• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III SPESIFIKASI ALAT

3.6 Spesifikasi Alat di Unit Bagging

1. Silo Homogenisasi (6-H-101- A/B)

Fungsi : menghomogenkan pellet yang hasilkan unit additive And pelletizing (APU) sesuai dengan gradenya.

Jumlah : 2 buah

Buatan : Japan

Tahun : 1991

Tipe : vertical

Bahan : stainlees steel

Dimensi : Tinggi : 22.370 mm Diameter : 5800 mm Kondisi Operasi : Temperatur : 60 0C Tekanan : atmosfer Kapasitas : 426 m3 2. Silo Transisi (6-H-102)

Fungsi : penyimpanan sementara sebelum di transfer ke bagging silo

Jumlah : 1 buah

Buatan : Japan

Tahun : 1991

Tipe : vertikal

Bahan : stainlees steel

Dimensi : Tinggi : 21.250 mm Diameter : 5200 mm Kondisi Operasi : Temperatur : 60 0C Tekanan : atmosfer Kapasitas :426 m3

3. Bagging Silo (6-H-103 A/B)

Fungsi : menampung polyethilene sebelum masuk ke bagging machine

Jumlah : 2 buah

Buatan : Japan

Tahun : 1991

Tipe : vetikel

Dimensi : Tinggi : 21.160 mm Diameter : 5200 mm Kondisi Operasi : Temperatur : 60 0C Tekanan : atmosfer Kapasitas : 426 m3 BAB IV

UTILITAS DAN PENGOLAHAN LIMBAH 4.1 Utilitas

PT. Lotte Chemical Titan Nusantara memiliki Area 1 yang meliputi unit utilitas. Unit utilitas dibagi menjadi dua yaitu Internal Battery Limits (IBL) dan core common. Unit utilitas merupakan unit yang menunjang kelangsungan proses di dalam suatu pabrik. IBL menyuplai kebutuhan pokok dari suatu proses seperti listrik, air, bahan baku dan lainnya. Sedangkan core common merupakan unit pembuatan katalis dan pemurnian bahan baku.

4.1.1 Internal Battery Limits Internal Battery Limits terdiri dari:

1. Jetty

Jetty adalah pelabuhan kecil di pabrik yang sering dipergunakan untuk bersandarnya kapal yang membawa bahan baku seperti ethylene dan 1-butene. Jetty PT. Lotte Chemical Titan Nusantara dilengkapi beberapa fasilitas, yaitu : a. Loading Arm adalah suatu sarana untuk mengambil muatan dari kapal ke PT.

Lotte Chemical Titan Nusantara dengan menghubungkan loading arm ke ship manifold. Loading arm ini digerakkan oleh dua buah pompa hidrolik.

b. Dua unit fire monitor yang berfungsi untuk memadamkan tangki-tangki kapal jika keadaan darurat.

c. Dua unit mooring dolphin yang dilengkapi quick release hook dan electric motor capstan yang berfungsi untuk menambatkan tali kapal.

d. Breasting dolphin yang berfungsi sebagai tempat merapatnya kapal. e. Jetty head control cabin, sebagai pusat pengontrolan selama off loading.

d. Approach way spray water system adalah jembatan yang menghubungkan kapal dan daratan untuk mengevakuasi pada saat darurat.

Laju alir pemindahan ethylene dari kapal adalah 350 ton/jam, sedangkan untuk 1-butene 145 ton/jam dengan tekanan maksimal 6 barg.

2. Sea Water Intake (SWI)

Sea water intake adalah unit yang akan menyuplai air laut untuk memenuhi kebutuhan beberapa proses, diantaranya:

a. Media pendingin Cooling Water Return (CWR) pada Treated Cooling Water (TCW)

b. Untuk air pemadam (fire water)

c. Cooling Down Ethylene Storage Tank pada saat keadaan darurat d. Sebagai spray water traveling screen.

