BAB III SITUASI DERAJAT KESEHATAN PROVINSI GORONTALO
H. Angka Kesakitan (Morbiditas)
I. Status Gizi Masyarakat
Faktor yang Mempengaruhi Status Gizi adalah makanan dan penyakit infeksi yang mungkin di derita baik yang berasal dari ketahanan pangan keluarga (langsung) maupun faktor pelayanan kesehatan dan kesehatan lingkungan (tidak langsung). Masalah gizi pada hakikatnya adalah masalah kesehatan masyarakat, namun penanggulangannya tidak dapat dilakukan dengan pendekatan medis dan pelayanan kesehatan saja. Penyebab timbulnya masalah gizi adalah multifaktor,
oleh karena itu pendekatan penanggulangannya harus melibatkan berbagai sektor yang terkait. Indikator status gizi masyarakat antara lain tergambar pada jumlah bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), Balita dengan Gizi Kurang dan Balita dengan Gizi Buruk.
1. Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR)
Menurut WHO, 1961 berat bayi lahir rendah (BBLR) adalah bayi baru lahir dengan berat badan 2500 gram/ lebih rendah, berat lahir adalah berat bayi yang ditimbang dalam 1 (satu) jam setelah lahir.
Secara nasional berdasarkan analisa lanjut SDKI, angka BBLR sekitar 7,5%. Angka ini lebih besar dari target BBLR yang ditetapkan pada sasaran program perbaikan gizi menuju Indonesia Sehat 2010 yakni maksimal 7%. Persentase BBLR Provinsi Gorontalo tahun 2010 adalah 2,06%. Data ini mengalami penurunan yang cukup signifikan di bandingkan tahun sebelumnya yaitu 8,22% dan masih jauh di bawah dari capaian menurut Riskesdas tahun 2010 Provinsi Gorontalo yang mencapai 16,7% bayi. Tahun 2011 jumlah BBLR Provinsi Gorontalo sebanyak 451 bayi atau 2,5%, Selengkapnya dapat di lihat dari table berikut :
Gambar : 3.20
Persentase Berat Bayi Lahir Rendah Provinsi Gorontalo Tahun 2010-2011
Grafik diatas menunjukkan Jumlah BBLR Kabupaten/Kota dan Provinsi Gorontalo, dimana tahun 2010 jumlah BBLR Provinsi Gorontalo sebanyak 446 bayi dengan persentase 2,06%. Tahun 2011 jumlah BBLR Provinsi Gorontalo meningkat sebanyak 451 kasus atau 2,5%, jumlah tertinggi dilaporkan oleh kabupaten Gorontalo sebanyak 184 kasus atau 3,1% sedangkan terendah dilaporkan oleh Kabupaten Boalemo sebanyak 21 kasus atau 1,6%. Jumlah ini diupayakan terus menurun melalui pemeriksaan kesehatan lengkap ibu hamil dan pemberian vitamin serta melalui berbagai konseling rutin terhadap ibu hamil yang memiliki resiko tinggi terhadap kehamilan dan persalinan sehingga tidak terjadi kasus BBLR di Provinsi Gorontalo.
2. Balita Gizi Kurang
Survei Sosial Ekonomi Nasional 2005, angka gizi buruk dan gizi kurang adalah 28 % dari jumlah anak Indonesia. Gizi kurang (undernutrition) terbanyak dialami usia balita dikarenakan pada usia tersebut asupan gizi berlangsung dalam jangka waktu yang panjang, akan memberikan dampak terhadap proses tumbuh kembang anak dengan segala akibatnya di kemudian hari. Tidak hanya pada pertumbuhan fisik anak, tetapi juga perkembangan mentalnya yang akan berdampak pada produktivitas suatu bangsa.
Dalam ringkasan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010 dikatakan secara nasional sudah terjadi penurunan prevalensi kurang gizi dari 18,4 persen di 2007 menjadi 17,9 persen di 2010. Penurunan itu disumbang oleh penurunan pada prevalensi gizi buruk dari 5,4 persen di 2007 menjadi 4,9 persen di 2010. Provinsi Gorontalo tahun 2011 balita dengan gizi kurang mencapai jumlah 4.675 atu 6,70%.
