• Tidak ada hasil yang ditemukan

Status gizi balita berdasarkan indikator Berat Badan menurut Tinggi Badan (BB/TB)

Dalam dokumen PROFIL KESEHATAN TAHUN 2021 KOTA YOGYAKARTA (Halaman 31-200)

A. Status Gizi Masyarakat

3. Status gizi balita berdasarkan indikator Berat Badan menurut Tinggi Badan (BB/TB)

Wasting merupakan masalah gizi yang bersifat akut yang berkaitan dengan asupan yang kurang atau penyakit infeksi. Wasting berdampak pada gangguan pertumbuhan pada anak.

Wasting adalah kategori status gizi berdasarkan indeks Berat Badan menurut Panjang/Tinggi Badan (BB/PB atau BB/TB) dengan Z-score < -2 SD (gizi buruk dan gizi kurang).

Tahun 2020 terjadi perubahan kategori Status Gizi Berat Badan menurut Panjang/Tinggi Badan (BB/PB atau BB/TB) yang tertuang dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2020. Sebelum tahun 2020, indeks BB/TB digunakan untuk menentukan kategori sangat kurus, kurus, normal, dan gemuk. Tahun 2020 kategori berubah menjadi gizi buruk, gizi kurang, gizi baik (normal), risiko gizi lebih, gizi lebih, dan obesitas.

Status gizi baik (normal) mengalami perubahan karena perubahan definisi operasional dengan. Sebelum tahun 2020, termasuk dalam status gizi baik adalah nilai Z-score -2 SD sampai dengan +2 SD, tahun 2020 termasuk status gizi baik adalah balita dengan nilai Z-score -2 SD sampai dengan +1 SD. Prevalensi balita gizi buruk dan gizi kurang Kota Yogyakarta tahun 2020 sebesar 6,87%, (target nasional < 5%) atau di atas nilai nasional.

18

Tabel 8. Status Gizi Balita Dengan Indikator Berat Badan Menurut Tinggi Badan Kota Yogyakarta Tahun 2016-2019

Sumber : Laporan Pemantauan Status Gizi Puskesmas

Grafik 5 menunjukkan cakupan balita gizi buruk, gizi kurang, dan gizi lebih lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Kasus gizi lebih di tahun 2020 digambarkan dengan prevalensi risiko gizi lebih, gizi lebih, dan obesitas. Perubahan definisi operasional menjadikan perubahan kasus gizi lebih di tahun 2020. Periode sebelum tahun 2020 disebutkan sebagai kasus gizi lebih jika nilai score > + 2 SD, pada tahun 2020, nilai Z-score > + 1 SD dimasukkan dakam risiko gizi lebih.

Tabel 9. Status Gizi Balita Dengan Indikator Berat Badan

Menurut Tinggi Badan Kota Yogyakarta Tahun 2020 (Berdasar PMK No. 2/2020)

Sumber : Laporan Pemantauan Status Gizi Puskesmas

19

Grafik 6. Status Gizi Balita dengan Indikator Berat Badan Menurut Tinggi Badan Kota Yogyakarta Tahun 2016-2020

Tabel 10. Kasus Gizi Buruk Dirawat Di Kota Yogyakarta Tahun 2020

No. Puskesmas Kasus Gizi Buruk

Prosentase

Sumber : Laporan PWS Gizi Puskesmas Tahun 2020

20

Sumber : Laporan PWS Gizi Puskesmas Tahun 2020

Grafik 7. Kasus Gizi Buruk Dirawat di Kota Yogyakarta Tahun 2020 4. Upaya Penanganan Gizi Buruk di Kota Yogyakarta

