3.1. Staf Ahli Bupati Bidang Hukum dan Politik
Staf Ahli Bupati Bidang Hukum dan Politik mempunyai tugas pokok melakukan telaahan, kajian dan memberikan saran, masukan serta pertimbangan kepada Bupati di bidang hukum dan politik.
3.2. Staf Ahli Bupati Bidang Pemerintahan
Staf Ahli Bupati Bidang Pemerintahan mempunyai tugas pokok melakukan telaahan, kajian dan memberikan saran, masukan serta pertimbangan
3.3. Staf Ahli Bupati Bidang Pembangunan
Staf Ahli Bupati Bidang Pembangunan mempunyai tugas pokok melakukan telaahan, kajian dan memberikan saran, masukan serta pertimbangan kepada Bupati di bidang pembangunan.
Staf Ahli Bupati Bidang Kemasyarakatan dan Sumberdaya Manusia mempunyai tugas pokok melakukan telaahan, kajian dan memberikan saran, masukan serta pertimbangan kepada Bupati di bidang kemasyarakatan dan sumberdaya.
3.5. Staf Ahli Bupati Bidang Ekonomi dan Keuangan,
Staf Ahli Bupati Bidang Ekonomi dan Keuangan mempunyai tugas pokok melakukan telaahan, kajian dan memberikan saran, masukan serta pertimbangan kepada Bupati di bidang ekonomi dan keuangan.
4. Sekretaris DPRD Kabupaten Grobogan
Sekretaris DPRD mempunyai tugas pokok menyelenggarakan administrasi kesekretariatan, administrasi keuangan, mendukung pelaksanaan tugas dan fungsi DPRD dan menyediakan serta mengoordinasikan tenaga ahli yang diperlukan oleh DPRD sesuai dengan kemampuan keuangan daerah
Dasar keberadaan dinas yang ada di Kabupaten Grobogan adalah Peraturan Daerah No 8 Tahun 2008 tentang Pembentukan, Susunan Organisasi, Kedudukan dan Tugas Dinas-Dinas Daerah, dimana di dalam Peraturan Daerah ini dinas-dinas yang ada di lingkungan Kabupaten Grobogan adalah:
1. Dinas Pendidikan,
2. Dinas Pemuda, Olah Raga, Kebudayaan dan Olahraga; 3. Dinas Kesehatan;
4. Dinas Sosial, Tenaga Kerja, dan Transmigrasi; 5. Dinas Perhubungan, Informasi, dan Transmigrasi; 6. Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil; 7. Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Kecil dan Menengah
8. Dinas Perindustrian, Perdagangan, Pertambangan dan Energi; 9. Dinas Pertanian, Tanaman Pangan dan Hortikultura;
10. Dinas Peternakan dan Perikanan; 11. Dinas Kehutanan dan Perkebunan;
12. Dinas Cipta Karya, Tata Ruang dan Kebersihan; 13. Dinas Pengairan;
14. Dinas Bina Marga; dan
Sedangkan berdasar pada Peraturan Daerah No 9 tahun 2008 tentang Pembentukan, Susunan Organisasi, Kedudukan dan Tugas Lembaga Teknis Daerah, maka Lembaga Teknis Daerah yang ada di Kabupaten Grobogan terdiri dari:
1. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, selanjutnya dapat disebut Bappeda; 2. Badan Kepegawaian Daerah, selanjutnya dapat disebut BKD;
3. Inspektorat Daerah, selanjutnya dapat disebut Inspektorat;
4. Badan Pemberdayaan Perempuan, Perlindangan Anak dan Keluarga Berencana; 5. Badan Pemberdayaan Masyarakat;
6. Badan Kesatuan Bangsa, Perlindungan Masyarakat, selanjutnya dapat disebut Bakesbanglinmas;
7. Badan Pelayanan Perijinan Terpadu selanjutnya dapat disebut BPPT; 8. RSUD Dr. R. Soedjati Soemodiharjo;
9. Badan Ketahanan Pangan, selanjutnya dapat disebut BKP; 10. Badan Lingkungan Hidup, selanjutnya dapat disebut BLH; 11. Kantor Perpustakaan Daerah;
12. Kantor Arsip Daerah; dan 13. Kantor Satpol PP.
SSK adalah dokumen rencana strategis berjangka menengah yang disusun untuk percepatan pembangunan sektor sanitasi suatu Kota/Kabupaten, yang berisi tentang potret kondisi sanitasi kota saat ini, rencana strategi dan rencana tindak pembangunan sanitasi jangka menengah. SSK Kabupaten Grobogan merupakan penjabaran dari strategi sanitasi yang memuat empat sub sektor pilar utama sanitasi yaitu sub sektor air limbah domestik, sub sektor persampahan, sub sektor drainase, dan sub sektor PHBS.
