2 TINJAUAN PUSTAKA
2. Stategi Pengembangan Wilayah
Strategi pengembangan wilayah dirumuskan berdasarkan hasil analisis A’WOT. Namun sebelum perumusan strategi pengembangan, perlu dilakukan analisis persepsi stakeholder untuk melihat faktor-faktor yang mempengaruhi
pengembangan sayuran di Kabupaten Batang. Kedua analisis tersebut menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) untuk memberikan bobot masing-masing kriteria, faktor dan sub faktor.
Analisis Persepsi Stakeholder
Analisis persepsi stakeholder digunakan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan sayuran di Kabupatern Batang. Analisis ini menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) yang disampaikan
kepada para responden untuk memberikan bobot masing-masing kriteria dan faktor. Menurut Marimin (2008), beberapa prinsip dasar kerja AHP dapat dijabarkan sebagai berikut :
22
1) Penyusunan Hierarki
Persoalan yang akan diselesaikan diuraikan menjadi unsur-unsurnya dan setiap unsur kemudian diuraikan menjadi beberapa kriteria dari unsur yang bersangkutan untuk selanjutnya disusun menjadi struktur hierarki.
2) Penilaian Kriteria
Kriteria dinilai melalui perbandingan berpasangan. Dalam menentukan tingkat kepentingan (bobot) dari elemen keputusan, penilaian pendapat dilakukan dengan menggunakan fungsi berpikir dan dikombinasikan dengan intuisi, perasaan, penginderaan dan pengetahuan. Penilaian pendapat ini dilakukan dengan perbandingan berpasangan yaitu membandingkan setiap elemen dengan elemen lainnya pada setiap tingkatan hierarki secara berpasangan.
Perbandingan didasarkan pada penilaian (judgement) dari para pengambil keputusan dengan memberikan penilaian tingkat kepentingan satu elemen dibandingkan dengan elemen lainnya. Perbandingan sesuai tingkat kepentingan secara berpasangan dilakukan dengan kuantifikasi atas data kualitatif pada materi wawancara atau melalui kuesioner dengan nilai komparasi/ pembobotan antara nilai 1 sampai 9 (Tabel 4). Skala 1 sampai dengan 9 merupakan skala yang terbaik dalam mengkuantifikasikan pendapat (penilaian), yaitu berdasarkan akurasinya yang ditunjukkan dengan nilai RMSD (Root Mean Square Deviation) dan MAD
(Median Absolute Deviation). Selengkapnya sebagaimana Tabel 5 (Saaty, 1993).
Tabel 4. Skala banding secara berpasangan dalam AHP
Tingkat
Kepentingan Keterangan Penjelasan
1 Kedua elemen sama pentingnya Dua elemen mempunyai pengaruh yang sama terhadap tujuan
3 Elemen yang satu sedikit lebih penting daripada elemen yang lainnya
Pengalaman dan penilaian sangat kuat mendukung satu elemen dibanding dengan elemen lainnya
5 Elemen yang satu lebih penting daripada elemen yang lainnya
Pengalaman dan penilaian sangat kuat mendukung satu elemen dibanding dengan elemen lainnya
7 Elemen yang satu jelas lebih penting daripada elemen yang lainnya
Satu elemen dengan kuat didukung dan dominan terlihat dalam praktek 9 Elemen yang satu mutlak lebih
penting daripada elemen yang lain
Bukti yang mendukung elemen yang satu terhadap yang lain memiliki tingkat penegasan tertinggi yang mungkin menguatkan
2,4,6,8 - Nilai-nilai antara dua nilai pertimbangan yang berdekatan
3) Nilai-nilai perbandingan yang telah dilakukan harus diperoleh tingkat konsistensinya. Misalnya bila dalam melakukan perbandingan, hasil yang didapat A>B dan B>C, maka secara logis seharusnya A>C. Untuk menghitung tingkat konsistensi ini digunakan rumus consistency ratio.
4) Penyusunan matriks gabungan, pengolahan vertikal dan penentuan vektor prioritas sistem. Setelah consistency ratio terpenuhi, dilakukan penyusunan
matriks gabungan responden. Selanjutnya dilakukan pengolahan vertikal dan penentuan vektor prioritas sistem.
Gambar 4. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan sayuran Dalam penelitian ini faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pengembangan sayuran disusun dalam bentuk kuisioner. Faktor tersebut merupakan hasil dari penggalian kuisioner pendahuluan yang diperkuat dengan berbagai referensi mengenai pengembangan sayuran. Selanjutnya untuk mengetahui faktor yang paling berpengaruh, maka faktor tersebut disusun dalam bentuk hierarki dan diberikan bobot sesuai dengan persepsi masing-masing responden. Hasil yang diperoleh dari analisis ini menjadi bagian dalam pertimbangan penyusunan strategi pengembangan wilayah berbasis sayuran unggulan. Struktur hierarki dari faktor yang berpengaruh terhadap pengembangan hortikultura sayuran disajikan pada Gambar 4.
