BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5.1. Hasil Penelitian
5.1.3. Statistik Deskriptif
5.1.3.4. Statistik Deskriptif Komitmen Manajemen
Hasil statistik deskriptif untuk variabel komitmen manajemen adalah sebagai berikut.
Tabel 5.4 Statistik Deskriptif Komitmen Manajemen
Variabel Min Max Mean Standar Deviasi Modus Median
Komitmen Manajemen 1 5 3,876 0,923 4 4
Tabel 5.4 memberikan informasi bahwa pernyataan yang ada pada variabel komitmen manajemen memiliki nilai minimum 1 dan nilai maksimum 5. Nilai mean berkisar pada angka 3,876 menandakan rata – rata responden cenderung menjawab ke arah Setuju. Nilai standar deviasi sebesar 0,923 sampai dengan 0,98.
Nilai modus dan median berada di nilai 4.
5.1.3.5. Statistik Deskriptif Kualitas Hasil Audit
Hasil statistik deskriptif untuk variabel kualitas hasil audit adalah sebagai berikut.
Tabel 5.5 Statistik Deskriptif Kualitas Hasil Audit Tahun Total
152.435,62 119.257,24 25.369,53 11.028,44 1.866,55
Tabel 5.5 di atas memberikan gambaran bahwa total temuan yang paling banyak adalah pada tahun 2018 yaitu sebesar 512.112. Hasil penelaahan terhadap pelaksanaan tindak lanjut oleh entitas diklasifikasikan dalam 4 (empat) status (Badan Pemeriksa Keuangan RI, 2010), yaitu :
(1) Tindak Lanjut telah sesuai dengan rekomendasi, yang memiliki nilai maximal 385.564 yang terjadi pada tahun 2018 pada semester kedua dan nilai minimal 15.159 pada tahun 2011 di semester I., serta nilai rata-rata sebesar 169.798 dan standar deviasi 119.257,24.
(2) Tindak lanjut belum sesuai dengan rekomendasi, memiliki nilai maximal 102.551 yang terjadi pada tahun 2018 pada semester I, dan nilai minimal sebesar 18.535 yang terjadi pada tahun 2010 pada semester kedua , serta nilai rata-rata sebesar 63.185, dan standar deviasi sebesar 25.369,53.
(3) Rekomendasi belum ditindaklanjuti, memiliki nilai maksimal sebesar 49.238 yang terjadi pada tahun 2010 pada semester I dan nilai minimal 4.034 yang terjadi pada tahun 2011 pada semester pertama . serta nilai rata-rata sebesar 34.677. dan standar deviasi sebesar 11.028,44.
(4) Rekomendasi tidak dapat ditindaklanjuti, memiliki nilai maksimal sebesar 5.312 yang terjadi pada tahun 2018 pada semester kedua dan nilai minimal sebesar 161 yang terjadi pada tahun 2012 pada semester pertama . Sementara nilai rata-rata sebesar 1.379 dan standar deviasi sebesar 1.866,55.
5.1.4. Evaluasi Outer Model (Measurement Model)
5.1.4.1. Uji Validitas berdasarkan Nilai Outer Loading dan Average Variance Extract (AVE)
Validitas konvergen merupakan bagian dari measurement model (model pengukuran) yang dalam SEM-PLS biasanya disebut sebagai outer model sedangkan dalam covariance-based SEM disebut confirmatory factor analysis (CFA). Terdapat dua kriteria untuk menilai apakah outer model (model pengukuran) memenuhi syarat validitas konvergen untuk konstruk reflektif.Outer loading ≥ 0,70 harus tetap dipertimbangkan untuk dipertahankan (Hair et al., 2010). Model penelitian disajikan dalam software SmartPLS3. Gambar 5.2.
