• Tidak ada hasil yang ditemukan

B. Krisis Psikososial Pada Lansia

2. Spirituality

Spirituality atau spiritualitas adalah perasaan akan keberadaan Tuhan dalam diri masing-masing individu. Erikson menyatakan bahwa individu yang sehat adalah mereka yang memiliki kecenderungan spiritualitas (Hoare, 2002). Dalam pemikiran Erikson, orang yang dewasa secara spiritual merasakan Tuhan dalam beberapa cara. Misalnya, bagi seseorang, Tuhan bukan hanya roh yang berada di luar keterbatasan ruang dan waktu di dunia, tapi merupakan sebuah cahaya inti dalam dirinya. Roh ini adalah kekuatan yang menggerakkan mereka. Di sisi lain, ada juga yang mengatakan bahwa roh adalah kehadiran yang nyata dalam diri mereka, dalam diri orang lain, dan di dalam dinamika pertemuan seseorang dengan orang lain. Hal lainnya lagi, dapat dicontohkan dari kehidupan Erikson di masa paruh baya, ia melihat tangan Tuhan melalui kehidupannya sendiri. Dalam bukunya, Erikson (Hoare, 2002) menulis (hope is an “attitude” that represents the revelation of creation in one life now nearly complete, a simple sense that the created life “is good,” as in “and he saw that it was good”). Artinya (harapan adalah “sifat” yang merepresentasikan wahyu penciptaan

dalam satu kehidupan yang hampir selesai, perasaan sederhana bahwa kehidupan yang diciptakan “baik” seperti dalam “dia melihat bahwa itu baik”). Peneliti menyimpulkan makna yang terkandung dalam kutipan tersebut mencerminkan bahwa spiritualitas menurut Erikson adalah bagaimana individu dapat memaknai kehidupannya secara positif dalam konteks kerohanian atau keyakinan akan keterlibatan Tuhan dalam setiap prosesnya. Singkatnya, segala yang terjadi adalah campur tangan Tuhan yang menggiring kita pada sesuatu yang baik dalam kehidupan.

Seseorang dengan kecenderungan spiritualitas tinggi mampu menyelesaikan persoalan yang terjadi secara positif. Mereka mengembangkan arti penderitaan sebagai suatu hikmah positif dari kejadian yang dialami. Spiritualitas menuntun individu pada rasa keberhargaan diri, kehidupan terarah yang terlihat melalui harapan, serta mampu mengembangkan hubungan antar manusia yang positif dan menciptakan rasa syukur kepada Tuhan (Hamid, 2008). Kondisi ini akan menuntun seseorang pada ego-integrity.

Sebaliknya, jika individu memaknai suatu penderitaan sebagai hal negatif serta tidak mampu mensyukuri apa yang diberikan Tuhan, mereka akan terjerumus pada kondisi despair. Mereka cenderung tidak mampu menghargai

kehidupan yang diberikan oleh Tuhan sebagai sesuatu yang “baik” adanya.

3. Accept the past as meaningful atau menerima masa lalu sebagai sesuatu yang berarti

Penerimaan masa lalu adalah suatu representasi atau yang mewakili kondisi seseorang untuk menerima pengalaman masa lalunya. Individu yang

mampu menerima masa lalunya memiliki perasaan positif tentang masa lalu tanpa memiliki perasaan negatif atau mengecewakan yang berlebihan. Hal ini bukan berarti tidak punya pengalaman negatif, mereka sangat mungkin mengalami kekecewaan, tetapi secara keseluruhan mereka dapat menerimanya. Bagi mereka, pengalaman negatif tidak lagi mengkhawatirkan atau mengganggu kehidupan mereka saat ini. Dihipotesiskan bahwa menerima masa lalu mewakili satu sumber atau penentu tercapainya ego-integrity (Santor & Zuroff, 1994).

