• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. ANALISIS DAN PEMBAHASAN

A. Deskriptif Data

2. Statistik Deskriptif

Pada Tabel IV.2 di bawah ini dijelaskan statistik deskriptif dari variabel

dependen penelitian. Informasi mengenai statistik deskriptif tersebut meliputi:

nilai minimum, maksimum, rerata (mean), dan standar deviasi yang dihitung

dengan menggunakan alat bantu statistik SPSS release 16. Hasil dari perhitungan

tersebut ditampilkan pada Tabel IV.2 berikut:

5 Bank yang dihapus dari sampel yaitu Bank Agroniaga, Bank Artha Graha Internasional, Bank Eksekutif Internasional, Bank Nusantara Parahyangan dan Bank Windu Kentjana Internasional (Bank Multicor).

commit to user Tabel IV.2

Statistik Deskriptif Financial Risk Disclosure

Tahun Minimum Maximum Mean Std. Deviation

2007 0,188 0,781 0,459 0,162

2008 0,250 0,844 0,469 0,149

2009 0,188 0,844 0,466 0,183

Total 0,208 0,823 0,465 0,165

Dari hasil statistik deskriptif di atas, dapat diketahui bahwa rerata

perusahaan mengungkapkan item financial risk adalah sebesar 46,500%. Hasil

tersebut mengindikasikan bahwa tingkat financial risk disclosure pada perbankan

di Indonesia masih rendah, mengingat financial risk disclosure merupakan salah

satu pengungkapan wajib yang diharuskan oleh PSAK No. 31 (revisi 2000), PBI

Nomor: 5/8/PBI/2003, PSAK No. 50 (Revisi 2006) dan P3LKEPPBANK (2008).

Rendahnya tingkat financial risk disclosure menunjukkan kurangnya

penerapan prinsip corporate governance (lihat bab II, hal. 21) oleh perbankan di

Indonesia. Pihak manajemen bank sebagai penyedia informasi enggan untuk

memperluas pengungkapan risiko serta pengaruhnya pada perusahaan di masa

depan dalam annual report (Devilin, 2009). Maraknya pemberitaan kasus Bank

Century sebagai bank gagal yang berdampak sistemik beberapa tahun lalu

merupakan bukti lemahnya penerapan prinsip corporate governance oleh dewan

komisaris dan dewan direksi. Dewan direksi tidak melaksanakan kewajibannya

sesuai pasal 32, PBI Nomor: 8/4/PBI/2006 untuk menyediakan data dan informasi

yang akurat, relevan dan tepat waktu kepada dewan komisaris. Dewan komisaris

yang merupakan inti dari corporate governance seharusnya dapat menjamin

pelaksanaan strategi perusahaan, mengawasi manajemen dalam mengelola

commit to user

dalam kasus Bank Century fungsi dewan komisaris tersebut tidak dilaksanakan

dengan baik, terbukti dengan pemecatan dan penjatuhan hukuman kepada

komisaris utama Bank Century (http://www.tempointeraktif.com, 2009). Bank

Indonesia selaku regulator belum membuat regulasi yang memadai dan spesifik

mengenai apa saja yang harus diungkapkan dalam annual report juga menjadi

salah satu penyebab rendahnya tingkat disclosure termasuk financial risk

disclosure pada perbankan di Indonesia.

Pada tahun 2007, rerata tingkat financial risk disclosure sebesar 45,900%,

angka ini paling rendah jika dibandingkan dengan tahun-tahun lainnya. Tingkat

pengungkapan paling tinggi dilakukan Bank CIMB Niaga dengan tingkat

pengungkapan sebesar 78,100%. Sebaliknya, tingkat pengungkapan paling rendah

dilakukan oleh Bank Kesawan dengan tingkat pengungkapan sebesar 18,800%.

Bank Bukopin melakukan financial risk disclosure paling tinggi untuk tahun

2008, yaitu sebesar 84,400%. Pengungkapan paling rendah dilakukan oleh Bank

OCB NISP sebesar 25,000%. Angka tersebut jauh dibawah rerata tingkat financial

risk disclosure pada tahun 2008 sebesar 46,900%.

Tabel IV.2 menunjukan rerata tingkat financial risk disclosure untuk tahun

2009 sebesar 46,600%. Untuk tahun ini, Bank Negara Indonesia melakukan

financial risk disclosure tertinggi dengan tingkat pengungkapan sebesar 84,400%. Tingkat financial risk disclosure terendah sebesar 18,800% dilakukan oleh Bank

Himpunan Saudara 1906.

