BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.2 Hasil Penelitian
4.2.1 Statistik Deskriptif
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Data Penelitian
Teknik analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan model uji interaksi yang sering disebut moderated regression analysis (MRA) . Pengujian asumsi klasik dan pengujian MRA dilakukan dengan menggunakan software SPSS (Statistical Package for Social Science). Adapun perangkat lunak SPSS yang digunakan adalah SPSS Statistics 16.0.
Penelitian ini menggunakan perusahaan manufaktur sektor barang konsumsi yang sesuai kriteria yang telah ditentukan sebagai sampel penelitian. Berdasarkan kriteria sampel, terdapat 13 perusahaan setiap tahun dengan jumlah pengamatan 5 tahun sehingga jumlah data pengamatan sebanyak 65 data. Data diperoleh dari laporan keuangan yang diterbitkan oleh Bursa Efek Indonesia melalui situs
4.2 Hasil Penelitian
4.2.1 Statistik Deskriptif
Statistik deskriptif memberikan gambaran atau deskripsi suatu data yang dilihat dari nilai rata-rata (mean), standar deviasi, varian, maksimum, minimum, sum, range, kurtosis dan skewness (kemencengan deskriptif).
Variabel penelitian ini terdiri dari struktur modal dan profitabilitas sebagai variabel bebas (independent variabel) dan nilai perusahaan sebagai
40
variabel terikat (dependent variabel) serta pertumbuhan perusahaan sebagai variabel moderating.
Statistik deskriptif dari variabel bebas dan terikat pada sampel perusahaan manufaktur sektor barang konsumsi selama periode 2010-2014 disajikan dalam tabel 4.1 berikut ini.
Tabel 4.1
Hasil Statistik Deskriptif Variabel Penelitian
Descriptive Statistics
N Minimum Maximum Mean Std. Deviation
PBV 65 .39 10.48 3.1860 2.31306
DER 65 .16 2.34 .6731 .44575
ROE 65 .01 .53 .1209 .06844
PTA 65 .02 .64 .1874 .15238
Valid N (listwise) 65
Tabel 4.1 menunjukkan bahwa jumlah data penelitian ada sebesar 65 perusahaan, dari 65 perusahaan ini nilai perusahaan, yang diukur dengan PBV, terkecil (minimum) adalah 0,39 yang diperoleh perusahaan Kedaung Indah Can Tbk. pada tahun 2011 dan nilai PBV terbesar (maximum) adalah 10,48 yang diperoleh perusahaan Nippon Indosari Corpindo Tbk. pada tahun 2012 . Rata-rata nilai PBV dari 65 perusahaan adalah 3,1860 dengan standar deviasi sebesar 2,31306. Nilai standar deviasi nilai PBV dibawah nilai rata-rata yang berarti menggambarkan bahwa data tersebar disekitar nilai rata-rata-rata-rata.
Variabel penelitian struktur modal yang diukur dengan DER, memiliki nilai minimum sebesar 0,16 yang diperoleh Mandom Indonesia Tbk. pada tahun 2010 dan nilai maksimum sebesar 2,34 yang diperoleh perusahaan Tiga
41
Pilar Sejahtera Food Tbk. pada tahun 2010. Rata-rata nilai DER dari 65 perusahaan adalah 0,6731 dengan standar deviasi sebesar 0,44575. Nilai standar deviasi lebih kecil dari nilai rata-rata menggambarkan bahwa data tersebar disekitar nilai rata-rata. Nilai standar deviasi lebih kecil dari nilai rata-rata menggambarkan bahwa data tersebar disekitar nilai rata-rata. Rata-rata sebesar 0,67 menunjukkan bahwa 65 perusahaan sampel masih banyak menggunakan ekuitas sebagai sumber pendanaan.
Variabel penelitian profitabilitas yang diukur dengan ROE, memiliki nilai minimum sebesar 0,01 yang diperoleh perusahaan Kedaung Indah Can Tbk. pada tahun 2011 dan nilai maksimum sebesar 0,53 yang diperoleh perusahaan Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. pada tahun 2010. Rata-rata nilai ROE dari 65 perusahaan adalah 0,1209 dengan standar deviasi sebesar 0,06844. Nilai standar deviasi lebih kecil dari nilai rata-rata menggambarkan bahwa data tersebar disekitar nilai rata-rata. Rata-rata sebesar 0,12 menunjukkan bahwa 65 perusahaan sampel masih memiliki profit yang rendah.
