BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
B. Kinerja Pegawai
3. Standar Kinerja
Abdullah (2014) Standar kinerja merupakan tingkat kinerja yang diharapkan dalam suatu organisasi,pembanding atau tujuan target yang tegantung pada target yang diambil. standar kerja yang baik harus realistis, dapat diukur dan mudah dipahami dengan jelas sehingga bermanfaat baik bagi organisasi maupu para pegawai. fungsi standar kinerja sebagaimana yang dijelaskan Abdullah (2014) memiliki fungsi antara lain:
a. Sebagai tolok ukur untuk menentukan keberhasilan dan tidak keberhasilan kinerja ternilai.
b. Memotivasi pegawai agar bekerja lebih keras untuk mencapai standar.
untuk menjadikan standar kinerja benar-benar dapat memotivasi pegawai perlu dikaitkan dengan redward atau imbalan dalam sistem kompetensi.
c. Memberikan arah pelaksanaan pekerjaan yang harus dicapai, baik kuantitas maupun kualitas.
d. Memberikan pedoman kepada pegawai berkenaan dengan proses pelaksanaan pekerjaan guna mencapai standar kinerja yang ditetapkan.
Indikator kinerja menurut Wibowo (2016), indikator kinerja yang hanya dapat dipakai secara lebih kualitatif atas dasar prilaku yang dapat diamati. terdapat tujuh indikator yaitu:
a. Tujuan merupakan tujuan utama yang harus dicapai maupun tujuan juga dimasa yang akan datang, dilakukanya seperti itu agar kinerja mencapai tujuan, untuk mencapai tujuan diperlukan kinerja individu, kelompok, dan organisasi, kinerja individu maupun organisasi berhasil apabila dapat mencapai tujuan yang diinginkan.
b. Standar,merupakan landasan utama tanpa standar, tidak dapat diketahui kapan suatu tujuan tercapai.
c. Umpan balik merupakan suatu laporan kemajuan, baik kualitas maupun kuantitas, dalam mencapai tujuan yang didefinisikan oleh standar. dengan umpan balik dapat dilakukan perbaikan kinerja.
d. Alat atau sarana merupakan sumber daya yang digunakan untuk melakukan suatu kinerja agar dapat hasil yang dituju
e. Kompentensi memungkinkan seseorang melakukan tugas dengan dasaran yang sudah ditentukan.
C. Konsep Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan anak
Mempunyai pusat kegiatan terpadu yaitu P2TP2A pusat pelayanan terpadu pemberdayaan perempuan dan anak yang meyediakan pelayanan bagi masyarakat yang mempunyai tujuan untuk melakukan pelayanan bagi korban tindak kekerasan..
Untuk membantu dalam menyelengarakan pemerintahan negara. dalam melaksanakan tugasnya sebagaimana disebut diatas, dibidang pelaksanaan kebijakan yang dbuat; pengelolaan pusat kegiatan yang menjadi tanggung jawab pemerintah dalam mengawasi atas pelaksanaan tugas dilingkungan kementerian pemberdayaan dan perlindungan anak
1. Pemberdayaan perempuan
Pemberdayaan perempuan menurut Nugroho (2008) memiliki tujuan sebagai berikut:
a. Kompetensi harus menjadi dasar peningkatan program yang dibuat.
b. Mulai meningkatkan progam pembangunan untuk bertujuan meningkatkan kualitas hidup perempuan
c. Meningkatkan kemampuan pihak perempuan dalam usaha mengelola rumah tangga industri serta membuka peluang untuk lebih produktif dan mandiri.
d. Peran aktif perempuandiberbagai level sehingga dapat terlibat secara aktif dalam progam pembangunan.
Faktor yang melatarbelakangi tindak kekerasa terhadap perempuan dalam rumah tangga:
a) Sifat pribadi pelaku atau psikopatologi pelaku merupakan hal yang dapat menimbulkan seperti jiwa terganggu, perasaan tertekan, kurang percaya diri, dimana fungsinya hanyalah untuk berumah tangga dan mempunyai keturunan.
b) Tekanan hidup merupakan faktor yang dapat menjadi penyeban kekerasan dalam rumah tangga seperti: akibat konflik beratnya penederitaan perkawinan, tidak mempunyai pekerjaan, merasa lebih lemah daripada istri, dan pernah melihat perbuatan kekerasan atau pernah dipukul pada masa kecil
c) Masalah keuangan sering menjadi pemicu kekerasan dalam rumah tangga, selain itu terlalu banyak meuntut kepada suami sedangkan suami tidak memenuhinya, dikatakan bahwa istri yang tetap bertahan dengan penganiyaan suami mereka merupakan orang tidak mandiri dalam bidang ekonomi dan keuangan dan istri yang mandiri lebih beruntung daripada yang bergantung terhadap suami.