Berdasarkan data selama tiga tahun tersebut, dapat dijelaskan bahwa terjadi

commit to user

sebesar 1,000%. Tingkat financial risk disclosure tidak mengalami perubahan

untuk tahun 2008 ke tahun 2009, tetap berada pada skor 46,600%. Selain itu,

dapat disimpulkan juga, bank dengan tingkat kepatuhan pengungkapan tertinggi

untuk tahun 2007 yaitu Bank CIMB Niaga, untuk tahun 2008 Bank Bukopin dan

Bank Negara Indonesia untuk tahun 2009. Hal itu menunjukkan bahwa bank

tersebut sudah mengungkapkan financial risk lebih tinggi dibandingkan dengan

bank sampel lainnya. Item-item financial risk telah diungkapkan secara spesifik

dalam annual report, tetapi tingkat pengungkapan yang dilakukan belum sesuai

dengan PBI Nomor: 5/8/PBI/2003 dan Lampiran Surat Edaran Bank Indonesia

No.5/21/DPNP/2003. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa financial risk

disclosure oleh perbankan di Indonesia belum mencerminkan tingkat kepatuhan yang baik dan memadai karena tidak diungkapkan secara keseluruhan (pada

tingkat pengungkapan sebesar 100,000%) mengingat financial risk disclosure

merupakan salah satu pengungkapan wajib yang harus dilakukan oleh perbankan

(lihat bab II, hal. 15). Contoh financial risk disclosure yang dilakukan secara

spesifik oleh Bank Negara Indonesia tahun 2009 untuk risiko tingkat suku bunga:

“Risk and Capital Committee BNI yang beranggotakan Direksi dan beberapa anggota manajemen senior, bertanggung jawab untuk menetapkan, melaksanakan serta menjaga kebijakan pengelolaan risiko tingkat suku bunga sesuai dengan pedoman umum BNI” (AR Bank BNI, 2009: 141).

Selanjutnya, bank dengan tingkat kepatuhan terendah untuk tahun 2007

yaitu Bank Kesawan, tahun 2008 Bank OCB NISP dan Bank Himpunan Saudara

untuk tahun 2009. Secara keseluruhan, rendahnya tingkat pengungkapan yang

commit to user

pasar dalam annual report tidak dilakukan secara spesifik untuk risiko suku bunga

maupun risiko nilai tukar. Seperti yang diungkapkan dalam annual report Bank

OCB NISP tahun 2008, yaitu:

“Direksi menetapkan limit risiko pasar berdasarkan risk appetite bank dengan mendapatkan persetujuan Dewan Komisaris. Guna memastikan penerapan limit maka bank melakukan pemantauan melalui mekanisme pengendalian dan peninjauan” (AR Bank OCB NISP, 2008: 93).

Financial risk disclosure dalam penelitian ini diperoleh dengan membagi skor total pengungkapan financial risk yang dilakukan perusahaan dengan jumlah

pengungkapan yang diwajibkan (lihat bab III, hal. 42). Risiko yang termasuk

dalam financial risk meliputi: (1) Risiko Kredit, (2) Risiko Pasar yang dibagi

menjadi risiko suku bunga dan risiko nilai tukar, dan (3) Risiko Likuiditas (PBI

Nomor: 5/8/PBI/2003). Berdasarkan Lampiran Surat Edaran Bank Indonesia

No.5/21/DPNP/2003, terdapat 8 item yang wajib diterapkan untuk masing-masing

jenis risiko. Item untuk masing-masing jenis risiko dapat dilihat pada lampiran I.

Gambar IV.1

commit to user

Gambar IV.1 menunjukkan grafik mengenai financial risk disclosure yang

dilakukan oleh perbankan selama tahun 2007, 2008, dan 2009 dalam tingkat

persentase. Dari gambar tersebut dapat diketahui bahwa risiko kredit merupakan

risiko yang paling banyak diungkapkan oleh perusahaan selama tiga tahun

berturut-turut. Meskipun terlihat fluktuatif, rerata tingkat pengungkapan risiko

kredit berkisar pada tingkat 80,000% setiap tahunnya. Tingkat kepatuhan

pengungkapan selanjutnya diikuti oleh risiko likuiditas dengan rerata tingkat

pengungkapan sekitar 60,000% setiap tahunnya. Financial risk disclosure dengan

tingkat terendah ditempati oleh risiko pasar-suku bunga dan risiko pasar-nilai

tukar. Selama tiga tahun berturut-turut, tingkat pengungkapan risiko pasar selalu