Balita dengan tanda klinis gizi buruk dan atau indeks Berat Badan menurut Panjang Badan (BB/PB) atau Berat Badan menurut Tinggi Badan (BB/TB) dengan nilai Z-score < -3 SD dikategorikan sebagai kasus balita gizi buruk. Penanganan kasus gizi buruk di Kota Yogyakarta dilakukan dengan upaya ;

a. Menurunkan angka balita gizi buruk

Salah satu upaya untuk menurunkan angka balita gizi buruk di Kota Yogyakarta pada tahun 2020 adalah dengan pemberian Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI) kepada anak Bawah Dua Tahun (Baduta) dari keluarga miskin. Pemberian MP-ASI kepada baduta gakin membantu mengurangi angka kejadian gizi buruk di Kota Yogyakarta

21

Tabel 11. Pemberian MPASI Baduta Gakin di Kota Yogyakarta Tahun 2020

No Puskesmas

KOTAYOGYAKARTA 968 629 64,98

Sumber : Laporan PWS Gizi Puskesmas Tahun 2020

b. Perawatan balita gizi buruk

Setiap temuan gizi buruk di Kota Yogyakarta dilakukan perawatan (Permenkes Nomor 347/Menkes/IV/2008). Aktifitas surveilans gizi dilakukan untuk menjaring dan menemukan kasus gizi buruk di wilayah untuk diberikan perawatan.

Jumlah kasus balita gizi buruk yang mendapatkan perawatan di Kota Yogyakarta pada tahun 2019 yaitu sebanyak 84 anak dan pada tahun 2020 meningkat dua kali lipat menjadi 156 anak. Wilayah puskesmas dengan jumlah gizi buruk terbanyak di Puskesmas Umbulharjo 1 yaitu sejumlah 35 anak.

Di Kota Yogyakarta semua kasus gizi buruk (156 kasus) telah mendapatkan perawatan baik di puskesmas maupun di Rumah Pemulihan Gizi Kota Yogyakarta, sesuai dengan target sebesar 100%

22 5. Anemia Ibu Hamil

Prevalensi ibu hamil anemia di Indonesia masih tinggi yaitu 48,9% Hasil (Riskesdas 2018) dan umumnya terjadi karena defisiensi zat besi. Anemia adalah suatu kondisi tubuh dimana jumlah dan ukuran sel darah merah atau kadar Hemoglobin (Hb) lebih rendah dari normal, yang akan mengakibatkan terganggunya distribusi oksigen oleh darah ke seluruh tubuh.

Anemia sebagai indikator rendahnya kualitas kesehatan dan gizi.

Kebutuhan tambahan zat besi bagi ibu hamil selama kehamilan lebih kurang 1000 mg, yang diperlukan untuk pertumbuhan janin, plasenta dan perdarahan saat persalinan yang mengeluarkan rata-rata 250 mg besi. Anemia pada ibu hamil berisiko terhadap terjadinya hambatan pertumbuhan janin sehingga bayi lahir dengan berat badan lahir rendah (BBLR), perdarahan pada saat persalinan dan dapat berlanjut setelah persalinan yang dapat menyebabkan kematian ibu dan bayinya.

22,78

Sumber : Laporan PWS Gizi Puskesmas Tahun 2020

Grafik 8. Tren Anemia Ibu Hamil di Kota Yogyakarta Tahun 2016-2020

Anemia gizi besi sebenarnya tidak perlu terjadi bila asupan makanan sehari-hari mengandung cukup zat besi,terutama pangan hewani yang kaya akan zat besi, seperti pada hati, ikan dan daging. Zat besi pada pangan hewani disebut besi heme (heme iron), yang mudah diserap tubuh. Pangan hewani masih kurang terjangkau oleh kebanyakan masyarakat karena harganya yang relatif mahal, oleh karena itu dapat dipahami mengapa prevalensi anemia ibu hamil di Yogyakarta masih tinggi. Alternatif lain sumber zat besi adalah pangan nabati seperti daun singkong, kangkung dan sayuran berwarna hijau lainnya, namun zat besi

23

dalam pangan tersebut yang disebut non-heme lebih sulit diserap. Faktor risiko anemia pada ibu hamil antara lain :

a. Pola makan yang kurang beragam dan bergizi seimbang b. Kurangnya asupan makanan kaya zat besi

c. Kehamilan berulang dalam waktu singkat

d. Ibu hamil mengalami Kurang Energi Kronis (KEK)

Kejadian anemia ibu hamil pada tahun 2016 sampai dengan tahun 2020 fluktuatif. Terjadi peningkatan di tahun 2018 dibanding tahun 2017, selanjutnya pada tahun 2019 dan 2020 terjadi turun.

