KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya serta dukungan kerjasama dari semua pihak terkait di lingkup Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, sehingga penyusunan Laporan Kinerja (LKj) DirektoratJenderal Perikanan Budidaya Triwulan I Tahun 2019 ini dapat terlaksana dengan baik.
LKj Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya TW I Tahun 2019 ini disusun dalam rangka memenuhi Peraturan Presiden Nomor 29 Tahun 2014 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP), yang merupakan wujud pertanggungjawaban atas pelaksanaan tugas sesuai visi, misi yang dibebankan kepada Ditjen Perikanan Budidaya dalam kurun waktu Januari - Maret 2019. Selain itu, laporan ini disusun sebagai sarana pengendalian dan penilaian kinerja dalam rangka mewujudkan penyelenggaran pemerintah yang baik dan bersih (good governance and clean government), serta sebagai umpan balik dalam perencanaan dan pelaksanaan kegiatan ke depan.
Semoga laporan ini dapat menjadi tolak ukur peningkatan kinerja bagi Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya dan menjadi motivasi untuk meningkatkan pembangunan perikanan budidaya yang berkelanjutan di masa mendatang.
Jakarta, April 2019
Direktur Jenderal Perikanan Budidaya
Dr. Ir. Slamet Soebjakto, M.Si
DAFTAR ISI
NO URAIAN HAL
Contents
KATA PENGANTAR... i
DAFTAR ISI ... iii
DAFTAR TABEL ... v
DAFTAR GAMBAR ... vii
IKHTISAR EKSEKUTIF... viii
BAB I. PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Maksud dan Tujuan... 1
1.3. Tugas dan Fungsi ... 1
1.4. SUMBER DAYA MANUSIA... 3
1.5. Potensi dan Permasalahan Pembangunan Perikanan Budidaya ... 4
1.5.1. Potensi ... 4
1.5.2. Permasalahan ... 4
1.6. Sistematika Penyajian Laporan Kinerja ... 5
BAB 2. PERENCANAAN DAN PENETAPAN KINERJA ... 6
2.1. Rencana Strategis Tahun 2015-2019 ... 6
2.2. Penetapan Kinerja Tahun 2019 ... 9
2.3. Pengukuran Capaian Kinerja Tahun 2019 ... 12
BAB 3. AKUNTABILITAS KINERJA ... 13
3.1. Capaian Kinerja Organisasi ... 13
3.2. Analisis Capaian Kinerja ... 15
3.2.1. Sasaran Srategis (SS-1) : Terwujudnya kesejahteraan masyarakat perikanan budidaya ... 15
3.2.2. Sasaran Srategis (SS-2) : Terwujudnya kedaulatan dalam pengelolaan sumberdaya kelautan dan perikanan ... 19
3.2.3. Sasaran Srategis (SS-3) : Terwujudnya pengelolaan sumberdaya perikanan budidaya yang bertanggungjawab dan berkelanjutan ... 19
3.2.4. Sasaran Strategis (SS-4) : Tersedianya kebijakan pembangunan perikanan budidaya yang efektif ... 24
3.2.5. Sasaran Srategis (SS-5) : Terselenggaranya tata kelola pemanfaatan sumberdaya kelautan dan perikanan yang berdaya saing dan berkelajutan ... 25
3.2.6. Sasaran Srategis (SS-6) : Terselenggaranya pengendalian dan pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan yang profesional dan partisipatif ... 33
3.2.7. Sasaran Srategis (SS-7) : Terwujudnya ASN Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya yang kompeten, profesional dan berintegritas ... 42
3.2.8. Sasaran Srategis (SS-8) : Tersedianya manajemen pengetahuan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya yang handal dan mudah diakses ... 44 3.2.9. Sasaran Srategis (SS-9) : Terwujudnya birokrasi Direktorat Jenderal
Perikanan Budidaya yang efektif, efisien dan berorientasi pada layanan prima ... 45 3.2.10. Sasaran Srategis (SS-10) : Terkelolanya anggaran pembangunan Direktorat
Jenderal Perikanan Budidaya secara efisien dan akuntabel ... ... 49 3.3. Kinerja Anggaran ... 50 BAB 4. PENUTUP ... 53
DAFTAR TABEL
NO URAIAN HAL
1. Capaian Sasaran Strategis Ditjen Perikanan Budidaya Triwulan 1 Tahun 2019 ...13
2. Nilai Tukar Pembudidaya Ikan (NTPi) ...16
3. Pertumbuhan PDB Perikanan ...17
4. Rata rata pendapatan pembudidaya ...18
5. Tingkat kemandirian SKPT Ditjen Perikanan Budidaya ...19
6. Jumlah produksi perikanan budidaya (juta ton)...19
7. Target dan Realisasi Nilai Produksi Perikanan Budidaya Tahun 2019 ( Rp. Milyar) ...20
8. Jumlah produksi ikan hias ...21
9. Target dan realisasi nilai produksi ikan hias Tahun 2019 ( Rp. Milyar) ...21
10. Produksi Ikan Hias Menurut Komoditas TW1 * ...21
11. Nilai PNBP dari Perikanan Budidaya (Rp. milyar) ...22
12. Realisasi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Triwulan I Tahun 2019 ...23
13. Persentase kesesuaian bantuan pemerintah lingkup Ditjen Perikanan Budidaya ...24
14. Indeks efektivitas kebijakan pemerintah ...24
15. Jumlah Bantuan Benih Ikan (juta ekor) ...25
16. Realisasi bantuan benih per komoditas triwulan 1...25
17. Jumlah Produksi Induk Unggul (juta ekor) ...26
18. Capaian Produksi Induk Unggul Per Komoditas ...26
19. Jumlah bantuan sarana dan prasarana percontohan perbenihan ikan ...27
20. Jumlah bantuan sarana prasarana dan percontohan kawasan dan kesehatan ikan ...28
21. Lokasi bantuan PITAP Tahun 2019 berdasarkan Kepdirjen ...28
22. Bidang lahan pembudidaya ikan yang disiapkan sertifikasinya ...29
23. Luasan usaha budidaya yang dilindungi asuransi ...30
24. Jumlah bantuan sarana dan prasarana percontohan produksi dan usaha budidaya ...31
25. Realisasi pengujian sampel residu produk perikanan budidaya tiap Provinsi triwulan I tahun 2019 ...35
26. Realisasi Sertifikasi CPIB s.d Triwulan I Tahun 2019 ...37
27. Realisasi Sertifikasi CPIB s.d Triwulan I Tahun 2019 ...38
28. Rekap Lokasi Kawasan Budidaya yang Penyakitnya Dimonitoring dan Disurveilan Bulan Maret Tahun 2019 ...39
29. Registrasi Pakan triwulan 1 Tahun 2019 ...40
30. Rekapitulasi Penerbitan Sertifikat Pendaftaran Obat Ikan triwulan 1 ...41
31. Jumlah rekomendasi hasil pengawasan yang dimanfaatkan untuk perbaikan kinerja lingkup Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Triwulan I Tahun 2019 ...49
32. Pagu dan Realisasi Anggaran Ditjen Perikanan Budidaya Triwulan I Tahun 2019 dan 2018 ...51
33. Pagu dan Realisasi Anggaran Ditjen Perikanan Budidaya per Jenis Belanja Triwulan I Tahun 2019 dan 2018 ...51 34. Pagu dan Realisasi Anggaran Ditjen Perikanan Budidaya per Jenis Kewenangan Triwulan I
Tahun 2019 ... Error! Bookmark not defined.