Variabel penelitian pertumbuhan perusahaan yang diukur dengan PTA, memiliki nilai minimum sebesar 0,02 yang diperoleh perusahaan Sekar Laut Tbk. pada tahun 2010 dan nilai maksimum sebesar 0,64 yang diperoleh perusahaan Nippon Indosari Corpindo Tbk. pada tahun 2010. Rata-rata nilai PTA dari 65 perusahaan adalah 0,1874 dengan standar deviasi sebesar 0,15238. Nilai standar deviasi lebih kecil dari nilai rata-rata menggambarkan
42
bahwa data tersebar disekitar nilai rata-rata. Rata-rata sebesar 0,18 menunjukkan bahwa pertumbuhan asset 65 perusahaan sampel masih rendah.
4.2.2 Pengujian Asumsi Klasik
Pengujian asumsi klasik dilakukan terlebih dahulu sebelum dilakukan pengujian dengan menggunakan moderated regression analysis (MRA) sehingga diperoleh model regresi yang BLUE (Best Liniear Unbiased Estimator). Model regresi akan menghasilkan penduga yang tidak bias jika memenuhi asumsi klasik, antara lain normalitas data, bebas multikolinieritas, bebas autokorelasi, dan bebas heteroskedastisitas.
4.2.2.1 Uji Normalitas
Pengujian normalitas data pada penelitian ini menggunakan analisis grafik dan analisis statistik. Analisis grafik untuk melihat normalitas data dilakukan dengan melihat grafik histogram dan kurva normal probability plot. Analisis statistik dilakukan dengan menggunakan uji non-parametrik Kolmogrov-Smirnov (K-S). Analisis K-S digunakan untuk melengkapi uji grafik karena uji normalitas dengan grafik dapat menyesatkan kalau tidak hati-hati dimana secara visual kelihatan normal padahal secara statistik bisa sebaliknya. Hasil pengujian normalitas data dapat dilihat pada gambar 4.1, gambar 4.2, dan tabel 4.2 berikut ini.
43 Gambar 4.1
Grafik Histogram Uji Normalitas
Gambar 4.1 menunjukkan bahwa grafik histogram memberikan pola distribusi normal yakni distribusi data tidak menceng ke kiri atau menceng ke kanan dan berbentuk lonceng (bell-shaped), yang berarti data berdistribusi normal.
Gambar 4.2
Kurva Normal Probability Plot
Gambar 4.2 menunjukkan bahwa data menyebar di sekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal pada grafik normal probability plot, yang berarti data berdistribusi normal.
44 Tabel 4.2
Hasil Uji Non-Parametik Kolmogrov-Smirnov
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Unstandardized Residual
Asymp. Sig. (2-tailed) .265
Sumber: Lampiran 3
Tabel 4.2 menunjukkan bahwa angka signifikansi pada
Kolmogrov-Smirnov sebesar 0,265 lebih besar dari sig. 0,05 yang
berarti data berdistribusi normal. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa model regresi memenuhi asumsi normalitas.
4.2.2.2 Uji Multikolinearitas
Uji multikolinearitas digunakan untuk menguji apakah dalam sebuah model regresi ditemukan adanya korelasi antara variabel independen. Jika terjadi korelasi, maka dikatakan terdapat masalah multikoliniearitas. Uji multikolinearitas dilihat dari nilai Tolerance dan
variance inflation factor (VIF)-nya. Model regresi yang baik jika nilai
Tolerance ≥ 0,1 dan VIF ≤ 10. Hasil uji multikolinearitas dapat dilihat pada tabel 4.3 berikut ini.
Tabel 4.3
Hasil Uji Multikolinearitas
Model
Collinearity Statistics Kesimpulan Tolerance VIF
1 (Constant)
DER .537 1.862 Bebas Multikolinearitas ROE .460 2.172 Bebas Multikolinearitas PTA .181 5.524 Bebas Multikolinearitas PTA_DER .310 3.223 Bebas Multikolinearitas PTA_ROE .157 6.378 Bebas Multikolinearitas
45
Tabel 4.3 menunjukkan bahwa semua variabel memiliki nilai
tolerance diatas 0,10 dan nilai variance inflation factor (VIF) lebih
kecil dari 10 sehingga dapat disimpulkan bahwa model regresi bebas multikolinearitas.