Kasus anemia di Kota Yogyakarta lebih tinggi dibandingkan dengan target Nasional sebesar < 15 %. Upaya pengendalian/penurunan dilakukan dengan optimalisasi distribusi tablet tambah darah, konseling gizi, dan kepatuhan ibu hamil minum tablet tambah darah selama hamil dan nifas.

6. Cakupan Ibu Hamil Kurang Energi Kronis (KEK)

Ibu hamil dengan masalah gizi dan kesehatan berdampak terhadap kesehatan dan keselamatan ibu dan bayi serta kualitas bayi yang dilahirkan. Ibu hamil Kurang Energi Kronis (KEK) adalah ibu hamil yang mempunyai Lingkar Lengan Atas (LILA) < 23,5 cm.

Kondisi ibu hamil KEK berisiko menurunkan kekuatan otot yang membantu proses persalinan sehingga dapat mengakibatkan terjadinya partus lama dan perdarahan pasca salin, bahkan kematian ibu. Risiko pada bayi dapat mengakibatkan terjadinya kematian janin (keguguran), prematur, lahir cacat, Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) bahkan kematian bayi. Ibu hamil KEK dapat mengganggu tumbuh kembang janin, yaitu pertumbuhan fisik (stunting), otak dan metabolisme yang menyebabkan penyakit tidak menular di usia dewasa.

Faktor penyebab langsung ibu hamil KEK adalah konsumsi gizi yang tidak cukup dan penyakit. Faktor penyebab tidak langsung adalah persediaan makanan tidak cukup, pola asuh yang tidak memadai dan kesehatan lingkungan serta pelayanan kesehatan yang tidak memadai. Semua faktor langsung dan tidak langsung dipengaruhi oleh kurangnya pemberdayaan wanita, keluarga dan sumber daya manusia sebagai masalah utama, sedangkan masalah dasar adalah krisis ekonomi, politik dan sosial.

24

Grafik 9. Tren Ibu Hamil Kurang Energi Kronis (KEK) Kota Yogyakarta Tahun 2016-2020

Grafik 9 menunjukkan kasus ibu hamil KEK tahun 2020 mengalami penurunan dibanding tahun 2019. Kasus ibu hamil KEK sebesar 14% pada tahun 2021 menunjukkan Kota Yogyakarta lebih kecil dibandingkan target kejadian ibu hamil KEK nasional tahun 2020 sebesar < 16 %.

Permasalahan pengendalian dan upaya penurunan kejadian ibu hamil KEK 1. Permasalahan dalam menurunkan angka ibu hamil KEK

a. Calon ibu hamil dan ibu hamil baru yang mempunyai Lingkar Lengan kurang dari <

23.5 cm.

b. Pemahaman kesehatan reproduksi

c. Pemahaman tentang asupan saat kehamilan 2. Upaya penurunan kejadian ibu hamil KEK

a. Koordinasi untuk mendapatkan dukungan lintas sektor, organisasi profesi, tokoh masyarakat, LSM dan institusi lainnya

b. koordinasi lintas program melalui kegiatan edukasi kesehatan reproduksi remaja putri melalui program Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) dan Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR), konseling catin, pemeriksaan ibu hamil terpadu (Pelayanan Antenatal Terpadu)

25

c. Pemberian Makanan Tambahan Pemulihan (PMT Pemulihan) untuk ibu hamil KEK disertai konseling gizi pada ibu hamil.

d. Konseling calon pengantin.

e. Pemantauan dan pendampingan ibu hamil oleh kader,

f. kunjungan rumah bumil risiko tinggi oleh petugas puskesmas, g. kegiatan kelas ibu dan suami siaga.