Penyusunan dokumen SSK Kabupaten/Kota ini berdasarkan Buku Putih Sanitasi (BPS) di mana BPS sebagai dokumen yang memuat data dasar kondisi sanitasi Kabupaten/Kota saat ini. Kedudukan SSK diantara dokumen perencanaan di bidang sanitasi lainnya yang terdapat di Kabupaten Grobogan adalah sebagai pelengkap dan penyempurna dokumen-dokumen perencanaan bidang sanitasi yang telah ada, seperti :
1. SSK Kabupaten Grobogan merupakan pelengkap dari dokumen perencanaan resmi yang ada di Kabupaten Grobogan, seperti RPJMD tahun 2016 - 2020, Renstra SKP tahun 2016 - 2020 dan Renja SKPD tahun 2016;
2. SSK Kabupaten Grobogan merupakan penjabaran secara lengkap sebagian dari RPIJM tahun 2016 – 2020 khususnya dalam bidang sanitasi (air limbah, persampahan dan drainase); 3. SSK Kabupaten Grobogan akan menjadi masukan bagi penyusunan RPJMD untuk kepala
daerah periode berikutnya (2015 – 2020);
4. Penyusunan SSK Kabupaten Grobogan mengacu pada dokumen perencanaan tata ruang wilayah (RTRW tahun 2011 – 2031) Kabupaten Grobogan, khususnya berkaitan dengan zonasi pembangunan sarana sanitasi.
2.2.1. Air Limbah Domestik
Sebagaimana yang telah diuraikan pada bab sebelumnya, selain visi dan misi sanitasi juga diperlukan penajaman dari visi dan misi tersebut yang dituangkan menjadi sebuah tujuan, sasaran serta strategi untuk mewujudkan visi dan misi yang telah disusun.
Di dalam sub sektor air limbah domestik, terdapat beberapa tujuan dan sasaran serta strategi yang dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 2.9 Kemajuan Pelaksanaan SSK bidang Air Limbah Domestik
SSK Tahun 2017 – 2021 SSK (saat ini)
Tujuan Sasaran Data dasar* Status saat ini (2016)
(1) (2) (3) (4)
Mengoptimalkan pengelolaan air limbah di perkotaan dan perdesaan yang bersih, sehat dan berwawasan lingkungan untuk perbaikan kesehatan masyarakat Optimalisasi dan efektifitas pelayanan penyedotan lumpur tinja ke IPLT Ngembak dengan menambah cakupan pelayanan dari 11,4% menjadi 40% pada Tahun 2021. Tahun 2016 IPLT Ngembak sedang dilakukan Revitalisasi Berkurangnya praktek BABS menjadi 25 % di wilayah Kabupaten Grobogan pada tahun 2017 Tahun 2016 di Kabupaten Grobogan sudah 0% BABS Kabupaten Grobogan telah ODF di tahun 2016, artinya sudah tidah ada masyarakat yang melakukan BABS Meningkatkan cakupan kepemilikan jamban keluarga dengan penggunaan tangki septik dari 56.7% menjadi 76.3% pada akhir tahun 2021. Tahun 2016 di Kabupaten Grobogan yang menggunakan Tangki septik individual berkisar 76.3% Tahun 2016 di Kabupaten Grobogan yang menggunakan Tangki septik individual berkisar 76.3% Meningkatnya jumlah dan cakupan layanan pengelolaan air limbah secara komunal dari 20 unit menjadi 100 unit di
Cakupan layanan eksisting
sekitar 0.1%
Cakupan layanan Ipal Komunal di Kabupaten Grobogan berkisar 600 KK
(1) (2) (3) (4) wilayah padat kumuh
miskin di akhir tahun 2021 Pengembangan perangkat peraturan perundangan dan perencanaan penyelenggaraan pengelolaan air limbah permukiman Tersedianya perencanaan
pengelolaan air limbah domestik dan industri rumah tangga skala perkotaan pada akhir tahun 2017 Peningkatan dan pengembangan alternatif sumber pendanaan pembangunan prasarana dan sarana air limbah pemukiman.
