Pengalaman Lansia Terlantar Dalam Menghadapi Krisis Psikososial Tahap Kedelapan (Ego integrity vs Despair)

115 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

Pengalaman Lansia Terlantar Dalam Menghadapi Krisis

Psikososial Tahap Kedelapan (Ego integrity vs Despair)

Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi

Disusun oleh: Devamethia G

149114109

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI

(2)

ii

HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING SKRIPSI

Pengalaman Lansia Terlantar Dalam Menghadapi Krisis Psikososial Tahap Kedelapan (Ego-integrity vs Despair)

Disusun Oleh: Devamethia G 149114109

Telah disetujui oleh:

Dosen Pembimbing:

(3)

HALAMAN PENGESAHAN SKRIPSI

PENGALAMAN LANSIA TERLANTAR DALAM MENGHADAPI KRISIS PSIKOSOSIAL TAHAP KEDELAPAN (Ego-integrity vs despair)

Dipersiapkan dan ditulis oleh: Devamethia G

149114109

Telah dipertanggungjawabkan di depan panitia penguji pada tanggal 25 Januari 2019

dan dinyatakan telah memenuhi syarat

Susunan Panitia Penguji:

Nama Penguji Tanda Tangan

1. Penguji 1 : Prof. A. Supratiknya, Ph.D.

2. Penguji 2 : Drs. H. Wahyudi, M.Si

3. Penguji 3 : Ratri Sunar Astuti, S.Psi., M.Si

Yogyakarta, Fakultas Psikologi

Universitas Sanata Dharma

(4)

iv

HALAMAN MOTTO

“Tat Tvam Asi”

(5)

HALAMAN PERSEMBAHAN

Karya ini saya persembahkan untuk

(6)

vi

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya oranglain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar acuan, sebagaimana layaknya karya ilmiah.

Yogyakarta, 30 Januari 2019 Penulis

(7)

PENGALAMAN LANSIA TERLANTAR DALAM MENGHADAPI KRISIS PSIKOSOSIAL TAHAP KEDELAPAN (Ego-integrity vs Despair)

Devamethia G

ABSTRAK

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dan bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana pengalaman lansia terlantar dalam menghadapi krisis psikososial tahap 8, apakah lebih didominasi oleh ego-integrity atau despair. Partisipan dalam penelitian ini adalah 4 orang lansia terlantar (usia 65-80 tahun) yang tinggal di Rumah Pelayanan Sosial Lanjut Usia Terlantar Budhi Dharma Yogyakarta. Pengambilan data dilakukan dengan metode wawancara. Analisis data dilakukan dengan metode analisis isi kualitatif (AIK). Hasilnya menunjukkan bahwa lansia yang memiliki masa lalu positif (kondisi ekonomi yang baik, pekerjaan yang membanggakan dan hubungan keluarga yang hangat), kondisi kesehatan yang baik di masa kini, dan kepastian bahwa akan ada yang merawat saat mati cenderung menunjuukkan ego-integrity, sedangkan yang mengalami kondisi sebaliknya cenderung menunjukkan tanda-tanda despair.

(8)

viii

EXPERIENCE OF NEGLECTED ELDERS IN DEALING WITH THE EIGHTH -STAGE OF PSYCHOSOCIAL CRISIS (Ego-integrity vs Despair)

Devamethia G

ABSTRACT

The study is a qualitative research and aims to explore the experience of neglected elders in dealing with the eighth-stage of psychosocial crisis whether it is dominated by ego-integrity or despair. Participants in this study were four neglected elders (aged 65-80 years) who live in Budhi Dharma Social Services for Neglected Elders in Yogyakarta. The data collecting was conducted from interview. Further, it was analyzed by using qualitative content analysis method. The results show that the elderly who have a positive pasts (good economic conditions, proud work and warm family relationships), good health conditions in the present, and certainty that there will be carers when they passed away tend to show ego-integrity, while those who experiencing the opposite condition tends to show signs of despair.

(9)

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma

Nama : Devamethia G

Nomor Mahasisa : 149114109

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul:

Pengalaman Lansia Terlantar Dalam Menghadapi Krisis Psikososial Tahap kedelapan (Ego-integrity vs Despair)

Beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan, dalam bentuk media lain, mengelolanya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis, tanpa perlu meminta izin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya, selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

Dibuat di Yogyakarta

Pada tanggal: 30 Januari 2019 Yang menyatakan

(10)

x

KATA PENGANTAR

Om swastyastu. Puji syukur kepada Ida Shang Hyang Widhi, atas berkat dan kasih karunia-Nya saya bisa menyelesaikan karya yang berjudul Pengalaman Lansia Terlantar Dalam Menghadapi Krisis (Ego-Integrity vs Despair) dengan baik. Banyak pelajaran yang didapat dalam proses penulisan karya tersebut. Terimakasi juga untuk semua pihak yang membantu saya untuk menyelesaikan skripsi ini. Oleh karena itu, dengan setulusnya saya ucapkan terimakasih kepada mereka yang saya tuliskan di bawah ini:

1. Ida Sang Hyang Widhi dan para leluhur, terimakasi atas kasih dan kekuatan yang selalu diberikan, khususnya dalam pengerjaan karya ini.

2. Bapak Prof. Dr. A. Supratiknya, selaku dosen pembimbing skripsi yang selalu bersemangat untuk membimbing dan mendidik penulis menyusun skripsi dari tahap ke tahap dengan sabar.

3. Dr. Titik Kristiyani, M. Psi., Psi., selaku dekan fakultas psikologi dan seluruh jajaran dekansi.

4. Dr. M. Laksmi Anantasari, M.Si, selaku Dosen Pembimbing Akademik yang memberikan saran dosen pembimbing skripsi yang sesuai dengan topik penelitian.

(11)

6. Para Dosen Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma yang tidak hanya membimbing saya secara akademis tapi juga menuntun saya menjadi pribadi yang lebih baik.

7. Bapak I Nyoman Gunadi, Ibu Ni Ketut Srinadi, adik Aditya Hartawan, dan seluruh keluarga yang selalu menyertai dan mendukung saya. Terimakasi atas dukungan yang tiada henti, kalian selalu bisa menjadi tempat untuk saya pulang dan berkeluh kesah.

8. Kakak asuh terbaik, Mank Indah. Terimakasih atas dukungan yang selalu ada untuk proses pengerjaan skripsi ini. Khususnya motivasi untuk membangkitkan peneliti mengerjakan revisi secepat-cepatnya.

9. Seluruh staff dan penghuni Rumah Pelayanan Sosial Lanjut Usia Terlantar Budhi Dharma Yogyakarta atas bantuan dan dukungannya selama proses penelitian.

10.Teman-teman PBB, Dewa, Gantih, Indri, Mank, Okta, dan Pande. Terimakasih untuk ruang cerita yang nyaman selama menjalani perkuliahan di perantauan selama 9 semester khususnya keluh kesah selama semester-semester kritis menjalani penulisan karya ini. Semangat untuk yang masih berjuang.

11.Desiderius Dimas Maharani Parwanto alias Kuncung sebagai jelmaan dari Prof. Supratiknya yang membantu proses berpikir dan penyuntingan tulisan di penelitian ini.

(12)

xii

13.Teman-teman Psikologi angkatan 2014 khususnya kelas A, terimakasih untuk segala dinamika selama proses perkuliahan dan dukungannya selama proses pembuatan skripsi ini baik secara langsung ataupun tidak langsung.

14.Teman-teman kepanitiaan di Psikologi, AKSI 2016 & 2018 serta PSYCHOFEST 2017 yang telah memberikan kesempatan bagi saya untuk membangun dinamika bersama orang lain dan mengembangkan potensi saya serta doa dan dukungan selama proses pengerjaan skripsi ini.

15.Adik-adik Psikologi, Anting, Alma, dan Brian yang telah bersedia untuk saya repotkan demi kelancaran proses pembuatan skripi ini. Terimakasi juga untuk semangat yang luar biasa yang kalian berikan selama ini.

16.Semua pihak yang telah membantu dan mendoakan penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Terimakasih, matur suksme.