Gambar : 3.21
Persentase Balita Gizi Kurang Kabupaten / Kota se Provinsi Gorontalo Tahun 2011
Sumber : Profil Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota Tahun 2011
Gambar diatas menunjukkan persentase Balita dengan Gizi Kurang Provinsi Gorontalo mencapai 6,7% dengan capaian Kabupaten/Kota tertinggi kabupaten Gorontalo Utara 17,2% dan terendah Kota Gorontalo 0,82%. Data ini belum termasuk laporan dari Kabupaten Bone Bolango, melihat tingkat capaian tersebut Provinsi Gorontalo masih diatas target Nasional yang harus menurunkan persentase Balita Gizi Kurang hingga <5%.
3. Balita Gizi Buruk
Status gizi sesorang dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal merupakan faktor yang menjadi dasar pemenuhan tingkat kebutuhan seseorang, sedangkan faktor eksternal terdiri dari daya beli, pendidikan, pengetahuan dan jumlah anggota keluarga. Gizi buruk memang masih menjadi momok yang menyeramkan dan sulit untuk ditangani dengan mudah. Sebab, persoalan gizi buruk bukan hanya masalah kekurangan nutrisi atau makanan sehat saja. Timbulnya gizi buruk juga disebabkan oleh lingkungan yang kurang baik, kurangnya pengetahuan masyarakat tentang gizi dan kondisi ekonomi sebagian besar masyarakat di bawah garis kemiskinan.
Capaian Nasional dalam upaya penurunan Prevalenzi Gizi Kurang terjadi pada tahun 2007 yaitu dari 5,4% menjadi 4,9% di tahun 2010 (Riskesdas
persentase balita gizi buruk dilaporkan sebesar 8,2% dan capaian 2010 adalah 11,2% angka ini merupakan yang tertinggi capaian ditingkat Nasional. Namun demikian semua provinsi di Indonesia masih memiliki prevalensi berat kurang diatas batas “non-public health problem” menurut WHO yaitu 10,0%.
Gambar : 3.22
Presentase Balita Gizi Buruk di Provinsi Gorontalo Tahun 2009 – 2011
Sumber : Profil Kabupaten/Kota Tahun 2009 – 2011
Gambar diatas menunjukkan bahwa terjadi fluktuasi kasus gizi buruk dalam kurun waktu 3 tahun, dari data Profil Kabupaten/Kota se Provinsi Gorontalo tahun 2009 persentase gizi buruk mencapai 3,7% kemudian mengalami penurunan ditahun 2010 mencapai 1,3%. Tahun 2011 Gizi buruk Provinsi Gorontalo tercatat sebanyak 739 penderita dengan persentase 0,96%, jumlah tertinggi di kabupaten pohuwato dengan 1,68% Angka ini sudah menggambarkan upaya yang harus dilakukan guna mencapai target nasional yaitu <5%.
Bagi penderita gizi buruk, pemerintah Provinsi Gorontalo telah menyediakan Pusat Pemulihan Gizi atau Theurapeutic Feeding Centre (TFC). TFC merupakan unit layanan perawatan dan pengobatan gizi buruk secara intensif di ruangan khusus, di unit ini ibu dan keluarga penderita akan terlibat dalam perawatan anak sehingga pemulihan gizi lebih efektif.
BAB IV
SITUASI UPAYA KESEHATAN
Pembangunan kesehatan adalah bagian integral dari pembangunan nasional yang bertujuan agar semua lapisan masyarakat memperoleh pelayanan kesehatan secara mudah, leluasa dan murah. Dengan upaya tersebut diharapkan akan tercapai derajat kesehatan masyarakat yang baik. Upaya untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat sudah banyak dilakukan oleh pemerintah antara lain dengan memberikan penyuluhan kesehatan agar keluarga berperilaku hidup sehat, dan penyediaan fasilitas seperti Rumah Sakit, Puskesmas, Posyandu, Toko Obat, Apotik, Tenaga Kesehatan seperti dokter, Bidan, Perawat dan paramedis. Guna Mencapai tujuan pembangunan kesehatan yang optimal diselenggarakan berbagai upaya kesehatan secara menyeluruh, berjenjang dan terpadu. Berikut adah uraian beberapa upaya pelayanan kesehatan di Provinsi Gorontalo.