Proses pada unit ini dimulai dengan air laut masuk ke area SWI melalui suction yang terletak 300-400 m dari pantai untuk mencegah pasir masuk dalam suction, sebelum dipompa masuk ke dalam area pengolahan air laut disaring terlebih dahulu dengan Bar Screen (7-S-101) untuk menghilangkan sampah dengan ukuran >10 cm. Kemudian dilanjutkan Travelling Screen (7-S-102) untuk menyaring sampah yang lolos dari Bar Screen. Untuk menghilangkan sampah di Travelling Screen menggunakan menggunakan prinsip back wash.

Air laut yang telah disaring di pompa oleh Sea Water Pump (7-P-101) yang didesain vertikal dengan kapasitas laju alir 8000 – 10.000 m3/jam. Ada 2 buah pompa centrifugal lift pump yang tersedia tapi hanya satu yang dioperasikan sementara yang satu stand by. Air laut sebelum masuk ke Sea Water Intake System

diinjeksikan dengan Sodium Hipoclorid (NaOCl) sebanyak 3 ppm dengan flow sekitar 10 m3/ jam dengan untuk mencegah pertumbuhan mikroorganisme dalam Sea Water Intake Line. Air Laut kemudian digunakan sebagai pendingin TCW di Plate Heat Exchanger (8-E-101) dan umpan pada Unit desalinasi yang selanjutnya digunakan sebagai umpan boiler dan sebagian lagi untuk make up di TCW tank. Bagian-bagian pelengkap dari SWI meliputi :

1. Stop log, sebagai penahan ombak

2. Bar screen, sebagai penyaring sampah-sampah yang berukuran besar

3. Traveling screen, sebagai penahan sampah yang tidak tersaring di Bar screen dan mengeluarkannya dengan bantuan pompa (7-P-102 A / B)

4. Suction chamber, sebagai tempat penyedia air suction pompa

3. Unit Penyimpanan Ethylene (Ethylene Storage Unit)

Ethylene cair yang dialirkan dari kapal, disimpan di ethylene storage unit (7-T-350) dengan kondisi temperatur -1030C dan tekanan 40 – 80 mbarg dan kapasitas dari tangki penyimpan ini adalah 12.000 ton. Tangki penyimpan ini dilengkapi dengan fasilitas fire water spray yang berfungsi untuk mendinginkan tangki tersebut bila terjadi kebakaran dan ethylene vaporizer (7-E-350) yang berfungsi untuk merubah fasa ethylene menjadi gas yang siap dipindahkan ke area proses. Tekanan dalam tangki ethylene selalu mengalami fluktuasi, hal ini disebabkan oleh temperatur udara luar, aliran minimum dari jetty, dan gesekan pompa ethylene.

Untuk mengatasi fluktuasi tersebut, maka pada tangki diberikan fasilitas Boil off Gas Compressor

4. Butene Sphere

Tangki tempat menyimpan 1-butena ini berbentuk bulat. Di dalam butene sphere (7-T-240), 1-butena mempunyai temperatur 300C dengan tekanan 1-1,5 barg. Butene sphere ini di lengkapi dua buah pompa untuk memindahkan 1-butena ke area proses. Butene storage pump (7-P-240A/B) dilengkapi cooler dengan

tujuan mendinginkan temperatur 1-butena. Tangki ini di lengkapi dengan pipa– pipa fire water dan bagian luar tangki di selimuti oleh fire protection.

5. Boil off Gas Compressor

BOG berfungsi untuk menstabilkan tekanan di dalam tangki ethylene. BOG kompresor terdiri dari dua buah, yaitu:

1. BOG liquifier / BOG recovery compressor yang berfungsi untuk merubah ethylene uap menjadi ethylene cair untuk dikembalikan ke dalam ethylene storage tank (7-T-350). Keberadaan ethylene uap di dalam tangki sangat dibutuhkan sebagai penyeimbang tekanan tangki.

2. BOG feed compressor yang di gunakan apabila ada penarikan ethylene dari train dan pompa ethylene tidak mampu melayani penarikan ethylene dari train dengan menggunakan evaporasi 7-E-350 dan 7-C-352.