Kendati segala ucapan terima kasih ini saya berikan kepada segala pihak, hanya sayalah yang bertanggung jawab penuh atas semua kesalahan yang mungkin terjadi dalam skripsi ini.Saya ingin mempersembahkan skripsi ini terutama kepada orangtua saya sebab mereka telah mengajarkan saya menjadi seorang yang mandiri dan pekerja keras. Om santi, santi, santi

Yogyakarta, 30 Januari 2019 Penulis

(13)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN SKRIPSI ... iii

HALAMAN MOTTO ... iv

HALAMAN PERSEMBAHAN ... v

HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi

ABSTRAK ... vii

A. Tahap Perkembangan Psikososial Erikson... 12

B. Krisis Psikososial Pada Lansia ... 13

1. Adapting to thriumps and disappointments ... 15

2. Spirituality ... 16

(14)

xiv

4. Tolerance and acceptance of others ... 18

5. A sense of being part of larger history that includes previous generation ... 19

6. Absence of death-anxiety... 20

7. Freedom from the feeling that time is running out ... 21

8. Emotional integration ... 22

9. Life satisfaction ... 23

C. Dukungan Sosial Keluarga Bagi Lansia dan Kaitannya Dengan Proses Menghadapi Krisis Psikososial Pada Lansia ... 24

D. Lansia Terlantar Penghuni Rumah Pelayanan Sosial... 26

E. Kerangka Konseptual ... 28

BAB III ... 30

METODE PENELITIAN ... 30

A. Jenis dan Desain Penelitian ... 30

B. Fokus Penelitian ... 31

C. Partisipan ... 32

D. Peran Peneliti ... 35

E. Metode Pengambilan Data ... 37

F. Analisis dan Interpretasi Data ... 40

G. Penegakan Kredibilitas dan Dependabilitas Penelitian ... 43

BAB IV ... 46

HASIL DAN PEMBAHASAN ... 46

A. Pelaksanaan Penelitian ... 46

B. Latar Belakang Partisipan dan Dinamika Proses Wawancara ... 46

C. Hasil Penelitian ... 57

1. Adapting to thriumps and disappointments ... 57

2. Spirituality ... 61

3. Accept the past as meaningfull ... 64

4. Tolerance and acceptance of others ... 67

(15)

6. Absence of death-anxiety... 72

7. Freedom from the feeling that time is running out ... 73

8. Emotional integration ... 75

9. Life satisfaction ... 78

D. Pembahasan ... 80

1. Masa lalu ... 80

a. Kondisi ekonomi ... 81

b. Pekerjaan ... 81

c. Hubungan dekat dengan keluarga atau teman ... 82

2. Kondisi fisik kini ... 83

3. Kepastian masa depan menghadapi kematian ... 85

BAB V ... 86

PENUTUP ... 86

A. Kesimpulan ... 86

B. Keterbatasan penelitian ... 86

C. Saran ... 87

1. Bagi peneliti selanjutnya ... 87

2. Bagi perawat dan pengelola rumah pelayanan sosial ... 88

3. Bagi pemerintahan ... 89

4. Bagi keluarga ... 89

DAFTAR ACUAN ... 90

(16)

xvi

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Data Diri Partisipan ... 35

Tabel 2. Pertanyaan Pendahuluan ... 38

Tabel 3. Pertanyaan Utama pada Masing-Masing Wilayah ... 38

Tabel 4. Kerangka Analisis ... 42

(17)

DAFTAR GAMBAR

(18)

xviii

DAFTAR LAMPIRAN

(19)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Erik Erikson membagi perkembangan kehidupan manusia ke dalam 8 tahap (stage) yang dimulai sejak individu lahir hingga lanjut usia (Erikson, 1989). Teori Erikson tentang tahap perkembangan manusia ini dikenal dengan teori perkembangan psiko-sosial. Setiap tahap perkembangan manusia ditandai oleh tugas perkembangan yang berbeda-beda. Tugas perkembangan dalam setiap tahap adalah menghadapi suatu krisis yang Erikson sebut sebagai krisis psikososial (Erikson, 1989). Menurut Erikson (1989), setiap krisis memiliki aspek positif dan negatif, namun suatu perkembangan yang ideal akan lebih baik jika didominasi oleh aspek positif dibandingkan dengan aspek negatif. Menurutnya pula, lansia (usia 65 tahun sampai akhir kehidupan) masuk pada tahap ke 8 dalam perkembangan psikososial yang diuraikannya. Krisis psikososial yang harus dihadapi seseorang dalam tahap lanjut usia ini adalah ego- integrity vs despair, yang berarti ego-integrity sebagai aspek positif dan despair sebagai aspek negatifnya (Feist & Feist, 2010).

(20)

Erikson menguraikan ego-integrity ke dalam 9 wilayah, meliputi: (1) adapting to triumphs and disappointments (mampu beradaptasi dengan keberhasilan dan kegagalan dalam proses mencapai tujuan), (2) spirituality (hubungan individual dengan perasaan akan keberadaan Tuhan atau eksistensi Tuhan), (3) accept the past as meaningful (menerima masa lalu sebagai sesuatu yang berarti; mereka tidak mengalami penyesalan, rasa bersalah, atau ketidakpuasan dengan kehidupan yang dijalani secara umum), (4) tolerance or acceptance of others (mentoleransi dan menerima kehadiran orang lain tanpa melihat perbedaan yang ada), (5) a sense of being part of a larger history that includes previous generations (perasaan telah menjadi bagian yang berharga dalam sejarah termasuk generasi sebelumnya), (6) absence of death-anxiety (ketiadaan kecemasan atau rasa takut akan kematian), (7) freedom from the feeling that time is running out (bebas dari perasaan akan kehilangan banyak hal

dalam hidup karena waktu yang dimiliki di dunia telah sedikit), (8) emotional integration (integrasi emosional), (9) satisfaction with life (kepuasan hidup) (Santor & Zuroff, 1994).

(21)

depresi berat tentang kekecewaan, kegagalan, dan kehilangan kesempatan berharga dalam hidup (Hearn, Saulnier, Strayer, Glenham, Koopman, & Marcia, 2012).

Pencapaian ego-integrity atau despair pada lansia merupakan hasil akumulasi seluruh pengalaman selama hidup. Pengalaman-pengalaman tersebut dapat terkait dengan pekerjaan, kesehatan, hubungan dengan lingkungan, dukungan sosial dan lain-lain. Apabila pengalaman-pengalaman tersebut dapat dirasakan secara positif di hari tua, hal ini mampu manjadi faktor yang dapat membantu lansia dalam pencapaian ego-integrity.

Teori krisis psikososial Erikson lebih mengutamakan aspek sosial yang mempengaruhi berhasil atau gagalnya seseorang mencapai kondisi ego-integrity (Erikson, 1989). Hal tersebut menjadi alasan peneliti menggunakan teori krisis psikososial Erikson karena dirasa sesuai dengan konteks penelantaran pada lansia mengingat dukungan sosial keluarga menjadi salah satu aspek sosial yang penting untuk menghadapi krisis psikososial di hari tua.

Hadirnya dukungan sosial keluarga diduga mampu membantu lansia untuk lebih mudah beradaptasi dalam menghadapi kemunduran fisik dan psikis yang dialaminya. Oleh karena itu, beberapa hal yang diperlukan lansia untuk menghadapi kondisi tersebut adalah keteraturan untuk dikunjungi dan perhatian yang berkelanjutan dari keluarga besar maupun kecil yang masih ada sebagai ungkapan dukungan sosial (Shanas, 1979).

(22)

seperti ketiadaan keluarga inti karena sudah meninggal. Di sisi lain, ada pula penyebab yang sangat memprihatinkan tatkala lansia sengaja ditelantarkan karena keluarga mengganggap lansia hanya menjadi beban keluarga. Hal ini diperkuat dengan temuan Maryam, Rosidawati, Riasmini, & Suryati (2012) yang mengungkapkan bahwa sebanyak 52,2% keluarga merasa mengalami beban yang tinggi dalam merawat lansia. Kondisi-kondisi tersebutlah yang membuat lansia bisa sampai pada rumah pelayanan sosial milik pemerintah yang bersifat gratis. Menurut pekerja sosial di beberapa Panti Wredha, lansia yang ditelantarkan biasanya ditemukan di jalanan, ditinggalkan di rumah sakit atau dibiarkan menghuni rumah sendiri. Selain itu, terdapat pula keluarga yang secara langsung menitipkan lansia di yayasan sosial dan tidak pernah menghubungi mereka lagi.

Penelantaran atau neglect pada lansia adalah penolakan atau kegagalan untuk memenuhi kewajiban dalam bidang pengasuhan kepada lansia baik secara fisik maupun psikologis atau keduanya (Anthony, Lehning, Austin, & Peck, 2009). Neglect bisa bersifat aktif atau disengaja dan pasif atau tidak disengaja. Passive neglect didefinisikan sebagai situasi lansia yang dibiarkan sendiri, terisolasi, atau terlupakan. Active neglect didefinisikan sebagai pengurangan hal-hal yang diperlukan untuk kehidupan sehari-hari, seperti makanan, obat-obatan, dukungan sosial, dan perawatan tubuh (Hickey & Douglass, 1891).

(23)

informasi sementara yang peneliti dapatkan, lansia yang tinggal di salah satu panti wredha milik pemerintah hampir 95% tidak mendapat kunjungan dari keluarga sejak awal mereka tinggal di panti.

Penelantaran lansia mencerminkan minimnya dukungan sosial yang diberikan oleh anggota keluarga. Dukungan sosial yang seharusnya diterima lansia dari keluarganya berupa: dukungan emosional, informasi, instrumental, dan penghargaan (Friedman, 2014). Astuti (2010) menjelaskan jika lansia tidak mendapatkan dukungan sosial dari keluarga, mereka akan mengalami episode mayor dari depresi yang mengakibatkan perasaan tidak berdaya, rendah diri, melankolis, dan keinginan untuk bunuh diri. Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan Dong, Simon, Odwazny, & Gorbien (2008) yang mengemukakan bahwa abuse and neglect memiliki korelasi yang signifikan pada depresi. Depresi tersebut bisa saja berdampak pada tugas perkembangan yang dihadapi lansia. Hearn et al. (2012) mengungkapkan bahwa depresi memiliki korelasi yang signifikan dan positif dengan despair.

