• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

R- Squared utama Y=f(X1, X2, X3,

X_Z1, X_Z2, X_Z3) Keterangan Kesimpulan D(X1) = D(X2) D(X3) D(X1_Z) D(X2_Z) D(X3_Z) 0.308751 0.463680 r2<R Tidak ada korelasi D(X2) = D(X1) D(X3) D(X1_Z) D(X2_Z) D(X3_Z) 0.974136 0.463680 r2>R Ada korelasi D(X3) = D(X1) D(X2) D(X1_Z) D(X2_Z) D(X3_Z) 0.943671 0.463680 r2>R Ada korelasi D(X1_Z) = D(X1) D(X2) D(X3) D(X2_Z) D(X3_Z) 0.933810 0.463680 r2>R Ada korelasi D(X2_Z) = D(X1) D(X2) D(X3) D(X1_Z) D(X3_Z) 0.989155 0.463680 r2>R Ada korelasi D(X3_Z) = D(X1) D(X2) D(X3) D(X1_Z) D(X2_Z) 0.981767 0.463680 r2>R Ada korelasi

Dari hasil uji di atas, dapat dilihat bahwa ada hubungan korelasi yang tinggi pada (X2) FDR, (X3) NPF, X1_Z (DPK dimoderating oleh tingkat inflasi), X2_Z (FDR dimoderating oleh tingkat inflasi), X3_Z (NPF dimoderating oleh tingkat inflasi), dimana nilai R-squared lebih besar dari R-squared regresi utama, sehingga

dapat disimpulkan data yang digunakan pada penelitian ini mengandung multikolinieritas. Untuk mengatasi masalah multikolinieritas, maka penulis memutuskan untuk membuang beberapa variabel dengan pertimbangan nilai R-squared tertinggi

sehingga tidak ada gejala korelasi. Dan setelah melalui beberapa percobaan akhirnya penulis menemukan variabel-variabel yang tidak ada hubungan korelasi. Diperoleh variabel yang tersisa yaitu DPK dan X1_Z (DPK dimoderating oleh inflasi). Dengan pertimbangan

memilih variabel yang nilai R-Squared tertinggi. Maka hasil

perbandingan R-squaerd seperti table 4.4.

Tabel 4.4 Perbandingan Nilai R-squared Disembuhkan Persamaan R-squared R-Squared utama Y=f(X1, X2, X3, X_Z1, X_Z2, X_Z3) Keterangan Kesimpulan D(X1) = D(X1_Z) 0.0858 0.463680 r2<R Tidak ada korelasi D(X1_Z) = D(X1) 0.0752 0.463680 r2<R Tidak ada korelasi

Berdasarkan tabel 4.4 di atas, setelah melakukan pengobatan pada uji multikolinearitas, maka dapat dilihat bahwa nilai R-squared

tiap variabel bebas lebih kecil dibanding dengan nilai R-squared

regresi utama yaitu sebesar = 0.463680. Sehingga dapat disimpulkan bahwa data variabel dalam penelitian ini tidak terdapat multikolinearitas.

c. Uji Autokorelasi

Uji ini digunakan untuk menguji hubungan yang terjadi antara anggota dari serangkaian pengamatan yang tersusun dalam rangkaian waktu (time series). Karena Permasalahan autokorelasi hanya relevan

digunakan jika data yang dipakai adalah time series. Autokorelasi juga

dapat dikatakan kesalahan dari gangguan periode tertentu berkorelasi dengan gangguan dari periode sebelumnya. Dalam mengetahui ada atau tidaknya autokorelasi penulis menggunakan uji Durbin-watson

(DW test) dengan kriteria du < dw < 4 – du (Bawono, 2006: 160-162).