Meningkatkan anggaran Anggaran APBD/APBD-Desa untuk air limbah sebesar 3% pada tiap tahunnya
Meningkatkan jumlah dana sektor swasta baik dengan dana CSR maupun penanaman modal investasi meningkatkan
peran serta dan kemandirian masyarakat dalam pengelolaan air limbah
Peningkatan Jumlah Jamban yang dibangun secara swadaya/non-subsidi oleh masyarakat sebesar 10 Milyar selama lima tahun sampai Tahun 2021
2.2.2. Pengelolaan Persampahan
Di dalam sub sektor persampahan, terdapat beberapa tujuan dan sasaran serta strategi yang dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 2.10 Kemajuan Pelaksanaan SSK bidang Pengelolaan Persampahan
SSK Tahun 2017 – 2021 SSK (saat ini)
Tujuan Sasaran Data dasar* Status saat ini (2016)
(1) (2) (3) (4) Peningkatan cakupan pelayanan pengelolaan persampahan perkotaan Peningkatan sampah wilayah perkotaan yang dapat terangkut/dikelola di TPA menjadi 80% di tahun 2021 Penyediaan sarana prasarana TPST (tempat pengolahan sampah terpadu) di 6 (enam) ibu kota kecamatan pada tahun 2021
Pengembangan kelembagaan, peraturan dan perundangan
Penetapan Perda dan Perbup yang mengatur pedoman teknis tentang pelaksanaan pengelolaan sarana prasarana persampahan pada Tahun 2016. Meningkatkan Status dan kapasitas institusi pengelola dalam penerapan Kewajiban dan sanksi bagi masyarakat Pengurangan
sampah
Meningkatnya partisipasi masyarakat
(1) (2) (3) (4) semaksimal
mungkin dimulai dari sumbernya
dalam pengelolaan sampah dengan sistem 3R skala rumah tangga dari 1,7 % menjadi 5% pada tahun 2021 Terbentuknya dan terbinanya kelompok pengelola sarana prasarana persampahan di lingkungan permukiman dan sekolah. Pengembangan alternatif sumber pendanaan Meningkatnya jumlah dana dari APBD Propinsi dan APBN sebesar 10 Milyar dalam peningkatan pengelolaan Persampahan di Kabupaten Grobogan pada Tahun 2021. Meningkatnya dana CSR dan investasi sektor swasta dalam pengelolaan persampahan
2.2.3. Drainase Perkotaan
Di dalam sub sektor drainase, terdapat beberapa tujuan dan sasaran serta strategi yang dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 2.11 Kemajuan Pelaksanaan SSK bidang Drainase Perkotaan
SSK Tahun 2017 – 2021 SSK (saat ini)
Tujuan Sasaran Data dasar* Status saat ini (2016)
(1) (2) (3) (4) Meningkatkan kapasitas kelembagaan dan peraaturan perundanga-undangan mengenai Drainase Lingkungan Tersedianya Regulasi drainase lingkungan pada tahun 2015. Meningkatkan perencanaan pengelolaan sistem drainase secara menyeluruh dan terpadu dalam penanganan banjir dan genangan. Tersedianya dokumen perencanaan sistem drainase kota yang terintegrasi di akhir tahun 2017 Berkurangnya luas genangan di Kabupaten Grobogan memprioritaskan penanganan di wilayah permukiman di akhir Tahun 2017 Berkurangnya luas genangan di Kabupaten Grobogan sebesar 15% dengan memprioritaskan penanganan di wilayah permukiman di akhir Tahun 2017 Meningkatnya intensitas upaya penyadaran Perilaku Hidup Meningkatnya peran media dan masyarakat dalam penyadaran perilaku hidup bersih
(1) (2) (3) (4) Bersih dan Sehat
secara terus menerus di sub drainase lingkungan. dan sehat di 30 desa/kelurahan rawan banjir pada akhir tahun 2017.
Pengembangan alternatif sumber pendanaan
Meningkatnya jumlah dana dari APBD Propinsi dan APBN sebesar 5 Milyar dalam peningkatan
pengelolaan Persampahan di Kabupaten Grobogan pada Tahun 2017.