(24)

lebih mewarnai pengalaman lansia terlantar, ego-integrity atau despair? Untuk melihat hal tersebut peneliti berpatokan pada sembilan wilayah ego- integrity yang dipaparkan oleh Erikson. Penelitian ini dianggap penting karena diharapkan mampu menggambarkan bagaimana lansia terlantar menghadapi tahap perkembangannya. Jika lansia didominasi oleh aspek positif, lansia tersebut akan memiliki kepuasan hidup yang tinggi dan tingkat kecemasan yang rendah (Nehrke, Bellucci, & Gabriel, 1978). Sebaliknya, jika lansia didominasi oleh aspek negatif, lansia akan cenderung mengalami depresi berat tentang kekecewaan, kegagalan, dan kehilangan kesempatan berharga dalam hidup (Hearn et al., 2012).

Penelitian sebelumnya terkait dengan teori krisis psikososial Erikson pada tahap kedelapan cenderung berfokus untuk mengetahui keterkaitan antara krisis psikososial dengan aspek psikologis yang cukup familiar. Misalnya penelitian yang dilakukan oleh Nehrke et al. (1978) yang ingin melihat hubungan antara krisis psikososial Erikson pada tahap kedelapan (ego-integrity vs despair) dengan kecemasan, locus of control, dan kepuasan hidup. Selain penelitian tersebut, terdapat pula penelitian serupa yang dikaitkan dengan aspek psikologis yang lain seperti kepribadian dan kesehatan mental (Westerhof, Bohlmeijer, & McAdams, 2015) serta keterbukaan, persepsi terhadap kesehatan, status identitas ego, dan depresi (Hearn et al., 2012).

(25)

Hannich, 2011). Berbeda dengan penelitian lainnya, penelitian yang dilakukan oleh Darnley (1975) dan Smith & Nicolson (2011) justru memiliki ketertarikan untuk menggali lebih dalam suatu fenomena yang terjadi pada lansia seperti masa pensiun dan kehidupan lansia tunawisma. Lalu, terdapat pula penelitian tentang bagaimana penerapan teori wisdom mampu membantu lansia untuk menghadapi krisis psikososial Erikson tahap kedelapan (Clayton, 1975).

Dilihat dari segi desain, kebanyakan penelitian di atas menggunakan metode kualitatif dengan instrumen studi literatur (Darnley, 1975; Clayton, 1975; Peachey, 1992; Haber, 2006;). Hanya sebagian kecil penelitian yang menggunakan desain penelitian kualitatif dengan metode wawancara (Smith & Nicolson, 2011; Perry, Ruggiano, Shtompel, & Hassevoort, 2015). Lainnya, menggunakan desain penelitian kuantitatif (Nehrke et al., 1978; Wiesmann & Hannich, 2011; Hearn et al., 2012; Westerhof et al., 2015) yang secara umum ingin melihat hubungan antara ego-integrity vs despair dengan aspek psikologis terkait.

(26)

berminat (Wiesmann & Hannich, 2011; Hearn et al., 2012; Westerhof et al., 2015).

Ditinjau dari segi lokasi, lebih banyak penelitian mengenai krisis psikososial tahap kedelapan dilakukan di luar negeri, seperti Amerika Serikat (Clayton, 1975; Darnley; Perry et al., 1975; Nehrke et al., 1978; Haber, 2006), Skotlandia (Smith & Nicolson, 2011), Jerman (Wiesmann & Hannich, 2011), Kanada (Hearn et al., 2012), dan Belanda (Westerhof et al., 2015). Peneliti belum menemukan penelitian dengan topik sejenis di Indonesia. Beberapa penelitian mengenai lansia di Indonesia lebih banyak meneliti perbedaan kondisi lansia yang tinggal di rumah dengan panti sosial seperti penelitian yang dilakukan oleh Saputri dan Indrawati (2011) dan Yuliati, Baroya, dan Ririanty (2014).

Berdasarkan tinjauan pustaka yang telah dipaparkan, penulis menemukan beberapa defisiensi. Pertama, penelitian untuk mengeksplorasi dan mendeskripsikan pengalaman lansia terlantar dalam menghadapi krisis psikososial tahap kedelapan belum pernah dilakukan di Indonesia. Kedua, memang sudah cukup banyak penelitian dengan topik sejenis dilakukan di luar negeri, namun belum ada penelitian yang menggunakan lansia terlantar sebagai fokusnya. Ketiga, dari segi desain penelitian terdahulu lebih banyak menggunakan desain penelitian kualitatif dengan metode studi literatur sehingga kurang dapat memaparkan fenomena yang ingin diteliti.

(27)

di di Rumah Pelayanan Sosial Lanjut Usia Terlantar Budhi Dharma Yogyakarta. Maka, untuk meneliti hal tersebut peneliti menggunakan desain penelitian kualitatif dengan metode pengambilan data wawancara semi terstruktur. Setelah itu, data tersebut akan dianalisis menggunakan analisis isi kualitatif (AIK), menggunakan pendekatan deduktif, yaitu analisis terarah dengan cara mengumpulkan data wawancara menjadi satu untuk kemudian ditafsirkan dengan memberikan koding yang telah ditetapkan di awal berdasarkan kriteria koding yang dikembangkan dari teori krisis psikososial tahap ke 8 Erikson (ego-integrity vs despair).

B. Pertanyaan Penelitian

Bagaimana pengalaman lansia yang ditelantarkan oleh keluarga dalam menghadapi krisis psikososial? Apakah lebih diwarnai oleh ego-integrity yang meliputi: aadaptasi dengan keberhasilan dan kegagalan, bspiritualitas, cpenerimaan masa lalu, dmentoleransi dan menerima orang lain, epenghargaan diri dalam sejarah hidupnya, fketiadaan kecemasan akan kematian, gkebebasan dari kekhawatiran akan kehabisan waktu dalam hidup, hintegrasi emosi, ikepuasan hidup atau lawan dari hal tersebut yang akan menuntun lansia pada kondisi despair?

C. Tujuan Penelitian

(28)

pengalaman-pengalaman mereka dalam menghadapi krisis psikososial tahap kedelapan (ego-integrity vs despair).

2. Mengeksplorasi dan mendeskripsikan faktor-faktor yang menentukan berhasil atau gagalnya lansia dalam menghadapi krisis psikososial tahap kedelapan (ego-integrity vs despair).

D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoretis

Secara teoritis, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi kontribusi baru dalam bidang psikogerontologi, berupa kajian mengenai pengalaman lansia terlantar dalam menghadapi krisis psikososial tahap kedelapan (ego-integrity vs despair).

2. Manfaat Praktis

(29)

memasak. Beberapa aktivitas tersebut menjadikan lansia memiliki perasaan berharga akan dirinya di masa tua.

3. Manfaat Kebijakan

(30)

12

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Pada bagian ini, pertama-tama penulis akan menjelaskan mengenai konsep tahap perkembangan psikososial Erikson secara umum. Kemudian, penulis akan menerangkan tahap perkembangan psikososial pada lansia secara lebih spesifik. Penulis juga akan menjelaskan mengenai dukungan sosial keluarga bagi lansia terlantar dan kaitannya dengan proses menghadapi krisis psikososial pada lansia. Lalu dilanjutkan dengan penjelasan mengenai lansia terlantar, khususnya sebagaimana dimaksud dalam penelitian ini dan bagaimana karakteristiknya. Pada bagian akhir, peneliti akan menyajikan kerangka konseptual penelitian.

A. Tahap Perkembangan Psikososial Erikson

Teori dari Erikson tentang perkembangan manusia dikenal dengan istilah perkembangan psikososial yang melibatkan faktor biologis, psikologis, dan sosial (Erikson, 1989). Dalam teori perkembangan psikososial ini, Erikson memberi perhatian lebih kepada ego dari pada id dan superego. Erikson mengembangkan ide-ide khususnya terhadap perkembangan dan peran sosial terhadap pembentukan ego.

(31)

Krisis merupakan suatu konflik yang berlawanan antara aspek positif dan negatif yang ditandaskan Erikson dengan istilah versus misalnya industry vs inveriority (Erikson, 1989). Konflik psikososial di setiap tahap hasilnya akan mempengaruhi perkembangan ego. Apakah akan didominasi oleh kemenangan aspek positif yang akan memberi ego sifat baik (basic strength), atau sebaliknya dimana perkembangan ego lebih dikuasai oleh aspek negatif. Kedua konflik ini tidak boleh dipahami sebagai dua hal yang bertentangan. Meskipun demikian, suatu perkembangan yang ideal akan lebih baik jika didominasi oleh aspek positif dibandingkan dengan aspek negatif (Erikson, 1989). Jika aspek positif lebih mendominasi, maka seseorang dikatakan berhasil dalam menghadapi krisis psikososial dalam tahap tertentu. Dasar dari teori ini adalah sebuah konsep yang mempunyai tahapan bertingkat dan berjalan sesuai prinsip epigenetik. Prinsip Epigenetik menjelaskan bahwa suatu bagian komponen muncul dari bagian komponen sebelumnya dan memiliki waktunya sendiri untuk muncul, namun tidak sepenuhnya menghilangkan komponen-komponen sebelumnya (Erikson, 1989).