4.2.2.3 Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam suatu model regresi linear terdapat korelasi antara residual pada periode t dengan residual periode t-1 (sebelumnya). Model regresi yang baik adalah regresi yang bebas dari autokorelasi. Cara yang dapat digunakan untuk mendeteksi ada atau tidaknya autokorelasi adalah dengan uji Durbin Watson (DW). Berikut ini adalah tabel pengambilan keputusan ada tidaknya korelasi.
Tabel 4.4
Pengambilan keputusan ada tidaknya korelasi
No Hipotesis Nol Keputusan Jika
1 Tidak ada autokorelasi positif Tolak 0<d<dl 2 Tidak ada autokorelasi positif No Desicion dl≤d≤du
3 Tidak ada korelasi negatif Tolak 4-dl<d<4 4 Tidak ada korelasi negatif No Desicion 4-du≤d≤4-dl 5 Tidak ada autokorelasi positif atau
negatif
Tidak Tolak du<d<4-du
Tabel 4.5
Hasil Uji Autokorelasi
a. Predictors: (Constant), PTA_ROE, DER, ROE, PTA_DER, PTA b. Dependent Variable: PBV
Sumber: Lampiran 3
Model Durbin-Watson
46
Tabel 4.5 menunjukkan bahwa nilai DW sebesar 2,198, nilai ini kemudian dibandingkan dengan nilai tabel dengan menggunakan nilai signifikansi 5%, jumlah sampel 65 (n=65) dan jumlah variabel independen 5 (k=5). Maka dari tabel Durbin Watson didapatkan nilai batas bawah (dl) adalah sebesar 1,438 dan batas atas (du) adalah sebesar 1,767.
Oleh karena nilai DW 2,198 lebih besar dari batas atas (du) 1,767 dan kurang dari 4 - 1,767 = 2,233 (4-du), maka dapat disimpulkan tidak terdapat masalah autokorelasi positif atau negatif (du < d < 4 – du) atau (1,767 < 2,198 < 2,233) atau dengan kata lain model regresi bebas autokorelasi.
4.2.2.4 Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dan residual satu pengamatan ke pengamatan lain.Uji heteroskedastisitas dapat dideteksi dengan melihat grafik plot, namun analisis dengan grafik plot memiliki kelemahan yang cukup signifikan oleh karena jumlah pengamatan mempengaruhi hasil ploting.
Semakin sedikit jumlah pengamatan semakin sulit menginterpretasikan hasil grafik plot. Oleh sebab itu diperlukan uji statistik yang lebih dapat menjamin keakuratan hasil. Uji statistik yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji Glejser. Apabila nilai sig. > 0,05 maka data bebas dari heteroskedastisitas. Hasil pengujian
47
heteroskedastisitas dapat dilihat pada gambar 4.3 dan tabel 4.6 berikut ini.
Gambar 4.3
Grafik Scatterplot Hasil Uji Heteroskedastisitas
Gambar 4.3 menunjukkan bahwa dari grafik scaterrplots terlihat titik-titik menyebar secara acak serta tersebar baik di atas maupun di bawah angka 0 pada sumbu Y dan tidak membentuk pola tertentu. Hal ini dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi heteroskedastisitas pada model regresi.
Tabel 4.6 Hasil Uji Glejser
Tabel 4.6 menunjukkan bahwa tidak ada satupun variabel independen dan moderat yang signifikan secara statistik mempengaruhi
Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) .841 .402 2.090 .041 DER -.145 .371 -.063 -.390 .698 ROE 4.293 2.611 .289 1.644 .105 PTA -1.375 1.870 -.206 -.735 .465 PTA_DER .371 .811 .098 .458 .649 PTA_ROE 10.870 14.392 .227 .755 .453 a. Dependent Variable: ABSUT
48
variabel dependen nilai Absolut Ut (AbsUt). Hal ini terlihat dari probabilitas signifikansinya di atas tingkat kepercayaan 5%. Jadi dapat disimpulkan model regresi tidak mengandung adanya heteroskedastisitas sesuai dengan hasil pada grafik scaterrplots.
