BAB II
PROFIL SANITASI SAAT INI
2.1. GAMBARAN WILAYAH
2.1.1. Letak Geografis dan Administrasif
Ruang lingkup wilayah dalam kegiatan ini adalah wilayah Kabupaten Grobogan secara keseluruhan yang terletak di sebelah timur dari Ibukota Propinsi Jawa Tengah (Kota Semarang) dan berada diantara dua pegunungan Kendeng yang membujur dari arah barat ke timur. Secara geografis, Kabupaten Grobogan terletak diantara 110° 15' Bujur Timur - 111° 25' Bujur Timur dan 7° - 7° 30' Lintang Selatan. Adapun batas-batas administrasi sebagai berikut :
T a b
Wilayah Kabupaten Grobogan memiliki relief daerah pegunungan kapur dan perbukitan serta daratan di bagian tengahnya, secara topografi terbagi kedalam 3 kelompok :
1. Daerah dataran rendah berada pada ketinggian sampai 50 meter di atas
permukaan air laut dengan kelerengan antara 0 – 8% meliputi 6 kecamatan yaitu Kecamatan Gubug, Tegowanu, Godong, Purwodadi, Grobogan sebelah selatan dan Wirosari sebelah selatan.
2. Daerah perbukitan berada pada ketinggian antara 50 – 100 meter di atas permukaan air laut dengan kelerengan 8 – 15 % meliputi 5 kecamatan yaitu Kecamatan Klambu, Brati, Grobogan sebelah utara dan Wirosari Sebelah Utara. 3. Daerah dataran tinggi berada pada ketinggian 100 – 500 meter di atas permukaan air
laut dengan kelerengan lebih dari 15%, meliputi wilayah kecamatan yang berada di sebelah selatan dari wilayah Kabupaten Grobogan.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Direktorat Program Kehutanan tentang iklim di Kabupaten Grobogan yang terletak di antara Daerah Pantai Utara bagian timur dan daerah Bengawan Solo Hulu mempunyai tipe iklim D yang bersifat 1 s/d 6 bulan kering dan 1 s/d 6 bulan basah dengan suhu minimum 26° C.
- Sebelah Utara : Kabupaten Demak, Pati, Kudus dan Blora.
- Sebelah Selatan : Kabupaten Semarang, Boyolali, Sragen dan Kabupaten Ngawi
(Provinsi Jawa Timur).
- Sebelah Barat : Kabupaten Semarang dan Demak.
kondisi hidrologi di wilayah Kabupaten Grobogan sebagai berikut : Rata-rata hari hujan tahun 2010 : 157 hari dan rata-rata curah hujan tahun 2010 : 2.901 mm. Yang dimaksud dengan curah hujan adalah "Satuan Kuantitatif" hujan, yaitu tinggi/tebal hujan yang jatuh di permukaan bumi, diukur dalam satuan milimeter. Satuan curah hujan terukur yang jatuh di permukaan bumi setara dengan satu liter setiap 1 m2 satuan luas atau dapat diperkirakan dengan satu juta
liter setiap satu kilometer persegi, dengan catatan air hujan tersebut tidak ada yang menguap kembali (evapotranspirasi), melimpah (run off) dan merembes ke dalam permukaan bumi (perkolasi).
Wilayah Kabupaten Grobogan dilewati tiga aliran sungai yang cukup besar dan airnya selalu ada disepanjang tahun yaitu sungai Lusi, Tuntang dan Serang. Selain itu masih ada juga sungai-sungai kecil yang airnya berasal dari mata air/sendang yang berada di Kabupaten Grobogan dan sungai kecil lainnya yang merupakan sungai tadah hujan atau sungai yang ada airnya bila pada musim penghujan. Wilayah Kabupaten Grobogan masuk dalam wilayah Daerah Aliran Sungai Jratunseluna (Jragung, Tuntang, Serang, Lusi dan Juwana). Pada Sub DAS Tuntang, Serang dan Lusi Hilir sudah banyak dibangun bangunan irigasi (Dam/Waduk) seperti diantaranya Waduk Butak, Simo, Nglangon, Gambrengan, Sanggeh, Kenteng serta bendungan Kedungombo, Bendung Dumpil, Klambu, Sidorejo, Sedadi, Lanang dan jaringan irigasinya.
Secara kewilayahan, sistem DAS di Kabupaten Grobogan termasuk dalam SWP Jratun Seluna dengan DAS meliputi
1. DAS Tuntang dengan sub DAS yaitu tuntang hilir (Godong, Gubug, Kedungjati, dan Tanggungharjo), Blorong ds (Gubug, Kedungjati, Tanggungharjo), Jajar Hulu (Godong, Gubug, Karangrayung, Penawangan, dan Kedungjati), Temuireng (Gubung, Karangrayung, Kedungjati, Tanggungharjo), Tuk Bening T Hulu (kedungjati, dan Tanggungharjo).
2. DAS Jragung DS dengan sub DAS yaitu Jragung Wonokerto (Gubug, Kedungjati, Tanggungharjo, dan Tegowanu), dan Klampok (Kedungjati).
3. DAS Juwana DS dengan sub DAS yaitu Landaraguna (Brati, Grobogan), Sukosungging (Wirosari).
4. DAS Serang dengan sub DAS yaitu Geyer (Geyer, Toroh, Purwodadi, Penawangan, Brati, dan Klambu), Glugu (Geyer, Toroh, Purwodadi, Brati, Grobogan, Klambu, dan Tawangharjo), Ingasjajar (Ngaringan), Karangboyo (Geyer, Karangrayung, Kedungjati), Kedungwaru (Ngaringan dan Wirosari), Lanang (Geyer, Toroh, Penawangan, Karangrayung), Medang (Gabus, Kradenan, Wirosari, dan Ngaringan), Ngantru
(Grobogan, Purwodadi, Pulokulon, Tawangharjo, dan Wirosari), Peganjing (Geyer, Toroh, Pulokulon, Purwodadi, Tawangharjo, dan Wirosari), Tirto (Ngaringan, Wirosari, dan Tawangharjo), dan Uter (Geyer)
Tabel 2.1: Daerah Aliran Sungai (DAS) di Wilayah Kabupaten Grobogan
Nama DAS Luas (Ha) Debit (m3/dtk)
DAS Tuntang 38.594 9,70 – 18,10
DAS Jragung 17.446 12,60 – 28,40
DAS Serang 109.769 31,40 – 123,70
DAS Juwana 31.777 57,90 – 101,50
Sumber : RTRW Kabupaten Grobogan Tahun 2011-2031 & BBWS Pemali Juana, 2016
Secara administratif Kabupaten Grobogan memiliki 19 Kecamatan dan 280 Desa/Kelurahan serta memiliki luas wilayah meliputi 197.589.511 ha. Peta administrasi Kabupaten Grobogan dapat dilihat pada Gambar 2.1. Nama dan luas wilayah untuk masing- masing kecamatan di Kabupaten Grobogan dapat dilihat pada tabel 2.2 berikut :
Tabel 2.2: Nama, luas wilayah per-Kecamatan dan jumlah kelurahan di Kabupaten Grobogan
Sumber : Grobogan Dalam Angka, BPS 2015 Nama Kecamatan Jumlah Kelurahan /Desa Luas Wilayah Administrasi Terbangun (Ha) (%) thd total administrasi (Ha) (%) thd luas administrasi Kecamatan Kedungjati 12 13,034 7% 1,141 9% Kecamatan Karangrayung 19 14,059 7% 2,083 15% Kecamatan Penawangan 20 7,418 4% 1,244 17% Kecamatan Toroh 16 11,931 6% 2,238 19% Kecamatan Geyer 13 20,120 10% 890 4% Kecamatan Pulokulon 13 13,365 7% 2,171 16% Kecamatan Kradenan 14 10,774 5% 2,019 19% Kecamatan Gabus 14 16,537 8% 2,037 12% Kecamatan Ngaringan 12 11,672 6% 1,351 12% Kecamatan Wirosari 14 15,432 8% 1,797 12% Kecamatan Tawangharjo 10 8,360 4% 1,062 13% Kecamatan Grobogan 12 10,456 5% 1,735 17% Kecamatan Purwodadi 17 7,765 4% 2,141 28% Kecamatan Brati 9 5,490 3% 1,045 19% Kecamatan Klambu 9 4,656 2% 581 12% Kecamatan Godong 28 8,678 4% 1,387 16% Kecamatan Gubug 21 7,111 4% 1,601 23% Kecamatan Tegowanu 18 5,167 3% 623 12% Kecamatan Tanggungharjo 9 6,063 3% 817 13% T O T A L 280 198,089 100% 27,963 14%
No Nama Kecamatan Tanah Basah (ha) Tanah Kering (ha) Luas Total Wilayah (ha) 1 Kec. Kedungjati 388,226 12.646,216 13.034,442 2 Kec. Karangrayung 2.355,000 11.704,342 14.059,342 3 Kec. Penawangan 4.623,000 2.797,450 7.420,450 4 Kec. Toroh 4.330,000 7.600,891 11.930,891 5 Kec. Geyer 1.911,300 17.707,676 19.618,976 6 Kec. Pulokulon 5.685,000 7.681,100 13.366,100 7 Kec. Kradenan 3.915,000 6.858,672 10.773,672 8 Kec. Gabus 3.901,000 12.635,770 16.536,770 9 Kec. Ngaringan 4.080,000 7.592,120 11.672,460 10 Kec. Wirosari 4.112,000 11.318,410 15.430,410 11 Kec. Tawangharjo 2.502,000 5.858,051 8.360,051 12 Kec. Grobogan 2.871,000 7.585,180 10.456,180 13 Kec. Purwodadi 4.442,000 3.322,630 7.764,630 14 Kec. Brati 2.472,000 3.017,610 5.489,610 15 Kec. Klambu 2.360,000 2.296,356 4.656,356 16 Kec. Godong 6.510,000 2.169,490 8.679,490 17 Kec. Gubug 3.482,000 3.628,165 7.110,165 18 Kec. Tegowanu 2.721,000 2.445,980 5.166,980 19 Kec. Tanggungharjo 775,000 5.287,876 6.062,876 Jumlah 63.435,526 134.153,985 197.589,511
Peta 2.1 : Peta Administrasi Kabupaten Grobogan dan Cakupan Wilayah Kajian
Berdasarkan hasil proyeksi penduduk akhir tahun 2014 jumlah penduduk Kabupaten Grobogan tahun 2014 adalah sebesar 1.343.764 orang dengan laju pertumbuhan penduduk sebesar 0,57 persen. Dari hasil angka proyeksi tersebut, diperoleh rasio jenis kelamin penduduk Kabupaten Grobogan masih di bawah 100 yaitu sebesar 97,90, artinya jika ada 100 penduduk perempuan maka ada 98 laki-laki. Hal ini menggambarkan bahwa jumlah penduduk wanita lebih banyak daripada jumlah penduduk laki-laki. Tetapi bila dirinci masing-masing kecamatan di Kabupaten Grobogan, terdapat 3 kecamatan yang memiliki angka sex ratio diatas 100, yakni Ngaringan, Brati dan Klambu dengan masing masing angkanya secara berurutan 103,20; 101,70; dan 101,80; artinya di 3 kecamatan ini jumlah penduduk laki-laki masih lebih banyak dibandingkan dengan perempuannya. Sedangkan Kecamatan Tawangharjo merupakan kecamatan yang memiliki angka sex ratio paling kecil yakni 94,20. Dilihat dari golongan umur lima tahunan, dapat diperoleh piramida penduduk Kabupaten Grobogan dimana jumlah penduduk yang berusia lebih dari 50 tahun hingga usia 75 tahun ke atas berangsur-angsur berkurang jumlahnya. Seiring dengan pertumbuhan penduduk, jumlah keluarga juga mengalami peningkatan dari 412.480 pada tahun 2009 menjadi 426.902 pada tahun 2010, dengan rata-rata anggota rumah tangga 3 orang, baik pada tahun 2009 maupun 2010. Sejalan dengan kenaikan penduduk maka kepadatan penduduk dalam kurun waktu empat tahun (2010 – 2014) cenderung mengalami kenaikan, pada tahun 2010 tercatat sebesar 664 jiwa/km2, sedangkan pada tahun 2014 menjadi 684 jiwa/km2. Jumlah penduduk yang terus bertambah setiap tahun tidak diimbangi dengan pemerataan penyebaran penduduk di tiap kecamatan. Kepadatan penduduk di Kecamatan yang wilayahnya sebagian besar perkotaan mempunyai kepadatan penduduk yang tinggi dibandingkan dengan kecamatan yang wilayahnya masih merupakan daerah pedesaan. Wilayah terpadat tercatat di Kecamatan Purwodadi dengan kepadatan 1.747 jiwa/km dan terjarang penduduknya adalah Kecamatan Kedungjati yaitu 306 jiwa/km2.