B. Krisis Psikososial Pada Lansia

(32)

perasaan “enduring wholenes” atau keutuhan abadi (1963, dalam Parker, 2013; Westerhof, Bohlmeijer, & McAdams, 2015). Sebaliknya, despair adalah kesulitan untuk mengintegrasikan masa lalu, saat ini, dan masa depan menjadi sebuah arti yang utuh (Erikson, 1968). Erikson (1989) mendeskripsikan seseorang yang mengalami despair adalah mereka yang tidak dapat menyetujui dan menerima kehidupannya yang konkret. Mereka cenderung menyesali setiap hal yang terjadi dan merasa putus asa.

Terhindar dari kondisi despair akan menuntun lansia pada pencapaian ego-integrity sehingga membawa lansia pada kedamaian hidup yang bermakna.

Artinya, bagi mereka kenangan dan pengalaman masa lalu adalah suatu sejarah yang tidak dapat diubah. Lansia yang mencapai ego-integrity jarang mengalami depresi, mampu menerima kesedihan, duka cita, dan kehilangan. Selain itu, mereka juga memiliki relasi sosial yang baik serta sering terlibat dalam kegiatan sosial (Hearn et al., 2012).

(33)

atau sebaliknya (despair). Oleh karena itu, dalam penelitian ini peneliti mencoba untuk memparafrasekan dasar-dasar wilayah ego-integrity yang dipaparkan oleh Erikson (Santor & Zuroff, 1994) sehingga mampu memberikan gambaran mengenai dasar-dasar dari wilayah tersebut. Berikut ini adalah definisi dari 9 wilayah tersebut yang dikutip dari buku dan jurnal yang membahas tentang teori psikososial Erikson.

1. Adapting to thriumps and disappointments atau kemampuan untuk beradaptasi dengan keberhasilan dan kegagalan

(34)

Kemudian, adaptasi pasif (adjustment) adalah bagaimana individu menyesuaikan diri sesuai dengan lingkungan saat itu (Hoare, 2002). Misalnya, seseorang yang menyesuaikan diri dengan situasi lingkungan kerja yang baru. Individu yang memiliki kecenderungan mampu untuk beradaptasi dengan lingkungan akan mengarah pada kondisi ego-integrity (Hoare, 2002). Namun sebaliknya, tatkala orang tersebut tidak mampu untuk melakukan adaptasi baik itu secara aktif maupun pasif maka ia akan terjerumus dalam kondisi despair.

2. Spirituality atau spiritualitas

Spirituality atau spiritualitas adalah perasaan akan keberadaan Tuhan dalam diri masing-masing individu. Erikson menyatakan bahwa individu yang sehat adalah mereka yang memiliki kecenderungan spiritualitas (Hoare, 2002). Dalam pemikiran Erikson, orang yang dewasa secara spiritual merasakan Tuhan dalam beberapa cara. Misalnya, bagi seseorang, Tuhan bukan hanya roh yang berada di luar keterbatasan ruang dan waktu di dunia, tapi merupakan sebuah cahaya inti dalam dirinya. Roh ini adalah kekuatan yang menggerakkan mereka. Di sisi lain, ada juga yang mengatakan bahwa roh adalah kehadiran yang nyata dalam diri mereka, dalam diri orang lain, dan di dalam dinamika pertemuan seseorang dengan orang lain. Hal lainnya lagi, dapat dicontohkan dari kehidupan Erikson di masa paruh baya, ia melihat tangan Tuhan melalui kehidupannya sendiri. Dalam bukunya, Erikson (Hoare, 2002) menulis (hope is an “attitude” that represents the revelation of creation in one life now nearly complete, a simple

sense that the created life “is good,” as in “and he saw that it was good”).

(35)

dalam satu kehidupan yang hampir selesai, perasaan sederhana bahwa

kehidupan yang diciptakan “baik” seperti dalam “dia melihat bahwa itu baik”).

Peneliti menyimpulkan makna yang terkandung dalam kutipan tersebut mencerminkan bahwa spiritualitas menurut Erikson adalah bagaimana individu dapat memaknai kehidupannya secara positif dalam konteks kerohanian atau keyakinan akan keterlibatan Tuhan dalam setiap prosesnya. Singkatnya, segala yang terjadi adalah campur tangan Tuhan yang menggiring kita pada sesuatu yang baik dalam kehidupan.

Seseorang dengan kecenderungan spiritualitas tinggi mampu menyelesaikan persoalan yang terjadi secara positif. Mereka mengembangkan arti penderitaan sebagai suatu hikmah positif dari kejadian yang dialami. Spiritualitas menuntun individu pada rasa keberhargaan diri, kehidupan terarah yang terlihat melalui harapan, serta mampu mengembangkan hubungan antar manusia yang positif dan menciptakan rasa syukur kepada Tuhan (Hamid, 2008). Kondisi ini akan menuntun seseorang pada ego-integrity.

Sebaliknya, jika individu memaknai suatu penderitaan sebagai hal negatif serta tidak mampu mensyukuri apa yang diberikan Tuhan, mereka akan terjerumus pada kondisi despair. Mereka cenderung tidak mampu menghargai

kehidupan yang diberikan oleh Tuhan sebagai sesuatu yang “baik” adanya.

3. Accept the past as meaningful atau menerima masa lalu sebagai sesuatu yang berarti

(36)

mampu menerima masa lalunya memiliki perasaan positif tentang masa lalu tanpa memiliki perasaan negatif atau mengecewakan yang berlebihan. Hal ini bukan berarti tidak punya pengalaman negatif, mereka sangat mungkin mengalami kekecewaan, tetapi secara keseluruhan mereka dapat menerimanya. Bagi mereka, pengalaman negatif tidak lagi mengkhawatirkan atau mengganggu kehidupan mereka saat ini. Dihipotesiskan bahwa menerima masa lalu mewakili satu sumber atau penentu tercapainya ego-integrity (Santor & Zuroff, 1994).

Sebaliknya, individu yang tidak dapat menerima masa lalu lebih fokus pada satu atau lebih peristiwa yang menjelaskan mengapa mereka tidak dapat menerima masa lalu. Bagi mereka, masa lalu membawa lebih banyak rasa sakit daripada kesenangan. Ada hal-hal di masa lalu yang harus diperbaiki untuk benar-benar memperoleh kebahagiaan. Selain itu, bagi mereka, ada beberapa kekecewaan dalam masa lalu yang tidak akan pernah bisa diterima. Individu yang tidak menerima masa lalu sebagai sebagai satu hal yang memuaskan cenderung mengalami gejala depresif yang lebih kuat yang dapat menjerumuskan mereka pada kondisi despair (Santor & Zuroff, 1994).

4. Tolerance and acceptance of others atau mentoleransi dan menerima kehadiran orang lain tanpa melihat pebedaan yang ada

Istilah toleransi adalah istilah modern yang berasal dari bahasa Latin, yaitu tolerantia, yang artinya kelonggaran, kelembutan hati, keringanan dan kesabaran.

(37)

Poerwadarminta yang mengungkapkan bahwa toleransi menurut istilah berarti menghargai, membolehkan, membiarkan pendirian pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan dan sebagainya yang lain atau yang bertentangan dengan pendirinya sendiri, misalnya agama, ideologi, ras (Poerwadarminta, 1984).

Selanjutnya, menurut Rogers (1979, dalam Pancawati, 2013) penerimaan merupakan sikap seseorang yang menerima orang lain apa adanya secara keseluruhan, tanpa adanya suatu persyaratan ataupun penilaian. Seseorang yang mampu menerima orang lain cenderung memiliki anggapan bahwa orang lain adalah sesuatu yang berhaga.

Seseorang dapat mentolerir (tolerance) sesuatu tanpa harus menerimanya (acceptance), tetapi seseorang tidak dapat menerima (acceptance) sesuatu tanpa menolerirnya (tolerance). Misalnya, ketika seorang anak memberi tahu orang tua tentang pilihan karier pasangan perkawinan, atau identitas seksual yang tidak diinginkan, dia menginginkan informasi itu tidak hanya ditoleransi, tetapi untuk diterima (Fish, 2014). Individu yang cenderung mampu untuk memberikan toleransi dan menerima orang lain sepenuhnya akan menggiringnya pada kondisi ego-integrity. Sebaliknya, ketika mereka tidak mampu untuk melakukannya, maka

akan terjerumus pada kondisi despair.