4.2.3 Pengujian Hipotesis
4.2.3.1 Koefisien Determinasi
Koefisien determinasi R Square (R2) menunjukkan seberapa besar variabel independen menjelaskan variabel dependennya. Nilai R
square adalah dari nol sampai satu. Nilai R square yang mendekati satu
berarti variabel-variabel independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variabel dependen. Hasil koefisien determinasi ditunjukkan pada tabel 4.7 berikut ini.
Tabel 4.7
Koefisien Determinasi
Sumber: Lihat Lampiran 3
Tabel 4.7 menunjukkan bahwa nilai adjusted R Square persamaan 1 adalah 0,165, hal ini berarti 16,5% variasi PBV dapat dijelaskan oleh variasi dari variabel independen DER dan ROE, sedangkan sisanya (100% - 16,5% = 83,5%) dijelaskan oleh sebab-sebab yang lain diluar model.
Model R Square Adjusted R Square
Persamaan 1 0,191 0,165
Persamaan 2 0,264 0,227
49
Tabel 4.7 menunjukkan bahwa nilai adjusted R Square persamaan 2 adalah 0,227, hal ini berarti 22,7% variasi PBV dapat dijelaskan oleh variasi variabel independen DER, PTA dan Moderat (PTA*DER), sedangkan sisanya (100% - 22,7% = 77,3%) dijelaskan oleh sebab-sebab lain diluar model.
Tabel 4.7 menunjukkan bahwa nilai adjusted R Square persamaan 3 adalah 0,330, hal ini berarti 33% variasi PBV dapat dijelaskan oleh variasi variabel independen ROE, PTA dan Moderat (PTA*ROE), sedangkan sisanya (100% - 33% = 67%) dijelaskan oleh sebab-sebab lain diluar model.
Nilai R Square persamaan 1 pada tabel 4.7 sebesar 0,191, mengalami kenaikan pada persamaan 2 menjadi sebesar 0,264, hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan perusahaan sebagai variabel moderating dapat memperkuat hubungan struktur modal terhadap nilai perusahaan, sedangkan nilai R Square persamaan 3 pada tabel 4.7 juga mengalami kenaikan menjadi sebesar 0,362 yang berarti bahwa pertumbuhan perusahaan sebagai variabel moderating dapat memperkuat hubungan profitabilitas terhadap nilai perusahaan,
4.2.3.2 Uji Signifikansi Simultan (Uji Statistik F)
Uji signifikan simultan yang sering disebut dengan uji F ini dilakukan untuk menguji pengaruh yang ditimbulkan oleh keseluruhan variabel independen yang ada dalam model terhadap variabel
50
dependennya. Hasil uji signifikansi simultan ditunjukkan pada tabel 4.8 berikut ini. Tabel 4.8 Hasil Uji F Model Nilai F hitung Nilai F tabel Sig. Persamaan 1 7,313 3,15 0,001
Sumber: Lihat Lampiran 3
Tabel 4.8 menunjukkan bahwa nilai F hitung persamaan 1 sebesar 7,313 dengan tingkat signifikansi 0,001, sedangkan F tabel sebesar 3,15 dan tingkat signifikansi 0,05. Nilai F tabel dapat dilihat pada lampiran 4, derajat bebas 1 (df1) ditentukan dengan rumus k – 1, dimana k adalah banyaknya variabel penelitian (variabel independen dan variabel dependen) sedangkan derajat bebas 2 (df2) ditentukan dengan rumus n – k, dimana n adalah banyaknya data pengamatan. Pada persamaan 1, data pengamatan ada sebanyak 65 sedangkan variabel penelitian ada sebanyak 3 sehingga diperoleh df1 sebesar 2 (df1 = 3 – 1) dan df2 sebesar 62 (df = 65 – 3).
Hasilnya diperoleh bahwa F hitung > F tabel (7,313 > 3,15) dengan signifikansi penelitian lebih kecil dari 0,05 (0,001 < 0,05). Hal ini berarti bahwa variabel DER dan ROE secara bersama-sama (simultan) berpengaruh secara signifikan terhadap PBV.