berada dibawah 40,000% bahkan untuk risiko pasar-nilai tukar tingkat

pengungkapan selalu berada dibawah 20,000% setiap tahunnya. Pengungkapan

risiko untuk kedua risiko ini dinilai sangat kurang. Hal ini terjadi karena sebagian

besar perusahaan mengungkapkan risiko tersebut tidak secara spesifik dengan

memisahkan antara keduanya. Pengungkapan risiko suku bunga dan risiko nilai

tukar dilakukan secara general pada bagian pengungkapan risiko pasar. Hal

tersebut tidak sesuai dengan PBI Nomor: 5/8/PBI/2003, Lampiran Surat Edaran

Bank Indonesia No.5/21/DPNP/2003, PSAK No. 50 (revisi 2006), dan

P3LKEPPBANK (2008) yang sudah memisahkan antara risiko pasar-suku bunga

dengan risiko pasar-nilai tukar.

Rendahnya tingkat financial risk disclosure, menyebabkan terjadinya

commit to user

penabung dan pemerintah terhadap kinerja perusahaan. Hal tersebut menjadi salah

satu penyebab maraknya kasus kejahatan bank yang terjadi di Indonesia.

Untuk statistik deskriptif dari variabel independen penelitian akan dijelaskan

pada Tabel IV.3 di bawah ini.

Tabel IV.3

Statistik Deskriptif Variabel Independen

N Minimum Maximum Mean Std. Deviation

BSIZE 60 1,000 8,000 5,070 1,947 RPTDK (kali/tahun) 60 3,000 51,000 15,780 13,795 KKI (%) 60 42,860 100,000 59,415 10,949 KKAI (%) 60 33,333 100,000 60,309 10,887 RPTKA (kali/tahun) 60 1,000 50,000 13,550 10,879 LEV (%) 60 3,750 16,530 9,122 2,966 Profitabilitas (ROE) 60 -0,780 26,810 11,069 7,109 Valid N (listwise) 60

Abeysekera (2008) mengungkapkan bahwa jumlah dewan komisaris

dinilai efektif berada pada rentang lebih dari 5 orang dan kurang dari 14 orang.

Menurut Muntoro (2006) penentuan jumlah dewan komisaris yang dinilai efektif

perlu mempertimbangkan beberapa hal yaitu: 1) ukuran dewan direksi; 2) industri

dan jenis keahlian yang dibutuhkan; 3) overall risk yang dihadapi; dan 4) komite

yang ada, sehingga jumlah dewan komisaris yang dinilai efektif bagi perusahaan

akan berbeda. Berdasarkan data di atas, rerata jumlah dewan komisaris berada

pada jumlah 5 orang. Jumlah dewan komisaris paling sedikit dimiliki oleh Bank

Kesawan, hanya berjumlah 1 orang pada tahun 2007, dan meningkat menjadi 2

orang pada tahun 2008 dan 2009. Hal tersebut menunjukkan kurangnya

pelaksanaan corporate governance pada Bank Kesawan yang selanjutnya

commit to user

Bank Kesawan melakukan financial risk disclosure lebih sedikit dibandingkan

dengan bank yang memiliki jumlah dewan komisaris lebih banyak. Ada beberapa

perusahaan yang memiliki jumlah dewan komisaris yang paling banyak, sebanyak

8 orang. Ada 2 perusahaan yang selama 3 tahun berturut-turut memiliki 8 orang

anggota dewan komisaris, yaitu Bank OCBC NISP dan Bank Permata. Bank

Internasional Indonesia memiliki 8 orang anggota dewan komisaris hanya pada

tahun 2007 saja dan Bank Danamon pada tahun 2008 dan 2009.

Dalam melaksanakan tugasnya, menurut PBI Nomor: 8/14/PBI/2006 dewan

komisaris wajib menyelenggarakan rapat secara berkala sekurang-kurangnya

empat kali dalam setahun. Tabel IV.3 menunjukkan bahwa rerata frekuensi rapat

dewan komisaris pada perbankan di Indonesia sudah sesuai dengan ketentuan

yang berlaku, yaitu sebesar 15,780 atau sebanyak 16 kali dalam setahun atau

dengan kata lain telah melebihi jumlah rapat minimum yang harus

diselenggarakan. Namun, terdapat dua perusahaan yang menyelenggarakan rapat

tiga kali dalam setahun atau dibawah ketentuan yang berlaku yaitu Bank CIMB

Niaga pada tahun 2008 dan Bank Kesawan secara tiga tahun berturut-turut (tahun

2007-2009). Bank CIMB Niaga dan Bank Kesawan yang memiliki jumlah rapat

dewan komisaris lebih rendah ternyata mengungkapkan financial risk lebih sedikit

dibandingkan Bank Negara Indonesia yang memiliki jumlah rapat dewan

komisaris terbanyak selama dua tahun berturut-turut sejumlah 51 kali.