Tabel 4.5 Hasil Uji Autokorelasi

Dari hasil uji di atas dapat dilihat nilai dw sebesar 2.289854, dengan nilai tabel tingkat signifikan 0.05. Jumlah sampel 54 (n) dan jumlah variabel independen 2 sisa variabel independen setelah melalui uji multikolinearitas (k = 2), nilai pada tabel durbin watson

menunjukkan bahwa perbandingan nilai durbin watson dengan nilai

tabel diperoleh nilai dw 2.289854 lebih besar dari batas bawah (du)

1.6383 dan kurang dari batas atas 4-1.6383 (4-du) yang hasilnya

adalah 2.3617. Maka dapat disimpulkan data dalam penelitian ini tidak terdapat gejala autokorelasi. untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar grafik 4.3 berikut ini:

Dependent Variable: D(MURAB(-1)) Method: Least Squares

Date: 09/21/18 Time: 15:05 Sample (adjusted): 3 54

Included observations: 52 after adjustments

Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.

C 10.42657 239.6990 0.043499 0.9655

D(DPK(-1)) 0.258127 0.046458 5.556138 0.0000

D(X1_Z(-1)) 0.000556 0.001273 0.436686 0.6643

R-squared 0.416872 Mean dependent var 812.5192

Adjusted R-squared 0.393071 S.D. dependent var 1747.284

S.E. of regression 1361.233 Akaike info criterion 17.32613

Sum squared resid 90794805 Schwarz criterion 17.43870

Log likelihood -447.4794 Hannan-Quinn criter. 17.36929

F-statistic 17.51480 Durbin-Watson stat 2.289854

0 dL dU DW 4-dU 4-dL 1.4851 1.6383 2.289854 2.3617 2.5148

Gambar 4.3 Grafik Durbin Watson

Sumber: data sekunder yang diolah, 2018

Dari gambar grafik di atas membuktikan bahwa dalam penelitian ini tidak ada autokorelasi, dimana nilai dU < DW >4-dU menandakan bahwa data terletak pada daerah yang tidak adanya autokorelasi.

d. Uji heterokedastisitas

Uji heterokedastisitas bertujuan untuk meguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varian dari residual satu pengamatan dengan pengamatan yang lain. Jika varian dari residual satu pengamatan dengan pengamatan lain sama, maka disebut

homoskedastisitas. Model regresi yang baik adalah yang homoskedasitisitas atau tidak terjadi heteroskidasitisitas. Cara mengetahui ada atau tidaknya gejala heteroskedastisitas pada penelitian ini adalah dengan melakukan pengujian dengan white

heteroskedaticity no cross term. Jika signifikansi dari prob*R < 0,05

maka model tersebut mengandung heteroskedastisitas, dan apabila signifikansi dari prob*R> 0,05 maka model tersebut tidak mengandung heteroskedastisitas.

Tabel 4.6 Hasil Uji Heterokedastisitas

Heteroskedasticity Test: White

F-statistic 25.13142 Prob. F(5,46) 0.0000

Obs*R-squared 38.06524 Prob. Chi-Square(5) 0.0000

Scaled explained SS 190.6575 Prob. Chi-Square(5) 0.0000

Test Equation:

Dependent Variable: RESID^2 Method: Least Squares Date: 09/21/18 Time: 13:38 Sample: 3 54

Included observations: 52

Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.

C 412435.2 622441.9 0.662608 0.5109 D(DPK(-1))^2 0.116660 0.016631 7.014654 0.0000 D(DPK(-1))*D(X1_Z(-1)) -7.38E-05 0.000749 -0.098473 0.9220 D(DPK(-1)) -449.9341 211.9482 -2.122849 0.0392 D(X1_Z(-1))^2 -1.95E-05 1.07E-05 -1.822816 0.0748 D(X1_Z(-1)) 0.919388 4.258282 0.215906 0.8300

R-squared 0.732024 Mean dependent var 1746054.

Adjusted R-squared 0.702896 S.D. dependent var 5921874.