DAFTAR GAMBAR
NO URAIAN HAL
1. Struktur Organisasi Ditjen Perikanan Budidaya ... 2
2. Jumlah pegawai DJPB berdasarkan Unit Kerja Tahun 2018 ... 3
3. Umlah pegawai DJPB berdasarkan tingkat pendidikan ... 3
4. Potensi Perikanan Budidaya ... 4
5. Visi dan Misi Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya... 6
6. Peta Strategi Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Tahun 2015-2019 ... 7
7. Perjanjian Kinerja Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Tahun 2019 ... 11
8. Schreenshoot NPSS Kinerjaku Triwulan 1 ... 12
9. Perbandingan Pagu dan Realisasi Anggaran Ditjen Perikanan Budidaya Triwulan I Tahun 2019 ... 51
IKHTISAR EKSEKUTIF
Laporan Kinerja Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Triwulan I Tahun 2019 merupakan pelaksanaan dari Peraturan Presiden Nomor 29 Tahun 2014 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah.
Ditjen Perikanan Budidaya telah menetapkan peta strategis tahun 2018 dengan 10 Sasaran Strategis (SS) dan 27 Indikator Kinerja Utama (IKU) dengan metode Balanced Scorecard yang terdiri dari 4 perspective yakni: (1) stakeholders perspective; (2) customer perspective; (3) internal process perspective; (4) learning and growth perspective.
Sampai dengan Triwulan I Tahun 2019, capaian nilai per sasaran strategis Ditjen Perikanan Budidaya adalah sebesar 100,45%. Adapun rincian pencapaian indikator kinerja utama (IKU) adalah sebagai berikut:
Dari 27 IKU yang telah ditetapkan, tujuh (7) IKU telah mencapai target yang telah ditentukan pada triwulan I yaitu :
1. Rata-rata pendapatan pembudidaya, tercapai 102,6%;
2. Nilai PNBP dari perikanan budidaya, tercapai 129,81;
3. Jumlah bantuan benih ikan, tercapai 366,4%;
4. Jumlah produks induk unggul, tercapai 100%.
5. Persentase unit kerja yang menerapkan sistem manajemen pengetahuan yang terstandar, tercapai 160,28%;
6. Persentase jumlah rekomendasi hasil pengawasan yang dimanfaatkan untuk perbaikan kinerja lingkup DJPB, tercapai 566,66 %;
7. Nilai Kinerja pelaksanaan anggaran DJPB, tercapai 103,68%.
Lima (5) IKU yang belum mencapai target yang telah ditentukan pada TW 1 , adalah : 1. Nilai Tukar Pembudidaya Ikan (NTPi) mencapai 99,03 % dari target;
2. Pertumbuhan PDB Perikanan hanya mencapai 51,55 % adari target;
3. Jumlah produksi perikanan budidaya, mencapai 67,43% dari target;
4. Jumlah produksi ikan hias hanya mencapai 66,78 % dari target ;
5. Pengujian residu produk perikanan budidaya dan sertifikasi untuk ekspor mencapai 92,92% dari target;
Sementara itu empat belas (14) IKU belum dapat dihitung, karena pada triwulan I belum ditargetkan untuk pencapaianya. Ke 14 IKU tersebut adalah:
1. Tingkat kemandirian SKPT DItjen Perikanan Budidaya;
2. Nilai kesesuaian bantuan pemerintah lingkup Ditjen Perikanan Budidaya;
3. Indeks efektivitas kebijakan pemerintah;
4. Jumlah bantuan sarana prasarana dan percontohan perbenihan ikan;
5. Jumlah bantuan sarana prasarana dan percontohan kawasan dan kesehatan ikan;
6. Bidang lahan pembudidaya ikan yang disiapkan sertifikasinya;
7. Luasan usaha budidaya yang dilindungi asuransi;
8. Jumlah bantuan sarana prasarana dan percontohan produksi dan usaha budidaya;
9. Jumlah bantuan sarana prasarana dan percontohan pakan ikan mandiri;
10. Indeks profesionalitas ASN;
11. Nilai kinerja reformasi birokrasi DJPB;
12. Tingkat maturitas SPIP;
13. Nilai AKIP DJPB;
14. Unit kerja lingkup DJPB berpredikat menuju WBK .
Peningkatan kinerja terhadap pencapaian terhadap beberapa IKU yang masih di bawah target yang ditetapkan perlu senantiasa dilakukan melalui kerja keras pada beberapa kegiatan pendukung IKU dimaksud serta melakukan penyempurnaan terhadap kebijakan yang ada untuk lebih mengoptimalkan pencapaian sasaran strategis. Dengan demikian, diharapkan di masa yang akan datang dapat terjadi peningkatan capaian kinerja yang lebih optimal melalui kegiatan-kegiatan pendukung yang dilakukan secara efektif dan efisien.
BAB I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) III Tahun 2015 – 2019, telah mengamanatkan untuk terus melakukan pembangunan perikanan budidaya secara berkelanjutan, karena diyakini dengan potensi dan kekuatan yang ada, perikanan budidaya mampu memberi kontribusi pada 9 agenda pembangunan nasional pemerintah (NAWACITA), diantaranya mewujudkan kemandirian ekonomi (termasuk pembudidaya ikan), serta memperkuat ketahanan dan kedaulatan pangan melalui peningkatan produksi budidaya yang memiliki daya saing. Penjabaran pelaksanaan pembangunan perikanan budidaya, lebih lanjut dituangkan dalam buku Rencana Strategi (RENSTRA) Perikanan Budidaya 2015 - 2019.
Dengan ditetapkannya arah kebijakan dan strategi pembangunan perikanan budidaya, maka sasaran strategis pembangunan perikanan budidaya berdasarkan tujuan yang akan dicapai telah dijabarkan dalam 4 (empat) perspektif dengan masing-masing IKU seperti yang tercantum pada Rencana Strategis (Renstra) dan Perjanjian Kinerja Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya untuk mengatasi tantangan global dan permasalahan yang menuntut perubahan paradigma dan desain percepatan pembangunan perikanan budidaya.
Berdasarkan Instruksi Presiden (INPRES) No. 7 tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, Perpres Nomor 29 Tahun 2014 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP), dan Permen PAN dan RB RI No. 53 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja dan Tata Cara Reviu Atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah, menyatakan bahwa setiap kementerian berkewajiban menyusun Laporan Kinerja (LKj) sebagai bentuk pertanggungjawaban pelaksanaan program dan kegiatan pembangunan yang dilaksanakan berdasarkan Renstra maupun Rencana Kerja Tahunan (RKT) yang dibuat sebelumnya. LKj juga merupakan sarana untuk menilai dan mengevaluasi pencapaian kinerja berdasarkan indikator sasaran yang telah ditetapkan sebelumnya sehingga prinsip pemerintahan yang bersih dan bertanggung jawab (good governance) dapat diwujudkan.
1.2. Maksud dan Tujuan
Laporan Kinerja (LKj) Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Triwulan I tahun 2018\9 merupakan salah satu bentuk media informasi atas pelaksanaan program/kegiatan dan pengelolaan anggaran Ditjen Perikanan Budidaya. Adapun tujuan penyusunan LKj Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Triwulan I adalah untuk menilai dan mengevaluasi pencapaian kinerja dan sasaran Ditjen Perikanan Budidaya dalam kurun waktu Januari-Maret 2019. Berdasarkan hasil evaluasi yang dilakukan kemudian dirumuskan suatu kesimpulan yang dapat menjadi salah satu bahan masukan dan referensi dalam menetapkan kebijakan pembangunan perikanan budidaya kedepan.
1.3. Tugas dan Fungsi
Berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 6/PERMEN-KP/2017 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kelautan dan Perikanan, Tugas Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya
adalah menyelenggarakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang pengelolaan perikanan budidaya. Dalam melaksanakan tugas tersebut Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya menyelenggarakan fungsinya sebagai berikut: i) perumusan kebijakan di bidang peningkatan kapasitas dan kualitas prasarana dan sarana perikanan budidaya; ii) pelaksanaan kebijakan dibidang peningkatan kapasitas dan kualitas prasarana dan sarana perikanan budidaya; iii) penyusunan norma, standar, prosedur dan kriteria dibidang peningkatan kapasitas dan kualitas prasarana dan sarana perikanan budidaya; iv) pemberian bimbingan teknis dan supervisi di bidang peningkatan kapasitas dan kualitas prasarana dan sarana perikanan budidaya; v) pelaksanaan evaluasi dan pelaporan dibidang peningkatan kapasitas dan kualitas prasarana dan sarana perikanan budidaya; vi) pelaksanaan administrasi Ditjen Perikananan Budidaya; dan vii) pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh Menteri.
