KATA PENGANTAR Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Alhamdulillahirobbilalamin, segala puji bagi Allah SWT atas segala berkat, rahmat, taufik, serta hidayah-Nya sehingga Buku Profil Kesehatan Provinsi Gorontalo Tahun 2011 ini dapat terselesaikan dengan baik. Profil Kesehatan Tahun 2011 merupakan awal dari penyajian data dan informasi kesehatan yang berbasis data terpilah menurut jenis kelamin. Dengan adanya Buku Profil ini diharapkan mampu menjawab kebutuhan data-data/informasi kesehatan yang dapat menggambarkan kondisi kesehatan diKabupaten/Kota dan Provinsi Gorontalo serta menjadikannya bahan dasar dalam penyusunan rencana pembangunan kesehatan maupun kebijakan-kebijakan di kabupaten/kota maupun Provinsi.
Profil Kesehatan Provinsi Gorontalo Tahun 2011 memuat Situasi kesehatan di Provinsi Gorontalo beserta permasalah yang dihadapi dan pencapaian program-program kesehatan sebagai bahan evaluasi keberhasilan pembangunan kesehatan di Provinsi Gorontalo termasuk kinerja penyelenggaraan standar pelayanan minimal bidang kesehatan dan pencapaian indikator MDG’s. Data dan informasi di sajikan dalam bentuk sederhana, informatif, mudah di mengerti sehingga dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh berbagai pihak maupun masyarakat pada umumnya.
Kami menyadari bahwa penyusunan profil kesehatan Tahun 2011 ini masih banyak kekurangan terutama dari kelengkapan dan ketepatan waktu penyajian, untuk itu kritik dan saran kami harapkan menuju Profil Kesehatan yang lebih baik.
Demikian atas bantuan berbagai pihak yang terkait dalam penyusunan profil ini kami ucapkan terimakasih.
Gorontalo, Agustus 2011
KEPALA DINAS KESEHATAN PROVINSI GORONTALO
dr.Hi. Triyanto S. Bialangi, M.Kes Pembina Utama Muda NIP. 19631101 199103 1 009
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... ii
DAFTAR TABEL ... iii
DAFTAR GAMBAR... iv
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1
B. Maksud dan Tujuan ... 2
C. Sistematika Penyajian ... 3
BAB II GAMBARAN UMUM PROVINSI GORONTALO
A. Keadaan Geografis dan Topografi... 4
B. Gambaran Demografi ... 6
C. Gambaran Ekonomi ... 10
D. Gambaran Tingkat Pendidikan ... 11
BAB III SITUASI DERAJAT KESEHATAN PROVINSI GORONTALO A. Visi ... 14
B. Misi ... 14
C. Tujuan ... 14
D. Kebijakan ... 14
E. Strategi ... 14
F. Program dan Kegiatan Pembangunan Kesehatan... 15
G. Angka Kematian (Mortalitas) ... 18
H. Angka Kesakitan (Morbiditas) ... 27
BAB IV SITUASI UPAYA KESEHATAN
A. Pelayanan Kesehatan Dasar ... 47
B. Akses dan Mutu Pelayanan Kesehatan ... 57
C. Perilaku Hidup Masyarakat ... 59
D. Keadaan Lingkungan ... 61
BAB V SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN A. Sarana Kesehatan ... 67
B. APBD Kesehatan ... 72
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 73
B. Saran ... 76
DAFTAR PUSTAKA... 77 LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
1. Tabel 2.1, Luas wilayah Provinsi Gorontalo ... 5 2. Tabel 2.2, Jumlah Kecamatan dan Kelurahan/Desa
di Provinsi Gorontalo ... 8 3. Tabel 2.3, Kepadatan Penduduk Menurut Jenis Kelamin ... 6 4. Tabel 3.1, Capaian Usia Harapan Hidup Provinsi Gorontalo
Tahun 2006-2010 ... 26 5. Tabel 3.2, Keberhasilan Provinsi Berdasarkan Pencapaian CDR
dan SR Tahun 2010 ... 29 6. Tabel 5.1, Anggaran APBD Kabupaten/Kota Provinsi Gorontalo
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
1. Gambar 2.1, Peta Provinsi Gorontalo ... 4
2. Gambar 2.2, Piramida Penduduk Provinsi Gorontalo Tahun 2011 ... 7
3. Gambar 2.3, Kecenderungan Jumlah Penduduk Tahun 2007-2011 ... 8
4. Gambar 2.4, Jumlah Penduduk Miskin di Provinsi Gorontalo
Tahun 2003-2010 ... 8 5. Gambar 2.5, IPM Provinsi Gorontalo berbanding IPM Nasional
Tahun 2002-2010 ... 9
6. Gambar 2.6, IPM Kabupaten/Kota Provinsi Gorontalo tahun 2010 ... 10
7. Gambar 2.7, Persentase Penduduk usia > 10 Tahun Menurut
Tingkat Pendidikan Provinsi Gorontalo tahun 2011 ... 12
8. Gambar 3.1, Jumlah Bayi Mati di Provinsi Gorontalo tahun 2007-2011... 19
9. Gambar 3.2, Jumlah dan Angka Melatian Bayi Menurut Jenis Kelamin
Provinsi Gorontalo tahun 2011 ... 20 10. Gambar 3.3, Kecenderungan Angka Kematian Bayi Provinsi Gorontalo
Tahun 2007-2011 ... 21 11. Gambar 3.3, Jumlah Balita Mati Kabupaten/Kota se Provinsi Gorontalo
Tahun 2007-2011 ... 22 12. Gambar 3.5, Jumlah Kematian Ibu Kabupaten/Kota
se Provinsi Gorontalo tahun 2007-2011 ... 24 13. Gambar 3.6, Kecenderungan Angka Kematian Ibu (AKI)
Provinsi Gorontalo tahun 2007-2011... 25 14. Gambar 3.7, Persentase TB Paru Sembuh Provinsi Gorontalo
Tahun 2010-2011 ... 28 15. Gambar 3.8, Persentase Kasus Baru TB Paru (BTA +)
yang di temukan (CDR) Provinsi Gorontalo tahun 2004-2011... 29
16. Gambar 3.9, Jumlah Kasus HIV/AIDS per Kabupaten/Kota Provinsi Gorontalo
Tahun 2011 ... 31
18. Gambar 3.11, Persentase Penduduk Umur ≥ 15 Tahun yang Pernah
Mendengar HIV/ AIDS menurut Provinsi, Riskesdas 2010 ... 33
19. Gambar 3.12, Jumlah Kasus DBD berdasarkan jenis kelamin
di Provinsi Gorontalo Tahun 2011 ... 34 20. Gambar 3.13, Persentase Diare yang Ditangani Berdasarkan Jenis Kelamin
Provinsi Gorontalo Tahun 2011 ... 35 21. Gambar 3.14, Angka Kesakitan Malaria Positif Provinsi Gorontalo
Tahun 2009-2011 ... 37 22. Gambar 3.15, Persentase Rumah Tangga yang Mengobati Sendiri Bila Sakit
dalam Satu Tahun Terakhir menurut Provinsi, Riskesdas 2010 ... 38
23. Gambar 3.16, Jumlah Penderita Malaria Positif berdasarkan Jenis Kelamin
Provinsi Gorontalo Tahun 2011 ... 39 24. Gambar 3.17, Angka Kesakitan Penyakit Malaria, DBD Dan Diare
Di Kabupaten / Kota Tahun 2010 ... 40
25. Gambar 3.18, Jumlah Kasus Campak Provinsi Gorontalo Tahun 2008 – 2010 .... 41
26. Gambar 3.19, Jumlah Kasus Campak berdasarkan jenis kelamin
Provinsi Gorontalo Tahun 2011 ... 42 27. Gambar 3.20, Persentase Berat Bayi Lahir Rendah Provinsi Gorontalo
Tahun 2010-2011 ... 43 28. Gambar 3.21, Persentase Balita Gizi Kurang Kabupaten / Kota
se Provinsi Gorontalo Tahun 2011 ... 45 29. Gambar 3.22, Presentase Balita Gizi Buruk di Provinsi Gorontalo
Tahun 2009 – 2011 ... 46 30. Gambar 4.1, Persentase Cakupan Pelayanan K1 dan K4 Ibu Hamil
Provinsi Gorontalo Tahun 2007 – 2011 ... 48 31. Gambar 4.2, Cakupan Kunjungan K1 dan K4 Kabupaten / Kota
se Provinsi Gorontalo Tahun 2011 ... 49 32. Gambar 4.3, Trend Persalinan Nakes Provinsi Gorontalo
Tahun 2007 – 2011 ... 50 33. Gambar 4.4, Persentase Persalinan dengan Pertolongan Tenaga Kesehatan
Provinsi Gorontalo Tahun 2009 – 2011 ... 51 34. Gambar 4.5, Cakupan Ibu Hamil yang Mendapatkan tablet Fe1 dan Fe3
35. Gambar 4.6, Diagram Proporsi Jenis Kontrasepsi Yang Digunakan
oleh Peserta KB Aktif Provinsi Gorontalo Tahun 2011 ... 53 36. Gambar 4.7, Persentase Dasa / Kelurahan Universal Child Immunization (UCI)
Provinsi Gorontalo Tahun 2010-2011 ... 55 37. Gambar 4.8, Korelasi antara cakupan Imunisasi Campak dan capaian
Desa/Kelurahan UCI Provinsi Gorontalo Tahun 2011 ... 56 38. Gambar 4.9, Cakupan Bayi Mendapatkan ASI Eksklusif Kabupaten / Kota
Provinsi Gorontalo Tahun 2010 – 2011 ... 57 39. Gambar 4.10, Cakupan Pelayanan Kesehatan Masyarakat Miskin
di Sarana Kesehatan Strata 1 Tahun 2011 ... 58 40. Gambar 4.11, Rumah tangga Ber PHBS di Provinsi Gorontalo
Tahun 2009 -2011 ... 59 41. Gambar 4.12, Proporsi Posyandu Menurut Strata Provinsi Gorontalo
Tahun 2011 ... 60 42. Gambar 4.13, Prosentase Rumah Sehat Kabupaten / Kota Provinsi Gorontalo
Tahun 2010 – 2011 ... 62 43. Gambar 4.14, Persentase Penduduk Yang Memiliki Akses Air Bersih
Provinsi Gorontalo Tahun 2010-2011 ... 63 44. Gambar 4.15, Proporsi Keluarga berdasarkan Jenis Sarana Air Bersih
yang di gunakan Provinsi Gorontalo Tahun 2011 ... 64 45. Gambar 4.16, Persentase Keluarga dengan Kepemilikan Sarana
Sanitasi Dasar Sehat Kabupaten / Kota Provinsi Gorontalo Tahun 2011 ... 65
46. Gambar 4. 17, Korelasi Antara Persentase Kepemilikan Jamban Sehat
Dengan Kasus Diare Provinsi Gorontalo Tahun 2011 ... 66 47. Gambar 5.1, Jumlah Puskesmas menurut Kabupaten/Kota Provinsi Gorontalo
Tahun 2011 ... 68 48. Gambar 5.2, Perkembangan Posyandu menurut Strata Provinsi Gorontalo
tahun 2009-2011 ... 70 49. Gambar 5.3, Jumlah Tenaga Kesehatan Menurut Kategori Provinsi Gorontalo
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Mewujudkan kualitas sumber daya manusia yang sehat, maju, mandiri, sejahtera, adil dan makmur berdasarkan Undang – undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJMN) Tahun 2005-2025, pembangunan kesehatan diarahkan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya dapat terwujud. Rencana Strategis Kementerian Kesehatan RI tahun 2010-2014 yang ditujukan untuk meningkatkan status kesehatan masyarakat serta mencapai tujuan MDG’s (Millenium Development Goals) yang merupakan elemen penting bagi pemerintah. Hal ini ditandai dengan peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan Indeks Pembangunan Gender (IPG).