S.E. of regression 3227850. Akaike info criterion 32.92070

Sum squared resid 4.79E+14 Schwarz criterion 33.14584

Log likelihood -849.9381 Hannan-Quinn criter. 33.00701

F-statistic 25.13142 Durbin-Watson stat 2.158249

Prob(F-statistic) 0.000000

Berdasarkan tabel 4.6 di atas, hasil pada pengujian heteroskedastisitas dapat dilihat bahwa probability obs*R-Squared = 0.0000 dan Prob. F = 0.000 atau lebih kecil dari 0.05 (signifikansi dari prob*R < 0.05) maka model tersebut dapat disimpulkan data dalam variabel penelitian ini terdapat heteroskedastisitas pada model penelitian ini. Untuk mengatasi masalah tersebut maka perlu dilakukan pengobatan dengan cara pengujian ulang menggunakan metode huber

-white dengan hasil sebagai berikut:

Tabel 4.7 Hasil Uji Heterokedastisitas Disembuhkan

Dependent Variable: D(MURAB(-1)) Method: Least Squares

Date: 09/21/18 Time: 13:42 Sample (adjusted): 3 54

Included observations: 52 after adjustments

White heteroskedasticity-consistent standard errors & covariance

Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.

C 10.42657 265.4319 0.039282 0.9688

D(DPK(-1)) 0.258127 0.118350 2.181057 0.0340

D(X1_Z(-1)) 0.000556 0.000837 0.664263 0.5096

R-squared 0.416872 Mean dependent var 812.5192

Adjusted R-squared 0.393071 S.D. dependent var 1747.284

S.E. of regression 1361.233 Akaike info criterion 17.32613

Sum squared resid 90794805 Schwarz criterion 17.43870

Log likelihood -447.4794 Hannan-Quinn criter. 17.36929

F-statistic 17.51480 Durbin-Watson stat 2.289854

Prob(F-statistic) 0.000002 Wald F-statistic 3.159145

Prob(Wald F-statistic) 0.051229

Hasil dari uji 4.7 di atas setelah dilakukan pengobatan dengan metode huber-white, maka dapat dilihat bahwa data dalam model

penelitian ini sudah tidak terdapat gejala heteroskedastisitas. D. Pembahasan Hasil Penelitian

Setelah dilakukan uji statistik dan uji asumsi klasik, model regresi dari penelitian ini berubah karena beberapa variabel independen dihilangkan yaitu variabel financing to deposit ratio, non performing financing, financing to

deposit ratio dimoderating oleh tingkat inflasi (X2_Z) dan non performing

financing dimoderating oleh tingkat inflasi (X2_Z) untuk dapat melewati uji

multikollonieritas, oleh karena itu variabel yang mempengaruhi pembiayaan

murabahah berubah menjadi, pembiayaan murabahah = f (DPK, X1_Z).

Secara lengkap, model regresi berganda berubah menjadi seperti ditunjukkan pada tabel 4.8 berikut ini:

Tabel 4.8 Hasil Uji Regresi Berganda Setelah Penyembuhan Dependent Variable: D(MURAB(-1))

Method: Least Squares Date: 09/29/18 Time: 22:51 Sample (adjusted): 3 54

Included observations: 52 after adjustments

White heteroskedasticity-consistent standard errors & covariance

Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.

C 10.42657 265.4319 0.039282 0.9688

D(DPK(-1)) 0.258127 0.118350 2.181057 0.0340

D(X1_Z(-1)) 0.000556 0.000837 0.664263 0.5096

R-squared 0.416872 Mean dependent var 812.5192

Adjusted R-squared 0.393071 S.D. dependent var 1747.284

S.E. of regression 1361.233 Akaike info criterion 17.32613

Sum squared resid 90794805 Schwarz criterion 17.43870

Log likelihood -447.4794 Hannan-Quinn criter. 17.36929

F-statistic 17.51480 Durbin-Watson stat 2.289854

Prob(F-statistic) 0.000002 Wald F-statistic 3.159145

Prob(Wald F-statistic) 0.051229

Sumber: Data sekunder yang diolah, 2018

Persamaan regresi yang dibentuk dalam penelitian ini sebagai berikut: Pembiayaan murabahah= α + β1*Dpk + β2*X1_z

