• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Belanja Publik SEKTOR KESEHATAN. Kabupaten Pidie Jaya 2014 CPDA. Consolidating for Peacefull Development in Aceh

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Analisis Belanja Publik SEKTOR KESEHATAN. Kabupaten Pidie Jaya 2014 CPDA. Consolidating for Peacefull Development in Aceh"

Copied!
91
0
0

Teks penuh

(1)

Analisis Belanja Publik

SEKTOR KESEHATAN

CPDA Consolidating for Peacefull Development in Aceh

Kabupaten Pidie Jaya

2014

(2)
(3)

Analisis Belanja Publik

SEKTOR KESEHATAN

CPDA Consolidating for Peacefull Development in Aceh

Kabupaten Pidie Jaya

2014

(4)
(5)

Health Public Expenditure | Kabupaten Pidie Jaya 2014

1

RINGKASAN EKSEKUTIF

BELANJA KESEHATAN

Belanja pemerintah terus meningkat searah dengan meningkatnya penerimaan. Pada tahun 2013, pengeluaran Kabupaten Pidie Jaya tercatat sebesar Rp 472 miliar, meningkat lebih dari dua kali dari tahun 2008. Meskipun secara nominal belanja ini meningkat, secara riil belanja Pemerintah Pidie Jaya lebih kecil daripada belanja pada tahun 2011, terhitung sebesar Rp 433 miliar. Belanja pendidikan dan belanja pelayanan umum (administrasi pemerintahan) merupakan belanja terbesar Pidie Jaya, yang secara keseluruhan memiliki porsi sebesar 63 persen pada tahun 2013.

Belanja kesehatan di Pidie Jaya mengalami peningkatan yang cukup besar. Anggaran belanja kesehatan di Kabupaten Pidie Jaya pada tahun 2008 berjumlah Rp 10 miliar atau 6 persen dari belanja total. Angka tersebut terus mengalami peningkatan baik dari sisi jumlah maupun porsi terhadap total belanja. Pada tahun 2013 terhitung anggaran belanja secara keseluruhan sebesar Rp 55 miliar atau mencapai 11 persen dari total belanja. Porsi belanja tersebut jika dibandingkan dengan rata-rata kabupaten/kota lainnya di Aceh lebih rendah, dimana rata-rata Aceh mencapai 12 persen.

Jumlah belanja kesehatan perkapita di Pidie Jaya sedikit di bawah rata-rata belanja kabupaten/kota di Aceh. Jumlah anggaran belanja perkapita di Pidie Jaya pada tahun 2013 terhitung sebesar Rp 382 ribu, masih di bawah rata-rata Aceh yang berjumlah Rp 398 ribu. Belanja perkapita tertinggi terdapat di Kota Sabang dan Kota Langsa. Tingginya belanja perkapita di kota tersebut disebabkan jumlah penduduk yang relatif lebih rendah dibandingkan daerah lainnya.

Secara total sebesar Rp 152 miliar sejak tahun 2009 hingga 2012 dibelanjakan untuk sektor kesehatan. Hampir 70 persen belanja kesehatan digunakan untuk belanja tidak langsung. Jumlah total belanja tidak langsung dari tahun 2009 hingga 2012 mencapai Rp 101 Miliar atau 66 persen dari total belanja. Meskipun karakteristik pelayanan kesehatan diantaranya adalah padat karya, sehingga banyak tenaga kesehatan yang perlu disediakan, namun belanja yang cukup tinggi untuk gaji dan tunjangan pegawai akan memberikan celah yang kecil untuk program kesehatan lainnya. Meskipun pada tahun 2013 anggaran belanja tidak langsung lebih kecil dari rata-rata belanja tidak langsung selama empat tahun, namun jumlahnya masih cukup besar, yakni mencapai 62 persen dari total belanja.

Belanja supportif merupakan belanja terbesar dari sektor kesehatan. Hampir sama dengan kabupaten lain di Indonesia dimana alokasi belanja supportif cukup besar, hampir 80 persen atau sebesar Rp 43 miliar pada tahun 2013 dari belanja kesehatan dialokasikan untuk supportif. Alokasi belanja preventif terhitung cukup rendah, hanya sebesar satu persen. Rendahnya belanja preventif dan tingginya belanja suportif merupakan salah satu tantangan bagi pemerintah kabupaten/kota di Indonesia

Belanja langsung pada Dinas Kesehatan rata-rata berjumlah Rp 11 miliar per tahun. Belanja yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Kabupaten (APBK) Pidie Jaya yang digunakan untuk belanja program selama lima tahun berjumlah total Rp 56 miliar atau sekitar Rp 11 miliar per tahun. Belanja tersebut menunjukkan kecenderungan menurun selama tiga tahun terakhir. Penurunan belanja yang terjadi mengakibatkan celah yang sempit dalam melaksanakan berbagai program kesehatan.

(6)

Public Expenditure Analysis Capacity and Strengthening Program

2

Porsi belanja preventif cenderung mengalami perbaikan. Dari Rp 56 miliar total dana yang dikelola oleh Dinas Kesehatan diluar belanja tidak langsung tahun 2009 hingga tahun 2013, terhitung hanya tiga persen saja dana yang diarahkan untuk upaya preventif atau pencegahan. Namun kondisi tersebut terus mengalami perbaikan, dimana pada tahun 2009 belanja pencegahan yang hanya berjumlah Rp 215 juta atau 1,7 persen dari total belanja, meningkat menjadi Rp 599 juta atau 5,3 persen (2012) dan Rp 608 juta atau 5,6 persen pada tahun 2013. Belanja tersebut diarahkan untuk berbagai upaya pencegahan seperti peningkatan pelayanan gizi, ibu dan anak serta upaya pencegahan dan penanggulangan penyakit menular. INDIKATOR KESEHATAN

Rasio Puskesmas terhadap penduduk di Pidie Jaya lebih baik dari target nasional. Pada tahun 2012 rasio Puskesmas terhadap penduduk di Pidie Jaya adalah satu berbanding 14 ribu, atau satu Puskesmas rata-rata melayani 14 ribu penduduk. Kondisi tersebut lebih baik dari target nasional yang mempunyai target satu Puskesmas melayani 30 ribu penduduk. Pada tahun 2013, Puskesmas Bandar Baru mengalami pemekaran, dimana Pustu Cubo menjadi Puskesmas sehingga membuat rasio di Puskesmas tersebut menjadi lebih baik dan melayani penduduk di bawah 30 ribu orang.

Jarak rata-rata penduduk ke Puskesmas dan Puskesmas Pembantu (Pustu) di Pidie Jaya cukup terjangkau. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kemudahan akses masyarakat ke sarana kesehatan cenderung baik. Jarak terjauh akumulatif masyarakat ke Puskesmas dan Pustu adalah 3 kilometer terjadi di Kecamatan Meureudu, sementara jarak terdekat di Kecamatan Jangka Buya. Daerah dengan jarak yang relatif jauh untuk Puskesmas juga telah direspon dengan letak Pustu yang lebih dekat.

Rata-rata dokter umum di Aceh melayani tiga ribu penduduk. Jumlah dokter di Aceh pada tahun 2012 lebih dari 1.500 orang. Tenaga tersebut tersebar ke seluruh kabupaten/kota maupun di level pemerintah provinsi. Rasio dokter umum terhadap penduduk adalah sebesar 33 per 100 ribu penduduk atau setiap dokter melayani tiga ribu penduduk. Namun bila jumlah yang dihitung hanya dokter yang bertugas di kabupaten/kota saja, maka rasio ketersediaan dokter di Aceh adalah 23 per 100 ribu penduduk. Jumlah tersebut hampir mencapai target Indonesia sehat 2010 yang menargetkan satu dokter berbanding 2.500 penduduk atau sekitar 40 dokter per 100 ribu penduduk.

Ketenagaan dokter spesialis di Pidie Jaya sangat minim. Tantangan ketersediaan dokter spesialis adalah jumlah dan kualifikasinya. Dokter spesialis bertugas di RSUD Pidie Jaya menurut data terakhir hanya empat orang. Ketersediaan dokter spesialis tersebut masih jauh dari kebutuhan ketenagaan sesuai dengan aturannya. Ketersediaan spesialis tetap di RSUD Pidie Jaya hanya tersedia satu dokter spesialis yakni dokter spesialis mata. memenuhi pelayanan spesialistik kepada masyarakat, dilaksanakan kerja sama dengan Rumah Sakit Umum Kabupaten Pidie untuk mendatangkan dokter spesialis.

Jika dibandingkan dengan kondisi kabupaten/kota lainnya di Aceh, secara umum jumlah seluruh tenaga kesehatan terhadap penduduk di Pidie Jaya sudah baik. Dengan menggunakan indikator beberapa ketenagaan, seperti dokter umum, dokter gigi, bidan, perawat, ahli gizi, ahli kesehatan masyarakat dan ahli sanitasi, maka dibutuhkan sebanyak 518 tenaga per 100 ribu penduduk. Jumlah tenaga kesehatan di Pidie Jaya pada tahun 2012 mempunyai rasio 571 per 100 ribu penduduk, lebih tinggi dari rata-rata kabupaten/kota lainnya di Aceh yang berjumlah 548 per 100 ribu penduduk.

(7)

Health Public Expenditure | Kabupaten Pidie Jaya 2014

3

Indeks angka kematian di Pidie Jaya lebih baik dibandingkan daerah lain di Aceh. Dengan menggunakan standar angka kematian (ibu, bayi dan Balita) di Aceh, diketahui bahwa Kabupaten Simeulue adalah daerah dengan nilai indeks terendah. Terdapat tujuh daerah dengan pencapaian seluruh angka kematian yang lebih baik dari rata-rata Aceh sehingga memperoleh nilai maksimum.

Angka Kematian Ibu (AKI) di Pidie Jaya pada tahun 2012 menjadi salah satu yang terbaik di Aceh. Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu indikator keberhasilan pembangunan kesehatan. Pada tahun 2012, AKI di Aceh mencapai 191 per 100 ribu Kelahiran Hidup (KH) atau hampir dua kematian ibu terjadi akibat proses kehamilan, persalinan dan masa nifas setiap seribu kelahiran hidup. AKI di Aceh cukup bervariasi, dimana terdapat daerah yang AKI-nya sangat rendah dan daerah dengan AKI yang sangat tinggi. Pidie Jaya menempati urutan ke empat terbaik di Aceh untuk AKI tahun 2012.

Angka Kematian Bayi (AKB) di Pidie Jaya menurun. Pada tahun 2011 di Kabupaten Pidie Jaya terjadi 21 kematian bayi dari 3.044 jumlah Lahir Hidup (LH), atau dari seribu bayi yang lahir hidup terdapat 6 sampai 7 bayi yang meninggal dalam setahun. Penurunan AKB dari tahun 2009 hingga 2011 menunjukkan perbaikan yang signifikan. Namun, AKB kembali meningkat pada tahun 2012 menjadi 9 per seribu LH. Meskipun angka ini lebih rendah dari target yang ditetapkan secara nasional yaitu 32 per seribu LH maupun pencapaian AKB Aceh tahun 2012 yang berjumlah 10,8 per seribu LH. Peningkatan AKB tahun 2012 menunjukkan perlunya penguatan upaya penurunan AKB untuk mencapai angka yang lebih baik di masa mendatang.

