Pencapaian indikator kinerja Standar Pelayanan Minimal (SPM) kesehatan di Pidie Jaya belum sepenuhnya sesuai target. Terdapat beberapa urusan wajib SPM, yaitu; penyelenggaraan pelayanan kesehatan dasar yang terdiri dari 13 indikator kinerja, penyelenggaraan pelayanan kesehatan rujukan dengan dua indikator, penyelenggaraan penyelidikan epidemiologi dan penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB) dengan satu indikator dan penyelenggaraan promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat dengan satu indikator, Tabel 3.
Tabel 3. Pencapaian dan Target SPM Bidang Kesehatan Kabupaten Pidie Jaya
Indikator Kerja Target 2012 Pencapaian 2012 Keterangan
Penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan Dasar
Kunjungan Ibu hamil K4 persen90 92 persen Tercapai
Cakupan Komplikasi Kebidanan yang Ditangani persen60 54 persen TercapaiBelum
Cakupan Pertolongan Persalinan Oleh Tenaga Kesehatan yang
Memiliki Kompetensi Kebidanan persen100 100 persen Tercapai
Cakupan Pelayanan Nifas persen100 100 persen Tercapai
Cakupan Neonatus dengan Komplikasi yang Ditangani persen100 8 persen TercapaiBelum
Cakupan Kunjungan Bayi persen100 148 persen Tercapai
Cakupan Desa/Kelurahan Universal Child Immunization (UCI) persen35 51 persen Tercapai
Cakupan Pelayanan Anak Balita persen65 77 persen Tercapai
Cakupan Pemberian MP-ASI Pada Anak Usia 6-24 Bulan Keluarga
Miskin persen50 1 persen TercapaiBelum
Cakupan Balita Gizi Buruk Mendapat Perawatan persen100 100 persen Tercapai
Cakupan Penjaringan Kesehatan Siswa SD dan Setingkat persen50 77 persen Tercapai
Health Public Expenditure | Kabupaten Pidie Jaya 2014
51
Cakupan Penemuan dan Penanganan Penderita Acute Flacid
Paralysis (AFP) Rate per 100.000 Penduduk < 15 tahun persen100
Cakupan Penemuan dan Penanganan Penderita Penyakit
Pneumonia Balita persen50 4 persen TercapaiBelum
Cakupan Penemuan dan Penanganan Penderita Baru TB BTA+ persen85 100 persen Tercapai
Cakupan Penemuan dan Penanganan Penderita DBD yang Ditangani persen55
Cakupan Penemuan dan Penanganan Penderita Diare persen85 63 persen TercapaiBelum
Cakupan Pelayanan Kesehatan Dasar Pasien Masyarakat Miskin persen100 TercapaiAsumsi
Penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan Rujukan
Cakupan Pelayanan Kesehatan Rujukan Pasien Masyarakat Miskin persen100 TercapaiAsumsi Cakupan Pelayanan Gawat Darurat Level 1 yang harus diberikan
sarana kesehatan (RS) di Kabupaten/Kota persen100 TercapaiAsumsi
Penyelenggaraan Penyelidikan Epidemiologi dan Penanggulangan KLB
Cakupan Desa/Kelurahan Mengalami KLB yang dilakukan
Penyelidikan Epidemilogi <24 Jam persen100 100 persen Tercapai
Penyelenggaraan Promosi Kesehatan Dan Pemberdayaan Masyarakat
Cakupan Desa Siaga Aktif persen36 7 persen TercapaiBelum
Sumber: Perbup Pidie Jaya Nomor 23 Tahun 2012, Dinkes Aceh, Dinkes Pidie Jaya, PECAPP
Anggaran belanja untuk pencapaian Standar Pelayanan Minimal (SPM) di Pidie Jaya masih belum mencapai target. Pada tahun 2012, diterbitkan Peraturan Bupati Pidie Jaya Nomor 23 Tahun 2012 tentang Target Kinerja Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan Kabupaten Pidie Jaya. Pada peraturan tersebut dinyatakan bahwa pada tahun 2013 guna mencapai target SPM maka dibutuhkan dana Rp 54 miliar untuk beberapa kegiatan. Namun, besaran anggaran yang diharapkan tersebut tidak terjadi, dengan total belanja untuk seluruh program yang dimaksud hanya berjumlah Rp 9,1 miliar atau 17 persen dari target. Hal ini disebabkan teralokasinya anggaran tersebut pada dinas lainnya.
Seluruh persalinan di Pidie Jaya dilakukan pada tenaga kesehatan. Salah satu upaya untuk menurunkan AKI adalah dengan meningkatkan jumlah persalinan pada tenaga kesehatan terlatih. Dari 2.600 persalinan yang terjadi pada tahun 2012 semuanya dilaksanakan pada tenaga kesehatan. Namun, jumlah pencapaian terhadap ibu yang memeriksakan kehamilannya minimal empat kali masih variatif dengan persentase terendah di Puskesmas Bandar Baru (82 persen) dan tertinggi di Puskesmas Meurah Dua yang mencapai 100 persen, Grafik 37.
Public Expenditure Analysis Capacity and Strengthening Program
52
Grafik 37. Persentase Kunjungan Ibu Hamil Minimal Empat
Meskipun persalinan pada tenaga kesehatan cukup tinggi dan kontrol kehamilan cukup baik, namun AKI masih tinggi. Penurunan kematian ibu diupayakan tidak semata dengan pemeriksaan persalinan dan persalinan pada tenaga kesehatan. Kedua upaya tersebut dinilai strategis dalam menurunkan AKI. Di luar komponen itu, berbagai hal lainnya perlu diperhatikan, diantaranya adalah cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani. Upaya tersebut pada tahun 2012 hanya sebesar 54 persen di Pidie Jaya. Analisis lebih dalam terhadap upaya untuk menemukan penyebab dari masih adanya AKI perlu dilaksanakan. Pencapaian K4 serta persalinan pada tenaga kesehatan yang sudah baik perlu dipertahankan dan ditingkatkan.