Sebaliknya, individu yang tidak dapat menerima masa lalu lebih fokus pada satu atau lebih peristiwa yang menjelaskan mengapa mereka tidak dapat menerima masa lalu. Bagi mereka, masa lalu membawa lebih banyak rasa sakit daripada kesenangan. Ada hal-hal di masa lalu yang harus diperbaiki untuk benar-benar memperoleh kebahagiaan. Selain itu, bagi mereka, ada beberapa kekecewaan dalam masa lalu yang tidak akan pernah bisa diterima. Individu yang tidak menerima masa lalu sebagai sebagai satu hal yang memuaskan cenderung mengalami gejala depresif yang lebih kuat yang dapat menjerumuskan mereka pada kondisi despair (Santor & Zuroff, 1994).

4. Tolerance and acceptance of others atau mentoleransi dan menerima kehadiran orang lain tanpa melihat pebedaan yang ada

Istilah toleransi adalah istilah modern yang berasal dari bahasa Latin, yaitu tolerantia, yang artinya kelonggaran, kelembutan hati, keringanan dan kesabaran. Dari sini dapat dipahami bahwa toleransi merupakan sikap untuk memberikan hak sepenuhnya kepada orang lain agar menyampaikan pendapatnya, sekalipun pendapatnya salah dan berbeda. Hal ini sepaham dengan pendapat

Poerwadarminta yang mengungkapkan bahwa toleransi menurut istilah berarti menghargai, membolehkan, membiarkan pendirian pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan dan sebagainya yang lain atau yang bertentangan dengan pendirinya sendiri, misalnya agama, ideologi, ras (Poerwadarminta, 1984).

Selanjutnya, menurut Rogers (1979, dalam Pancawati, 2013) penerimaan merupakan sikap seseorang yang menerima orang lain apa adanya secara keseluruhan, tanpa adanya suatu persyaratan ataupun penilaian. Seseorang yang mampu menerima orang lain cenderung memiliki anggapan bahwa orang lain adalah sesuatu yang berhaga.

Seseorang dapat mentolerir (tolerance) sesuatu tanpa harus menerimanya (acceptance), tetapi seseorang tidak dapat menerima (acceptance) sesuatu tanpa menolerirnya (tolerance). Misalnya, ketika seorang anak memberi tahu orang tua tentang pilihan karier pasangan perkawinan, atau identitas seksual yang tidak diinginkan, dia menginginkan informasi itu tidak hanya ditoleransi, tetapi untuk diterima (Fish, 2014). Individu yang cenderung mampu untuk memberikan toleransi dan menerima orang lain sepenuhnya akan menggiringnya pada kondisi ego-integrity. Sebaliknya, ketika mereka tidak mampu untuk melakukannya, maka akan terjerumus pada kondisi despair.

5. A sense of being part of a larger history that includes previous generations atau perasaan menjadi bagian berharga di masa lalu

Salah satu hal yang menuntun seseorang mampu mencapai ego-integrity di masa tuanya adalah perasaan berharga, khususnya merasa pernah menjadi suatu

bagian yang sangat berguna di masa-masa sebelumnya bagi orang-orang di sekitarnya. Hal ini membantu lansia menyadari bahwa walaupun sekarang mereka sudah tidak bisa melakukan banyak hal karena keterbatasan kondisi fisik, ia tetap memiliki perasaan bahwa dulu ia telah melakukan sesuatu yang berharga bagi dirinya dan sekarang waktunya untuk beristirahat. Peneliti mencoba untuk menggambarkan kondisi tesebut seperti:“Dulu saya sudah berusaha sekuat tenaga membangun usaha yang saya rintis, dan saat ini saya bangga bisa mewariskan usaha tersebut kepada anak saya”.

Di sisi lain, ada lansia yang selalu menganggap dirinya tidak berguna dan hanya bisa merepotkan sanak keluarga. Mereka memilih untuk mengasingkan diri karena enggan meminta pertolongan. Kondisi ini membuat lansia kesepian karena ia menarik diri dari lingkungan sebab tidak mau merepotkan lingkungan tersebut. Ketika hal ini terus berlanjut, maka lansia akan terjerumus dalam kondisi despair (Santor & Zuroff, 1994).