6. Treated Cooling Water (TCW)

TCW adalah unit untuk mendinginkan kembali cooling water return yaitu air pendingin yang telah dipakai dalam proses. Fungsi air pendingin adalah sebagai pendingin pada sistem di plant.

Air laut setelah melewati sea water intake dipompa oleh Sea Water Pump (7-P-101) disaring oleh Sea Water Filter (7-S-101) dan Sea Water Basket Filter (8-S-110) untuk menyaring partikel kecil yang terikut dari air laut. Air laut yang telah disaring dimasukkan ke Plate Heat Exchanger (8-E-101 A-E) bersama dengan Cooling Water Return dari proses. Tekanan dari TCW dijaga 1,2 bar dengan laju alir 2400 m3/jam per unit.

Dari Plate Heat Exchanger (8-E- 101 A - E) air kemudian disimpan di Cooling Water Storage Tank (8-T-101) dengan kapasitas 4400 m3. Namun sebelum air dimasukkan ke Cooling Water Storage Tank ditambahkan bahan kimia NALCO untuk mengontrol kualitas dair sistem Circuit Coling Water dan mencegah pembentukan scale, corosi dan fouling serta pertumbuhan mikroba dalam CW system. PT. Lotte Chemical Titan Nusantara mengunakan produk dari NALCO untuk Chemical Treatment. Chemical Treatment yang digunakan yaitu : N-90 = melindungi TCW line dari korosi .

Cooling Water Storage Tank Treated Cooling Water Cooler Treated Cooling Water Pump

Cooling Water Supply

Cooling Water Sea Water 420C

340C

390C 310C N-7330 = untuk mencegah pertumbuhan bakteri.

N-8330 = diinjeksikan untuk mengontrol Fe yang terkandung dalam TCW line. Tabel 4.1 Spesifikasi Cooling Water

Parameter Range

pH air 8-9

Corrosiom inhibitor residual (NO2) 650-750 ppm

Turbidimeter < 5 NTU

Total Bakteri 103 koloni/m3

Total Fe < 1 ppm

Sumber : Material Training PT Lotte Chemical Titan Nusantara 1998 Untuk mensirkulasi cooling water sebagai TCW Supply menggunakan TCW Pump (8-P-101). Kebutuhan untuk mendinginkan gas Cooler Primary (E-400) dan Final Cooler (E-401) sekitar 60 % dari total TCW dalam kondisi normal dan 70 % dalam keadaan darurat air yang keluar dari TCW mempunyai TCW header pressure 5,5-6,5 barg, TCW laju alir 8000-10.000 m3/jam dan suhu 32-34

0C. Sebagian air yang ke CWS masuk ke Sand Filter (S-103). Sand filter ini digunakan untuk menghilangkan partikel besi dan partikel padat lainnya yang berasal dari cooling water treatment. Penghilangan ini dimaksudkan untuk mencegah menurunnya kualitas air dan mencegah korosi. Sand filter dipasang secara horizontal, air masuk pada bagian atas dan keluar dari bagian bawah. Cooling water yang disaring hanya 200 m3/jam. Hasilnya berupa clean water yang langsung ditambahkan ke TCW tank. Jika mencapai kejenuhan sand filter ini akan di back wash dengan tekanan tinggi dan dialirkan ke pembuangan.

Aliran proses pada Treated Cooloing Water ditunjukkan oleh gambar 4.1 : Chemical Treatment

Sea Water dari Sea Water Intake

Gambar 4.1 Blok Diagram Proses Treated Cooling Water Sumber : Material Training PT Lotte Chemical Titan Nusantara

Kebutuhan plant dalam pemakaian TCW adalah 6.600 m3/jam untuk operasi normal, sedangkan untuk kebutuhan darurat adalah sebanyak 8.700 m3/jam. Fungsi air pendingin (cooling water) pada area proses adalah

1. Sebagai pendingin pada primary gas cooler, final cooler, dan reaktor loop 2. Sebagai air pemadam.

3. Pemindah panas pada heat exchanger dan vessel (jaket)

7. Potable Water Unit

Potable water adalah sarana menyuplai air bersih untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Distribusi potable water yang utama di plant area yaitu: - Building tank

- Safety shower - Eye washer - House keeping

Pada saat ini, kebutuhan potable water PT. Lotte Chemical Titan Nusantara,cdisuplai dengan cara membeli dari luar. Air yang dibeli, dimasukkan ke potable water storage tank dengan kapasitas 190 m3melalui stone filter dengan cone screen untuk mencegah benda asing masuk ke dalam tangki.

