BAB II TINJAUAN KEPUSTAKAAN
2.6 Standar Air Bersih
Didalam peraturan Menteri kesehatan tahun 2002 disebutkan ketentuan untuk beberapa paremeter kimiawi standar baku kualitas air bersih seperti pada tabel berikut ini :
Tabel 2.1 Kualitas air bersih untuk parameter kimiawi
Parameter Satuan Kadar Maksimum yang diperbolehkan
Keterangan
1 2 3 4
Antimon (mg /liter) 0,005
Air raksa (mg /liter) 0,001
Arsen (mg /liter) 0,01
Barium (mg /liter) 0,7
Boron (mg /liter) 0,3
Kadmium (mg /liter) 0,003
Kromium (Valensi 6) (mg /liter) 0,05
Tembaga (mg /liter) 2 Sianida (mg / liter) 0,07 Fluorida (mg / liter) 1,5 Timbal (mg / liter) 0,01 Molybdenum (mg / liter) 0,07 Nikel (mg / liter) 0,02 Nitrat ( sebagai NO3 -) (mg / liter) 50 Nitrit (sebagai NO2 -) (mg / liter) 3 Selenium (mg / liter) 0,01
3.1 Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian yang dilakukan merupakan jenis penelitian eksperimen dengan menggunakan model alat penyaringan air gambut dari pipa PVC Dengan media tawas, pasir dan arang tempurung. Hasil kualitas air dari penelitian ini diuji di Laboratorium UPTD Banda Aceh. Waktu penelitian dilakukan pada tanggal 2 Mei 2013 sampai dengan tanggal 14 Mei 2013.
3.2 Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh air yang menggenangi lahan gambut di Kecamatan Johan Pahlawan Kabupaten Aceh Barat dengan langkah langkah sebagai berikut :
1. Menentukan lokasi 3 (tiga) titik yaitu di Desa Cot Lawang, Desa Rundeng, dan Desa Seuneubok. Lokasi tersebut diambil karena merupakan daerah yang dominan lahan gambut.
2. Dari titik itu masing masing diambil dua buah sampel air gambut dengan dengan sumber yang sama namun jarak berbeda.
3. Membilas terlebih dahulu bagian dalam penampung dan Alat untuk mengambil sampel secara merata sebanyak 3 (tiga) kali dengan sampel tersebut.
4. Mengambil sampel sebanyak volume yang sama yaitu 120 liter.
10
3.3 Bahan dan Alat
Dalam penelitian ini digunakan bahan dan alat seperti pada tabel berikut :
Tabel 3.1 Bahan dan alat yang digunakan pada model alat penyaringan
NO BAHAN ALAT
1 Pipa PVC 4 inch Gergaji besi
2 Bak Fiber 350 liter Bor listrik
3 Dob 4 inch Gelas ukur
4 Elbow drat ¾ inch Tang
5 Lem Pipa PVC Kain
6 Seltip
7 Keran air
8 Mesin Pompa Air 125 watt
9 Ember penampung
10 Pipa PVC ¾ inch
11 Stop keran
12 Kaki dudukan alat yang dilas
3.4 Spesifikasi Model Alat Penyaringan
Pada penelitian ini digunakan alat penyaringan air gambut dengan media tawas, pasir dan arang tempurung yang dirangkai dengan pipa PVC dengan spesifikasi alat sebagai berikut :
1. Kapasitas alat 240 Liter/hari.
2. Unit bak baku, yang terdiri dari bak ukuran 350 liter.
3. Unit Koagulasi, yaitu menggunakan tawas dengan ukuran 10 gr per 100 liter 4. Unit Filtrasi, yaitu menggunakan rangkaian pipa PVC sebagai tabung yang diisi
5. Unit absorpsi, yaitu menggunakan rangkaian pipa PVC sebagai tabung yang diisi dengan bahan Arang tempurung. Dengan ukuran diameter 4 inch dan tinggi tabung 100 cm.
6. Unit Penampung, yaitu bak penampung untuk air hasil saringan. Dengan ukuran 100 liter.
7. metode penyaringan menggunakan dari bawah keatas (up flow) dengan bantuan mesin pompa air 125 watt.