Indeks penyakit menular di Pidie Jaya merupakan salah satu yang terendah di Aceh. Angka kesakitan di Pidie Jaya cenderung lebih tinggi dari daerah lainnya di Aceh sebagai akibat penyakit-penyakit tertentu yang digunakan sebagai indikator memperoleh nilai yang relatif rendah. Penyakit dengan indeks terendah adalah angka kesakitan campak dimana Pidie Jaya merupakan daerah dengan jumlah penderita campak terhadap penduduk tertinggi di Aceh. Tantangan tersebut harus diperhatikan di masa mendatang. Sementara itu, penyakit Tuberkulosis Paru (TB Paru) dan kusta juga berkontribusi cukup besar terhadap nilai indeks Pidie Jaya.

Jumlah Balita dengan kondisi gizi di Bawah Garis Merah (BGM) merupakan masalah di Pidie Jaya.Pada tahun 2012 jumlah dan persentase Balita BGM mengalami peningkatan dari tahun 2011 yang berjumlah hanya tiga persen. Kondisi tersebut juga menempatkan Pidie Jaya sebagai daerah dengan angka Balita BGM tertinggi kedua di Aceh. Kasus Balita BGM bukanlah berarti seorang Balita telah menderita gizi buruk, namun ukuran BGM dapat memberikan sinyal bahaya terhadap potensi Balita dengan gizi buruk yang semakin besar.

Pencapaian indikator gizi merupakan tantangan di Pidie Jaya. Kabupaten Aceh Tengah bersama dengan tiga daerah lainnya merupakan kabupaten dengan pencapaian indikator gizi yang lebih baik dari rata-rata Aceh. Dibandingkan dengan daerah lainnya di Aceh, pencapaian indeks indikator gizi di Pidie Jaya menempati urutan kedua terendah di Aceh. Tantangan tersebut adalah pada komponen Balita BGM yang cukup tinggi.

(8)

Public Expenditure Analysis Capacity and Strengthening Program

4

BELANJA PUSKESMAS

Sumber belanja terbesar adalah Jaminan Kesehatan Aceh (JKA). Belanja bersumber dana JKA mencapai Rp 1,8 miliar atau 60 persen dari total belanja pada tahun 2012. Total jumlah belanja di Puskesmas pada tahun 2012 berjumlah Rp 2,9 miliar. Belanja JKA, meskipun menurun sebesar Rp 462 juta dari tahun 2011, tetapi masih merupakan sumber belanja terbesar. Penurunan jumlah tersebut belum diketahui penyebab pasti, namun kemungkinan pengaruhnya adalah; jumlah penduduk dan besaran kapitasi yang menurun. Selain JKA, belanja bersumber Jamkesmas/Jampersal merupakan sumber belanja yang dominan. Jumlah total kedua jenis belanja tersebut tahun 2012 adalah Rp 678 juta atau 23 persen dari total belanja.

Belanja Puskesmas perkapita sebesar Rp 33 ribu. Total belanja perkapita tertinggi pada tahun 2012 adalah sebesar Rp 40 ribu dan terendah sebesar Rp 31 ribu dengan nilai rata-rata Rp 33 ribu. Belanja tersebut merupakan hasil penjumlahan seluruh belanja yang dikelola oleh Puskesmas dibagi dengan jumlah penduduk, sehingga meskipun besaran belanja cukup besar, namun dapat saja belanja perkapitanya lebih rendah dari Puskesmas lainnya karena jumlah penduduk yang besar. Kondisi tersebut tampaknya terjadi pada Puskesmas Ulim dan Bandar Baru.

Pengobatan adalah jenis program dengan belanja terbesar. Belanja upaya kuratif atau pengobatan menyerap sebesar 60 persen belanja (Rp 1,8 miliar untuk lima Puskesmas pengamatan). Belanja untuk pencegahan dimanfaatkan sebesar 35 persen atau sebesar Rp 1 miliar, sementara belanja supportif untuk kegiatan manajemen dan administrasi hanya menggunakan 5 persen belanja. Kondisi tersebut dapat disebabkan kebijakan dari pemanfaatan dana JKA yang setidaknya 20 persen diperuntukkan bagi upaya pencegahan. Upaya ini memberikan kesempatan yang lebih baik bagi Puskesmas dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat guna mencapai berbagai indikator kesehatan lebih baik.

Belanja untuk pencegahan dialokasikan sekitar sepertiga belanja Puskesmas. Pada tahun 2012, belanja untuk pencegahan dengan porsi terbesar diperoleh di Puskesmas Meurah Dua, mencapai 38 persen dari belanja Puskesmas. Secara umum seluruh Puskesmas memberikan porsi yang baik untuk belanja pencegahan, antara 33 hingga 38 persen.

REKOMENDASI

Besaran belanja kesehatan di Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya perlu ditingkatkan untuk memberikan porsi yang lebih besar pada upaya pencegahan. Upaya pencegahan perlu didorong guna menghasilkan belanja kesehatan yang efektif. Peran serta pemerintah lintas sektor dan pemberdayaan masyarakat perlu dikedepankan untuk memperoleh pencapaian indikator yang lebih baik.

Analisis kondisi daerah dan kesehatan perlu dipertajam terutama dalam upaya alokasi dana yang lebih baik di masa mendatang. Pembangunan sarana kesehatan harus memperhatikan akses masyarakat serta kualitas pelayanan yang lebih baik. Kebersihan lingkungan dan memasyarakatkan perilaku hidup sehat dalam mengendalikan dan menurunkan jumlah infeksi baru perlu didorong. Puskesmas harus memberikan dorongan untuk menciptakan kesadaran masyarakat hidup secara bersih dan sehat, sebagai upaya intervensi pencegahan dan pengendalian berbagai penyakit.

(9)

Health Public Expenditure | Kabupaten Pidie Jaya 2014

5

Pemerintah kabupaten perlu mengarahkan penguatan promosi kesehatan, monitoring dan evaluasi serta pembinaan ke Puskesmas. Pola alokasi belanja di Puskesmas perlu diperhatikan terutama dalam alokasi belanja guna menjawab tantangan kesehatan yang ada. Penguatan upaya kesehatan perlu ditingkatkan serta memberikan perhatian terhadap pencegahan serta pemberdayaan masyarakat juga kerjasama lintas sektor.

(10)

Public Expenditure Analysis Capacity and Strengthening Program

6

(11)

Health Public Expenditure | Kabupaten Pidie Jaya 2014

7

PRAKATA REKTOR UNIVERSITAS SYIAH KUALA

Pidie Jaya merupakan salah satu kabupaten di Aceh yang relatif masih muda. Pada tahun 2013 Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya mengalokasikan belanjanya sebesar 11 persen untuk sektor kesehatan. Berbagai program dan kegiatan pembangunan kesehatan dibiayai dari sumber Anggaran Pendapatan dan Belanja Kabupaten (APBK) selain didukung sumber-sumber pendanaan lainnya untuk sektor kesehatan.

Kajian “Belanja Publik Sektor Kesehatan Pidie Jaya” yang disusun oleh Tim Teknis Public Expenditure

Analysis and Capacity Strengthening Program (PECAPP)-Universitas Syiah Kuala yang mendapatkan

arahan dari Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya merupakan langkah penting untuk mendapatkan gambaran awal bagaimana pengelolaan dana kesehatan selama ini. Kajian ini juga bermanfaat guna mengidentifikasi berbagai capaian dan tantangan dalam pembangunan yang sedang dihadapi Pidie Jaya, terutama di sektor kesehatan. Di samping itu, kajian ini juga berusaha mengidentifikasi lebih rinci kebutuhan-kebutuhan prioritas dari sektor tersebut yang dapat direspon oleh Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya.

Berbagai capaian pembangunan untuk sektor kesehatan di Kabupaten Pidie Jaya telah menunjukkan perkembangan yang positif. Namun, diperlukan juga upaya dan langkah perbaikan yang serius dalam pengelolaan dana untuk menghasilkan kinerja pembangunan yang lebih baik. Hasil kajian yang dilakukan PECAPP menunjukkan untuk mencapai efektifitas pengelolaan dana kesehatan, harus dimulai dengan perencanaan yang lebih baik. Alokasi pendanaan yang seimbang antara upaya pencegahan, pengobatan dan manajemen merupakan isu yang cukup mengemuka ketika analisis ini disusun, dimana belanja untuk komponen pengobatan jauh lebih tinggi daripada upaya pencegahan. Arah belanja pada program dan kegiatan pembangunan kesehatan memerlukan prioritas yang lebih kuat berbasis analisis, sehingga dapat memberikan dampak jangka panjang dan berkelanjutan.

Pada akhirnya, kami berharap kajian ini benar-benar memberikan kontribusi terhadap perbaikan pengelolaan belanja kesehatan di Pidie Jaya, sehingga belanja pembangunan kesehatan yang terbatas ini dapat mendatangkan manfaat yang optimal, khususnya bagi masyarakat di Kabupaten Pidie Jaya. Banda Aceh, Januari 2014

Prof. Dr. Ir. Samsul Rizal, M.Eng. Rektor Universitas Syiah Kuala

(12)

Public Expenditure Analysis Capacity and Strengthening Program

8

KATA PENGANTAR KEPALA DINAS KESEHATAN KABUPATEN PIDIE JAYA

Sebagai kabupaten yang baru terbentuk di Provinsi Aceh, Pidie Jaya tentu masih membutuhkan berbagai upaya dalam melaksanakan pembangunan. Tantangan di sektor kesehatan yang terus mengalami perubahan juga menuntut Kabupaten Pidie Jaya menyesuaikan dirinya. Analisis Belanja Publik Sektor Kesehatan yang telah dilaksanakan bersama PECAPP (Public Expenditure Analysis Capacity and

Sthrengtening Program) diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai kondisi

kesehatan dan penggunaan dana di bidang kesehatan bersumber pemerintah di Kabupaten Pidie Jaya. Analisis ini terlaksana berkat kerjasama yang baik antara Pemerintah Aceh, Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya, dan PECAPP. Laporan analisis ini disusun dalam Health Public Expenditure Review (Health PER). Health PER merupakan analisis terhadap belanja publik sektor kesehatan yang dilakukan oleh PECAPP, dengan data fiskal dan nonfiskal yang diperoleh dari sumber-sumber resmi pemerintah. Health PER berisi informasi mengenai belanja kesehatan, indikator kesehatan, sarana dan prasarana kesehatan di Kabupaten Pidie Jaya.

Analisis yang telah disusun ini diharapkan dapat membantu pemerintah daerah dalam menyusun berbagai program pembangunan di sektor kesehatan, sehingga mampu memenuhi kebutuhan Kabupaten Pidie Jaya. Berbagai kegiatan lainnya bersama dengan analisis seperti yang telah disusun tentu saja perlu dilakukan guna melaksanakan pembangunan kesehatan yang berkelanjutan. Dengan dukungan berbagai pihak diharapkan laporan ini dapat membantu pemerintah dalam mencapai cita-cita pembangunan kesehatan di Kabupaten Pidie Jaya.