Pembangunan dibidang kesehatan sesuai dengan Visi Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo yaitu “Masyarakat Gorontalo yang mandiri untuk hidup sehat” dan Misi yaitu (1) Peningkatan kualitas sumber daya manusia pelaksana pembangunan kesehatan, (2) menggerakkan dan memberdayakan kemandirian masyarakat untuk hidup sehat serta mewujudkan pelayanan kesehatan yang bermutu dan terjangkau, harus dilaksanakan dengan integrasi Pemerintah pusat dan daerah, masyarakat, lintas sektor dan swasta.
Masih banyak masalah – masalah kesehatan yang harus dihadapi dan membutuhkan upaya – upaya pemecahan masalah maupun penekanan terhadap masalah kesehatan tersebut. Saat ini kesehatan adalah salah satu factor yang sangat menentukan dan dominan dalam pembangunan yang berkesinambungan, masalah kesehatan dalam penanganannya saat ini didasarkan pada sebuah paradigma yang dikenal dengan paradigma sehat, yakni paradigma kesehatan yang mengutamakan upaya promotif dan preventif tanpa mengabaikan kuratif dan rehabilitatif. Permasalahan utama yang dihadapi adalah angka kematian bayi, anak balita, dan
belum memadainya tenaga kesehatan hingga daerah terpencil; dan pembiayaan kesehatan yang belum sesuai menurut undang-undang kesehatan no 36 tahun 2009.
Profil Kesehatan Provinsi Gorontalo tahun 2011 menyajikan data-data kesehatan Kabupaten/Kota dan Provinsi yang dapat menjawab sejauh mana tingkat keberhasilan pembangunan kesehatan di Provinsi Gorontalo tahun 2011 sekaligus mengetahui secara terpilah menurut jenis kelamin indikator-indikator kesehatan yang selama ini belum diukur. Hasil yang diperoleh diharapkan benar-benar dapat digunakan dalam pemecahan masalah dan sebagai acuan perencanaan program / kegiatan terutama pemberdayaan masyarakat dan kesetaraan gender dalam bidang kesehatan.
Indikator yang terkait di dalam penyusunan Profil Kesehatan Provinsi Gorontalo meliputi : (1) Indikator derajat kesehatan yang terdiri atas Mortalitas, Morbiditas, dan Status Gizi; (2) indikator upaya kesehatan yang terdiri atas pelayanan kesehatan, perilaku hidup sehat dan keadaan lingkungan; (3) Indikator sumber daya kesehatan terdiri atas sarana kesehatan dan pembiayaan kesehatan; (4) indikator lain yang terkait dengan kesehatan.
Dari indikator kesehatan diatas diharapkan kepada Pemerintah Pusat, Provinsi, Kabupaten/Kota dan swasta agar dapat bekerja sama dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dengan kesadaran akan paradigma hidup sehat yang menganggap kesehatan sebagai suatu kebutuhan utama dan investasi berharga dalam menjalankan pembangunan. Memanfaatkan secara optimal sarana pelayanan kesehatan yang bermutu dan terjangkau terutama oleh masyarakat miskin dan menciptakan individu, keluarga, masyarakat serta lingkungan yang sehat.
B. Maksud Dan Tujuan
Maksud penyusunan profil kesehatan Provinsi Gorontalo ini adalah menyajikan data dan informasi kesehatan untuk dapat dipergunakan oleh seluruh kalangan baik ditingkat pusat, daerah, swasta dan bagi pengambil kebijakan untuk merencanakan program kesehatan di Provinsi Gorontalo yang akan datang.
Sedangkan tujuan penyusunan Profil kesehatan provinsi Gorontalo adalah: 1. Menyajikan data umum wilayah
2. Menyajikan data derajat kesehatan 3. Menyajikan data upaya kesehatan 4. Menyajikan data sumber daya kesehatan C. Sistematika Penyajian
Sistematika penyajian Profil Kesehatan Provinsi Gorontalo 2011 adalah: 1. Pendahuluan
Berisi latar belakang, maksud dan tujuan, sistematika penyajian profil kesehatan Provinsi Gorontalo Tahun 2011.
2. Gambaran Umum.
Berisi gambaran umum Provinsi Gorontalo yang meliputi keadaan geografis, administrasi, kependudukan, ekonomi, pendidikan, sosial budaya dan lingkungan. 3. Situasi Derajat Kesehatan
Berisi uraian tentang indikator mengenai angka kematian, angka kesakitan dan angka status gizi masyarakat.
4. Situasi Upaya Kesehatan
Berisi uraian tentang pelayanan kesehatan dasar, pelayanan kesehatan rujukan dan penunjang, pemberantasan penyakit menular, pembinaan kesehatan lingkungan dan sanitasi dasar, perbaikan gizi masyarakat, pelayanan kefarmasian dan alat kesehatan, pelayanan kesehatan dalam situasi bencana. Pelayanan menurut indikator Standar Pelayanan Minimal (SPM) Bidang Kesehatan serta upaya pelayanan kesehatan lainnya.
5. Situasi Sumber Daya Kesehatan
Berisi uraian tentang sarana kesehatan, tenaga kesehatan, pembiayaan kesehatan dan sumber daya kesehatan lainnya.
6. Kesimpulan
Berisi sajian tentang hal-hal penting yang perlu di telaah lebih lanjut dari Profil Kesehatan Tahun 2011. Selain keberhasilan-keberhasilan dan hal-hal yang masih kurang dalam rangka penyelenggaraan pembangunan kesehatan.
BAB II
GAMBARAN UMUM PROVINSI GORONTALO
Dalam catatan sejarah, Gorontalo merdeka pada tanggal 23 Januari 1942. Meski merdeka sebelum proklamasi para pejuang kemerdekaan mengikatkan Gorontalo dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia terintegrasi dengan Provinsi Sulawesi Utara. Semangat untuk memperoleh kesetaraan sosial, politik dan ekonomi yang mendorong masyarakat Gorontalo secara bersama-sama berjuang untuk memekarkan diri dan membentuk Provinsi Gorontalo. Sampai pada saatnya masyarakat Gorontalo menemui momentum disaat desentralisasi dan otonomi daerah dilaksanakan oleh pemerintah pusat dengan memberlakukan Undang-Undang Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, menjadikan dasar tersebut arah untuk melakukan pemekaran wilayah dengan dipicu oleh kesenjangan dan ketidaksetaraan dengan daerah induk. Tiba pada tanggal 16 Februari 2001 akhirnya Gorontalo resmi memisahkan diri dari Provinsi induk yaitu Provinsi Sulawesi Utara dan menjadi Provinsi ke-32 di Indonesia melalui Undang-Undang Nomor 38 tahun 2000.
A. Keadaan Geografis Dan Topografi
Secara Geografis Provinsi Gorontalo terletak di antara 0,19' – 1,15’ Lintang Utara (LU) dan 121,23’ – 123,43’ Bujur Timur (BT). Batas Provinsi Gorontalo adalah sebagai berikut :
1. Sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Buol Toli-Toli (Sulawesi Tengah) dan Laut Sulawesi.
2. Sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Donggala (Sulawesi Tengah).
3. Sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Bolaang Mongondow (Sulawesi Utara).
4. Sebelah Selatan berbatasan dengan Teluk Tomini (Gorontalo).
Provinsi Gorontalo terdiri dari 1 Kota dan 5 Kabupaten yaitu Kota Gorontalo, Kabupaten Gorontalo, Kabupaten Boalemo, Kabupaten Pohuwato, Kabupaten Bone Bolango dan Kabupaten Gorontalo Utara. Luas wilayah Provinsi Gorontalo adalah
12.101,66 km2 yang masing-masing Kabupaten/Kota memiliki luas sebagai berikut :
Tabel : 2.1
Luas Wilayah Provinsi Gorontalo Tahun 2011
Kabupaten/Kota Luas Wilayah (km2) Persentase (%)
Kota Gorontalo 66,25 0,55
Kabupaten Gorontalo 2.207,58 18,45
Kabupaten Boalemo 1.735,93 14,51
Kabupaten Pohuwato 4.291,81 35,86
Kabupaten Bone Bolango 1.889,04 15,78
Kabupaten Gorontalo Utara 1.777,03 14,85
Provinsi Gorontalo 11.967,64 100
Sumber : BPS Prov. Gorontalo Tahun 2011
Dari tabel di atas nampak bahwa Kabupaten Pohuwato adalah Kabupaten yang mempunyai wilayah paling luas yaitu 4.291,81 km2 35,86% dari luas Provinsi Gorontalo yaitu sebesar 11.967,64 km2. Sedangkan daerah dengan luas wilayah paling kecil adalah Kota Gorontalo hanya 66,25 km2 dengan persentase 0,55% dari luas wilayah Provinsi Gorontalo.
