyak terdapat ikan yang mati sedangkan untuk kehidupan bivalvia masih toleran karena bivalvia merupakan jenis bentos yang toleran terhadap pencemar. Selain itu bivalvia lebih optimal hidup di perairan yang memiliki kandungan bahan organik yang tinggi menurut Ritniasih (2007) tingginya nilai kelimpahan didukung oleh persentase kandungan bahan organik di perairan.
Indeks Keanekaragaman Jenis, Indeks Keseragaman dan Indeks Dominansi
Berdasarkan hasil perhitungan nilai indeks keanakeragaman jenis, indeks keseragaman dan indeks dominansi pada masing-masing stasiun pengamatan. Indeks keanekaragaman bivalvia berkisar antara 0,85 – 1,22. Indeks keanekaragaman terendah terdapat pada stasiun II yaitu sebesar 0,85 jika dilihat dari tingkat pencemaran pada stasiun II tersebut yaitu cenderung lebih tinggi di bandingkan stasiun I dan III karena pada stasiun II terdapat banyak kegiatan manusia yang mempengaruhi kualitas air seperti aktivitas nelayan serta pembuangan limbah dari pembenihan udang sehingga pasokan pencemar yang masuk ke perairan lebih tinggi maka dari itu indeks keanekaragaman pada stasiun II lebih rendah di bandingankan stasiun lainnya. Kemudian diikuti indeks keanekaragaman pada stasiun III sebesar yaitu 1,22 jika dilihat dari tingkat pencemaran pada stasiun III yaitu cenderung rendah karena sedikitnya kegiatan manusia yang dapat mempengaruhi kualitas air pada stasiun tersebut sehingga pasokan pencemar yang masuk ke perairan lebih sedikit maka dari itu indeks keanekaragaman lebih tinggi dibandingkan stasiun II dan indeks keanekaragaman tertinggi terdapat pada stasiun I yaitu sebesar 1,14 jika dilihat dari tingkat
pencemaran pada stasiun I tersebut yaitu cenderung lebih rendah dibandingkan stasiun I dan II hal ini disebabkan pada stasiun ini kegiatan manusia yang dapat mempengaruhi kualitas air lebih sedikit maka dari itu indeks keanekaragaman pada stasiun I lebih tinggi dibandingkan stasiun lainnya. Menurut Astuti (2009) nilai keanekaragaman kurang dari 3,32 berarti jumlah spesies yang menempati daerah tersebut tidak banyak. Indeks keanekaragaman yang rendah dipengaruhi oleh kondisi perairan hal ini sesuai dengan Yuniarti (2012) keanekaragaman rendah karena ekosistem mengalami tekanan atau kondisinya menurun akibat
adanya gangguan-gangguan secara alami maupun aktivitas manusia. Indeks keseragaman bivalvia yang diperoleh berkisar antara 0,18 – 0,30
indeks keseragaman terendah terdapat pada stasiun II yaitu sebesar 0,18 jika dilihat dari tingkat pencemaran pada stasiun II yaitu cenderung lebih tinggi karena pada stasiun II terdapat banyak kegiatan manusia yang mempengaruhi kualitas air di stasiun tersebut seperti aktivitas nelayan serta pembuangan limbah dari tambak udang sehingga pasokan pencemar yang masuk ke perairan lebih tinggi maka dari itu indeks keseragaman pada stasiun II rendah dibandingankan dengan stasiun I dan II. Kemudian diikuti indeks keseragaman pada stasiun III yaitu sebesar 0,24 jika dilihat dari tingkat pencemaran pada stasiun III yaitu cenderung lebih rendah karena sedikitnya kegiatan manusia yang dapat mempengaruhi kualitas air pada stasiun tersebut maka dari itu indeks keseragamanan cenderung lebih tinggi dan indeks keseragaman tertinggi terdapat pada stasiun I yaitu sebesar 0,30 jika dilihat dari tingkat pencemaran pada stasiun I yaitu cenderung lebih rendah dibandingkan stasiun II dan III hal ini disebabkan pada stasiun ini kegiatan manusia yang dapat mempengaruhi kualitas air lebih sedikit sehingga pasokan
pencemar yang masuk ke perairan lebih sedikit maka dari itu indeks keseragaman pada stasiun I lebih tinggi dibandingkan stasiun lain. Ketidakseragaman yang terjadi pada masing-masing stasiun disebabkan penyebaran individu tiap spesies tidak sama dan dalam ekosistem perairan tersebut adanya ketidakstabilan faktor-faktor lingkungan hal ini sesuai dengan Astuti (2009) bahwa semakin kecil nilai keseragaman mengindikasikan adanya jenis tidak merata. Menurut Dewiyanti (2004) tidak meratanya jumlah individu untuk setiap spesies berhubungan dengan pola adaptasi masing-masing spesies, seperti tersedianya berbagai tipe substrat yakni substrat yang terdiri dari lumpur dan pasir dengan sedikit liat merupakan substrat yang disenangi oleh bivalvia serta makanan dan kondisi lingkungan.