Meureudu, Januari 2014

dr. Buchari, MM.

(13)

Health Public Expenditure | Kabupaten Pidie Jaya 2014

9

(14)

Public Expenditure Analysis Capacity and Strengthening Program

10

UCAPAN TERIMA KASIH

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat dan karunia-Nya maka Health Public

Expenditure Review (Health PER) Kabupaten Pidie Jaya dapat kami selesaikan dengan baik. Health PER

merupakan Analisis Belanja Publik Sektor Kesehatan yang dilakukan oleh PECAPP (Public Expenditure

Analysis Capacity and Sthrengtening Program) atas dukungan Pemerintah Aceh. Laporan ini disusun oleh

sebuah tim yang dipimpin Rachmad Suhanda, di bawah supervisi Harry Masyrafah sebagai Team Leader. Ucapan terima kasih dan penghargaan yang tinggi kami sampaikan kepada:

1. Gubernur Provinsi Aceh, Bapak dr. Zaini Abdullah dan Wakil Gubernur Bapak Muzakir Manaf. 2. Rektor Universitas Syiah Kuala Banda Aceh, Bapak Prof. Dr. Ir. Samsul Rizal, M.Eng.

3. Sekretaris Daerah Provinsi Aceh, Bapak Drs. Dermawan, MM.

4. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Aceh, Bapak dr. Taqwallah, M.Kes. dan segenap jajarannya. 5. Kepala Bappeda Provinsi Aceh, Bapak Prof. DR. Ir. Abubakar Karim, MS. dan segenap jajarannya. 6. Bupati Kabupaten Pidie Jaya, Bapak Drs. Gade Salam dan segenap jajarannya.

7. Sekretaris Daerah Kabupaten Pidie Jaya, Bapak Ramli Daud SH,. MM.

8. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pidie Jaya dan Para Kepala Puskesmas dalam wilayah Kabupaten Pidie Jaya beserta segenap jajarannya.

9. Kepala Bappeda Kabupaten Pidie Jaya dan segenap jajarannya. 10. World Bank dan Consolidating Peaceful Development in Aceh (CPDA)

11. Bapak Prof. Raja Masbar, Bapak Dr. Islahuddin, Dr. Iskandar Majid, dan Bapak T. Harmawan sebagai

Advisor PECAPP.

12. Bapak T. Setia Budi, Bapak dr. M. Yani, M.Kes, PKK dan Bapak Drg. Saifuddin Ishak, M.Kes, PKK atas dukungan dan arahannya.

13. Tim Sektor Kesehatan PECAPP yang telah bekerja keras guna menghasilkan laporan ini: Tika Indiraswari, Darma Satria, T. Muhammad Yus, Riza Faruqi dan Haqqi Harzaki.

14. Tim Inti PECAPP, Adi Warsidi, T. Zukhradi Setiawan, Renaldi Safriansyah, Teuku Triansa Putra, Dian Alifya, Inggit Maulidina, Sofran Sofyan, T. Aulia Zailian, Eliana Gultom, Wan Windi Lestari, Sukhairi Amirsyah, T. Hendra Kemala, Husaini, Agus Salim.

Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya juga kami sampaikan kepada semua pihak yang secara langsung ataupun tidak telah memberikan kontribusinya dalam penyusunan laporan ini. Semoga laporan ini dapat memberikan kontribusi dalam pembangunan Aceh pada umumnya dan Kabupaten Pidie Jaya khususnya di masa mendatang.

(15)

Health Public Expenditure | Kabupaten Pidie Jaya 2014

11

(16)

Public Expenditure Analysis Capacity and Strengthening Program

12

DAFTAR ISI

Ringkasan Eksekutif ...1

Prakata Rektor Universitas Syiah Kuala ...7

Kata Pengantar Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pidie Jaya ...8

Ucapan Terima Kasih ... 10

Daftar Grafik... 13

Daftar Tabel ... 15

Daftar Lampiran ...16

Daftar Singkatan dan Simbol ... 17

Gambaran Umum ... 20

1. Demografi dan Kondisi Sosial ... 20

2. Penerimaan dan Belanja Pemerintah Daerah ... 22

2.1. Penerimaan Pemerintah ... 22

2.2. Belanja Pemerintah ... 23

Belanja Sektor Kesehatan Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya ...26

1. Jumlah dan Pengelola Belanja ...26

2. Belanja Dinas Kesehatan ...29

Sumber Daya dan Upaya Kesehatan ... 34

1. Sumber Daya Manusia ... 34

2.Sarana Kesehatan ... 34

2.1. Rumah Sakit ...36

2.2. Puskesmas ...39

3. Situasi Derajat Kesehatan ... 41

3.1.Angka Kematian ... 42

3.2. Gizi ... 45

3.3. Angka Kesakitan ...47

4. Standar Pelayanan Minimal dan Upaya Kesehatan ...50

Belanja Kesehatan Puskesmas ...56

1. Sumber Pendapatan dan Belanja Puskesmas ...56

2. Sumber daya dan Upaya Kesehatan di Puskesmas ...60

Kesimpulan dan Rekomendasi...66

1. Kesimpulan ...66

2. Rekomendasi ...68

Daftar Pustaka... 71

(17)

Health Public Expenditure | Kabupaten Pidie Jaya 2014

13

DAFTAR GRAFIK

Grafik 1. Kepadatan Penduduk Kabupaten Pidie Jaya Tahun 2012... 20

Grafik 2. Piramida Penduduk Kabupaten Pidie Jaya Tahun 2012 ... 21

Grafik 3. IPM Kabupaten Pidie Jaya dan Aceh Tahun 2006-2012 ... 21

Grafik 4. Penerimaan Daerah Pidie Jaya... 23

Grafik 5. Belanja Pemerintah Daerah ... 23

Grafik 6. Jenis Belanja Kabupaten Pidie Jaya ...24

Grafik 7. Porsi Anggaran Kesehatan Terhadap Total Belanja ...26

Grafik 8. Belanja Perkapita Kesehatan Tahun 2013 di Aceh ...27

Grafik 9. Belanja Kesehatan Pidie Jaya ...27

Grafik 10. Belanja Kesehatan Berdasarkan Kegunaan ... 28

Grafik 11. Belanja Pada RSUD Pidie Jaya ...29

Grafik 12. Belanja Langsung Dinas Kesehatan ...29

Grafik 13. Jenis Belanja Langsung ...30

Grafik 14. Belanja Berdasarkan Jenis Program Kesehatan ... 31

Grafik 15. Sasaran Belanja Program Preventif/Kuratif ... 32

Grafik 16. Porsi Belanja Pencegahan Menurut Sasaran ... 32

Grafik 17.Rasio Dokter per 100 ribu Penduduk ... 34

Grafik 18. Rasio Bidan per 100 ribu Penduduk di Pidie Jaya ...35

Grafik 19. Indeks Tenaga Kesehatan ...36

Grafik 20. Jarak Masyarakat ke Rumah Sakit ... 37

Grafik 21. Indeks Sarana Kesehatan ...39

Grafik 22. Rasio Puskesmas Terhadap Penduduk ... 40

Grafik 23. Jarak Tempuh ke Puskesmas dan Puskesmas Pembantu ... 40

Grafik 24. Penduduk Dengan Keluhan Kesehatan dan Berobat Jalan ... 41

Grafik 25. Sarana Berobat Jalan Masyarakat ... 42

Grafik 26. Angka Kematian Ibu (per 100 ribu KH) ... 42

Grafik 27. Angka Kematian Ibu di Pidie Jaya ... 43

Grafik 28. Angka Kematian Bayi per seribu Lahir Hidup (LH) ... 44

Grafik 29. Indeks Angka Kematian Ibu, Bayi dan Balita ... 44

Grafik 30. Indeks Angka Kematian Terhadap Belanja Kesehatan Perkapita ... 45

Grafik 31. Persentase Balita Ditimbang Terhadap Balita BGM ... 46

Grafik 32. Indeks Indikator Gizi ... 46

Grafik 33. Balita Ditimbang dan Balita di Bawah Garis Merah (BGM) di Puskesmas ...47

Grafik 34. Indeks Penyakit Menular ... 48

Grafik 35. Beberapa Indikator TB Paru Tahun 2012 ... 48

Grafik 36. Indikator Beberapa Penyakit Menular Tahun 2012 ... 49

Grafik 37. Persentase Kunjungan Ibu Hamil Minimal Empat Kali Selama Kehamilan dan Persalinan Pada Tenaga Kesehatan ... 52

Grafik 38. Pencapaian Beberapa Indikator Pelayanan Anak ...53

Grafik 39. Indeks Upaya Kesehatan ... 54

(18)

Public Expenditure Analysis Capacity and Strengthening Program

14

Grafik 41. Belanja Total dan Perkapita Puskesmas ...57

Grafik 42. Jenis Belanja Kesehatan ...58

Grafik 43. Sumber Belanja Program Kesehatan ...58

Grafik 44. Jenis Belanja Kesehatan per Puskesmas ...59

Grafik 45. Belanja Kesehatan Berdasarkan Sasaran ...59

Grafik 46. Sasaran Belanja per Puskesmas ...60

Grafik 47. Indeks Tenaga Kesehatan di Puskesmas ...61

Grafik 48. Indeks Angka Kematian Ibu, Anak dan Balita di Puskesmas ...62

Grafik 49. Indeks Angka Kematian di Puskesmas ...62

Grafik 50. Indeks Penyakit Menular ...63

Grafik 51. Indeks Upaya Kesehatan di Puskesmas ... 64

(19)

Health Public Expenditure | Kabupaten Pidie Jaya 2014

15

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Situasi Ketersediaan Dokter Spesialis Pada RSUD Pidie Jaya Tahun 2013 ...35

Tabel 2. Indikator Kinerja Rumah Sakit Umum Meureudu Tahun 2011 dan 2012 ...38

Tabel 3. Pencapaian dan Target SPM Bidang Kesehatan Kabupaten Pidie Jaya ...50

(20)

Public Expenditure Analysis Capacity and Strengthening Program

16

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Rasio Beberapa Tenaga Kesehatan Tahun 2012 ... 73

Lampiran 2. Jumlah Penduduk yang Dilayani per Puskesmas Tahun 2012 dan Jarak Rata-rata Penduduk Ke Puskesmas serta Puskesmas Pembantu Tahun 2011 ... 74

Lampiran 3. Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi Tahun 2012 ... 75

Lampiran 4. Kondisi Kejadian Beberapa Penyakit Menular Tahun 2012 ... 76

Lampiran 5. Berat Badan Bayi Lahir Rendah (BBLR) dan Balita dengan Berat Badan di Bawah Garis Merah (BGM) Tahun 2012 ...77