Tabel : 2.2
Jumlah Kecamatan dan Kelurahan/Desa Di Provinsi Gorontalo Tahun 2011
Kabupaten/Kota Kecamatan Desa/Kelurahan
Kota Gorontalo 9 100
Kabupaten Gorontalo 18 205
Kabupaten Boalemo 7 82
Kabupaten Pohuwato 13 103
Kabupaten Bone Bolango 18 167
Kabupaten Gorontalo Utara 6 123
Provinsi Gorontalo 71 780
Sumber : Profil kesehatan Kabupaten/Kota Tahun 2011
Berdasarkan tabel di atas data yang bersumber dari Profil Kabupaten/Kota, yang memiliki perkembangan jumlah Kecamatan yaitu tertinggi Kabupaten Gorontalo dan Bone bolango masing-masing dengan 18 Kecamatan. Peningkatan ini karena adanya pemekaran wilayah sehingga jumlah kecamatan, desa dan kelurahan bertambah dari tahun 2010 sebanyak 66 kecamatan menjadi 71 kecamatan di tahun 2011.
B. Gambaran Demografi
Tabel: 2.3
Kepadatan Penduduk Menurut Jenis Kelamin Provinsi Gorontalo Tahun 2011
Kabupaten/Kota Penduduk Laki-Laki Penduduk Perempuan Total Jumlah Penduduk Kepadatan Penduduk (per km2) Kota Gorontalo 90.763 94.615 185.378 2.798 Kabupaten Gorontalo 176.719 178.138 354.857 160,74 Kabupaten Boalemo 65.867 63.386 129.253 74,46 Kabupaten Pohuwato 65.561 63.187 128.748 30
Kabupaten Bone Bolango 71.145 70.770 141.915 75,13
Kabupaten Gorut 52.850 51.283 104.133 58,60
PROVINSI GORONTALO 522.905 521.379 1.044.284 87
Gambar : 2.2 Piramida penduduk Provinsi Gorontalo Tahun 2011
Sumber : Profil Kesehatan Kab/Kota se Provinsi Gorontalo Tahun 2011
Berdasarkan data dari Profil Kesehatan Kabupaten / Kota menunjukkan jumlah penduduk Provinsi Gorontalo tahun 2011 sebanyak 1.044.248 jiwa yang terdiri dari Laki-Laki 522.905 jiwa dan Perempuan 521.379 jiwa dengan tingkat kepadatan penduduk sebesar 87 Jiwa/Km². Dilihat dari sebarannya jumlah penduduk terbesar berada di Kabupaten Gorontalo sebesar 354.857 yang terpilah Laki-laki sebanyak 176.719 jiwa dan Perempuan 178.138 jiwa, jumlah penduduk yang paling sedikit adalah Kabupaten Gorontalo Utara 104.133 jiwa dengan jumlah Laki-laki sebanyak 52.850 jiwa sedangkan Perempuan 51.283 jiwa.
Piramida penduduk diatas menggambarkan bahwa jumlah penduduk Provinsi Gorontalo terdapat pada golongan umur 5-9 tahun dengan persentase laki-laki 11,66% dan perenpuan 11,44%. Sedangkan jumlah penduduk terendah ada pada golongan umur 75 tahun keatas dengan persentase laki-laki 0,59% dan perempuan 0,84%.
Sedangkan dilihat dari tingkat kepadatan penduduk, Kota Gorontalo memiliki
160,74 jiwa/Km2, Kabupaten Bone Bolango 75,13 jiwa/Km2, Kabupaten Boalemo 74,46
jiwa/Km2Kabupaten Gorontalo Utara 58,60 dan Kabupaten Pohuwato 30 jiwa/Km2..
Laju pertumbuhan penduduk Gorontalo tahun 2010 mencapai 2,28% dengan tingkat laju pertumbuhan paling tinggi yaitu kabupaten boalemo 3,62% sedangkan terendah kabupaten gorontalo 1,40%.
Gambar : 2.3
Kecenderungan Jumlah Penduduk Tahun 2007 - 2011
Sumber : Profil Kesehatan Kabupaten/Kota Tahun 2011
Gambar : 2.4 Jumlah Penduduk Miskin
Di Provinsi Gorontalo Tahun 2003-2010
Berdasarkan grafik diatas diketahui bahwa persentase penduduk miskin di Provinsi Gorontalo pada tahun 2003 sampai tahun 2010 menunjukkan kecenderungan menurun, tetapi masih selalu lebih tinggi dari rata-rata penduduk miskin Nasional. Prosentase penduduk miskin di Provinsi Gorontalo tahun 2010 mencapai 23,19% data ini mengalami penurunan dibandingkan tahun 2009 yang tercatat di Badan Pusat Statistik Provinsi Gorontalo sebesar 25,01%. Tetapi masih berada diatas rata-rata Nasional yaitu 13,33% ditahun 2010, sehingga diperlukan upaya-upaya dari pemerintah maupun swasta guna menurunkan angka kemiskinan diProvinsi Gorontalo. Kesehatan sangat berperan dalam meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), merupakan suatu keharusan untuk mengatasi berbagai masalah dalam ruang lingkupnya. Kesehatan merupakan faktor yang memberikan kontribusi terhadap Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang berarti IPM tinggi dapat dicapai apabila masyarakat mempunyai status kesehatan yang baik.
Gambar : 2.5
Perbandingan IPM Provinsi Gorontalo dengan IPM Nasional Tahun 2002-2010
Sumber : Bappeda Provinsi Gorontalo
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Provinsi Gorontalo sampai tahun 2010 sebesar 70,28 meningkat 6,18 dari IPM tahun 2002 sebesar 64,1. Pada tahun 2010 IPM tertinggi di Kota Gorontalo yaitu 73,08 sedangkan IPM terendah adalah
kesehatan didorong oleh kenaikan angka harapan hidup. Saat ini Gorontalo menduduki peringkat ke 24 IPM se-Indonesia setelah Sulawesi Selatan.
Gambar : 2.6
IPM Kabupaten/Kota Provinsi Gorontalo Tahun 2010
Sumber : BPS Provinsi Gorontalo
C. Gambaran Ekonomi
Mata pencaharian utama masyarakat Gorontalo adalah sector pertanian. Jika dilihat dari lapangan usaha yang banyak ditekuni oleh penduduk bekerja di Provinsi Gorontalo, ada 3 sektor lapangan utama yang banyak menyerap tenaga kerja yaitu sektor pertanian (48,04 %) diikuti oleh sektor perdagangan (16,25%), jasa (13,31 %) sedangkan sektor lainnya terserap pada lapangan kerja pertambangan, listrik-gas-air, bangunan, angkutan dan keuangan (22,4%). (Indikator sosial budaya, Bapppeda
Provinsi Gorontalo).
Gambaran secara makro perekonomian di Provinsi Gorontalo dapat dilihat melalui besaran PDRB yaitu dari segi sektoral maupun penggunaan. Data yang bersumber dari BPS menyebutkan bahwa pada tahun 2010 PDRB Provinsi Gorontalo Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) adalah sebesar 8,058 Milyar Rupiah. Sedangkan PDRB atas dasar harga Konstan 2000 (ADHK) adalah sebesar 2,917 Milyar Rupiah.
Oleh karena itu prioritas pembangunan Provinsi Gorontalo adalah sector pertanian di samping perikanan dan pengembangan SDM. Laju pertumbuhan
ekonomi dapat di lihat melalui besaran perubahan nilai PDRB ADHK ( produk domestic regional bruto atas dasar harga konstanta) tahun berjalan terhadap tahun sebelumnya. Laju pertumbuhan ekonomi di Provinsi Gorontalo mengalami fluktuatif yaitu sebagai berikut :
1. Pertumbuhan ekonomi tahun 2007 adalah 7,51% 2. Pertumbuhan ekonomi tahun 2008 adalah 7,76%
3. Pertumbuhan ekonomi tahun 2009 adalah 7,54%
4. Pertumbuhan ekonomi tahun 2010 adalah 7,63% (BPS Provinsi Gorontalo) D. Gambaran Tingkat Pendidikan
Tingkat pendidikan masyarakat dapat diukur dengan kemampuan membaca dan menulis yang dilihat dari Angka Melek Huruf (AMH), yaitu persentase penduduk umur 10 tahun keatas yang dapat membaca dan menulis baik huruf latin dan atau huruf lainnya. Sumber dari profil Kabupaten/Kota tahun 2011 angka melek huruf di Provinsi Gorontalo adalah 67,69% belum termasuk Kabupaten Pohuwato dan Gorontalo Utara dengan persentase laki-laki 66,97% dan perempuan melek huruf 68,42%, data ini mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya yaitu 2010 sebesar 17,8%
(Persentase tahun 2010 hanya 2 Kabupaten yang memiliki data lengkap).
Jenjang Pendidikan tertinggi yang ditamatkan dapat menjadi salah satu faktor untuk menilai kualitas Sumber Daya Manusia. Jenjang pendidikan yang ditamatkan berbanding lurus dengan Kualitas SDM yang tersedia sehingga Semakin tinggi jenjang pendidikan yang ditamatkan maka semakin berkualitas sumber daya manusia yang ada demikian pula sebaliknya. Persentase pendidikan tertinggi yang ditamatkan penduduk Provinsi Gorontalo dapat dilihat dari diagram dibawah ini :
Gambar : 2.7
Persentase Penduduk usia > 10 tahun menurut Tingkat Pendidikan di Provinsi Gorontalo Tahun 2011
Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa tingkat pendidikan penduduk Provinsi Gorontalo masih sangat rendah, persentase penduduk dengan tingkat pendidikan menengah keatas masih lebih kecil dibandingkan penduduk dengan tingkat pendidikan menengah kebawah. Persentase tingkat pendidikan tertinggi adalah SD/MI sebesar 34,53%, terendah tingkat pendidikan Diploma dan Universitas yang masing-masing hanya 0,87% dan 1,60%.
BAB III
SITUASI DERAJAT KESEHATAN PROVINSI GORONTALO
Derajat kesehatan memberikan gambaran kemampuan seseorang untuk menjadi lebih produktif guna memperoleh kesejahteraan yang layak. Secara umum, salah satu faktor penting yang merupakan permasalahan dalam pencapaian sasaran program kesehatan yaitu kebijakan kesehatan yang masih dalam level kuratif (pengobatan). Kondisi ini sangat bertentangan dengan paradigma sehat yang lebih mengutamakan terbangunnya kesadaran masyarakat akan pentingnya hidup sehat, sehingga upaya peningkatan status kesehatan kedepan lebih ditujukan untuk peningkatan promotif dan preventif.