6. Absence of death-anxiety atau bebas dari perasaan takut akan kematian Templer (1970) mendefinisikan death anxitety sebagai "keadaan individu mengalami kecemasan terkait dengan kematian. Kecemasan merupakan suatu pikiran yang tidak menyenangkan, yang ditandai dengan kekhawatiran, rasa tidak tenang, dan perasaan yang tidak baik atau tidak enak yang tidak dapat dihindari oleh seseorang (Hurlock, 1996). Kecemasan ini membawa inividu pada perasaan ketidaknyamanan yang disebabkan oleh persepsi nyata atau khayalan bahwa kematian adalah hal yang menakutkan (Moorhead et al., 2008, dalam Lehto & Stein, 2009). Secara lebih spesifik, seseorang yang mengalami kecemasan akan

kematian akan didominasi oleh rasa takut dan kecemasan yang tinggi ketika membicarakan soal kematian atau kondisi sakit yang berpotensi mengalami kematian (Templer, 1970; Cai, Tang, Wu, & Li, 2017).

Sebagai contoh, seseorang yang mengalami kecemasan akan kematian memiliki rasa takut saat memikirkan harus menjalani operasi karena khawatir operasi tersebut akan berujung pada kematian (Templar, 1970). Templar (1970) juga menyatakan takut dan kekhawatiran juga cenderung akan muncul ketika mendengar pembicaraan yang berhubungan dengan kematian atau menyaksikan pemandangan mayat pada acara kedukaan. Selain itu, mereka cenderung sering merasa tertekan oleh waktu yang berlalu dengan sangat cepat. Rasa takut akan kematian merupakan salah satu komponen dari keputusasaan atau despair (Santor & Zuroff, 1994). Sebaliknya, kebebasan seorang individu dari kondisi kecemasan akan kematian akan merujuk pada kecenderungan tercapainya kondisi ego-integrity. Seseorang yang berada dalam kondisi ego-integrity cenderung tidak memiliki ketakutan dalam menghadapi kematian. Bagi mereka, masa depan bukanlah suatu hal yang harus ditakutkan, termasuk kematian. Bagi mereka, memikirkan kematian bukanlah sesuatu yang mengganggu bahkan mereka sangat jarang memikirkannya.

7. Freedom from the feeling that time is running out atau bebas dari perasaan bahwa waktu yang dimiliki untuk hidup hampir habis

Seseorang yang cenderung berhasil dalam mencapai wilayah ini diduga merasa telah mempergunakan waktu yang dimiliki dengan baik di masa hidupnya. Mereka cenderung telah merasa puas di hari tuanya karena sudah berusaha

berjuang untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Perasaan puas di hari tua menggambarkan bahwa secara keseluruhan seseorang telah mampu mencapai harapan-harapan yang diinginkan. Perasaan puas di masa tua membebaskan lansia dari perasaan kehabisan waktu dalam hidupnya dan akan menggiring mereka pada kondisi ego-integrity.

Sebaliknya, lansia yang terperosok dalam kondisi despair dalam wilayah ini cenderung merasakan bahwa sisa waktu yang dimiliki sudah hampir habis dan berjalan cepat. Perasaan ini muncul diduga disebabkan oleh keinginan seseorang untuk melakukan sesuatu yang belum tercapai selama hidunya. Lansia yang masih cenderung diselimuti oleh harapan yang belum tercapai diduga akan menimbulkan dilema sebab penurunan kondisi fisik yang dialami (Santor & Zuroff, 1994). 8. Emotional Integration atau integrasi emosi

Erikson menekankan Emotional Integration atau integrasi emosional sebagai kunci penting untuk keberhasilan aging (1963, dalam Sternberg & Jordan, 2005). Integrasi emosional adalah suatu proses dimana seseorang dapat sepenuhnya merasakan, memahami, dan merespon emosi secara tepat. Definisi ini selaras dengan apa yang diungkapkan oleh Weiss (2018), dalam artikelnya. Ia

menulis, “If we are emotionally mature adults we are able to feel our emotions, acknowledge them, and take responsibility for their appropriate expression in a way that still leaves us feeling whole”. Artinya, “jika kita dewasa secara emosional, kita mampu merasakan emosi kita, mengakuinya, dan merespon secara tepat dengan ekspresi yang sesuai sehingga membuat diri kita tetap merasa merasa utuh”.

