PROVINSI LAMPUNG TAHUN 2010-2014
4.4. STATUS GIZI
Salah satu upaya pemerintah dalam meningkatkan sumber daya manusia dan sekaligus dalam pengentasan kemiskinan adalah dengan meningkatkan gizi anak terutama anak balita. Keadaan gizi terutama pada masa balita akan sangat mempengaruhi tingkat kecerdasan manusia dewasa, karena kecukupan gizi sangat diperlukan dalam pertumbuhan otak terutama pada masa balita dan nantinya akan menghasilkan manusia produktif dan berkualitas.
Batas ambang yang digunakan untuk keempat status gizi (berdasarkan kesepakatan pakar gizi tahun 2000) adalah gizi buruk, gizi kurang, gizi baik dan gizi lebih. Status gizi buruk pada balita merupakan kondisi yang selalu ditemui dimasyarakat, oleh karena itu persentase gizi buruk perlu terus ditekan hingga tidak melebihi 5%.
Gambaran kasus gizi buruk di Provinsi Lampung sejak tahun 2003 – 2011 terlihat berfluktuasi atau turun naik dimana jumlah kasus gizi buruk pada tahun 2011 sebanyak 255 kasus. Kasus Gizi buruk pada balita setiap tahun selalu ada namun semua kasus gizi buruk tersebut telah dulakukan perawatan (100%).
0
Gizi Buruk 309 285 474 325 384 242 263 186 255
2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011
Sumber : Profil Kesehatan Kab/Kota
Bila dilihat sebaran kasus gizi buruk pada balita tersebut berdasarkan kabupaten kota maka terlihat bahwa kasus tertinggi ada di kabupaten lampung selatan dan Terendah ada di kabupaten tanggamus dan Kota Metro, seperti terlihat pada grafik dibawah ini.
Grafik. 4.32 Jumlah Balita Gizi Buruk Menurut Kab/Kota Provinsi Lampung Tahun 2011
Sumber : Profil Kesehatan Kab/Kota
Salah satu sumber data status gizi yaitu dengan pemantauan status gizi (PSG) tetapi sejak tahun 2007-2011 data tersebut tidak tersedia karena tidak adanya kegiatan Pemantauan Status Gizi (PSG) sehingga data tersebut hanya
Lampung tahun 1996 – 2010 cenderung menurun baik Prevalensi Gizi buruk maupun gizi kurang, seperti terlihat pada grafik dibawah ini :
Grafik 4.33 Trend Prevalensi Balita Gizi Buruk dan Kurang Di Provinsi Lampung Th. 1996 – 2010
0 10 20 30
Gizi Buruk 4,9 4,1 3,8 3,9 0,87 0,95 1,43 1,12 1,82 1,95 1,88 5,4 3,5 Gizi Kurang 29,6 19,7 17,4 16,6 13,8 13,3 12,3 11,5 10,3 12,1 7,01 11,1 10 '96 '97 '98 '99 '00 '01 '02 '03 '04 '05 '06 '07 '10
Sumber : Seksi Gizi bidang Bina Yanke dan hasil Riskesdas tahun 2007 dan 2010
Riset Kesehatan dasar (Riskesdas) tahun 2007 dan 2010 menghasilkan data status gizi buruk berdasarkan indikator status gizi yang bersifat akut (BB/U) dan kronik (TB/U), yaitu sebagai berikut :
1. Persentase balita menurut status gizi dengan indikator sebagai berikut : a. Indikator BB/U (indikator yang menggambarkan status gizi yang
bersifat umum/tidak spesifik) yaitu : gizi buruk sebesar 3,5% (2007 : 5,7%), gizi kurang sebesar 10% (2007 : 11,8%), gizi baik sebesar 79,8% (2007 : 78,3%) dan gizi lebih sebesar 6,8% (2007 : 4,2%).
b. Indikator TB/U (menggambarkan status gizi yang sifatnya kronis artinya muncul sebagai akibat dari keadaan yang berlangsung lama seperti kemiskinan, pola asuh yang tidak tepat, menderita penyakit secara berulang karena hygiene dan sanitasi yang kurang baik) yaitu : sangat pendek sebesar 20,6% (2007: 22,6%), pendek
c. Indikator BB/TB (menggambarkan status gizi yang sifatnya akut sebagai akibat dari keadaan yang berlangsung dalam waktu yang pendek seperti menurunya nafsu makan akibat sakit atau menderita diare), yaitu: sangat kurus sebesar 5,4% (2007 : 7,3%), kurus sebesar 8,5% (2007 : 6,4%), normal sebesar 69,6% (2007 : 70,2%) dan gemuk sebesar 16,4% (2007 : 16,1%).
2. Status gizi WUS usia 15-45 tahun berdasarkan indikator Lingkar Lengan Atas (LILA). Prevalensi risiko KEK pada WUS provinsi Lampung sebesar 10,9%. (riskesdas 2010 variabel ini tidak ada dalam kuesioner)
Masalah gizi yang utama lainnya adalah Anemia zat besi, kekurangan vitamin A, gangguan akibat kekurangan Yodium.