Pembiayaan murabahah = 10.42657 + 0.258127 + 0.000556

Berdasarkan uji di atas, maka dapat dijelaskan hasil uji hipotesis dari masing-masing variabel sebagai berikut:

1. Variabel setelah dilakukan uji multikollonieritas a. Pengaruh DPK terhadap pembiayaan murabahah

Hasil uji regresi linear berganda menunjukkan pada koefisien alpha 5% nilai Coefficient = 0.258127 dan prob. 0,0340 < 0,05. Maka

pembiayaan murabahah pada alpha 5%. Hasil yang sama juga

didapatkan pada pengujian regresi linear berganda yanf pertama dimana Variabel DPK menunjukkan pada koefisien alpha 5% nilai

Coefficient = 0.265274 dan prob. 0,0000 < 0,05. Maka artinya variabel

DPK berpengaruh positif dan signifikan terhadap pembiayaan

murabahah pada alpha 5%.

DPK merupakan suatu dana yang berhasil di input oleh bank dimana dapat berupa simpanan, deposito dan giro. Setelah ada DPK yang masuk maka pihak bank akan mengelolanya untuk tujuan agar pihak bank dapat memperoleh keuntungan, dana tersebut akan di kelola dengan cara menyalurkan kembali ke masyarakat berupa pembiayaan. Menurut hasil uji di atas maka dapat diartikan bahwa variabel DPK dapat mempengaruhi variabel Y yaitu pembiayaan

murabahah dengan arah positif yang artinya setiap kenaikan DPK

maka pembiayaan murabahah juga mengalami kenaikan dan

singnifikan yang artinya kenaikan DPK selalu mempengaruhi kenaikan pembiyaan murabahah. Semakin banyak DPK yang

dihimpun oleh bank maka semakin banyak pula jumlah pembiayaan yang dapat dipenuhi oleh bank sehingga jumalah DPK akan mempengaruhi jumlah pembiayaan murabahah. Maka hipotesisi yang

menyatakan bahwa DPK berpengaruh positif dan signifikan terhadap pembiayaan murabahah diterima.

Hasil penelitian ini selaras dengan hasil penelitian Maula (2008: 97), dimana pada penelitiannya menyatakan bahwa DPK tidak berpengaruh secara parsial terhadap pembiayaan murabahah, yang

dibuktikan dengan hasil uji regresi pada penelitian tersebut. Terdapat kemungkinan DPK yang disalurkan oleh bank syariah untuk pembiayaan murabahah hanya sedikit atau kecil dan sebagian besar

disalurkan untuk pembiayaan selain pembiayaan murabahah. Seperti

halnya pembiayaan mudharabah, ijarah atau musyarakah. Sumber

dana yang digunakan untuk pembiayaan murabahah kemungkinan

besar berasal dari modal sendiri yang berasal dari pemegang saham karena pembiayaan murabahah termasuk pembiayaan yang berisiko

kecil. Hal ini didukung dengan penelitian Asnainidan Erawati (2017: 7), Satria (2018: 89) dan Aziza dan Mulazid (2017: 14).

Sedangkan hasil yang berbeda di peroleh pada hasil penelitian Sulistya (2017: 52), yang menyatakan bahwa rasio Dana Pihak Ketiga berpengaruh positif dan signifikan terhadap pembiayaan Murabahah

yang diterima. Semakin besar Dana Pihak Ketiga yang dihimpun oleh Bank Syariah di Indonesia, akan semakin besar pula kemungkinan Bank Syariah untuk mengelola DPK untuk kegiatan penyaluran dana

dalam bentuk pembiayaan murabahah. Hasil ini didukung oleh

penelitian Yanis (2015: 12-13) dan Misbah (2016: 3).

b. Pengaruh DPK terhadap pembiayaan murabahah dimoderating oleh

tingkat inflasi (X1_Z)

Variabel DPK dimoderating oleh tingkat inflasi menunjukkan pada koefisien alpha 5% nilai Coefficient = 0.000556 dan prob.