7. Ibu Nifas mendapatkan Vitamin A

94,37 94,72 96,77 98,09 99,6

85 90 95 98

70

2016 2017 2018 2019 2020

Pemberian Vit A (%) Target (%)

Sumber : Laporan PWS Gizi Puskesmas Tahun 2020

Grafik 10. Pemberian Vitamin A Pada Ibu Nifas Kota Yogyakarta Tahun 2016-2020

Ibu nifas membutuhkan vitamin A karena pada saat proses melahirkan telah kehilangan sejumlah darah sehingga berisiko mengalami kekurangan vitamin A. Pemberian vitamin A dapat membantu menurunkan angka kematian pada ibu dan bayi, mengurangi penyakit infeksi pasca persalinan, mempercepat proses pemulihan dan mencegah anemia.

Setiap ibu dalam masa nifas mendapatkan dua kapsul Vitamin A warna merah (200.000 IU), satu kapsul diberikan segera setelah melahirkan dan kapsul kedua diberikan minimal 24 jam setelah pemberian pertama. Kapsul Vitamin A diberikan di puskesmas dan di

26

rumah sakit yang ada di Kota Yogyakarta. Periode 2016 - 2020 cakupan pemberian vitamin A pada ibu nifas terjadi peningkatan (Grafik 10)

Peningkatan cakupan pemberian vitamin A dan pencapaian sesuai target pada ibu nifas pada periode tahun 2016 – 2020 merupakan dampak dari upaya yang dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta berupa :

1) Komunikasi aktif antara Dinas kesehatan dan Rumah Sakit/Klinik mandiri 2) Peningkatan aktifitasnkader pendamping ibu hamil di wilayah

8. Ibu hamil mendapatkan tablet Fe 30 tablet (Fe1) dan Fe 90 tablet (Fe3)

Kebutuhan zat besi pada ibu hamil meningkat 25% dibandingkan wanita yang tidak hamil.

Kebutuhan tersebut sangat sulit dipenuhi hanya dari makanan saja. Oleh karena itu, diperlukan Tablet Tambah darah (TTD) untuk mencegah dan menanggulangi anemia gizi besi. Sebaiknya ibu hamil mulai mengonsumsi TTD sejak konsepsi sampai masa nifas.

Selama kehamilan, ibu hamil mendapatkan minimal 90 tablet tambah darah. Ibu hamil mendapat 90 TTD (Fe3) adalah jumlah ibu hamil yang selama kehamilan mendapatkan minimal 90 tablet. Output dari pemberian tablet Fe pada ibu hamil adalah penurunan kejadian anemia pada ibu hamil. Periode 2016 - 2020 prosentase ibu hamil mendapat tablet Fe3 terjadi peningkatan. Tahun 2020 sebanyak 89,8% ibu hamil mendapatkan Tablet Fe3 diatas target nasional sebesar 80% (Grafik 11)

88,08 92,98

Grafik 11. Bumil Mendapat Tablet Fe Kota Yogyakarta Tahun 2015-2020

27 9. Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR)

Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) merupakan salah satu faktor determinan terjadinya masalah stunting. Anak umur 12-23 bulan dengan berat lahir rendah berisiko 1,74 kali menjadi stunting dibandingkan yang lahir dengan berat badan normal (Aryastami et al., 2017). BBLR sangat berkaitan dengan kejadian kesakitan dan kematian pada janin dan neonatal. Indikator ini sebagai indikator outcome dari kondisi ibu selama kehamilan. Bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) adalah bayi prematur maupun bayi cukup bulan yang lahir dengan berat badan kurang dari 2500 gram. Persentase bayi BBLR juga menentukan derajat kesehatan masyarakat.

Persentase BBLR didapatkan dari bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 2500 gram dibandingkan dengan bayi yang lahir hidup pada tahun tersebut.

5,46 5,16

Sumber : Laporan PWS Gizi Puskesmas Tahun 2020

Grafik 12. Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) di Kota Yogyakarta Tahun 2016-2020

Periode Tahun 2016 – 2020 kasus Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR) fluktuatif meningkat.