Situasi derajat kesehatan masyarakat Provinsi Gorontalo diukur dari berbagai indikator baik langsung maupun tidak langsung. Indikator tersebut antara lain Angka Kematian (mortalitas), Angka Kesakitan (morbiditas), Status Gizi dan Usia Harapan Hidup (UHH) baik provinsi maupun Kabupaten/Kota. Kesehatan masyarakat dipengaruhi banyak faktor yang tidak hanya berasal dari ketersediaan sarana dan prasarana kesehatan, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor ekonomi, pendidikan, sosial budaya dan lingkungan.
Pada periode 2010-2014, Kementerian Kesehatan melaksanakan terobosan dalam bentuk Reformasi Pembangunan Kesehatan Masyarakat. Tujuannya untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya dengan menghilangkan kesenjangan pembangunan kesehatan antar daerah, antar sosial ekonomi serta meningkatkan akses masyarakat pada pelayanan kesehatan yang bermutu. Reformasi pembangunan kesehatan dilakukan melalui 7 upaya yaitu : 1) Revitalisasi primary health care (PHC) dan sistem rujukannya, 2) Pemenuhan Bantuan Operasional Kesehatan (BOK), 3) Ketersediaan dan keterjangkauan obat di seluruh fasilitas kesehatan termasuk saintifikasi jamu, 4) Ketersediaan dan distribusi SDM Kesehatan yang bermutu secara adil dan merata, 5) Pengembangan jaminan kesehatan, 6) Penanganan daerah bermasalah kesehatan (PDBK) dan peningkatan pelayanan kesehatan di DTPK, 7)Pelaksanaan reformasi birokrasi serta world class healt care.
Sasaran pembangunan Kesehatan adalah terselenggaranya pelayanan kesehatan dan kesejahteraan sosial yang makin bermutu dan usaha yang mampu mewujudkan manusia yang tangguh, sehat, cerdas dan produktif. Untuk itulah Dinas Kesehatan
A. VISI :
Masyarakat Gorontalo Yang mandiri untuk hidup sehat B. MISI :
1. Peningkatan kualitas sumber daya manusia pelaksana pembangunan kesehatan 2. Menggerakkan dan memberdayakan kemandirian masyarakat untuk hidup sehat 3. Mewujudkan pelayanan kesehatan yang bermutu, merata dan terjangkau C. Tujuan
1. Meningkatnya kualitas SDM pelaksana pembangunan kesehatan 2. Terciptanya masyarakat yang mandiri untuk hidup sehat
3. Tercapainya pelayanan kesehatan yang bermutu, merata dan terjangkau terutama bagi masyarakat miskin
4. Terciptanya kesehatan individu, keluarga, masyarakat serta lingkungan D. Kebijakan
1. Peningkatan koordinasi, sinkronisasi dan kemitraan 2. Pemberdayaan masyarakat dan swasta
3. Pengembangan sumber daya kesehatan dan manajemen kesehatan 4. Peningkatan mutu dan keterjangkauan pelayanan kesehatan
5. Peningkatan status gizi masyarakat 6. Pengawasan dan akuntabilitas E. Strategi :
1. Kerjasama Lintas Sektor dan Pemberdayaan Masyarakat
Pembangunan kesehatan yang dijalankan selama ini hasilnya belum optimal karena kurangnya dukungan lintas sektor. Beberapa program sektoral tidak atau kurang berwawasan kesehatan sehingga memberikan dampak negatif bagi kesehatan masyarakat.
Kemitraan yang setara, terbuka dan saling menguntungkan bagi masing-masing mitra dalam dalam upaya kesehatan merupakan sesuatu yang utama untuk upaya pembudayaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat.
2. Peningkatan Mutu dan Keterjangkauan Pelayanan Kesehatan
Mutu pelayanan kesehatan sangat dipengaruhi oleh kualitas sarana fisik, jenis tenaga yang tersedia, obat, alat kesehatan/sarana penunjang lainnya, proses pemberian pelayanan dan kompensasi yang diterima serta harapan masyarakat pengguna. Peningkatan kualitas fisik serta faktor-faktor tersebut diatas merupakan faktor prakondisi yang harus dipenuhi. Selanjutnya proses pemberian pelayanan ditingkatkan melalui peningkatan mutu dan profesionalisme sumber daya kesehatan. Sedangkan harapan masyarakat pengguna diselaraskan melalui peningkatan pendidikan masyarakat melalui penyuluhan kesehatan dan komunikasi yang baik antara pemberi pelayanan dan masyarakat.
Penyebaran sarana pelayanan kesehatan puskesmas dan rumah sakit serta sarana kesehatan lainnya termasuk sarana penunjang upaya kesehatan telah dapat dikatakan merata. Namum diakui bahwa penyebaran fisik tersebut masih belum diikuti sepenuhnya dengan peningkatan mutu pelayanan.
3. Peningkatan Gizi Masyarakat
Status gizi masyarakat sangat mempengaruhi dalam upaya pencapaian peningkatan sumber daya manusia yang berkulitas. Adanya krisis ekonomi berpengaruh pada penurunan status gizi masyarakat.
4. Peningkatan Sumber Daya Kesehatan dan Manajemen Kesehatan
Mutu sumber daya manusia kesehatan sangat menentukan keberhasilan upaya serta manajemen kesehatan. Adanya kompetisi dalam era pasar bebas sebagai akibat dari globalisasi harus diantisipasi dengan meningkatkan mutu dan profesionalisme sumber daya manusia kesehatan.
Dalam kaitannya dengan desentralisasi penyelenggaraan pemerintahan, peningkatan kemampuan dan profesionalisme manajemen kesehatan disetiap tingkat administrasi merupakan kebutuhan yang sangat mendesak.
F. Program Dan Kegiatan Pembangunan Kesehatan :
Dalam rangka mewujudkan derajat kesehatan yang optimal maka Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo menjabarkan program - program Pembangunan
1. Program Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat a. Pengembangan media promosi dan informasi Sadar Hidup Sehat b. Peningkatan pemanfaatan sarana kesehatan
c. Perkemahan saka bakti husada nasional (PERTINAS) 2. Program Lingkungan Sehat
a. Penyediaan sarana air bersih dan sanitasi dasar b. Pemeliharaan dan pengawasan kualitas lingkungan c. Pengendalian dampak risiko pencemaran lingkungan d. Pengembangan wilayah sehat
3. Program Upaya Kesehatan Masyarakat
a. Pelayanan kesehatan penduduk miskin di puskesmas dan jaringannya
b. Pengadaan, peningkatan dan perbaikan sarana dan prasarana puskesmas dan jaringannya
c. Pengadaan peralatan dan perbekalan kesehatan termasuk obat generik esensial
d. Peningkatan pelayanan kesehatan dasar yang mencakup sekurang-kurangnya promosi kesehatan, kesehatan ibu dan anak, keluarga berencana, perbaikan gizi, kesehatan lingkunga, pemberantasan penyakit menular dan pengobatan dasar
e. Penyediaan biaya operasional dan pemeliharaan 4. Program Upaya Kesehatan Perorangan
a. Pelayanan kesehatan bagi penduduk miskin kelas III RS
b. Pembangunan sarana dan prasarana RS di daerah tertinggal secara selektif c. Perbaikan sarana dan prasarana RS
d. Pengadaan obat dan perbekalan RS e. Peningkatan kesehatan rujukan
f. Pengembangan pelayanan kesehatan keluarga g. Penyediaan operasional dan pemeliharaan
5. Program Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit a. Pencegahan dan penanggulangan faktor resiko b. Peningkatan imunisasi
c. Penemuan dan tatalaksana penderita
d. Peningkatan surveilans epidemiologi dan penanggulangan wabah
e. Peningkatan komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) pencegahan dan pemberantasan penyakit
6. Program Perbaikan Gizi Masyarakat a. Peningkatan pendidikan gizi
b. Penanggulangan kurang energi protein (KEP), anemia gizi, gangguan akibat kurang yodium (GAKY), kurang vitamin A dan kekurangan zat gizi mikro c. Penaggulangan gizi lebih
d. Peningkatan surveilans gizi
e. Pemberdayaan masyarakat untuk pencapaian keluarga sadar gizi (Kadarzi) 7. Program Sumber Daya Kesehatan
a. Perencanaan kebutuhan tenaga kesehatan
b. Peningkatan keterampilan dan profesionalisme tenaga kesehatan melalui pendidikan tenaga kesehatan dan pelatihan tenaga kesehatan
c. Pembinaan tenaga kesehatan termasuk pengembangan karir tenaga kesehatan
d. Penyusunan standar kompetensi dan regulasi profesi kesehatan 8. Program Obat, dan Perbekalan Kesehatan
Yang termasuk di dalam program ini adalah :
a. Peningkatan ketersediaan obat dan perbekalan kesehatan b. Peningkatan pemerataan obat dan perbekalan kesehatan c. Peningkatan mutu penggunaan obat dan perbekalan kesehatan
d. Peningkatan keterjangkauan harga obat dan perbekalan kesehatan terutama untuk penduduk miskin
Gambaran tentang derajat kesehatan meliputi indikator mortalitas, morbiditas, dan status gizi. Mortalitas dilihat dari indikator Angka Kematian Bayi (AKB) per-1.000 Kelahiran Hidup, Angka Kematian Balita (AKABA) per-per-1.000 Kelahiran Hidup, Angka Kematian Ibu Melahirkan (AKI) per-100.000 Kelahiran Hidup, dan Angka Harapan Hidup Waktu Lahir. Morbiditas dilihat dari indikator-indikator Angka Kesakitan Malaria per-1.000 Penduduk, Angka Kesembuhan TB Paru BTA +, Prevalensi HIV (Persentase Kasus Terhadap Penduduk Berisiko), Angka Acute Flacid Paralysis (AFP) pada Anak Usia <15 Tahun per-100.000 Anak, dan Angka Kesakitan Demam Berdarah Dengue (DBD) per-100.000 Penduduk. Sedangkan status gizi dilihat dari indikator Persentase Balita dengan Status Gizi di Bawah Garis Merah pada KMS dan Persentase Kecamatan Bebas Rawan Gizi.