disajikan hasil pengujian validitas dan reliabilitas berdasarkan nilai outer loading, average variance extracted (AVE), cronbach’s alpha (CA) dan composite reliability (CR). (Untuk Gambar lebih jelas dapat dilihat pada Lampiran 2)
Gambar 5.1. Full Model Penelitian
Gambar 5.2. Hasil Uji Validitas berdasarkan Outer Loading
Hasil uji validitas dan reliabilitas berdasarkan Outer Loading, Average Variance Extracted (AVE) dan Cronbach’s Alpha (CA) dan Composite Reliability (CR) dapat dilihat pada Lampiran 2. Hasil pengujian validitas berdasarkan nilai Average Variance Extracted (AVE) berdasarkan variabel deteksi korupsi, independensi auditor, kualitas audit, kualitas hasil audit dan komitmen manajemen. Untuk pengujian validitas dengan AVE, nilai AVE yang disarankan adalah 0,5. Diketahui seluruh nilai AVE di atas 0,7. Hal ini berarti telah memenuhi syarat validitas berdasarkan nilai AVE.
5.1.4.2 Evaluasi Nilai Alpha Cronbach dan Composite Reliability (Reliabilitas) Evaluasi reliabilitas dinilai berdasarkan alpha cronbach dan composite reliability. Nilai alpha cronbach dan composite reliability untuk masing-masing
variabel laten. Nilai alpha cronbach yang disarankan adalah di atas 0,7.
Sementara nilai batasan composite reliability di atas 0,7 dapat dilihat pada Lampiran 2. Hasil pengujian reliabilitas berdasarkan nilai cronbach’s alpha (CA) berdasarkan variabel deteksi korupsi, independensi auditor, kualitas audit, kualitas hasil audit dan komitmen manajemen. nilai Alpha Cronbach seluruhnya di atas 0,7 yang berarti telah memenuhi syarat reliabilitas berdasarkan cronbach’s alpha.
Hasil pengujian reliabilitas berdasarkan nilai composite reliability (CR) berdasarkan variabel deteksi korupsi, independensi auditor, kualitas audit, kualitas hasil audit dan komitmen manajemen. Nilai composite reliability (CR) seluruhnya di atas 0,7 yang berarti telah memenuhi syarat reliabilitas berdasarkan composite reliability dapat dilihat pada Lampiran 2.
5.1.5. Pengujian Hipotesis
Setelah melakukan pengolahan karakteristik data dan statistik deskriptif secara umum, peneliti melakukan analisis lanjutan dengan menggunakan Analisis Partial Least Squares (PLS) yang merupakan teknik statistika multivariate yang melakukan perbandingan antara variabel dependen berganda dan variabel independen berganda. Analisis data penelitian ini menggunakan pendekatan Partial Least Square (PLS) versi 3.0 dengan pertimbangan bahwa data penelitian dalam jumlah yang sedikit dan terbatas, berdistribusi tidak normal sehingga memungkinkan penyelesaian permasalahan penelitian dapat diolah dengan baik.
5.1.5.1. Pengujian Hipotesis Pengaruh Langsung (Inner Model)
Berikut ini disajikan nilai koefisien jalur serta nilai P-Values untuk pengujian signifikansi pengaruh langsung (dirrect effect).
a. Pengaruh Kualitas Audit terhadap Deteksi Korupsi
Berikut ini uji signifikansi pengaruh kualitas audit terhadap deteksi korupsi
Gambar 5.3 Uji Pengaruh Kualitas Audit Terhadap Deteksi Korupsi Nilai koefisien jalur dari kualitas audit ke deteksi korupsi bernilai positif, sebesar 0,338. Nilai T-Statisitcs 2.438 dan P-Value 0.015. Nilai koefsien jalur bernilai positif, maka bisa diambil kesimpulan bahwa kualitas audit berpengaruh positif terhadap deteksi korupsi.
b. Pengaruh Independensi Auditor terhadap Deteksi Korupsi.