Perumusan Strategi Pengembangan Wilayah Berbasis Sayuran Unggulan Strategi pengembangan wilayah berbasis sayuran unggulan di Kabupaten Batang dilakukan dengan menggunakan analisis A’WOT. A’WOT merupakan kombinasi dari metode AHP (Analytical Hierarchy Process) dan SWOT (Strengths, Weakness, Opportunities, Threats). Metode A’WOT yang diterapkan
dalam penelitian ini menggunakan AHP untuk melakukan pembobotan dalam analisis SWOT. Tujuannya adalah untuk mengurangi subyektivitas penilaian terhadap faktor-faktor internal dan eksternal, baik menyangkut kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman (SWOT) dalam pengambilan keputusan strategi. Pelaksanaan analisis A’WOT melalui beberapa tahapan analisis diawali dengan pengumpulan data melalui survei dan wawancara (kuesioner pertama). Data yang diperoleh dikerucutkan dari semua jawaban responden, baik data internal (kekuatan dan kelemahan) maupun data eksternal (peluang dan ancaman). Data internal dan eksternal dijadikan bahan untuk kuesioner kedua, yaitu untuk mendapatkan bobot dan pengaruh rating masing-masing skor SWOT, dimana bobot didapat dari AHP. Selanjutnya dilakukan analisis faktor strategi internal (IFAS) dan eksternal (EFAS), analisis matriks internal-eksternal (IE), analisis matriks space dan tahap pengambilan keputusan dengan analisis SWOT.
1) Analisis Faktor Strategi Internal dan Eksternal
Analisis faktor strategi Internal dan Eksternal dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor kekuatan, peluang dan ancaman yang menentukan strategi
Pengembangan Hortikultura Sayuran di Kabupaten Batang
Lahan Pasar SDM Modal Teknologi
1. Kesesuaian lahan 2. Ketersediaan lahan 3. Kepemilikan lahan 1.Stabilitas harga 2.Strategi pemasaran 3.Akses pasar 4.efisiensi rantai pasar 1. Tehnologi budidaya 2. Tehnologi pasca panen 3. Penggunaan benih bermutu 4. Sarana dan prasarana produksi 1. Ketersediaan tenaga kerja 2. Keterampilan tehnis dan budidaya 3. Tingkat pendidikan 1. Akses modal ke perbankan 2. Bantuan pemerintah 3. Bantuan modal CSR/Swasta 4. Sistem ijon Kelembagaan 1. Pembinaan kelompok 2. Penguatan kelembagaan koperasi dan kemitraan usaha 3. Dukungan regulasi/ kebijakan
24
pengembangan wilayah di Kabupaten Batang. Analisis faktor strategi Internal dan Eksternal menjadi pertimbangan penting dalam merumuskan strategi untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
Analisis Faktor Strategi Internal
Analisis ini dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor kekuatan dan kelemahan yang menentukan strategi pengembangan wilayah di Kabupaten Batang. Bagian analisis ini adalah membuat matriks Internal Strategic Factor Analysis Summary (IFAS) yang ditunjukan pada Tabel 5.
Tabel 5. Internal Strategic Factor Analysis Summary (IFAS)
Faktor-faktor Strategi Internal Bobot Pengaruh Skor Kekuatan : 1. ……… 2. ……… 3. dst Kelemahan : 1. ……….. 2. ……….. 3. dst Total 1,00
Langkah-langkah penyusunan matriks Internal Strategic Factor Analysis Summary (IFAS) sebagai berikut :
a. Menyusun faktor-faktor kekuatan dan kelemahan sebanyak 5 sampai 10 faktor yang menentukan strategi pengembangan wilayah berbasis hortikultura sayuran. b. Memasukkan bobot masing-masing faktor kekuatan dan kelemahan dari analisis AHP yang merupakan gabungan persepsi semua responden setelah dikalikan setengah, sehingga jumlah bobot sama dengan satu.
c. Memasukkan nilai rating (pengaruh) dari masing-masing faktor kekuatan dan kelemahan dengan memberi skala 4 (sangat kuat) sampai dengan 1 (sangat lemah). Nilai rating disini merupakan hasil pembulatan dari nilai rata-rata semua responden.
d. Langkah selanjutnya adalah menjumlahkan total skor untuk memperoleh nilai jumlah skor dari faktor internal. Nilai jumlah skor ini akan digunakan dalam analisis matriks internal eksternal.
Analisis Faktor Strategi Eksternal
Analisis Faktor Strategi Eksternal dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor peluang dan ancaman yang menentukan strategi pengembangan wilayah Kabupaten Batang. Bagian analisis ini adalah membuat matriks External Strategic Factor Analysis Summary (EFAS) yang ditunjukkan pada Tabel 6.