Tahun 2020 prevalensi BB 8,2% lebih tinggi dibandingkan pada tahun 2019.

28 10. Bayi mendapatkan ASI Eksklusif

Bayi mendapat ASI Eksklusif adalah bayi umur 0-6 bulan yang diberi ASI saja tanpa makanan atau cairan lain kecuali obat, vitamin, dan mineral. Cakupan ASI Eksklusif bayi usia 0-6 bulan di Kota Yogyakarta pada tahun 2020 sebesar 73,2%, lebih rendah dibanding tahun 2019 sebesar 0,5% dan diatas target nasional

Upaya Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta dalam rangka meningkatkan cakupan pemberian asi 0-6 bulan antara lain :

a. Promosi dan konseling menyusui

b. Pelatihan konseling menyusui. Jumlah konselor ASI aktif di Kota Yogyakarta : 102 orang.

c. Perda No. 1 Tahun 2014 tentang Pemberian ASI Eksklusif

d. Peraturan Walikota No. 70 Tahun 2020 tentang Petunjuk Pelaksanaan Peraturan Daerah Kota Yogyakarta Nomor 1 Tahun 2014 Tentang Pemberian Air Susu Ibu Eksklusif e. Monitoring dan Evaluasi Manajemen 10 LMKM di RS/Klinik dengan melibatkan lintas

program dan organisasi profesi dengan mengundang narasumber ahli.

f. Pelaksanaan kelas ibu balita, KP-ibu

61,6 66,1 67,42

Grafik 13. Pemberian ASI Ekslusif di Kota Yogyakarta Tahun 2016-2020

29 11. Pemberian vitamin A bagi bayi dan balita

Vitamin A merupakan zat gizi esensial yang dibutuhkan oleh tubuh dan asupan vitamin A dari makanan sehari-hari umumnya masih kurang. Kekurangan vitamin A (KVA) di dalam tubuh yang berlangsung lama menimbulkan berbagai masalah kesehatan yang berdampak pada meningkatnya resiko kesakitan dan kematian. Mempertahankan status vitamin A pada bayi dan anak balita dapat mengurangi masalah kesehatan masyarakat seperti kecacingan dan campak.

Pemberian vitamin A pada bayi dan balita dilakukan pada bulan Februari dan Agustus secara bersamaan. Bayi (umur 6-11 bulan) diberikan kapsul vitamin A warna biru (100.000 IU) dan anak balita (umur 12-59 bulan) diberikan kapsul vitamin A warna merah (200.000 IU). Capaian distribusi pemberian vitamin A pada bayi dan anak balita sudah 100%.

Pemberian Vitamin A pada saat pelaksanaan kegiatan posyandu dan dengan metode door to door (sweeping) bagi bayi dan anak balita yang tidak dibawa ke posyandu pada bulan Februari dan Agustus.

30

100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100

86 86 86 86 86 86 86 86 86 86 86 86 86 86 86 86 86 86

75 80 85 90 95 100 105

Bayi (6-11 Bln) Anak (12-59 Bln) Balita (6-59 Bln) Target

Sumber : Laporan PWS Gizi Puskesmas Tahun 2020

Grafik 14. Cakupan Pemberian Vitamin A Pada Bayi, Anak Balita dan Balita KotaYogyakarta Tahun 2016-2020

12. Partisipasi Masyarakat (Balita Ditimbang di Posyandu)

Balita yang ditimbang berat badannya (D) menggambarkan tingkat keberlangsungan pemantauan pertumbuhan sebagai bentuk partisipasi masyarakat sekaligus menilai kinerja petugas kesehatan dalam mengedukasi masyarakat untuk melakukan pemantauan pertumbuhan. Sedangkan tingkat keberhasilan program dapat dilihat dari balita yang berat badannya naik (N) dibandingkan dengan balita yang datang dan ditimbang ke posyandu (D). Sedangkan BGM adalah balita yang ditimbang di posyandu dengan berat badan menurut umur berada pada dan di bawah garis merah pada Kartu Menuju Sehat (KMS).