Lampiran 6. Beberapa Indikator Upaya Kesehatan Tahun 2012 ...78

Lampiran 7. Indeks Tenaga Kesehatan ... 79

Lampiran 8. Indeks Sarana Kesehatan ...80

Lampiran 9. Indeks Angka Kematian Ibu, Bayi dan Balita ... 81

Lampiran 10. Indeks Indikator Gizi ... 82

Lampiran 11. Indeks Penyakit Menular ...83

Lampiran 12 Indeks Upaya Kesehatan ... 84

DAFTAR FOTO

Cover (Sumber: http://puskesmaslojikarawang.blogspot.com) Gambaran Umum (Sumber: Khairul Umami) ...19

Belanja Sektor Kesehatan Pemerintah Kab. Pidie Jaya (Sumber: www.budaya-indonesia.org) ... 25

Sumber daya dan Upaya Kesehatan (Sumber: www.belanjapublikaceh.org) ... 33

Belanja Kesehatan Puskesmas (Sumber: www.skyscrapercity.com) ...55

(21)

Health Public Expenditure | Kabupaten Pidie Jaya 2014

17

DAFTAR SINGKATAN DAN SIMBOL

Singkatan

AKB : Angka Kematian Bayi

AKABA : Angka Kematian Balita

AKI : Angka Kematian Ibu

APBA : Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh

APBK : Anggaran Pendapatan dan Belanja Kabupaten

API : Annual Parasite Incidence

Askes : Asuransi Kesehatan

BBLR : Bayi Berat Lahir Rendah

BGM : Bawah Garis Merah

BOK : Bantuan Operasional Kesehatan

BOR : Bed occupancy Rate

BOR : Bed Occupancy Rate

BPS : Badan Pusat Statistika

DAU : Dana Alokasi Umum

DBD : Demam Berdarah Dengue

Dinkes : Dinas Kesehatan

DPKKD : Dinas Pengelolaan Keuangan dan Kekayaan Daerah

GDR : Gross Date Rate

IMR : Infant Mortality Rate

IPM : Indeks Pembangunan Manusia

Jamkesmas : Jaminan Kesehatan Masyarakat

Jampersal : Jaminan Persalinan

JKA : Jaminan Kesehatan Aceh

Kemenkeu : Kementerian Keuangan

KH : Kelahiran Hidup

Km2 : Kilometer persegi

LH : Lahir Hidup

LOS : Length of Stay

MDGs : Millennium Development Goals

Menkes : Menteri Kesehatan

NDR : Net Death Rate

P2M : Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Menular

P4K : Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi

PD3I : Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi

PECAPP : Public Expenditure Analysis and Capacity Strengthening Program

(22)

Public Expenditure Analysis Capacity and Strengthening Program

18

Permenkes : Peraturan Menteri Kesehatan

Polindes : Pondok Bersalin Desa

PONED : Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Dasar

Poskesdes : Pos Kesehatan Desa

Puskesmas : Pusat Kesehatan Masyarakat

Pustu : Puskesmas Pembantu

RSU : Rumah Sakit Umum

RSUD : Rumah Sakit Umum Daerah

SPM : Standar Pelayanan Minimal

Susenas : Survei Sosial Ekonomi Nasional

TOI : Turn Over Interval

Simbol

% : Persen

oC :

(23)
(24)

Public Expenditure Analysis Capacity and Strengthening Program

20

GAMBARAN UMUM

1. DEMOGRAFI DAN KONDISI SOSIAL

Kabupaten Pidie Jaya salah satu daerah pemekaran terbaru di Aceh. Kabupaten Pidie Jaya merupakan satu dari 16 usulan pemekaran kabupaten/kota yang dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2007 pada tanggal 2 Januari 2007, sebelumnya bagian dari Kabupaten Pidie. Kabupaten ini memiliki karakteristik daerah pantai dan perbukitan dengan delapan kecamatan yang sebagian besar terletak di pesisir pantai.

Kabupaten Pidie Jaya memiliki kepadatan penduduk yang relatif lebih tinggi. Kepadatan penduduk Pidie Jaya terhitung sebesar 145 jiwa/km2. Jumlah penduduk sampai dengan tahun 2012 mencapai 145 ribu jiwa, lebih tinggi dari rata-rata Aceh, yaitu 81 jiwa/km2, dengan komposisi yang hampir seimbang antara laki dan perempuan. Pidie Jaya merupakan daerah hujan tropis dengan temperatur rata-rata 25-32 oC (derajat Celcius) dengan kelembaban rata-rata 85 persen, Grafik 1.

Grafik 1. Kepadatan Penduduk Kabupaten Pidie Jaya Tahun 2012

Karakter usia penduduk Pidie Jaya didominsi usia muda. Penduduk Pidie Jaya didominasi penduduk berusia 15-44 tahun, yang berjumlah 48 persen dari populasi. Penduduk yang berusia di atas 45 tahun hanya 22 persen. Karakteristik umur tersebut menunjukkan perlunya perhatian yang cukup besar pada kelompok usia anak, rentang usia 0-14 tahun yang mempunyai porsi cukup besar (30 persen), Grafik 2.

(25)

Health Public Expenditure | Kabupaten Pidie Jaya 2014

21

Grafik 2. Piramida Penduduk Kabupaten Pidie Jaya Tahun 2012

Tingkat kemajuan pembangunan manusia dan kesejahteraan masyarakat di Pidie Jaya terus mengalami peningkatan. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Pidie Jaya terhitung terus meningkat sejak tahun 2006. IPM adalah salah satu indikator kesejahteraan masyarakat yang di hitung berdasarkan beberapa variabel.1 Kabupaten Pidie Jaya pada tahun 2012 berada di atas rata-rata IPM Aceh, meningkat dari tahun 2007 yang berada di bawah rata-rata Aceh, Grafik 3. Pidie Jaya masih memiliki beberapa tantangan utama, diantaranya tingkat kemiskinan.

Grafik 3. IPM Kabupaten Pidie Jaya dan Aceh Tahun 2006-2012

1 Indeks pembangunan masyarakat (IPM) terdiri dari tiga indikator utama, yaitu: kesehatan, pendidikan dan ekonomi. Pengukuran ini menggunakan tiga

dimensi dasar, yaitu: lamanya hidup, pengetahuan dan standar hidup yang layak. Ketiga unsur tersebut tidak berdiri sendiri, namun saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya.

Sumber: Dinas Kesehatan Aceh, PECAPP

(26)

Public Expenditure Analysis Capacity and Strengthening Program

22

Pidie Jaya merupakan daerah dengan tingkat kemiskinan yang relatif tinggi, juga potensi masalah kesehatan yang besar. Sebanyak 34 persen penduduk Pidie Jaya pada tahun 2012 merupakan penduduk miskin, jauh lebih tinggi dari Aceh yang mempunyai angka 19 persen. Tingginya tingkat kemiskinan seringkali searah dengan besarnya permasalahan kesehatan. Masyarakat miskin identik dengan lingkungan tempat tinggal dengan sanitasi buruk, pangan yang buruk yang disebabkan oleh rendahnya pendapatan dan pendidikan, perilaku dan kesadaran hidup sehat yang rendah serta terbatasnya akses layanan kesehatan. Kondisi kemiskinan menyebabkan penduduk menjadi rentan terhadap serangan penyakit dan kesakitan juga berpotensi membuat penduduk menjadi miskin.2 Berbagai indikator kesehatan di negara berpendapatan rendah dan menengah jika dibandingkan dengan negara berpendapatan tinggi, juga memperlihatkan bahwa angka kesakitan dan kematian secara kuat berkorelasi terbalik dengan pendapatan.3

Meskipun terdapat beberapa peningkatan positif dari pembangunan kesehatan, tetapi tantangan utama masih ada. Pembangunan kesehatan perlu mempertimbangkan dinamika yang berkembang selain komponen di dalam sektor kesehatan sendiri. Berbagai upaya percepatan pencapaian indikator kesehatan harus terus diupayakan dengan memperhatikan berbagai kondisi yang berkembang. Tingginya angka kematian ibu dan bayi, masalah gizi buruk dan berbagai kejadian penyakit, baik menular maupun tidak, adalah beberapa tantangan yang terus terjadi dalam dinamika pembangunan kesehatan.

Ketersediaan belanja kesehatan serta pemanfaatannya merupakan masalah yang perlu dianalisis. Salah satu komponen yang sangat berperan dalam pembangunan kesehatan adalah pembiayaan kesehatan, terutama belanja pemerintah. Kebijakan pemerintah yang menyebutkan bahwa besaran anggaran kesehatan pemerintah daerah provinsi, kabupaten/kota dialokasikan minimal 10 persen dari anggaran pendapatan dan belanja daerah di luar gaji, pada kenyataannya belum semua daerah mampu melaksanakan kebijakan tersebut.4 Keterbatasan jumlah belanja yang tersedia, pengalokasian belanja secara adil, efektif dan efisien merupakan beberapa tantangan yang dihadapi.

2. PENERIMAAN DAN BELANJA PEMERINTAH DAERAH 2.1. Penerimaan Pemerintah

Penerimaan Pidie Jaya terus meningkat seiring dengan meningkatnya dana transfer dari pemerintah pusat.Pada tahun 2013, anggaran penerimaan Kabupaten Pidie Jaya terhitung sebesar Rp 474 miliar, meningkat lebih dua kali lipat dari tahun 2008, yang tercatat sebesar Rp 187 miliar pada tahun 2008. Peningkatan penerimaan terbesar bersumber dari Dana Alokasi Umum (DAU) yang menyumbangkan sebesar 74 persen dari keseluruhan penerimaan, Grafik 4. Seperti kabupaten/kota lainnya di Indonesia, penerimaan daerah sangat bergantung dari transfer pemerintah pusat, secara rata-rata terhitung sebesar 80 persen pada tahun 2013.5 Sedangkan sumbangan penerimaan lain di Pidie Jaya seperti Pendapatan Asli Daerah (PAD) diperkirakan akan menyumbangkan sebesar 4 persen pada tahun 2013.

2 Argadiredja D, 2002 3 Firdausi, NT. 2002

4 UU Nomor 36 Tahun 2009, Pasal 171 ayat 2

5 Transfer dari daerah pusat adalah; dana perimbangan terbagi dari dana bagi hasil pajak, dana bagi hasil bukan pajak, dana alokasi umum, dana alokasi

(27)

Health Public Expenditure | Kabupaten Pidie Jaya 2014

23

Grafik 4. Penerimaan Daerah Pidie Jaya

2.2. Belanja Pemerintah

Belanja pemerintah terus meningkat searah dengan meningkatnya penerimaan. Pada tahun 2013, pengeluaran Kabupaten Pidie Jaya tercatat sebesar Rp 472 miliar meningkat lebih dari dua kali lipat tahun 2008. Meskipun secara nominal belanja ini meningkat, secara riil belanja pemerintah Pidie Jaya lebih kecil daripada belanja pada tahun 2011, terhitung sebesar Rp 433 miliar. Belanja pendidikan dan belanja pelayanan umum (administrasi pemerintahan) merupakan belanja terbesar dari Pidie Jaya, yang secara keseluruhan memiliki porsi sebesar 63 persen pada tahun 2013, Grafik 5. Kedua sektor ini memiliki belanja yang terus meningkat secara rata-rata sebesar 6 persen sejak tiga tahun terakhir. Sektor pendidikan mendapatkan alokasi belanja pada tahun 2013 sebesar Rp 150 miliar, sedangkan pendidikan mendapatkan Rp. 144 miliar.