Berikut ini pengujian signifikansi pengaruh independensi auditor terhadap deteksi korupsi
Gambar 5.4 Uji Pengaruh Independensi Auditor Terhadap Deteksi Korupsi Terlihat pada gambar 5.4 bahwa bahwa nilai P-Values IA terhadap DK 0,000< 0,05, yaitu sebesar 0,394. T-Statistics 4,248 dan P-Value 0.000. Maka
Path Coef = 0,394 T Statistics = 4,248 P Value = 0,000 Path Coef = 0,338 T Statistics = 2,438 P Value = 0,015
dapat ditarik kesimpulan bahwa independensi auditor berpengaruh positif terhadap deteksi korupsi.
c. Pengaruh Kualitas Audit terhadap Kualitas Hasil Audit.
Berikut ini pengujian signifikansi pengaruh kualitas audit terhadap kualitas hasil audit.
Gambar 5.5 Pengaruh Kualitas Audit Terhadap Kualitas Hasil Audit Gambar 5.5 menjelaskan bahwa nilai koefisien jalur dari kualitas audit terhadap kualitas hasil audit bernilai positif, yakni 0,116. T-Statistics 1,329 dan P-Value 0.185. Sehingga dapat diartikan bahwa kualitas audit berpengaruh positif terhadap kualitas hasil audit.
d. Pengaruh Independensi Auditor terhadap Kualitas Hasil Audit.
Berikut ini pengujian signifikansi pengaruh independensi auditor terhadap kualitas hasil audit.
Gambar 5.6 Pengaruh Independensi Auditor Terhadap Kualitas Hasil Audit Gambar 5.6 menunjukkan nilai koefsien jalur bernilai positif yaitu sebesar 0,010 T-Statistics 0,099 dan P-Value 0.921, yang mempunyai makna bahwa independensi auditor berpengaruh positif terhadap kualitas hasil audit.
KA
Path Coef = 0,116 T Statistics = 1,329 P Value = 0,185
Path Coef = 0,010 T Statistics = 0,099 P Value = 0,921
e. Pengaruh Deteksi Korupsi terhadap Kualitas Hasil Audit.
Berikut disajikan hasil pengujian signifikansi pengaruh deteksi korupsi terhadap kualitas hasil audit.
Gambar 5.7 Pengaruh Deteksi Korupsi Terhadap Kualitas Hasil Audit.
Gambar 5.7 menyatakan bahwa nilai koefsien jalur bernilai positif sebesar 0,231, T-Statistics 2,662 dan P-Value 0.008, sehingga dapat disimpulkan bahwa deteksi korupsi berpengaruh positif terhadap kualitas hasil audit.
Sehingga bisa diambil kesimpulan bahwa hasil pengujian di atas memberikan hasil persamaan sebagai berikut.
KHA = 0,231 DK + 0,010 IA + 0,116 KA
Berdasarkan Gambar 5.7 diperoleh nilai koefisien determinasi (R-Square) pada variabel deteksi korupsi (DK) sebesar 0,324. Nilai tersebut dapat diartikan variabel kualitas audit (KA) dan independensi auditor (IA) secara simultan/bersama-sama mempengaruhi DK sebesar 32,4%. Nilai koefisien determinasi (R-Square) pada variabel kualitas hasil audit (KHA) sebesar 0,092.
Nilai tersebut dapat diartikan variabel kualitas audit, independensi auditor, deteksi korupsi secara simultan/bersama-sama mempengaruhi kualitas hasil audit sebesar 9,2 %, dapat dilihat pada Lampiran 2.
Path Coef = 0,231 T Statistics = 2,662 P Value = 0,008
Lima hasil pengujian inner model di atas, kita dapat melihat pengaruh yang paling kuat adalah pengaruh independensi auditor terhadap deteksi korupsi.
terbukti dengan nilai path coefficient sebesar 0,394.
5.1.5.2. Pengujian Mediasi (Indirect Effect)
Selanjutnya dilakukan pengujian mediasi (indirect effect), yakni menguji apakah deteksi korupsi signifikan memediasi pengaruh kualitas audit, independensi auditor terhadap kualitas hasil audit. Dengan kata lain menguji apakah kualitas audit dan independensi auditor secara tidak langsung signifikan mempengaruhi kualitas hasil audit, melalui deteksi korupsi.
