Analisis capaian kinerja dilakukan pada setiap pernyataan kinerja Sasaran Strategis dan indiKator kinerja untuk setiap Perspektif sebagai berikut :
STAKEHOLDERS PERSPEKTIVE
3.2.1. Sasaran Srategis (SS-1) : Terwujudnya kesejahteraan masyarakat perikanan budidaya Sasaran Strategis Terwujudnya kesejahteraan masyarakat perikanan budidaya merupakan tujuan dari program Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, sasaran ini memiliki 3 (tiga) Indikator Kinerja Utama, yaitu :
A. Nilai Tukar Pembudidaya Ikan (NTPi)
Nilai Tukar Pembudidaya Ikan (NTPi) merupakan rasio antara indeks harga yang diterima oleh pembudidaya ikan (It) terhadap indeks harga yang dibayar oleh pembudidaya ikan (Ib). NTPi merupakan indikator tingkat kemampuan/daya beli pembudidaya ikan, nilai tukar lebih besar dari 100 berarti pembudidaya mengalami surplus kenaikan harga produksi lebih tinggi dibanding kenaikan harga konsumsi, nilai tukar sama dengan 100 berarti pembudidaya mengalami impas kenaikan harga produksi sama dengan kenaikan harga konsumsi dan nilai tukar lebih kecil dari 100 berarti pembudidaya mengalami defisit kenaikan harga produksi lebih kecil daripada kenaikan harga konsumsi.
Berdasarkan hasil pemantauan harga di 33 provinsi di Indonesia oleh BPS, rata-rata NTPi dari bulan Januari - Maret 2018 sebesar 102,03 atau telah tercapai 99,06% dari target akhir RPJMN sebesar 103. Rata-rata ini naik dibandingkan dengan capaian NTPi triwulan I tahun 2018 sebesar 99,58, sehingga terjadi kenaikan sebesar 2,47%. NTPi 102,03 menunjukkan bahwa kesejahteraan pembudidaya telah tercapai, dan tren naik NTPi menunjukkan terus mendekati target. Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan DJPB sudah sesuai sehingga NTPi terus bergerak naik mendekati target akhir RPJMN.
Tabel 2. Nilai Tukar Pembudidaya Ikan (NTPi) Nama SS :Terwujudnya Kesejahteraan Masyarakat Perikanan Budidaya
Nama Indikator : Nilai Tukar Pembudidaya Ikan (NTPi)
TW I 2019 Realisasi
TW I 2018
Perbandingan Realisasi TW I 2019 thd TW I 2018 (%)
Target 2019 Realisasi Terhadap Target Tahunan (%) Target Realisasi Capaian
103 102,03 99,03 99,58 - 103 99,03
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) sebanyak 15 (lima belas) provinsi yang memiliki nilai NTPi di atas 100, antara lain: Maluku, Kepulauan Riau, Kalimantan Selatan, Sumatera Barat, Maluku Utara, Jawa Timur, Jawa Barat, Sulawesi Tenggara, Sumatera Selatan, Sulawesi Selatan, Jawa Tengah, Riau, DI Yogyakarta, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat seperti tergambar pada peta di bawah ini.
Sementara Nilai Tukar Usaha Perikanan Budidaya seluruhnya berada di atas 100 kecuali provinsi Sumatera Utara, Gorontalo dan Sulawesi Tengah yang masih berada di bawah 100. Hal ini menunjukkan bahwa secara umum usaha perikanan budidaya dapat memberikan keuntungan bagi pelaku usahanya.