4.2.3.3 Uji Signifikansi Parsial (Uji t Statistik)
Uji statistik t dilakukan untuk menguji pengaruh dari variabel independen terhadap variabel dependennya secara individu. Untuk
51
menguji apakah hipotesis yang diajukan diterima atau ditolak digunakan statistik t (uji t). Jika t hitung < t tabel, maka Ho diterima atau Ha ditolak, sedangkan jika t hitung > t tabel, maka Ho ditolak dan Ha diterima. Hasil uji signifikansi simultan ditunjukkan pada tabel 4.9 berikut ini.
Tabel 4.9 Hasil Uji t
Nama Variabel t-hitung t-tabel Sig. Persamaan 1 DER ROE 0,887 3,802 1,998 1,998 0,378 0,000 Persamaan 2 Moderat (DER*PTA) -2,679 1,999 0,009 Persamaan 3 Moderat (ROE*PTA) 2,715 1,999 0,009
Sumber: Lihat Lampiran 3
Tabel 4.9 menunjukkan bahwa nilai t hitung untuk variabel DER pada persamaan 1 sebesar 0,887 dengan tingkat signifikansi 0,378, sedangkan t tabel sebesar 1,998 dan tingkat signifikansi 0,05. Nilai t tabel dapat dilihat pada lampiran 4, derajat bebas (df) ditentukan dengan rumus n – k, dimana n adalah banyaknya data pengamatan sedangkan k adalah banyaknya variabel penelitian (variabel independen dan variabel dependen). Pada persamaan 1, data pengamatan ada sebanyak 65 sedangkan variabel penelitian ada sebanyak 3 sehingga diperoleh df sebesar 62 (df = 65 – 3). Hasilnya diperoleh bahwa t hitung < t tabel (0,887 < 1,998) dengan signifikansi penelitian lebih besar dari 0,05 (0,378 > 0,05). Hal ini berarti bahwa variabel DER tidak berpengaruh terhadap PBV.
52
Tabel 4.9 menunjukkan bahwa nilai t hitung untuk variabel ROE pada persamaan 1 sebesar 3,802 dengan tingkat signifikansi 0,00, sedangkan t tabel sebesar 1,998 dan tingkat signifikansi 0,05. Hasilnya diperoleh bahwa t hitung > t tabel (3,802 > 1,998) dengan signifikansi penelitian lebih kecil dari 0,05 (0,00 < 0,05). Hal ini berarti bahwa variabel ROE berpengaruh positif dan signifikan terhadap PBV.
Kesimpulannya H1 (struktur modal dan profitabilitas berpengaruh terhadap nilai perusahaan baik secara simultan maupun secara parsial) ditolak, dikarenakan struktur modal tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan.
Tabel 4.9 (interaksi PTA dengan DER) pada persamaan 2 menunjukkan bahwa nilai t hitung sebesar -2,679 dengan tingkat signifikansi 0,009, sedangkan t tabel sebesar 1,999 dan tingkat signifikansi 0,05. Nilai t tabel dapat dilihat pada lampiran 4, derajat bebas (df) ditentukan dengan rumus n – k, dimana n adalah banyaknya data pengamatan sedangkan k adalah banyaknya variabel penelitian (variabel independen dan variabel dependen). Pada persamaan 2, data pengamatan ada sebanyak 65 sedangkan variabel penelitian ada sebanyak 4 sehingga diperoleh df sebesar 61 (df = 65 – 4).
Hasilnya diperoleh bahwa t hitung > t tabel (2,679 > 1,999) namun t hitung bernilai negatif dengan signifikansi penelitian lebih kecil dari 0,05 (0,009 < 0,05). Hal ini berarti bahwa interaksi variabel PTA dengan DER berpengaruh negatif dan signifikan terhadap PBV.
53
Kesimpulannya H2 (interaksi pertumbuhan perusahaan dengan struktur modal berpengaruh terhadap nilai perusahaan) diterima, walaupun bernilai negatif.
Tabel 4.9 (interaksi PTA dengan ROE) pada persamaan 3 menunjukkan bahwa nilai t hitung sebesar 2,715 dengan tingkat signifikansi 0,009, sedangkan t tabel sebesar 1,999 dan tingkat signifikansi 0,05. Hasilnya diperoleh bahwa t hitung > t tabel (2,715 > 1,999) dengan signifikansi penelitian lebih kecil dari 0,05 (0,009 < 0,05). Hal ini berarti bahwa interaksi variabel PTA dengan ROE berpengaruh positif dan signifikan terhadap PBV. Kesimpulannya H3
(interaksi pertumbuhan perusahaan dengan profitabilitas berpengaruh terhadap nilai perusahaan) diterima.