Paul Ekman mengklasifikasikan emosi dasar manusia ke dalam enam jenis: senang, sedih, terkejut, marah, takut, dan jijik (Ekman, 1992). Ketika individu mampu merasakan perbedaan emosi tersebut dan meresponnya secara tepat maka ia dikatakan mampu mengintegrasikan emosinya, sehingga mereka akan mengarah pada kondisi ego-integrity. Sebaliknya, ketika individu cenderung tidak mampu mengeluarkan atau tidak mengakui emosi yang dirasakan maka mereka tidak mampu merespon emosi tersebut secara tepat, sehingga berujung pada rasa tidak puas yang akan menuntun seseorang pada kondisi despair.

9. Life Satisfaction atau kepuasan hidup

Kepuasan hidup adalah sejauh mana seseorang secara positif mengevaluasi kualitas hidupnya. Dengan kata lain, seberapa banyak orang menyukai kehidupan yang ia jalani (Saris, Veenhoven, Scherpenzeel, & Bunting,1996). Kepuasan hidup melambangkan kriteria menyeluruh atau hasil akhir dari pengalaman manusia. Kepuasan hidup adalah penilaian menyeluruh dari perasaan dan sikap seseorang tentang kehidupan (Andrew, 1974, dalam Prasoon & Chaturvedi, 2016). Neugarten, Havighurst, & Tobin (1965) menyebut Life Satisfaction sebagai

“definisi operasional dari penuaan yang berhasil”. Semakin positif lansia menilai kualitas hidupnya secara keseluruhan, maka ia akan berhasil mencapai ego-integrity. Ungkapan-ungkapan yang biasanya muncul pada individu yang memiliki Life Satisfaction tinggi seperti, saya merasa apa yang terjadi dalam hidup secara keseluruhan dekat/mirip dengan cita-cita saya, kondisi hidup saya sangat baik, saya puas dengan hidup saya, sejauh ini saya telah mendapatkan hal-hal penting yang saya inginkan di dunia, dan dalam menjalani hidup ini, tidak

ada yang ingin saya ubah (Diener, Emmons, Larsen, Griffin, 1985). Sebaliknya, jika seseorang memiliki kecenderungan negatif dalam memaknai kehidupan secara menyeluruh, maka hal ini akan menjerumuskan seseorang dalam kondisi despair (Liang, 1984; Woods & Witte, 1981).

Baik kondisi ego-integrity yang mendominasi atau sebaliknya (despair), semua kondisi tersebut merupakan hasil akumulasi dari seluruh pengalaman fase hidup saat lansia tua dan fase hidup sebelumnya. Menurut Erikson, setiap tahap krisis psikososial secara sistematis dihubungkan dengan tahapan pada krisis psikososial sebelumnya. Artinya, ketika integrity dan despair berada di tahap ke 8, maka integrity dan despair akan dipengaruhi pula oleh tahap sebelumnya (tahap 1-7). Dapat ditarik kesimpulan, kondisi integrity dan despair merupakan akumulasi dari pengalaman yang berada di tahap 1-7 ditambah dengan pengalamannya berada di tahap ke 8. Dengan kata lain, kondisi integrity dan despair merupakan kondisi dari akumulasi seluruh pengalaman semasa orang tersebut menjalani kehidupannya.

C. Dukungan Sosial Keluarga Bagi Lansia dan Kaitannya Dengan Proses Menghadapi Krisis Psikososial Pada Lansia

Menjadi tua bukanlah suatu pilihan melainkan sesuatu yang pasti akan dialami oleh setiap individu. Menua (aging) adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki atau mengganti diri serta mempertahankan struktur dan fungsi normalnya sehingga sangat rentan terhadap penyakit (Santoso, 2009). Proses ini adalah proses alami yang ditandai dengan adanya penurunan pada kondisi fisik, psikologis, maupun sosial yang saling

berinteraksi satu sama lain (Salamah, 2005; Hurlok dalam Hutapea, 2011; Asmaningrum, Wijaya, & Permana, 2014). Perubahan kondisi fisik, sosial, dan psikologis ini akan menentukan apakah lanjut usia akan melakukan penyesuaian sosial yang baik atau buruk. Menurut Hurlock, lanjut usia memiliki kecenderungan penyesuaian diri yang buruk dari pada yang baik dan pada kesengsaraan daripada kebahagiaan (Hutapea, 2011).