Tabel 2.3.1. Jumlah Penduduk dan Kepala Keluarga saat ini dan Proyeksinya untuk 5 tahun
Sumber: Instrumen Profil Sanitasi Kab Grobohan Tahun 2016, diolah.
Nama Kecamatan
Jiwa KK Jiwa KK Jiwa KK Jiwa KK Jiwa KK Jiwa KK Jiwa KK Jiwa KK Jiwa KK Jiwa KK Jiwa KK Jiwa KK Jiwa KK Jiwa KK Jiwa KK Jiwa KK Jiwa KK Jiwa KK
Kec. Kedungjati 5,479 1,798 5,482 1,799 5,484 1,800 5,487 1,801 5,490 1,802 5,493 1,802 34,342 11,311 34,359 11,317 34,376 11,322 34,394 11,328 34,411 11,334 34,428 11,339 39,821 13,109 39,841 13,116 39,861 13,122 39,881 13,129 39,901 13,135 39,921 13,142 Kec. Karangrayung 17,858 6,235 17,954 6,269 18,051 6,303 18,149 6,337 18,247 6,371 18,345 6,405 71,842 23,607 72,230 23,734 72,620 23,863 73,012 23,992 73,406 24,121 73,803 24,251 89,700 29,842 90,184 30,003 90,671 30,165 91,161 30,328 91,653 30,492 92,148 30,656 Kec. Penawangan 9,288 3,372 9,336 3,390 9,385 3,407 9,434 3,425 9,483 3,443 9,532 3,461 49,496 17,655 49,753 17,747 50,012 17,839 50,272 17,932 50,534 18,025 50,796 18,119 58,784 21,027 59,090 21,136 59,397 21,246 59,706 21,357 60,016 21,468 60,328 21,579 Kec. Toroh 26,329 9,655 26,458 9,702 26,588 9,750 26,718 9,798 26,849 9,846 26,980 9,894 80,444 28,676 80,838 28,817 81,234 28,958 81,632 29,100 82,032 29,242 82,434 29,385 106,773 38,331 107,296 38,519 107,822 38,708 108,350 38,897 108,881 39,088 109,415 39,279 Kec. Geyer 10,998 3,782 11,003 3,784 11,009 3,786 11,015 3,788 11,020 3,790 11,026 3,791 49,226 18,176 49,251 18,185 49,275 18,194 49,300 18,203 49,325 18,212 49,349 18,221 60,224 21,958 60,254 21,969 60,284 21,980 60,314 21,991 60,345 22,002 60,375 22,013 Kec. Pulokulon 26,428 6,814 26,547 6,845 26,666 6,875 26,786 6,906 26,907 6,937 27,028 6,969 74,260 23,485 74,594 23,591 74,930 23,697 75,267 23,803 75,606 23,911 75,946 24,018 100,688 30,299 101,141 30,435 101,596 30,572 102,053 30,710 102,513 30,848 102,974 30,987 Kec. Kradenan 15,645 4,776 15,714 4,797 15,783 4,818 15,852 4,839 15,922 4,861 15,992 4,882 60,477 19,472 60,743 19,558 61,010 19,644 61,279 19,730 61,548 19,817 61,819 19,904 76,122 24,248 76,457 24,355 76,793 24,462 77,131 24,569 77,471 24,678 77,811 24,786 Kec. Gabus 15,608 4,768 15,614 4,770 15,620 4,772 15,627 4,774 15,633 4,776 15,639 4,778 52,258 19,498 52,279 19,506 52,300 19,514 52,321 19,521 52,342 19,529 52,363 19,537 67,866 24,266 67,893 24,276 67,920 24,285 67,947 24,295 67,975 24,305 68,002 24,315 Kec. Ngaringan 9,582 3,374 9,651 3,398 9,720 3,423 9,790 3,447 9,861 3,472 9,932 3,497 56,665 18,512 57,073 18,645 57,484 18,780 57,898 18,915 58,315 19,051 58,735 19,188 66,247 21,886 66,724 22,044 67,204 22,202 67,688 22,362 68,176 22,523 68,666 22,685 Kec. Wirosari 13,040 4,834 13,123 4,865 13,207 4,896 13,292 4,927 13,377 4,959 13,463 4,991 72,767 27,043 73,233 27,216 73,701 27,390 74,173 27,566 74,648 27,742 75,126 27,920 85,807 31,877 86,356 32,081 86,909 32,286 87,465 32,493 88,025 32,701 88,588 32,910 Kec. Tawangharjo 18,809 6,699 18,939 6,745 19,069 6,792 19,201 6,839 19,334 6,886 19,467 6,933 34,972 11,130 35,213 11,207 35,456 11,284 35,701 11,362 35,947 11,440 36,195 11,519 53,781 17,829 54,152 17,952 54,526 18,076 54,902 18,201 55,281 18,326 55,662 18,453 Kec. Grobogan 24,185 6,811 24,434 6,881 24,686 6,952 24,940 7,024 25,197 7,096 25,456 7,169 50,421 14,999 50,940 15,153 51,465 15,310 51,995 15,467 52,531 15,627 53,072 15,788 74,606 21,810 75,374 22,035 76,151 22,262 76,935 22,491 77,728 22,723 78,528 22,957 Kec. Purwodadi 77,619 21,770 78,411 21,992 79,211 22,216 80,018 22,443 80,835 22,672 81,659 22,903 56,735 18,428 57,314 18,616 57,898 18,806 58,489 18,998 59,085 19,191 59,688 19,387 134,354 40,198 135,724 40,608 137,109 41,022 138,507 41,441 139,920 41,863 141,347 42,290 Kec. Brati 24,894 7,693 25,061 7,745 25,229 7,796 25,398 7,849 25,568 7,901 25,739 7,954 21,293 6,884 21,436 6,930 21,579 6,977 21,724 7,023 21,869 7,070 22,016 7,118 46,187 14,577 46,496 14,675 46,808 14,773 47,122 14,872 47,437 14,972 47,755 15,072 Kec. Klambu 9,395 3,492 9,434 3,506 9,472 3,521 9,511 3,535 9,550 3,550 9,589 3,564 25,246 9,439 25,350 9,478 25,453 9,517 25,558 9,556 25,663 9,595 25,768 9,634 34,641 12,931 34,783 12,984 34,926 13,037 35,069 13,091 35,213 13,144 35,357 13,198 Kec. Godong 12,535 3,988 12,595 4,007 12,656 4,026 12,716 4,046 12,777 4,065 12,839 4,085 66,236 21,725 66,554 21,829 66,873 21,934 67,194 22,039 67,517 22,145 67,841 22,251 78,771 25,713 79,149 25,836 79,529 25,960 79,911 26,085 80,294 26,210 80,680 26,336 Kec. Gubug 13,463 3,880 13,530 3,899 13,598 3,919 13,666 3,938 13,734 3,958 13,803 3,978 63,242 18,172 63,558 18,263 63,876 18,354 64,195 18,446 64,516 18,538 64,839 18,631 76,705 22,052 77,089 22,162 77,474 22,273 77,861 22,384 78,251 22,496 78,642 22,609 Kec. Tegowanu 11,173 2,968 11,297 3,001 11,422 3,034 11,549 3,068 11,677 3,102 11,807 3,136 42,098 12,204 42,565 12,339 43,038 12,476 43,515 12,615 43,999 12,755 44,487 12,897 53,271 15,172 53,862 15,340 54,460 15,511 55,065 15,683 55,676 15,857 56,294 16,033 Kec. Tanggungharjo 12,443 3,885 12,503 3,904 12,563 3,922 12,623 3,941 12,684 3,960 12,745 3,979 26,973 8,786 27,102 8,828 27,233 8,871 27,363 8,913 27,495 8,956 27,627 8,999 39,416 12,671 39,605 12,732 39,795 12,793 39,986 12,854 40,178 12,916 40,371 12,978 Jumlah Penduduk (orang) Wilayah Perkotaan Wilayah Perdesaan Total 2015
Tahun Tahun Tahun
Sumber: Instrumen Profil Sanitasi Kab Grobogan Tahun 2016, diolah
Pertumbuhan rata-rata penduduk pertahun di Kabupaten Grobogan berdasarkan jumlah penduduk Kabupaten Grobogan pada tahun 2010 sampai tahun 2015 adalah 0,57%. Tingkat pertumbuhan rata-rata tertinggi per
kecamatan adalah di Kecamatan Tegowanu dan Terendah di Kecamatan Kedungjati.