Rerata komposisi komisaris independen adalah 59,415%. Berdasarkan pasal

5, PBI Nomor: 8/14/PBI/2006 yang menetapkan bahwa komposisi komisaris

commit to user

komisaris, maka komposisi komisaris independen pada perbankan Indonesia dapat

dikategorikan baik. Komisaris independen seharusnya memiliki peran penting

dalam financial risk disclosure karena komisaris independen adalah seseorang

yang independen dari posisi manajemen eksekutif atau fungsi manajemen lainnya

dalam perusahaan (lihat bab II, hal. 25), sehingga proses pengawasan terhadap

kinerja manajemen, termasuk dalam hal pengungkapan financial risk akan bersifat

independen atau semata-mata demi kepentingan perusahaan.

Perusahaan yang mempunyai proporsi dewan komisaris independen paling

kecil, sebesar 42,860% yaitu Bank Negara Indonesia di tahun 2007. Hanya ada

satu perusahaan yang proporsi komisaris independennya paling besar, sebanyak

100,000% yaitu Bank Kesawan di tahun 2007 dan 2009. Hal tersebut terjadi

karena Bank Kesawan memiliki jumlah komisaris independen sama dengan

jumlah anggota dewan komisarisnya. Berdasarkan data di atas, dengan nilai

minimum komposisi komisaris independen sebesar 42,860% dapat diketahui

bahwa tidak semua bank patuh terhadap ketentuan yang ditetapkan Bank

Indonesia. Ketidakpatuhan ini menyebabkan rendahnya pengawasan yang

dilakukan oleh komisaris independen terhadap kinerja serta kebijakan strategis

perusahaan termasuk financial risk disclosure. Pengawasan yang rendah

menyebabkan rendahnya tingkat financial risk disclosure yang dilakukan

perusahaan.

Agar peran pengawasan yang dilakukan oleh dewan komisaris perusahaan

di Indonesia berjalan dengan baik dan memadai, maka dewan komisaris perlu

commit to user

dengan Keputusan Ketua BAPEPAM Nomor: kep. 29/PM/2004, komite audit

adalah komite yang dibentuk oleh dewan komisaris untuk melakukan tugas

pengawasan dan pengelolaan perusahaan. Menurut Herwidayatmo (2000), komite

audit independen adalah anggota komite yang tidak memiliki hubungan usaha

maupun afiliasi dengan perusahaan, direktur, komisaris, maupun pemegang saham

utama. Berdasarkan Tabel IV.3 rerata komposisi komite audit independen sebesar

60,309%. Dilihat dari jumlah rerata persentase komite audit independen,

menunjukkan bahwa bank di Indonesia belum memiliki jumlah komite audit

independen sesuai dengan peraturan yang berlaku. Berdasarkan PBI Nomor:

8/4/PBI/2006, keanggotaan komite audit sekurang-kurangnya terdiri dari 3 (tiga)

orang anggota, seorang diantaranya merupakan komisaris independen perusahaan

tercatat yang sekaligus merangkap sebagai ketua komite audit, sedangkan anggota

lainnya merupakan pihak eksternal yang independen. Atau dapat dikatakan

bahwa, komposisi komite audit independen yang sesuai dengan PBI Nomor:

8/4/PBI/2006 minimal berjumlah 2 berbanding 3 orang, atau 66,667% dari jumlah

minimal komite audit yang telah ditetapkan.

Komposisi komite audit independen tertinggi sebesar 100,000% dimiliki

oleh Bank Kesawan pada tahun 2007, akan tetapi komposisi ini tidak sesuai

dengan PBI Nomor: 8/4/PBI/2006 yang menentukan jumlah komite audit

sekurang-kurangnya terdiri dari 3 orang anggota karena jumlah komite audit pada

Bank Kesawan hanya satu orang yang sekaligus merupakan komite audit

independen. Untuk komposisi komite audit independen terendah sebesar 33,333%

commit to user

dikarenakan Bank Danamon memiliki komite audit yang cukup banyak berjumlah

enam orang sedangkan komposisi komite audit independennya hanya berjumlah

dua orang. Jumlah tersebut sebenarnya telah memenuhi PBI Nomor:

8/4/PBI/2006.