3.5 Prosedur Penelitian
3.5.1 Preparasi alat rancangan penelitian
Persiapan yang harus dilakukan terlebih dahulu yaitu pembuatan alat penyaringan air gambut dari pipa PVC dengan media tawas, pasir dan arang tempurung.
Pada penelitian ini ditetapkan yaitu :
1. koagulasi dengan menggunakan tawas 10 gram / 100 liter air selama 24 jam. 2. ketebalan pasir 80 cm yang diisi dalam tabung Pipa PVC.
3. ketebalan Arang tempurung 100 cm yang diisi dalam tabung pipa PVC.
4. metode saringan yang digunakan yaitu Up flow (aliran keatas) dengan bantuan mesin pompa air dengan daya 125 Watt.
3.5.2 Preparasi sampel
Pengambilan sampel dilakukan pada hari akan dilaksanakan penyaringan air, dan langsung dilakukan koagulasi pada hari tersebut mengingat pengaruh waktu dapat menyebabkan lamanya pengendapan.
12
3.5.3 Parameter penelitian
Pada penelitian ini akan dilakukan penyaringan sampel air gambut dengan menggunakan model alat penyaringan air gambut yang telah dirancang. Kemudian air hasil saringan akan dilakukan pengujian kualitas air dan dibandingkan dengan standar baku untuk air bersih (Permenkes RI. No 907 tahun 2002).
3.6 Bagan Penelitian
Permenkes RI. No 907 tahun 2002
Olah data
Cek Hasil Berdasarkan :
Penelitian (Uji Alat) Desain dan Rancangan Alat Pengumpulan Data (Kepustakaan)
Perumusan Masalah
Melakukan penyaringan air Gambut
Penelitian ini adalah penelitian eksperimen dengan membanding hasil uji laboratorium dari sebuah model alat terhadap standar baku air bersih. Sehingga Setelah melakukan pengujian kualitas air dari model alat penyaringan air gambut dengan media tawas, pasir dan arang tempurung yang kemudian dibandingkan hasilnya dengan standar baku air bersih Permenkes RI No. 907 tahun 2002. Maka, didapatkan hasil dan pembahasan sebagai berikut :
4.1 Hasil
Dari hasil pengujian laboratorium UPTD Banda Aceh untuk uji kimiawi didapatkan hasil seperti pada tabel di bawah ini :
Tabel 4.1 Uji Fe (Besi)
NO Lokasi Sampel Hasil Baku Mutu Satuan
1 Cot Lawang 0,0039 0,3 Mg/L 2 Cot Lawang 0,0013 3 Rundeng 0,0049 4 Rundeng 0,0292 5 Seuneubok 0,0011 6 Seuneubok 0,0033
Sumber : Data primer (Diolah tahun 2013)
14
Tabel 4.2 Uji TDS (Total Zat Padat Terlarut)
NO Lokasi Sampel Hasil Baku Mutu Satuan
1 Cot Lawang 98,5 500 Mg/L 2 Cot Lawang 134,5 3 Rundeng 221 4 Rundeng 136 5 Seuneubok 155,2 6 Seuneubok 147,9
Sumber : Data primer (Diolah tahun 2013)
Tabel 4.3 Uji pH
NO Lokasi Sampel Hasil Baku Mutu Satuan
1 Cot Lawang 7,64 6,5-8,5 Mg/L 2 Cot Lawang 6,54 3 Rundeng 5,07 4 Rundeng 6,96 5 Seuneubok 5,79 6 Seuneubok 5,50
Sumber : Data primer (Diolah tahun 2013) Tabel 4.4 Uji Zn (Seng)
NO Lokasi Sampel Hasil Baku Mutu Satuan
1 Cot Lawang 0,1298 3 Mg/L 2 Cot Lawang 0,0066 3 Rundeng 0,1482 4 Rundeng 0,0005 5 Seuneubok 0,0043 6 Seuneubok 0,0257
Tabel 4.5 Uji F (Fluorida)
NO Lokasi Sampel Hasil Baku Mutu Satuan
1 Cot Lawang 0,34 1,5 Mg/L 2 Cot Lawang 0,62 3 Rundeng 0,12 4 Rundeng 0,40 5 Seuneubok 0,45 6 Seuneubok 0,83
Sumber : Data primer (Diolah tahun 2013)
Tabel 4.6 Uji NO3(Nitrat)
NO Lokasi Sampel Hasil Baku Mutu Satuan
1 Cot Lawang 0,419 50 Mg/L 2 Cot Lawang 0,009 3 Rundeng 0,065 4 Rundeng 0,015 5 Seuneubok 0,004 6 Seuneubok 0,009
Sumber : Data primer (Diolah tahun 2013) Tabel 4.7 Uji NO2(Nitrit)
NO Lokasi Sampel Hasil Baku Mutu Satuan
1 Cot Lawang 0,022 3 Mg/L 2 Cot Lawang 0,007 3 Rundeng 0,016 4 Rundeng 0,025 5 Seuneubok 0,026 6 Seuneubok 0,034