Tabel 6. External Strategic Factor Analysis Summary (EFAS)
Faktor-faktor Strategi Internal Bobot Pengaruh Skor Kekuatan : 1. ……… 2. ……… 3. dst Ancaman : 1. ……….. 2. ……….. 3. dst Total 1,00
Langkah-langkah penyusunan matriks External Strategic Factor Analysis Summary (EFAS) sebagai berikut :
a. Menyusun faktor-faktor kekuatan dan kelemahan sebanyak 5 sampai 10 faktor yang menentukan strategi pengembangan wilayah berbasis hortikultura sayuran. b. Memasukkan bobot masing-masing faktor peluang dan ancaman dari analisis AHP yang merupakan gabungan persepsi semua responden setelah dikalikan setengah, sehingga jumlah bobot sama dengan satu.
c. Memasukkan nilai rating (pengaruh) dari masing-masing faktor kekuatan dan kelemahan dengan memberi skala 4 (sangat kuat) sampai dengan 1 (sangat lemah). Nilai rating disini merupakan hasil pembulatan dari nilai rata-rata semua responden.
d. Langkah selanjutnya adalah menjumlahkan total skor untuk memperoleh nilai jumlah skor dari faktor internal. Nilai jumlah skor ini akan digunakan dalam analisis matriks internal eksternal.
Analisis Matriks Space
Matriks Space berfungsi untuk mempertajam strategi yang akan diambil dalam strategi pengembangan wilayah di Kabupaten Batang. Menurut Rangkuti (2009), matriks space digunakan untuk mengetahui posisi dan arah perkembangan
selanjutnya suatu pengusahaan. Parameter yang digunakan dalam analisis ini adalah selisih dari skor faktor internal (kekuatan-kelemahan) dan selisih dari skor faktor eksternal (peluang-ancaman).
Marimin (2008) mengemukakan posisi pengusahaan dapat dikelompokkan ke dalam empat kuadran, seperti ditunjukkan pada Gambar 5 dimana :
a. Kuadran I, menandakan posisi sangat menguntungkan, dimana pengusahaan memiliki kekuatan dan peluang sehingga dapat memanfaatkan peluang tersebut dengan menerapkan strategi pertumbuhan yang agresif.
b. Kuadran II, menunjukkan pengusahaan menghadapi berbagai ancaman, namun masih mempunyai kekuatan, sehingga strategi yang diterapkan adalah menggunakan kekuatan untuk memanfaatkan peluang jangka panjang dengan strategi diversifikasi.
c. Kuadran III, pada kuadran ini pengusahaan mempunyai peluang yang sangat besar, namun di sisi lain mempunyai kelemahan internal. Menghadapi situasi
26
ini pengusahaan harus berusaha meminimalkan masalah-masalah internal untuk dapat merebut peluang pasar.
d. Kuadran IV, menunjukkan pengusahaan berada pada situasi yang tidak menguntungkan, karena disamping menghadapi ancaman juga menghadapi kelemahan internal. Berbagai Peluang Kelemahan Internal Kuadran III Strategi Turn-Around Kuadran I Strategi Agresif Kekuatan Internal Kuadran IV Strategi Defensif Kuadran II Strategi Diversifikasi Berbagai Ancaman
Gambar 5. Matrik Space
Analisis SWOT
Analisis SWOT adalah identifikasi berbagai faktor secara sistematis untuk merumuskan strategi perusahaan. Analisis ini didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan dan peluang, namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan dan ancaman. Proses pengambilan keputusan strategis selalu berkaitan dengan pengembangan misi, tujuan, strategi dan kebijakan perusahaan. Dengan demikian perencanaan strategis (strategic planner) harus menganalisis faktor-faktor strategis (kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman) dalam kondisi saat ini (Rangkuti, 2009).
Analisis SWOT membandingkan antara faktor eksternal peluang dan ancaman dengan faktor internal kekuatan dan kelemahan sehingga dari analisis tersebut dapat diambil suatu keputusan strategi (Marimin, 2008). Untuk memperoleh gambaran secara jelas, analisis SWOT menggunakan matriks yang tertera pada Tabel 7.
Analisis ini menghasilkan 4 (empat) set kemungkinan alternatif dari suatu strategi, yaitu :
a. Strategi SO, strategi yang dibuat dengan memanfaatkan seluruh kekuatan untuk merebut dan memanfaatkan peluang yang sebesar-besarnya.
b. Strategi ST, strategi dalam menggunakan kekuatan yang dimiliki untuk mengatasi ancaman yang mungkin timbul
c. Strategi WO, strategi yang diterapkan berdasarkan pemanfaatan peluang dengan cara meminimalkan kelemahan.
d. Strategi WT, strategi ini didasari pada kegiatan yang bersifat defensif dan berusaha meminimalkan kelemahan serta menghindari ancaman.