Agar tugas dan fungsi komite audit dalam membantu dewan komisaris dapat

berjalan secara efektif, komite audit minimal mengadakan rapat tiga sampai empat

kali dalam satu tahun (FCGI, 2001). Berdasarkan Tabel IV.3 rerata rapat komite

audit yang diselenggarakan oleh perusahaan perbankan di Indonesia sebesar

13,550. Jumlah tersebut telah sesuai dengan ketentuan yang dikeluarkan oleh

FCGI (2001). Rapat komite audit dengan frekuensi terbanyak adalah 50 kali yang

dilakukan oleh Bank Permata pada tahun 2009. Sedangkan untuk rapat komite

audit dengan frekuensi paling sedikit sebanyak 1 kali dilakukan oleh Bank

Kesawan tahun 2007 dan secara berturut-turut pada tahun 2007 dan 2008 oleh

Bank Victoria Internasional.

Sementara itu, leverage perbankan yang diukur dengan membagi total

hutang dengan total ekuitas dalam penelitian ini menghasilkan rerata leverage

sebesar 9,122%. Hal ini mengindikasikan bahwa sekitar 9,122% investasi

perusahaan dibiayai oleh utang. Pada penelitian ini tingkat leverage terendah

sebesar 3,750% dimiliki oleh Bank Mayapada di tahun 2007, sementara tingkat

leverage tertinggi sebesar 16,530% dimiliki oleh Bank Bukopin di tahun 2007. Menurut Hertanti (2005), pada perekonomian yang membaik, perusahaan

dengan leverage yang tinggi akan lebih banyak mempunyai kesempatan untuk

commit to user

menyediakan informasi yang lebih komprehensif termasuk yang berkaitan dengan

financial risk dalam annual report-nya untuk menarik investor dan penabung. Bank Bukopin sebagai bank yang memiliki tingkat leverage tertinggi pada tahun

2007 mengungkapkan financial risk lebih banyak dibandingkan dengan Bank

Mayapada selaku bank dengan tingkat leverage terendah dalam penelitian ini.

Untuk ukuran profitabilitas, penelitian ini menggunakan return on equity

(ROE) sebagai proksinya. Profitabilitas menunjukkan kemampuan suatu

perusahaan dalam menghasilkan laba (Nurkhin, 2009). Semakin tinggi

profitabilitas akan semakin meningkatkan kemampuan perusahaan untuk

memperoleh laba. Dengan laba yang tinggi perusahaan memiliki dana yang cukup

untuk mengumpulkan, mengelompokkan dan mengolah informasi menjadi lebih

bermanfaat serta dapat menyajikan pengungkapan yang lebih komprehensif

termasuk financial risk disclosure (Hertanti, 2005). Rerata profitabilitas

perusahaan sampel pada penelitian ini sebesar 11,069%. Hal ini menunjukkan

bahwa tingkat kemampuan dari modal perusahaan untuk menghasilkan laba bagi

pemegang saham sebesar 11,069%. Tingkat profitabilitas perbankan Indonesia

lebih baik dari rerata profitabilitas bank di tingkat regional dan kinerjanya tercatat

stabil pada 2008 dan 2009 (http://beritasore.com, 2010). Untuk tahun 2010,

bahkan performa perbankan di Indonesia tergolong terbaik di Asean, terutama dari

sisi profitabilitas dan pertumbuhan laba (http://bataviase.co.id, 2011). Berdasarkan

Tabel IV.3, profitabilitas tertinggi sebesar 26,810% diperoleh Bank Rakyat

Indonesia, sedangkan untuk profitabilitas terendah didapat oleh Bank

commit to user

Berdasarkan hasil statistik deskriptif dan penjelasan di atas maka dapat

diambil kesimpulan bahwa rerata tingkat financial disclosure sebesar 46,500%;

rerata jumlah anggota dewan komisaris adalah 5 orang; rerata frekuensi rapat

dewan komisaris sebanyak 16 kali; rerata komposisi komisaris independen sebesar

59,415%; rerata komposisi komite audit independen sebesar 60,309%; rerata

frekuensi rapat komite audit sebesar 13,550; rerata leverage sebesar 9,122%; dan

rerata profitabilitas sebesar 11,069%.

Dokumen terkait