0,5096> 0,05. Maka artinya variabel DPK yang dimoderating oleh

tingkat inflasi berpengaruh positif tapi tidak signifikan terhadap pembiayaan murabahah pada alpha 5%. Arti dari hasil uji tersebut

adalah variabel DPK yang dimoderating oleh tingkat inflasi

berpengaruh positif artinya keberadaan variabel tingkat inflasi sebagai variabel moderating dapat memperkuat hubungan antara variabel X

dan Y yaitu DPK dan pembiayaan murabahah. Dan tidak singnifikan

artinya adanya variabel tingkat inflasi sebagai variabel moderating

tidak selalu memperkuat hubungan antara X yaitu DPK dan Y yaitu pembiayaan Murabahah. Kesimpulannya adalah dengan adanya

variabel tingkat inflasi sebagai variabel moderating dapat memperkuat

hubungan antara variabel X yaitu DPK dan Y yaitu pembiayaan

murabahah namun variabel tingkat inflasi tidak selalu memperkuat

hubungan DPK dan pembiayaan murabahah atau hanya sedikit saja

yang mengatakan tingkat inflasi memoderasi pengaruh variable dana pihak ketiga terhadap pembiayaan murabahah ditolak.

Namun berbeda dengan hasil uji regresi linear berganda yang pertama, dimana diperoleh variabel DPK dimoderating oleh tingkat

inflasi menunjukkan pada koefisien alpha 5% nilai Coefficient = -

0.001906 dan prob. 0,6907 > 0,05. Maka artinya variabel DPK yang dimoderating oleh tingkat inflasi berpengaruh negatif dan tidak

signifikan terhadap pembiayaan murabahah pada alpha 5%. Ini berarti

keberadaan tingkat inflasi tidak memperkuat hubungan antara variabel DPK dengan pembiayaan murabahah namun hanya sedikit atau

tingkat inflasi tidak selalu memperlemah hubungan antara DPK dan pembiayaan murabahah.

Penelitian dengan hasil yang sama juga dilakukan oleh Erviana (2015: 98) hasilnya tingkat inflasi tidak memoderasi pengaruh DPK terhadap penyaluran pembiayaan, sehingga tingkat inflasi tidak berperan sebagai variable moderator. Namun hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitinnya Eka Febriyana (2018: 69), yang mengatakan bahwa inflasi memoderasi pengaruh tabungan terhadap Return On Asset (ROA) bank umum syariah tahun 2012-2015. Dengan demikian hipotesis kedua (H2) diterima yaitu inflasi memoderasi pengaruh tabungan terhadap Return On Asset (ROA).

Dengan kata lain, inflasi memengaruhi hubungan tabungan terhadap Return On Asset (ROA).

2. Variabel sebelum dilakukan uji multikollonieritas a. Pengaruh FDR terhadap pembiayaan murabahah

Hasil uji regresi linear berganda menunjukkan pada koefisien alpha 5% nilai Coefficient = 6.906865 dan prob. 0,9300 > 0,05. Maka

artinya variabel FDR berpengaruh positif tapi tidak signifikan terhadap pembiayaan murabahah pada alpha 5%. Maksutnya adalah setiap

kenaikan variabel FDR akan berpengaruh juga pada kenaikan variabel pembiayaan murabahah, tapi tidak signifikan maksutnya adalah

variabel FDR tidak selalu mempengaruhi kenaikan variabel pembiayaan murabahah atau variabel FDR sangat sedikit dalam

mempengaruhi kenaikan pembiayaan murabahah.