8. Steam Generation (8-B-401A/B/C)

Steam generation adalah unit penghasil kukus yang akan digunakan dalam proses. Alat yang digunakan adalah boiler. Prinsip kerja dari boiler yang digunakan di PT. Lotte Chemical Titan Nusantara adalah fire tube dengan air yang

akan dipanaskan berada di luar tube (di dalam shell boiler) dan gas pemanas ada di dalam tube.

Panas yang digunakan untuk menghasilkan kukus berasal dari panas pembakaran bahan bakar. Solar dan batu bara digunakan sebagai bahan bakar utama boiler, dibakar di dalam burner dengan bantuan LPG sebagai pemantik. PT. Lotte Chemical Titan Nusantara memiliki 4 buah boiler, di mana tiap boiler dilengkapi dengan 2 buah pompa tipe centrifugal, satu dioperasikan dan satu dalam keadaan stand by. Boiler yang digunakan adala jenis fire tube boiler dengan kapasitas produksi steam 255360 m3/jam per boiler dengan kapasitas produksi maksimum 672000 m3/jam jika ketiga boiler beroperasi. Sedangkan kapasitas air (umpan boiler) adalah 313600 kg/jam. Air umpan boiler berasal dari saluran kondensat ditambah make up dari unit desalinasi. Air umpan boiler harus memenuhi karakteristik seperti pada tabel berikut:

Tabel 4.2 Parameter Air Umpan Boiler

Parameter Kualitas Tekanan 5 barg Temperatur 430C pH 6,6-7,5 Kesadahan 1,01 Kandungan CaCO3 3,5 ppm K 0,2 ppm Fe 2,1-4 ppm Cl 10 ppm F 6,1-4 ppm SO4 1,2 ppm CO2 4,1-3 ppm HCO3 0,08 ppm

Sumber : Material Training PT Lotte Chemical Titan Nusantara

Air umpan boiler dipompa ke boiler melalui Boiler Feed Water Pump. Air umpan di injeksi dengan dua chemical agent, yaitu :

a. Phosphate sebagai inibitor korosi, diinjeksikan pada Section Line Boiler Feed Water Pump.

b. Sulfite sebagai pengikat oksigen, diinjeksikan pada dischange line Boiler Feed Water Pump.

Air dalam boiler akan dikonversi menjadi steam melalui penghilangan panas dari pembakaran bahan bakar yang bersumber dari fuel oil dan waste solvent, sehingga menghasilkan saturated steam dengan temperatur 1480C dan kapasitas produksi 165760 m3/jam.

Saturated steam akan masuk ke steam separator di mana terjadi penghilangan uap air. Uap air akan masuk ke economizer vessels dan mengalami kondensasi di condensat pot. Dry steam yang keluar dari steam separator masuk ke smoke box superheater sehingga menghasilkan superheated steam dengan temperatur 171-196 0C. Superheated steam yang dihasilkan masuk ke desuperheater dan akan mengalami kondensasi perubahan temperatur sampai temperatur 1910C. Kemudian steam yang keluar akan didistribusikan ke unit-unit yang membutuhkan.

Kondensat dari condensat pot dipompa menuju deaerator dengan mengunakan Condensate Pump melewati Condensate Filter yang berfungsi untuk mencegah masuknya partikel solid ke boiler. Pada deaerator ini ditambah make up dari air unit desalinasi sebagai umpan boiler. Steam yang dihasilkan dari steam generator ini ada 2 macam yaitu low steam dan medium steam. Medium steam di distribusikan secara langsung dari boiler pada teakanan 7 barg, sedangkan low pressure steam di distribusikan dari medium pressure steam setelah tekanannya diturunkan manjadi 3,5 barg. Medium steam berfungsi untuk media evaporasi di unit desalinasi dan untuk proses polimerisasi. Sedangkan low steam digunakan untuk media pemanas di kolom destilasi dan striping di Solvent Recovery Unit dan sebagai pemanas aliran hexane pada unit prepolimerisasi.