Gambar 1. Struktur Organisasi Ditjen Perikanan Budidaya
Selain itu Ditjen Perikanan Budidaya juga mempunyai 15 Unit Pelaksana Teknis (UPT). Berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 6/PERMEN-KP/2014 tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Perikanan Budidaya Air Tawar, Perikanan Budidaya Air Payau, dan Perikanan Budidaya Laut, meliputi :
1. Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar Sukabumi 2. Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau Jepara 3. Balai Besar Perikanan Budidaya Laut Lampung 4. Balai Perikanan Budidaya Air Tawar Mandingain 5. Balai Perikanan Budidaya Air Tawar Tatelu 6. Balai Perikanan Budidaya Air Tawar Sungai Gelam 7. Balai Perikanan Budidaya Air Payau Situbondo 8. Balai Perikanan Budidaya Air Payau Takalar 9. Balai Perikanan Budidaya Air Payau Ujung Batee 10. Balai Perikanan Budidaya Laut Batam
11. Balai Perikanan Budidaya Laut Lombok 12. Balai Perikanan Budidaya Laut Ambon
13. Balai Produksi Induk Udang Unggul dan Kekerangan (BPIUUK) Karangasem 14. Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya (BLUPPB) Karawang 15. Loka Pemeriksaan Penyakit Ikan dan Lingkungan (LP2IL) Serang
1.4. SUMBER DAYA MANUSIA
Jumlah pegawai DJPB (Pusat dan UPT) sampai dengan 31 Maret 2019 adalah 1425 orang. Pegawai DJPB tersebut tersebar pada 5 unit kerja eselon II dan 15 UPT dengan komposisi sebagai berikut : (i) Sekretariat sejumlah 114 orang (8,00%); (ii) Direktorat Produksi dan Usaha Budidaya sejumlah 49 orang (3,44%); (iii) Direktorat Kawasan dan Kesehatan Ikan sejumlah 47 orang (3,30%); (iv) Direktorat Perbenihan sejumlah 44 orang (3,09%); (v) Direktorat Pakan dan Obat Ikan sejumlah 45 orang (3,16%); dan (vi) UPT sejumlah 1.126 orang (79,02%).
Gambar 2. Jumlah pegawai DJPB berdasarkan Unit Kerja Tahun 2018
Apabila dilihat menurut tingkat pendidikan, komposisi SDM DJPB adalah sebagai berikut : (i) S3 sejumlah 12 orang (0,84%); (ii) S2 sejumlah 242 orang (16,98%); (iii) S1/D4 sejumlah 567 orang (39,79%); (iv) D3 sejumlah 141 orang (9,89%); (v) SLTA/D1/D2 sejumlah 404 orang (28,35%); dan (vi) di bawah SLTA sejumlah 59 orang (4,14%).
Gambar 3. Umlah pegawai DJPB berdasarkan tingkat pendidikan 8,00
3,44
3,30 3,09 3,16
79,02
Sekretariat
Dit. Produksi dan Usaha Budidaya
Dit. Kawasan dan Kesehatan Ikan Dit. Perbenihan
Dit. Pakan dan Obat Ikan
0,84
16,98
39,79 9,89
28,35
4,14
S3 S2 S1/D4 D3
SLTA/D1/D2 Di Bawah SLTA
1.5. Potensi dan Permasalahan Pembangunan Perikanan Budidaya
1.5.1. PotensiPotensi lahan perikanan budidaya secara nasional diperkirakan sebesar 17,92 juta ha yang terdiri potensi budidaya air tawar 2,83 juta ha, budidaya air payau 2,96 juta ha dan budidaya laut 12,12 juta ha (sumber:
Review Masterplan Perikanan Budidaya Tahun 2014). Pemanfaatannya hingga saat ini masing-masing baru 11,32 persen untuk budidaya air tawar, 22,74 persen pada budidaya air payau dan 2,28 persen untuk budidaya laut. Tingkat pemanfaatan ini masih rendah terutama untuk budidaya laut sehingga diperlukan upaya pemanfaatan agar produksi perikanan budidaya dapat terus ditingkatkan. Peningkatan produksi perikanan budidaya harus disertai dengan peningkatan serapan pasar baik ekspor maupun konsumsi dalam negeri.
Gambar 4. Potensi Perikanan Budidaya
1.5.2. Permasalahan
Permasalahan yang dihadapi dalam perikanan budidaya adalah :
a. Terkait dengan pakan : (i) mahalnya harga pakan di lokasi sentra budidaya akibat biaya transportasi dan kenaikan biaya produksi pakan pabrikan; (ii) potensi bahan baku yang ada didaerah belum dapat di olah sebagai bahan baku untuk pembuatan pakan ikan di masyarakat (kelompok GERPARI); (iii) keterbatasan pembudidaya dan pembuat pakan mandiri terhadap infromasi bahan baku, formulasi, dan manajemen kelompok; (iv) ketergantungan perusahaan/pabrik pakan terhadap bahan baku impor; (v) pengawasan mutu dan keamanan pakan dan obat ikan yang beredar di Indonesia masih menggunakan sistem online dan unit pengujian yang standar ; dan (vi) rekayasa teknologi terhadap penggunaan pakan dan obat ikan untuk dapat diaplikasi di masyarakat masih rendah;
b. Akses permodalan bagi pengembangan usaha perikanan budidaya yang dianggap masih menyulitkan bagi pembudidaya skala kecil;
c. Kepastian tata ruang pemanfaatan lahan dan air untuk melakukan usaha budidaya ikan dimana terjadi konflik kepentingan dengan pengguna lain;
d. Keterbatasan sarana dan prasarana pendukung yang mendukung keberlanjutan usaha budidaya budidaya ikan;
e. Adanya climate change yang membuat berubahnya pola reproduksi dan sistem budidaya ikan;
f. Penanganan hama dan penyakit ikan masih belum optimal;
g. Penyediaan benih bermutu dan induk unggul belum sepenuhnya menjangkau sentra-sentra produksi budidaya di daerah;
h. Perizinan usaha dan kewenangan Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah masih menjadi kendala dalam pelaksanaan usaha bidang perikanan budidaya.
1.6. Sistematika Penyajian Laporan Kinerja
Berdasarkan Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi nomor 53 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja, dan Tata Cara Reviu atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah, LKj DJPB Triwulan I Tahun 2019 disusun dengan sistematika sebagai berikut:
1. Ikhtisar Eksekutif, bagian ini menyajikan gambaran menyeluruh secara ringkas tentang capaian kinerja Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya selama kurun waktu Januari- Maret 2019.
2. Bab I Pendahuluan, pada bab ini disajikan hal-hal umum tentang Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya serta uraian singkat tentang tugas pokok dan fungsi Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, termasuk latar belakang, maksud dan tujuan penulisan LKj.
3. Bab II Perencanaan dan Penetapan Kinerja, pada bab ini disajikan rencana strategis, gambaran singkat mengenai sasaran dan kebijakan dan program Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya pada tahun 2015 – 2019, rencana kerja dan anggaran tahun 2018, penetapan kinerja Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya serta pengukuran/pengelolaan kinerja Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya.