5. A sense of being part of a larger history that includes previous generations

atau perasaan menjadi bagian berharga di masa lalu

(38)

bagian yang sangat berguna di masa-masa sebelumnya bagi orang-orang di sekitarnya. Hal ini membantu lansia menyadari bahwa walaupun sekarang mereka sudah tidak bisa melakukan banyak hal karena keterbatasan kondisi fisik, ia tetap memiliki perasaan bahwa dulu ia telah melakukan sesuatu yang berharga bagi dirinya dan sekarang waktunya untuk beristirahat. Peneliti mencoba untuk menggambarkan kondisi tesebut seperti:“Dulu saya sudah berusaha sekuat tenaga membangun usaha yang saya rintis, dan saat ini saya bangga bisa

mewariskan usaha tersebut kepada anak saya”.

Di sisi lain, ada lansia yang selalu menganggap dirinya tidak berguna dan hanya bisa merepotkan sanak keluarga. Mereka memilih untuk mengasingkan diri karena enggan meminta pertolongan. Kondisi ini membuat lansia kesepian karena ia menarik diri dari lingkungan sebab tidak mau merepotkan lingkungan tersebut. Ketika hal ini terus berlanjut, maka lansia akan terjerumus dalam kondisi despair (Santor & Zuroff, 1994).

6. Absence of death-anxiety atau bebas dari perasaan takut akan kematian

(39)

kematian akan didominasi oleh rasa takut dan kecemasan yang tinggi ketika membicarakan soal kematian atau kondisi sakit yang berpotensi mengalami kematian (Templer, 1970; Cai, Tang, Wu, & Li, 2017).

Sebagai contoh, seseorang yang mengalami kecemasan akan kematian memiliki rasa takut saat memikirkan harus menjalani operasi karena khawatir operasi tersebut akan berujung pada kematian (Templar, 1970). Templar (1970) juga menyatakan takut dan kekhawatiran juga cenderung akan muncul ketika mendengar pembicaraan yang berhubungan dengan kematian atau menyaksikan pemandangan mayat pada acara kedukaan. Selain itu, mereka cenderung sering merasa tertekan oleh waktu yang berlalu dengan sangat cepat. Rasa takut akan kematian merupakan salah satu komponen dari keputusasaan atau despair (Santor & Zuroff, 1994). Sebaliknya, kebebasan seorang individu dari kondisi kecemasan akan kematian akan merujuk pada kecenderungan tercapainya kondisi ego-integrity. Seseorang yang berada dalam kondisi ego-integrity cenderung tidak memiliki ketakutan dalam menghadapi kematian. Bagi mereka, masa depan bukanlah suatu hal yang harus ditakutkan, termasuk kematian. Bagi mereka, memikirkan kematian bukanlah sesuatu yang mengganggu bahkan mereka sangat jarang memikirkannya.

7. Freedom from the feeling that time is running out atau bebas dari perasaan bahwa waktu yang dimiliki untuk hidup hampir habis

(40)

berjuang untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Perasaan puas di hari tua menggambarkan bahwa secara keseluruhan seseorang telah mampu mencapai harapan-harapan yang diinginkan. Perasaan puas di masa tua membebaskan lansia dari perasaan kehabisan waktu dalam hidupnya dan akan menggiring mereka pada kondisi ego-integrity.

Sebaliknya, lansia yang terperosok dalam kondisi despair dalam wilayah ini cenderung merasakan bahwa sisa waktu yang dimiliki sudah hampir habis dan berjalan cepat. Perasaan ini muncul diduga disebabkan oleh keinginan seseorang untuk melakukan sesuatu yang belum tercapai selama hidunya. Lansia yang masih cenderung diselimuti oleh harapan yang belum tercapai diduga akan menimbulkan dilema sebab penurunan kondisi fisik yang dialami (Santor & Zuroff, 1994). 8. Emotional Integration atau integrasi emosi

Erikson menekankan Emotional Integration atau integrasi emosional sebagai kunci penting untuk keberhasilan aging (1963, dalam Sternberg & Jordan, 2005). Integrasi emosional adalah suatu proses dimana seseorang dapat sepenuhnya merasakan, memahami, dan merespon emosi secara tepat. Definisi ini selaras dengan apa yang diungkapkan oleh Weiss (2018), dalam artikelnya. Ia

menulis, “If we are emotionally mature adults we are able to feel our emotions,

acknowledge them, and take responsibility for their appropriate expression in a

way that still leaves us feeling whole”. Artinya, “jika kita dewasa secara

emosional, kita mampu merasakan emosi kita, mengakuinya, dan merespon

secara tepat dengan ekspresi yang sesuai sehingga membuat diri kita tetap

(41)

Paul Ekman mengklasifikasikan emosi dasar manusia ke dalam enam jenis: senang, sedih, terkejut, marah, takut, dan jijik (Ekman, 1992). Ketika individu mampu merasakan perbedaan emosi tersebut dan meresponnya secara tepat maka ia dikatakan mampu mengintegrasikan emosinya, sehingga mereka akan mengarah pada kondisi ego-integrity. Sebaliknya, ketika individu cenderung tidak mampu mengeluarkan atau tidak mengakui emosi yang dirasakan maka mereka tidak mampu merespon emosi tersebut secara tepat, sehingga berujung pada rasa tidak puas yang akan menuntun seseorang pada kondisi despair.

9. Life Satisfaction atau kepuasan hidup

Kepuasan hidup adalah sejauh mana seseorang secara positif mengevaluasi kualitas hidupnya. Dengan kata lain, seberapa banyak orang menyukai kehidupan yang ia jalani (Saris, Veenhoven, Scherpenzeel, & Bunting,1996). Kepuasan hidup melambangkan kriteria menyeluruh atau hasil akhir dari pengalaman manusia. Kepuasan hidup adalah penilaian menyeluruh dari perasaan dan sikap seseorang tentang kehidupan (Andrew, 1974, dalam Prasoon & Chaturvedi, 2016). Neugarten, Havighurst, & Tobin (1965) menyebut Life Satisfaction sebagai

“definisi operasional dari penuaan yang berhasil”. Semakin positif lansia menilai

kualitas hidupnya secara keseluruhan, maka ia akan berhasil mencapai ego-integrity. Ungkapan-ungkapan yang biasanya muncul pada individu yang

memiliki Life Satisfaction tinggi seperti, saya merasa apa yang terjadi dalam hidup secara keseluruhan dekat/mirip dengan cita-cita saya, kondisi hidup saya

sangat baik, saya puas dengan hidup saya, sejauh ini saya telah mendapatkan

(42)

ada yang ingin saya ubah (Diener, Emmons, Larsen, Griffin, 1985). Sebaliknya,

jika seseorang memiliki kecenderungan negatif dalam memaknai kehidupan secara menyeluruh, maka hal ini akan menjerumuskan seseorang dalam kondisi despair (Liang, 1984; Woods & Witte, 1981).

Baik kondisi ego-integrity yang mendominasi atau sebaliknya (despair), semua kondisi tersebut merupakan hasil akumulasi dari seluruh pengalaman fase hidup saat lansia tua dan fase hidup sebelumnya. Menurut Erikson, setiap tahap krisis psikososial secara sistematis dihubungkan dengan tahapan pada krisis psikososial sebelumnya. Artinya, ketika integrity dan despair berada di tahap ke 8, maka integrity dan despair akan dipengaruhi pula oleh tahap sebelumnya (tahap 1-7). Dapat ditarik kesimpulan, kondisi integrity dan despair merupakan akumulasi dari pengalaman yang berada di tahap 1-7 ditambah dengan pengalamannya berada di tahap ke 8. Dengan kata lain, kondisi integrity dan despair merupakan kondisi dari akumulasi seluruh pengalaman semasa orang tersebut menjalani kehidupannya.

C. Dukungan Sosial Keluarga Bagi Lansia dan Kaitannya Dengan Proses Menghadapi Krisis Psikososial Pada Lansia

(43)

berinteraksi satu sama lain (Salamah, 2005; Hurlok dalam Hutapea, 2011; Asmaningrum, Wijaya, & Permana, 2014). Perubahan kondisi fisik, sosial, dan psikologis ini akan menentukan apakah lanjut usia akan melakukan penyesuaian sosial yang baik atau buruk. Menurut Hurlock, lanjut usia memiliki kecenderungan penyesuaian diri yang buruk dari pada yang baik dan pada kesengsaraan daripada kebahagiaan (Hutapea, 2011).

Hadirnya dukungan sosial keluarga mampu membantu lansia tetap meraih ego-integrity di tengah deraan kemunduran fisik dan psikis yang dialaminya.

Dukungan sosial terdekat yang dapat membantu lansia dalam mengatasi permasalahan tersebut adalah bersumber dari keluarga (Prabasari, Juwita, & Maryuti, 2015). Keluarga dari lansia meliputi keluarga dekat, yaitu suami, istri, dan anak, lalu keluarga besar, seperti saudara kandung dan kerabat. Keluarga dekat memiliki fungsi sebagai dukungan sosial utama untuk lansia di saat mereka berada dalam kondisi membutuhkan pertolongan (Shanas, 1979). Sementara itu, keluarga besar berfungsi sebagai penghubung utama lansia ke masyarakat (Shanas, 1979). Shanas (1979) juga menjelaskan lebih lanjut bahwa hal terpenting yang diperlukan oleh lansia adalah keteraturan untuk dikunjungi dan perhatian yang berkelanjutan dari keluarga besar maupun kecil yang masih ada sebagai ungkapan dukungan sosial.