Tabel 5.6 Uji Signifikansi Pengaruh Tidak Langsung (Indirect Effect Test)
Relationship Indirect Effect P-Values
KA -> DK -> KHA 0.119 p = 0,009
IA -> DK -> KHA 0.132 p = 0.002
Berdasarkan hasil pada Tabel 5.6 diperoleh hasil:
a. Pengaruh tidak langsung KA terhadap KHA melalui DK sebesar 0,119 dengan nilai P-Values 0,009 , maka disimpulkan DK signifikan memediasi hubungan antara KA terhadap KHA. Dengan kata lain, kualitas audit secara tidak langsung signifikan mempengaruhi kualitas hasil audit, melalui deteksi korupsi.
b. Pengaruh tidak langsung IA terhadap KHA melalui DK sebesar 0,132 dengan nilai P-Values 0,002 maka disimpulkan DK signifikan memediasi hubungan antara IA terhadap KHA. Artinya, independensi auditor secara tidak langsung
Kedua pengujian mediasi di atas, kita bisa simpulkan pengaruh yang lebih kuat adalah pengaruh tidak langsung independensi auditor terhadap kualitas hasil audit melaluideteksi korupsi. terbukti dengan melihat nilai indirect effect sebesar 0,132.
5.1.5.3. Pengujian Moderasi
Selanjutnya dilakukan pengujian moderasi, yakni menguji apakah komitmen manajemen signifikan dalam memoderasi pengaruh kualitas audit, independensi auditor terhadap kualitas hasil audit. Tabel 5.7 disajikan hasil pengujian komitmen manajemen dalam memoderasi pengaruh kualitas audit terhadap kualitas hasil audit.
Tabel 5. 7 Pengujian Komitmen Manajemen dalam Memoderasi Pengaruh Kualitas Audit terhadap Kualitas Hasil Audit
Path Path Coefficient P-Values
KA -> KHA 0.192 0.042
KM -> KHA 0.145 0.206
KA*KM -> KHA 0,011 0.840
Berdasarkan Tabel 5.7 diketahui nilai P-Values pada baris KA*KM -> KHA adalah 0,840 > 0,05, maka disimpulkan komitmen manajemen tidak memperkuat pengaruh kualitas audit terhadap kualitas hasil audit. Maka model persamaannya adalah sebagai berikut.
KHA = 0,192 KA + 0,145 KM + 0,011 KA*KM Tabel 5.8 Pengujian Komitmen Manajemen dalam Memoderasi Pengaruh Independensi Auditor terhadap Kualitas Hasil Audit
Path Path Coefficient P-Values
IA -> KHA 0.098 0.490
KM -> KHA 0.187 0.128
Berdasarkan Tabel 5.8 diketahui nilai P-Values pada baris IA*KM -> KHA adalah 0,553 > 0,05, maka disimpulkan KM tidak memperkuat pengaruh IA terhadap KHA. Maka model persamaan yang dihasilkan adalah sebagai berikut.
KHA = 0,098 IA + 0,187 KM + 0,048 IA*KM
Tabel 5. 9 Pengujian Komitmen Manajemen dalam Memoderasi Pengaruh Deteksi Korupsi terhadap Kualitas Hasil Audit
Path Path Coefficient P-Values
DK -> KHA 0.253 0.002
KM -> KHA 0,089 0.496
DK*KM -> KHA 0,007 0.905
Berdasarkan Tabel 5.9 diketahui nilai P-Values pada baris DK*KM -> KHA adalah 0,905 > 0,05, maka disimpulkan komitmen manajemen tidak memoderasi pengaruh deteksi korupsi terhadap kualitas hasil audit.
Sehingga dari pengujian di atas, maka model persamaannya adalah sebagai berikut.
KHA = 0,253 DK + 0,089 KM + 0,007 DK*KM
5.1.5.4. Pengujian Pengaruh Komitmen Manajemen Terhadap Kualitas Hasil Audit
Terakhir dilakukan pengujian apakah KM mempengaruhi KHA.