Grafik 5. Belanja Pemerintah Daerah Sumber : Kemenkeu, Pemkab Pidie Jaya, PECAPP

(28)

Public Expenditure Analysis Capacity and Strengthening Program

24

Belanja pegawai merupakan belanja terbesar dan terus meningkat sejak tahun 2008. Meningkat lebih dua kali lipat dari tahun 2008, belanja pegawai tercatat sebesar Rp 248 miliar pada tahun 2013, dari hanya Rp 85 miliar pada tahun 2008 atau sebesar 53 persen dari keseluruhan belanja pemerintah, Grafik 6. Hal ini didorong oleh bertambahnya jumlah Pegawai Negeri Sipil (PNS) sebanyak 900 orang dalam kurun waktu 5 tahun. Pada tahun 2013, jumlah PNS tercatat sebesar 3.785 orang, sedangkan pada 2012 hanya 2.886 orang. Di berbagai daerah di Indonesia, belanja pegawai secara rata-rata terhitung sebesar 70 persen dari keseluruhan belanja pemerintah daerah.6

Grafik 6. Jenis Belanja Kabupaten Pidie Jaya

6 Analisis Keuangan Daerah, Depkeu, 2012 dalam Pecapp, 2013

(29)

BELANJA SEKTOR KESEHATAN

PEMERINTAH KABUPATEN PIDIE JAYA

(30)

Public Expenditure Analysis Capacity and Strengthening Program

26

Belanja Sektor Kesehatan Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya 1. Jumlah dan Pengelola Belanja

Belanja kesehatan di Pidie Jaya mengalami peningkatan yang cukup besar. Anggaran belanja kesehatan di Kabupaten Pidie Jaya pada tahun 2008 hanya berjumlah Rp 10 miliar atau 6 persen dari belanja total. Angka tersebut terus mengalami peningkatan baik dari sisi jumlah maupun porsi terhadap total belanja. Pada tahun 2013 terhitung anggaran belanja secara keseluruhan adalah sebesar Rp 55 miliar atau mencapai 11 persen dari total belanja. Namun, porsi belanja tersebut jika dibandingkan dengan rata-rata kabupaten/kota lainnya di Aceh masih lebih rendah, dimana rata-rata Aceh mencapai 12 persen, Grafik 7.

Grafik 7. Porsi Anggaran Kesehatan Terhadap Total Belanja

Jumlah belanja kesehatan perkapita di Pidie Jaya sedikit di bawah rata-rata belanja kabupaten/kota di Aceh. Jumlah anggaran belanja perkapita di Pidie Jaya pada tahun 2013 terhitung sebesar Rp 382 ribu, masih di bawah rata-rata Aceh yang berjumlah Rp 398 ribu. Belanja perkapita tertinggi tercatat di Kota Sabang dan Kota Langsa. Belanja perkapita yang tinggi di Sabang disebabkan jumlah penduduk yang relatif lebih rendah dibandingkan daerah lainnya, Grafik 8.

(31)

Health Public Expenditure | Kabupaten Pidie Jaya 2014

27

Grafik 8. Belanja Perkapita Kesehatan Tahun 2013 di Aceh

Secara total sebesar Rp 152 miliar sejak tahun 2009 hingga 2012 dibelanjakan untuk sektor kesehatan. Hampir 70 persen belanja kesehatan digunakan untuk belanja tidak langsung. Jumlah total belanja tidak langsung dari tahun 2009 hingga 2012 mencapai Rp 101 miliar atau 66 persen dari total belanja. Meskipun karakteristik pelayanan kesehatan diantaranya adalah padat karya, sehingga banyak tenaga kesehatan yang perlu disediakan, namun belanja yang cukup tinggi untuk gaji dan tunjangan pegawai memberikan celah yang kecil untuk program kesehatan lainnya. Meskipun pada tahun 2013 anggaran belanja tidak langsung lebih kecil dari rata-rata belanja tidak langsung selama empat tahun, namun jumlahnya masih cukup besar, mencapai 62 persen dari total belanja, Grafik 9.7

Grafik 9. Belanja Kesehatan Pidie Jaya

7 Belanja tidak langsung merupakan belanja yang digunakan secara bersama-sama (common cost) untuk melaksanakan seluruh program atau kegiatan unit

kerja. Termasuk dalam jenis belanja ini adalah belanja gaji dan tunjangan bagi Pegawai Negeri Sipil.

Sumber: Kemenkeu, BPS, Dinkes Pidie Jaya, PECAPP

(32)

Public Expenditure Analysis Capacity and Strengthening Program

28

Belanja supportif merupakan belanja terbesar dari sektor kesehatan. Hampir sama dengan kabupaten lain di Indonesia dimana alokasi belanja supportif cukup besar, hampir 80 persen atau sebesar Rp 43 miliar pada tahun 2013 dari belanja kesehatan dialokasikan untuk supportif.8 Alokasi belanja preventif terhitung cukup rendah, hanya sebesar satu persen. Sedangkan rata-rata di kabupaten/kota lain di Aceh, pada tahun 2012 alokasi belanja ini terhitung hampir 80 persen dari alokasi belanja pemerintah. Rendahnya belanja preventif dan tingginya belanja supportif merupakan salah satu tantangan bagi banyak pemerintah kabupaten/kota di Aceh, Grafik 10.

Grafik 10. Belanja Kesehatan Berdasarkan Kegunaan9

Belanja di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pidie Jaya mengalami peningkatan. RSUD Pidie Jaya sejak berdiri pada tahun 2007 berada di bawah Dinas Kesehatan Kabupaten Pidie Jaya. Belanja yang khusus digunakan untuk RSUD Pidie Jaya pada tahun 2009 berjumlah Rp 1,6 miliar atau 5 persen dari total belanja Dinas Kesehatan. Pada tahun 2013, belanja pada RSUD Pidie Jaya meningkat menjadi Rp 9,6 miliar atau sebesar 18 persen dari total belanja. Meningkatnya jumlah belanja tersebut dikarenakan semakin banyaknya pelayanan yang diberikan, terutama penambahan anggaran sebesar Rp 5 miliar untuk kegiatan pemeliharaan dan pemulihan kesehatan. Dana tersebut sebagian besarnya, Rp 2,2 miliar digunakan untuk belanja jasa pelayanan medis dan nonmedis, Grafik 11.

8 Belanja supportif merupakan belanja yang diperuntukkan berbagai kegiatan manajerial, termasuk di dalamnya adalah pembayaran gaji dan tunjangan

pegawai, penyediaan jasa perkantoran dan lain sebagainya.

9 Belanja preventif/kuratif adalah belanja yang tidak dapat dipisahkan pemanfaatannya, apakah murni sebagai upaya pencegahan ataupun upaya

pengo-batan. Komponen tersebut menurun cukup besar karena jumlah belanja pembangunan sarana kesehatan Puskesmas dan jejaringnya yang bertujuan untuk upaya pencegahan sekaligus juga upaya pengobatan, menurun cukup besar dari Rp 7,8 miliar pada tahun 2009 menjadi Rp 2,7 miliar pada tahun 2013.

(33)

Health Public Expenditure | Kabupaten Pidie Jaya 2014

29

Grafik 11. Belanja Pada RSUD Pidie Jaya

2. Belanja Dinas Kesehatan

Belanja langsung pada Dinas Kesehatan cenderung menurun dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Belanja yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Pidie Jaya yang digunakan untuk belanja program selama lima tahun berjumlah total Rp 56 miliar atau sekitar Rp 11 miliar per tahun. Belanja tersebut menunjukkan kecenderungan menurun selama tiga tahun terakhir. Belanja kesehatan langsung pada tahun 2013 tercatat hanya sebesar Rp 11 miliar, jauh lebih rendah dibandingkan tahun 2009 yang tercatat sebesar Rp 13 miliar. Penurunan jumlah belanja salah satunya diakibatkan bergesernya prioritas pembangunan ke belanja di rumah sakit yang cenderung mengalami peningkatan, Grafik 12. Relatif rendahnya belanja langsung mengakibatkan sedikitnya alokasi belanja dalam melaksanakan berbagai program kesehatan.

Grafik 12. Belanja Langsung Dinas Kesehatan Sumber: Dinkes Pidie Jaya, RSUD Pidie Jaya, DPKKD, PECAPP

(34)

Public Expenditure Analysis Capacity and Strengthening Program

30

Belanja program yang tersedia pada Dinas Kesehatan seperempatnya digunakan untuk urusan manajemen dan perkantoran. Dari Rp 11 miliar anggaran belanja pada tahun 2013, sebanyak 26 persen diarahkan untuk menunjang urusan perkantoran. Secara umum belanja pada Dinas Kesehatan sebagian besarnya diperuntukkan untuk berbagai upaya kesehatan, baik upaya kesehatan masyarakat maupun upaya kesehatan perorangan.

Belanja pegawai menunjukkan kecenderungan peningkatan dan merupakan jenis belanja terbesar. Pada tahun 2011, belanja langsung pegawai pada Dinas Kesehatan Pidie Jaya berjumlah Rp 1,6 miliar atau hanya 6 persen dari total belanja. Belanja tersebut meningkat menjadi 37 persen atau Rp 4 miliar pada tahun 2013. Kondisi tersebut terjadi karena meningkatnya anggaran belanja pegawai pada program Pelayanan Kesehatan Penduduk Miskin yang jumlahnya mencapai Rp 3 miliar pada tahun 2013. Sementara itu, belanja barang dan jasa berkisar antara 24 persen hingga 36 persen atau Rp 3 miliar hingga Rp 4 miliar per tahun.

Belanja modal cenderung menurun, tercatat sebesar 28 persen dari keseluruhan belanja. Pada anggaran tahun 2011, porsi belanja modal 70 persen atau Rp 9 miliar, jauh lebih besar dari tahun 2013 yang berjumlah Rp 3 miliar. Hal ini berpengaruh terhadap program kesehatan padat modal, terutamanya program pengadaan, peningkatan dan perbaikan sarana dan prasarana puskesmas, puskesmas pembantu dan jaringannya, Grafik 13. Dengan semakin meningkatnya kebutuhan pembangunan di Pidie Jaya, maka kemungkinan pemanfaatan dana bersumber lain, seperti dana Otonomi Khusus (Otsus) dapat menjadi pilihan dalam menutupi kebutuhan di masa mendatang.

Grafik 13. Jenis Belanja Langsung

(35)

Health Public Expenditure | Kabupaten Pidie Jaya 2014

31

Porsi belanja preventif cenderung mengalami peningkatan. Dari Rp 56 miliar total dana yang dikelola oleh Dinas Kesehatan di luar belanja tidak langsung tahun 2009 hingga 2013, terhitung hanya 3 persen dana yang diarahkan untuk upaya preventif atau pencegahan. Namun, kondisi tersebut terus mengalami perbaikan, dimana pada tahun 2009 belanja pencegahan yang berjumlah Rp 215 juta atau 1,7 persen dari total belanja, meningkat menjadi Rp 599 juta atau 5,3 persen pada tahun 2012 dan Rp 608 juta atau 5,6 persen pada tahun 2013, Grafik 14. Belanja tersebut diarahkan untuk berbagai upaya pencegahan seperti peningkatan pelayanan gizi, ibu dan anak serta upaya pencegahan dan penanggulangan penyakit menular.