(44)

dalam Jafar, Wiarsih, & Permatasari, 2011). Lansia memerlukan dukungan sosial untuk meningkatkan motivasi dan rasa percaya diri untuk menghadapi penurunan dan perubahan yang terjadi (Suryono, 2013).

D. Lansia Terlantar Penghuni Rumah Pelayanan Sosial

Banyak keluarga besar maupun kecil yang tidak mampu memberikan dukungan sosial yang baik pada lansia antara lain karena menganggap kehadiran lansia hanyalah menambah beban keluarga. Hal ini diperkuat dengan temuan Maryam et al. (2012) yang mengungkapkan bahwa sebanyak 52,2% keluarga merasa mengalami beban yang tinggi dalam merawat lansia. Oleh karena itu, masyarakat cenderung memilih membawa lansia ke panti jompo daripada mengurus di rumah sendiri. Namun, karena biaya menitipkan lansia di panti jompo terbilang mahal, maka tidak sedikit lansia ditelantarkan begitu saja oleh orang terdekat mereka.

Neglect atau penelantaran pada lansia didefinisikan sebagai penolakan atau kegagalan untuk memenuhi kewajiban dalam bidang pengasuhan kepada lansia secara fisik maupun psikologis, ataupun keduanya (Anthony et al., 2009). Neglect dapat bersifat aktif atau disengaja, dan pasif atau tidak disengaja. Passive

neglect adalah situasi dimana lansia dibiarkan hidup sendiri, terisolasi, atau terlupakan. Di sisi lain, Active neglect merupakan pengurangan hal-hal yang diperlukan untuk kehidupan sehari-hari, seperti makanan, obat-obatan, dukungan sosial, dan perawatan tubuh (Hickey & Douglass, 1891).

(45)

dan psikologis pada lansia. Minimnya dukungan sosial pada lansia akan membawa lansia pada penyesuaian diri yang negatif untuk menghadapi permasalahan tersebut. Sebagai contoh, penurunan kondisi fisik seperti: postur tubuh lansia mulai berubah bungkuk, kondisi kulit mulai kering dan keriput, daya ingat mulai menurun, kondisi pendengaran dan penglihatan terganggu yang terkadang membuat lansia tidak percaya diri jika harus berinteraksi dengan orang lain sehingga mereka menarik diri dari lingkungan sosial (Santrock, 2002). Penarikan diri dari lingkungan sosial akan menggiring lansia pada kesepian (loneliness) yang akan berujung pada depresi. Kondisi ini diduga mampu menghambat proses lansia menghadapi krisis psikososialnya, yaitu untuk mencapai ego-integrity (Hearn et al., 2012).

(46)

E. Kerangka Konseptual

Menurut Erikson, setiap tahap perkembangan manusia ditandai oleh tugas perkembangan yang berbeda-beda. Tugas perkembangan dalam setiap tahap adalah menghadapi suatu krisis yang Erikson sebut sebagai krisis psikososial (Erikson, 1989). Pada penelitian ini, peneliti ingin mengeksplorasi dan mendeskripsikan pengalaman lansia terlantar menghadapi krisis psikososial. Subjek yang digunakan dalam penelitian ini adalah beberapa lansia yang tinggal di Rumah Pelayanan Sosial Lanjut Usia Terlantar Budhi Dharma Yogyakarta dengan rentang usia 65 tahun ke atas. Penelantaran atau neglect pada lansia adalah penolakan atau kegagalan untuk memenuhi kewajiban dalam bidang pengasuhan kepada lansia baik secara fisik maupun psikologis atau keduanya (Anthony et al., 2009).

Krisis pada satu tahap yang dihadapi oleh lansia terlantar merupakan hasil akumulasi pengalaman dari tahap-tahap sebelumnya. Lansia usia 65 tahun ke atas berada dalam tahap ke 8 perkembangan psikososial Erikson. Krisis psikososial tahap ke 8 adalah (kendati) merupakan hasil akumulasi pengalaman sebelumnya, diduga kondisi terlantar tetap berpengaruh pada cara lansia menghadapi krisis psikososial. Krisis psikososial yang harus dihadapi oleh lansia adalah ego-integrity vs despair, dimana ego-integrity sebagai aspek positif dan despair

(47)

kehidupannya yang konkret. Mereka cenderung menyesali setiap hal yang terjadi dan merasa putus asa (Erikson, 1989). Kondisi ego-integrity ataupun despair yang terjadi pada lansia merupakan akumulasi pengalaman hidup dari tujuh tahap sebelumnya.

Untuk mengeksplorasi bagaimana pengalaman lansia menghadapi krisis psikososial tahap kedelapan, peneliti menggunakan kriteria ego-integrity menurut Erikson, meliputi: 1) Adapting to thriumps and disappointments, 2) Spirituality, 3) Accept the past as meaningful, 4) Tolerance and acceptance of others, 5) A sense of being part of a larger history, 6) Absence of death-anxiety, 7) Freedom

from the feeling that time is running out, 8) Emotional Integration 9) Life

Satisfaction. Jika pengalaman didominasi oleh lawan dari 9 hal di atas, maka

lansia akan terperosok pada despair. Agar dapat memudahkan melihat kerangka berpikir peneliti, berikut adalah gambar kerangka konseptual dalam penelitian ini.

Gambar 1. Kerangka konseptual penelitian Krisis Psikososial

Pada lansia terlantar

Ego-Integrity (+)

Despair (-) Negasi dari 9 wilayah Ego-integrity 1. Adapting to thriumps and

disappointments 2. Spirituality

3. Accept the past as meaningful 4. Tolerance and acceptance of others 5. A sense of being part of a larger

history

6. Absence of death-anxiety

7. Freedom from the feeling that time is running out

(48)

30

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Desain Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif ialah penelitian yang mencoba mendeskripsikan dan menafsirkan aneka pengalaman orang atau kelompok orang sebagaimana orang-orang itu sendiri menghadapi, menggeluti, dan menghayati aneka situasi kehidupan (Supratiknya, 2018). Desain penelitian ini menggunakan analisis isi kualitatif (AIK) dengan pendekatan deduktif terarah, yaitu metode penelitian untuk menafsirkan data berupa teks secara subjektif melalui proses klasifikasi sistematik berupa coding atau pengkodean dan pengidentifikasian aneka tema dan pola (Hsieh & Shannon, 2005, dalam Supratiknya, 2015). Peneliti memilih pendekatan deduktif terarah karena pendekatan ini cocok diterapkan ketika sudah ada teori maupun hasil-hasil penelitian sebelumnya mengenai suatu fenomena (Supratiknya, 2015). Dalam penelitian ini, peneliti mencoba untuk memahami dunia responden berdasarkan pemaknaan idiosinkratik sebagai „personal life world‟ atau pengalaman pribadi tentang bagaimana para lansia terlantar menghadapi krisis psikososial tahap kedelapan, dengan menggunakan teori Erikson sebagai kerangka analisis. Apakah didominasi oleh Ego-integrity atau sebaliknya, yaitu despair.

(49)

sudut pandang mereka. Metode pengambilan data dalam penelitian ini adalah wawancara semi terstruktur, dengan satu pertanyaan wawancara utama di setiap wilayah-wilayah Ego-Integrity diikuti beberapa kemungkinan pertanyaan tambahan dalam rangka probing jika diperlukan. Analisis data diawali dengan mentranskripkan data lisan atau rekaman elektronik menjadi teks tertulis atau dokumen. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan deskripsi yang padat dan kaya tentang fenomena yang diteliti (Supratiknya, 2015).

B. Fokus Penelitian

Fokus dalam penelitian ini adalah pengalaman lansia terlantar dalam menghadapi krisis psikososial. Penelantaran adalah penolakan atau kegagalan keluarga kecil ataupun besar untuk memenuhi kewajiban dalam bidang pengasuhan kepada lansia baik secara fisik maupun psikologis atau keduanya (Anthony et al., 2009).

(50)

Pengalaman-pengalaman tersebut akan diungkap menggunakan kriteria Ego-integrity menurut Erikson yang meliputi: (1) Adapting to triumphs and disappointments (mampu beradaptasi dengan keberhasilan dan kegagalan dalam

proses mencapai tujuan), (2) Spirituality (hubungan individu dengan perasaan akan keberadaan Tuhan atau eksistensi Tuhan), (3) Accept the past as meaningful (menerima masa lalu sebagai sesuatu yang berarti; mereka tidak mengalami penyesalan, rasa bersalah, atau ketidakpuasan dengan kehidupan yang dijalani secara umum), (4) Tolerance or acceptance of others (menerima dan mentoleransi kehadiran orang lain), (5) A sense of being part of a larger history that includes previous generations (perasaan telah menjadi bagian yang berharga

dalam sejarah termasuk generasi sebelumnya), (6) Absence of death-anxiety (ketiadaan kecemasan atau rasa takut akan kematian), (7) Freedom from the feeling that time is running out (bebas dari perasaan akan kehilangan banyak hal

dalam hidup karena waktu yang dimiliki di dunia telah sedikit), (8) Emotional integration (integrasi emosional), (9) Satisfaction with life (kepuasan hidup) (Santor & Zuroff, 1994). Jika yang terjadi adalah lawan dari 9 hal di atas, maka lansia akan terperosok ke dalam keputusasaan atau despair.