9. Instrument Air

Fungsi dari Instrument Air adalah menyuplai kebutuhan udara bertekanan. Kebutuhan udara instrument setiap jam sekitar 17.490 Nm3. Di PT. Lotte Chemical Titan Nusantara, kebutuhan udara dapat dipenuhi oleh empat buah kompresor yang mempunyai tipe screw compressor. Kompresor dengan tipe screw tersebut mempunyai keuntungan dapat menghasilkan pressure yang lebih tinggi dan kandungan compressed air yang lebih banyak, dengan cara memberikan pelumasan pada bagian screw yang berputar dengan oli atau minyak

pelumas sehingga screw tersebut berjalan dengan cepat. Screw compressor tersebut digerakkan oleh motor dengan daya 175 kW. Udara yang terkompresi kemudian disimpan di tempat penampungan sementara yaitu surge drum. Dalam surge drum ini terdapat tiga tahap pemurnian udara dari kandungan minyak, debu dan air.

Udara bertekanan ini dipakai sebagai penggerak utama equipment instrument seperti ROV dan PV, aktivasi katalis, regenerasi FPU.

Peralatan utama untuk instrument air:

a. Instrument air pre filter jenis catridge untuk menyaring udara dari debu. b. Instrument air after filter untuk menyaring udara dari kandungan air. c. Instrument air dryer jenis desiccant untuk mengeringkan udara.

d. Instrument air surge drum untuk menampung udara tekan sebelum ke area proses.

Kapasitas dari kompresor yang dihasilkan adalah 21.400 Nm3/jam pada tekanan 7 barg, temperatur ambient dan kandungan minyak 1 ppm (maximal). Compressed air (udara tekan) ini didistribusikan sebagai penggerak instrumentasi, oksidator di catalist Activtion Unit, dan regenerasi katalis di Feed Purification Unit.

10. Fuel Oil and LPG Storage

Fuel oil adalah sarana untuk menyuplai bahan bakar solar. Fuel oil ini dialirkan ke fuel oil storage menggunakan pompa. Fuel oil storage mempunyai kapasitas 684 m3. Fungsi dari fuel oil adalah sebagai bahan bakar boiler, steam generation, incenerator dan fire water diesel pump.

LPG storage adalah sarana untuk menyimpan LPG cair yang dibeli dari Pertamina/Petronas LPG storage memiliki kapasitas 96,5 m3yang terdiri dari LPG cair dan uap. LPG cair didistribusikan ke API dengan menggunakan LPG transfer pump untuk dijadikan sebagai bahan baku pembuatan gas hidrogen, sedangkan LPG uap didistribusikan sebagai pilot burner di boiler, flare, dan incenerator.

Nitrogen disuplai dari PT Air Product Indonesia (API) dan PT. Alindo. Nitrogen disuplai dari PT Alindo, dipergunakan untuk keperluan proses di train 3. Sedangkan nitrogen yang disuplai dari PT Air Product Indonesia dipergunakan untuk keperluan proses di train 1 dan train 2, dan dalam bentuk high dan medium pressure.

1. High Pressure Nitrogen (NH)

NH yang berasal dari PT API ditampung di NH receiver. NH yang digunakan di PT Lotte Chemical TITAN Nusantara bertekanan sebesar 30 barg dan laju alir maksimal 860 Nm3/jam.

HPN yang didistribusikan ke plant mempunyai dua kategori, yaitu;

NH priority yaitu NH yang digunakan dalam sistem injeksi prepolimer ke dalam reaktor fluidized bed.