Hadirnya dukungan sosial keluarga mampu membantu lansia tetap meraih ego-integrity di tengah deraan kemunduran fisik dan psikis yang dialaminya. Dukungan sosial terdekat yang dapat membantu lansia dalam mengatasi permasalahan tersebut adalah bersumber dari keluarga (Prabasari, Juwita, & Maryuti, 2015). Keluarga dari lansia meliputi keluarga dekat, yaitu suami, istri, dan anak, lalu keluarga besar, seperti saudara kandung dan kerabat. Keluarga dekat memiliki fungsi sebagai dukungan sosial utama untuk lansia di saat mereka berada dalam kondisi membutuhkan pertolongan (Shanas, 1979). Sementara itu, keluarga besar berfungsi sebagai penghubung utama lansia ke masyarakat (Shanas, 1979). Shanas (1979) juga menjelaskan lebih lanjut bahwa hal terpenting yang diperlukan oleh lansia adalah keteraturan untuk dikunjungi dan perhatian yang berkelanjutan dari keluarga besar maupun kecil yang masih ada sebagai ungkapan dukungan sosial.

Gottlieb menyatakan bahwa dukungan keluarga dapat berupa informasi verbal maupun nonverbal, saran, bantuan, atau tingkah laku yang diberikan oleh orang-orang terdekat berupa kehadiran serta hal-hal yang dapat memberi keuntungan emosional kepada penerimanya (1983, dalam Mundiharno, 2010,

dalam Jafar, Wiarsih, & Permatasari, 2011). Lansia memerlukan dukungan sosial untuk meningkatkan motivasi dan rasa percaya diri untuk menghadapi penurunan dan perubahan yang terjadi (Suryono, 2013).

D. Lansia Terlantar Penghuni Rumah Pelayanan Sosial

Banyak keluarga besar maupun kecil yang tidak mampu memberikan dukungan sosial yang baik pada lansia antara lain karena menganggap kehadiran lansia hanyalah menambah beban keluarga. Hal ini diperkuat dengan temuan Maryam et al. (2012) yang mengungkapkan bahwa sebanyak 52,2% keluarga merasa mengalami beban yang tinggi dalam merawat lansia. Oleh karena itu, masyarakat cenderung memilih membawa lansia ke panti jompo daripada mengurus di rumah sendiri. Namun, karena biaya menitipkan lansia di panti jompo terbilang mahal, maka tidak sedikit lansia ditelantarkan begitu saja oleh orang terdekat mereka.

Neglect atau penelantaran pada lansia didefinisikan sebagai penolakan atau kegagalan untuk memenuhi kewajiban dalam bidang pengasuhan kepada lansia secara fisik maupun psikologis, ataupun keduanya (Anthony et al., 2009). Neglect dapat bersifat aktif atau disengaja, dan pasif atau tidak disengaja. Passive neglect adalah situasi dimana lansia dibiarkan hidup sendiri, terisolasi, atau terlupakan. Di sisi lain, Active neglect merupakan pengurangan hal-hal yang diperlukan untuk kehidupan sehari-hari, seperti makanan, obat-obatan, dukungan sosial, dan perawatan tubuh (Hickey & Douglass, 1891).

Penelantaran tersebut mencerminkan minimnya dukungan sosial keluarga yang diberikan untuk menghadapi perubahan dan penurunan kondisi fisik, sosial,

dan psikologis pada lansia. Minimnya dukungan sosial pada lansia akan membawa lansia pada penyesuaian diri yang negatif untuk menghadapi permasalahan tersebut. Sebagai contoh, penurunan kondisi fisik seperti: postur tubuh lansia mulai berubah bungkuk, kondisi kulit mulai kering dan keriput, daya ingat mulai menurun, kondisi pendengaran dan penglihatan terganggu yang terkadang membuat lansia tidak percaya diri jika harus berinteraksi dengan orang lain sehingga mereka menarik diri dari lingkungan sosial (Santrock, 2002). Penarikan diri dari lingkungan sosial akan menggiring lansia pada kesepian (loneliness) yang akan berujung pada depresi. Kondisi ini diduga mampu menghambat proses lansia menghadapi krisis psikososialnya, yaitu untuk mencapai ego-integrity (Hearn et al., 2012).