FDR adalah perbandingan antara jumlah pembiayaan yang diberikan oleh bank dengan jumlah DPK yang berhasil dihimpun oleh bank, FDR dapat dilihat dari seberapa jauh kemampuan bank dalam membayar kembali penarikan dana yang dilakukan oleh deposan dengan mengandalkan pembiayaan yang diberikan sebagai sumber likuiditasnya. Arti dari hasil uji tersebut adalah ketika FDR mengalami kenaikan maka pembiayaan murabahah juga akan ikut naik, namun

murabahah. Sehingga hipotesis kedua yang menyatakan Financing to

Deposit Ratioberpengaruh positif dan signifikan terhadap pembiayaan

murabahah ditolak.

Penelitian hasil yang sama juga di peroleh Sulistya (2017: 55), yang mengatakan dari hasil pengujian regresi pada penelitiannya dari uji statistik t hipotesis ketiga, nilai signifikansi dari Dana Pihak Ketiga menunjukkan nilai 0,555 > 0,05 dengan nilai t sebesar 0,596. rasio

Financing to Deposit Ratio tidak berpengaruh terhadap pembiayaan

Murabahah. Hasil analisis menunjukkan bahwa koefisien regresi

memiliki sebesar 0,465 dan nilai signifikansi yang dihasilkan lebih besar dari tingkat signifikansi yang disyaratkan yaitu 0,555 > 0,05. Hal ini berarti hipotesis yang menyatakan bahwa rasio Financing to

Deposit Ratio berpengaruh positif terhadap pembiayaan Murabahah

ditolak. Pernyataan ini didukung oleh penelitian Asnainidan Erawati (2017: 7), Nurbaya (2013: 91) danYunita (2017: 91).

Namun terdapat hasil yang berbeda dari penelitiannya Lestari (2014: 35), yang menunjukkan bahwa peningkatan rasio FDR berpengaruh positif terhadap pembiayaan murabahah. Hasil ini sesuai

dengan teori bahwa semakin tinggi FDR maka pembiayaan yang disalurkan juga akan semakin meningkat, begitupun sebaliknya jika FDR mengalami penurunan maka pembiayaan yang akan disalurkan

juga akan mengalami penurunan. Dalam hal ini pembiayaan

murabahah juga termasuk pada pembiayaan yang dimaksud tersebut.

Hasil ini didukung oleh penelitian Yanis (2015: 13), Syukri (2018: 2) danUtami (2016: 9).

b. Pengaruh NPF terhadap pembiayaan murabahah

Variabel NPF menunjukkan pada koefisien alpha 5% nilai

Coefficient = - 680.5023 dan prob. 0,5036 > 0,05. Maka artinya

variabel NPF berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap pembiayaan murabahah pada alpha 5%. NPF adalah rasio antara

pembiayaan yang bermasalah dengan total pembiayaan yang disalurkan oleh bank syariah (Rimdhani dan Eriza, 2011: 35). Dari hasil uji di atas menyatakan bahwa variabel NPF berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap pembiayaan murabahah dapat diartikan

bahwa setiap kenaikan NPF maka pembiayaan murabahah justru

malah menurun tetapi pengaruhnya amat sangat sedikit atau kecil.

Meskipun demikian bank tetap harus berhati-hati dalam memberikan pembiayaan kepada nasabah untuk menghindari hal-hal yang dapat merugikan pihak bank itu sendiri. Jadi hipotesis yang menyatakan bahwa Non Performing Finance berpengaruh ngatif dan signifikan

Hasil ini didukung dengan penelitian Maula (2008: 98), yang mengatakan NPF berpengaruh negative dan signifikan terhadap pembiayaan murabahah, hal ini didukung dengan penelitian Asnaini

dan Erawati (2017: 7), Misbah (2016: 3) dan Lestari (2014: 35). Sedangkan menurut Rimadhani dan Erza (2011: 49) mengatakan bahwa NPF berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan pembiayaan murabahah pada Bank Syariah Mandiri. Artinya semakin

besar tingkat NPF mengakibatkan penurunan penyaluran pembiayan

murabahah pada Bank Syariah Mandiri sehingga bank akan lebih

hati-hati dengan mengurangi pembiayaan, hal ini didukung dengan penelitian Amalia dan Hidayah (2015: 17), Sulistya (2017: 57) dan Syukri (2018: 2).