C. Partisipan

(51)

bersifat gratis dan berada di bawah naungan Dinas Sosial Pemerintah Kota Yogyakarta. Infrastruktur yang dimiliki Rumah pelayanan sosial ini terbilang cukup baik. Didalamnya terdapat 5 wisma yang setiap wisma dihuni oleh 5-6 lansia dan setiap lansia mendapatkan kamar dengan fasilitas seperti tepat tidur, lemari pakaian, dan ruang TV bersama. Rumah pelayanan ini memiliki waktu besuk di hari Jumat, Sabtu, dan Minggu. Meskipun demikian, petugas rumah pelayanan tersebut mengatakan bahwa intensitas pengunjung yang ingin melihat kondisi orang tuanya sangat jarang. Bahkan hampir 95% lansia yang tinggal di tempat ini belum pernah dikunjungi oleh sanak saudara mereka.

Kapasitas rumah pelayanan ini adalah 60 orang sedangkan lansia yang di lokasi saat ini sebanyak 58 orang. Sebanyak 28 lansia yang tinggal di rumah pelayanan sosial ini sudah tidak mampu untuk melakukan aktivitas secara mandiri sehingga membutuhkan dampingan perawat sepenuhnya. Lansia yang berada dalam kondisi ini tinggal di ruang isolasi. Tiga puluh (30) orang lainnya adalah lansia yang masih mampu melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri misalnya makan sendiri, membersihkan kamar dan mencuci pakaian.

(52)

Lansia penghuni rumah pelayanan sosial tersebut terlantar karena beberapa hal seperti, tidak memiliki keluarga kecil (meninggal), ketidakmampuan keluarga untuk merawat karena kesulitan ekonomi, dan tidak mengetahui keberadaan keluarganya. Berdasarkan gambaran umum tersebut, peneliti mendapati seluruh lansia penghuni panti yang berjumlah 58 orang masuk dalam kriteria umum partisipan yang dibutuhkan dalam penelitian ini.

Dalam keterlibatan penelitian ini, pihak panti menyarankan peneliti untuk menggunakan lansia yang tergolong masih mampu melakukan aktivitas untuk menjadi partisipan penelitian ini. Dari 30 lansia tersebut peneliti menggunakan 4 orang lansia sebagai partisipan penelitian dengan kriteria khusus yang telah ditetapkan. Pemilihan sampel ini dilakukan secara criterion-based atau berdasarkan kriteria tertentu (Morrow, 2005; dalam Supratiknya, 2018). Kriteria yang dimaksud adalah memiliki kemampuan komunikatif dan pendengaran yang baik serta lafal pengucapan yang cukup jelas. Hal ini dilakukan untuk menghindari kemungkinan-kemungkinan ucapan yang tidak dipahami oleh peneliti dan partisipan. Proses ini dilakukan dengan melakukan pra-wawancara (wawancara pendahuluan) pada lansia yang tinggal di panti secara acak.

(53)

Tabel 1

Data Diri Partisipan

Inisial MG MS MT MZ

Jenis Kelamin

Laki-laki Laki-laki Perempuan Perempuan

Usia

Temanggung Yogyakarta Surabaya Yogyakarta

Pendidikan Pendidikan Guru

SMA Perawat SMP

D. Peran Peneliti

(54)

Peneliti tidak memiliki kaitan apapun dengan partisipan maupun dengan lokasi penelitian. Peneliti memilih Rumah Pelayanan Sosial Lanjut Usia Terlatar Budhi Dharma Yogyakarta sebagai lokasi penelitian karena peneliti merasa kriteria subjek yang diperlukan sesuai. Sebelum memutuskan hal tersebut, peneliti melakukan wawancara singkat dengan petugas sosial di panti tersebut. Setelah wawancara itu dilakukan, petugas sosial menyatakan bahwa kriteria subjek yang peneliti maksud sesuai dengan para lansia yang dirawat di situ. Peneliti memilih panti sebagai lokasi penelitian karena peneliti merasa bahwa panti merupakan tempat yang terkait dengan topik penelitian dan merupakan lokasi sehari-hari bagi partisipan menjalani hari tuanya. Maka dari itu, partisipan dapat lebih nyaman untuk menceritakan pengalamannya.

(55)

perasaan sedih akan ingatan masa lalu yang suram selama proses wawancara berlangsung.

Isu sensitif yang mungkin muncul terkait etika adalah terbongkarnya identitas partisipan. Untuk menanggulangi hal itu, semua data mengenai identitas partisipan akan diminimalisir, peneliti akan menggunakan inisial P1, P2, dan seterusnya.

E. Metode Pengambilan Data

Dalam penelitian ini, metode utama yang digunakan dalam pengambilan data adalah wawancara semi terstruktur dengan menggunakan daftar pertanyaan wawancara. Pertanyaan yang diajukan ialah pertanyaan terbuka. Pertanyaan terbuka digunakan supaya partisipan dapat lebih bebas mengutarakan pengalaman mereka tanpa dibatasi oleh bias peneliti atau temuan penelitian sebelumnya (Cresswel, 2012, dalam Supratiknya, 2015). Di dalam penelitian kualitatif, wawancara dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara (interviewee) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu (Meolong, 2015, dalam Supratiknya, 2015). Kemudian, peneliti akan merekam jawaban yang diberikan oleh partisipan lalu mentranskripsi dan menganalisis data yang diperoleh tersebut.

Metode ini dipilih karena peneliti dapat secara langsung bertatap muka secara personal dengan partisipan sehingga menghindari timbulnya rasa enggan atau malu dari partisipan ketika mengungkapkan pengalaman pribadinya.

(56)

pada partisipan yang didasarkan pada rumusan pertanyaan penelitian dan teori ego-integrity yang digunakan peneliti. Berikut adalah daftar pertanyaan yang digunakan dalam penelitian ini:

Pertanyaan pendahuluan Tabel 2

Pertanyaan Pendahuluan

No. Pertanyaan No. Pertanyaan

1 Keluarga mbah tinggal di mana? 6 Mbah merindukan mereka tidak?

2 Apakah mbah memiliki

suami/istri? Di mana sekarang? 7 Mbah dulu kerjaannya apa?

3 Apakah mbah memiliki anak? Di

mana mereka? 8 Sudah berapa lama disini mbah?

4 Siapa saja keluarga mbah yang

masih tersisa? 9

Mbah senang tidak tinggal di sini?

5 Mbah pernah dijenguk tidak? 10 Apakah mbah merasa ditelantarkan oleh keluarga?

No. Wilayah Ego-Integrity Pertanyaan Utama

1 Adapting to triumphs and

disappointments (mampu

beradaptasi dengan keberhasilan

 Mbah pernah

(57)

No. Wilayah Ego-Integrity Pertanyaan Utama

 Menurut mbah Tuhan itu apa?

- Coba ceritakan sejauh mana mbah dekat dengan Tuhan?

- Gimana biasanya mbah menyadari akan kehadiran Tuhan dalam hidup mbah?

3 Accept the past as meaningful

(menerima masa lalu sebagai

saja yang sudah mbah lalui semasa hidup?

- Coba ceritakan, pengalaman yang paling mbah ingat boleh cerita senang, ceita sedih, cerita kemarahan?

4 Tolerance or acceptance of

others (mentoleransi dan

menerima kehadiran orang lain

Coba ceritakan bagaimana relasi

(58)

No. Wilayah Ego-Integrity Pertanyaan Utama tanpa melihat perbedaan yang

ada)

mbah gimana? Boleh cerita pertemanan yang Bahagia, sedih, atau marah?

apakah mbah adalah seseorang yang berguna di masa lalu?

- Jika iya, pengalaman apa yang membuat mbah menjadi seseorang yang berharga?

- Kalau dulu kan mbah bisa melakukan sesuatu yang berharga itu (pengalaman berharga yang diceritakan) sekarang mbah kan udah sakit (kakinya, misal) mbah

7 Freedom from the feeling that

time is running out (bebas dari

perasaan akan kehilangan banyak hal dalam hidup karena waktu

Mbah punya keinginan yang belum

tercapai tidak?

(59)

No. Wilayah Ego-Integrity Pertanyaan Utama

 Mbah, apakah mbah pernah merasa

jengkel/marah/benci sama seseorang?