Tabel 1. Nilai Tukar Pembudidaya Ikan TW I Tahun 2019
Komponen NTPi NTPi
Rata-Rata Januari Februari Maret
Nilai Tukar Pembudidaya Ikan 101,866 102,209 102,02 102,03
a Indeks Harga yang diterima pembudidaya ikan (lt) 134,931 135,09 135,15 135,06
- Budidaya air tawar 135,9281 135,86 135,95 135,91
- Budidaya laut 118,9139 119,36 119,18 119,15
- Budidaya Air Payau 130,2937 130,99 130,23 130,50
b Indeks harga yang dibayar pembudidaya (lb) 132,459 132,17 132,47 132,37
- Indeks konsumsi rumah tangga 140,6967 140,14 140,51 140,45
- Indeks BPPBM 117,864 118,08 118,3 118,08
Ket : BPPBM : Biaya Produksi dan Penambahan Barang Modal Sumber data dari BPS
NTPi selama Januari – Maret mengalami kenaikan dan sudah di atas 100 (tabel 4) sebagaimana pada gambar 13. Terus meningkatnya NTPi menunjukkan bahwa kebijakan perikanan budidaya berimbas positif
pada perkembangan NTPi walaupun nilainya masih di bawah 100. Hal ini kemungkinan dikarenakan karena naiknya harga ikan dan inflasi harga-harga kebutuhan bahan pokok yang tidak naik sdinifikan.
Selain itu, kebijakan perikanan budidaya dalam menekan harga pakan dengan program gerakan pakan mandiri juga memberikan andil dalam menekan biaya produksi utamanya biaya pakan yang merupakan biaya terbesar dalam usaha budidaya ikan.
Kendala dalam pencapaian NTPi diantaranya adalah harga pakan yang masih cukup tinggi sementara pakan merupakan komponen utama dalam biaya produksi (60-70%). Selain itu perhitungan NTPi juga belum mengakomodir nilai usaha dari pembudidaya ikan hias, benih dan tambak udang dan sampel yang diambil untuk penyusunan NTPi belum menjangkau seluruh kabupaten/kota. Faktor eksternal yang juga mempengaruhi adalah naiknya harga kebutuhan pokok memberikan kontribusi yang cukup signifikan dalam pencapaian NTPi. Oleh karena itu diperlukan upaya untuk peningkatan upaya penyediaan pakan murah dan terjangkau serta berkualitas sesuai dengan jenis komoditas yang dikembangkan melalui perekayasaan teknologi.
Rencana aksi untuk peningkatan NTPi diantaranya adalah : (i) pengembangan pakan mandiri melalui penyediaan bahan baku, uji laboratorium, penyediaan mesin pellet, pengembangan laboratorium nutrisi pakan, dan pembinaan ke pembudidaya dan memperbanyak percontohan untuk budidaya pakan mandiri seperti cacing darah, cacing sutra dan azolla yang diharapkan dapat mengurangi biaya penggunaan pakan;
(ii) pengembangan teknologi biofloc untuk menekan Food Convertion Ratio/FCR guna meningkatkan efisiensi pakan dan produktivitas perikanan budidaya; (iii) pengembangan mariculture untuk peningkatan/pengalihan ke budidaya rumput laut yang rendah input produksi, diantaranya melalui pengembangan sentra kebun bibit; dan (iv) melakukan koordinasi dengan BPS untuk memperluas wilayah survei agar semua kegiatan usaha budidaya bisa terwakili.
B. Pertumbuhan PDB Perikanan
Target pertumbuhan PDB perikanan pada Triwulan I tahun 2019 sebesar 11 persen. Pencapaian pertumbuhan PDB Perikanan Triwulan I 2019 adalah 5,67 persen atau baru tercapai 51,55 persen dari target sebesar 11 persen , lebih rendah dari pertumbuhan sektor pertanian (1,81 persen) dan lebih rendah dari pertumbuhan rata-rata ekonomi Indonesia (5,07 persen).
Tabel 3. Pertumbuhan PDB Perikanan Nama SS :Terwujudnya Kesejahteraan Masyarakat Perikanan Budidaya
Nama Indikator : Pertumbuhan PDB Perikanan TW I 2019 *** Realisasi
TW I 2018
Perbandingan Realisasi TW I 2019 thd TW I 2018 (%)
Target 2019 Realisasi Terhadap Target Tahunan (%) Target Realisasi Capaian
%
11 5,67 51,55 5,82 -2,58 11 5,67
***angka sangat sangat sementara, sumber : BPS
Untuk sektor perikanan dapat diketahui bahwa pendapatan para pelaku usaha di bidang perikanan tangkap dan budidaya pada triwulan I-2019 Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) mencapai Rp. 102,22 triliun dan ADHK 2010 mencapai Rp. 62,31 triliun. Kontribusi perekonomian sektor perikanan triwulan I-2019
terhadap PDB ADHB sebesar 2,70 persen, kontribusi ini lebih tinggi dari pada triwulan I-2018 (2,66 persen), namun lebih rendah dibandingkan triwulan IV-2018 (2,64 persen), tahun 2018 (2,60 persen), dan triwulan I-2018 (2,66 persen). Kontribusi PDB sektor perikanan Indonesia ADHB triwulan I-2019 terhadap PDB nasional menunjukkan adanya peningkatan nilai tambah yang mencerminkan peningkatan income para pelaku subsektor kelautan dan perikanan secara rata-rata pada triwulan I-2019 dibandingkan triwulan I-2018.