G. Angka Kematian (Mortalitas)
Mortalitas atau kematian merupakan salah satu dari tiga komponen demografi selain fertilitas dan migrasi, yang dapat mempengaruhi jumlah dan komposisi umur penduduk. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan kematian sebagai suatu peristiwa menghilangnya semua tanda-tanda kehidupan secara permanen, yang bisa terjadi setiap saat setelah kelahiran hidup. Mortalitas adalah ukuran jumlah kematian (umumnya, atau karena akibat yang spesifik) pada suatu populasi, skala besar suatu populasi, per dikali satuan.
Bermacam-macam indikator mortalitas atau angka kematian yang akan dibahas dalam bab ini adalah:
Angka Kematian Kasar (AKK) atau Crude Death Rate (CDR).
Angka Kematian Bayi (AKB)
Angka Kematian Balita (AKBa 0-5 tahun)
Angka Kematian IBU (AKI)
Usia Harapan Hidup (UHH) atau Life Expectancy.
1. Angka Kematian Kasar (AKK) atau Crude Death Rate (CDR)
Angka kematian kasar (AKK) adalah angka yang menunjukkan berapa besarnya kematian yang terjadi pada suatu tahun tertentu untuk setiap 1000 penduduk. Angka ini disebut kasar karena belum memperhitungkan umur penduduk. Penduduk tua mempunyai resiko kematian yang lebih tinggi dibandingkan dengan penduduk yang masih muda.
2. Angka Kematian Bayi (AKB)
Angka kematian bayi adalah banyaknya kematian bayi berusia dibawah 1 tahun per 1000 kelahiran hidup pada satu tahun tertentu.
Gambar : 3.1
Jumlah Bayi mati di Provinsi Gorontalo Tahun 2007-2011
Sumber : Profil kesehatan Kabupaten/Kota Tahun 2007-2011
Berdasarkan tabel diatas, jumlah bayi yang mati di Provinsi Gorontalo selang Tahun 2007-2011 cenderung tidak mengalami perubahan yang signifikan pada tahun 2007 jumlah bayi mati sebanyak 179 bayi, namun tahun 2010 jumlah bayi mati mengalami peningkatan sebanyak 283 kasus kematian, angka ini mengalami penurunan tahun 2011 menjadi 269 bayi atau. Tetapi hal ini tidak berarti menurunkan angka kematian bayi karena terdapat penurunan jumlah kelahiran hidup yaitu dari 12,5 per 1000 KLH tahun 2010 menjadi 13,4 per 1000 KLH tahun 2011. Di tahun 2011 Kabupaten/Kota yang melaporkan kematian bayi terbanyak yaitu Kabupaten Gorontalo sebanyak 102 bayi dan terendah Kabupaten Pohuwato dengan 12 bayi. Tetapi angka ini masih lebih rendah dari target nasional yang menargetkan penurunan angka kematian bayi sejumlah 26 per 1000 KLH, masih membutuhkan upaya keras baik dari pemerintah maupun swasta dan masyarakat guna menekan angka kematian bayi.
Gambar : 3.2
Jumlah dan Angka Kematian Bayi menurut Jenis Kelamin Provinsi Gorontalo Tahun 2011
Sumber : Profil Kesehatan Kab/Kota se Provinsi Gorontalo
Grafik diatas menggambarkan bahwa jumlah kematian pada bayi tertinggi Kabupaten Gorontalo dengan jumlah kematian tahun 2011 bayi laki-laki 59 dan perempuaan 43 bayi dengan angka kematian bayi per 1000 KLH 16. Kabupaten dengan kematian bayi paling rendah adalah kabupaten Pohuwato yaitu laki-laki 5 bayi dan perempuan 7 bayi dengan angka kematian bayi 5 per 1000 KLH.
Gambar : 3.3
Kecenderungan Angka Kematian Bayi Provinsi Gorontalo Tahun 2007 – 2011
Sumber : Profil Kesehatan Kab/Kota se Provinsi Gorontalo 2011
Angka kematian bayi di Provinsi Gorontalo dari tahun ke tahun mengalami fluktuatif yakni dari tahun 2007 sebesar 22,2 per 1000 kelahiran hidup menururun signifikan ditahun 2008 12,8 per 1000 KLH. Hingga tahun 2011 penurunan pada angka 13,06 per 1000 KLH mengalami penurunan 9,14% dari tahun 2007, meskipun demikian hal ini masih diatas angka target nasional untuk Provinsi Gorontalo yaitu 11 per 1000 KLH.
3. Angka Kematian Balita (AKABA)
Balita atau bawah lima tahun adalah semua anak termasuk bayi yang baru lahir, yang berusia 0 sampai menjelang tepat 5 tahun (4 tahun, 11 bulan, 29 hari). Pada umumnya ditulis dengan notasi 0-4 tahun. Angka Kematian Balita adalah jumlah kematian anak berusia 0-4 tahun selama satu tahun tertentu per 1000 anak umur yang sama pada pertengahan tahun itu (termasuk kematian bayi).
Millenium Development Goals (MDGs) menargetkan untuk angka kematian balita sampai tahun 2015 yaitu 23 per 1000 KLH, hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia tahun 2007 (SDKI, 2007) angka kematian
kematian balita sebanyak 128 dan ditahun 2011 meningkat menjadi 326 kematian balita, sebagai berikut :
Gambar : 3.3
Jumlah Balita Mati Kabupaten / Kota se Provinsi Gorontalo Tahun 2007-2011
Sumber : Profil kesehatan Kabupaten/Kota Tahun 2007-2011
Angka kematian balita (AKABA) di Provinsi Gorontalo tertinggi dilaporkan pada tahun 2011 sebanyak 326 balita, jumlah ini merupakan yang terbanyak dalam kurun waktu 5 tahun sejak tahun 2007 sampai 2011. Kabupaten/Kota yang melaporkan tertinggi tahun 2011 yaitu Kabupaten Gorontalo dengan jumlah kematian balita 122 dan terendah Kabupaten Pohuwato 22 balita mati. Berikut trend angka kematian Balita kurun waktu tahun tahun 2007 sampai 2011 Provinsi Gorontalo.
Gambar : 3.4
Kecenderungan Angka Kematian Balita Provinsi Gorontalo tahun 2007-2011
Kecenderungan angka kematian balita dalam kurun waktu 5 tahun mengalami penurunan ditahun 2010 dengan angka 18 per 1000 kelahiran hidup menurun 16,3 per 1000 KLH ditahun 2011. Penurunan angka kematian balita dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti pemeriksaan kesehatan balita yang meningkat, gizi, sanitasi dan faktor penyakit yang ditimbulkan oleh lingkungan. Penyebab kematian balita sangat beragam antara lain tercatat dalam laporan rutin Program KIA Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo yang menyebutkan Diare sebanyak 29% merupakan penyebab kematian balita, Ispa sebesar 18%, Thypoid 6% dan 47% diakibatkan oleh berbagai faktor.
4. Angka Kematian Ibu (AKI)
Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu indikator untuk melihat derajat kesehatan perempuan. Angka kematian ibu juga merupakan salah satu target yang telah ditentukan dalam tujuan pembangunan millenium yaitu tujuan ke 5 meningkatkan kesehatan ibu dimana target yang akan dicapai sampai tahun ke 2015 adalah mengurangi sampai ¾ resiko jumlah kematian ibu. Dari hasil survei Nasional (SDKI) tahunn 1994 pencapaian AKI 390 per 100.000 KLH, angka ini menurun signifikan hingga tahun 2007 mencapai 228 per 100.000 KLH. Namun demikian upaya untuk mewujudkan target tujuan pembangunan millenium masih membutuhkan komitmen dan usaha keras yang terus menerus.
Kematian ibu adalah kematian perempuan pada saat hamil atau kematian dalam kurun waktu 42 hari sejak terminasi kehamilan tanpa memandang lamanya kehamilan atau tempat persalinan, yakni kematian yang disebabkan karena kehamilannya atau pengelolaannya, tetapi bukan karena sebab-sebab lain seperti kecelakaan, terjatuh dll per 100.000 kelahiran hidup.(Budi, Utomo. 1985).
Di Provinsi Gorontalo belum dapat menghitung Angka kematian Ibu dikarenakan Rasio kematian Ibu tidak mencapai 100.000 KLH. Yang digunakan oleh Kabupaten/Kota hanyalah merupakan asumsi AKI Kabupaten/Kota untuk melihat kondisi kesehatan ibu dan di gunakan dalam pengambilan kebijakan
Angka kematian ibu di Provinsi Gorontalo tahun 2011 mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya yakni mencapai 49 ibu mati atau 244,9 per 100.000 KLH. Angka ini lebih tinggi dibanding tahun 2010 yaitu 177 per 100.000 KLH.
Gambar : 3.5
Jumlah Kematian Ibu Kabupaten/Kota se Provinsi Gorontalo Tahun 2007-2011
Sumber : Profil Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota Tahun 2007-2011
Jumlah kematian ibu nifas, ibu melahirkan dan ibu hamil di Provinsi Gorontalo selama kurun waktu 5 tahun mengalami fluktuasi, jumlah kematian tahun 2007 sebanyak 49 (290,3/100.000KH), mengalami peningkatan pada tahun 2008 sebanyak 60 kematian (268/100.000 KH) hingga tahun 2011 jumlah kematian ibu mencapai 49 atau 244,9/100.000 KH. Angka ini masih lebih tinggi dari target Nasional sebesar 226 per 100.000 Kelahiran Hidup. Kecenderungan Angka kematian ibu dapat dilihat pada grafik sebagai berikut :
Gambar : 3.6
Kecenderungan Angka Kematian Ibu (AKI) Provinsi Gorontalo Tahun 2007-2011
Sumber : Profil Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota Tahun 2007-2011
Gambar diatas menunjukkan trend AKIProvinsi Gorontalo dari tahun 2007 sampai dengan tahun 2010, dimana menunjukkan penurunan dari tahun ke tahun. Kemudian pada tahun 2011 mengalami peningkatan yang cukup signifikan dan sekaligus menuunjukkan angka diatas target nasional yang harus dicapai yaitu 226 per 100.000 KH. Penyebab kematian Ibu sangat beragam antara lain berdasarkan laporan rutin program KIA Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo Perdarahan sebanyak 30% merupakan penyebab utama kematian ibu, masalah lain adalah akibat penyakit Hipertensi yang tidak terkontrol saat persalinan sebanyak 22%, Hipertensi dapat terjadi karena kehamilan dan akan kembali normal bila kehamilan sudah berakhir. Namun ada juga yang tidak kembali normal setelah bayi lahir, kondisi ini akan menjadi lebih berat bila hipertensi sudah diderita ibu sebelum hamil. Sedangkan persentase berikutnya adalah Infeksi sebanyak 8%, kemudian Abortus 4% dan masalah lain yang berkaitan dengan lingkungan maupun tingkat kesadaran Ibu menjadi faktor penyebab.