Nama Kecamatan
Tingkat Pertumbuhan (%) Kepadatan Penduduk ( Orang/Ha )
Tahun Tahun 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2016 2017 2018 2019 2020 2021 Kec. Kedungjati 0.05% 0.05% 0.05% 0.05% 0.05% 0.05% 35 35 35 35 35 35 Kec. Karangrayung 0.54% 0.54% 0.54% 0.54% 0.54% 0.54% 43 43 43 44 44 44 Kec. Penawangan 0.52% 0.52% 0.52% 0.52% 0.52% 0.52% 47 47 47 48 48 48 Kec. Toroh 0.49% 0.49% 0.49% 0.49% 0.49% 0.49% 48 48 48 49 49 49 Kec. Geyer 0.05% 0.05% 0.05% 0.05% 0.05% 0.05% 68 68 68 68 68 68 Kec. Pulokulon 0.45% 0.45% 0.45% 0.45% 0.45% 0.45% 46 46 46 47 47 47 Kec. Kradenan 0.44% 0.44% 0.44% 0.44% 0.44% 0.44% 38 38 38 39 39 39 Kec. Gabus 0.04% 0.04% 0.04% 0.04% 0.04% 0.04% 33 33 33 33 33 33 Kec. Ngaringan 0.72% 0.72% 0.72% 0.72% 0.72% 0.72% 49 49 50 50 50 51 Kec. Wirosari 0.64% 0.64% 0.64% 0.64% 0.64% 0.64% 48 48 49 49 49 50 Kec. Tawangharjo 0.69% 0.69% 0.69% 0.69% 0.69% 0.69% 51 51 52 52 52 53 Kec. Grobogan 1.03% 1.03% 1.03% 1.03% 1.03% 1.03% 43 43 44 44 45 45 Kec. Purwodadi 1.02% 1.02% 1.02% 1.02% 1.02% 1.02% 63 64 64 65 66 66 Kec. Brati 0.67% 0.67% 0.67% 0.67% 0.67% 0.67% 44 44 45 45 45 45 Kec. Klambu 0.41% 0.41% 0.41% 0.41% 0.41% 0.41% 60 60 60 61 61 61 Kec. Godong 0.48% 0.48% 0.48% 0.48% 0.48% 0.48% 57 57 58 58 58 58 Kec. Gubug 0.50% 0.50% 0.50% 0.50% 0.50% 0.50% 48 48 48 49 49 49 Kec. Tegowanu 1.11% 1.11% 1.11% 1.11% 1.11% 1.11% 85 86 87 88 89 90 Kec. Tanggungharjo 0.48% 0.48% 0.48% 0.48% 0.48% 0.48% 48 48 48 49 49 49 Kabupaten Grobogan 0.57% 0.57% 0.57% 0.57% 0.57% 0.57% 48 48 49 49 49 49
2.1.3. Tata Ruang Wilayah
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Grobogan Tahun 2011-2031 telah ditetapkan dalam Peraturan Daerah Kabupaten Grobogan No. 7 Tahun 2012. Penataan ruang wilayah Kabupaten bertujuan mewujudkan ruang Kabupaten yang produktif, berdaya saing, dan berkelanjutan sebagai pusat pertumbuhan wilayah di bagian timur Jawa Tengah dengan berbasis sektor pertanian dan didukung oleh sektor perdagangan, jasa, industri, pertambangan dan pariwisata. Penataan ruang adalah suatu sistem proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang. Kebijakan penataan ruang wilayah Kabupaten, meliputi:
a) Pengembangan sistem pusat pelayanan dengan mengintegrasikan pusat pelayanan perkotaan dan perdesaan di seluruh wilayah Kabupaten terutama dalam koridor pengembangan Kedungsepur.
b) Peningkatan kualitas dan jangkauan pelayanan jaringan prasarana wilayah secara terpadu guna mendukung posisi strategis Kabupaten di bagian timur Jawa Tengah.
c) Pengembangan kawasan peruntukan industri dan kawasan agropolitan Kutosaringan yang berdaya saing dalam skala pelayanan nasional.
d) Pengembangan sentra pemasaran hasil komoditas unggulan Kabupaten yang didukung peningkatan produktifitas hasil komoditasnya.
e) Pengelolaan fungsi kawasan sesuai daya dukung lahan, daya tampung kawasan, dan konservasi sumberdaya alam demi pengembangan wilayah berkelanjutan.
f) Pengembangan kawasan pertanian pangan berkelanjutan dalam mendukung ketahanan pangan nasional.
g) Peningkatan fungsi kawasan untuk mendukung pertahanan dan keamanan negara. Strategi penataan ruang wilayah kabupaten meliputi :
terutama dalam koridor pengembangan Kedungsepur, meliputi:
a) Meningkatkan peran dan fungsi kawasan perkotaan Purwodadi sebagai simpul strategis pengembangan wilayah koridor Kedungsepur;
b) Memantapkan dan mengendalikan perkembangan kawasan perkotaan PKL;
c) Mendorong pertumbuhan kawasan perkotaan baru yang dipromosikan sesuai dengan kewenangan kabupaten;
d) Mengembangkan kawasan perkotaan PPK di wilayah Kabupaten; e) Meningkatkan peran dan fungsi kawasan perdesaan; dan f) Meningkatkan dan mengembangkan jangkauan pelayanan PPL.
b) Strategi untuk mewujudkan peningkatan kualitas dan jangkauan pelayanan jaringan prasarana wilayah secara terpadu guna mendukung posisi strategis Kabupaten di bagian timur Jawa Tengah, meliputi:
a) Meningkatkan aksesibilitas antar pusat perkotaan, antar pusat desa, antar pusat perkotaan dan pusat desa; dan
b) Mengembangkan sistem jaringan prasarana wilayah secara menyeluruh dengan memprioritaskan dan mengintegrasikan sistem prasarana transportasi, pengairan, energi, telekomunikasi dan lingkungan.
c) Strategi untuk mewujudkan pengembangan kawasan peruntukan industri dan kawasan agropolitan Kutosaringan yang berdaya saing dalam skala pelayanan nasional, meliputi:
a) Mengembangkan kawasan peruntukan industri untuk mewujudkan nilai tambah dan meningkatkan perekonomian daerah;
b) Mempersiapkan dan mengembangkan kawasan industri yang mampu mendukung pengembangan wilayah Kedungsepur;
c) Mengembangkan kawasan peruntukan pertanian secara terpadu;
d) Mengembangkan kegiatan agroindustri di kawasan agropolitan Kutosaringan;
e) Meningkatkan pelayanan perdesaan dan pusat pertumbuhan ekonomi di kawasan agropolitan Kutosaringan; dan
f) Memantapkan kawasan sentra produksi dan kawasan pemasaran.
d) Strategi untuk mewujudkan pengembangan sentra pemasaran hasil komoditas unggulan Kabupaten yang didukung peningkatan produktifitas hasil komoditasnya, meliputi:
a) Meningkatkan kualitas dan jangkauan pelayanan pemasaran hasil komoditas unggulan kabupaten;
b) Membangun sentra pemasaran baru;
c) Meningkatkan peran PKL sebagai pengumpul dan distribusi hasil komoditas unggulan; d) Meningkatkan aksesibilitas antar pusat produksi dan pusat pemasaran.
e) Strategi untuk mewujudkan pengelolaan fungsi kawasan sesuai daya dukung lahan, daya tampung kawasan, dan konservasi sumberdaya alam demi pengembangan wilayah berkelanjutan, meliputi: a) Menetapkan dan meningkatkan fungsi kawasan lindung;
b) Mewujudkan kawasan hutan dengan luas paling sedikit 30% (tiga puluh persen) dari luas Daerah Aliran Sungai;
c) Melestarikan fungsi dan daya dukung lingkungan di kawasan perlindungan setempat; d) Mengarahkan sebagian kawasan rawan bencana sebagai kawasan lindung;
e) Melestarikan fungsi dan daya dukung lingkungan di kawasan karst; f) Mengembangkan ruang terbuka hijau di kawasan perkotaan;
g) Melestarikan sumber air dan mengembangkan sistem cadangan air untuk musim kemarau;
h) Memelihara kawasan peninggalan sejarah dan situs budaya sebagai objek penelitian dan pariwisata;
i) Mengoptimalkan pengelolaan kawasan peruntukan hutan produksi dan hutan rakyat; dan j) Mengembangkan kawasan peruntukan pertambangan dan peruntukan industri berwawasan
lingkungan.
f) Strategi untuk mewujudkan pengembangan kawasan pertanian pangan berkelanjutan dalam mendukung ketahanan pangan nasional, meliputi:
a) Menetapkan kawasan pertanian pangan berkelanjutan secara optimal untuk meningkatkan ketahanan pangan masyarakat Kabupaten dan menunjang keberadaan kawasan permukiman;
b) Mempertahankan luasan lahan sawah beririgasi teknis dan mengembangkan lahan sawah beririgasi teknis baru pada kawasan potensial;
c) Mengoptimalkan kawasan pertanian lahan kering; dan
d) Meningkatkan dan mengembangkan infrastruktur yang mendukung pengembangan pertanian.
g) Strategi untuk mewujudkan peningkatan fungsi kawasan untuk mendukung pertahanan dan keamanan negara, meliputi:
a) Mendukung penetapan kawasan peruntukan pertahanan dan keamanan negara;
b) Mengembangkan kegiatan budidaya secara selektif di dalam dan di sekitar kawasan pertahanan dan keamanan untuk menjaga fungsi dan peruntukannya;
c) Mengembangkan kawasan lindung dan/atau kawasan budidaya tidak terbangun di sekitar kawasan pertahanan dan keamanan sebagai zona penyangga yang memisahkan kawasan tersebut dengan kawasan budi daya terbangun; dan
susunan pusat-pusat permukiman dan sistem jaringan prasarana dan sarana yang berfungsi sebagai pendukung kegiatan sosial ekonomi masyarakat yang secara hierarkis memiliki hubungan fungsional. Pola ruang mengindisikasikan distribusi peruntukan ruang dalam suatu wilayah yang meliputi peruntukan ruang untuk fungsi lindung dan peruntukan ruang untuk fungsi budidaya.
