BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Kanker Paru
2.1.4. Stadium Kanker Paru
Pasien dengan kanker paru lebih sering tidak memiliki simptom yang spesifik, terutama pada pasien-pasien kanker paru stadium awal. Sesak napas, batuk dan nyeri dada merupakan gejala awal, batuk darah sering mengindikasikan penyakit yang sudah lanjut. Pasien dengan infeksi berulang pada sistem pernapasannya dan memiliki riwayat merokok dapat dicurigai sebagai pasien kanker paru, sehingga dibutuhkan pemeriksaan yang lebih jauh untuk menegakkan diagnosis. Riwayat kesehatan, pemeriksaan fisk, tes
laboratorium, foto toraks, CT Toraks atau MRI (Magnetic Resonance Imaging), bronkoskopi dan biopsi merupakan pemeriksaan dalam menegakkan diagnosis kanker paru. Untuk melakukan staging kanker paru, pemeriksaan tambahan seperti CT ataupun MRI dari abdomen dan kepala, bone scan dan PET (Positron emission tomography) diperlukan. Pemeriksaan penanda tumor juga mempunyai peran penting pada diagnosis dan staging dari kanker paru.23,25
Pembagian stadium klinis kanker paru berdasarkan system TNM menurut International Union Againts Cancer (IUAC) The American Joint on Cancer Comitee (AJCC) adalah sebagai berikut :
Tabel 1. Sistim TMN versi 6 (2002) dengan versi 7 (2009) dalam penderajatan KPKBSK.29,30
Versi 6 Versi 7
TX Tumor primer sulit dinilai, atau terdapat sel ganas pada sputum atau cairan bronchial lavage, tetapi tidak tampak secara radiologis atau bronkoskopik
Tx Tumor primer sulit dinilai, terdapat sel ganas pada sputum atau cairan bronchial lavage, tapi tidak tampak secara radiologis dan bronkoskopik
T0 Tidak ada bukti adanya tumor primer
T0 Tidak ada bukti adanya tumor primer
Tis Karsinoma in situ Tis Karsinoma in situ T1 Diameter tumor ukurannya
≤3cm, dikelilingi oleh jaringan paru atau pleura viseral, tidak ada bukti secara bronkoskopik infiltrasi proximal ke bronkus
T1 Diameter tumor ukurannya ≤3cm, dikelilingi oleh jaringan paru atau pleura viseral, tidak ada bukti secara bronkoskopi infiltrasi proximal ke bronkus lobaris
lobaris (belum sampai ke bronkus utama)
(belum sampai ke bronkus utama). T1a Diameter tumor ≤ 2 cm
T1b Diameter tumor > 2cm tapi ≤ 3 cm T2 Tumor > 3cm diikuti oleh satu
dari gambaran berikut ini : - tumor primer mengenai bronku utama sejauh 2 cm atau lebih distal dari karina
- invasi tumor ke pleura viseral - berhubungan dengan atelektasis atau
pneumonitis obstruktif yang meluas kedaerah hilus, tetapi belum mengenai seluruh paru.
T2 Tumor > 3cm tetapi ≤7cm diikuti oleh satu dari gambaran berikut ini :
- tumor primer mengenai bronku utama sejauh 2 cm atau lebih distal dari karina
- invasi tumor ke pleura viseral - berhubungan dengan atelektasis atau
pneumonitis obstruktif yang meluas kedaerah hilus, tetapi belum mengenai seluruh paru.
T2a Diameter terbesar tumor > 3cm tetapi ≤ 5cm
T2b Diameter terbesar tumor > 3cm tetapi ≤ 7cm
T3 Tumor dengan berbagai ukuran dengan invasi secara langsung pada salah satu struktur berikut ini:
- dinding dada (termasuk
T3 Diameter tumor > 7cm atau tumor berbagai ukuran dengan invasi secara langsung pada salah satu struktur berikut ini:
tumor sulkus superior) - diafragma
- nervus frenikus - pleura mediastinum - perikardium parietal atau tumor terdapat dalam bronkus utama yang jaraknya kurang dari 2cm sebelah distal karina, tetapi belum mengenai karina; atelektasis atau
pneumonitis obstruktif seluruh paru. sulkus superior) - diafragma - nervus frenikus - pleura mediastinum - perikardium parietal atau tumor terdapat dalam bronkus utama yang jaraknya kurang dari 2cm sebelah distal karina, tetapi belum mengenai karina; atelektasis atau
pneumonitis obstruktif seluruh paru, atau nodul tumor satelit pada lobus yang sama.
T4 Tumor berbagai ukuran yang menginvasi salah satu struktur berikut:
- mediastinum - jantung
- pembuluh darah besar - trakea - nervus laryngeal reccurent - esofagus - vertebra - karina
atau penyebaran nodul tumor pada lobus yang sama atau tumor dengan efusi pleura ganas atau efusi perikardial
T4 Tumor berbagai ukuran yang menginvasi salah satu struktur berikut ini:
- mediastinum - jantung
- pembuluh darah besar - trakea
- nervus laryngeal reccurent - esofagus
- vertebra - karina
atau penyebaran tumor nodul satelit pada lobus berbeda ipsilateral.