Tabel 5. 10 Pengaruh Komitmen Manajemen terhadap Kualitas Hasil Audit Path Path Coefficient T-Statistics P-Values
KM -> KHA 0.201 2,205 0.028
Berdasarkan hasil pada Tabel 5.10, diketahui nilai koefisien jalur KM
disimpulkan komitmen manajemen berpengaruh positif terhadap kualitas hasil audit.
Pengujian tersebut menghasilkan model persamaannya adalah sebagai berikut.
KHA = 0,201 KM
5.1.5.5. Pengujian Korelasi antara Kualitas Audit dan Independensi Auditor Tahap akhir dilakukan pengujian korelasi antara kualitas audit dan independensi auditor.
Tabel 5. 11 Korelasi antara Kualitas Audit dan Independensi Auditor
Correlations
KA IA
KA Pearson Correlation
1 .197
P-Values .051
Berdasarkan hasil pada Tabel 5.11, diketahui nilai korelasi antara KA dan IA adalah 0,197 dengan nilai P-Values 0,051 > 0,05, maka disimpulkan bahwa antara kualitas audit dengan independensi auditor terdapat hubungan tetapi tidak signifikan.
5.1.6 Analisis Dengan STATCAL
Analisis data untuk mendapatkan hasil statistik yang meliputi rata-rata, standar deviasi, modus, median serta mendapatkan grafik dari hasil pengolahan data. dengan menggunakan alat statistik yaitu STATCAL(Gio & Caraka, 2018).
5.1.6.1. Rata-Rata Kualitas Audit Pada Semua Lini Jabatan
Berikut ini adalah deskriptif rata-rata kualitas audit pada semua lini jabatan.
Gambar 5. 8 Rata-Rata Kualitas Audit Terhadap semua Lini Jabatan Rata-rata kualitas audit terhadap semua lini jabatan adalah 4,15. Sehingga jika kita lihat gambar 5.8 kualitas audit pada jabatan anggota, ketua tim dan pengendali mutu berada di atas nilai rata-rata, sementara pada jabatan pengendali teknis berada di bawah rata-rata.
5.1.6.2. Rata-Rata Independensi Auditor Pada Semua Lini Jabatan
Gambar 5.9 ini merupakan gambaran tentang rata-rata independensi auditor pada semua lini jabatan.
Gambar 5. 9 Rata-Rata Independensi Auditor Pada Semua Lini Jabatan Rata-rata independensi auditor adalah 3,70. Sehingga bisa disimpulkan dari gambar 5.9 nilai independensi auditor pada jabatan ketua tim berada di atas nilai rata-rata, namun pada jabatan anggota, pengendali teknis dan pengendali
5.1.6.3. Rata-Rata Deteksi Korupsi Pada Semua Lini Jabatan
Nilai Rata-rata deteksi korupsi pada lini jabatan anggota, ketua tim, pengendali teknis, dan pengendali mutu dapat dilihat pada gambar 5.10 berikut ini.
Gambar 5. 10 Rata-Rata Deteksi Korupsi Pada Semua Lini Jabatan Nilai rata-rata deteksi korupsi pada semua lini jabatan adalah 3,84.
Gambar 5.10 deteksi korupsi pada jabatan pengendali teknis berada di bawah rata-rata. Sementara pada jabatan anggota, ketua tim, dan pengendali mutu berada di atas rata-rata.
5.1.6.4. Rata-Rata Komitmen Manajemen Pada Semua Lini Jabatan
Informasi dari gambar 5.11 rata-rata komitmen manajemen pada semua lini jabatan.
Gambar 5. 11 Rata-Rata Komitmen Manajemen Pada Semua Lini Jabatan
Nilai rata-rata komitmen manajemen adalah sebesar 3,87. Gambar 5.11 menyatakan bahwa pada nilai jabatan pengendali teknis berada di bawah rata-rata, sementara pada jabatan anggota, ketua tim, dan pengendali mutu berada di atas rata-rata.