Kawasan rawan bencana alam di wilayah Kabupaten Grobogan terdiri atas kawasan rawan banjir, kawasan rawan tanah longsor dan kawasan rawan kekeringan. Kawasan rawan banjir meliputi sebagian wilayah Kecamatan Tegowanu, Kecamatan Grobogan, Kecamatan Karangrayung, Kecamatan Geyer, Kecamatan Brati, Kecamatan Toroh, Kecamatan Purwodadi, Kecamatan Klambu, Kecamatan Penawangan, Kecamatan Kedungjati, Kecamatan Godong dan Kecamatan Gubug. Kawasan rawan tanah longsor meliputi sebagian wilayah Kecamatan Klambu, Kecamatan Brati, Kecamatan
Grobogan, Kecamatan Kedungjati, Kecamatan Tanggungharjo, Kecamatan
Karangrayung, Kecamatan Toroh, Kecamatan Geyer, Kecamatan Tawangharjo, Kecamatan Wirosari, Kecamatan Pulokulon, Kecamatan Kradenan dan Kecamatan Gabus. Kawasan rawan kekeringan meliputi sebagian wilayah Kecamatan Ngaringan, Kecamatan Wirosari, Kecamatan Tawangharjo, Kecamatan Gabus, Kecamatan Kradenan, Kecamatan Pulokulon, Kecamatan Purwodadi, Kecamatan Geyer, Kecamatan Penawangan, Kecamatan Karangrayung, Kecamatan Kedungjati, Kecamatan Brati, Kecamatan Toroh, Kecamatan Grobogan, Kecamatan Tanggungharjo dan Kecamatan Tegowanu.
20
/
32
7
01 Mei 2012
Sumber : Dokumen Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Grobogan Tahun 2011-2031
21
/
32
Sumber : Dokumen Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Grobogan Tahun 2011-2031
2.1.4. Sosial dan Budaya
Peningkatan pendidikan merupakan faktor terpenting dalam pembangunan di Indonesia. Baik dilihat dari sudut pandang penduduk sebagai obyek pembangunan maupun sebagai subyek pembangunan. Keberhasilan pembangunan disuatu daerah dapat ditengarai salah satunya dengan tingginya tingkat pendidikan penduduknya. Tentunya hal ini tidak lepas dari sarana pendidikan yang tersedia di daerah tersebut. Salah satu faktor yang menunjang keberhasilan pendidikan adalah terpenuhinya sarana pendidikan seperti jumlah sekolah dan juga tenaga pendidik. Pada tingkat pendidikan SD diketahui ada 851 Sekolah Dasar yang dilayani oleh 4733 guru. Sekolah Dasar yang ada tersebut secara akumulasi memiliki 146.151 murid, yang berarti rata-rata setiap Sekolah Dasar memiliki 172 murid.
Tabel 2.8: Fasilitas pendidikan yang tersedia di Kabupaten Grobogan Tahun 2015 Jumlah Sarana Pendidikan
No Nama Kecamatan Umum Agama SD SLTP SMA SMK MI MTs MA 1 Kedungjati 31 6 1 2 5 3 1 2 Karangrayung 63 12 2 1 5 3 -3 Penawangan 39 3 1 2 4 4 1 4 Toroh 65 6 2 - 7 5 1 5 Geyer 48 6 1 - 4 1 -6 Pulokulon 59 9 2 1 10 8 1 7 Kradenan 46 8 2 2 - 6 1 8 Gabus 46 6 1 - 1 2 1 9 Ngaringan 38 6 - - 1 3 1 10 Wirosari 50 9 4 3 2 4 1 11 Tawangharjo 32 3 1 - 6 4 2 12 Grobogan 42 5 1 1 6 5 2 13 Purwodadi 75 13 7 6 4 8 3 14 Brati 32 2 - - 6 2 -15 Klambu 26 2 - - 2 3 1 16 Godong 49 7 3 1 6 4 4 17 Gubug 50 9 4 6 4 6 4 18 Tegowanu 33 6 - 1 1 1 1 19 Tanggungharjo 27 3 2 1 - 6 2 Jumlah 851 121 34 27 74 78 27
Sumber: Grobogan dalam Angka, 2015
Fasilitas kesehatan yang tersedia di Kabupaten Grobogan antara lain meliputi Rumah Sakit baik yang dikelola pemerintah maupun swasta, Puskesmas, Puskesmas Pembantu, Apotek dan Posyandu. Jika dilihat dari jumlah eksisting fasilitas kesehatan masih belum optimal pelayanannya dan dari segi jumlahnya masih sangat kurang. Fasilitas kesehatan terbesar yaitu rumah sakit jumlahnya hanya 4 (empat) unit dan terletak di Kecamatan Purwodadi. Untuk fasilitas puskesmas persebarannya merata di seluruh kecamatan.
1 Kedungjati 8,522 2 Karangrayung 14,335 3 Penawangan 6,735 4 Toroh 13,363 5 Geyer 16,992 6 Pulokulon 28,505 7 Kradenan 18,225 8 Gabus 13,763 9 Ngaringan 15,038 10 Wirosari 13,803 11 Tawangharjo 11,712 12 Grobogan 17,186 13 Purwodadi 10,086 14 Brati 7,481 15 Klambu 4,643 16 Godong 9,334 17 Gubug 10,389 18 Tegowanu 7,646 19 Tanggungharjo 6,638 Jumlah 234,396
Sumber: Grobogan Dalama Angka, 2015
Jenis rumah di Kabupaten Grobogan pada tahun 2016 terdiri dari rumah permanen, semi permanen dan non permanen. Jumlah jenis rumah terbanyak didominasi rumah non permanen dengan jumlah 240.080 unit, sedangkan untuk jenis permanen dan semi permanen berturut- turut sebesar 35.019 dan 106.134 unit rumah.
Tabel 2.10. Jumlah rumah per kecamatan di Kabupaten Grobogan Tahun 2016 No Nama Kecamatan Jenis Rumah Jumlah Permanen Semi Permanen Non Permanen 1 Kedungjati 737 7.815 3.449 12.001 2 Karangrayung 860 11.152 12.318 24.330 3 Penawangan 1.413 3.278 13.392 18.083 4 Toroh 2.480 15.631 15.321 33.432 5 Geyer 1.193 1.593 15.779 18.565 6 Pulokulon 782 1.338 26.004 28.124 7 Kradenan 1.032 4.385 15.550 20.967 8 Gabus 2.425 1.863 16.595 20.883 9 Ngaringan 1.282 12.157 13.442 26.881 10 Wirosari 4.412 17.030 760 22.202 11 Tawangharjo 790 2.718 9.454 12.962 12 Grobogan 1.921 3.060 13.747 18.728 13 Purwodadi 6.035 7.223 19.652 32.910 14 Brati 948 2.943 9.473 13.364
No Nama Kecamatan Jenis Rumah Jumlah Permanen Semi Permanen Non Permanen 15 Klambu 1.467 1.098 5.924 8.489 16 Godong 2.738 5.623 15.876 24.237 17 Gubug 3.275 4.422 14.487 22.184 18 Tegowanu 692 1.292 10.740 12.724 19 Tanggungharjo 537 1.513 9.117 11.167 Jumlah 35.019 106.134 241.080 382.233
Sumber : Kecamatan Dalam Angka, 2015
Mengacu pada hasil Studi Identifikasi Kawasan Kumuh di Perkotaan yang merupakan kegiatan Dinas Cipta Karya Tata Ruang & Kebersihan Kabupaten Grobogan Tahun 2011 diperoleh kawasan kumuh di 4 (empat) Kawasan Perkotaan seluas 117,987 hektar dengan perincian sebagaimana berikut :
1. Kawasan kumuh di kawasan perkotaan Godong seluas 17 hektar meliputi Desa Bugel, Desa Godong, Desa Ketitang dan Desa Klampok;
2. Kawasan kumuh di kawasan perkotaan Gubug seluas 11 hektar meliputi Desa Gubug, Desa Kemiri, Desa Kuwaron dan Desa Pranten;
3. Kawasan kumuh di kawasan perkotaan Purwodadi seluas 60,936 hektar meliputi Kelurahan Kuripan, Kelurahan Danyang, Kelurahan Purwodadi, sebagian Desa Ngraji, sebagian Desa Karanganyar, sebagian Desa Getasrejo dan sebagian Desa Menduran; 4. Kawasan kumuh di kawasan perkotaan Wirosari seluas 29,051 hektar meliputi Desa
Organisasi Perangkat Daerah Pemerintah Kabupaten Grobogan dibentuk dengan peraturan daerah, yaitu :
1. Peraturan Daerah Kabupaten Grobogan Nomor 7 Tahun 2008 tentang Susunan Kedudukan dan Tugas Pokok Organisasi Sekretariat Daerah dan Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Grobogan;
2. Peraturan Daerah Kabupaten Grobogan Nomor 8 Tahun 2008 tentang Susunan Kedudukan dan Tugas Pokok Organisasi Dinas Daerah Kabupaten Grobogan;
3. Peraturan Daerah Kabupaten Grobogan Nomor 9 Tahun 2008 tentang Susunan Kedudukan dan Tugas Pokok Organisasi Lembaga Teknis Daerah dan Badan Pelayanan Perijinan Terpadu Kabupaten Grobogan;
4. Peraturan Daerah Kabupaten Grobogan Nomor 10 Tahun 2008 tentang Susunan Kedudukan dan Tugas Pokok Organisasi Kecamatan dan Kelurahan Kabupaten Grobogan.