2. Perlindungan Anak
Salah satu instrument yang digunakan dalm perlindungan anak adalah hukum. setidaknya dengan adanya hukum dapat menekan angka
kekerasan,dengan tujuan yaitu lahirnya generasi muda yang sehat untuk kelangsungan kehidupan berbangsa
Kewajiban pemerintah dalam melindungi warganya dengan meninjau langsung masyarakat yang mengalami penderitaan baik secara ekonomi, fisik maupun psikis. negara mempunyai tanggung jawab untuk memberikan kesehjahteran pada saat masyarakat mengaalami kejadian/peristiwa yang mengakibatkan kesejahteraanya terusik dan menjadi korban kejahatan, maka sudah sewajarnya jika negara bertanggung jawab untuk memulihkan kesejahteraan warga negaranya,
Mengingat negara telah gagal dalam memberikan kesejahteraan masyarakatnya. mengabaikan perlindungan anak adalah kurangnya perhatian dan tanggung jawab dari pemerintah yang dapat merugikan diri sendiri sekarang dan masa yang akan datang. oleh karena itu setiap hak anak harus dijunjung tinggi untuk menciptakan generasi muda yang sehat untuk kelangsungan kehidupan bangsa. pengertian perlindungan anak berdasarkan pasal 1 ayat 2 tentang perlindungan anak yang menjelaskan untuk menjamin tumbuh dan hidup sesusai dengan harkat dan martabat kemanusian, serta mendapatkan perlindungandari kekerasan dan deskriminasi.
Faktor yang melatarbelakangi munculnya tindak kekerasan anak oleh orang tuanya.
a) Pernah menjadi korban penganiayaan,Memiliki kondisi kehidupan yang penuh stress seperti kondisi rumah yang sesak, kemiskinan, dan memiliki
gangguan pada kondisi kejiwaanya seperti depresi atau pskotik atau gangguan keperibadian.
b) Kondisi anak retradasi mental, cacat fisik, anak yang sering menangis atau banyak tuntutan terhadap orang tua sehingga timbul tindak kekerasan terhadap orang tua sehingga timbul tindak kekerasan.
D. Kerangka Pikir
Upaya pemerintah dalam menangani kasus tindak kekerasan yang terjadi sering dilakukan. Akan tetapi, masalah tersebut bukan merupakan hal yang mudah untuk melakukan pencegahan tindak kekerasan, tindakan pencegahan membutuhkan waktu yang sedikit dalam penaganan pencegahan tindak kekerasan, sehingga upaya untuk pencegahan masih banyak kendala dan hambatan lainya.
Salah satunya permasalahan tindak kekerasan perempuan dan anak saat ini sering terjadi karena kurang maksimalnya penaganan dan kasus tindak kekerasan yang terjadi semakin bertambah, oleh karena itu melihat dari penelitian ini mengunakan indikator Peraturan Bupati Luwu Timur Nomor 6 Tahun 2013, indikator yang dipakai untuk aktivitas yang ditetapkan secara kualitatif. Terdapat lima indikator, pengaduan, pendampingan, rujukan kasus, bantuan hukum, dan pemulangan/ perlindungan, upaya penaganan sangat penting untuk pencegahan tindak kekerasan perempuan dan anak dengan memberikan tindakan terhadap pengaduan yang dialami oleh korban menangani pengaduan kasus dengancara sebaik mungkin, memberikan dampingan, menagani rujukan kasus, memberikan bantuan hukum korban tindak kekerasan berdasarkan peraturan yang telah ditetapkan, membantu pemulangan dan memberikan
perlindungan terhadap korban tindak kekerasan dengan cara sebaik-baiknya, sehingga korban mendapatkan kenyamanan dan adanya perubahan dimasa yang akan datang.
Gambar 1.