2.3. PROFIL SANITASI SAAT INI
Pembangunan di Kabupaten Grobogan dilaksanakan secara partisipatif, transparan dan akuntabel dengan berpegang teguh pada prinsip-prinsip dan pengertian dasar pembangunan yang berkelanjutan agar mekanisme pengelolaan, pemanfaatan sumber daya yang ada diharapkan akan bermuara kepada kualitas lingkungan yang memenuhi standar kehidupan.
Persoalan penting yang memerlukan prioritas penanganan dalam peningkatan kualitas lingkungan adalah pengelolaan sanitasi, baik sanitasi dalam kedudukan sebagai salah satu kegiatan sektoral yang menjadi bagian dari program pengelolaan lingkungan maupun sanitasi sebagai bagian dari sistem pengembangan kawasan di wilayah permukiman.
Sebagai bagian dari pengelolaan lingkungan, peningkatan kualitas sanitasi di Kabupaten Grobogan lebih difokuskan kepada upaya peningkatan kualitas sanitasi yang berbasis masyarakat. Sedangkan sebagai subsistem pengembangan kawasan, peningkatan kualitas sanitasi di Kabupaten Grobogan difokuskan kepada penataan drainase lingkungan, pengelolaan persampahan dan pencegahan kontaminasi terhadap air tanah oleh limbah hasil kegiatan manusia khususnya di lingkungan pemukiman yang padat penduduk dan atau pusat-pusat kegiatan masyarakat serta peningkatan kualitas, kuantitas dan kontinuitas penyediaan air minum bagi masyarakat.
Seiring dengan aktifitas pembangunan yang meningkat dengan bertambahnya penduduk akan memberikan dampak negatif terhadap lingkungan, apabila tidak dikelola dengan baik maka akan dapat menimbulkan masalah di bidang sanitasi. Hal ini akan menyebabkan adanya pencemaran lingkungan, menurunnya kualitas lingkungan dan estetika serta kemungkinan timbulnya penyakit sehingga merugikan masyarakat di sekitarnya.
Kebiasaan masyarakat membuang sampah dan limbah rumah tangga ke saluran drainase, sungai-sungai dan pada tempat-tempat yang bukan peruntukannya ikut memperburuk kondisi sanitasi di Kabupaten Grobogan. Dari semua persoalan sanitasi di Kabupaten Grobogan, penyebab utamanya adalah minimnya pengetahuan masyarakat tentang sanitasi yang berakibat kepada kurangnya kesadaran terhadap pentingnya sanitasi dalam kehidupan.
2.3.1.1. Kelembagaan Undang-Undang Republik Indonesia
1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1966 Tentang Hygiene; 2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1997 Tentang
Pengelolaan Lingkungan Hidup;
3. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia
1. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 1990 Tentang Pengendalian Pencemaran Air;
2. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 1999 Tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan;
3. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 2001 Tentang Pengelolaan Utilitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air.
Keputusan Menteri Republik Indonesia
1. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 35/MENLH/7/1995 tentang Program Kali Bersih;
2. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 112 Tahun 2003 tentang Baku Mutu Air Limbah Domestik.
Petunjuk Teknis
1. Petunjuk Teknis Nomor KDT 616.98 Ped I judul Pedoman Teknis Penyehatan Perumahan;
2. Petunjuk Teknis Nomor KDT 361.728 Pet I judul Petunjuk Teknis Spesifikasi Instalasi Pengolahan Air Sistem Berpindah-pindah (Mobile) Kapasitas 0.5 Liter/detik;
3. Petunjuk Teknis Nomor KDT 627.54 Pan I judul Panduan Dan Petunjuk Praktis engelolaan Drainase Perkotaan;
4. Petunjuk Teknis Nomor KDT 363.728 Pet D judul Petunjuk Teknis Tata Cara Pengoperasian dan Pemeliharaan Instalasi Pengolahan Air Limbah Rumah Tangga Non Kakus;
5. Petunjuk Teknis Nomor KDT 307.14 Man P judul Manual Teknis MCK.
Peraturan Daerah Kabupaten Grobogan
Perda Kabupaten Grobogan No. 9 Tahun 2007 tentang Retribusi Penyedotan Kakus. Aspek Institusional
Instansi Pemerintah Kabupaten Grobogan yang menangani dan terkait dalam pengelolaan limbah cair antara lain: Dinas Ciptakarya, Tata Ruang dan Kebersihan Kabupaten Grobogan.