Organisasi Perangkat Daerah di Kabupaten Grobogan berbentuk:
1. Sekretariat Daerah; merupakan unsur staf dipimpin oleh sekretaris daerah
2. Sekretariat DPRD; merupakan unsur pelayanan terhadap DPRD, dipimpin oleh sekretaris dewan 3. Dinas daerah; merupakan unsur pelaksana otonomi daerah yang dipimpin oleh kepala dinas 4. LEMTEKDA; merupakan unsur pendukung tugas kepala daerah, dapat berbentuk badan, kantor,
dan rumah sakit. Lembaga teknis daerah yang berbentuk badan dipimpin oleh kepala badan, yang berbentuk kantor dipimpin oleh kepala kantor, dan yang berbentuk rumah sakit dipimpin oleh direktur Inspektorat; merupakan unsur pengawas penyelenggaraan pemerintahan daerah, dipimpin oleh inspektur
5. Kecamatan; merupakan wilayah kerja camat sebagai perangkat daerah kabupaten, dipimpin oleh camat,
6. Kelurahan; merupakan wilayah kerja lurah sebagai perangkat daerah kabupaten dalam wilayah kecamatan, dipimpin oleh lurah
Selain perangkat daerah tersebut di atas dalam rangka menggerakan perekonomian daerah di Kabupaten Grobogan, telah dibentuk 5 BUMD, yaitu
1. PD BPR BKK Purwodadi 2. PD BPR Purwa Artha 3. PD Purwa Aksara
4. PD Aneka Usaha Pertanian, dan
Tugas Pokok dan Fungsi Sekretaris Daerah, Asisten, Kepala Bagian, Staf Ahli dan Sekretaris DPRD.
1. Sekretaris Daerah Kabupaten Grobogan
Sekretaris Daerah mempunyai tugas pokok dan kewajiban membantu Bupati dalam menyusun perumusan kebijakan, mengoordinasikan dinas daerah, lembaga teknis daerah, kecamatan dan kelurahan, pengelolaan keuangan, sarana dan prasarana penyelenggaraan pemerintahan daerah, administrasi, organisasi dan tata laksana, pengelolaan sumberdaya aparatur serta memberikan pelayanan administratif kepada seluruh perangkat daerah.
1.1. Asisten Pemerintahan
Asisten Pemerintahan mempunyai tugas pokok membantu tugas Sekretaris Daerah dalam melaksanakan dan mengoordinasikan pembinaan penyelenggaraan pemerintahan dan mengoordinasikan pelaksanaan penyusunan perumusan kebijakan, pedoman dan petunjuk teknis di bidang penyelenggaraan pemerintahan umum, otonomi daerah, pemerintahan desa, pertanahan, hukum dan hak azasi manusia serta hubungan masyarakat dan keprotokolan.
a. Kepala Bagian Tata Pemerintahan
Kepala Bagian Tata Pemerintahan mempunyai tugas pokok mengoordinasikan bahan penyusunan perumusan kebijakan, pedoman dan petunjuk teknis pembinaan di bidang penyelenggaraan tata pemerintahan yang meliputi pemerintahan umum, otonomi daerah dan administrasi pertanahan.
b. Kepala Bagian Pemerintahan Desa
Kepala Bagian Pemerintahan Desa mempunyai tugas pokok mengoordinasikan bahan penyusunan perumusan kebijakan, pedoman, petunjuk teknis pembinaan di bidang penyelenggaraan pemerintahan desa/kelurahan yang meliputi administrasi, kelembagaan, perangkat dan kekayaan desa/kelurahan.
c. Kepala Bagian Hukum dan Hak Asazi Manusia
Kepala Bagian Hukum dan Hak Asazi Manusia mempunyai tugas pokok mengoordinasikan bahan perumusan kebijakan, pedoman dan petunjuk teknis di bidang hukum, perundang- undangan, pengkajian produk hukum dan bantuan hukum, mendokumentasikan produk hukum, mempublikasikan serta pengoordinasian pelaksanaan hak azasi manusia di daerah.
d. Kepala Bagian Hubungan Masyarakat dan Keprotokolan
Kepala Bagian Hubungan Masyarakat dan Keprokolan mempunyai tugas pokok mengoordinasikan bahan penyusunan perumusan kebijakan, pedoman dan petunjuk teknis di bidang pelaksanaan pembinaan hubungan masyarakat dan layanan keprotokolan pada acara resmi yang bersifat kenegaraan/daerah.
1.2. Asisten Perekonomian, Pembangunan dan Kesejahteraan Rakyat
Asisten Perekonomian, Pembangunan dan Kesejahteraan Rakyat mempunyai tugas pokok membantu tugas Sekretaris Daerah dalam melaksanakan dan mengoordinasikan pembinaan penyelenggaraan pemberdayaan ekonomi, pelaksanaan pembangunan dan kesejahteraan rakyat, mengoordinasikan pelaksanaaan penyusunan perumusan kebijakan, pedoman dan petunjuk teknis di bidang perekonomian, pembangunan, kesejahteraan rakyat serta pengolahan data.
a. Kepala Bagian Perekonomian
Kepala Bagian Perekonomian mempunyai tugas pokok mengoordinasikan bahan penyusunan perumusan kebijakan, pedoman dan petunjuk teknis dan pembinaan di bidang perekonomian daerah, sumberdaya alam, pertambangan dan energi, sarana prasarana perekonomian, peningkatan produksi pertanian, industri, Badan Usaha Milik Daerah, lembaga keuangan dan pengelolaan/kelestarian lingkungan hidup.
b. Kepala Bagian Pembangunan
Kepala Bagian Pembangunan mempunyai tugas pokok mengoordinasikan bahan penyusunan perumusan kebijakan, pedoman dan petunjuk teknis di bidang pelaksanaan dan penyelenggaraan pembangunan di daerah.
c. Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat
Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat mempunyai tugas pokok pengoordinasian bahan perumusan kebijakan, pedoman dan petunjuk teknis pelaksanaan pembangunan di bidang kesejahteraan rakyat, kehidupan beragama, pendidikan, kesehatan, kebudayaan, pemuda, olah raga, pariwisata dan penanganan masalah sosial.
d. Kepala Bagian Pengolahan Data
Kepala Bagian Pengolahan Data mempunyai tugas pokok mengoordinasikan bahan penyusunan perumusan kebijakan, pedoman dan petunjuk teknis bidang pengolahan data, pengembangan program jaringan dan sistem komunikasi dan informasi data.
Asisten Administrasi mempunyai tugas pokok membantu tugas Sekretaris Daerah dalam melaksanakan dan mengoordinasikan penyusunan perumusan kebijakan, pedoman dan petunjuk teknis penyelenggaraan pemerintahan dan kebijakan daerah bidang administrasi, pendayagunaan aparatur, organisasi dan ketatalaksanaan, kepegawaian, keuangan, ketatausahaan pimpinan, umum, perlengkapan dan asset daerah serta persandian.
a. Kepala Bagian Organisasi dan Pendayagunaan Aparatur
Kepala Bagian Organisasi dan Pendayagunaan Aparatur mempunyai tugas pokok mengoordinasikan bahan perumusan kebijakan, pedoman dan petunjuk teknis pelaksanaan kebijakan daerah di bidang organisasi, kelembagaan daerah,
ketatalaksanaan, pendayagunaan aparatur dan akuntabilitas kinerja yang meliputi penataan kelembagaan perangkat daerah, pelaksanaan analisis jabatan, penetapan formasi jabatan, naskah kedinasan, penyusunan standar kompetensi penyusunan laporan akuntabilitas kinerja instansi pemerintah, pengembangan sumberdaya aparatur serta pengelolaan administrasi kepegawaian di lingkungan Sekretariat Daerah.
b. Kepala Bagian Keuangan
Kepala Bagian Keuangan mempunyai tugas pokok mengoordinasikan bahan penyusunan perumusan kebijakan, pedoman dan petunjuk teknis di bidang pengelolaan keuangan, perencanaan anggaran, perbendaharaan, verifikasi, akuntansi dan pelaporan, serta mengoordinasikan administrasi pengelolaan keuangan sesuai peraturan perundang- undangan di bidang keuangan di lingkungan Sekretariat Daerah.
c. Kepala Bagian Tata Usaha Pimpinan
Kepala Bagian Tata Usaha Pimpinan mempunyai tugas pokok mengoordinasikan bahan penyusunan kebijakan, pedoman dan petunjuk teknis pelaksanaan administrasi umum di bidang Tata Usaha Pimpinan yang meliputi Bupati, Wakil Bupati, Sekretaris Daerah dan Asisten Sekretaris Derah.
d. Kepala Bagian Umum
Kepala Bagian Umum mempunyai tugas pokok mengoordinasikan bahan penyusunan kebijakan, pedoman dan petunjuk teknis di bidang administrasi umum, kesekretariatan, sandi dan telekomunikasi, rumah tangga, perlengkapan dan pemeliharaan.
2. Kelompok Jabatan Fungsional
Kelompok Jabatan Fungsional di lingkungan Sekretariat Daerah mempunyai tugas dan tanggung jawab membantu sebagian tugas Sekretaris Daerah dalam melaksanakan kegiatan teknis sesuai dengan keahlian, keterampilan dan spesialisasinya masing-masing dan bersifat mandiri.
3. Staf Ahli Bupati
3.1. Staf Ahli Bupati Bidang Hukum dan Politik
Staf Ahli Bupati Bidang Hukum dan Politik mempunyai tugas pokok melakukan telaahan, kajian dan memberikan saran, masukan serta pertimbangan kepada Bupati di bidang hukum dan politik.
3.2. Staf Ahli Bupati Bidang Pemerintahan
Staf Ahli Bupati Bidang Pemerintahan mempunyai tugas pokok melakukan telaahan, kajian dan memberikan saran, masukan serta pertimbangan
3.3. Staf Ahli Bupati Bidang Pembangunan
Staf Ahli Bupati Bidang Pembangunan mempunyai tugas pokok melakukan telaahan, kajian dan memberikan saran, masukan serta pertimbangan kepada Bupati di bidang pembangunan.
Staf Ahli Bupati Bidang Kemasyarakatan dan Sumberdaya Manusia mempunyai tugas pokok melakukan telaahan, kajian dan memberikan saran, masukan serta pertimbangan kepada Bupati di bidang kemasyarakatan dan sumberdaya.
3.5. Staf Ahli Bupati Bidang Ekonomi dan Keuangan,
Staf Ahli Bupati Bidang Ekonomi dan Keuangan mempunyai tugas pokok melakukan telaahan, kajian dan memberikan saran, masukan serta pertimbangan kepada Bupati di bidang ekonomi dan keuangan.