Grafik 14. Belanja Berdasarkan Jenis Program Kesehatan

Porsi belanja pencegahan yang rendah merupakan masalah di banyak daerah di Indonesia. Belanja preventif di Indonesia masih belum proporsional. Dalam merumuskan program kesehatan, terlihat penerapan subsistem upaya kesehatan dalam Sistem Kesehatan Nasional (SKN) belum diterapkan sepenuhnya, kondisi tersebut terlihat dari penyelenggaraan program, masih banyak yang berupa kegiatan kuratif. Sementara dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat juga perlu menitikberatkan kegiatan promotif/preventif.10

Belanja preventif/kuratif cenderung meningkat dan menyerap cukup besar dana langsung.11 Belanja jenis ini merupakan belanja penyediaan sarana dan prasarana kesehatan serta obat dan perbekalan kesehatan. Pada tahun 2009, jumlah belanja preventif/kuratif mencapai Rp 9 miliar atau 70 persen dari total belanja langsung di Dinas Kesehatan, Grafik 15. Hal tersebut dipicu dengan tingginya pembangunan dan penyediaan sarana/prasarana kesehatan pada tahun tersebut yang mencapai Rp 8,8 miliar. Pada tahun 2012, belanja tersebut berkurang, dimana belanja jenis ini menggunakan 42 persen atau Rp 4,7 miliar belanja langsung, yang digunakan sebagian besarnya untuk obat dan perbekalan kesehatan.

10 Adisasmito W, 2008

11 Belanja yang tidak dapat dipisahkan besarannya untuk upaya pengobatan dan pencegahan

(36)

Public Expenditure Analysis Capacity and Strengthening Program

32

Grafik 15. Sasaran Belanja Program Preventif/Kuratif

Penanggulangan masalah gizi, pelayanan kesehatan ibu dan anak serta penanggulangan penyakit menular merupakan prioritas pemerintah. Belanja gizi, pelayanan ibu anak dan penanggulangan penyakit menular mendapatkan porsi lebih besar (hingga 80 persen pada anggaran 2013) untuk sasaran belanja pencegahan. Dari beberapa sasaran tersebut, gizi merupakan sasaran utama pada anggaran tahun 2013. Kondisi ini menunjukkan pengentasan masalah gizi, penanganan penyakit menular dan peningkatan pelayanan kesehatan ibu dan anak merupakan prioritas di Pidie Jaya, Grafik 16. Namun, masih terdapat beberapa tantangan utama di bidang ini yang perlu mendapat perhatian pemerintah.

Grafik 16. Porsi Belanja Pencegahan Menurut Sasaran Sumber: Dinkes Pidie Jaya, DPKKD, PECAPP

(37)

SUMBER DAYA

DAN UPAYA KESEHATAN

(38)

Public Expenditure Analysis Capacity and Strengthening Program

34

SUMBER DAYA DAN UPAYA KESEHATAN 1. Sumber Daya Manusia

Rata-rata dokter umum di Aceh melayani tiga ribu penduduk. Jumlah dokter di Aceh pada tahun 2012 lebih dari 1.500 orang. Tenaga dokter tersebar ke seluruh kabupaten/kota maupun di level pemerintah provinsi. Rasio dokter umum terhadap penduduk adalah sebesar 33 per 100 ribu penduduk atau setiap dokter melayani tiga ribu penduduk. Jika jumlah yang dihitung hanya dokter yang bertugas di kabupaten/ kota saja, maka rasio ketersediaan dokter di Aceh adalah 23 per 100 ribu penduduk. Jumlah tersebut belum mencapai target Indonesia Sehat 2010 yang menargetkan satu dokter melayani 2.500 penduduk atau 40 per 100 ribu penduduk.

Disparitas rasio dokter terhadap penduduk di Aceh cukup besar. Rasio dokter terhadap penduduk terbaik tercatat di Kota Sabang dan Kota Banda Aceh dengan jumlah penduduk per dokter di bawah 2.000 jiwa, atau telah sesuai dengan target. Sementara itu banyak kabupaten/kota lainnya belum sesuai target Indonesia Sehat 2010, seperti di Kota Subulussalam dan Kabupaten Aceh Tamiang, dimana setiap dokternya melayani lebih dari 5.000 penduduk, Grafik 17.

Grafik 17. Rasio dokter per 100 ribu Penduduk

Jumlah dokter umum di Pidie Jaya masih di bawah rata-rata Aceh. Pada tahun 2012 jumlah dokter umum di Pidie Jaya 32 orang, sebagian besarnya bertugas di Puskesmas (seluruh Puskesmas mempunyai dokter umum). Kabupaten Pidie Jaya mempunyai rasio dokter 24 per 100 ribu penduduk atau setiap dokter melayani sekitar empat ribu orang, Grafik 17. Kondisi yang sama terjadi pada dokter gigi dengan rasio 5 per 100 penduduk atau setiap dokter gigi melayani rata-rata 20 ribu penduduk. Jumlah tersebut belum mencapai target Indonesia Sehat 2010, yaitu 11 dokter per 100 ribu Penduduk. Ketersediaan jumlah dokter yang cukup, termasuk dokter gigi, merupakan salah satu syarat pelaksanaan kegiatan kesehatan terutama yang berkaitan dengan upaya kesehatan perorangan agar dapat berlangsung dengan baik.

(39)

Health Public Expenditure | Kabupaten Pidie Jaya 2014

35

Ketenagaan dokter spesialis di Pidie Jaya sangat minim. Tantangan ketersediaan dokter spesialis adalah jumlah dan kualifikasinya. Dokter spesialis bertugas di RSUD Pidie Jaya menurut data terakhir hanya empat orang.12 Ketersediaan dokter spesialis tersebut masih jauh dari kebutuhan ketenagaan sesuai dengan aturannya.13 Ketersediaan spesialis tetap di RSUD Pidie Jaya hanya satu dokter spesialis yakni dokter spesialis mata, Tabel 1. Untuk memenuhi pelayanan spesialistik kepada masyarakat, dilaksanakan kerja sama dengan Rumah Sakit Umum Kabupaten Pidie untuk mendatangkan dokter spesialis.

Tabel 1. Situasi Ketersediaan Dokter Spesialis Pada RSUD Pidie Jaya Tahun 2013

Jenis Spesialis Jumlah Status Keterangan

Penyakit Dalam

0 Setidaknya 2 dari empat tenaga menurut

Permenkes RI No. 340/Menkes/Per/III/2010 Kesehatan Anak

Bedah

Obstetri dan Ginekologi 1 Sementara

Mata 1 Tetap

Telinga, Hidung dan Tenggorokan 1 Sementara

Paru 1 Sementara

Sumber: Dinkes Aceh, PECAPP

Sebaran tenaga kesehatan di Pidie Jaya belum merata. Rasio bidan terhadap penduduk di Pidie Jaya tahun 2012 adalah 137 per 100 ribu penduduk. Angka tersebut telah mencapai target Indonesia Sehat 2010, yaitu 100 bidan untuk 100 ribu penduduk. Meskipun demikian, distribusi bidan masih belum sepenuhnya mencapai target, dimana Puskesmas Trienggadeng mempunyai rasio yang masih rendah, Grafik 18.

Grafik 18. Rasio Bidan per 100 ribu Penduduk di Pidie Jaya

12 Dinas Kesehatan Aceh, 22 Juni 2013

13 Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 340/Menkes/Per/III/2010, setidaknya Rumah Sakit Umum Kelas D harus mempunyai

fasilitas dan kemampuan pelayanan medik paling sedikit dua dari empat jenis pelayanan spesialis dasar. Spesialisasi yang dipersyaratkan tersebut meliputi

Pelayanan Penyakit Dalam, Kesehatan Anak, Bedah, Obstetri dan Ginekologi.

(40)

Public Expenditure Analysis Capacity and Strengthening Program

36

Jika dibandingkan dengan kondisi kabupaten/kota lainnya di Aceh, secara umum jumlah seluruh tenaga kesehatan terhadap penduduk di Pidie Jaya lebih baik. Dengan menggunakan beberapa ketenagaan, seperti dokter umum, dokter gigi, bidan, perawat, ahli gizi, ahli kesehatan masyarakat dan ahli sanitasi maka dibutuhkan sebanyak 518 tenaga per 100 ribu penduduk. Jumlah tenaga kesehatan di Pidie Jaya pada tahun 2012 mempunyai rasio 798 per 100 ribu penduduk, lebih tinggi dari rata-rata kabupaten/kota lainnya di Aceh yang berjumlah 548 per 100 ribu penduduk.

Bidan, perawat, ahli kesehatan masyarakat dan sanitasi telah memenuhi target. Tantangan terhadap jumlah dan distribusi tenaga sanitasi, tenaga kesehatan masyarakat dan bidan terhadap penduduk masih perlu diperhatikan. Distribusi tenaga gizi masih belum merata, dimana beberapa Puskesmas belum memiliki tenaga gizi sama sekali. Bersama dengan dokter dan dokter gigi, tenaga ahli gizi perlu ditingkatkan dan disebarkan secara lebih merata. Nilai indeks tenaga kesehatan pada tahun 2012 menempatkan Pidie Jaya sebagai salah satu daerah yang mempunyai indeks lebih baik dari rata-rata Aceh, Grafik 19.

Grafik 19. Indeks Tenaga Kesehatan 14

Pidie Jaya mempunyai kesempatan lebih baik dalam pembangunan kesehatan dari sisi ketersediaan tenaga. Jumlah maupun kualifikasi ketenagaan di Pidie Jaya memberikan kesempatan dari sisi input bagi daerah untuk pelayanan kesehatan yang lebih baik. Upaya pencegahan tampaknya mempunyai ketenagaan yang lebih lengkap dibandingkan dengan sumberdaya kuratif atau pengobatan.

1. Sarana Kesehatan 2.1. Rumah Sakit

Masyarakat membutuhkan perjalanan sejauh 11 kilometer untuk menjangkau rumah sakit pemerintah. Meskipun rumah sakit adalah sarana perawatan sekunder (rujukan), namun kondisi tersebut dapat memberikan gambaran bahwa akses masyarakat ke sarana kesehatan primer seperti Puskesmas dan jaringannya cukup vital dalam pemberian pelayanan kesehatan (terutama upaya pengobatan). Jarak terjauh adalah dari Kecamatan Bandar Baru dan terdekat adalah Kecamatan Meureudu, Grafik 20. Kondisi

14 Lihat Lampiran 7

(41)

Health Public Expenditure | Kabupaten Pidie Jaya 2014

37

tersebut lebih baik dari rata-rata jarak masyarakat ke rumah sakit di Aceh, sekitar 24 kilometer. Namun, penguatan kapasitas Puskesmas dan jejaringnya dalam upaya pengobatan merupakan hal yang penting diperhatikan.