Pengelolaan air limbah permukiman dapat dilakukan dengan sistem on-site atau sistem off-site atau kombinasi dari kedua sistem ini :
Sistem pengelolaan air limbah terpusat (off-site system) adalah sistem penanganan air limbah domestik melalui jaringan pengumpul yang diteruskan ke instalasi pengolahan air limbah (IPAL).
Sistem off-site diterapkan pada kawasan Kepadatan > 100 org/ha
Bagi kawasan berpenghasilan rendah dapat menggunakan sistem septic tank komunal (descentralised water treatment) dan pengaliran dengan konsep perpipaan shallow sewer. Dapat juga melalui sistem kota/modular bila ada subsidi tarif.
Bagi kawasan terbatas untuk pelayanan 500–1000 sambungan rumah disarankan menggunakan basis modul. Sistem ini hanya menggunakan 2 atau 3 unit pengolahan limbah yang paralel.
Sistem pengolahan air limbah setempat (on-site system) adalah sistem penanganan air limbah domestik yang dilakukan secara individual dan atau komunal dengan fasilitas dan pelayanan dari satu atau beberapa bangunan, yang pengolahannya diselesaikan secara setempat atau di lokasi sumber.
Sistem on-site diterapkan pada: Kepadatan < 100 org/ha
Kepadatan > 100 org/ha sarana on site dilengkapi pengolahan tambahan seperti kontak media dengan atau tanpa aerasi
Jarak sumur dengan bidang resapan atau cubluk > 10 m
Instalasi pengolahan lumpur tinja minimal untuk melayani penduduk urban > 50.000 jiwa atau bergabung dengan kawasan urban lainnya
3.2.2.1 Sistem Terpusat/Off-site System
Kabupaten Grobogan tidak memiliki sistem pengolahan air limbah terpusat (IPAL terpusat). Hal ini disebabkan kepadatan penduduk dan kondisi topografi Kabupaten Grobogan tidak memungkinkan untuk dibangunnya sarana IPAL terpusat.
Kabupaten Grobogan sudah mempunyai Unit Pengolah Lumpur Tinja (IPLT), IPLT ini ibangun pada tahun 1999 di area TPA Ngembak. Jumlah personel yang bertugas dalam operasional IPLT berjumlah 2 (dua) orang dari Dinas Ciptakarya, Tata Ruang dan Kebersihan Kabupaten Grobogan.
IPLT Ngembak didesain mampu mengolah limbah lumpur tinja sebanyak 15 m3/hari. Jumlah ini hanya mampu melayani sekitar 15% dari jumlah penduduk Kabupaten Grobogan. Sistem Pengolahan lumpur tinja di IPLT Grobogan menggunakan rangkaian pengolahan fisik-biologis, dengan unit pengolahan tangki imhoff, kolam anaerobik, kolam fakultatif, kolam maturasi, dan bak pengering lumpur. Kondisi pelayanan di IPLT Ngembak belum optimal, dimana masih dijumpai kerusakan/retak bangunan pada beberapa bagian.
Gambar 3.2. IPLT di Area TPA Ngembak
Kondisi cakupan pelayanan Air Limbah (penyedotan tinja) untuk Kabupaten Grobogan yang dilaksanakan oleh Dinas Ciptakarya, Tata Ruang dan Kebersihan Kabupaten Grobogan sangat minimal, dikarenakan keterbatasan sarana dan prasara serta masih rendahnya kesadaran masyarakat akan pentingnya penggunaan tanki septic sesuai standar kesehatan, maka diperkirakan sedikit dari jumlah total penduduk Kabupaten Grobogan yang mampu dilayani. Untuk pelayanan pengangkutan tinja, sementara ini hanya dilayani oleh 2 mobil tinja, yaitu 1 dari Dinas Ciptakarya, Tata Ruang dan Kebersihan Kabupaten Grobogan dan 1 mobil tinja swasta.