4. Bab III Akuntabilitas Kinerja dan Keuangan, pada bab ini disajikan prestasi Indikator Kinerja Utama (IKU) Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya serta evaluasi dan analisis kinerja tahun 2018. Dalam bab ini juga disampaikan akuntabilitas keuangan yang mencakup alokasi dan realisasi anggaran termasuk pula penjelasan tentang kinerja anggaran.
5. Bab IV Penutup, pada bab ini disajikan tinjauan secara umum tentang keberhasilan, kegagalan serta permasalahan dan kendala utama. Dalam bab ini juga disampaikan saran pemecahan masalah yang akan dilaksanakan pada tahun berikutnya berupa perbaikan perencanaan, kebijakan, dan perbaikan pelaksanaan program/kegiatan.
BAB 2. PERENCANAAN DAN PENETAPAN KINERJA
2.1. Rencana Strategis Tahun 2015-2019
Rencana Strategi (RENSTRA) Perikanan Budidaya 2015 – 2019, yang ditetapkan melalui Keputusan Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Nomor : 98/ KEP-PB/2016 tentang Rencana Strategis Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Tahun 2015-2019. Secara ringkas substansi Renstra Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya diuraikan sebagai berikut:
Gambar 5. Visi dan Misi Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya
Tujuan strategis pembangunan perikanan budidaya akan dicapai melalui sejumlah sasaran strategis yang menggambarkan kondisi yang harus dicapai pada tahun 2015 - 2019. Sasaran strategis sebagaimana pada Peta Strategi DJPB Tahun 2015 – 2019 seperti pada gambar dibawah.
Gambar 6. Peta Strategi Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Tahun 2015-2019
Berdasarkan Revisi Peta Strategi tersebut, maka sasaran strategis pembangunan perikanan budidaya berdasarkan tujuan yang akan dicapai dijabarkan dalam 4 (empat) perspektif dengan masing-masing IKU sebagai berikut :
Stakeholder Perspective
1. Terwujudnya kesejahteraan masyakarat Perikanan Budidaya, dengan Indikator Kinerja : a. Nilai Tukar Pembudidaya Ikan (NTPi);
b. Pertumbuhan PDB perikanan;
c. Rata-rata pendapatan pembudidaya.
Customer Perspective,
1. Terwujudnya kedaulatan dalam pengelolaan SDKP, dengan Indikator Kinerja : Tingkat Kemandirian SKPT Ditjen Perikanan Budidaya.
2. Terwujudnya pengelolaan sumber daya perikanan budidaya yang partisipatif, bertanggungjawab dan berkelanjutan, dengan Indikator Kinerja :
a. Jumlah produksi perikanan budidaya;
b. Jumlah produksi ikan hias;
c. Nilai PNBP dari perikanan budidaya;
d. Nilai kesesuaian bantuan pemerintah lingkup Ditjen Perikanan Budidaya.
Internal Process Perspective
1. Tersedianya kebijakan pembangunan perikanan budidaya yang efektif, dengan Indikator Kinerja:
Indeks efektivitas kebijakan pemerintah.
2. Terselenggaranya tata kelola pemanfaatan sumber daya perikanan budidaya yang adil, berdaya saing dan berkelanjutan, dengan Indikator Kinerja:
a. Jumlah unit pembenihan bersertifikat CPIB (Cara Pembenihan Ikan yang Baik) untuk komoditas ekpor;
b. Jumlah bantuan benih ikan;
c. Jumlah produksi induk unggul;
d. Jumlah bantuan kebun bibit rumput laut;
e. Operasional KJA offshore terpadu;
f. Jumlah bantuan mesin pakan mandiri;
g. Jumlah kelompok masyarakat yang menerima bantuan bahan baku pakan mandiri;
h. Jumlah unit pembudidayaan ikan bersertifikat CBIB skala kecil skala besar untuk komoditas ekpor i. Jumlah bantuan sarana dan prasarana produksi budidaya ikan;
j. Jumlah luasan usaha budidaya yang dilindungi asuransi untuk kelangsungan usahanya;
k. Jumlah bantuan sarana minapadi;
l. Jumlah bantuan sarana budidaya teknologi bioflok;
m. Kelompok masyarakat yang menerima manfaat prasarana dan sarana perikanan budidaya;
3. Terselenggaranya pengendalian dan pengawasan sumber daya perikanan budidaya yang profesional dan partisipatif, dengan Indikator Kinerja: Jumlah sampel produk perikanan budidaya yang diuji minimal 96% bebas residu.
Learning & Growth Perspective
1. Terwujudnya aparatur sipil negara DJPB yang kompeten, profesional dan berintegritas, dengan Indikator Kinerja: Indeks kompetensi dan integritas lingkup Ditjen Perikanan Budidaya.
2. Tersedianya manajemen pengetahuan DJPB yang handal dan mudah diakses, dengan Indikator Kinerja: Persentase unit kerja yang menerapkan sistem manajemen pengetahuan yang terstandar (%).
3. Terwujudnya birokrasi DJPB yang efektif, efisien dan berorientasi pada layanan prima, dengan Indikator Kinerja :
a. Nilai kinerja reformasi birokrasi DJPB;
b. Tingkat Maturitas SPIP;
c. Persentase tindak lanjut direktif pimpinan;
d. Nilai AKIP DJPB;
e. Jumlah inovasi pelayanan publik DJPB.
4. Terkelolanya anggaran pembangunan DJPB secara efisen dan akuntabel, dengan Indikator Kinerja:
a. Nilai Kinerja Anggaran DJPB;
b. Batas tertinggi persentase nilai temuan LHP BPK atas LK DJPB dibandingkan realisasi anggaran DJPB TA. 2017
2.2. Penetapan Kinerja Tahun 2019
Perjanjian Kinerja pada dasarnya adalah pernyataan komitmen yang merepresentasikan tekad dan janji untuk mencapai kinerja yang jelas dan terukur dalam rentang waktu satu tahun tertentu, dengan mempertimbangkan sumber daya yang dikelola. Tujuan khusus perjanjian kinerja adalah untuk: (1) Meningkatkan akuntabilitas, transparansi, dan kinerja aparatur sebagai wujud nyata komitmen antara penerima amanah dengan pemberi amanah; (2) Sebagai dasar penilaian keberhasilan/kegagalanpencapaian tujuan dan sasaran organisasi; (3) Menciptakan tolak ukur kinerja sebagai dasar evaluasi kinerja. Penetapan Kinerja Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya tahun 2019, secara rinci sabagai berikut:
PERJANJIAN KINERJA TAHUN 2019
DIREKTORAT JENDERAL PERIKANAN BUDIDAYA
SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA TARGET
STAKEHOLDER PERSPECTIVE
1 Terwujudnya kesejahteraan masyarakat Perikanan Budidaya
1 Nilai Tukar Pembudidaya Ikan (NTPi) 103,00 2 Pertumbuhan PDB Perikanan (%) 11 3 Rata-Rata Pendapatan Pembudidaya (Rp) 3.300.000 CUSTOMER PERSPECTIVE