Non priority NH digunakan untuk make up pada rangkaian proses polimerisasi. 2. Medium Pressure Nirogen (NM)

NM yang berasal dari PT API mempunyai tekanan 7 barg dan laju alir 7,42 Nm3/jam. NM dibagi menjadi tiga macam, yaitu :

Medium pressure nitrogen vital (NMV), didistribusikan pada dua sistem yaitu continue purging pada masing-masing vent dan sistem flare, sedangkan lainnya untuk purging pada reaktor polimerisasi.

Medium pressure nitrogen non vital, digunakan untuk cadangan pada instrument air.

Nitrogen low pressure digunakan untuk purging, seal, dll

12. Hydrogen Supply

Hidrogen diterima dari : 1. PT Air Product Indonesia

Hidrogen di suplai ke plant pada tekanan 29 – 33 barg di distribusikan ke laboratorium, Feed Purification Unit dan Prepolymerisation Unit atau Polymerisation Unit pada train 1/2.

2. PT Air Liquid Indonesia

Hidrogen disuplai pada tekanan 140 barg kemudian diturunkan menjadi 36 barg dan normal aliran 150 Nm3/jam. Hidrogen di distribusikan ke train1, 2, dan 3.

13. Effluent Treatment Unit

Terdapat tiga bentuk limbah yang dihasilkan PT. Lotte Chemical Titan Nusantara yaitu limbah cair, limbah padat dan limbah gas. Limbah cair akan diolah secara standar sebelum dibuang bersama air yang berasal dari cooling water return yang digunakan di heat exchanger. Limbah padat yang dihasilkan proses, termasuk sampah-sampah umum, akan dibakar di unit incenerator dengan menggunakan bahan bakar solar. Sedangkan limbah gas yang mengandung senyawa hidrokarbon di atas 2 ppm akan dibakar di flare sedangkan yang mengandung kurang dari 2 ppm akan dibuang melalui unit cold vent.

14. Flare Stack dan Cold Vent

Flare stack yaitu sarana untuk membakar limbah gas hidrokarbon dengan konsentrasi lebih dari 2 ppm. Inlet dari hidrokarbon yang akan dibakar terdiri dari high pressure dan low pressure. Pada flare juga terdapat seal water yang berfungsi sebagai pengabsorpsi dari partikel yang terbawa oleh hidrokarbon. Pada flare juga terdapat jalur steam medium yaitu sebagai cooling down tip temperatur agar tidak terjadinya pelelehan pada flare, menjaga agar temperatur > 1500C, dan menjaga agar asap pembakaran tidak terlalu pekat atau hitam.

Cold vent stack adalah sarana untuk mengolah atau membuang limbah gas hidrokarbon yang mempunyai kadar hidrokarbon kurang dari 2 ppm. Cold vent dilengkapi dengan drain line valve dan seal water. Drain line valve berfungsi untuk mengeluarkan air hujan yang masuk dari bagian atas cold vent. Sedangkan seal water berfungsi untuk mencegah uap keluar dari cold vent

15. Penyediaan Energi Listrik

Kebutuhan listrik di PT. Lotte Chemical Titan Nusantara sebesar 80 Mwat di suplai dari PLTU Suralaya. Tegangan yang disuplai dari PLTU Suralaya sebesar

150 kV, namun sesampainya di PT. Lotte Chemical Titan Nusantarategangan diturunkan menjadi 11 kV dengan menggunakan 2 buah trafo. Masing- masing mempunyai kapasitas sebesar 2750 V dengan menggunakan 8 travo. Tiap-tiap trafo tersebut di gunakan untuk mensuplai lisrik di Train I, Train II ,Train III, Core common, Utility, Office, Pelletizing Unit dan Bagging Unit. Adapun diagram pembagian listrik sebagai berikut:

Gambar 4.2. Diagram Pembagian Listrik

(Utilities Plant PT. Lotte Chemical Titan Nusantara, 2013) 4.1.2 Core Common

Core Common terdiri dari:

1. Reagent Storage Unit (RSU)

Reagent Storage Unit (RSU) adalah area tempat penyimpanan semua bahan baku pembuatan ataupun pengaktivasian katalis yang dipergunakan di PT Lotte Chemical Titan Nusantara yaitu katalis Ziegler dan Chromium.