empat lokasi di Grobogan. Keempat lokasi tersebut dibangun dengan skema Pembangunan Sarana Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM). Pada tahun 2010 telah dilakukan kegiatan SLBM di 4 (empat) Kecamatan yaitu :
Kec. Brati (Ds. Menduran, Ds. Katekan),
Kec. Ngaringan (Ds. Sarirejo, Ds. Kalangdosari, Ds. Sendangrejo, Ds. Trowolu), Kec. Wirosadi (Ds. Mojorejo),
Kec. Karangrayung (Ds. Jetis, Ds. Karangsono, Ds. Cekel)
Teknologi yang digunakan untuk IPAL Komunal program SLBM menggunakan skema pengolahan dengan menggunakan komponen:
1. Komponen toilet berupa inlet dari rumah berasal dari WC, kamar mandi, dapur dan cucian. Air limbah dapur dilengkapi dengan grease trap
2. Komponen pemipaan sekunder dari rumah ke pipa utama (house connection) menggunakan pipa PVC dilengkapi bak kontrol
3. Komponen pemipaan utama menggunakan PVC dilengkapi bak kontrol
4. Komponen IPAL terdiri atas inlet, bak sedimentasi, baffle reaktor dan anaerobik filter
5. Komponen pembuangan: sungai
Gambar 3.3. Konstruksi IPAL Komunal di Desa Jetis Kec. Karangrayung yang dibangun Tahun 2011.
3.2.2.3 Sistem setempat/on-site system
Pada sistem onsite ada dua jenis sarana yang digunakan untuk menampung kotoran tinja manusia yaitu cubluk dan septik tank. Cubluk adalah lubang yang digali didalam tanah dengan diameter 1.5 m sedalam 2m dan biasanya diberi dinding batu kosong untuk memudahkan penyerapan air ke dalam tanah. Air dan kotoran dari kakus dialirkan ke dalam lubang ini. Adapun kriteria pemakaian cubluk adalah sebagai berikut :
1) Mempunyai lahan pekarangan cukup (>500 m2) 2) Ditempatkan berjarak > 10 m dari sumber air 3) Kedalaman air tanah > 3 m
4) Dasar galian berjarak > 50 cm dari muka air tanah 5) Jenis tanah tidak mudah longsor
6) Digunakan diperumahan dengan kepadatan penduduk rendah dan di pedesaan
7) Diupayakan tidak dimasuki air hujan dan air permukaan
8) Ditutup agar tidak bau dan tidak dimasuki serangga (lalat dan nyamuk) 9) Dihubungkan dengan kakus yang menggunakan leher angsa
10) Perencanaan lubang cubluk untuk dapat menampung lumpur anggota rumah tangga dengan rate 30 ltr/org.thn
11) Lubang diuruk setelah penuh dan dibiarkan lumpur jadi kompos selama setengah tahun
12) Kompos dapat dikeluarkan dan kemudian dijadikan pupuk, dan kemudian lubang tersebut dapat dipergunakan kembali
13) Ketika lubang cubluk penuh dan menunggu proses pengkomposan, perlu disediakan cubluk cadangan/baru .
Septic tank adalah bak di dalam tanah dari pasangan batu kedap air yang terdiri dari dua kompertemen yang dibatasi oleh sekat berlubang utuk meningkatkan effisiensi pengendapan. Bangunan septic tank dilengkapi bidang peresapan air. Air dan kotoran dari kakus dialirkan ke bak ini, dan kemudian terjadi proses pengendapan yang memisahkan antara lumpur dan cairan/supernatan. Air kemudian dialirkan ke bidang peresapan (terdiri dari batu koral dilapisi ijuk) untuk diresapkan ke dalam tanah. Lumpur kotoran pada septic tank berakumulasi sampai penuh (biasanya s/d 2 tahun) untuk siap di sedot oleh truk tinja dan dibawa ke Instalasi pengolahan lumpur tinja (IPLT). Adapun kriteria penggunaan septic tank adalah sebagai berikut :
1) Pembuatannya memerlukan cukup pendanaan.
2) Dilengkapi dengan bidang resapan untuk meresapkan cairan supernatan yang keluar dari tangki septik.
3) Bagi kepadatan hunian dengan > 100 org/ha dan belum ada sistem sewerage dan sistem komunal, maka bidang resapan perlu digantikan dengan anaerobik bio filter.
4) Luas dan dalam bidang resapan tergantung permeabilitas tanahnya yg dilhitung dari hasil tes perkulasi.
5) Bagi daerah yang muka air tanahnya tinggi (kawasan pasang surut) dianjurkan penggunaan septic tank vertikal dan dilengkapi bio filter. 6) Kondisi air payau akan mempengaruhi degradasi bahan organik
yang prosesnya lebih lambat, maka proses di septic tank dan bio-filter harus kedap terhadap air payau.