Bagan Kerangka Pikir
E. Fokus Penelitian
Fokus penelitian yang dimaksudkan yaitu untuk melihat objek yang akan diteliti, sehingga dengan adanya permasalahan utama yang terlihat yang akan diteliti, sehingga dapat mempermudah penulis dalam menganalisis hasil Pengaduan Pendampingan Rujukan
Kasus
Bantuan Hukum
Pemulangan/
Perlindungan Kinerja Dinas sosial
Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten
Luwu Timur
Terciptanya Rasa Aman Untuk Korban Tindak
Kekerasan
permasalahan yang diteliti. Penelitian ini berfokus pada kinerja dinas sosial, pemeberdayaan perempuan dan perlindungan anak Kabupaten Luwu Timur.
Terkait dengan fokus penelitian tersebut, maka penelitian ini akan melihat bagaimana kinerja dinas pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak Kabupaten Luwu Timur dalam menangani tindak kekerasan yang terjadi, sehubungan dengan hal ini, maka penulis dalam melakukan penelitianya menggunakan indikator peraturan Bupati Nomor 6 tahun 2013 yang terdiri dari
pengaduan,pendampingan,rujukan kasus,bantuan hukum, permulangan/perlindung an sehingga peneliti dapat melihat bagaimana kinerja dinas tersebut.
Adanya fokus penelitian ini digunakan untuk membantu dan mempermudah melakukan penelitian, sehingga dalam hal ini saat melakukan penelitian tidak keluar jalur pembahasan dengan fokus yang akan diteliti.
F. Deskripsi Fokus Penelitian
Berdasarkan fokus penelitian tersebut, maka dapat dijelaskan deskripsi fokus penelitian:
1. Pengaduan, yaitu serangkaian tindakan yang dilakukan oleh penyelenggara layanan terpadu untuk menindaklanjuti laporan adanya tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak yang diajukan korban, keluarga atau masyarakat 2. Pendampingan, yaitu salah satu bentuk kinerja yang diberikan untuk
mendampingi mengenai kasus tindak kekerasan yang terjadi dilingkungan masyarakat dengan mengupayakan dampingan secara terus menerus dan
memfasilitasi sehingga mendapatkan pelayanan baik psikologi maupun lainya dalam rangka mengatasi permasalahan untuk menuju kemandirian.
3. Rujukan Kasus yaitu Rujukan kasus yaitu proses pelimpahan wewenang atau pengalihan tanggung jawab timbal balik kepada pihak jaringan kerja yang memiliki kompetensi dan terjangaku rasional, sehingga dalam hal ini kinerja untuk rujukan kasus dapat mengupayakan penaganan rujukan kasus secara tepat dan cepat..
4. Bantuan Hukum yaitu jaminan jasa hukum yang diberikan oleh pendamping hukum atau advokat untuk melakukan proses pendampingan saksi atau korban kekerasan terhadap perempuan dan anak.
5. Pemulangan/ Perlindungan yaitu upaya mengembalikan perempuan dan anak korban kekerasan anak dari daerah penerima kedaerah asal dan perlindungan segala upaya yang ditunjukan untuk memberikan rasa aman kepada korban.
28 BAB III
METODE PENELITIAN
A. Lokasi dan waktu Penelitian
Penelitian ini di lakukan di Dinas sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak di Kabupaten Luwu Timur dengan penelitian dilakukan selama 2 bulan.
B. Jenis dan Tipe Penelitian 1. Jenis Penelitian
Peneliti menggunakan Jenis penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan deskriptif.data yang dikumpulkan berupa hasil wawancara,gambar,dokumen pribadi,catatan dilapangan serta foto, jenis penelitian kualitatif menggambarkan fenomena yang ada dengan cara memaparkan data secara kata-kata,gambar dan berupa angka-angakanya.
Penelitian ini dianggap lebih relevan jika menggunakan tipe penelitian deskriptif yakni menggambarkan berbagai macam hal berkenaan dengan kinerja Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak di Kabupaten Luwu Timur.
C. Informan
Informan yang digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah kepala dinas, pegawai Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Luwu Timur dan masyarakat yang dijadikan sasaran objek yang memberikan informasi yang akurat dan memberikan data yang primer melalui
proses observasi dan wawancara dilapangan. maka informan dalam penelitian ini terdiri dari:
Tabel 1.1 Informan penelitian
NO. INFORMAN JUMLAH
1. Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak Kabupaten Luwu Timur
1 orang 2. Pegawai Kantor Dinas Pemberdayaan Perempuan
Dan Perlindungan Kabupaten Luwu Timur
3 orang
3. Masyarakat 6 orang
Di lihat dari tabel 1.1 diatas dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak di Kabupaten Luwu Timur yang memiliki tugas dan fungsi penyelenggara disemua bidang yang terkait serta bertanggung jawab sepenuhnya terhadap Bupati terkait dengan tugas serta fungsinya.
b. Pegawai yang bekerja dibidang pemeberdayaan perempuan dan perlindungan anak dan dianggap memiliki sumber informasi tentang kinerja yang dilakukan untuk pencegahan dalam menagani tindak kekerasan.
c. Masyarakat atau korban tindak kekerasan yang dimaksud dalam penelitian ini yaitu yang memberikan informasi terkai. sehingga peneliti mudah mendapatkan informasi mengenai tindak kekerasan yang terjadi.
D. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data adalah langkah utama dalam penelitian, karena tujuan peneliti adalah untuk memperoleh data dengan mengunakan metode:
a. Observasi
Observasi yang dilakukan peneliti yaitu melakukan pengumpulan data dengan menggunakan indera, melihat kondisi kantor dinas sosial pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak Kabupaten Luwu Timur tidak hanya dengan pengamatan dengan melihat kondisi akan tetapi melihat kinerja yang dilakukan untuk penaganan tindak kekerasan yang terjadi di Kabupaten Luwu Timur. dalam hal ini peneliti melakukan pengamatan secara langsung.
b. Wawancara
Peneliti menggunakan teknik wawancara dengan cara interview secara langsung dengan kepala dinas, pegawai kantor Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Luwu Timur mengenai kinerja untuk pencegahan tindak kekerasan yang sering terjadi di Kabupaten Luwu Timur dan melakukan wawancara terhadap masyarakat/korban dalam hal yang mengenai tentang kinerja yang diberikan untuk menagani kasus yang terjadi.
c. Dokumentasi
Dokumntasi dilakukan peneliti bertujuan untuk menjadi bukti bahwa peneliti telah melaksanakan penelitian dan mengambil data untuk kebutuhan peneliti seperti, foto dan dokumen yang terkait dengan kinerja Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak di Kabupaten Luwu Timur.
E. Teknik Analisis Data
Adalah penyusunan data yang sesuai dengan tema untuk mendapatkan jawaban dari perumusan masalah, data dikumpulkan harus sesuai dan jelas dan dimungkinkan untuk mempertajam teknik analisis data yang digunakan untuk penelitian ini yaitu model analisis interaktif dalam model ini terdapat komponen
pokok.menurut Miles dan Huberman dalam Sugyono (2012) komponen tersebut adalah:
a. Pengumpulan Data
Adalah langkah utama dalam penelitian karena tujuan utama pengumpulan data untuk mendapatkan data, tanpa adanya teknik pengumpulan data maka penelitian ini tidak akan berjalan dengan baik dan tidak akan mendapatkan data yang menjadi permasalahan yang akan diteliti.
b. Renduksi Data
Adalah kompenen pertama analisis data yang mempertegas, memperpendek,membuat fokus membuang hal yang tidak penting dan mengatur data sedemikian rupa sehingga simpulan peneliti dapat dilakukan.
c. Penyajian Data
Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan informasi yang memungkinkan dan dijadikan kesimpulan secara singkat agar makna peristiwanya dapat menjadi lebih baik dan lebih mudah.
F. Teknik Pengabsahan Data
Menurut Sugiyono (2012) yaitu teknik data secara triangulasi diartikan untuk pengumpulan data yang bersifat mengabungkan dari berbagai teknik, dalam triangulasi pengabsahan data terbagi menjadi tiga yaitu:
1. Triangulasi sumber yaitu sumber informasi yang didapatkan peneliti dari kepala dinas, pegawai dinas pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak Kabupaten Luwu Timur serta masyarakat melalui perbandingan
dengan cara pengecekan data secara ulang untuk mendapatkan informasi yang relevan dan didapatkan perbedaan pendapat dari sumber yang berbeda.
2. Triangulasi teknik yaitu metode yang digunakan untuk menguji data dengan cara mengecek data dari sumber yang diperoleh, melalui teknik wawancara, observasi dan dokumentasi.
3. Triangulasi waktu yaitu suatu yang dapat mempengaruhi kredibilitas data, oleh karena itu data yang diperoleh dapat dikumpulkan dengan teknik melalui wawancara.