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan lansia terlantar sebagai partisipan. Lansia terlantar yang dimaksud peneliti adalah mereka yang berusia 65 tahun ke atas dan tinggal di Rumah Pelayanan Sosial Lansia Terlantar Budi Dharma Yogyakarta yang bersifat gratis. Lansia penghuni panti tersebut adalah mereka yang terlantar karena beberapa hal, di antaranya: (1) terlantar karena tidak memiliki keluarga kecil lagi (meninggal), dan di sisi lain keluarga besar merasa terbebani untuk merawatnya, (2) terlantar karena anak tidak mampu merawat dan merasa terbebani yang disebabkan oleh kesulitan ekonomi, serta (3) terlantar karena keluarganya tidak diketahui keberadaannya (ditemukan di jalanan).

E. Kerangka Konseptual

Menurut Erikson, setiap tahap perkembangan manusia ditandai oleh tugas perkembangan yang berbeda-beda. Tugas perkembangan dalam setiap tahap adalah menghadapi suatu krisis yang Erikson sebut sebagai krisis psikososial (Erikson, 1989). Pada penelitian ini, peneliti ingin mengeksplorasi dan mendeskripsikan pengalaman lansia terlantar menghadapi krisis psikososial. Subjek yang digunakan dalam penelitian ini adalah beberapa lansia yang tinggal di Rumah Pelayanan Sosial Lanjut Usia Terlantar Budhi Dharma Yogyakarta dengan rentang usia 65 tahun ke atas. Penelantaran atau neglect pada lansia adalah penolakan atau kegagalan untuk memenuhi kewajiban dalam bidang pengasuhan kepada lansia baik secara fisik maupun psikologis atau keduanya (Anthony et al., 2009).

Krisis pada satu tahap yang dihadapi oleh lansia terlantar merupakan hasil akumulasi pengalaman dari tahap-tahap sebelumnya. Lansia usia 65 tahun ke atas berada dalam tahap ke 8 perkembangan psikososial Erikson. Krisis psikososial tahap ke 8 adalah (kendati) merupakan hasil akumulasi pengalaman sebelumnya, diduga kondisi terlantar tetap berpengaruh pada cara lansia menghadapi krisis psikososial. Krisis psikososial yang harus dihadapi oleh lansia adalah ego-integrity vs despair, dimana ego-integrity sebagai aspek positif dan despair sebagai aspek negatifnya (Feist & Feist, 2010). Erikson mendeskripsikan seseorang yang mencapai integrity adalah mereka yang sepenuhnya menjalani komitmen dan meyakini hidupnya sebagai sesuatu yang berharga. Sebaliknya, seseorang yang despair adalah mereka yang tidak dapat menyetujui dan menerima

kehidupannya yang konkret. Mereka cenderung menyesali setiap hal yang terjadi dan merasa putus asa (Erikson, 1989). Kondisi ego-integrity ataupun despair yang terjadi pada lansia merupakan akumulasi pengalaman hidup dari tujuh tahap sebelumnya.

Untuk mengeksplorasi bagaimana pengalaman lansia menghadapi krisis psikososial tahap kedelapan, peneliti menggunakan kriteria ego-integrity menurut Erikson, meliputi: 1) Adapting to thriumps and disappointments, 2) Spirituality, 3) Accept the past as meaningful, 4) Tolerance and acceptance of others, 5) A sense of being part of a larger history, 6) Absence of death-anxiety, 7) Freedom from the feeling that time is running out, 8) Emotional Integration 9) Life Satisfaction. Jika pengalaman didominasi oleh lawan dari 9 hal di atas, maka lansia akan terperosok pada despair. Agar dapat memudahkan melihat kerangka berpikir peneliti, berikut adalah gambar kerangka konseptual dalam penelitian ini.

Gambar 1. Kerangka konseptual penelitian Krisis Psikososial

Pada lansia terlantar

Ego-Integrity (+)

Despair (-) Negasi dari 9 wilayah Ego-integrity 1. Adapting to thriumps and

disappointments 2. Spirituality

3. Accept the past as meaningful

Dokumen terkait