AKI juga berguna untuk menggambarkan tingkat kesadaran perilaku hidup sehat, status gizi dan kesehatan ibu, kondisi kesehatan lingkungan,
tingkat pelayanan kesehatan terutama untuk ibu hamil, pelayanan kesehatan waktu ibu melahirkan dan masa nifas. Distribusi persentase penyebab kematian ibu maternal di Provinsi Gorontalo tahun 2011 terdiri dari kematian ibu hamil (20,4%), kematian ibu bersalin (53,1%), dan kematian ibu nifas (26,5%). Sangat diperlukan upaya peningkatan pelayanan perawatan ibu melalui kerjasama baik oleh pemerintah, swasta maupun masyarakat terutama suami. 5. Angka Harapan Hidup (UHH)
Usia Harapan Hidup merupakan alat untuk mengevaluasi kinerja pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan penduduk pada umumnya, dan meningkatkan derajat kesehatan pada khususnya. Angka Harapan Hidup yang rendah di suatu daerah harus diikuti dengan program pembangunan kesehatan, dan program sosial lainnya termasuk kesehatan lingkungan, kecukupan gizi dan kalori termasuk program pemberantasan kemiskinan. Data Nasional mencatat bahwa Usia Harapan Hidup (UHH) meningkat dari 69,7 tahun 2005 menjadi 70,7 tahun 2008, sedangkan target yang hendak dicapai pada tahun 2014
adalah 72 tahun
(data.menkokesra.go.id/content/usia-harapan-hidup-penduduk-indonesia,2011). UHH Provinsi Gorontalo dalam 5 tahun dapat dilihat
pada tabel berikut :
Tabel : 3.1
Capaian Usia Harapan Hidup Provinsi Gorontalo Tahun 2006-2010
Indikator 2006 2007 2008 2009 2010
Usia Harapan Hidup 65,6 65,9 66,2 66,4 66,8
Sumber : BPS Provinsi Gorontalo
Dari tabel diatas menunjukkan Usia harapan Hidup di Provinsi Gorontalo dari tahun ke tahun mengalami peningkatan, dari tahun 2006 mencapai 65,6 meningkat hingga 66,8 di tahun 2010. Hal ini seiring dengan peningkatan IPM di Provinsi Gorontalo dari 2006 yang mencapai angka 68,01 dan tahun 2010
mencapai 70,28 tahun. Tetapi angka ini masih dibawah standar target RPJMD Program Kesehatan yang menargetkan UHH di tahun 2010 dengan 70,6 tahun. H. Angka Kesakitan (Morbiditas)
Angka kesakitan (Morbiditas) di Provinsi Gorontalo dapat diperoleh dari data berbasis masyarakat baik ditingkat Rumah Sakit ataupun Puskesmas melalui sistem pencatatan dan pelaporan yang disajikan dalam bentuk buku Profil Kesehatan Kabupaten/Kota. Berdasarkan data tersebut dapat dirumuskan beberapa program utama untuk menekan angka kesakitan yaitu dengan mengembangkan sistem surveilans epidemiologi berbasis masyarakat, pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dan vektor penyakit, pengawasan pemeriksaan kualitas air dan lingkungan, perbaikan sarana air bersih dan sanitasi dasar, pengembangan program desa sehat, sosialisasi perilaku hidup bersih dan sehat serta revitalisasi Posyandu.
Angka kesakitan dapat memberikan gambaran situasi derajat kesehatan masyarakat di suatu wilayah dalam kurun waktu tertentu, yang dapat dilihat dari Insiden maupun Prevalensi penyakit. Ada beberapa indikator morbiditas yang terkait dengan komitmen global dalam MDGs, diantaranya adalah :
1. Penyakit TB – Paru
Penyakit Tuberkulosis Paru merupakan penyakit menular kronis, yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Tuberkulosis. Penularan penyakit ini dapat menyebar melalui droplet orang yang telah terinfeksi basil TB. Penyakit TB Paru juga merupakan salah satu penyakit yang diprioritaskan pengendaliannya yang menjadi komitmen global pada Goal ke 6 pembangunan Millenium.
Waktu pengobatan yang panjang dengan jenis obat lebih dari satu menyebabkan penderita sering terancam putus berobat selama masa penyembuhan dengan berbagai alasan, antara lain merasa sudah sehat atau faktor ekonomi. Akibatnya adalah pola pengobatan harus dimulai dari awal dengan biaya yang bahkan menjadi lebih besar serta menghabiskan waktu berobat yang lebih lama. Alasan ini menyebabkan situasi Tuberkulosis Paru di dunia semakin memburuk dengan jumlah kasus yang terus meningkat serta
dikelompokkan dalam 22 negara dengan masalah Tuberkulosis Paru besar (high burden countries), sehingga pada tahun 1993 WHO/Organisasi Kesehatan Dunia mencanangkan Tuberkulosis Paru sebagai salah satu kedaruratan dunia (global emergency).
Tuberkulosis Paru juga merupakan salah satu emerging diseases. Indonesia termasuk kedalam kelompok high burden countries, menempati urutan ketiga setelah India dan China berdasarkan laporan WHO tahun 2009. Pada Riskesdas 2007 kasus Tuberkulosis Paru ditemukan merata di seluruh provinsi di Indonesia. Riskesdas 2010 dikhususkan untuk mengumpulkan indikator MDG terutama yang berhubungan dengan kesehatan, termasuk Prevalensi Tuberkulosis Paru.
Sedangkan menurut Indikator Indonesia Sehat 2010 mengharapkan angka kesembuhan TB Paru tahun 2010-2015 mencapai 85%. Prosentase TB paru sembuh pada tahun 2010 mencapai 1058 kasus sebanyak 66,59% angka ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya 2009 yaitu 68,21%. Angka kesembuhan tertinggi di Kabupaten Boalemo sebesar 114,12%. Angka Selengkapnya dapat dilihat pada gambar berikut :
Gambar : 3.7
Persentase TB Paru Sembuh Provinsi Gorontalo Tahun 2010-2011
Sumber : Profil Kesehatan Kabupaten/Kota Tahun 2010-2011
Diagram di atas menunjukkan perbandingan persentase cakupan Sukses Rate TB Paru di Provinsi Gorontalo antara tahun 2010 dan 2011. Dimana terlihat peningkatan persentase cakupan SR TB Paru tahun 2011 yang mencapai 68,21%, lebih tinggi dibandingkan dengan persentase tahun 2010
yaitu sebesar 66,59%. Persentase diatas bisa lebih tinggi jika ditambah dengan persentase SR Kabupeten Gorontalo. Namun, karena Kabupaten Gorontalo belum memasukkan data kesembuhan penyakit TB Paru tahun 2011, sehingga mempengaruhi fluktuasi tingkat kesembuhan penyakit TB Paru di Provinsi Gorontalo.
Gambar : 3.8
Persentase Kasus Baru TB Paru (BTA +) yang di temukan (CDR) Provinsi Gorontalo tahun 2004-2011
Sumber : Profil Kesehatan Kabupaten/Kota Tahun 2004 - 2011
Angka penemuan kasus TB Paru (BTA+) di Provinsi Gorontalo dari tahun 2004 sampai dengan 2011 menunjukkan tren yang meningkat. Hanya saja pada tahun 2005 sempat terjadi penurunan angka penemuan kasus.
Tabel : 3.2
Keberhasilan Provinsi Berdasarkan Pencapaian CDR dan SR Tahun 2010
SR ≥ 85% CDR ≥ 75% CDR < 70% Sumut,Banten, Jabar,DKI,Sulut,Goronta lo,Sultra,Maluku (8) NAD,Sumbar,Jambi,Sumsel,Babel,Bengkulu, Lampung,Jateng,Jatim,Bali,Kalbar,Kalteng, Kalsel,Kaltim,Sulsel,Sulteng,Sulbar,NTB,NT T (9) SR ≤ 85% Riyau,DIY,Malut,Papua,Papua Barat(5)
Sutuasi terkini perkembangan TB di Indonesia Januaru- Juli 2011 melaporkan Provinsi Gorontalo berada pada posisi angka penemuan diatas 75% setelah Provinsi Sulawesi Utara, yang kemudian disusul oleh Provinsi Sulawesi Tenggara dan Maluku. Dimana pada tahun 2010 terdapat 8 provinsi (24,2%) yang mencapai target CDR 70% yaitu Sulawesi Utara, DKI Jakarta, Gorontalo, Maluku, Banten, Sumatera Utara, Jawa Barat dan Sulawesi Tenggara. Sedangkan bila berdasarkan target RPJMN 73% terdapat 6 (18,2%) provinsi yang mencapai target yaitu Sulawesi Utara, DKI Jakarta, Gorontalo, Maluku, Banten, Sumatera Utara.
2. Penyakit HIV/AIDS
Penyakit berikutnya yang saat ini menjadi isu global yang juga diprioritaskan pengendaliannya adalah HIV/ADIS. Permasalahan HIV/AIDS menjadi komitmen global pada Konperensi Tingkat Tinggi Milenium yang diikuti oleh 189 negara anggota Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) di New York pada bulan September 2000. Hasilnya adalah Goal ke 6 pada Millenium development Goals 2000-2015 yaitu memerangi HIV/AIDS.
HIV atau Human Immunodeficiency Virus merupakan retrovirus yang menjangkiti sel-sel sistem kekebalan tubuh manusia (terutama CD4 positive T-sel dan macrophages– komponen-komponen utama sistem kekebalan T-sel), dan menghancurkan atau mengganggu fungsinya. Infeksi virus ini mengakibatkan terjadinya penurunan sistem kekebalan yang terus-menerus, yang akan mengakibatkan defisiensi kekebalan tubuh. Sehingga, seseorang yang telah terinveksi HIV akan rentan terinfeksi berbagai penyakit. Sedangkan AIDS
adalah singkatan dari Acquired Immunodeficiency Syndrome dan
menggambarkan berbagai gejala dan infeksi yang terkait dengan menurunnya sistem kekebalan tubuh. Infeksi HIV telah ditahbiskan sebagai penyebab AIDS. Tingkat HIV dalam tubuh dan timbulnya berbagai infeksi tertentu merupakan indikator bahwa infeksi HIV telah berkembang menjadi AIDS.