Laju pertumbuhan PDB Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) perikanan triwulan I-2019 (5,67 persen) lebih tinggi daripada laju pertumbuhan PDB kelompok pertanian (1,81 persen), dan laju pertumbuhan PDB (ADHK) lebih tinggi dari pada laju pertumbuhan PDB Nasional (5,07 persen). Laju pertumbuhan PDB perikanan triwulan I-2019 (5,67 persen) lebih rendah daripada laju pertumbuhan PDB perikanan triwulan I-2018 (5,82 persen), triwulan I-2017 (6,99 persen) dan total pertumbuhan PDB (ADHK) perikanan tahun 2017 (5,71 persen).
Pertumbuhan ini menunjukkan adanya peningkatan daya beli (purchasing power) dari para pelaku sektor kelautan dan perikanan dibandingkan sektor lain pada kelompok pertanian, kehutanan, perikanan dan nasional. Pertumbuhan sektor perikanan triwulan I-2019 menunjukkan bahwa sektor perikanan baik perikanan tangkap maupun perikanan budidaya menunjukkan potensi besar dalam pembangunan ekonomi Indonesia.
C. Rata-Rata Pendapatan Pembudidaya
Pendapatan adalah jumlah uang yang diterima oleh para anggota masyarakat untuk jangka waktu tertentu sebagai balas jasa atas faktor-faktor produksi yang mereka sumbangkan dalam turut serta membentuk produk nasional, pendapatan atau income adalah uang yang diterima oleh seseorang dan perusahaan dalam bentuk gaji, upah, sewa bunga, dan laba termasuk juga beragam tunjangan, seperti kesehatan dan pensiun, sementara itu terkait dengan pendapatan pembudidaya adalah uang yang diterima oleh pembudidaya yang merupakan hasil dari kegiatan membudidayakan ikan, sehingga bisa diukur seberapa jauh kegiatan pembudidayaan ikan dapat memberikan kehidupan yang layak bagi pembudidaya.
Tabel 4. Rata rata pendapatan pembudidaya Nama SS :Terwujudnya Kesejahteraan Masyarakat Perikanan Budidaya
Nama Indikator : Rata-rata pendapatan pembudidaya
TW I 2019 Realisasi
TW I 2018
Perbandingan Realisasi TW I 2019 thd TW I 2018 (%)
Target 2019 Realisasi Terhadap Target Tahunan (%) Target Realisasi Capaian
%
3.300.000 3.385.950 102,6 3.355.551 0,90 3.300.000 102,6
Pada Tahun 2019, rata-rata pendapatan pembudidaya ditargetkan Rp. 3.300.000,- dengan realisasi tw 1 mencapai Rp. 3.385.947,- atau tercapai 102,6% dari target. Pendapatan pembudidaya ikan sejak tw 3 2018 tidak mengalami peningkatan ataupun penurunan dikarenakan harga ikan relative stabil.
Pendapatan pembudidaya dihitung berdasarkan pada data hasil survey struktur ongkos yang dilakukan oleh BPS, dari hasil survey BPS diketahui surplus usaha pembudidayaan ikan untuk setiap hektarnya pada tahun 2013, sehingga untuk mengetahui pendapatan terkini dari pembudidaya perlu dilakukan pemutakhiran data terkait dengan struktur ongkos pembudidaya yang didalamnya meliputi data biaya produksi, dengan melakukan uji petik di beberapa sentra perikanan budidaya.