A B C D E F Input User Interface Penampungan Awal Pengaliran Pengolahan Akhir Pembuangan/ Daur
Ulang
Kode/Nama Aliran
WC Sentor Tangki Septik
- -
Sungai
Air Limbah (AL 1)
WC Sentor Tangki Septik
- - Tanah Air Limbah (AL 2) Jumbleng - - - Sungai Air Limbah (AL 3)
WC Sentor Tangki Septik
Truk Tinja (Swasta) - IPLT Air Limbah (AL 4) WC Sentor - -
Septick tank/ IPAL
Komunal Sungai
Air Limbah (AL 5)
A B C D E F Input User Interface Penampungan Awal Pengaliran Pengolahan Akhir Pembuangan/ Daur
Ulang Kode/Nama Aliran WC Sentor - - - Sungai Air Limbah (AL 6) MCK Umum/ MCK Plus - -
Septick tank/ IPAL
Komunal Sungai
Air Limbah (AL 7)
Grey Water (Air Curah dari dapur,air untuk
Pembuangan langsung Tangki Septik
- -
Sungai
Air Limbah (AL 8)
mandi, air cucian pakaian
Pembuangan Kamar Mandi
- - -
Sungai
Air Limbah (AL 9)
Pembuangan Air Cuci Pakaian
- - -
Sungai
Air Limbah (AL 10)
Ulang
Pembuangan Cucian Dapur
- - -
Tanah
Air Limbah (AL 11)
Tabel 2.15 Cakupan layanan air limbah domestik saat ini di Kabupaten Grobogan No Nama Kec Akses Layak (KK) Akses Dasar (KK) BABS (KK) * Jml Penduduk (KK) On-Site Off-Site Tangki Septik Individual Tangki Septik Komunal (≤10KK) MCK *** Tangki Septik Komunal (≥ 10KK) IPAL Komunal IPAL Kawasan IPAL Kota Tangki Saptik Individual Belum Aman *** Cubluk
(i) (ii) (iii) (iv) (v) (vi) (vii) (viii) (ix) (x) (xi)
1 Kec. Kedungjati 4.036 1.468 2 1 0 0 0 2 Kec. Karangrayung 4.921 6.503 2.270 1 0 1 0 3 Kec. Penawangan 0 6.239 794 0 0 1 0 4 Kec. Toroh 1.379 8.828 1.525 0 0 0 0 5 Kec. Geyer 1.714 8.619 815 0 0 1 0 6 Kec. Pulokulon 203 5.544 128 0 0 1 0 7 Kec. Kradenan 335 15.138 1.010 0 0 6 0 8 Kec. Gabus 83 12.210 2.815 2 0 2 0 9 Kec. Ngaringan 1.433 8.682 1.099 0 0 2 0 10 Kec. Wirosari 1.342 4.758 112 0 0 0 0 11 Kec. Tawangharjo 254 7.957 1.324 0 0 0 0 12 Kec. Grobogan 1.239 6.501 1.049 0 0 0 0 13 Kec. Purwodadi 1.533 4.619 1.864 0 0 0 0 14 Kec. Brati 2.117 6.733 2.631 0 0 0 0 15 Kec. Klambu 1.068 11.205 669 1 0 0 0 16 Kec. Godong 1.380 12.134 248 0 0 0 0 17 Kec. Gubug 111 7.184 396 0 0 0 0 18 Kec. Tegowanu 83 12.210 2.815 2 0 2 0 19 Kec. Tanggungharjo 765 8.224 363 1 0 0 0
Tabel 2.16 Kondisi Prasarana dan Sarana Pengelolaan Air Limbah Domestik
No Jenis Satuan Jumlah/
Kapasitas
Kondisi Keterangan
Berfungsi Tdk berfungsi
(i) (ii) (iii) (iv) (v) (vi) (vii)
SPAL Setempat (Sistem On-Site) 1 Tangki Septik Komunal < 10
KK
2 MCK unit
3 Truck Tinja unit
4 IPLT : Kapasitas M3/hari
Tahap Pelaksanaan :
Lokasi : 2015 Study Kelayakan : 2015 DED : 2016 Pembangunan : 2017 Pengadaan Armada & OP : 2018 SPAL Terpusat (Sistem Off-Site)
1 Tangki Septik Komunal >10 KK
2
Ipal Komunal unit
3 Ipal Kawasan unit
4
Ipal Terpusat