31

Tingkat partisipasi masyarakat ke posyandu (D/S) di Kota Yogyakarta pada tahun 2020 sebesar 53,49%, lebih rendah dibandingkan pada tahun 2019 (75,26%), belum sesuai target nasional sebesar 60%.

Kendala pandemi Covid-19 berpengaruh pada kegiatan pemantauan pertumbuhan bayi dan anak balita. Tahun 2020 kegiatan pemantauan efektif dilaksanakan pada bulan Januari-Maret 2020, pada bulan April-Juli 2020 kegiatan dihentikan sementara untuk mengurangi risiko paparan Covid-19. Bulan Agustus-Desember 2020 kegiatan pemantaun pertumbuhan dilaksanakan dengan memperhatikan kondisi penyebaran Covid-19. Beberapa metode digunakan untuk pemantauan pertumbuhan :

a. Metode pemantauan pertumbuhan mandiri yang dilakukan oleh orang tua balita, kemudian hasilnya disetorkan ke kader

b. Metode mobile posyandu : kader keliling ke rumah-rumah balita

c. Metode posyandu konvensional : kedatangan balita dijadwal, waktu dibatasi dengan tetap mematuhi protokol kesehatan.

Grafik 15. Partisipasi Masyarakat Ke Posyandu (D/S) Kota Yogyakarta Tahun 2016-2020

32 B. Angka Kematian

1. Angka Kematian Ibu

Angka kematian ibu (AKI) adalah rasio kematian ibu selama masa kehamilan, persalinan dan nifas yang disebabkan oleh kehamilan, persalinan, nifas atau pengelolaannya. di setiap 100.000 kelahiran hidup (Kemenkes, 2018). Angka kematian ibu (AKI) merupakan salah satu indikator keberhasilan upaya kesehatan ibu dan derajat kesehatan masyarakat. Angka kematian ibu (AKI) menggambarkan risiko yang dihadapi bumil selama kehamilan dan melahirkan. AKI dipengaruhi oleh status gizi, keadaan sosial ekonomi, keadaan kesehatan menjelang kehamilan, kejadian komplikasi pada kehamilan dan kelahiran, ketersediaan dan akses fasilitas pelayanan kesehatan.

125

102

110 111,5

119,8

64,14 123

104 102 102 102 102

2015 2016 2017 2018 2019 2020

AKI Target

Grafik 16. Tren AKI Kota Yogyakarta Tahun 2015 – 2020

33

Tahun 2020 AKI Kota Yogyakarta sebesar 64.14, dari sebanyak 3.118 kelahiran hidup dengan 2 kasus kematian ibu. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan dengan AKI yang ditetapkan pada Tahun 2020 sebesar kurang 102. Tren AKI dalam kurun waktu 2016 – 2019 meningkat dan lebih tinggi dari angka yang ditetapkan, tahun 2020 turun dibawah angka yang ditetapkan (Grafik 13)

Penyebab 2 kasus kematian pada tahun 2020 adalah perdarahan (1 kasus), dan penyakit jantung (1 kasus), kedua kasus tersebut merupakan kasus kematian yang seharusnya dapat dicegah (unavoidable).

a. Tantangan Pengendalian AKI / AKB di Kota Yogyakarta : 1) Kasus anemia pada ibu hamil tinggi dan meningkat

Anemia pada ibu hamil berkaitan dengan mortalitas dan morbiditas pada ibu dan bayi. WHO menyebutkan 40% kematian ibu di negara berkembang berkaitan dengan anemia pada masa kehamilan. Anemia dan kekurangan energi kronis (KEK) pada ibu hamil menjadi penyebab utama terjadinya perdarahan serta infeksi yang merupakan faktor kematian ibu (Kemenkes, 2018)