2 Terwujudnya kedaulatan dalam
pengelolaan SDKP 4 Tingkat Kemandirian SKPT Ditjen Perikanan
Budidaya (Tingkat) 3
3 Terwujudnya pengelolaan SDKP yang bertanggungjawab dan berkelanjutan
5 Jumlah produksi perikanan budidaya (juta ton)
29,90
6 Jumlah produksi ikan hias (miliar ekor) 2,5 7 Nilai PNBP dari perikanan budidaya (Rp.
Miliar) 19,34
8 Persentase kesesuaian bantuan pemerintah
lingkup Ditjen Perikanan Budidaya (%) 87,50 INTERNAL PROCESS PERSPECTIVE
4 Tersedianya kebijakan pembangunan
perikanan budidaya yang efektif 9 Indeks efektivitas kebijakan pemerintah 7,9 5 Terselenggaranya tata kelola
pemanfaatan SDKP yang berdaya saing dan berkelanjutan
10 Jumlah bantuan benih ikan (juta ekor) 213 11 Jumlah Produksi Induk Unggul (juta ekor) 1,09 12 Jumlah Bantuan Sarana Prasarana dan
percontohan Perbenihan Ikan (Paket) 80 13
Jumlah Bantuan Sarana Prasarana dan percontohan Kawasan dan Kesehatan Ikan (Paket)
30
14 Bidang lahan pembudidaya ikan yang
disiapkan sertifikasinya (bidang) 14.000 15 Luasan Usaha Budidaya yang dilindungi
Asuransi (Ha) 5.000
16
Jumlah Bantuan Sarana Prasarana dan percontohan produksi dan usaha budidaya (Paket)
650
17 Jumlah Bantuan Sarana Prasarana dan
percontohan Pakan Ikan Mandiri (Paket) 55 6
Terselenggaranya pengendalian dan pengawasan SDKP yang profesional dan partisipatif
18
Pengujian residu produk perikanan budidaya
dan sertifikasi untuk ekspor (paket) 4.860
LEARNING AND GROWTH PERSPECTIVE 7 Terwujudnya ASN DJPB yang kompeten,
profesional dan berintegritas 19 Indeks profesionalitas ASN (%) 71
SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA TARGET 8 Tersedianya manajemen pengetahuan
DJPB yang handal dan mudah diakses 20
Persentase unit kerja yang menerapkan sistem manajemen pengetahuan yang terstandar (%)
80 9 Terwujudnya birokrasi DJPB yang
efektif, efisien dan berorientasi pada layanan prima
21 Nilai kinerja Reformasi Birokrasi DJPB (nilai) A (82) 22 Tingkat Maturitas SPIP (level) 3,00
23 Nilai AKIP DJPB A (85)
24 Unit kerja lingkup DJPB berpredikat menuju
WBK (unit) 6
25
Persentase jumlah rekomendasi hasil pengawasan yang dimanfaatkan untuk perbaikan kinerja lingkup DJPB (%)
80 10 Terkelolanya anggaran pembangunan
DJPB secara efisien dan akuntabel 26 Nilai kinerja pelaksanaan anggaran DJPB (%) 87 27 Batasan tertinggi nilai temuan LHP BPK atas
laporan Keuangan DJPB (%) 1
Program : Pengelolaan Sumberdaya Perikanan Budidaya
Jumlah Anggaran Tahun 2019 : Rp. 656,379 Miliar
No Kegiatan Anggaran
(Rp. Miliar)
1 Pengelolaan Kawasan dan Kesehatan Ikan 49,560
2 Pengelolaan Perbenihan Ikan 180,869
3 Pengelolaan Pakan dan Obat Ikan 31,550
4 Pengelolaan Produksi dan Usaha Pembudidayaan Ikan 76,470
5 Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya Direktorat
Jenderal Perikanan Budidaya 317,930
Gambar 7. Perjanjian Kinerja Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Tahun 2019
2.3. Pengukuran Capaian Kinerja Tahun 2019
Pengukuran tingkat capaian IKU dilakukan dengan berpedoman pada formula penghitungan yang telah ditetapkan dalam Informasi indicator KInerja atau Manual IKU. Selanjutnya nilai capaian tersebut dihitung dengan membandingkan antara realisasi capaian dengan target yang telah ditetapkan.
Pengukuran capaian kinerja dilakukan secara berkala melalui penyusunan laporan kinerja Triwulanan yang didukung dengan impelementasi Aplikasi BSC ”Kinerjaku” yang merupakan Sistem Aplikasi Pengukuran Kinerja berbasis informasi teknologi.
Gambar 8. Schreenshoot NPSS Kinerjaku Triwulan 1
BAB 3. AKUNTABILITAS KINERJA
3.1. Capaian Kinerja Organisasi
Kegiatan pembangunan perikanan budidaya pada tahun 2018 sebagaimana Perjanjian Kinerja (PK) Direktur Jenderal Perikanan Budidaya menitikberatkan pada 10 (sepuluh) Sasaran Strategis dengan 32 (tigapuluh dua) Indikator Kinerja Utama untuk menunjang pencapaian visi dan misi Ditjen Perikanan Budidaya. Adapun 4 (empat) perspektif yang digunakan dalam pengklasifikasian IKU-IKU tersebut adalah : (i) Stakeholder Perspective; (ii) Customer Perspective; (iii) Internal Process Perspective; dan (iv) Learning and Growth Perspective. Hasil pengukuran kinerja inilah yang dilaporkan dalam Laporan Kinerja (LKj) tingkat Eselon I.
Berdasarkan sistem pelaporan pada aplikasi “kinerjaku.kkp.go.id” diperoleh Nilai Pencapaian Sasaran Strategis (NPSS) sebesar 100,45 % Adapun rekapitulasi capaian kinerja Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya pada Triwulan 1 Tahun 2019 seperti pada tabel berikut.
Tabel 1. Capaian Sasaran Strategis Ditjen Perikanan Budidaya Triwulan 1 Tahun 2019
SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA TARGET
TAHUNAN TARGET TW 1 REALISASI
% REALISASI TAHUNAN
% REALISASI
TW 1
STAKEHOLDER PERSPECTIVE
1 Terwujudnya kesejahteraan masyarakat Perikanan Budidaya
1 Nilai Tukar Pembudidaya Ikan (NTPi)
103 103 102,03 99,03 99,03
2 Pertumbuhan PDB
Perikanan
11 11 5,67 51,55 51,55
3 Rata-rata pendapatan
pembudidaya (Rp)
3.300.000 3.385.950 102,6 3.300.000 102,6
Terwujudnya kedaulatan dalam pengelolaan SDKP
4 Tingkat Kemandirian SKPT Ditjen Perikanan Budidaya (Tingkat)
3 - - - -
3
Terwujudnya pengelolaan SDKP yang
bertanggungjawab dan berkelanjutan
5 Jumlah produksi perikanan budidaya (ton; non kumulatif)
29,9 6,12 4,13 13,79 67,43
6 Jumlah produksi ikan hias (miliar ekor)
2,5 0,5 0,33 13,35 66,78
7 Nilai PNBP dari perikanan budidaya (Rp)
19,34 2,56 3,32 17,19 129,81
8 Nilai kesesuaian bantuan pemerintah lingkup Ditjen Perikanan Budidaya (%)
87,50 - - - -
4 Tersedianya kebijakan pembangunan perikanan budidaya yang efektif
9 Indeks efektivitas kebijakan pemerintah
7,9 - - - -
5
Terselenggaranya tata kelola
10 Jumlah bantuan benih ikan (Juta Ekor)
213 10 36,64 17,20 366,4
SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA TARGET
TAHUNAN TARGET TW 1 REALISASI
% REALISASI TAHUNAN
% REALISASI
TW 1
pemanfaatan SDKP yang berdaya saing dan berkelanjutan
11 Jumlah produksi induk unggul (juta ekor)
1,09 0,037 0,037 3,37 100
12 Jumlah Bantuan Sarana Prasarana dan percontohan Perbenihan Ikan (Paket)
80 - - - -
13 Jumlah Bantuan Sarana Prasarana dan percontohan Kawasan dan Kesehatan Ikan (Paket)
30 - - - -
14 Bidang lahan pembudidaya ikan yang disiapkan sertifikasinya (bidang)
14.000 0 7.821 55,86 -
15 Luasan Usaha Budidaya yang dilindungi Asuransi (Ha)
5.000 - - - -
16 Jumlah Bantuan Sarana Prasarana dan percontohan produksi dan usaha budidaya (Paket)