4.2.4 Analisis Regresi
Hasil uji asumsi klasik menunjukkan bahwa model regresi yang dipakai dalam penelitian ini telah memenuhi model estimasi yang Best Linear
Unbiased Estimator (BLUE) dan layak dilakukan analisis regresi. Pengujian
hipotesis dalam penelitian ini menggunakan analisis regresi berganda untuk melihat pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen dan analisis moderated regression analysis (MRA) untuk melihat interaksi variabel moderating terhadap hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen, dimana variabel independennya adalah struktur modal dan profitabilitas, variabel dependennya adalah nilai perusahaan, dan variabel
54
moderatingnya adalah pertumbuhan perusahaan. Berikut ini hasil regresi yang ditunjukkan dalam tabel 4.10.
Tabel 4.10
Hasil Analisis Regresi Linear Berganda
Nama Variabel Konstanta Beta t-hitung Sig. Persamaan 1 DER ROE 1,040 0,530 14,793 0,887 3,802 0,378 0,000 Persamaan 2 DER PTA Moderat (DER*PTA) 1,523 0,499 11,408 -4,544 0,660 4,608 -2,679 0,512 0,000 0,009 Persamaan 3 ROE PTA Moderat (ROE*PTA) 1,621 2,679 -2,895 75,708 0,542 -0,873 2,715 0,590 0,386 0,009 Sumber: Lihat Lampiran 3
Berdasarkan tabel 4.10 diperoleh persamaan regresi sebagai berikut:
Y = 1,040 + 0,530X1 + 14,793X2 + e
Keterangan:
1. Konstanta sebesar 1,040 menyatakan bahwa jika variabel independen (X1 dan X2) dianggap konstan, maka rata-rata nilai perusahaan (Y) sebesar 1,040.
2. Koefisien regresi DER (X1) sebesar 0,530 menyatakan bahwa setiap peningkatan struktur modal sebesar 1% akan meningkatkan nilai perusahaan sebesar 53,0%.
3. Koefisien regresi ROE (X2) sebesar 14,793 menyatakan bahwa setiap peningkatan profitabilitas sebesar 1% akan meningkatkan nilai perusahaan sebesar 1479,3%.
55 Y = 1,523 + 0,499X1 + 11,408Z – 4,544X1Z + e
Keterangan:
1. Konstanta sebesar 1,523 menyatakan bahwa jika variabel independen dianggap konstan maka rata-rata nilai perusahaan (Y) sebesar 1,523.
2. Koefisien regresi DER (X1) sebesar 0,449 menyatakan bahwa setiap peningkatan struktur modal sebesar 1% akan meningkatkan nilai perusahaan sebesar 49,9%.
3. Koefisien regresi PTA (Z) sebesar 11,408 menyatakan bahwa setiap peningkatan pertumbuhan perusahaan sebesar 1% akan meningkatkan nilai perusahaan sebesar 1140,08%.
4. Koefisien regresi interaksi DER dengan PTA sebesar -4,544 dan
mempunyai nilai negatif menyatakan bahwa peningkatan struktur modal dan pertumbuhan perusahaan sebesar 1% akan menurunkan nilai perusahaan sebesar 45,44%.
Y = 1,621 + 2,679X2 - 2,895Z + 75,708X2Z + e
Keterangan:
1. Konstanta sebesar 1,621 menyatakan bahwa jika variabel independen dianggap konstan maka rata-rata nilai perusahaan (Y) sebesar 1,621.
2. Koefisien regresi ROE (X2) sebesar 2,679 menyatakan bahwa setiap peningkatan profitabilitas sebesar 1% akan meningkatkan nilai perusahaan sebesar 267,9%.
56
3. Koefisien regresi PTA (Z) sebesar -2,895 menyatakan bahwa setiap peningkatan pertumbuhan perusahaan sebesar 1% akan menurunkan nilai perusahaan sebesar 289,5%.
4. Koefisien regresi antara DER dengan PTA sebesar 75,708 menyatakan bahwa peningkatan struktur modal dan pertumbuhan perusahaan sebesar 1% akan meningkatkan nilai perusahaan sebesar 7570,8%.