4.4.1 Anemia Gizi Besi
Pemberian zat besi bagi ibu hamil merupakan upaya untuk menanggulangi kekurangan darah (anemia), karena setiap tablet pil zat besi/Fe atau dikenal dengan nama tablet tambah darah mengandung 200 mg Sulfas Ferosus (yang setara dengan 60 mg besi elemental) dan 0,25 mg asam folat.
Kedua senyawa kimia tersebut berfungsi mensuplai kebutuhan mineral Fe dan membantu metabolisme tubuh selama kehamilan.
Pemberian zat besi kepada ibu hamil yang dianjurkan adalah minimal 90 butir selama kehamilannya dan pemberian ini biasanya diberikan secara bertahap serta paling baik diberikan pada trimester 3 (umur kandungan >7 bulan). Di provinsi Lampung persentase ibu hamil yang minum pil besi sesuai anjuran pada tahun 2007 hanya sekitar 79,43%, tahun 2008 sebesar 85,61% dan tahun 2009 sebesar 76,22%
Berdasarkan laporan nasional Riskesdas tahun 2007 data anemia dari pemeriksaan biomedis di perkotaan sebagai blok sensus sebagai berikut:
Jenis standart Anak-anak < 11g/dl 5,5 % < 11,09g/dl 6%
Pr+Laki2 Dewasa+Anak
- 19,2% - 14%
Sumber: Hasil Riskesdas 2
Tabel 4.13 Prevalensi anemia pada penduduk dewasa di perkotaan Provinsi Lampung, 2010 Anak-anak < 11g/dl 5,5 % < 11,09g/dl 6%
Pr+Laki2 Dewasa+Anak
- 19,2% - 14%
Sumber: Hasil Riskes
Di samping masalah kurang energi protein dan anemia gizi besi, masyarakat di Provinsi Lampung juga dihadapkan pada masalah Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY).
Sesuai perkembangan metodologi survey, dikembangkan indikator GAKY lainnya yang lebih sensitive dan spesifik yaitu dengan mengukur kadar EYU (Excretion Yodium Urine)/kadar yodium dalam urine dan konsumsi garam beryodium dimasyarakat.
Berdasarkan laporan nasional Riskesdas tahun 2007, persentase rumah tangga mempunyai garam cukup iodium provinsi Lampung sebesar 76,8%, persentase anak usia 6-12 tahun dengan ekskresi iodium dalam urine < 100 µq/L untuk Kota Metro (sebagai daerah perkotaan yang terpilih menjadi blok sensus biomedis) sebesar 11,9%, persentase RT yang mempunyai garam iodium < 30 ppm kota Metro sebesar 66,7%.
4.4.3 Kekurangan Vitamin A (KVA )
Untuk masalah Kekurangan Vitamin A (KVA), gambaran besarnya masalah tersebut di Provinsi Lampung belum dapat diketahui dengan pasti karena data yang mendukung hal tersebut belum tersedia. Tetapi jika mengacu pada prevalensi Xeropthalmia secara nasional maka KVA bukan lagi menjadi masalah kesehatan masyarakat karena prevalensinya sudah 0,03% (Batasan WHO = 0,05%). Masalah KVA baru akan menjadi masalah jika kita mengacu pada fakta bahwa lebih dari 50% balita di Indonesia ternyata memiliki kadar vitamin A dalam serum darah <20 ug (Ditzi, 2000). Provinsi Lampung bukan merupakan daerah endemis KVA, tetapi upaya untuk tetap waspada harus ditingkatkan. Salah satu upayanya yaitu dengan pendistribusian kapsul vitamin A dosis tinggi pada bayi dan balita yang diberikan sebanyak dua kali dalam satu tahun (bulan Februari dan Agustus) dan pada ibu nifas diberikan satu kali.
80,41%, distribusi dapat dilihat pada grafik dibawah ini.
Grafik 4. 34 Persentase Balita Mendapat Vitamin A 2 kali Menurut Kab/Kota Di Provinsi Lampung Tahun 2011
0 20 40 60 80 100
Bayi 84,47 35,71 61,45 72,91 11,64 44,42 43,81 46,85 87,67 92,83 38,5 75,12 40,99 60,38 Balita 58,55 42,16 76,85 67,04 74,6 0,57 67,44 52,13 75,31 83,84 81,93 51,63 60,12 88,14 59,54 Bufas 82,31 90,91 87,54 93,63 70,16 55,93 73,45 85,66 85,84 98,31 80,11 86,7 99,27 80,41 LB TGM LS LTM LT LU WK TLB PSW PRG MSJ TLBB BDL MTR Prov
Sumber : Profil Kesehatan Kab/Kota.
Berdasarkan laporan nasional riskesdas tahun 2010 (data 2011 tidak tersedia, Riskesdas 2013), persentase anak umur 6-59 bulan yang menerima kapsul vitamin A provinsi lampung sebesar 65,5% (2007 : 65,5%).