16
Gambar 4.1 Diagram perbandingan kadar besi (Fe) hasil penelitian dengan standar baku
Gambar 4.2 Diagram perbandingan TDS hasil penelitian dengan standar baku
0.00390.0013 0.0049 0.0011 0.0292 0.0033 0.3 0.3 0.3 0 0.05 0.1 0.15 0.2 0.25 0.3
Cot Lawang Rundeng Seuneubok
Mg/L
Hasil 1 Hasil 2 Standar Baku
98.5 221 155.2 134.5 136 147.9 500 500 500 0 100 200 300 400 500 600
Cot Lawang Rundeng Seuneubok
Mg/L
Gambar 4.3 Diagram perbandingan pH hasil penelitian dengan standar baku
Gambar 4.4 Diagram perbandingan Zn hasil penelitian dengan standar baku
7.64 5.07 5.79 6.54 6.96 5.5 8.5 8.5 8.5 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9
Cot Lawang Rundeng Seuneubok
Hasil 1 Hasil 2 Standar Baku
0.12980.0066 0.14820.0005 0.00430.0257 3 3 3 0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5
Cot Lawang Rundeng Seuneubok
Mg/L
18
Gambar 4.5 Diagram perbandingan F hasil penelitian dengan standar baku
Gambar 4.6 Diagram perbandingan NO3hasil penelitian dengan standar baku
0.34 0.12 0.45 0.62 0.4 0.83 1.5 1.5 1.5 0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 1.2 1.4 1.6
Cot Lawang Rundeng Seuneubok
Mg/L
Hasil 1 Hasil 2 Standar Baku
0.34 0.12 0.45 0.62 0.4 0.83 1.5 1.5 1.5 0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 1.2 1.4 1.6
Cot Lawang Rundeng Seunebok
Mg/L
Gambar 4.7 Diagram perbandingan NO2hasil penelitian dengan standar baku
4.2 Pembahasan
Pada Penelitian ini pengambilan sampel air gambut dilakukan di 3 (tiga) desa dikecamatan Johan Pahlawan, yaitu Desa Cot Lawang, Desa Rundeng, dan Desa Seuneubok. Kondisi cuaca pada saat pengambilan sampel adalah cerah. Air gambut tersebut diambil sebanyak 2 (dua) sampel pada setiap desa sehingga total sampel yang akan dilakukan penyaringan adalah 6 (enam) sampel. Air gambut disetiap desa diambil sebanyak 120 liter kemudian dilakukan koagulasi selama satu hari (24 jam) dengan tawas dan selanjutnya disaring dengan media pasir, dan arang tempurung yang ada pada model alat penyaringan air gambut.
Setelah dilakukan penyaringan, air gambut dari 3 (tiga) desa tersebut dilakukan uji kualitas air dilaboratorium UPTD Banda Aceh. Dengan hasil sebagai berikut : 0.022 0.007 0.016 0.025 0.026 0.034 3 3 3 0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5
Cot Lawang Rundeng Seuneubok
Mg/L
20
a. Desa cot lowang
Pada Desa Cot Lawang didapatkan hasil penelitian yaitu untuk parameter Fe dengan kadar 0,0039 dan 0,013 Mg/L yang masih berada dibawah kadar maksimum yang diizinkan yaitu 0,3 Mg/L, parameter TDS dengan kadar 98,5 Mg/L dan 134,5 Mg/L yang masih berada dibawah kadar maksimum yang dizinkan yaitu 500 Mg/L, parameter pH dengan nilai 7,64 dan 6,54 yang masih berada diantara nilai standar baku yaitu 6,5-8,5, parameter Zn dengan kadar 0,1298 Mg/L dan 0,006 Mg/L yang masih berada dibawah kadar maksimum yang diizinkan yaitu 3 Mg/L, parameter F dengan kadar 0,34 Mg/L dan 0,62 Mg/L yang masih berada dibawah kadar maksimum yang diizinkan yaitu 1,5 Mg/L, parameter NO3 dengan kadar 0,419 Mg/L dan 0,009 Mg/L yang masih berada dibawah kadar maksimum yang diizinkan yaitu 50 Mg/L, dan untuk parameter NO2 dengam kadar 0,022 Mg/L dan 0,007 Mg/L yang masih berada dibawah kadar maksimum yang diizinkan yaitu 3 Mg/L. Semua hasil tersebut memenuhi standar baku air bersih berdasarkan Permenkes RI No 907 Tahun 2002.