Indeks dominansi bivalvia yang diperoleh berkisar antara 0,35 – 0,57. Indeks dominansi digunakan untuk mengetahui ada atau tidak adanya spesies tertentu yang mendominansi pada suatu ekosistem. Indeks dominansi terendah terdapat pada stasiun III yaitu sebesar 0,35 jika dilihat dari tingkat pencemaran pada stasiun III yaitu cenderung lebih rendah karena pada stasiun ini tidak banyak kegiatan manusia yang mempengaruhi kualitas air tetapi dominansi bivalvia juga lebih rendah dibandingkan stasiun I dan II. Kemudian diikuti indeks dominansi pada stasiun I yaitu sebesar 0,39 jika dilihat dari tingkat pencemaran pada stasiun I yaitu cenderung rendah karena pada stasiun ini juga sedikit kegiatan manusia yang dapat mempengaruhi kualitas air tetapi dominansi bivalvia juga rendah jika di bandingkan stasiun II dan indeks dominansi tertinggi terdapat pada stasiun II yaitu sebesar 0,57 jika dilihat dari tingkat pencemaran pada stasiun II yaitucenderung lebih tinggi dibandingkan stasiun II dan III hal ini disebabkan pada stasiun ini terdapat kegiatan manusia yang dapat mempengaruhi kualitas air
lebih sedikit sehingga pasokan pencemar yang masuk ke perairan lebih banyak tetapi indeks dominasi bivalvia lebih tinggi dibandingan stasiun lainnya. Dari ketiga stasiun tersebut didapatkan satu spesies yang lebih mendominansi dari spesies lainnya yaitu spesies Donax cuneatus. Menurut Astuti (2009) adanya dominansi menunjukkan kondisi lingkungan di wilayah tersebut sangat menguntungkan dalam mendukung pertumbuhan populasi. Jika nilai indeks dominansi dibandingkan dengan nilai indeks keseragaman maka dapat dilihat bahwa nilai dominansi yang tinggi berbanding terbalik dengan nilai indeks keseragaman yang rendah dan sebaliknya jika nilai indeks keseragaman rendah berbanding terbalik dengan nilai indeks dominansi yang tinggi, hal ini sesuai dengan Odum (1971) diacu oleh Dewiyanti (2004) bahwa apabila indeks dominansi mendekati 1, berarti ada salah satu genera yang mendominansi dan nilai keseragaman semakin kecil.
Rekomendasi Pengelolaan
Berdasarkan pengamatan pada masing-masing stasiun, jika dilihat dari total kelimpahan pada stasiun I (kawasan pariwisata) hasilnya lebih rendah dari stasiun II dan III yaitu sebanyak 250 ind/m² maka untuk rekomendasi pengelolaan harus lebih memperhatikan ekosistem dan menjaga sumberdaya perairan yang ada dengan tidak membuang limbah cair maupun padat seperti sampah-sampah plastik ke perairan dan melakukan monitoring kepada pengunjung kawasan pariwisata tersebut. Hal ini disebabkan karena sebagian dari limbah cair maupun padat tidak dapat diuraikan dan dapat mengganggu perkembangbiakan bivalvia yang sepanjang hidupnya dihabiskan di dalam substrat. Tinggi dan rendahnya
kelimpahan spesies berpengaruh terhadap substrat perairan sesuai dengan Patang (2011) rendahnya kelimpahan makrozoobentos disebabkan oleh kondisi substrat dan faktor fisika dan kimia air yang tidak optimal bagi kehidupan makrozoobentos.
Pada stasiun II (kawasan aliran pembuangan limbah tambak udang) jika dilihat dari total kelimpahan pada stasiun II hasilnya lebih tinggi dari stasiun I tetapi lebih rendah dari stasiun III yaitu sebanyak 441 ind/m² maka untuk rekomendasi pengelolaan harus menjagai kelestarian ekosistem dan sumberdaya perairan tersebut agar kelimpahan bivalvia stabil bahkan meningkat. Faktor lingkungan sangat berpengaruh terhadap kelimpahan spesies hal ini sesuai dengan Budhiarto, dkk (2012) kelimpahan dipengaruhi oleh faktor lingkungan yang memberikan pengaruh yang dominan terhadap organisme akuatik (kerang).
Pada stasiun III (kawasan aliran muara) jika dilihat dari total kelimpahan pada stasiun III hasilnya lebih tinggi dari stasiun I dan II yaitu sebanyak 467 ind/m² maka untuk rekomendasi pengelolaan sama halnya dengan stasiun II yakni harus tetap menjaga kelestarian ekosistem dan sumberdaya perairan tersebut serta menjaga bahan-bahan organik yang ada di perairan tetap bahkan meningkat agar kelimpahan bivalvia juga meningkat. Selain kondisi substrat kelimpahan bivalvia juga dipengaruhi oleh bahan organik yang tinggi hal ini sesuai dengan Ritniasih (2007) tingginya nilai kelimpahan didukung oleh tingginya persentase kandungan bahan organik.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1. Bivalvia yang diperoleh terdiri atas 15 spesies yaitu Spisula solida,