33 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Atau Karaktristik Obyek Penelitian
1. Gambaran Umum Dinas Sosil, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Luwu Timur.
Indonesia merupakan Negara keanekaragaman dan heterogenitas yang sangat kompleks, terutama pada suku dan kebudayaanya yang sangat tersebar luas di berbagai wilayah. salah satunya di pulau Sulawesi Selatan khususnya di Kabupaten Luwu Timur.
Kabupaten Luwu Timur secara geografis terletak di sebelah Timur Sulawesi Selatan.Wilayah ini merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Luwu utara yang disahkan dengan Undang- Undang Nomor 7 Tahun 2003 pada tanggal 25 februari 2003. salah satu Kabupaten yang memiliki penduduk dengan keanekaragaman suku dan kebudayaan. terwujudnya pemerintahan yang baik di negara ini, sangat dibutuhkan dengan adanya pelaksanaan kegiatan secara efektif dan efesien, sehingga kebijakan yang telah dibuat bermanfaat untuk kepentingan masyarakat.
Kemajuan kinerja tentunya tidak terlepas dari pencapaian keberhasilan kinerja yang efektif. dalam meningkatkan kinerja kantordinas sosial pemeberdayaan perempuan dan perlindungan anak, diwujudkan dengan dibentuknya bidang pusat pelayanan terpadu pemeberdayaan perempuan dan anak Kabupaten Luwu Timur melalui peraturan Bupati Nomor 6 tahun 2013 tentang pusat pelayanan terpadu pemberdayaan perempuan dan anak yang dapat disingkat
P2TP2A dan sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 bahwa urusan pemberdayaan pemrempuan dan perlindungan anak adalah urusan wajib pemerintah.
Adanya Peraturan Bupati tentang pusat pelayanan terpadu pemberdayaan perempuan dan anak merupakan tugas dinas pemeberdayaan perempuan dan perlindungan anak untuk meningkatkan kinerja pegawai pusat pelayanan terpadu pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak yang biasa disebut P2TP2A dalam mengatasi tindak kekerasan yang terjadi terhadap perempuan dan anak.
Tujuan dari pelaksanaan kinerja untuk mencapai hasil kinerja dinas pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak, pemerintah telah melaksanakan kinerja sesuai peraturan Bupati tentang pusat pelayanan terpadu pemeberdayaan perempuan dan anak, pembentukan peraturan ini sesuai dengan Undang-undang Nomor 35 tahun 2014 tentang perlindungan anak yang didalamnya menyebutkan bahwa setiap anak berhak untuk dapat hidup,tumbuh,berkembang dan berpartisipasi secara wajar sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan tindakan diskriminasi.
Dinas pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak merupakan satuan perangkat daerah yang dibentuk pemerintah kabupaten, untuk membantu menyelenggarakan Bupati dalam urusan pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak melalui pusat pelayanan terpadu pemberdayaan perempuan dan anak.
Peraturan Menteri dalam Negri Nomor 6 Tahun 2015 Tentang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak bahwa negara memiliki
kewajiban memberi perlindungan terhadap pemenuhan untuk setiap hak asasi manusia pada setiap warga negara khusunya perempuan dan anak, selain itu perempuan dan anak perlu dilindungi karena salah satu suatu kelompok masyarakat yang keberadaanya menjadi potensi aset pembangunan. dalam hal ini untuk mengefektifkan pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak di pusat baik daerah diperlukan sistem kinerja yang evektif maupun kompeherensif.
Dalam pelaksanaan kinerja pegawai dinas sosial, pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak pusat maupun daerah berada dibawah pengawasan Menteri sesuai dengan undang-undang yang telah diberlakukan untuk melindungi perempuan dan anak.
2. Kondisi Geografis Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Di Kabupaten Luwu Timur.
Kantor dinas sosial, pemeberdayaan perempuan dan perlindungan anak Kabupaten Luwu Timur terletak di kecamatan malili secara geografis, Kabupaten Luwu Timur memiliki sebelas Kecamatan yaitu, kecamatan kalaena, mangkutana, burau, tomoni timur, tomoni, wotu, angkona, malili, towuti, nuha, wasponda.
Kecamatan malili merupakan kecamatan yang sangat strategis dimana dinas pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak yang terlentak di tengah-tengah kabupaten. Secara topografis wilayah ini merupakan kondisi wilayah yang berada di daerah bukit-bukit. Kantor dinas pemberdayaan perempuan da perlindungan anak berada di jalan Ki Hajar Dewantara. berdasarkan kondisi wilayah tersebut, dapat dikatakan bahwa kantor dinas pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak Kabupaten Luwu Timur dalam melaksanakan tugas dan fungsinya
mempunyai posisi yang cukup strategis dalam memberikan kinerja yang baik terhadap pembangunan daerah.