650 - - - -
17 Jumlah Bantuan
Sarana Prasarana dan percontohan Pakan Ikan Mandiri (Paket)
55 - 17 58,18 -
6 Terselenggaranya pengendalian dan pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan yang profesional dan partisipatif
18 Pengujian residu produk perikanan budidaya dan sertifikasi untuk ekspor (paket)
4.860 847 787 16,19 92,92
7 Terwujudnya ASN DJPB yang kompeten, profesional dan berintegritas
19 Indeks profesionalitas ASN (%)
71 - - - -
8 Tersedianya manajemen pengetahuan DJPB yang handal dan mudah diakses
20 Persentase unit kerja yang menerapkan sistem manajemen pengetahuan yang terstandar (%)
80 50 58,28 72,85 160,28
9 Terwujudnya birokrasi DJPB yang efektif, efisien dan berorientasi pada layanan prima
21 Nilai kinerja Reformasi Birokrasi DJPB
A (82) - - - -
22 Tingkat Maturitas SPIP (level)
3 - - - -
23 Nilai AKIP DJPB A ( 85) - - - -
24 Unit kerja lingkup DJPB berpredikat menuju WBK (unit)
6 - - - -
25 Persentase jumlah rekomendasi hasil
80 15 85 106,25 566,66
SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA TARGET
TAHUNAN TARGET TW 1 REALISASI
% REALISASI TAHUNAN
% REALISASI
TW 1 pengawasan yang
dimanfaatkan untuk perbaikan kinerja lingkup DJPB (%) 10 Terkelolanya
anggaran
pembangunan DJPB secara efisien dan akuntabel
26 Nilai kinerja
pelaksanaan anggaran DJPB (%)
87 86 89,17 102,49 103,68
27 Batas tertinggi persentase nilai temuan LHP BPK atas LK DJPB dibandingkan realisasi anggaran DJPB TA. 2017
1 - - - -
3.2. Analisis Capaian Kinerja
Analisis capaian kinerja dilakukan pada setiap pernyataan kinerja Sasaran Strategis dan indiKator kinerja untuk setiap Perspektif sebagai berikut :
STAKEHOLDERS PERSPEKTIVE
3.2.1. Sasaran Srategis (SS-1) : Terwujudnya kesejahteraan masyarakat perikanan budidaya Sasaran Strategis Terwujudnya kesejahteraan masyarakat perikanan budidaya merupakan tujuan dari program Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, sasaran ini memiliki 3 (tiga) Indikator Kinerja Utama, yaitu :
A. Nilai Tukar Pembudidaya Ikan (NTPi)
Nilai Tukar Pembudidaya Ikan (NTPi) merupakan rasio antara indeks harga yang diterima oleh pembudidaya ikan (It) terhadap indeks harga yang dibayar oleh pembudidaya ikan (Ib). NTPi merupakan indikator tingkat kemampuan/daya beli pembudidaya ikan, nilai tukar lebih besar dari 100 berarti pembudidaya mengalami surplus kenaikan harga produksi lebih tinggi dibanding kenaikan harga konsumsi, nilai tukar sama dengan 100 berarti pembudidaya mengalami impas kenaikan harga produksi sama dengan kenaikan harga konsumsi dan nilai tukar lebih kecil dari 100 berarti pembudidaya mengalami defisit kenaikan harga produksi lebih kecil daripada kenaikan harga konsumsi.
Berdasarkan hasil pemantauan harga di 33 provinsi di Indonesia oleh BPS, rata-rata NTPi dari bulan Januari - Maret 2018 sebesar 102,03 atau telah tercapai 99,06% dari target akhir RPJMN sebesar 103. Rata-rata ini naik dibandingkan dengan capaian NTPi triwulan I tahun 2018 sebesar 99,58, sehingga terjadi kenaikan sebesar 2,47%. NTPi 102,03 menunjukkan bahwa kesejahteraan pembudidaya telah tercapai, dan tren naik NTPi menunjukkan terus mendekati target. Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan DJPB sudah sesuai sehingga NTPi terus bergerak naik mendekati target akhir RPJMN.
Tabel 2. Nilai Tukar Pembudidaya Ikan (NTPi) Nama SS :Terwujudnya Kesejahteraan Masyarakat Perikanan Budidaya
Nama Indikator : Nilai Tukar Pembudidaya Ikan (NTPi)
TW I 2019 Realisasi
TW I 2018
Perbandingan Realisasi TW I 2019 thd TW I 2018 (%)
Target 2019 Realisasi Terhadap Target Tahunan (%) Target Realisasi Capaian
103 102,03 99,03 99,58 - 103 99,03
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) sebanyak 15 (lima belas) provinsi yang memiliki nilai NTPi di atas 100, antara lain: Maluku, Kepulauan Riau, Kalimantan Selatan, Sumatera Barat, Maluku Utara, Jawa Timur, Jawa Barat, Sulawesi Tenggara, Sumatera Selatan, Sulawesi Selatan, Jawa Tengah, Riau, DI Yogyakarta, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat seperti tergambar pada peta di bawah ini.
Sementara Nilai Tukar Usaha Perikanan Budidaya seluruhnya berada di atas 100 kecuali provinsi Sumatera Utara, Gorontalo dan Sulawesi Tengah yang masih berada di bawah 100. Hal ini menunjukkan bahwa secara umum usaha perikanan budidaya dapat memberikan keuntungan bagi pelaku usahanya.
Tabel 1. Nilai Tukar Pembudidaya Ikan TW I Tahun 2019
Komponen NTPi NTPi
Rata-Rata Januari Februari Maret
Nilai Tukar Pembudidaya Ikan 101,866 102,209 102,02 102,03
a Indeks Harga yang diterima pembudidaya ikan (lt) 134,931 135,09 135,15 135,06
- Budidaya air tawar 135,9281 135,86 135,95 135,91
- Budidaya laut 118,9139 119,36 119,18 119,15
- Budidaya Air Payau 130,2937 130,99 130,23 130,50
b Indeks harga yang dibayar pembudidaya (lb) 132,459 132,17 132,47 132,37
- Indeks konsumsi rumah tangga 140,6967 140,14 140,51 140,45
- Indeks BPPBM 117,864 118,08 118,3 118,08
Ket : BPPBM : Biaya Produksi dan Penambahan Barang Modal Sumber data dari BPS
NTPi selama Januari – Maret mengalami kenaikan dan sudah di atas 100 (tabel 4) sebagaimana pada gambar 13. Terus meningkatnya NTPi menunjukkan bahwa kebijakan perikanan budidaya berimbas positif
pada perkembangan NTPi walaupun nilainya masih di bawah 100. Hal ini kemungkinan dikarenakan karena naiknya harga ikan dan inflasi harga-harga kebutuhan bahan pokok yang tidak naik sdinifikan.
Selain itu, kebijakan perikanan budidaya dalam menekan harga pakan dengan program gerakan pakan mandiri juga memberikan andil dalam menekan biaya produksi utamanya biaya pakan yang merupakan biaya terbesar dalam usaha budidaya ikan.
Kendala dalam pencapaian NTPi diantaranya adalah harga pakan yang masih cukup tinggi sementara pakan merupakan komponen utama dalam biaya produksi (60-70%). Selain itu perhitungan NTPi juga belum mengakomodir nilai usaha dari pembudidaya ikan hias, benih dan tambak udang dan sampel yang diambil untuk penyusunan NTPi belum menjangkau seluruh kabupaten/kota. Faktor eksternal yang juga mempengaruhi adalah naiknya harga kebutuhan pokok memberikan kontribusi yang cukup signifikan dalam pencapaian NTPi. Oleh karena itu diperlukan upaya untuk peningkatan upaya penyediaan pakan murah dan terjangkau serta berkualitas sesuai dengan jenis komoditas yang dikembangkan melalui perekayasaan teknologi.