Grafik 20. Jarak Masyarakat ke Rumah Sakit

Pemanfaatan pelayanan RSUD Pidie Jaya rendah.15 Pada tahun 2012, jumlah tempat tidur yang tersedia di RSUD Pidie Jaya adalah 44 unit, dengan tempat tidur rawat inap sebanyak 35 unit. Bed

Occupancy Rate (BOR) dari RSUD Pidie Jaya pada tahun tersebut adalah sebesar 29 persen, Tabel 2.

Kondisi tersebut belum mencapai target ideal Kementerian Kesehatan yakni 60-85 persen.16 Rendahnya tingkat BOR yang dicapai menggambarkan bahwa terdapat kemungkinan rendahnya tingkat kualitas pelayanan rumah sakit. Kondisi BOR yang rendah di RSUD Pidie Jaya tersebut lebih rendah dari rata-rata BOR di rumah sakit pemerintah di Aceh yang mencapai 51 persen pada tahun 2012. Demikian pula jika dibandingkan dengan RSUD di Kabupaten Pidie dengan BOR sebesar 97 persen atau RSUD di Kabupaten Bireuen dengan BOR 79 sebesar persen.

Rendahnya kualitas pelayanan dapat mengurangi minat calon pasien rawat inap lain di rumah sakit. Pasien yang mendapat perawatan di rumah sakit, lama atau tidaknya pasien dirawat tergantung dari penyakit yang dialaminya. Namun rendahnya kualitas pelayanan yang diberikan juga dapat mengurangi minat calon pasien untuk memilih rawat inap di rumah sakit. Pasien pada umumnya lebih memilih untuk dirawat di rumah sakit yang memberikan pelayanan secara baik. Jika angka BOR rendah maka pihak manajemen rumah sakit harus berupaya meningkatkan kualitas pelayanannya pada pasien, terutama bagi mereka yang sedang menjalani rawat inap.17

15 Penilaian tingkat keberhasilan pelayanan di rumah sakit dapat dilihat dari berbagai segi yaitu tingkat pemanfaatan sarana, mutu dan tingkat efisiensi

pelayanan. Beberapa indikator standar terkait dengan pelayanan kesehatan di rumah sakit diantaranya adalah pemanfaatan tempat tidur (Bed Occupancy Rate/ BOR), rata-rata lama hari perawatan (Length of Stay/LOS), rata-rata selang waktu pemakaian tempat tidur (Turn Over Interval/TOI), persentase pasien keluar yang meninggal (Gross Death Rate/GDR) dan persentase pasien keluar yang meninggal >48 jam perawatan (Net Death Rate/NDR).

16 Profil Kesehatan Indonesia 2010, Kementerian Kesehatan RI 17 Widaryanto, 2005

(42)

Public Expenditure Analysis Capacity and Strengthening Program

38

Tabel 2. Indikator Kinerja Rumah Sakit Umum Meureudu Tahun 2011 dan 2012

No Indikator Ideal 2011 2012

1 (Bed Occupancy Ratio = Angka BOR

penggunaan tempat tidur). 60-85 persen 11 persen 29 persen

2 (Length of Stay = Rata-rata LOS

lamanya pasien dirawat) 6-9 hari 3 Hari 5 Hari

3 (Net Death Rate = Angka NDR

kematian netto) < 25 per 1 ribu pasien keluar 14 orang 17 orang

4 (Turn Over Interval = Waktu TOI

Tenggang Perputaran) 1-3 hari 28 Hari 34 Hari

Sumber: RSUD Pidie Jaya, PECAPP, 2012

Tempat tidur yang tersedia belum tergunakan secara efisien. Turn Over Interval (TOI) adalah waktu rata-rata suatu tempat tidur kosong atau waktu antara satu tempat tidur ditinggalkan oleh pasien sampai ditempati lagi oleh pasien lain. Indikator ini memberikan gambaran tingkat efisiensi penggunaan tempat tidur. Idealnya tempat tidur kosong tidak terisi pada kisaran 1-3 hari.18 Pencapaian TOI RSUD Pidie Jaya cukup panjang mencapai 28 hari (2011) dan 34 hari pada tahun 2012.

Length of Stay (LOS) di RSUD Pidie Jaya telah mencapai target yang direncanakan. LOS adalah

rata-rata lama rawat seorang pasien. Indikator ini dapat memberikan gambaran tingkat efisiensi, juga dapat memberikan gambaran mutu pelayanan terutama dalam pelayanan medis, apabila diterapkan pada diagnosis tertentu dapat dijadikan hal yang memerlukan pengamatan lebih lanjut. Secara umum nilai LOS yang ideal antara 6-9 hari.19 LOS pada RSUD Pidie Jaya tahun 2012 adalah 5 hari yang menunjukkan kondisi yang ideal.

Tingkat Kematian Kasar (Gross Death Rate, GDR) dan Tingkat Kematian Netto (Net Death Rate, NDR)

RSUD Pidie Jaya cukup baik.20 Angka GDR di RSUD Pidie Jaya pada tahun 2011 adalah sebesar 19 per seribu yang bermakna cukup ideal. Kondisi yang sama juga terlihat untuk NDR di RSUD Pidie Jaya yang berjumlah 5,4 atau NDR mencapai nilai idealnya. Namun, jika dibandingkan dengan kondisi di rumah sakit lainnya di Aceh dengan NDR 1,7 dan GDR 3,0, maka diperlukan lebih banyak perbaikan di RSUD Pidie Jaya. Asumsinya, jika pasien meninggal setelah mendapat perawatan 48 jam berarti ada faktor pelayanan rumah sakit yang terlibat dengan kondisi meninggalnya pasien, namun jika pasien meninggal sebelum 48 jam masa perawatan, dianggap faktor keterlambatan pasien datang ke rumah sakit menjadi penyebab utama pasien meninggal.

18 Profil Kesehatan Indonesia 2010, Kementerian Kesehatan RI 19 Profil Kesehatan Indonesia 2010, Kementerian Kesehatan RI

20 Gross Death Rate (GDR) adalah angka kematian umum untuk setiap seribu penderita keluar dari rumah sakit, tidak melihat berapa lama pasien berada di

rumah sakit dari masuk sampai meninggal. Net Death Rate (NDR) adalah angka kematian pasien setelah dirawat > 48 jam per seribu pasien keluar. Nilai ideal GDR adalah < 45 dan NDR ideal adalah < 25 per 1 ribu pasien keluar.

(43)

Health Public Expenditure | Kabupaten Pidie Jaya 2014

39

2.2. Puskesmas

Dari sisi akses dan ketersediaan sarana kesehatan, Pidie Jaya mempunyai nilai terbaik di Aceh.21 Kabupaten Pidie Jaya bersama dengan Kabupaten Aceh Besar dan Kabupaten Aceh Barat Daya mempunyai jarak tempuh (akses) masyarakat ke Puskesmas atau Puskesmas Pembantu (Pustu) dan rasio Puskesmas per penduduk dengan nilai lebih baik dari rata-rata Aceh, sehingga memperoleh indeks tertinggi. Berbeda jauh dengan beberapa daerah lainnya seperti Kabupaten Simeulue dan Kota Subulusslam yang mempunyai indeks rendah. Hal ini merupakan kesempatan pembangunan kesehatan yang lebih baik di Pidie Jaya, Grafik 21.

Grafik 21. Indeks Sarana Kesehatan22

Rasio Puskesmas terhadap penduduk di Pidie Jaya lebih baik dari target nasional. Pada tahun 2012 rasio Puskesmas terhadap penduduk di Pidie Jaya adalah satu per 14 ribu, atau satu Puskesmas rata-rata melayani 14 ribu penduduk. Kondisi tersebut lebih baik dari target nasional, yaitu satu Puskesmas melayani 30 ribu penduduk, Grafik 22. Pada tahun 2013, Puskesmas Bandar Baru mengalami pemekaran, dimana Pustu Cubo menjadi Puskesmas sehingga membuat rasio di Puskesmas tersebut menjadi lebih baik dan melayani penduduk di bawah 30 ribu orang.

Jumlah Puskesmas di Pidie Jaya terus bertambah. Guna meningkatkan akses masyarakat terhadap sarana kesehatan, jumlah sarana kesehatan terus dibangun. Jumlah Puskesmas pada tahun 2008 adalah sembilan, meningkat menjadi sebelas di tahun 2013. Selain jumlah Puskesmas, jumlah Poskesdes/ Polindes juga terus mengalami penambahan. Secara umum untuk sarana kesehatan primer masyarakat, pada tahun 2013 di Pidie Jaya terdapat sebelas Puskesmas (lima rawat inap dan enam rawat jalan), 19 Pustu dan 95 Poskesdes.23

21 Indeks dihitung dengan menggunakan nilai standar jarak rata-rata dan rasio Puskesmas terhadap penduduk. Indeks diperoleh dari pembagian nilai sarana

di kabupaten/kota standar. Jika nilai diperoleh lebih rendah dari 1 (satu) maka digunakan hasil pembagian, sementara jika diatas 1 (satu), maka nilai 1 (satu) diberikan untuk setiap komponen.

22 Lihat Lampiran 8

23 Dalam analisis ini nantinya konsep Puskesmas akan dibahas adalah sepuluh Puskesmas yang datanya tersedia hingga tahun 2012.

(44)

Public Expenditure Analysis Capacity and Strengthening Program

40

Grafik 22. Rasio Puskesmas Terhadap Penduduk

Jarak rata-rata penduduk ke Puskesmas dan Pustu di Pidie Jaya cukup terjangkau. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kemudahan akses masyarakat ke sarana kesehatan cenderung baik. Jarak terjauh akumulatif masyarakat ke Puskesmas dan Pustu adalah 3 kilometer terdapat di Kecamatan Meureudu, sementara jarak terdekat di Kecamatan Jangka Buya. Daerah dengan jarak yang relatif jauh ke Puskesmas juga telah direspon dengan keberadaan Pustu, Grafik 23. Kondisi tersebut juga lebih baik dari jarak rata-rata penduduk di Aceh ke Puskesmas (4,9 kilometer) dan Pustu (4,5 kilometer).

Grafik 23. Jarak Tempuh ke Puskesmas dan Puskesmas Pembantu

Sumber: Dinkes Pidie Jaya, PECAPP

(45)

Health Public Expenditure | Kabupaten Pidie Jaya 2014

41

3. Situasi Derajat Kesehatan

Secara umum, Pidie Jaya memiliki gangguan kesehatan yang lebih tinggi dari daerah lain di Aceh.24 Penduduk yang mempunyai gangguan kesehatan di Pidie Jaya mencapai 48 persen. Jumlah ini terbilang cukup tinggi dibandingkan daerah lainnya di Aceh yang mempunyai angka rata-rata sebesar 31 persen. Namun, masyarakat yang kemudian melakukan upaya pengobatan terhadap sakitnya juga cukup tinggi mencapai 68 persen, Grafik 24. Beberapa kondisi yang melatarbelakangi keadaan tersebut adalah; tingkat keparahan penyakit, kesadaran masyarakat yang tinggi maupun akses yang relatif mudah dijangkau.