Upaya pelayanan kesehatan anak menunjukkan perbaikan. Beberapa upaya pelayanan kesehatan anak seperti Kunjungan Neonatus Pertama (KN1), Kunjungan Neonatus Lengkap (KN3) dan kunjungan bayi lengkap menunjukkan perbaikan di Pidie Jaya.31 Meskipun pencapaian kunjungan bayi lengkap pada tahun 2012 di seluruh Puskesmas telah mencapai 100 persen atau lebih, dengan total pencapaian 150 persen, namun masih terdapat satu Puskesmas (Trienggadeng) yang pencapaiannya masih 80 persen. Indikator KN1 dan KN3 mencapai 100 persen pada semua Puskesmas, Grafik 38. Kondisi ini menunjukkan adanya upaya yang cukup kuat untuk menurunkan angka kematian bayi di Pidie Jaya.
31 KN1: Pelayanan kesehatan neonatal dasar, kunjungan ke-1 pada 6-24 jam setelah lahir; KN3: Pelayanan kesehatan neonatal dasar meliputi ASI ekslusif,
pencegahan infeksi berupa perawatan mata, tali pusat, pemberian vitamin K1 injeksi bila tidak diberikan pada saat lahir, pemberian imunisasi hepatitis B1 bila tidak diberikan pada saat lahir, dan manajemen terpadu bayi muda. Dilakukan sesuai standar sedikitnya 3 kali, pada 6-24 jam setelah lahir, pada 3-7 hari dan pada -28 hari setelah lahir yang dilakukan di fasilitas kesehatan maupun kunjungan rumah. Kunjungan Bayi Lengkap: Cakupan kunjungan bayi umur 29 hari–11 bulan di sarana pelayanan kesehatan (polindes, pustu, puskesmas, rumah bersalin dan rumah sakit) maupun di rumah, posyandu, tempat penitipan anak, panti asuhan dan sebagainya melalui kunjungan petugas. Setiap bayi memperoleh pelayanan kesehatan minimal 4 kali yaitu satu kali pada umur 29 hari-3 bulan, 1 kali pada umur 3-6 bulan, 1 kali pada umur 6-9 bulan, dan 1 kali pada umur 9-11 bulan. Pelayanan Kesehatan tersebut meliputi pemberian imunisasi dasar (BCG, DPT/ HB1-3, Polio 1-4, Campak), stimulasi deteksi intervensi dini tumbuh kembang (SDIDTK) bayi dan penyuluhan perawatan kesehatan bayi. Penyuluhan perawatan kesehatan bayi meliputi; konseling ASI eksklusif, pemberian makanan pendamping ASI sejak usia 6 bulan, perawatan dan tanda bahaya bayi sakit (sesuai MTBS), pemantauan pertumbuhan dan pemberian vitamin A kapsul biru pada usia 6–11 bulan.
Health Public Expenditure | Kabupaten Pidie Jaya 2014
53
Grafik 38. Pencapaian Beberapa Indikator Pelayanan Anak
Meskipun pencapaian target guna menurunkan angka kematian bayi cukup tinggi, namun AKB meningkat. Jumlah kematian bayi yang tercatat di Puskesmas adalah sebanyak dua kasus, sementara total kejadian diketahui 24 kasus.32,33 Kematian bayi yang tidak tercatat tersebut diasumsikan terjadi di sarana kesehatan lain non-Puskesmas yakni rumah sakit. Beberapa keadaan dapat melatarbelakanginya, misalnya masih rendahnya pencapaian angka neonatus dengan komplikasi yang ditangani.
Secara umum, kejadian angka kesakitan di Pidie Jaya menunjukkan perbaikan. Keberhasilan pemerintah dalam menurunkan angka kesakitan, seperti malaria, penting dipertahankan di masa mendatang selain berbagai upaya penurunan angka kejadian penyakit menular lainnya. Tantangan terhadap berbagai penyakit seperti TB Paru, kusta dan lainnya terus meningkat sepanjang waktu sehingga perhatian terhadapnya perlu ditingkatkan.
Indeks upaya kesehatan di Kabupaten Pidie Jaya lebih baik dari Aceh. Nilai indeks yang diperoleh Pidie Jaya untuk upaya kesehatan adalah sebesar 3,5 atau lebih baik dari rata-rata kabupaten/kota di Aceh dengan nilai 3,41. Namun, upaya-upaya yang berkaitan dengan penurunan AKB/AKABA, perbaikan gizi serta upaya Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Menular (P2M) di Pidie Jaya masih rendah. Hal tersebut menjadi alasan terjadinya peningkatan AKB dan tingginya Balita dengan BGM serta tingginya beberapa kasus penyakit menular di Pidie Jaya, Grafik 39.
32 Profil Kesehatan Pidie Jaya, Dinkes Pidie Jaya, 2012 33 Profil Kesehatan Aceh 2012, Dinkes Aceh, 2012
Public Expenditure Analysis Capacity and Strengthening Program
54
Grafik 39. Indeks Upaya Kesehatan34
34 Lihat Lampiran 10.
Public Expenditure Analysis Capacity and Strengthening Program
56
BELANJA KESEHATAN PUSKESMAS