Rencana aksi untuk peningkatan NTPi diantaranya adalah : (i) pengembangan pakan mandiri melalui penyediaan bahan baku, uji laboratorium, penyediaan mesin pellet, pengembangan laboratorium nutrisi pakan, dan pembinaan ke pembudidaya dan memperbanyak percontohan untuk budidaya pakan mandiri seperti cacing darah, cacing sutra dan azolla yang diharapkan dapat mengurangi biaya penggunaan pakan;
(ii) pengembangan teknologi biofloc untuk menekan Food Convertion Ratio/FCR guna meningkatkan efisiensi pakan dan produktivitas perikanan budidaya; (iii) pengembangan mariculture untuk peningkatan/pengalihan ke budidaya rumput laut yang rendah input produksi, diantaranya melalui pengembangan sentra kebun bibit; dan (iv) melakukan koordinasi dengan BPS untuk memperluas wilayah survei agar semua kegiatan usaha budidaya bisa terwakili.
B. Pertumbuhan PDB Perikanan
Target pertumbuhan PDB perikanan pada Triwulan I tahun 2019 sebesar 11 persen. Pencapaian pertumbuhan PDB Perikanan Triwulan I 2019 adalah 5,67 persen atau baru tercapai 51,55 persen dari target sebesar 11 persen , lebih rendah dari pertumbuhan sektor pertanian (1,81 persen) dan lebih rendah dari pertumbuhan rata-rata ekonomi Indonesia (5,07 persen).
Tabel 3. Pertumbuhan PDB Perikanan Nama SS :Terwujudnya Kesejahteraan Masyarakat Perikanan Budidaya
Nama Indikator : Pertumbuhan PDB Perikanan TW I 2019 *** Realisasi
TW I 2018
Perbandingan Realisasi TW I 2019 thd TW I 2018 (%)
Target 2019 Realisasi Terhadap Target Tahunan (%) Target Realisasi Capaian
%
11 5,67 51,55 5,82 -2,58 11 5,67
***angka sangat sangat sementara, sumber : BPS
Untuk sektor perikanan dapat diketahui bahwa pendapatan para pelaku usaha di bidang perikanan tangkap dan budidaya pada triwulan I-2019 Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) mencapai Rp. 102,22 triliun dan ADHK 2010 mencapai Rp. 62,31 triliun. Kontribusi perekonomian sektor perikanan triwulan I-2019
terhadap PDB ADHB sebesar 2,70 persen, kontribusi ini lebih tinggi dari pada triwulan I-2018 (2,66 persen), namun lebih rendah dibandingkan triwulan IV-2018 (2,64 persen), tahun 2018 (2,60 persen), dan triwulan I-2018 (2,66 persen). Kontribusi PDB sektor perikanan Indonesia ADHB triwulan I-2019 terhadap PDB nasional menunjukkan adanya peningkatan nilai tambah yang mencerminkan peningkatan income para pelaku subsektor kelautan dan perikanan secara rata-rata pada triwulan I-2019 dibandingkan triwulan I-2018.
Laju pertumbuhan PDB Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) perikanan triwulan I-2019 (5,67 persen) lebih tinggi daripada laju pertumbuhan PDB kelompok pertanian (1,81 persen), dan laju pertumbuhan PDB (ADHK) lebih tinggi dari pada laju pertumbuhan PDB Nasional (5,07 persen). Laju pertumbuhan PDB perikanan triwulan I-2019 (5,67 persen) lebih rendah daripada laju pertumbuhan PDB perikanan triwulan I-2018 (5,82 persen), triwulan I-2017 (6,99 persen) dan total pertumbuhan PDB (ADHK) perikanan tahun 2017 (5,71 persen).
Pertumbuhan ini menunjukkan adanya peningkatan daya beli (purchasing power) dari para pelaku sektor kelautan dan perikanan dibandingkan sektor lain pada kelompok pertanian, kehutanan, perikanan dan nasional. Pertumbuhan sektor perikanan triwulan I-2019 menunjukkan bahwa sektor perikanan baik perikanan tangkap maupun perikanan budidaya menunjukkan potensi besar dalam pembangunan ekonomi Indonesia.
C. Rata-Rata Pendapatan Pembudidaya
Pendapatan adalah jumlah uang yang diterima oleh para anggota masyarakat untuk jangka waktu tertentu sebagai balas jasa atas faktor-faktor produksi yang mereka sumbangkan dalam turut serta membentuk produk nasional, pendapatan atau income adalah uang yang diterima oleh seseorang dan perusahaan dalam bentuk gaji, upah, sewa bunga, dan laba termasuk juga beragam tunjangan, seperti kesehatan dan pensiun, sementara itu terkait dengan pendapatan pembudidaya adalah uang yang diterima oleh pembudidaya yang merupakan hasil dari kegiatan membudidayakan ikan, sehingga bisa diukur seberapa jauh kegiatan pembudidayaan ikan dapat memberikan kehidupan yang layak bagi pembudidaya.
Tabel 4. Rata rata pendapatan pembudidaya Nama SS :Terwujudnya Kesejahteraan Masyarakat Perikanan Budidaya
Nama Indikator : Rata-rata pendapatan pembudidaya
TW I 2019 Realisasi
TW I 2018
Perbandingan Realisasi TW I 2019 thd TW I 2018 (%)
Target 2019 Realisasi Terhadap Target Tahunan (%) Target Realisasi Capaian
%
3.300.000 3.385.950 102,6 3.355.551 0,90 3.300.000 102,6
Pada Tahun 2019, rata-rata pendapatan pembudidaya ditargetkan Rp. 3.300.000,- dengan realisasi tw 1 mencapai Rp. 3.385.947,- atau tercapai 102,6% dari target. Pendapatan pembudidaya ikan sejak tw 3 2018 tidak mengalami peningkatan ataupun penurunan dikarenakan harga ikan relative stabil.
Pendapatan pembudidaya dihitung berdasarkan pada data hasil survey struktur ongkos yang dilakukan oleh BPS, dari hasil survey BPS diketahui surplus usaha pembudidayaan ikan untuk setiap hektarnya pada tahun 2013, sehingga untuk mengetahui pendapatan terkini dari pembudidaya perlu dilakukan pemutakhiran data terkait dengan struktur ongkos pembudidaya yang didalamnya meliputi data biaya produksi, dengan melakukan uji petik di beberapa sentra perikanan budidaya.
CUSTOMER PERSPEKTIF
3.2.2. Sasaran Srategis (SS-2) : Terwujudnya kedaulatan dalam pengelolaan sumberdaya kelautan dan perikanan
A. Tingkat Kemandirian SKPT Ditjen Perikanan Budidaya.
Tabel 5. Tingkat kemandirian SKPT Ditjen Perikanan Budidaya Nama SS :Terwujudnya kedaulatan dalam pengelolaan sumberdaya kelautan dan perikanan Nama Indikator : Tingkat kemadirian SKPT Ditjen Perikanan Budidaya
TW I 2019 Realisasi TW I 2018
Perbandingan Realisasi TW I 2019 thd TW I 2018 (%)
Target 2019 Realisasi Terhadap Target Tahunan (%) Target Realisasi Capaian
%
- - - - - 3 -
*Target IKU bersifat Tahunan
3.2.3. Sasaran Srategis (SS-3) : Terwujudnya pengelolaan sumberdaya perikanan budidaya yang bertanggungjawab dan berkelanjutan
A. Jumlah produksi perikanan budidaya
Capaian sementara Produksi Perikanan Budidaya sampai dengan Triwulan I tahun 2019 yaitu sebesar 4.124.103 ton atau (67,43%) dari target sebesar 6.115.722 ton dengan capaian nilai produksi sebesar Rp 57.591,- miliar atau capaian (73,62%) dari target sebesar Rp 78.721,- miliar capaian nilai produksi cenderung lebih baik dibandingkan dengan capaian volume produksi hal ini disebabkan karena capain produksi ikan lebih baik dibandingkan dengan capaian produksi rumput laut. Produksi ikan tercapai sebesar 75,16% sedangkan rumput laut hanya mencapai 62,94%.