Bahan baku dalam pembuatan katalis Ziegler adalah Ti(OR)4 (Titanium n-propoxide), isobutanol, BuCl (Butil klorida), TiCl4 (Titanium Tetrachloride),

PLTU SURALAYA (150 kV) Travo II (11 kV) Travo I (11 kV) Travo I

(2750 V) (2750 V)Travo II Travo III(2750 V) Travo IV(2750 V) Travo IV (2750 V) Travo III (2750 V) Travo II (2750 V) Travo I (2750 V) Office Pelletizing Unit Train III Train II Train I Core Common Bagging Unit IBL/ Utility

iodine, magnesium dan TnOA (Tri n-Octyl Alumunium). Sedangkan untuk katalis Chromium, reagent yang digunakan antara lain Cr3+ dan ASA (Anti Static Agent).

2. Catalyst Preparation Unit (CPU)

Catalyst Preparation Unit (CPU) adalah unit pembuatan katalis. Katalis yang dibuat oleh PT Lotte Chemical Titan Nusantara adalah katalis Ziegler-natta. Katalis Ziegler-natta M10 digunakan dalam pembuatan LLDPE sedangkan M11 digunakan dalam proses pembuatan HDPE. Proses pembuatan katalis Ziegler M10 sama dengan pembuatan katalis Ziegler-Natta M11, perbedaan dari keduanya adalah jumlah electron yang dimiliki. Katalis M11 mendapatkan donor electron dari Dimetil Formamide (DMF).

Katalis Ziegler-natta terbuat dari pereduksian TiCl4 dan Ti(OR)4 oleh senyawa organomagnesium yang dibentuk dari pereaksian Mg sebagai metal dengan BuCl. Mg mempunyai pelapis yang kuat sehingga akan susah bereaksi. Untuk memecahkan pelapis dari Mg yaitu MgO maka Mg direaksikan terlebih dahulu dengan iodine, setelah itu Mg dapat bereaksi dengan BuCl membentuk senyawa organomagnesium. Bentuk dari campuran organomagnesium dan reduksi dari garam-garam titanium adalah larutan yang diproses dalam reaktor yang menggunakan n-hexane sebagai pelarut. Berikut ini adalah reaksi yang terjadi dalam reaktor katalis:

1. Pembentukan campuran organomagnesium

Pembentukan campuran organomagnesium ini adalah dengan mereaksikan magnesium dan butyl klorida.

Mg + BuCl → BuMgCl

2. Reduksi dari tetravalent titanium

Untuk mereduksi titanium ini adalah dengan menggunakan campuran organomagnesium

½ Ti(OR)4 + ½ TiCl4 + BuMgCl → Ti(OR)Cl2Mg(OR)Cl + Bu 3. Klorinasi campuran organomagnesium

Klorinasi ini dilakukan dengan mereaksikan campuran organomagnesium dan butyl klorida (BuCl) yang menghasilkan MgCl.

BuMgCl + BuCl → MgCl2 + 2Bu

4. Kombinasi dari radikal butyl (Bu ) sebagai indicator terjadinya reaksi (Butena, butane, oktana, polibutena)

Buo → Butena, butane, oktana, polibutena

Setelah terjadi reaksi di dalam reaktor tersebut maka dihasilkan katalis Ziegler-natta dengan ukuran yang masih belum seragam. Setelah pereaksian selesai, maka ditambahkan sedikit air ke dalam reaktor yang berfungsi untuk menurunkan aktivitas dari katalis sehingga mudah untuk mengontrolnya. Setelah itu, untuk menghasilkan katalis Ziegler-natta M11 maka ditambahkan DMF ke dalam reaktor.

Katalis yang terbentuk dicuci dengan pelarut heksana. Proses ini bertujuan untuk menghilangkan sisa BuCl yang dapat membentuk fines. Keberadaan fines

Dokumen terkait