c. Pengaruh FDR terhadap pembiayaan murabahah dimoderating oleh

tingkat inflasi (X2_Z)

Variabel FDR dimoderating oleh tingkat inflasi menunjukkan

pada koefisien alpha 5% nilai Coefficient = 3.141978 dan prob. 0,8241

> 0,05. Maka artinya variabel FDR yang dimoderating oleh tingkat

inflasi adalah berpengaruh positif tetapi tidak signifikan terhadap pembiayaan murabahah pada alpha 5%. Ini artinya dengan keberadaan

tingkat inflasi sebagai variabel moderating, akan memperkuat

pengaruhnya sangatlah sedikit atau kecil. Ketika terjadi peningkatan variabel FDR makan pembiayan murabahah juga akan ikut naik, tetapi

pengaruh kenaikan tersebut sangatlah sedikit atau kecil. Hipotesis yang menyatakan tingkat inflasi tidak memoderasi pengaruh variable FDR terhadap pembiayaan murabahah diterima.

Hasil ini didukung oleh penelitian Astohar (2016: 50) yang hasilnya Financing deposit ratio (FDR) Bank Umum Syariah (BUS)

di Indonesia mempunyai pengaruh negatif terhadap profitabilitas bank dengan koefisien regresi sebesar - 0,002. Hal ini dapat diartikan bahwa setiap peningkatan Financing deposit ratio (FDR) maka profitabilitas

pada Bank Umum Syariah (BUS) di Indonesia mengalami penurunan. Hipotesis ditolak (mustinya positif signifikan), karena dibuktikan dengan nilai probabilitas (sig) sebesar 0,787 yang mana nilai tersebut di atas 0,05. FDR tidak mampu meningkatkan profitabilitas bank pada Bank Umum Syariah (BUS), namun justru akan menurunkan, meskipun pernyataan tidak bermakna (tidak signifikan). Sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel tingkat inflasi tidak memoderasi FDR terhadap profitabilitas bank umu syariah.

d. Pengaruh NPF terhadap pembiayaan murabahah dimoderating oleh

Variabel NPF dimoderating oleh tingkat inflasi menunjukkan

pada koefisien alpha 5% nilai Coefficient = 13.20119 dan prob. 0,9593

> 0,05. Maka artinya variabel NPF yang dimoderating oleh tingkat

inflasi berpengaruh positif tapi tidak signifikan terhadap pembiayaan

murabahah pada alpha 5%. Peran tingkat inflasi sebagai moderating

dapat memperkuat hubungan pengaruh NPF terhadap pembiayaan murabahah tetapi pengaruh tersebut sangatlah kecil. Sehingga dapat disimpulkan ketika variabel NPF naik maka pembiayaan murabahah

juga ikut naik, tetapi pengaruh tersebut tidaklah selalu terjadi atau sangat kecil kemungkinan terjadinya. Hipotesis yang menyatakan tingkat inflasi tidak memoderasi pengaruh variable NPF terhadap pembiayaan murabahah diterima.

Hasil tersebut didukung oleh penelitian Fernandy William (2016: 64) mengatakan Hasil penelitian menunjukkan NPL yang dimoderatori oleh inflasi berpengaruh positif tidak signifikan terhadap LDR. Inflasi sebagai variabel moderator memperlemah hubungan antara NPL dan LDR. Hasil penelitian ini dapat disebabkan karena penelitian ini dilakukan terhadap perbankan dalam periode dimana kondisi ekonomi sedang melemah sehingga perbankan cenderung menahan pemberian kredit untuk meningkatkan kualitas kredit yang ada. Oleh karena itu, likuiditas perbankan cenderung naik dengan

langkah perbankan menahan pemberian kredit kepada masyarakat tersebut. Namun kondisi tersebut tidak sejalan dengan kondisi ekonomi yang memburuk sehingga debitur-debitur lama terkena pengaruh kondisi makro ekonomi sehingga meningkatkan NPL perbankan. Dan sama jujga dengan hasil penelitian Wardah Sakinah (2018: 87).