Tabel 6. Jumlah produksi perikanan budidaya (juta ton)
Nama SS :Terwujudnya pengelolaan sumberdaya perikanan budidaya yang bertanggungjawab dan berkelanjutan Nama Indikator : Jumlah Produksi perikanan budidaya
Komoditas
TW 1 2019** Realisasi TW 1 2018
Perbandingan Realisasi TW I 2019 thd TW I 2018
(%)
Target 2019
Realisasi Terhadap Target
Tahunan (%) Target Realisasi Capaian
(%)
Ikan 2,25 1,69 75,16 1,35 125,18 10,36 16,31
Rumput Laut 3,87 2,44 62,94 2,00 122,00 19,54 12,48
Total 6,12 4,13 67,43 3,35 123,08 29,90 13,79
**) angka sangat sementara
Tabel 7. Target dan Realisasi Nilai Produksi Perikanan Budidaya Tahun 2019 ( Rp. Milyar) Nama SS :Terwujudnya pengelolaan sumberdaya perikanan budidaya yang bertanggungjawab dan berkelanjutan Nama Indikator : Jumlah Nilai Produksi perikanan budidaya
Komoditas
TW 1 2019** Realisasi
TW 1 2018
Perbandingan Realisasi TW I 2019
thd TW I 2018 (%)
Target 2019
Realisasi Terhadap Target Tahunan (%) Target Realisasi Capaian
(%)
Ikan 68.734 51.665 75,16 41.287 125,13 317.072 16,29
Rumput Laut 9.986 6.286 62,94 5.166 121,68 50.433 12,46
Total 78.721 57.951 73,62 46.452 123,08 367.505 13,79
**) angka sangat sementara
Capaian produksi perikanan budidaya Triwulan I 2019 jika dibandingkan dengan capaian triwulan 1 tahun 2018 mengalami peningkatan yang cukup signifikan, secara keseluruhan terjadi peningkatan sebesar 23,08 % yang terdiri dari rumput laut meningkat sebesar 21,68 % dan ikan meningkat sebesar 25,13% akan tetapi jika dibandingkan dengan target triwulan 1 2019 pencapaian produksi perikanan budidaya baru mencapai 73,62%, meningkatnya produksi periknan budidaya triwulan 1 2019 dibandingkan dengan produksi triwulan 1 2018 banyak disebabkan oleh semakin membaiknya kondisi sentra budidaya rumput laut dan didukung dengan harga rumput laut yang mencapai 16.000-20.000 perkilogram kering diyakini merupakan faktor utama untuk pembudidaya meningkatkan produksinya selain itu bantuan pemerintah yang banyak disebarkan di masyarakat pada akhir tahun 2018 sudah mulai menghasilkan pada triwulan 1 2019 ini walaupun masih banyak juga yang belum panen terutama bantuan ikan laut yang sifat budidayanya jangka panjang, bantuan pemerintah yang dialokasikan pada tahun 2018 antara lain (i) Penyediaan benih ikan kerapu dan kakap putih yang bermutu di UPT dan unit Hatchery Skala Rumah Tangga (HSRT) dengan distribusi benih ikan laut sampai dengan bulan Oktober ini sudah mencapai 169 lokasi; (ii) Pengembangan teknologi budidaya secara intensifikasi dengan bioflok dan nanobuble untuk peningkatan produktivitas dan efisiensi produksi yang pada tahun 2018 sampai dengan bulan Oktober ini sudah terealisasi 90 lokasi; (iii) Penataan dan perbaikan infrastruktur di kawasan pertambakan yang didukung dengan sebaran excavator yang sampai bulan Oktober ini sudah mencapai 36 lokasi yang difasilitasi; (iv) Memberikan kemudahan askes permodalan kepada para pembudidaya ikan untuk melakukan usaha melalui pemanfaatan dana Program Kemitraan dan Bina Lingungan (PKBL) BUMN dan akses pembiayaan oleh LPMUKP; (v) Usaha pembinaan pakan mandiri sebagai upaya dari DJPB untuk menekan penggunaan pakan pabrikan agar pembudidaya ikan memiliki margin keuntungan yang lebih besar dan dapat memenuhi kebutuhannya, pakan mandiri terutama diperuntukkan pembudidaya air tawar.
B. Jumlah produksi ikan hias
Ikan hias air tawar asli Indonesia yang menjadi primadona adalah ikan arwana dan cupang. Sedangkan ikan asal negara lain yang bisa didomestikasi dan cukup popular dibudidayakan di Indonesia antara lain
koki, koi, discus dan guppy. Dengan potensi pengembangan budidaya ikan hias yang begitu besar maka Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya perlu mengembangkan budidaya ikan hias, baik pengembangan dalam hal teknologi maupun usaha. Adapun capaian produksi ikan hias sampai dengan Triwulan I tahun 2019 mencapai 333,89 juta ekor atau sekitar 66,78% dari target yang telah ditetapkan yaitu 500 juta ekor.
Tabel 8. Jumlah produksi ikan hias
Nama SS :Terwujudnya pengelolaan sumberdaya perikanan budidaya yang bertanggungjawab dan berkelanjutan Nama Indikator : Jumlah Produksi ikan hias
TW I 2019** Realisasi TW I 2018
Perbandingan Realisasi TW I 2019 thd TW I 2018 (%)
Target 2019 Realisasi Terhadap Target Tahunan (%) Target Realisasi Capaian %
0,5 0,33 66,78 0,24 136,56 2.5 13,35
Ket : **)angka sangat sementara
Tabel 9. Target dan realisasi nilai produksi ikan hias Tahun 2019 ( Rp. Milyar)
Nama SS :Terwujudnya pengelolaan sumberdaya perikanan budidaya yang bertanggungjawab dan berkelanjutan Nama Indikator : Jumlah Produksi ikan hias
TW I 2019** Realisasi TW I 2018
Perbandingan Realisasi TW I 2019 thd TW I 2018 (%)
Target 2019 Realisasi Terhadap Target Tahunan (%) Target Realisasi Capaian %
6.005 3.951 65,79 3.104 127,29 18.385 21,49
Ket : **)angka sangat sementara
Keuntungan usaha budidaya ikan hias antara lain tidak memerlukan luasan lahan yang besar cukup hanya memanfaatkan pekarangan rumah dan relatif lebih kecil jika dibandingkan dengan usaha budidaya ikan konsumsi, akan tetapi nilai yang dihasilkan menjadi dari usaha pembudidayaan ikan hias bisa melebihi nilai usaha dari jenis usaha budidaya ikan yang lain, selain itu usaha budidaya ikan hias juga tidak membutuhkan waktu yang lama sehingg waktu pengembalian investasinyapun lebih cepat. dan perputaran uang (cash flownya) juga cenderung lebih cepat keuntungan lain dari membudidayakan ikan hias adalah peminat ikan hias pada umumnya adalah para hobiis sehingga harga ikan hias sangat tergantung pada subyektifitas dari setiap hobi dan tidak ada patokan yang pasti untuk harga ikan hias, produksi ikan hias sampai dengan triwulan 1 2018 bisa dilihat pada tabel berikut:
Tabel 10. Produksi Ikan Hias Menurut Komoditas TW1 *
NO JENIS IKAN TARGET TAHUN 2019 TARGET TW 1 REALISASI TW 1
TOTAL 2.500.000 500.000 333.894
1 Koi 350.000 70.000 104.755
2 Koki 102.00 20.400 8.580
3 Cupang 160.000 32.000 43.444
4 Plati 89.000 17.800 10.101
5 Tetra 67.000 13.400 9.861
6 Manvis 41.000 8.200 12.450
7 Red Nose 29.000 5.800 5.426
8 Discus 20.000 4.000 5.168
9 Oscar 18.500 3.700 2.923
10 GApi 224.000 44.800 14.420
11 Blackghost 16.300 3.260 3.015