Grafik 24. Penduduk Dengan Keluhan Kesehatan dan Berobat Jalan

Sama dengan daerah lain di Aceh, Puskesmas merupakan tempat berobat paling diminati oleh masyarakat Pidie Jaya. Jumlah masyarakat yang berobat ke Puskesmas menduduki persentase tertinggi. Kondisi tersebut disebabkan kemudahan akses dari sisi sarana, biaya dan budaya masyarakat. Sementara itu, praktik paramedis (perawat dan bidan) merupakan tempat berobat dengan persentase tertinggi kedua, Grafik 25. Antusiasme masyarakat terhadap sarana kesehatan yang disediakan pemerintah, dalam hal ini Puskesmas, merupakan salah satu indikator bahwa tingkat kepercayaan masyarakat terhadap Puskesmas cukup baik.

24 BPS, Susenas 2011

(46)

Public Expenditure Analysis Capacity and Strengthening Program

42

Grafik 25. Sarana Berobat Jalan Masyarakat

1.1 Angka Kematian

Tingkat Angka Kematian Ibu (AKI) di Pidie Jaya adalah salah satu yang terbaik di Aceh. AKI merupakan salah satu indikator keberhasilan pembangunan kesehatan.25 Pada tahun 2012, AKI di Aceh mencapai 191 per 100 ribu Kelahiran Hidup (KH) atau hampir dua kematian ibu terjadi akibat proses kehamilan, persalinan dan masa nifas setiap seribu KH. AKI di Aceh cukup bervariasi dimana terdapat daerah yang AKI-nya sangat rendah, namun di sisi lain terdapat pula daerah dengan AKI yang sangat tinggi. Pidie Jaya menempati urutan ke empat terbaik di Aceh untuk AKI tahun 2012, Grafik 26. Angka tersebut merupakan jumlah kasus yang dilaporkan.

Grafik 26. Angka Kematian Ibu (per 100 ribu KH)

25 BPS: Angka Kematian Ibu adalah banyaknya kematian ibu karena faktor kehamilan dan persalinan serta masa nifas. Kematian ibu tersebut terjadi pada

saat hamil atau selama 42 hari sejak terminasi kehamilan tanpa memandang lama dan tempat persalinan, yang disebabkan karena kehamilannya atau penge-lolaannya, dan bukan karena sebab-sebab lain

Sumber: BPS (Susenas), PECAPP

(47)

Health Public Expenditure | Kabupaten Pidie Jaya 2014

43

AKI di Pidie Jaya cenderung semakin membaik. AKI maternal pada tahun 2008 adalah 179 per 100 ribu KH, Grafik 27. Pada tahun 2012, AKI di Pidie Jaya menurun menjadi 115 per 100 ribu KH. Kematian ibu di Pidie Jaya didominasi akibat kematian ibu ketika menjalani proses persalinan. Dalam dua tahun pengamatan kematian ibu paling banyak terjadi di Kecamatan Blang Kuta dengan AKI 429 per 100 ribu KH dan di Kecamatan Jangka Buya dengan AKI 289 per 100 ribu KH. AKI tinggi dikarenakan jumlah KH di kecamatan tersebut terbilang rendah, jika dibandingkan dengan kelahiran hidup di kecamatan yang lain. Pola ini perlu dianalisis lebih lanjut mengingat kehandalan data yang masih menjadi tantangan utama di Pidie Jaya.

Grafik 27. Angka Kematian Ibu di Pidie Jaya

Angka Kematian Bayi (AKB) di Pidie Jaya menurun.26 Pada tahun 2011 di Kabupaten Pidie Jaya terjadi 21 kematian bayi dari 3.044 jumlah Lahir Hidup (LH), atau dari seribu bayi lahir hidup terdapat 6 sampai 7 bayi yang meninggal dalam setahun. Penurunan AKB dari tahun 2009 hingga 2011 menunjukkan perbaikan yang cukup signifikan, memberikan kesan upaya kesehatan yang berhubungan dengan upaya menurunkan AKB cukup berhasil. Namun, AKB kembali meningkat pada tahun 2012 menjadi 9 per seribu LH, Grafik 28. Meskipun angka ini lebih rendah dari target yang ditetapkan secara nasional yaitu 32 per seribu LH maupun pencapaian AKB Aceh tahun 2012 yaitu 10,8 per seribu LH, peningkatan pada tahun 2012 menunjukkan perlunya upaya penurunan AKB untuk mencapai angka yang lebih baik di masa mendatang.

26 Infant Mortality Rate (IMR) atau Angka Kematian Bayi (AKB) adalah banyaknya bayi yang meninggal sebelum mencapai usia 1 tahun pada tahun yang sama,

dinyatakan dalam seribu Lahir Hidup (LH).

(48)

Public Expenditure Analysis Capacity and Strengthening Program

44

Grafik 28. Angka Kematian Bayi per Seribu Lahir Hidup (LH)

Indeks angka kematian di Pidie Jaya lebih baik dibandingkan daerah lain di Aceh. Dengan menggunakan standar angka kematian (ibu, bayi dan Balita) di Aceh, diketahui bahwa Kabupaten Simeulue adalah daerah dengan nilai indeks terendah. Terdapat tujuh daerah dengan pencapaian seluruh angka kematian yang lebih baik dari rata-rata Aceh sehingga memperoleh nilai maksimum, Grafik 29.

Grafik 29. Indeks Angka Kematian Ibu, Bayi dan Balita27

27 Infant Mortality Rate (IMR) atau Angka Kematian Bayi (AKB) adalah banyaknya bayi yang meninggal sebelum mencapai usia 1 tahun pada tahun yang sama,

dinyatakan dalam seribu Lahir Hidup (LH).

Sumber: Dinkes Aceh, Dinkes Pidie Jaya, PECAPP

(49)

Health Public Expenditure | Kabupaten Pidie Jaya 2014

45

Jumlah belanja kesehatan di Pidie Jaya terhadap pencapaian pembangunan kesehatan cenderung baik. Pidie Jaya termasuk dalam kuadran tiga, atau daerah dengan jumlah belanja kesehatan perkapita yang relatif lebih kecil dari rata-rata Aceh, namun memiliki indeks angka kematian yang lebih baik dari Aceh. Meskipun Pidie Jaya mempunyai belanja kesehatan yang relatif lebih efektif, namun terdapat daerah dengan belanja yang lebih kecil dari Pidie Jaya dan indeks angka kematian yang hampir sama seperti Kabupaten Aceh Timur, Kabupaten Aceh Besar, Kabupaten Aceh Utara dan Kota Banda Aceh, Grafik 30.

Grafik 30. Indeks Angka Kematian Terhadap Belanja Kesehatan Perkapita

3.2. Gizi

Jumlah Balita ditimbang di Pidie Jaya sebagai pintu masuk penjaringan Balita yang mengalami masalah kesehatan, terutama gizi, lebih baik dari Aceh. Cakupan Balita ditimbang terhadap keseluruhan Balita yang ada (D/S) di Provinsi Aceh tahun 2012 sebesar 54 persen. Pidie Jaya pada tahun 2012 mempunyai persentase yang lebih baik yakni 77 persen, meningkat dari tahun 2011 yang hanya berjumlah 63 persen. Jumlah tersebut juga lebih baik jika dibandingkan target nasional yakni 70 persen. Balita yang ditimbang merupakan salah satu upaya yang strategis mengingat pencapaiannya menentukan penjaringan kondisi gizi Balita. Semakin rendah pencapaian Balita ditimbang maka jumlah Balita yang terdeteksi status gizinya juga akan menurun, demikian pula sebaliknya.

Jumlah Balita dengan kondisi gizi di Bawah Garis Merah (BGM) merupakan masalah di Pidie Jaya.28 Di Kabupaten Pidie Jaya pada tahun 2012 jumlah dan persentase Balita BGM mengalami peningkatan dari tahun 2011 yang berjumlah hanya tiga persen. Kondisi tersebut juga menempatkan Pidie Jaya sebagai daerah dengan angka Balita BGM tertinggi kedua di Aceh, Grafik 31. Walaupun penemuan kasus Balita BGM bukan berarti seorang Balita telah menderita gizi buruk, namun ukuran BGM dapat memberikan sinyal bahaya terhadap potensi Balita dengan gizi buruk yang semakin besar.

28 Berat Badan yang berada di Bawah Garis Merah (BGM) pada Kartu Menuju Sehat (KMS) merupakan perkiraan untuk menilai seseorang menderita gizi buruk.

(50)

Public Expenditure Analysis Capacity and Strengthening Program

46

Grafik 31. Persentase Balita Ditimbang Terhadap Balita BGM

Pencapaian indikator gizi merupakan tantangan di Pidie Jaya. Kabupaten Aceh Tengah bersama dengan tiga daerah lainnya merupakan kabupaten dengan pencapaian indikator gizi yang lebih baik dari rata-rata Aceh. Dibandingkan dengan daerah lainnya di Aceh, pencapaian indeks indikator gizi di Pidie Jaya menempati urutan dua terendah di Aceh. Tantangan tersebut adalah pada komponen Balita BGM yang cukup tinggi, Grafik 32.

Grafik 32. Indeks Indikator Gizi29

29 Lihat Lampiran 10.

Sumber: Dinkes Aceh, Dinkes Pidie Jaya, PECAPP

Gambar

Grafik 2. Piramida Penduduk Kabupaten Pidie Jaya Tahun 2012
Grafik 4. Penerimaan Daerah Pidie Jaya
Grafik 8. Belanja Perkapita Kesehatan Tahun 2013 di Aceh
Grafik 10. Belanja Kesehatan Berdasarkan Kegunaan 9
+7

Referensi

Dokumen terkait

Screening pribadi (kecil) film pendek partisipatoris karya siswa-siswi SD N Punung 1 bersama siswa- siswi SD N Punung 1 di poskoKKN Desa Punung Rapat pembubaran panitia rontek

Uji validitas instrumen dalam penelitian ini digunakan untuk mengukur tingkat motivasi siswa dan menguji instrumen tiap item soal yang nantinya akan digunakan untuk

Berdasarkan pada kondisi tersebut, maka diperlukan adanya perencanaan suatu konstruksi pengendali sedimen ( check dam ) untuk mengurangi sedimentasi yang terjadi di

Penelitian ini menggunakan penelitian observasional analitik dengan desain cross sectional yang dilakukan pada 46 murid di SMP Negeri 8 Surakarta, sampel diambil

Subrogasi atau subrogation pada prinsipnya merupakan hak penanggung, yang telah Subrogasi atau subrogation pada prinsipnya merupakan hak penanggung, yang

Mengingat kondisi perusahaan yang tidak memungkinkan bila harus menambah sebuah server dan harddisk baru untuk keperluan logging misalnya, maka assessor harus mengajukan solusi

Presentasi kelompok ditinjau dari: teknik penyajian, cara menanggapi Melakukan pengkajian dan penelusuran sumber-sumber yang terkait dengan sejarah perkembangan

Dengan hormat kami beritahukan bahwa, dalam rangka melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai lembaga yang berperan untuk meningkatkan mutu pendidik dan tenaga kependidikan,