Dari pembahasan yang telah dijelaskan di atas, maka dapat diperoleh ringkasan hasil penelitian analisis variabel DPK, FDR, NPF dan tingkat Inflasi sebagai variabel moderating terhadap pembiayaan

murabahah di Bank Umum Syariah di Indonesia dapat dilihat pada

tabel 4.10 berikut:

Tabel 4.10 Hasil Uji Hipotesis

No Hipotesis Hasil

Variabel sebelum dilakukan uji multikollonieritas 1. DPK berpengaruh positif dan singnifikan

terhadap pembiayaan murabhah

Diterima 2. FDR berpengaruh positif dan singnifikan

terhadap pembiayaan murabhah

Ditolak Variabel sebelum dilakukan uji multikollonieritas

3. NPF berpengaruh negatif dan singnifikan terhadap pembiayaan murabhah

Diterima 4. Tingkat inflasi memoderasi pengaruh

variable Dana Pihak Ketiga terhadap pembiayaan murabahah.

Ditolak

5. Tingkat inflasi tidak memoderasi pengaruh variable FDR terhadap pembiayaan

murabahah.

Diterima

6. Tingkat inflasi tidak memoderasi pengaruh variable NPF terhadap pembiayaan

murabahah.

Dari tabel 4.10 menjelaskan hasil uji hipotesis diterima atau ditolak dan peneliti akan menggambarkan hubungan yang terjadi antara variabel independen dengan variabel dependen seperti dalam gambar 4.4 berikut ini:

+ _ _ _ _ _

Gambar 4.4 Hasil penelitian Dana Pihak Ketiga (X1) Financing to Deposit Ratio (X2) Non Performing Financing (X3) Pembiayaan Murabahah (Y) Tingkat Inflasi (Z)

88 BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan untuk menguji pengaruh Dana Pihak Ketiga, Financing to Deposit Ratio dan Non Performing

Financing terhadap pembiayaan murabahah dengan Tingkat Inflasi sebagai

variabel moderating. Setelah dilakukan semua uji, terdapat kendala pada uji multikollonieritas dimana ada beberapa variabel yang memiliki gejala multikollonieritas sehingga harus ada beberapa variabel yang dibuang untuk melewati uji multikollonieritas dengan menghilangkan gejala penyakit multikollonieritas pada data yang digunakan untuk penelitian ini. Maka dapat disimpulkan bahwa hasil dari penelitian ini adalah :

 Hasil uji variabel setelah dilakukan uji multikollonieritas

1. Dana pihak ketiga berpengaruh positif dan signifikan terhadap pembiayaan murabahah pada bank umum syariah di Indonesia tahun

Januari 2014- Juni 2018.

2. Financing to deposit ratio berpengaruh positif tapi tidak signifikan terhadap pembiayaan murabahah pada bank umum syariah di

 Hasil uji variabel sebelum dilakukan uji multikollonieritas

1. Non performing financing berpengaruh negatif dan tidak signifikan

terhadap pembiayaan murabahah pada bank umum syariah di

Indonesia tahun Januari 2014- Juni 2018.

2. Variabel tingkat inflasi berpengaruh positif dan tidak signifikan dalam memoderasi pengaruh dana pihak ketiga terhadap pembiayaan

murabahah pada bank umum syariah di Indonesia tahun Januari 2014-

Juni 2018.

3. Variabel tingkat inflasi berpengaruh positif tapi tidak signifikan dalam memoderasi pengaruh financing to deposit ratio terhadap pembiayaan

murabahah pada bank umum syariah di Indonesia tahun Januari 2014-

Juni 2018.

4. Variabel tingkat inflasi berpengaruh positif tapi tidak signifikan dalam memoderasi pengaruh non performing financing terhadap terhadap

pembiayaan murabahah pada bank umum syariah di Indonesia tahun

Dokumen terkait