- Mbah sampai mukul gak? (Kalo engga) gimana cara mbah

mengontrol emosi negatif mbah itu? 9 Satisfaction with life (kepuasan

hidup)

 Mbah, secara umum, mbah puas

tidak dengan hidup mbah?  = pertanyaan utama

- = probing

Pertanyaan penutup

Apakah ada pengalaman yang ingin mbah ceritakan lagi?

F. Analisis dan Interpretasi Data

(60)

Analisis penelitian ini menggunakan pendekatan deduktif, yakni analisis isi terarah. Penelitian ini menghasilkan data berupa transkripsi dari hasil wawancara. Kemudian, data berupa transkripsi tersebut dianalisis melalui langkah-langkah sebagai berikut: (1) membaca secara berulang-ulang corpus data berupa transkripsi verbatim ungkapan responden yang dikumpulkan melalui wawancara semi terstruktur; (2) melakukan initial coding atau menemukan kode-kode berupa konsep-konsep tertentu dalam transkripsi verbatim secara induktif baris demi baris (inductive, line-by-line approach); (3) mengelompokkan kode-kode ke dalam tema-tema, yaitu sejenis konsep besar dengan cakupan isi yang lebih luas dibandingkan kode, dengan tujuan menemukan sejenis narasi analitik yang koheren dari keseluruhan corpus data; dan (4) memperhalus atau mempertajam analisis dengan cara menempatkan tema-tema dalam susunan hirarkis tertentu menjadi tema-tema dan sub-sub tema di bawah masing-masing tema; tema-tema dan sub-subtema tersebut selanjutnya diberi label atau nama, masing-masing subtema dilengkapi dengan kutipan-kutipan yang dicuplik dari transkripsi verbatim sebagai bukti atau pendukung; sehingga diperoleh narasi yang utuh tentang fenomen yang diteliti.

Tabel 4

Kerangka Analisis Pengalaman Lansia Terlantar dalam Menghadapi Krisis

Psikososial Tahap Kedelapan (Ego-Integrity vs Despair)

Wilayah Integrity Despair

Adapting to

thriumps and

disappointments

- Aktif: individu bergerak

(61)

Wilayah Integrity Despair

Spirituality - Yakin akan keberadaan Tuhan

(62)

Wilayah Integrity Despair

Life Satisfaction - Mengevaluasi

keseluruhan kualitas hidup secara positif

- Tidak memiliki kepuasan akan hidup yang dijalani

G. Penegakan kredibilitas dan dependabilitas penelitian

(63)

tema-tema. Peneliti membawa kembali kepada partisipan untuk mengetahui apakah tema-tema yang telah dirumuskan tersebut sudah akurat atau sesuai dengan diri partisipan. Kedua, peneliti menggunakan thick description, yaitu deskripsi mendalam dengan memaparkan secara rinci setting mulai dari latar belakang partisipan hingga kondisi lokasi penelitian dan dinamika ketika melakukan wawancara. Dengan cara itu, hasil-hasil penelitian menjadi lebih realistik dan dapat dipercaya (Supratiknya, 2015). Selain itu, dalam penelitian ini peneliti terlibat dan mengenal partisipan dalam waktu cukup lama (prolonged engagement). Peneliti juga menggunakan bantuan peer debriefer, yaitu review oleh teman sejawat untuk proses akurasi laporan penelitian.

(64)

46

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Pelaksanaan Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada akhir bulan Juni sampai awal bulan Oktober 2018. Pengambilan data menggunakan metode wawancara semi terstruktur dengan responden empat orang lansia terlantar yang tinggal di Rumah Pelayanan Sosial Lanjut Usia Terlantar Budhi Dharma Yogyakarta. Durasi wawancara bervariasi antara 1 jam sampai paling lama 2,5 jam. Rangkuman waktu dan tempat diadakan wawancara disajikan di tabel berikut ini.

Tabel 5

Waktu dan Lokasi Pelaksanaan Wawancara

B. Latar Belakang Partisipan dan Dinamika Proses Wawancara Wawancara dilakukan oleh peneliti dengan cara tatap muka langsung dengan partisipan. Sebelum wawancara dimulai, peneliti memaparkan secara garis besar mengenai penelitian dan beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh partisipan. Tiap partisipan juga telah menyetujui untuk berpartisipasi dalam

(65)

penelitian ini yang dibuktikan dengan surat pernyataan persetujuan (informed consent) yang diberikan oleh peneliti. Informend consent tersebut mencakup pemberian informasi lengkap tentang penelitian termasuk resiko-resiko dan pemberian kesediaan-kesediaan untuk partisipasi sesudah tahu seluk-beluk dan resikonya.

Partisipan pertama atau P1. P1 adalah laki-laki berumur 78 tahun yang berasal dari Temanggung. P1 terlahir di keluarga yang sangat taat beribadah terutama sang ayah. P1 saat ini menyandang status duda karena istrinya telah meninggal baik pada pernikahan pertama ataupun kedua. Pada pernikahan pertama, beliau dikaruniai dua orang anak namun mereka berdua telah meninggal. Anak pertama meninggal karena demam berdarah dan anak kedua meninggal sesaat setelah dilahirkan. Pada pernikahan kedua, beliau tidak dikaruniai anak namun beliau memiliki anak tiri dari istri kedua tersebut. Beliau tidak mau tinggal bersama anak tirinya karena lebih memilih untuk hidup mandiri dan berpindah-pindah mengikuti grup ketoprak yang ditekuninya. Menurut beliau, dengan cara seperti itu bisa mengenal banyak orang baru sambil memperlihatkan kemampuannya untuk bermain ketoprak. Selain itu, beliau juga bisa membantu dan menghibur banyak orang.

(66)

telah beliau raih, seperti membintangi beberapa film layar lebar, menjadi pemain terbaik, hingga dinobatkan untuk memimpin salah satu grup srimulat Solo pada tahun 1982. Melalui kegiatan tersebut, beliau telah menjelajahi beberapa kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Denpasar, dan Surabaya untuk menampilkan pertunjukan.

Selain di dunia hiburan, beliau juga aktif dalam kegiatan sosial. Beliau pernah menggerakkan mahasiswa untuk membuat drama teater kecil untuk membantu korban tsunami Aceh pada tahun 2004. Para mahasiswa inilah yang menyarankan beliau untuk tinggal di Rumah Pelayanan Sosial Lanjut Usia Terlantar Budhi Dharma, karena kota Yogyakarta lebih cocok untuk tempat tinggal beliau. Menurut mahasiswa tersebut, panti di daerah Purworejo yang menjadi tempat tinggal beliau sebelumnya kurang ramai sehingga beliau tidak bisa menunjukkan keahliannya pada banyak orang. Alasan inilah yang membuat beliau bisa sampai di Yogyakarta tepatnya di Rumah Yayasan Sosial Lansia Terlantar Budhi Dharma. Beliau menceritakan bahwa tujuannya untuk tinggal di rumah pelayanan sosial ini adalah membuat pengunjung senang datang ke lokasi. Beliau sudah tinggal di rumah pelayanan sosial di Yogyakarta ini selama 12 tahun. Menurut pengakuan beliau, beliau belum pernah mendapatkan kunjungan dari keluarga selama tinggal di rumah pelayanan.

(67)

laki-laki. Kondisi di tempat wawancara cukup kondusif karena tidak ada kegiatan yang sedang berlangsung di rumah pelayanan sosial tersebut. Pada saat wawancara berlangsung, salah seorang teman di rumah pelayanan sosial memanggil beliau untuk mengambil belanjaan yang dititipkan pada beliau. Beliau mengatakan bahwa teman-teman di rumah pelayanan sosial sering meminta tolong untuk membelikan sesuatu di pasar karena kondisi mereka sudah tidak memungkinkan. Selama proses wawancara, beberapa kali suara partisipan terdengar kurang jelas sehingga peneliti menanyakan kembali apa yang beliau ucapkan dan mendekati arah suara. Sesaat sebelum wawancara selesai, partisipan meminta ijin untuk menunaikan sholat terlebih dahulu kemudian peneliti juga turut menutup proses wawancara hari pertama tersebut.

(68)

Figur

Tabel 1. Data Diri Partisipan ..........................................................................
Tabel 1 Data Diri Partisipan . View in document p.16
Gambar 1. Kerangka Konseptual Penelitian ....................................................
Gambar 1 Kerangka Konseptual Penelitian . View in document p.17
Gambar 1. Kerangka konseptual penelitian
Gambar 1 Kerangka konseptual penelitian . View in document p.47
Tabel 1
Tabel 1 . View in document p.53
Tabel 2  Pertanyaan Pendahuluan
Tabel 2 Pertanyaan Pendahuluan . View in document p.56
Tabel 4 Kerangka Analisis Pengalaman Lansia Terlantar dalam Menghadapi Krisis
Tabel 4 Kerangka Analisis Pengalaman Lansia Terlantar dalam Menghadapi Krisis . View in document p.60
Tabel 5 Waktu dan Lokasi Pelaksanaan Wawancara
Tabel 5 Waktu dan Lokasi Pelaksanaan Wawancara . View in document p.64

Referensi

Memperbarui...

Related subjects : and integrity