b. Desa rundeng
Pada Desa Rundeng didapatkan hasil penelitian yaitu untuk parameter Fe dengan kadar 0,0049 dan 0,0292 Mg/L yang masih berada dibawah kadar maksimum yang diizinkan yaitu 0,3 Mg/L, parameter TDS dengan kadar 221 Mg/L dan 136 Mg/L yang masih berada dibawah kadar maksimum yang dizinkan yaitu 500 Mg/L, parameter pH dengan nilai 5,07 dan 6,96 yang masih berada diantara nilai standar baku yaitu 6,5-8,5, parameter Zn dengan kadar 0,1482 Mg/L dan 0,005 Mg/L yang masih berada dibawah kadar maksimum yang diizinkan yaitu 3 Mg/L, parameter F dengan kadar 0,12 Mg/L dan 0,40 Mg/L yang masih berada dibawah kadar maksimum yang diizinkan yaitu 1,5 Mg/L, parameter NO3 dengan kadar 0,065 Mg/L dan 0,015 Mg/L yang masih berada dibawah kadar maksimum yang diizinkan yaitu 50 Mg/L, dan untuk parameter NO2 dengam kadar 0,016 Mg/L dan 0,025 Mg/L yang masih berada dibawah
kadar maksimum yang diizinkan yaitu 3 Mg/L. Semua hasil tersebut memenuhi standar baku air bersih berdasarkan Permenkes RI No 907 Tahun 2002.
c. Desa seuneubok
Pada Desa Seuneubok didapatkan hasil penelitian yaitu untuk parameter Fe dengan kadar 0,0011 dan 0,0033 Mg/L yang masih berada dibawah kadar maksimum yang diizinkan yaitu 0,3 Mg/L, parameter TDS dengan kadar 155,2 Mg/L dan 147,9 Mg/L yang masih berada dibawah kadar maksimum yang dizinkan yaitu 500 Mg/L, parameter pH dengan nilai 5,79 dan 5,50 yang masih berada diantara nilai standar baku yaitu 6,5-8,5, parameter Zn dengan kadar 0,043 Mg/L dan 0,0257 Mg/L yang masih berada dibawah kadar maksimum yang diizinkan yaitu 3 Mg/L, parameter F dengan kadar 0,45 Mg/L dan 0,83 Mg/L yang masih berada dibawah kadar maksimum yang diizinkan yaitu 1,5 Mg/L, parameter NO3 dengan kadar 0,004 Mg/L dan 0,009 Mg/L yang masih berada dibawah kadar maksimum yang diizinkan yaitu 50 Mg/L, dan untuk parameter NO2 dengam kadar 0,026 Mg/L dan 0,035 Mg/L yang masih berada dibawah kadar maksimum yang diizinkan yaitu 3 Mg/L. Semua hasil tersebut memenuhi standar baku air bersih berdasarkan Permenkes RI No 907 Tahun 2002.
22 BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa, dari bebarapa titik ( Desa Cot Lawang, Desa Rundeng, dan Desa Seuneubok) dengan menggunakan model alat penyaringan air gambut dengan media tawas, pasir dan arang tempurung didapatkan hasil yang telah memenuhi standar baku air bersih untuk beberapa parameter ( Fe, TDS, pH, Zn, F, NO3dan NO2 ) sesuai dengan Permenkes RI NO. 907 Tahun 2002.