4. Sekretaris DPRD Kabupaten Grobogan
Sekretaris DPRD mempunyai tugas pokok menyelenggarakan administrasi kesekretariatan, administrasi keuangan, mendukung pelaksanaan tugas dan fungsi DPRD dan menyediakan serta mengoordinasikan tenaga ahli yang diperlukan oleh DPRD sesuai dengan kemampuan keuangan daerah
Dasar keberadaan dinas yang ada di Kabupaten Grobogan adalah Peraturan Daerah No 8Tahun 2008
tentang Pembentukan, Susunan Organisasi, Kedudukan dan Tugas Dinas-Dinas Daerah, dimana di dalam Peraturan Daerah ini dinas-dinas yang ada di lingkungan Kabupaten Grobogan adalah:
1. Dinas Pendidikan,
2. Dinas Pemuda, Olah Raga, Kebudayaan dan Olahraga; 3. Dinas Kesehatan;
4. Dinas Sosial, Tenaga Kerja, dan Transmigrasi; 5. Dinas Perhubungan, Informasi, dan Transmigrasi; 6. Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil; 7. Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Kecil dan Menengah
8. Dinas Perindustrian, Perdagangan, Pertambangan dan Energi; 9. Dinas Pertanian, Tanaman Pangan dan Hortikultura;
10. Dinas Peternakan dan Perikanan; 11. Dinas Kehutanan dan Perkebunan;
12. Dinas Cipta Karya, Tata Ruang dan Kebersihan; 13. Dinas Pengairan;
14. Dinas Bina Marga; dan
Sedangkan berdasar pada Peraturan Daerah No 9 tahun 2008 tentang Pembentukan, Susunan Organisasi, Kedudukan dan Tugas Lembaga Teknis Daerah, maka Lembaga Teknis Daerah yang ada di Kabupaten Grobogan terdiri dari:
1. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, selanjutnya dapat disebut Bappeda; 2. Badan Kepegawaian Daerah, selanjutnya dapat disebut BKD;
3. Inspektorat Daerah, selanjutnya dapat disebut Inspektorat;
4. Badan Pemberdayaan Perempuan, Perlindangan Anak dan Keluarga Berencana; 5. Badan Pemberdayaan Masyarakat;
6. Badan Kesatuan Bangsa, Perlindungan Masyarakat, selanjutnya dapat disebut Bakesbanglinmas;
7. Badan Pelayanan Perijinan Terpadu selanjutnya dapat disebut BPPT; 8. RSUD Dr. R. Soedjati Soemodiharjo;
9. Badan Ketahanan Pangan, selanjutnya dapat disebut BKP; 10. Badan Lingkungan Hidup, selanjutnya dapat disebut BLH; 11. Kantor Perpustakaan Daerah;
12. Kantor Arsip Daerah; dan 13. Kantor Satpol PP.
SSK adalah dokumen rencana strategis berjangka menengah yang disusun untuk percepatan pembangunan sektor sanitasi suatu Kota/Kabupaten, yang berisi tentang potret kondisi sanitasi kota saat ini, rencana strategi dan rencana tindak pembangunan sanitasi jangka menengah. SSK Kabupaten Grobogan merupakan penjabaran dari strategi sanitasi yang memuat empat sub sektor pilar utama sanitasi yaitu sub sektor air limbah domestik, sub sektor persampahan, sub sektor drainase, dan sub sektor PHBS.
Penyusunan dokumen SSK Kabupaten/Kota ini berdasarkan Buku Putih Sanitasi (BPS) di mana BPS sebagai dokumen yang memuat data dasar kondisi sanitasi Kabupaten/Kota saat ini. Kedudukan SSK diantara dokumen perencanaan di bidang sanitasi lainnya yang terdapat di Kabupaten Grobogan adalah sebagai pelengkap dan penyempurna dokumen-dokumen perencanaan bidang sanitasi yang telah ada, seperti :
1. SSK Kabupaten Grobogan merupakan pelengkap dari dokumen perencanaan resmi yang ada di Kabupaten Grobogan, seperti RPJMD tahun 2016 - 2020, Renstra SKP tahun 2016 - 2020 dan Renja SKPD tahun 2016;
2. SSK Kabupaten Grobogan merupakan penjabaran secara lengkap sebagian dari RPIJM tahun 2016 – 2020 khususnya dalam bidang sanitasi (air limbah, persampahan dan drainase); 3. SSK Kabupaten Grobogan akan menjadi masukan bagi penyusunan RPJMD untuk kepala
daerah periode berikutnya (2015 – 2020);
4. Penyusunan SSK Kabupaten Grobogan mengacu pada dokumen perencanaan tata ruang wilayah (RTRW tahun 2011 – 2031) Kabupaten Grobogan, khususnya berkaitan dengan zonasi pembangunan sarana sanitasi.
2.2.1. Air Limbah Domestik
Sebagaimana yang telah diuraikan pada bab sebelumnya, selain visi dan misi sanitasi juga diperlukan penajaman dari visi dan misi tersebut yang dituangkan menjadi sebuah tujuan, sasaran serta strategi untuk mewujudkan visi dan misi yang telah disusun.
Di dalam sub sektor air limbah domestik, terdapat beberapa tujuan dan sasaran serta strategi yang dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 2.9 Kemajuan Pelaksanaan SSK bidang Air Limbah Domestik
SSK Tahun 2017 – 2021 SSK (saat ini)
Tujuan Sasaran Data dasar* Status saat ini (2016)
(1) (2) (3) (4)
Mengoptimalkan pengelolaan air limbah di perkotaan dan perdesaan yang bersih, sehat dan berwawasan lingkungan untuk perbaikan kesehatan masyarakat Optimalisasi dan efektifitas pelayanan penyedotan lumpur tinja ke IPLT Ngembak dengan menambah cakupan pelayanan dari 11,4% menjadi 40% pada Tahun 2021. Tahun 2016 IPLT Ngembak sedang dilakukan Revitalisasi Berkurangnya praktek BABS menjadi 25 % di wilayah Kabupaten Grobogan pada tahun 2017 Tahun 2016 di Kabupaten Grobogan sudah 0% BABS Kabupaten Grobogan telah ODF di tahun 2016, artinya sudah tidah ada masyarakat yang melakukan BABS Meningkatkan cakupan kepemilikan jamban keluarga dengan penggunaan tangki septik dari 56.7% menjadi 76.3% pada akhir tahun 2021. Tahun 2016 di Kabupaten Grobogan yang menggunakan Tangki septik individual berkisar 76.3% Tahun 2016 di Kabupaten Grobogan yang menggunakan Tangki septik individual berkisar 76.3% Meningkatnya jumlah dan cakupan layanan pengelolaan air limbah secara komunal dari 20 unit menjadi 100 unit di
Cakupan layanan eksisting
sekitar 0.1%
Cakupan layanan Ipal Komunal di Kabupaten Grobogan berkisar 600 KK
(1) (2) (3) (4)
wilayah padat kumuh miskin di akhir tahun 2021 Pengembangan perangkat peraturan perundangan dan perencanaan penyelenggaraan pengelolaan air limbah permukiman Tersedianya perencanaan
pengelolaan air limbah domestik dan industri rumah tangga skala perkotaan pada akhir tahun 2017 Peningkatan dan pengembangan alternatif sumber pendanaan pembangunan prasarana dan sarana air limbah pemukiman.
Meningkatkan anggaran Anggaran APBD/APBD-Desa untuk air limbah sebesar 3% pada tiap tahunnya
Meningkatkan jumlah dana sektor swasta baik dengan dana CSR maupun penanaman modal investasi meningkatkan
peran serta dan kemandirian masyarakat dalam pengelolaan air limbah
Peningkatan Jumlah Jamban yang dibangun secara swadaya/non-subsidi oleh masyarakat sebesar 10 Milyar selama lima tahun sampai Tahun 2021
2.2.2. Pengelolaan Persampahan
Di dalam sub sektor persampahan, terdapat beberapa tujuan dan sasaran serta strategi yang dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 2.10 Kemajuan Pelaksanaan SSK bidang Pengelolaan Persampahan
SSK Tahun 2017 – 2021 SSK (saat ini)
Tujuan Sasaran Data dasar* Status saat ini (2016)
(1) (2) (3) (4) Peningkatan cakupan pelayanan pengelolaan persampahan perkotaan Peningkatan sampah wilayah perkotaan yang dapat terangkut/dikelola di TPA menjadi 80% di tahun 2021 Penyediaan sarana prasarana TPST (tempat pengolahan sampah terpadu) di 6 (enam) ibu kota kecamatan pada tahun 2021
Pengembangan kelembagaan, peraturan dan perundangan
Penetapan Perda dan Perbup yang mengatur pedoman teknis tentang pelaksanaan pengelolaan sarana prasarana persampahan pada Tahun 2016. Meningkatkan Status dan kapasitas institusi pengelola dalam penerapan Kewajiban dan sanksi bagi masyarakat Pengurangan
sampah
Meningkatnya partisipasi masyarakat
(1) (2) (3) (4)
semaksimal mungkin dimulai dari sumbernya
dalam pengelolaan sampah dengan sistem 3R skala rumah tangga dari 1,7 % menjadi 5% pada tahun 2021 Terbentuknya dan terbinanya kelompok pengelola sarana prasarana persampahan di lingkungan permukiman dan sekolah. Pengembangan alternatif sumber pendanaan Meningkatnya jumlah dana dari APBD Propinsi dan APBN sebesar 10 Milyar dalam peningkatan pengelolaan Persampahan di Kabupaten Grobogan pada Tahun 2021. Meningkatnya dana CSR dan investasi sektor swasta dalam pengelolaan persampahan
2.2.3. Drainase Perkotaan
Di dalam sub sektor drainase, terdapat beberapa tujuan dan sasaran serta strategi yang dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 2.11 Kemajuan Pelaksanaan SSK bidang Drainase Perkotaan
SSK Tahun 2017 – 2021 SSK (saat ini)
Tujuan Sasaran Data dasar* Status saat ini (2016)
(1) (2) (3) (4) Meningkatkan kapasitas kelembagaan dan peraaturan perundanga-undangan mengenai Drainase Lingkungan Tersedianya Regulasi drainase lingkungan pada tahun 2015. Meningkatkan perencanaan pengelolaan sistem drainase secara menyeluruh dan terpadu dalam penanganan banjir dan genangan. Tersedianya dokumen perencanaan sistem drainase kota yang terintegrasi di akhir tahun 2017 Berkurangnya luas genangan di Kabupaten Grobogan memprioritaskan penanganan di wilayah permukiman di akhir Tahun 2017 Berkurangnya luas genangan di Kabupaten Grobogan sebesar 15% dengan memprioritaskan penanganan di wilayah permukiman di akhir Tahun 2017 Meningkatnya intensitas upaya penyadaran Perilaku Hidup Meningkatnya peran media dan masyarakat dalam penyadaran perilaku hidup bersih
(1) (2) (3) (4)
Bersih dan Sehat secara terus menerus di sub drainase lingkungan. dan sehat di 30 desa/kelurahan rawan banjir pada akhir tahun 2017.