5.1.6.5. Rata-Rata Kualitas Audit Pada Jenjang Pendidikan
Gambar 5.12 berikut ini memperlihatkan rata-rata kualitas audit pada tingkat pendidikan.
Gambar 5. 12 Rata-Rata Kualitas Audit Pada Tingkat Pendidikan Perhitungan rata-rata kualitas audit adalah 4,15. Sehingga dapat disimpulkan bahwa nilai kualitas audit pada auditor yang berpendidikan S2 berada di atas rata-rata. Sementara nilai kualitas audit pada auditor yang berpendidikan S1 dan S3 berada di bawah rata-rata.
5.1.6.6. Rata-Rata Independensi Auditor Pada Jenjang Pendidikan
Berikut ini akan disajikan rata-rata independensi auditor pada tingkat pendidikan.
Gambar 5. 13 Rata-Rata Independensi Auditor Pada Tingkat Pendidikan Nilai rata-rata independensi auditor adalah 3,70. Jika kita lihat gambar 5.13 maka dapat disimpulkan bahwa nilai independensi auditor pada jenjang pendidikan S2 berada diatas nilai rata-rata. Sementara independensi auditor pada jenjang pendidikan S1 dan S3 berada di bawah nilai rata-rata.
5.1.6.7. Rata-Rata Deteksi Korupsi Pada Jenjang Pendidikan
Berikut ini dapat dilihat rata-rata deteksi korupsi pada setiap jenjang pendidikan auditor.
Gambar 5. 14 Rata-Rata Deteksi Korupsi Pada Jenjang Pendidikan Hasil perhitungan menunjukkan bahwa nilai rata-rata deteksi korupsi adalah 3,84. Sehingga bisa dilihat pada gambar 5.14 nilai deteksi korupsi pada auditor
korupsi pada auditor yang jenjang pendidikannya S2 dan S3 berada di atas nilai rata-rata.
5.1.6.8. Rata-Rata Komitmen Manajemen Pada Jenjang Pendidikan
Gambar 5. 15 Rata-Rata Komitmen Manajemen Terhadap Tingkat Pendidikan
Nilai rata-rata komitmen manajemen adalah 3,87. Jika dilihat pada gambar 5.15 nilai komitmen manajemen pada auditor yang berjenjang pendidikan S2 berada di atas nilai rata-rata. Auditor yang berjenjang pendidikan S1 dan S3 berada di bawah nilai rata-rata.
5.1.6.9. Rata-Rata Kualitas Audit berdasarkan Jenis Kelamin
Perhitungan rata-rata kualitas audit adalah 4,15. Gambar 5.16 menggambarkan rata-rata kualitas audit berdasarkan jenis kelamin.
Gambar 5. 16 Rata-Rata Kualitas Audit dengan Jenis Kelamin
Gambar 5.16 menunjukkan bahwa nilai kualitas audit pada auditor pria berada di atas rata-rata. Sementara nilai kualitas audit pada auditor wanita berada di bawah rata-rata.
5.1.6.10. Rata-Rata Independensi Auditor berdasarkan Jenis Kelamin
Gambar 5.17 memperlihatkan gambar mengenai rata-rata independensi auditor berdasarkan jenis kelamin.
Gambar 5. 17 Rata-Rata Independensi Auditor berdasarkan Jenis Kelamin Rata-rata independensi auditor memiliki nilai sebesar 3,70. Jika dilihat pada gambar 5.23 maka akan disimpulkan bahwa nilai independensi auditor wanita berada di bawah nilai rata-rata. Sementara nilai independensi pada auditor pria berada di atas nilai rata-rata.
5.1.6.11. Rata-Rata Deteksi Korupsi dengan Jenis Kelamin
Nilai rata-rata deteksi korupsi adalah 3,84 pada gambar 5.20 dapat kita lihat rata-rata deteksi korupsi berdasarkan jenis kelamin.
Gambar 5. 18 Rata-Rata Deteksi Korupsi berdasarkan Jenis Kelamin
Nilai deteksi korupsi pada auditor pria dan wanita berada di atas rata-rata.