5.2 Saran
Perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk beberapa parameter kualitas air seperti mikrobiologi dan kimiawi lainnya agar standar kualitas air terpenuhi. Dan juga perlu diambil lebih banyak sampel dan pengulangan uji sehingga hasil penelitian lebih efektif.
23
Anonym, 2012, Buku Panduan Penulisan Skripsi (Tugas Akhir) Jurusan Teknik Sipil, Universitas Syiahkuala, Darussalam Banda Aceh.
Anonym, 2002, Permenkes RI Nomor 907/MENKES/SK/VII/2002, Jakarta. Kusnaedi, 2006, Mengolah Air Gambut dan Air Kotor untuk Air Minum, Penebar Swadaya, Jakarta.
Metcalf dan Eddy, 2002, Wastewater Engineering, Treatment and Reuse, Volume 1. 4th Edition, Revised by George Tchobanoglous, Franklin L. Burton and H. David Stensel, Mc Graw Hill Higher Education.
Pohan et al, 2002, Pengaruh Suhu dan Konsentrasi Natrium Kidroksida pada Pembuatan Karbon Aktif dan Sekam Padi, Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Industri Hasil Pertanian, Departemen Perindustrian dan Perdangangan, Jakarta.
Rump, H.H, 1999, Laboratory Manual fot the Examinaton of Water, Waste Water and Soil, 3rd completely revised edition, English translation by Elisabeth j,
Grayson. Wiley-VHC, Weinheim, Germany.
Sugiharto, 1987, Dasar-Dasar Pengolahan Air Limbah, Penerbit Universitas Indonesia, Jakarta.
Sukandarrumidi, 1999, Bahan Galian Industri, Penerbit UGM Press, Yogyakarta. Sutrisno, 2006, Teknologi Penyediaan Air Bersih, Penerbit Rineka Cipta, Jakarta.
Syarfi, 2007, Rejeksi Zat Organik Air Gambut dengan Membran Ultrafiltrasi, Jurnal Sains dan Teknologi 6. Diakses 15 Maret 2013.
Subakty BM, 1986, Teknologi Terapan Arang dan Pembuatannya, Penerbit Mutiara solo, Surakarta.
Winarno FG, 1997, Kimia Pangan dan Gizi, P.T Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
24
LAMPIRAN A
Gambar A.1 Dokumentasi kegiatan
Foto 1.1 Proses pengambilan sampel air gambut di desa cot lawang
Foto 1.2 Proses pengadukan tawas pada bak air baku
24
LAMPIRAN A
Gambar A.1 Dokumentasi kegiatan
Foto 1.1 Proses pengambilan sampel air gambut di desa cot lawang
Foto 1.2 Proses pengadukan tawas pada bak air baku
24
LAMPIRAN A
Gambar A.1 Dokumentasi kegiatan
Foto 1.1 Proses pengambilan sampel air gambut di desa cot lawang
Foto 1.3 Bahan dan alat yang digunakan
26
Foto 1.5 Arang tempurung yang digunakan
Foto 1.7 Sampel air gambut di laboratorium UPTD Banda Aceh
Foto 1.8 Pengujian kualitas air di UPTD Banda Aceh
Foto 1.7 Sampel air gambut di laboratorium UPTD Banda Aceh
Foto 1.8 Pengujian kualitas air di UPTD Banda Aceh
Foto 1.7 Sampel air gambut di laboratorium UPTD Banda Aceh
28
Foto 1.10 Perangkaian alat penyaringan air gambut Foto 1.9 Pencucian bahan alat penyaringan air gambut
Gambar A.2 Gambar desain alat penyaringan air gambut Keterangan :
Keran hijau = dibuka untuk produksi saringan
125 watt 0.8000 0.15 0.15 0.15 0.15 0.3 0.1 1.0 0.15 0.15 0.15 0.1 250-350 L 0.45 JUDUL GAMBAR NAMA GAMBAR DIGAMBAR OLEH SKALA J. HALAMAN
ALAT PENYARINGAN AIR GAMBUT
TAMPAK SAMPING, TAMPAK ATAS
ANDRISMAN SATRIA 1 : 20 1 halaman 0.85 Pasir 4 inch 3/4 inch 4x4 atau hallow 4 x 2 cm STOP KRAN 3/4 KERAN 3/4 ELBOW 3/4 KETERANGAN JUMLAH 10 3 18 ELBOW T 6 Pipa PVC 3/4" pipa 4 " 840 180 SATUAN Buah Buah Buah Buah cm cm TAMPAK SAMPING TAMPAK ATAS Arang Tempurung 30
Air gambut
Bak air baku
Pasir Arang tempurung aktif Bak penampung Air hasil Kapur 10g/100 L Tawas 10g/ 100 L Fungsi, menyaring bahan organik Bertujuan untuk absorpsi logam dan bau Sedimentasi, koagulasi tujuan pengurangan warna
32
LAMPIRAN C
Lampiran C.1 Pendekatan Perhitungan Desain Data Kebutuhan Air
60 liter/ org/ hari ( ditjen cipta karya, 1982)
Asumsi 1 keluarga 4 orang = 4 x 60 L/org/H = 240 L/hari Oleh karena itu :