Pengembangan alternatif sumber pendanaan
Meningkatnya jumlah dana dari APBD Propinsi dan APBN sebesar 5 Milyar dalam peningkatan
pengelolaan Persampahan di Kabupaten Grobogan pada Tahun 2017.
2.3. PROFIL SANITASI SAAT INI
Pembangunan di Kabupaten Grobogan dilaksanakan secara partisipatif, transparan dan akuntabel dengan berpegang teguh pada prinsip-prinsip dan pengertian dasar pembangunan yang berkelanjutan agar mekanisme pengelolaan, pemanfaatan sumber daya yang ada diharapkan akan bermuara kepada kualitas lingkungan yang memenuhi standar kehidupan.
Persoalan penting yang memerlukan prioritas penanganan dalam peningkatan kualitas lingkungan adalah pengelolaan sanitasi, baik sanitasi dalam kedudukan sebagai salah satu kegiatan sektoral yang menjadi bagian dari program pengelolaan lingkungan maupun sanitasi sebagai bagian dari sistem pengembangan kawasan di wilayah permukiman.
Sebagai bagian dari pengelolaan lingkungan, peningkatan kualitas sanitasi di Kabupaten Grobogan lebih difokuskan kepada upaya peningkatan kualitas sanitasi yang berbasis masyarakat. Sedangkan sebagai subsistem pengembangan kawasan, peningkatan kualitas sanitasi di Kabupaten Grobogan difokuskan kepada penataan drainase lingkungan, pengelolaan persampahan dan pencegahan kontaminasi terhadap air tanah oleh limbah hasil kegiatan manusia khususnya di lingkungan pemukiman yang padat penduduk dan atau pusat-pusat kegiatan masyarakat serta peningkatan kualitas, kuantitas dan kontinuitas penyediaan air minum bagi masyarakat.
Seiring dengan aktifitas pembangunan yang meningkat dengan bertambahnya penduduk akan memberikan dampak negatif terhadap lingkungan, apabila tidak dikelola dengan baik maka akan dapat menimbulkan masalah di bidang sanitasi. Hal ini akan menyebabkan adanya pencemaran lingkungan, menurunnya kualitas lingkungan dan estetika serta kemungkinan timbulnya penyakit sehingga merugikan masyarakat di sekitarnya.
Kebiasaan masyarakat membuang sampah dan limbah rumah tangga ke saluran drainase, sungai-sungai dan pada tempat-tempat yang bukan peruntukannya ikut memperburuk kondisi sanitasi di Kabupaten Grobogan. Dari semua persoalan sanitasi di Kabupaten Grobogan, penyebab utamanya adalah minimnya pengetahuan masyarakat tentang sanitasi yang berakibat kepada kurangnya kesadaran terhadap pentingnya sanitasi dalam kehidupan.
2.3.1.1.Kelembagaan Undang-Undang Republik Indonesia
1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1966 Tentang Hygiene; 2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1997 Tentang
Pengelolaan Lingkungan Hidup;
3. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia
1. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 1990 Tentang Pengendalian Pencemaran Air;
2. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 1999 Tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan;
3. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 2001 Tentang Pengelolaan Utilitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air.
Keputusan Menteri Republik Indonesia
1. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 35/MENLH/7/1995 tentang Program Kali Bersih;
2. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 112 Tahun 2003 tentang Baku Mutu Air Limbah Domestik.
Petunjuk Teknis
1. Petunjuk Teknis Nomor KDT 616.98 Ped I judul Pedoman Teknis Penyehatan Perumahan;
2. Petunjuk Teknis Nomor KDT 361.728 Pet I judul Petunjuk Teknis Spesifikasi Instalasi Pengolahan Air Sistem Berpindah-pindah (Mobile) Kapasitas 0.5 Liter/detik;
3. Petunjuk Teknis Nomor KDT 627.54 Pan I judul Panduan Dan Petunjuk Praktis engelolaan Drainase Perkotaan;
4. Petunjuk Teknis Nomor KDT 363.728 Pet D judul Petunjuk Teknis Tata Cara Pengoperasian dan Pemeliharaan Instalasi Pengolahan Air Limbah Rumah Tangga Non Kakus;
5. Petunjuk Teknis Nomor KDT 307.14 Man P judul Manual Teknis MCK.
Peraturan Daerah Kabupaten Grobogan
Perda Kabupaten Grobogan No. 9 Tahun 2007 tentang Retribusi Penyedotan Kakus. Aspek Institusional
Instansi Pemerintah Kabupaten Grobogan yang menangani dan terkait dalam pengelolaan limbah cair antara lain: Dinas Ciptakarya, Tata Ruang dan Kebersihan Kabupaten Grobogan.
Pengelolaan air limbah permukiman dapat dilakukan dengan sistem on-site atau sistem off-site atau kombinasi dari kedua sistem ini :
Sistem pengelolaan air limbah terpusat (off-site system) adalah sistem penanganan air limbah domestik melalui jaringan pengumpul yang diteruskan ke instalasi pengolahan air limbah (IPAL).
Sistem off-site diterapkan pada kawasan Kepadatan > 100 org/ha
Bagi kawasan berpenghasilan rendah dapat menggunakan sistem septic tank komunal (descentralised water treatment) dan pengaliran dengan konsep perpipaan shallow sewer. Dapat juga melalui sistem kota/modular bila ada subsidi tarif.
Bagi kawasan terbatas untuk pelayanan 500–1000 sambungan rumah disarankan menggunakan basis modul. Sistem ini hanya menggunakan 2 atau 3 unit pengolahan limbah yang paralel.
Sistem pengolahan air limbah setempat (on-site system) adalah sistem penanganan air limbah domestik yang dilakukan secara individual dan atau komunal dengan fasilitas dan pelayanan dari satu atau beberapa bangunan, yang pengolahannya diselesaikan secara setempat atau di lokasi sumber.
Sistem on-site diterapkan pada: Kepadatan < 100 org/ha
Kepadatan > 100 org/ha sarana on site dilengkapi pengolahan tambahan seperti kontak media dengan atau tanpa aerasi
Jarak sumur dengan bidang resapan atau cubluk > 10 m
Instalasi pengolahan lumpur tinja minimal untuk melayani penduduk urban > 50.000 jiwa atau bergabung dengan kawasan urban lainnya
3.2.2.1 Sistem Terpusat/Off-site System
Kabupaten Grobogan tidak memiliki sistem pengolahan air limbah terpusat (IPAL terpusat). Hal ini disebabkan kepadatan penduduk dan kondisi topografi Kabupaten Grobogan tidak memungkinkan untuk dibangunnya sarana IPAL terpusat.
Kabupaten Grobogan sudah mempunyai Unit Pengolah Lumpur Tinja (IPLT), IPLT ini ibangun pada tahun 1999 di area TPA Ngembak. Jumlah personel yang bertugas dalam operasional IPLT berjumlah 2 (dua) orang dari Dinas Ciptakarya, Tata Ruang dan Kebersihan Kabupaten Grobogan.
IPLT Ngembak didesain mampu mengolah limbah lumpur tinja sebanyak 15 m3/hari. Jumlah ini hanya mampu melayani sekitar 15% dari jumlah penduduk Kabupaten Grobogan. Sistem Pengolahan lumpur tinja di IPLT Grobogan menggunakan rangkaian pengolahan fisik-biologis, dengan unit pengolahan tangki imhoff, kolam anaerobik, kolam fakultatif, kolam maturasi, dan bak pengering lumpur. Kondisi pelayanan di IPLT Ngembak belum optimal, dimana masih dijumpai kerusakan/retak bangunan pada beberapa bagian.
Gambar 3.2. IPLT di Area TPA Ngembak
Kondisi cakupan pelayanan Air Limbah (penyedotan tinja) untuk Kabupaten Grobogan yang dilaksanakan oleh Dinas Ciptakarya, Tata Ruang dan Kebersihan Kabupaten Grobogan sangat minimal, dikarenakan keterbatasan sarana dan prasara serta masih rendahnya kesadaran masyarakat akan pentingnya penggunaan tanki septic sesuai standar kesehatan, maka diperkirakan sedikit dari jumlah total penduduk Kabupaten Grobogan yang mampu dilayani. Untuk pelayanan pengangkutan tinja, sementara ini hanya dilayani oleh 2 mobil tinja, yaitu 1 dari Dinas Ciptakarya, Tata Ruang dan Kebersihan Kabupaten Grobogan dan 1 mobil tinja swasta.
empat lokasi di Grobogan. Keempat lokasi tersebut dibangun dengan skema Pembangunan Sarana Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM). Pada tahun 2010 telah dilakukan kegiatan SLBM di 4 (empat) Kecamatan yaitu :
Kec. Brati (Ds. Menduran, Ds. Katekan),
Kec. Ngaringan (Ds. Sarirejo, Ds. Kalangdosari, Ds. Sendangrejo, Ds. Trowolu), Kec. Wirosadi (Ds. Mojorejo),
Kec. Karangrayung (Ds. Jetis, Ds. Karangsono, Ds. Cekel)
Teknologi yang digunakan untuk IPAL Komunal program SLBM menggunakan skema pengolahan dengan menggunakan komponen:
1. Komponen toilet berupa inlet dari rumah berasal dari WC, kamar mandi, dapur dan cucian. Air limbah dapur dilengkapi dengan grease trap
2. Komponen pemipaan sekunder dari rumah ke pipa utama (house connection) menggunakan pipa PVC dilengkapi bak kontrol
3. Komponen pemipaan utama menggunakan PVC dilengkapi bak kontrol
4. Komponen IPAL terdiri atas inlet, bak sedimentasi, baffle reaktor dan anaerobik filter
5. Komponen pembuangan: sungai
Gambar 3.3. Konstruksi IPAL Komunal di Desa Jetis Kec. Karangrayung yang dibangun Tahun 2011.