Namun nilai rata-rata deteksi korupsi pada auditor wanita lebih tinggi daripada auditor pria. Hal ini menunjukkan wanita memiliki kemampuan mendeteksi korupsi lebih tinggi dibandingkan dengan pria.
5.1.6.12. Rata-Rata Komitmen Manajemen dengan Jenis Kelamin
Gambar 5.19 merupakan rata-rata komitmen manajemen berdasarkan jenis kelamin.
Gambar 5.19 Rata-Rata Komitmen Manajemen dengan Jenis Kelamin Perhitungan rata-rata komitmen manajemen adalah sebesar 3,87. Oleh
manajemen pada auditor pria di atas nilai rata-rata. Sementara nilai komitmen manajemen pada auditor wanita berada di bawah nilai rata-rata.
5.1.6.13. Rata-Rata Kualitas Hasil Audit
Berikut ini grafik tindak lanjut sesuai dengan rekomendasi BPK-RI dari tahun 2010 sampai dengan 2018.
Gambar 5.20 Grafik Tindak Lanjut Sesuai Rekomendasi dari Tahun 2010 sampai dengan 2018
Grafik di atas dapat menggambarkan rekomendasi yang diberikan pleh BPK-RI yang ditindaklanjuti oleh auditee. Pergerakan dari tahun 2010 semester I (satu) rekomendasi yang ditindaklanjuti sebanyak 68.673 rekomendasi. Semakin lama semakin meningkat. Sehingga pada tahun 2018 di semester II (dua) sebanyak 385.564 rekomendasi yang ditindaklanjuti oleh auditee.
Berkesinambungan dengan rekomendasi, kita juga dapat melihat jumlah temuan yang dilaporkan oleh BPK-RI dari tahun 2010 sampai dengan tahun 2018.
Gambar 5.21 Grafik Jumlah Temuan dari Tahun 2010 sampai dengan 2018 Jumlah terendah temuan BPK-RI ada pada tahun 2011 semester I (satu) yaitu sebesar 23.942 temuan. Sementara jumlah tertinggi temuan BPK-RI ada di tahun 2018 semester II (dua) yaitu sebesar 512.112 temuan.
5.1.7. Delphi Method
Delphi Method adalah yaitu metode yang digunakan dalam mengumpulkan pendapat atau pandangan dan kesepakatan dari sekelompok pakar/ahli melalui serangkaian pertanyaan (Foley, 1972). Metode ini disebut juga sebagai teknik komunikasi terstruktur, yang awalnya dikembangkan sebagai metode peramalan interaktif yang bergantung pada sejumlah expert (para ahli)(Linstone & Turoff, 2002). Pandangan ini yang memberikan asumsi kepada peneliti untuk meninjau data yang didapatkannya dan diolah menjadi rangkuman.
Berdasarkan desain metode Delphi, dilakukan penarikan opini dari 10 narasumber yang merupakan expert (pakar) dan juga pemangku kepentingan terkait kualitas hasil audit di BPK-RI.
Berikut ini proses penarikan opini.
Keterangan : SD = Standar Deviasi, IR = Interquartile Range
Evaluasi untuk menyatakan konvergensi atau konsensus terhadap seluruh instrumen adalah ketika standar deviasi < 1,5 dan interquartile range <2,5. Jika salah satu baik standar deviasi maupun interquartile range tidak bernilai <1,5 dan
<2,5, maka instrumen tersebut dinyatakan tidak konvergen atau tidak disepakati (konsensus) bahwa instrumen tersebut penting dan potensial (Rum & Heliati, 2018).
b. Pemeringkatan Instrumen
Tahapan selanjutnya, informasi nilai standar deviasi dan interquartile range diberi peringkat dan dievaluasi apakah konsensus atau tidak konsensus. Berikut ini disajikan peringkat instrumen.