Rencana kapasitas produksi alat : 240 L/ hari kebutuhan rumah tangga Data kecepatan saringan :
Kecepatan filtrasi cepat ( 4 – 8 L/menit/ft²)
Asumsi, Diambil kecepatan = 8 L/menit/ft² = 5161,29 L/jam/m² Design debit--- 240 L/hari bekerja dalam waktu 4 jam maka : V = Q . t
240 L = Q . 4 jam Q = 240 L / 4 jam
Q = 60 L/jam Kapasitas debit. 1 L/ menit Pedekatan pemilihan Pipa PVC
Luas Penampang pipa = (60 L/jam)/( 5161,29 L/jam/ m²) =0,0116 m² A = п D²/ 4
0,0116 = 3,14 D² / 4 D² = 0,0247
D = 0,0147 m = 3,73 inch diambil pipa PVC 4 inch Pendekatan Tinggi Pipa Pvc
Waktu kontak yg dinginkan dengan arang 15 menit maka. 15 menit = 0,25 jam
Laju aliran = 5,16 m/jam
Maka tinggi pipa = 5,16 x 0,25 = 1,29 m
Maka diambil panjang pipa 1,2 meter. Dengan mempertimbangkan gesekan maka digunakan 80 cm dan 100 cm.
KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 907/MENKES/SK/VII/2002
TENTANG
SYARAT-SYARAT DAN PENGAWASAN KUALITAS AIR MINUM MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang : a. bahwa dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat, perlu dilaksanakan berbagai upaya kesehatan termasuk pengawasan kualitas air minum yang dikonsumsi oleh masyarakat;
b. bahwa agar air minum yang dikonsumsi masyarakat tidak menimbulkan gangguan kesehatan perlu menetapkan persyaratan kesehatan kualitas air minum;
c. bahwa sehubungan dengan huruf a dan b tersebut diatas, perlu ditetapkan Keputusan Menteri Kesehatan tentang Syarat-syarat dan Pengawasan Kualitas Air Minum;
Mengingat : 1. Undang–Undang Nomor 4 Tahun 1984 tentang Wabah
Penyakit Menular (Lembaran Negara Tahun 1984 Nomor 20, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3273);
2. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 23, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3469);
3. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 100, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3495);
4. Undang Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 42, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3821);
5. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 60, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839);
6. Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 1982 Tentang Tata Pengaturan Air (Lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 37, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3225);
34
7. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3838);
8. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Pemerintah Propinsi sebagai Daerah Otonom (Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 54, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3952);
9. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pembinaan dan Pengawasan atas Penyelenggaraan Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Tahun 2001 Nomor 41, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4190)
10. Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air (Lembaran Negara Tahun 2001 Nomor 153, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4161)
11. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1277/Menkes/SK/XI/2001 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kesehatan.
MEMUTUSKAN :
Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK
INDONESIA TENTANG SYARAT-SYARAT DAN
PENGAWASAN KUALITAS AIR MINUM.
BAB I
KETENTUAN UMUM Pasal 1
Dalam Keputusan ini yang dimaksud dengan :
1. Air Minum adalah air yang melalui proses pengolahan atau tanpa proses pengolahan yang memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung di minum. 2. Sampel Air adalah air yang diambil sebagai contoh yang digunakan untuk
keperluan pemeriksaan laboratorium.
3. Pengelola Penyediaan Air Minum adalah Badan Usaha yang mengelola air minum untuk keperluan masyarakat.