Prevalensi anemia pada ibu hamil di Kota Yogyakarta pada periode 2016 - 2020 menunjukkan fluktuatif meningkat ; 22.78 %, 30.81%, 35.49%, 30.08 % dan ….. % menjadi faktor risiko pada kematian ibu hamil di Kota Yogyakarta

2) Pelayanan ANC terpadu

Pelayanan ANC dilaksanakan secara komprehensif, terpadu dan berkualitas, untuk deteksi dan penanganan dini adanya masalah kesehatan/penyakit dan menghindari adanya missed opportunity yang diselenggarakan dengan efektif dan efisien (Kemenkes, 2015). Pelayanan ANC terpadu merupakan upaya pencegahan masalah kesehatan/penyakit yang dapat memengaruhi kehamilan, pertumbuhan janin, serta komplikasi kehamilan persalinan yang dapat mengancam kehidupan ibu dan bayi seperti KEK, anemia gizi besi, kurang yodium, HIV/AIDS, malaria, TB dan lain sebagainya.Pelayanan K1 di Kota Yogyakarta tercapai 100 % pada tahun 2020, catatan penting untuk tahapan berikutnya adalah peningkatan kualitas penyelenggaraan layanan antenatal.

34

3) Kecepatan dan ketepatan penanganan di fasilitas rujukan.

Kematian ibu yang disebabkan oleh perdarahan merupakan kasus kematian yang dapat dicegah. Kecepatan dan ketepatan dalam tatalaksana kedaruratan obstetric merupakan kunci dari pencegahan kematian ibu hamil dengan perdarahan.

Kondisi geografis dan jumlah faskes di Kota Yogyakarta yang sangat terjangkau, seharusnya kasus kematian ibu karena perdarahan dapat dicegah. Hal ini terjadi karena adanya kegagalan dalam dalam penanganan kasus kedaruratan obstetri.

Menurut Santy (2008) Kematian dan kesakitan ibu sebenarnya dapat dikurangi atau dicegah dengan berbagai usaha perbaikan dalam bidang pelayanan kesehatan obstetri.

Kegagalan dalam penanganan kasus kedaruratan obstetri pada umumnya disebabkan oleh kegagalan dalam mengenal risiko kehamilan, keterlambatan rujukan, kurangnya sarana untuk perawatan ibu hamil risiko tinggi, kurangnya pengetahuan tenaga medis, paramedik dan penderita dalam mengenal kehamilan risiko tinggi (KRT) secara dini, masalah dalam pelayanan obstetri dan kondisi ekonomi. Bila keadaan gawat darurat sudah terdeteksi, maka kelangsungan hidup tergantung pada kecepatan mendapat pelayanan obstetri esensial. Salah satu faktor yang mempengaruhi tingginya angka kematian ibu adalah proses rujukan yang terlambat dan ketidaksiapan fasilitas kesehatan terutama di Puskesmas dan di rumah sakit untuk melakukan pelayanan kedaruratan obstetri emergensi komprehensif . Pelayanan rujukan maternal merupakan mata rantai yang penting. Kira-kira 40% persalinan di rumah sakit adalah kasus rujukan. Kematian maternal di rumah sakit 80%-90% berasal dari kelompok rujukan. Pelayanan kesehatan primer diperkirakan dapat menurunkan angka kematian ibu sampai 20%, namun dengan sistem rujukan yang efektif, AKI dapat ditekan sampai 80%. (SANTY, 2008)

35 b. Respon dan upaya perbaikan

Upaya perbaikan yang perlu dilakukan pada tahap berikutnya adalah :

Meningkatkan kemampuan petugas dalam mengenali gejala kegawatan obstetri, khususnya perdarahan post partum.

1) Sosialisasi dan menerapkan Modified Early Obstetric Warning System (MEOWS) untuk mengenali secara dini tanda dan gejala kegawatan obstetri di faskes.