3. Visi dan Misi Kantor Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Luwu Timur.
Dalam mewujudkan kinerja yang lebih efektif dan efesien, dinas pemeberdayaan perempuan dan perlindungan anak sebagai berikut:
a. Visi
“Luwu Timur Terkemuka” Visi ini merupakan visi pemerintah Kabupaten Luwu Timur untuk mewujudkan pembangunan yang lebih baik untuk daerah Kabupaten Luwu Timur dan diterapkan oleh dinas pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak sehingga diuraikan sebagai berikut:
1) Terwujudnya keadilan bagi perempuan dan anakserta perlindungan hak-hak perempuan dan anak untuk menuju keluarga sejahtera, sehat, mandiri, dan berkualitas
Terwujudnya peningkatan terhadap kesejahteraan pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak.
2) Terwujudnya peran kinerja pegawai yang baik untuk pembangunan daerah dalam memberikan perlindungan terhadap perempuan dan anak.
b. Misi
“ Mewujudkan serta mendorong birokrasi pemerintah dan tata kelola yang baik”. Misi pemerintah Kabupaten Luwu Timur yaitu upaya yang kuat untuk mendorong dinas pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak dalam
melakukan kinerja yang efektif kepada masyarakat yang dengan cara semaksimal mungkin, guna untuk mengatasi tindak kekerasan yang terjadi terhadap perempuan dan anak di bidang pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak untuk kepentingan perubahan dimasa yang akan datang dan anak kekerasan perempuan dan anak dapat menurun. Visi ini memiliki berbagai tujuan sebagai berikut:
1) Meningkatkan kualitas hidup perempuan dan kesejahteraan anak.
2) Meningkatkan peran dalam mejalankan kinerja untuk memberdayakan dan mengerakan masyarakat untuk membangun keluarga sehat, sejahtera, mandiri, dan berkualitas.
3) Meningkatkan kualitas dan kuantitas pendampingan terhadap korban tindak kekerasan sehingga terwujudnya pelayanan yang optimal.
4) Meningkatkan sistem informasi manajemen (SIM) berbasis teknologi informasi (TI) tentang pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak.
5) Memperkuat SDM, sarana dan prasarana pendukung proam dinas pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak.
4. Sarana dan Prasarana Kantor Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Luwu Timur.
a. Sarana.
Sarana yang dimiliki oleh kantor dinas pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak Kabupaten Luwu Timur untuk meningkatkan kinerja pegawai terhadap pengaduan yang dilakukan oleh korban tindak kekerasan sehingga
korban merasakan perlindungan dan kenyamanan dengan tersedianya ruang tunggu, ruang pengaduan, ruang rehabilitas, mobil pelayanan untuk menjemput setiap korban tindak kekerasan dan pegaduan secara online.
b. Prasarana
Dalam rangka untuk meningkatkan kinerja pegawai, berbagai aspek disediakan untuk penyediaan prasarana untuk memenuhi standar dalam memberikan pelayanan tindak kekerasan.ruangan yang telah disediakan cukup mewadai dan rapi, memberikan kenyamanan terhadap pengaduan yang dilakukan korban, ruang tunggu yang bersih, musollah, wc wanita dan pria, parkiran yang rapi dan halaman dinas yang bersih.
5. Tugas dan Fungsi Kantor Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Pelindungan Anak Kabupaten Luwu Timur
Tugas pokok dinas Sosial, pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak Kabupaten Luwu Timur yaitu untuk mnyelenggarakan yang menjadi urusan pemerintah dalam bidang pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak, khususnya kinerja pusat pelayanan terpadu korban tindak kekerasan dalm bentuk pengaduan, pendampingan, rujukan kasus, bantuan hukum, pemulangan/
perlindungan. untuk melaksanakan tugas pokok dinas pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak memliki fungsi sebagai berikut:
a. Penaganan pengaduan dan pendampingan terhadap perempuan dan anak korban tindak kekerasan.
b. Penyelenggaraan rujukan kasus dalam bentuk pelayanan kesehatan dan konseling bagi korban tindak kekerasan perempuan dan anak.
c. Memberikan dampingan bantuan hukum dalam bentuk sosial bagi
c. Memberikan dampingan bantuan hukum dalam bentuk sosial bagi