3.2.2.3 Sistem setempat/on-site system
Pada sistem onsite ada dua jenis sarana yang digunakan untuk menampung kotoran tinja manusia yaitu cubluk dan septik tank. Cubluk adalah lubang yang digali didalam tanah dengan diameter 1.5 m sedalam 2m dan biasanya diberi dinding batu kosong untuk memudahkan penyerapan air ke dalam tanah. Air dan kotoran dari kakus dialirkan ke dalam lubang ini. Adapun kriteria pemakaian cubluk adalah sebagai berikut :
1) Mempunyai lahan pekarangan cukup (>500 m2) 2) Ditempatkan berjarak > 10 m dari sumber air 3) Kedalaman air tanah > 3 m
4) Dasar galian berjarak > 50 cm dari muka air tanah 5) Jenis tanah tidak mudah longsor
6) Digunakan diperumahan dengan kepadatan penduduk rendah dan di pedesaan
7) Diupayakan tidak dimasuki air hujan dan air permukaan
8) Ditutup agar tidak bau dan tidak dimasuki serangga (lalat dan nyamuk) 9) Dihubungkan dengan kakus yang menggunakan leher angsa
10) Perencanaan lubang cubluk untuk dapat menampung lumpur anggota rumah tangga dengan rate 30 ltr/org.thn
11) Lubang diuruk setelah penuh dan dibiarkan lumpur jadi kompos selama setengah tahun
12) Kompos dapat dikeluarkan dan kemudian dijadikan pupuk, dan kemudian lubang tersebut dapat dipergunakan kembali
13) Ketika lubang cubluk penuh dan menunggu proses pengkomposan, perlu disediakan cubluk cadangan/baru .
Septic tank adalah bak di dalam tanah dari pasangan batu kedap air yang terdiri dari dua kompertemen yang dibatasi oleh sekat berlubang utuk meningkatkan effisiensi pengendapan. Bangunan septic tank dilengkapi bidang peresapan air. Air dan kotoran dari kakus dialirkan ke bak ini, dan kemudian terjadi proses pengendapan yang memisahkan antara lumpur dan cairan/supernatan. Air kemudian dialirkan ke bidang peresapan (terdiri dari batu koral dilapisi ijuk) untuk diresapkan ke dalam tanah. Lumpur kotoran pada septic tank berakumulasi sampai penuh (biasanya s/d 2 tahun) untuk siap di sedot oleh truk tinja dan dibawa ke Instalasi pengolahan lumpur tinja (IPLT). Adapun kriteria penggunaan septic tank adalah sebagai berikut :
1) Pembuatannya memerlukan cukup pendanaan.
2) Dilengkapi dengan bidang resapan untuk meresapkan cairan supernatan yang keluar dari tangki septik.
3) Bagi kepadatan hunian dengan > 100 org/ha dan belum ada sistem sewerage dan sistem komunal, maka bidang resapan perlu digantikan dengan anaerobik bio filter.
4) Luas dan dalam bidang resapan tergantung permeabilitas tanahnya yg dilhitung dari hasil tes perkulasi.
5) Bagi daerah yang muka air tanahnya tinggi (kawasan pasang surut) dianjurkan penggunaan septic tank vertikal dan dilengkapi bio filter. 6) Kondisi air payau akan mempengaruhi degradasi bahan organik
yang prosesnya lebih lambat, maka proses di septic tank dan bio-filter harus kedap terhadap air payau.
A B C D E F
Input User Interface Penampungan Awal Pengaliran Pengolahan Akhir Pembuangan/ Daur
Ulang
Kode/Nama Aliran
WC Sentor Tangki Septik
- -
Sungai
Air Limbah (AL 1)
WC Sentor Tangki Septik
- - Tanah Air Limbah (AL 2) Jumbleng - - - Sungai Air Limbah (AL 3)
WC Sentor Tangki Septik
Truk Tinja (Swasta) - IPLT Air Limbah (AL 4) WC Sentor - -
Septick tank/ IPAL
Komunal Sungai
Air Limbah (AL 5)
A B C D E F
Input User Interface Penampungan Awal Pengaliran Pengolahan Akhir Pembuangan/ Daur
Ulang Kode/Nama Aliran WC Sentor - - - Sungai Air Limbah (AL 6) MCK Umum/ MCK Plus - -
Septick tank/ IPAL
Komunal Sungai
Air Limbah (AL 7)
Grey Water (Air Curah dari dapur,air untuk
Pembuangan langsung Tangki Septik
- -
Sungai
Air Limbah (AL 8)
mandi, air cucian pakaian
Pembuangan Kamar Mandi
- - -
Sungai
Air Limbah (AL 9)
Pembuangan Air Cuci Pakaian
- - -
Sungai
Air Limbah (AL 10)
Ulang
Pembuangan Cucian Dapur
- - -
Tanah
Air Limbah (AL 11)
Tabel 2.15 Cakupan layanan air limbah domestik saat ini di Kabupaten Grobogan No Nama Kec Akses Layak (KK) Akses Dasar (KK) BABS (KK) * Jml Penduduk (KK) On-Site Off-Site Tangki Septik Individual Tangki Septik Komunal (≤10KK) MCK *** Tangki Septik Komunal (≥ 10KK) IPAL Komunal IPAL Kawasan IPAL Kota Tangki Saptik Individual Belum Aman *** Cubluk
(i) (ii) (iii) (iv) (v) (vi) (vii) (viii) (ix) (x) (xi)
1 Kec. Kedungjati 4.036 1.468 2 1 0 0 0 2 Kec. Karangrayung 4.921 6.503 2.270 1 0 1 0 3 Kec. Penawangan 0 6.239 794 0 0 1 0 4 Kec. Toroh 1.379 8.828 1.525 0 0 0 0 5 Kec. Geyer 1.714 8.619 815 0 0 1 0 6 Kec. Pulokulon 203 5.544 128 0 0 1 0 7 Kec. Kradenan 335 15.138 1.010 0 0 6 0 8 Kec. Gabus 83 12.210 2.815 2 0 2 0 9 Kec. Ngaringan 1.433 8.682 1.099 0 0 2 0 10 Kec. Wirosari 1.342 4.758 112 0 0 0 0 11 Kec. Tawangharjo 254 7.957 1.324 0 0 0 0 12 Kec. Grobogan 1.239 6.501 1.049 0 0 0 0 13 Kec. Purwodadi 1.533 4.619 1.864 0 0 0 0 14 Kec. Brati 2.117 6.733 2.631 0 0 0 0 15 Kec. Klambu 1.068 11.205 669 1 0 0 0 16 Kec. Godong 1.380 12.134 248 0 0 0 0 17 Kec. Gubug 111 7.184 396 0 0 0 0 18 Kec. Tegowanu 83 12.210 2.815 2 0 2 0 19 Kec. Tanggungharjo 765 8.224 363 1 0 0 0
Tabel 2.16 Kondisi Prasarana dan Sarana Pengelolaan Air Limbah Domestik
No Jenis Satuan Jumlah/
Kapasitas
Kondisi Keterangan
Berfungsi Tdk berfungsi
(i) (ii) (iii) (iv) (v) (vi) (vii)
SPAL Setempat (Sistem On-Site) 1 Tangki Septik Komunal < 10
KK
2 MCK unit
3 Truck Tinja unit
4 IPLT : Kapasitas M3/hari
Tahap Pelaksanaan :
Lokasi : 2015 Study Kelayakan : 2015 DED : 2016 Pembangunan : 2017 Pengadaan Armada & OP : 2018 SPAL Terpusat (Sistem Off-Site)
1 Tangki Septik Komunal >10 KK
2
Ipal Komunal unit
3 Ipal Kawasan unit
4
Ipal Terpusat
Fungsi digunakan Data Sekunde r
Data Data
a b C D e
User Interface SLBM Komunal Jumlah 20 unit (5.776
Jiwa)
DCTRK User Interface Tempat Cuci Makanan /
Piring
Jumlah 53,4 % total Penduduk
Survey EHRA User Interface WC Jongkok dan WC
Duduk
Jumlah 71,3 % total Penduduk
Survey EHRA User Interface WC helikopter dan
Pembuangan langsung(Kebun,Sawah) Jumlah 5 % total Penduduk Survey EHRA Penampungan Awal
Tangki Septik Jumlah 68 % total
Penduduk
Survey EHRA Penampungan
Awal
Jumbleng Jumlah 21 % total
Penduduk
Dinkes
Pengaliran Truck Tinja juml
ah arm ada 1 bh (3000 lt) milik Pemkab, 4 bh (3000 lt) milik swasta DCTRK dan Survey SSA Pengolahan Akhir IPLT Nama IPLT Ngembak DCTRK Kapasita s 15 m3/hari DCTRK Pembuanga n/ Daur Ulang Sungai NA MA SUN GAI S. Tuntang, S. Serang, S. Lusi DCTRK Pembuanga n/ Daur Ulang Kompos Jumlah 3 m3/bln DCTRK
Sedangkan menurut data Dinas Kesehatan Kabupaten Grobogan, Fasilitas sanitasi individual terutama sarana buang air besar telah mencapai 306.134 unit (71,64%) yang tersebar di seluruh wilayah kabupaten Grobogan. Pada umumnya masyarakat merasa puas dengan fasilitas sanitasi tersebut kecuali jamban cemplungan/cubluk terbuka, yang sering menimbulkan bau tidak enak serta lalat dan nyamuk. Tabel 3.23 merangkum jumlah KK yang memiliki sarana dan mempunyai akses terhadap jamban di Kabupaten Grobogan.
Membuang limbah air mandi, cuci dan dapur langsung ke saluran drainase masih sering dijumpai. Kebiasaan ini tidak sesuai dengan prinsip-prinsip sanitasi yang baik, dan oleh karena itu kebiasaan ini harus ditinggalkan.
Tabel 3.23 Jumlah KK yang memiliki Sarana dan Akses Jamban di Kabupaten Grobogan
Jamban
NO Puskesmas Puskesmas
Jumlah
Jiwa KK
jml KK memiliki
jamban Jml pendd Akses jamban
Sehat % TOTAL % Sehat %
1 Kedungjati Kedungjati 42.421 12.755 8.263 64,79 39.265 92,56 39.265 92,56
2 Tanggungharjo Tanggungharjo 40.918 12.493 5.908 47,29 36.542 89,31 19.350 47,29
3 Karangrayung Karangrayung I 54.436 16.569 13.161 79,43 54.436 100,00 54.436 100,00