Gambar : 3.9
Jumlah Kasus HIV/AIDS per Kabupaten/Kota Provinsi Gorontalo Tahun 2011
Sumber : Profil Kabupaten/Kota Tahun 2011
Dari diagram diatas memperlihatkan jumlah kasus HIV/AIDS berdasarkan Kabupaten/Kota tahun 2011. Laporan kasus HIV tertinggi berada di Kabupaten Pohuwato dengan jumlah kasus HIV sebanyak 11 kasus sedangkan untuk kasus AIDS hanya ditemukan 1 kasus. Untuk Kabupaten Bone Bolango yang dilaporkan kasus HIV yaitu 2 kasus sedangkan kasus AIDS sebanyak 8 kasus. Selain itu juga, Kota Gorontalo juga melaporkan 4 kasus HIV dan 5 kasus AIDS di 2011. Sementara untuk Kabupaten Gorontalo dan Kabupaten Gorontalo Utara dilaporkan tidak ada kasus HIV/AIDS tahun 2011. Dari laporan Kabupaten/Kota diperoleh jumlah keselurhan kasus HIV di Provinsi Gorontalo selama tahun 2011 sebanyak 17 kasus dengan kasus AIDS sebanyak 15 kasus. Sehingganya, setiap tahun prevalensi kasus HIV/AIDS Provinsi Gorontalo memperihatkan tren yang terus meningkat.
Upaya pengobatan melalui VCT,CST, Pencegahan dari ibu ke anak dan Sero survey merupakan salah satu program kegiatan yang telah dilakukan. Dan hal ini telah menjaring beberapa penemuan kasus HIV/AIDS. Selain itu, program dalam hal promotif dan juga edukasi tentang bahaya penularan penyakit ini intens dilaksanakan untuk menekan penularan penyakit HIV/AIDS.
Gambar : 3.10
Jumlah Kasus HIV/AIDS Provinsi Gorontalo Tahun 2001-2011
Sumber : Program P2M-PL Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo
Grafik diatas menunjukkan angka kumulatif jumlah kasus HIV/AIDS di Provinsi Gorontalo mulai tahun 2001 sampai dengan Januari 2012. Dimana jumlah kasus HIV/AIDS selama 10 tahun terakhir menunjukkan tren yang terus meningkat. Kasus HIV/AIDS di Provinsi Gorontalo pertama kali ditemukan pada tahun 2001 hanya 1 orang yang kemudian meninggal, demikian juga tahun 2002 ditemukan lagi 1 kasus dan bertambah menjadi 2 kasus pada tahun 2003. Tahun 2005 bertambah 1 kasus lagi, yang kemudian meningkat drastis pada tahun 2006 menjadi 16 kasus. Pada tahun 2007 terjadi 5 kematian dari jumlah komulatif penderita HIV/AIDS di tahun 2006. Namun kemudian bertambah lagi menjadi 12 kasus di tahun 2008. Dan yang paling mengejutkan yaitu kasus HIV/AIDS di tahun 2010 dilaporkan mencapai 18 kasus dam terus bertambah sampai dengan saat ini. Sedangan distribusi kasus HIV/AIDS berdasarkan jenis kelamin dari tahun 2001 sampai Januari 2012 paling banyak ditemukan pada laki-laki, dengan presentase perbandingan kasus HIV dan AIDS yaitu 23% untuk HIV dan 77% AIDS. Selanjutnya penanganan kasus terus diupayakan seperti pengobatan untuk pendetiata AIDS dengan terapi ARV sebanyak 9 kasus (50%).
Gambar : 3.11
Persentase Penduduk Umur ≥ 15 Tahun yang Pernah Mendengar HIV/ AIDS menurut Provinsi, Riskesdas 2010
Sumber : Riskesdas 2010
Pengetahuan akan bahaya HIV/AIDS menjadi sangat penting untuk menanggulangi penyebaran penyakit ini. Berdasarkan hasil Riskesdas tahun 2010, persentase Penduduk Umur ≥15 Tahun yang pernah mendengar HIV/AIDS menurut Provinsi memperlihatkan angka-angka yang sangat perlu untuk mendapat perhatian serius. Pasalnya, pengetahuan seseorang terhadap suatu penyakit, baik bagaimana penyebab timbulnya penyakit hingga bagaimana cara pencegahan penyakit akan menggugah seseorang untuk lebih protektif terhadap suatu penyakit. Gambar diatas menunjukkan bahwa masyarakat Provinsi Gorontalo masih minim pengetahuannya terhadap HIV/AIDS.
3. Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD)
Jumlah kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Provinsi Gorontalo terus meningkat. Pada tahun 2009 jumlah kasus DBD dilaporkan sebanyak 93 kasus dengan angka kesakitan mencapai 9,19 per 100.000 penduduk. Kasus terbanyak terdapat di Kota Gorontalo sebanyak 59 kasus sebesar 61,29 per
yaitu 3 kasus dengan angka kesakitan DBD 2,5 per 100.000. Sedangkan untuk tahun 2010 jumlah kasus penyakit DBD meningkat drastis dengan jumlah kasus 480 dengan angka kesakitan mencapai 45,4 per 100.000 penduduk. Namun pada tahun 2011 terjadi penurunan jumlah kasus DBD. Berikut adalah grafik kejadian DBD berdasarkan jenis kelamin di Provinsi Gorontalo tahun 2011 :
Gambar : 3.12
Jumlah Kasus DBD berdasarkan jenis kelamin di Provinsi Gorontalo Tahun 2011
Sumber : Profil Kabupaten/Kota Tahun 2011
Pada grafik diatas menunjukkan jumlah kejadian kasus DBD terbanyak terjadi pada laki-laki sebanyak 10 kasus. Dimana sebagian besar kejadian kasus DBD terjadi di Kota Gorontalo yaitu 10 kasus pada laki-laki dan 4 kasus pada perempuan. Sedangkan Kabupaten yang bebas DBD adalah Kabupaten Pohuwato, Kabupaten Bone Bolango dan Kabupaten Gorontalo Utara.
4. Penyakit Diare
Angka kesakitan Diare pada tahun 2009 di Provinsi Gorontalo mencapai 7,3 per 1.000 penduduk. Kasus terbanyak terdapat di Kota Gorontalo sebesar 7165 dengan angka kesakitan 41 per 1.000 penduduk. Kabupaten Gorontalo utara memiliki angka kesakitan diare terendah yaitu 0,1 per 1.000 penduduk. Tahun 2010 angka kesakitan Diare Provinsi Gorontalo mencapai 33 per 1000 penduduk, Kabupaten/Kota yang melaporkan kasus tertinggi adalah Kabupaten Gorontalo sebanyak 13.409 kasus dengan angka kesakitan 37,8 per 1000
penduduk. Terendah yaitu Kabupaten Boalemo sebanyak 1920 kasus dengan angka kesakitan 14,9 per 1000 penduduk. Untuk persentase Diare yang ditangani di Kabupaten/kota se Provinsi Gorontalo tahun 2011 dapat dilihat pada gambar berikut ;
Gambar : 3.13
Persentase Diare yang Ditangani Berdasarkan Jenis Kelamin Provinsi Gorontalo Tahun 2011
Sumber : Profil Kabupaten/Kota Tahun 2011
Gerafik diatas memperlihatkan persentase kasus Diare yang ditangani berdasarkan jenis kelamin pada tahun 2011. Kota Gorontalo merupakan yang terbanyak menangani kasus Diare dengan persentase terbanyak mendominasi Perempuan yaitu 88%. Untuk persentase kasus Diare ditangani di Kabupaten Boalemo dan Kabupaten Pohuwato terhitung rendah dibandingkan dengan Kota Gorontalo. Jika menghimpun seluruh laporan kasus Diare yang ditangani di Kabupaten/Kota, maka kasus Diare yang ditangani Provinsi Gorontalo terhitung rendah yaitu laki-laki sebesar 24.8% dan perempuan sebesar 28,5%. Hal ini dikarenakan ada beberapa kabupaten yang belum melaporkan data tentang kasus diare yang ditangani selama 2011.
5. Penyakit Malaria
Malaria merupakan masalah kesehatan dunia termasuk Indonesia karena mengakibatkan dampak yang luas dan berpeluang menjadi penyakit emerging dan re-emerging. Kondisi ini dapat terjadi karena adanya kasus import, resistensi obat dan beberapa insektisida yang digunakan dalam pengendalian vektor, serta adanya vektor potensial yang dapat menularkan dan menyebarkan malaria. Selain itu, malaria umumnya merupakan penyakit di daerah terpencil, sulit dijangkau dan banyak ditemukan di daerah miskin atau sedang berkembang. Oleh karena itu, malaria merupakan salah satu penyakit menular yang menjadi sasaran prioritas komitmen global dalam Millenium Development Goals (MDGs) yang dideklarasikan oleh 189 negara anggota PBB pada tahun 2000.
World Health Assembly (WHA) pada tahun 2005 menargetkan penurunan angka kesakitan dan kematian malaria sebanyak lebih dari 50 persen pada tahun 2010 dan lebih dari 75 persen pada tahun 2015 dari angka tahun 2000. Berbagai upaya penanggulangan telah dilaksanakan dengan menggalang berbagai sumber dana, baik dari pemerintah maupun non pemerintah antara lain World Health Organisation (WHO) dan Global Fund (GF). Pada pertemuan WHA ke 60 tahun 2007, telah dihasilkan komitmen global tentang eliminasi malaria bagi setiap negara. Di Indonesia, eliminasi malaria dimulai sejak tahun 2004 dan untuk percepatan penanggulangan malaria dilakukan berbagai intervensi antara lain: kelambu berinsektisida untuk penduduk berisiko, pengobatan yang tepat untuk subjek terinfeksi malaria dengan Artemisinin-based Combination Therapy (ACT), penyemprotan rumah dengan insektisida, dan pengobatan pencegahan pada ibu hamil.