Tabel 5.13 Peringkat Instrumen
Instrumen Nilai Peringkat Evaluasi Standar
Deviasi
Interquartile Range Kualitas Hasil Audit 4,6 1 Konsensus Konsensus
Kualitas Audit 4,5 2 Konsensus Konsensus
Independensi Auditor 4,4 3 Konsensus Konsensus
Deteksi Korupsi 4,3 4 Konsensus Konsensus
Komitmen Manajemen
4,2 5 Konsensus Konsensus
Tabel 5.13 menyajikan informasi bahwa instrumen “Kualitas hasil Audit”
merupakan instrumen yang diberi peringkat pertama dengan nilai 4,6 serta instrumen tersebut konvergen dan tercapai konsensus. Selanjutnya, pada peringkat kedua terdapat instrumen kualitas audit dengan nilai 4,5 dan instrumen tersebut konvergen dan konsensus. Peringkat ketiga diduduki oleh instrumen independensi auditor dengan nilai 4,4 dan instrumen tersebut konvergen dan konsensus.
Peringkat keempat ditempati oleh instrumen deteksi korupsi dengan nilai 4,3 dan instrumen tersebut dinilai konvergen dan konsensus. Terakhir, yaitu peringkat kelima diraih oleh instrumen komitmen manajemen dengan nilai 4,2 dan instrumen tersebut juga dinilai konvergen dan konsensus.
c. Verifikasi dengan para ahli pakar
Tahap akhir penelitian ini mengambil beberapa pendapat dari para ahli (Skulmoski, Hartman, & Karhn, 2007) yang terkait dengan kualitas audit, independensi auditor, deteksi korupsi, komitmen manajemen, dan kualitas hasil audit. Adapun para ahlinya tersebut adalah sebagai berikut.
Tabel 5.14 Pendapat Para Ahli/Pakar terkait Penelitian
No. Nama
(Jabatan)
Pendapat 1 Prof. Dr. Moermahadi Soerja
Djanegara, CA., CPA.
(Ketua BPK-RI 2017-2019)
Tema dan fokus pemeriksaan BPK-RI terbagi menjadi 12 tema dan 18 fokus.
Pada tahun-tahun sebelumnya, tema dan fokus serta koordinator Auditorat Keuangan Negara bekerja sendiri-sendiri. Tahun ini, semua perangkat yang ada di BPK-RI bekerja dengan lebih bersinergi. Secara umum, strategi pemeriksaan dengan tema dan fokus yang tertuang dalam Renstra 2016-2020 adalah untuk memberikan penilaian yang mendalam terhadap implementasi RPJMN 2015-2019 yang dilaksanakan pemerintah. Peningkatan opini WTP pada LKPP, LKKL, dan LKPD merupakan kontribusi besar BPK-RI dalam memperbaiki transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan negara. Dengan demikian, BPK-RI mendorong peningkatan kualitas pengelolaan keuangan Negara sekaligus mengawal pencapaian tujuan bernegara.
Untuk bisa melakukan hal tersebut, strategi pemeriksaan BPK-RI dilakukan secara berkelanjutan selama periode renstra dan memerlukan keterlibatan antar satuan kerja agar program nasional yang diperiksa bisa dinilai secara kebih komprehensif.
2 Prof. Dr, Bahrullah Akbar, MBA.
(Wakil Ketua BPK RI 2017-2019)
Terkait dengan peningkatan kualitas hasil pemeriksaan, BPK-RI telah berupaya untuk menjalankan fungsi sesuai peran dan berpedoman pada metodologi yang berlaku. Sebagai wujud quality control dalam proses pemeriksaan, maka setiap individu diwajibkan melakukan fungsi kontrol sesuai perannya masing-masing.
Penggunaan aplikasi SiAP (Sistem Aplikasi Pemeriksaan) juga turut mendukung proses quality assurance
No. Nama (Jabatan)
Pendapat
SiAP memfasilitasi proses reviu langkah maupun reviu akun. Beliau juga menekankan bahwa perlunya komitmen yang harus dipatuhi dan dijalankan
SiAP memfasilitasi proses reviu langkah maupun reviu akun. Beliau juga menekankan bahwa perlunya komitmen yang harus dipatuhi dan dijalankan