2) Meningkatkan kualitas rujukan termasuk rujuk balik 2. Angka Kematian Bayi dan Angka Kematian Anak Balita

Angka Kematian Bayi (AKB) dan Angka Kematian Anak Balita (AKABA) di Kota Yogyakarta pada periode 2015 – 2020 menunjukkan tren fluktuatif naik. Tahun 2020 Angka Kematian Bayi sebesar 11.22, lebih tinggi 4.04 poin dibandingkan AKB Tahun 2019 atau sebesar 7.18 per 1000 kelahiran hidup.

Pada 3 (tiga) tahun terakhir AKB Kota Yogyakarta belum mencapai target. Hal ini seperti terlihat pada grafik 14 dan 15.

8,2 7,8

2015 2016 2017 2018 2019 2020

AKB Target

Grafik 17. Tren AKB Kota Yogyakarta Tahun 2015-2020

36 1,5

1,04 1,02 1,26

3

1,92

2015 2016 2017 2018 2019 2020

Grafik 18. Tren AKABA Kota Yogyakarta Tahun 2015- 2020

Berdasarkan umur, proporsi kematian bayi di Kota Yogyakarta Tahun 2020, terdiri dari 37

% terjadi pada masa neonatal dini, 32 % pada masa neonatal lanjut dan 31 % pada masa post neonatal. Hal ini seperti terlihat pada grafik 16.

37%

( 0 - 6 hari)

32%

(7 - 28 hari)

31%

(29 hari - 11 bulan)

Grafik 19. Kematian Bayi Kota Yogyakarta Berdasarkan Umur Tahun 2020

37

BBLR Sepsis Aspirasi Kelainan jantung PPH

2019 2020

Grafik 20. Penyebab Kematian Bayi Kota Yogyakarta Tahun 2019 - 2020

Penyebab kematian bayi terbanyak pada Tahun 2020 yaitu asfiksia yaitu 9 kasus, dan terbanyak kedua adalah kelainan jantung bawaan sebanyak 6 kasus. Di tingkat nasional 46,2% kematian bayi disebabkan oleh masalah neonatal yaitu asfiksia dan BBLR.

Di Kota Yogyakarta asfiksia masih merupakan penyebab kematian neonatal yang paling tinggi. Penyebab kematian tersebut seharusnya dapat dicegah dan ditangani apabila masyarakat dengan mudah dapat mengakses pelayanan kesehatan, memiliki tenaga kesehatan yang kompeten, sistem rujukan yang berjalan dengan baik, deteksi dini tanda bahaya dan kesadaran orang tua untuk mencari pertolongan kesehatan. Hal ini berkaitan dengan kualitas pelayanan persalinan, dan penanganan BBL segera setelah lahir dan beberapa hari pertama setelah lahir yang kurang optimal (Femelia et al., 2020)

Selain itu, kelainan jantung bawaan menjadi penyebab terbanyak kedua AKB di Kota Yogyakarta pada tahun 2020. Penyakit jantung bawaan (PJB) merupakan bentuk kelainan jantung yang sudah didapatkan sejak bayi baru lahir. PJB merupakan penyakit yang berbahaya. Apabila tidak terdeteksi secara dini dan tidak ditangani dengan baik, 50%

38

kematiannya akan terjadi pada bulan pertama kehidupan. Di negara maju hampir semua jenis PJB telah dideteksi dalam masa bayi bahkan pada usia kurang dari 1 bulan, sedangkan di negara berkembang banyak yang baru terdeteksi setelah anak lebih besar, sehingga pada beberapa jenis PJB yang berat mungkin telah meninggal sebelum terdeteksi (Hermawan et al., 2018)

Tingginya kelainan jantung kongenital pada bayi baru lahir di Kota Yogyakarta perlu mendapat perhatian khusus, karena hal ini kemungkinan dipengaruhi oleh faktor sosial

Tingginya kelainan jantung kongenital pada bayi baru lahir di Kota Yogyakarta perlu mendapat perhatian khusus, karena hal ini kemungkinan dipengaruhi oleh faktor sosial

Dalam dokumen PROFIL KESEHATAN TAHUN 2021 KOTA YOGYAKARTA (Halaman 31-200)

Dokumen terkait