Di Indonesia, ditemukan semua jenis human plasmodia terutama Plasmodium falciparum dan P. vivax. Kasus malaria yang dilaporkan umumnya masih merupakan malaria yang didiagnosis hanya berdasarkan gejala klinis karena keterbatasan akses dan fasilitas pemeriksaan laboratorium. Laporan tahunan menunjukkan kasus terbanyak dilaporkan dari Provinsi Papua dan Nusa Tenggara Timur. Sejak tahun 2004, eliminasi malaria di Indonesia secara
bertahap menggunakan ACT sesuai dengan rekomendasi WHO. Kelebihan derivatif artemisinin ini adalah dapat mencegah penularan. ACT yang digunakan oleh program malaria nasional adalah kombinasi artesunat-amodiakuin dan dihidroartemisinin-piperakuin.
Provinsi Gorontalo, upaya untuk mengendalikan penyebaran dan menurunkan jumlah kasus malaria menjadi setengahnya pada tahun 2015. Angka kejadian malaria pada tahun 1990 adalah sebesar 4,68 per 1000 penduduk, yang pada tahun 2015 ditargetkan akan turun menjadi <1 per 1000 penduduk. Pada tahun 2010 jumlah kasus penderita malaria positif adalah sebanyak 1709 kasus dengan angka kesakitan adalah 1,8 per 1000 penduduk (yang berarti telah terjadi penurunan angka kejadian secara nasional sebesar >50%). Kasus tertinggi dilaporkan oleh Kabupaten Gorontalo sebanyak 1579 kasus dan terendah Kabupaten Gorontalo utara dengan 12 kasus. Untuk Kota Gorontalo tahun 2010 tidak terdapat kasus malaria. Pencapaian ini adalah pencapaian secara nasional yang bila dilihat pada pencapaian daerah (Provinsi, Kabupaten maupun Kota Gorontalo) angka kesakitan malaria sebagai berikut :
Gambar : 3.14
Angka Kesakitan Malaria Positif Provinsi Gorontalo Tahun 2009-2011
Dari diagram di atas dapat di lihat perbandingan cakupan angka kesakitan penyakit malaria di Provinsi Gorontalo dari tahun 2009-2011. Berdasarkan data yang dihimpun dari pelaporan Dinas Kabupaten/Kota, terjadi penurunan kasus Malaria pada tahun 2011 yaitu sebesar 3,4%.Berbeda dengan tahun sebelumnya yang pernah mengalami lonjakan kasus Malaria sebanyak 5,4% pada tahun 2010. Sedangkan persentase angka kesakitan Malaria Positif pada tahun 2009 yaitu 5,1%, dimana naik sekian persen pada tahun 2010. Menurut data profil kesehatan Kabupaten/Kota se Provinsi Gorontalo tahun 2010 yang melaporkan paling tinggi yaitu Kabupaten Gorontalo jumlah kasus sebanyak 1579 kasus dengan angka kesakitan 4,4 per 1000 penduduk, Kabupaten yang melaporkan terendah/tidak ada kasus yaitu Kota Gorontalo.
Gambar : 3.15
Persentase Rumah Tangga yang Mengobati Sendiri Bila Sakit dalam Satu Tahun Terakhir menurut Provinsi, Riskesdas 2010
Sumber : Profil Kabupaten/Kota Tahun 2009-2011
Provinsi Gorontalo tahun 2010 angka kesakitan malaria mencapai 5,4 per 1000 penduduk, angka ini 50% menurun dibandingkan target nasional (menurut Riskesdas 2010) sebesar 10,6 per 1000 penduduk. Data angka penemuan kasus tahun 2010 menurut indicator API mencapai 1,8 per 1000 penduduk, hal ini menurun dari capaian tahun sebelumnya yaitu 11,4 per 1000 penduduk di tahun 2009.
Grafik : 3.16
Jumlah Penderita Malaria Positif berdasarkan Jenis Kelamin Provinsi Gorontalo Tahun 2011
Sumber : Profil Kabupaten/Kota Tahun 2011
Jika dilihat dari perbandingan jumlah kejadian Malaria menurut jenis kelamin, maka diperoleh jumlah kejadian malaria klinis yang tidak begitu jauh perbedaannya antara Laki-laki dan perempuan. Namun sebaliknya, pada kasus Malaria positif terlihat jauh perbandingan jumlah kejadian malaria antara laki-laki dan perempuan. Dimana jumlah kejadian Malaria positif mendominasi kelompok laki-laki dengan jumlah kasus 156 dan pada perempuan sebanyak 44 kasus. Jumlah kasus ini juga belum mencakup semuah kabupaten/kota, karena ada beberapa Kabupaten/Kota belum melaporkan jumlah kasus Malaria untuk tahun 2011.
Gambar : 3.17
Angka Kesakitan Penyakit Malaria, DBD Dan Diare Di Kabupaten / Kota Tahun 2010
Sumber : Profil Kabupaten/Kota Tahun 2010
Grafik di atas menunjukkan kecenderungan angka kesakitan DBD,Diare dan Malaria di tahun 2010. Penyakit DBD paling tinggi dilaporkan oleh Kota Gorontalo yaitu dengan angka kesakitan 112 per 100.000 penduduk, tertinggi berikutnya Kabupaten Bone Bolango dengan 50,1 kemudian Kabupaten Gorontalo 47,1, Kabupaten Gorontalo Utara dengan angka kesakitan 16,8 per 100.000 penduduk dan terendah Kabupaten Pohuwato tdk ada kasus DBD.
Untuk angka kesakitan Diare tertinggi di laporkan oleh Kabupaten Gorontalo Utara sebanyak 45 per 1000 penduduk, kemudian di susul ke dua Kabupaten Gorontalo dengan 37,8, berikutnya Kabupaten Bone Bolango dengan 35,5 terendah Kabupaten Boalemo sebanyak 14,9 per 1000 penduduk. Sementara penyakit malaria tertinggi di laporkan Kabupaten Gorontalo sebanyak 4,4 per 1000 penduduk. Data ini masih lebih terkendali di bandingkan dari target nasional sebanyak 10,6 per 1000 penduduk (Riskesdas 2010).
6. Penyakit Campak
Jumlah kasus campak di provinsi Gorontalo Tahun 2010 mencapai 219 kasus angka ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 149 kasus, jumlah kasus campak pada tahun 2010 terbanyak dilaporkan dari Kabupaten Gorontalo sebanyak 141 kasus disusul Kota Gorontalo sebanyak 60 kasus. Kemudian Kabupaten Pohuwato dan Bone Bolango masing - masing sebanyak 9 kasus. Sedangkan Kabupaten Boalemo dan Gorontalo Utara tidak dilaporkan adanya kasus campak. Selengkapnya dapat dilihat pada gambar berikut ;
Gambar : 3.18
Jumlah Kasus Campak di Provinsi Gorontalo Tahun 2008 - 2010
Sumber : Profil Kabupaten/Kota Tahun 2008 – 2010
Gambar di atas menunjukkan tren jumlah kasus campak mengalami fluktuasi dari tahun 2008 sebanyak 381, menurun ditahun 2009 menjadi 149 kasus dan di tahun 2010 kembali meningkat sebanyak 219 kasus. Tertinggi di tahun 2008 Kota Gorontalo sebanyak 191 kasus dan terendah di tahun 2010 Kabupaten Boalemo dan Gorontalo utara tidak ada kasus.
Gambar : 3.19
Jumlah Kasus Campak berdasarkan jenis kelamin Provinsi Gorontalo Tahun 2011
Sumber : Profil Kabupaten/Kota Tahun 2011
Diagram diatas menggambarkan jumlah kasus Campak di Provinsi Gorontalo berdasarkan jenis kelamin tahun 2011, dengan jumlah kasus terbanyak berada di Kabupaten Gorontalo yaitu 94 kasus. Kabupaten Gorontalo Utara merupakan yang terendah kasus Campak dengan jumlah 25 kasus. Sementara untuk jumlah kasus se Provinsi Gorontalo, berdasarkan laporan yang dihimpun dari Kabupaten/Kota jumlah kasus Campak terbanyak berada pada kelompok perempuan yaitu 135 kasus dengan jumlah kasus pada laki-laki sebesar 117 kasus. Jumlah ini belum termasuk Kabupaten Pohuwato dan Kabupaten Bone Bolango yang belum melaporkan jumlah kasus campak selama tahun 2011.
I. Status Gizi Masyarakat
Faktor yang Mempengaruhi Status Gizi adalah makanan dan penyakit infeksi yang mungkin di derita baik yang berasal dari ketahanan pangan keluarga (langsung) maupun faktor pelayanan kesehatan dan kesehatan lingkungan (tidak langsung). Masalah gizi pada hakikatnya adalah masalah kesehatan masyarakat, namun penanggulangannya tidak dapat dilakukan dengan pendekatan medis dan pelayanan kesehatan saja. Penyebab timbulnya masalah gizi adalah multifaktor,
oleh karena itu pendekatan penanggulangannya harus melibatkan berbagai sektor yang terkait. Indikator status gizi masyarakat antara lain tergambar pada jumlah bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), Balita dengan Gizi Kurang dan Balita dengan Gizi Buruk.
1. Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR)
Menurut WHO, 1961 berat bayi lahir rendah (BBLR) adalah bayi baru lahir dengan berat badan 2500 gram/ lebih rendah, berat lahir adalah berat bayi yang ditimbang dalam 1 (satu) jam setelah lahir.
Secara nasional berdasarkan analisa lanjut SDKI, angka BBLR sekitar 7,5%. Angka ini lebih besar dari target BBLR yang ditetapkan pada sasaran program perbaikan gizi menuju Indonesia Sehat 2010 yakni maksimal 7%. Persentase BBLR Provinsi Gorontalo tahun 2010 adalah 2,06%. Data ini mengalami penurunan yang cukup signifikan di bandingkan tahun sebelumnya yaitu 8,22% dan masih jauh di bawah dari capaian menurut Riskesdas tahun 2010 Provinsi Gorontalo yang mencapai 16,7% bayi. Tahun 2011 jumlah BBLR Provinsi Gorontalo sebanyak 451 bayi atau 2,5%, Selengkapnya dapat di lihat dari table berikut :
Gambar : 3.20
Persentase Berat Bayi Lahir Rendah Provinsi Gorontalo Tahun 2010-2011