N X
Kelenjar getah bening regional belum dapat di evaluasi
NX Kelenjar getah bening regional belum dapat di evaluasi
N0 Tidak ada metastasis kelenjar getah bening regional
N0 Tidak ada metastasis kelenjar getah bening regional
N1 Metastasis pada kelenjar getah bening peribronkial dan/atau hilus ipsilateral, termasuk
perluasan tumor secara langsung.
N1 Metastasis pada kelenjar getah bening peribronkial dan/atau hilus ipsilateral, termasuk perluasan tumor secara langsung.
N2 Metastasis pada kelenjar getah bening mediastinum ipsilateral dengan atau tanpa metastasis pada kelenjar getah bening subkarina.
N2 Metastasis pada kelenjar getah bening mediastinum ipsilateral dangan atau tanpa metastasis pada kelenjar getah bening subkarina.
N3 Metastasis pada kelenjar getah bening hilus dan mediastinum kontralateral, atau KGB skalenus / supraklavikula ipsilateral atau kontralateral.
N3 Metastasis pada kelenjar getah bening hilus dan mediastinum kontralateral, atau KGB skalenus / supraklavikula ipsilateral atau kontralateral.
MX Metastasis tidak dapat dinilai MX Metastasis tidak dapat dinilai M0 Tidak ditemukan metastase jauh M0 Tidak ditemukan metastase jauh M1 Metastase jauh temasuk,
penyebaran nodul tumor ke lobus paru yang lain
M1 Metastasis jauh
M1a Penyebaran nodul tumor ke dalam lubus kontralateral, nodul pada pleura, efusi pleura ganas atau efusi perikardial
Tabel 2. Penderajatan Kanker Paru Jenis Karsinoma Bukan Sel Kecil.22 Versi 6 Versi 7 T N M T N M Occult Carcinoma X 0 0 0 0 0 0 Is 0 0 Is 0 0 I IA 1 0 0 IA 1a,b 0 0 IB 2 0 0 IB 2a 0 0
II IIA 1 1 0 IIA 1a,b 1 0
2a 1 0
2b 0 0
IIB 2 1 0 IIB 2b 1 0
3 0 0 3 0 0
III IIIA 1-3 2 0 IIIA 1,2 2 0
3 1 0 3 1,2 0
4 1,0 0
IIIB 4 0-2 0 IIIB 4 2 0
Any 3 0 Any 3 0
IV Any Any 1 IV Any Any 1a,b
Menurut konsep masa kini, kanker adalah penyakit gen. Sebuah gen normal dapat menjadi sel kanker apabila oleh berbagai sebab terjadi ketidakseimbangan antara fungsi onkogen dengan gen tumor supressor dalam tubuh dan berkembangnya sebuah
sel. Pertumbuhan sel secara tidak terkendali disertai diffrensiasi sel abnormal menghasilkan populasi sel dengan sifat-sifat baru. Sifat-sifat baru populasi sel yang mengalami transformasi itu diantaranya adalah kemampuan berproliferasi tanpa memerlukan rangsangan faktor pertumbuhan dari luar sel dan sifat-sifat lain.
Sifat-sifat baru tersebut diantaranya adalah sel dapat mengekspresikan antigen dengan densitas berlebihan, mengekspresikan antigen baru (neoantigen) atau fenotip yang tidak lazim untuk jenis dan stadium diffrensiasi sel bersangkutan. Mungkin pula sel-sel tersebut kehilangan molekul-molekul fungsional tertentu, menunjukkan perubahan struktur kromosom dan kandungan DNA abnormal (aneuploidi). Sel-sel memiliki kemampuan proliferasi meningkat, menjadi lebih invasif ke dalam jaringan sekitarnya bahkan mampu bermetastasis jauh, kehilangan kemampuan untuk apoptosis dan lain-lain.29
Sifat-sifat abnormal tersebut yang kemudian dicoba diidentifikasi dan digunakan sebagai petanda tumor atau petanda ganas untuk menunjang diagnosis atau konfirmasi adanya keganasan, menentukan prognosis dan memantau perjalanan penyakit. Sebagian perubahan dapat diidentifikasi di luar sel, misalnya bagi substansi-substansi yang disekresikan ke dalam cairan tubuh sehingga kadarnya dapat diukur. Pada umumnya kadar substansi itu sesuai dengan progresifitas tumor. Sebagian lagi dapat dideteksi di dalam sel atau permukaan sel dan dapat diidentifikasi baik kualitatif maupun kuantitatif dengan berbagai cara. Sebagian dari perubahan gen dapat diidentifikasi baik struktur maupun sifatnya sehingga adanya perubahan gen ini dapat digunakan sebagai petanda ganas molekuler, untuk deteksi dini, menentukan sisa sel kanker atau sebagai faktor prediksi terjadinya kanker. Pada umumnya petanda molekuler atau petanda genetik ini
lebih mampu menggambarkan sifat biologis tumor, sehingga dapat digunakan untuk menentukan prognosis secara lebih tepat.25,30